• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kelembagaan pemasaran yang ada di Kawasan Danau Toba terdiri atas pedagang pengumpul dan pedagang pengecer yang kesemuanya didominasi oleh penduduk lokal Kabupaten Simalungun. Ikan-ikan tersebut dari nelayan dan pembudidaya langsung dijual ke para pedagang pengumpul yang sudah menanti di sisi dermaga dalam bentuk ikan segar. Langkah selanjutnya pedagang pengumpul tersebut ada yang mendistribusikan ke pasar-pasar di dalam kecamatan dan kabupaten dan ada yang dipasarkan ke luar kawasan Danau Toba atau luar kabupaten. Ikan yang sudah dibeli dari nelayan dikemas dalam box gabus kapasitas 33 kg yang dilapisi plastik dan es agar tetap segar sampai lokasi tujuan. Ikan yang sudah dikemas tersebut kemudian diantarkan menggunakan mobil pick up sewaan yang menghabiskan biaya operasional sekitar 1,3 – 1,5 juta (Gambar 3). Selain ke pedagang pengumpul nelayan juga biasa menjual ikannya kepada para pedagang pengecer yang menunggu di pasar-pasar seperti Pasar Tigaraja.

Tidak adanya keterikatan atau peraturan dalam praktek jual beli ikan antara nelayan dan pedagang maka sistem yang berlaku di Kawasan Danau Toba ini tergolong bebas. Nelayan dan pembudidaya bebas memilih pengumpul manapun begitu juga sebaliknya. Pengumpul bisa menerima hingga 1 ton ikan setiap harinya sedangkan pedagang pengecer karena adanya keterbatasan modal biasanya hanya menerima 5-6 nelayan sejumlah 500 kg, kecuali pada hari pasar seperti yang diadakan di Pasar Tigaraja tiap hari kamis maka pedagang pengecer bisa menerima hasil

53 penjualan dari 10 nelayan. Sistem pembayaran pun tidak ada ikatan atau waktu tertentu bisa 2 hari sekali, seminggu sekali atau langsung dibayar saat transaksi. Pembayaran dengan waktu tertunda biasanya menunggu ikan tersebut laku di pasaran. Jalur pemasaran ikan bilih asin memenuhi pasar lokal baik dari tingkat kecamatan seperti di Pasar Tigaraja, tingkat kabupaten di Pematang Siantar hingga ke luar seperti Padang dan Pekanbaru.

Pada Kabupaten Simalungun terdapat fasilitas pasar di tingkat kecamatan, Pasar Tigaraja salah satunya. Pasar ini tidak tertata dengan rapi dimana setiap pedagang hanya memiliki lapak untuk tempat menjual secara tidak teratur dan tidak ada biaya retribusi untuk keamanan dan kebersihan pasar. Dari sisi komoditas yang dijual bukan hanya ikan tetapi juga semua perlengkapan rumah tangga dan sembako. Jumlah pedagang yang teridentifikasi ada sekitar 40-50 orang dengan jam operasional pasar antara jm 08.00 – 14.00 WIB. Keberadaan pasar ini mampu memenuhi kebutuhan lokal masyarakat kecamatan Girsang Sipanganbolon. Di kabupaten ini juga terdapat hari pasar yang bergerak setiap hari diantaranya hari Rabu di Porsea (Kabupaten Toba Samosir), hari Jumat di Balige (Kabupaten Toba Samosir) dan hari Sabtu di Tigaraja (Kabupaten Simalungun).

Implementasi Prinsip Industrilisasi Perikanan pada Kawasan Minapolitan Perairan Umum Daratan Danau Toba Kabupaten Simalungun.

Industrialisasi perikanan pada kawasan minapolitan PUD di Danau Toba pada prinsipnya terkonsentrasi pada komoditas unggulan yaitu ikan bilih. Peningkatan produksi ikan bilih hasil tangkapan nelayan ini pada prinsipnya meningkatkan kapasitas bisnis ikan bilih di kawasan Danau Toba baik yang mencakup wilayah kabupaten di sekeliling Danau Toba maupun bisnis perdagangan ikan bilih ke luar wilayah kawasan Danau Toba. Bisnis ikan bilih ini tidak saja terbatas pada penjualan ikan segar, tetapi juga ikan bilih dalam bentuk olahan (baik yang digoreng maupun dibuat ikan asin atau ikan kering).

Hubungan entitas bisnis ikan bilih dalam kaitannya dengan upaya untuk memperkuat struktur industrialisasi ikan bilih di Danau Toba dapat dijelaskan dengan cara melihat sejauhmana terdapat hubungan yang mendukung diantara para pemanfaat baik pemanfaat langsung maupun tidak langsung terhadap upaya menjaga keberlanjutan populasi ikan bilih di Danau Toba.

Pada umumnya pemasaran ikan bilih berlangsung dalam bentuk segar baik yang menggunakan es atau tanpa es. Pemasaran tanpa menggunakan es terjadi antar nelayan dan pedagang pengumpul terutama di perairan atau di pasar lokal di tingkat desa. Peningkatan nilai tambah dilakukan oleh pengolah dengan cara menggoreng ikan bilih tersebut setelah mengalami pembersihan dengan cara membuang kotoran ikan tersebut. Pada beberapa pengolah di tingkat rumah tangga, ikan bilih yang telah digoreng dibungkus menggunakan plastik dan tanpa label.

54 Terkait dengan upaya pengembangan pemasaran ikan bilih ini, maka perubahan cara berpikir dan perilaku masyarakat pengolah perlu dirubah, sehingga mereka dapat melaksanakan usaha pengolahan yang memperhatikan aspek kesehatan produk dan kesehatan lokasi dan lingkungan industri pengolahan. Di lain pihak, perilaku masyarakat modern yang menginginkan jaminan keamanan dan kesehatan produk ikan bilih perlu kiranya dipertimbangkan penggunaan label halal dan izin kesehatan yang diketahui dari keberadaan izin industri rumah tangga (P.IRT) yang dikeluarkan oleh Dinas Kesehatan setempat. Hal ini merupakan suatu peluang yang dapat meningkatkan nilai tambah produk yang pada gilirannya dapat meningkatkan pendapatan kelompok pengolah ikan bilih.

Lebih lanjut, keberlanjutan usaha pengolahan ini akan dapat dicapai secara terus-menerus, maka diperlukan pula perubahan perilaku pada masyarakat nelayan terkait dengan pentingnya keseimbangan antara upaya penangkapan dan upaya penyelamatan populasi ikan bilih ini. Oleh karena itu upaya konservasi lingkungan pemijahan ikan bilih ini menjadi penting, disamping pembatasan upaya penangkapan yang tidak selektif, terutama terhadap alat tangkap yang memotong sungai.

Rumusan Strategi Penetrasi Pasar Dalam Rangka Pengembangan Pemasaran

Produksi ikan bilih di Danau Toba (khususnya Kab. Simalungun) sebagian besar (80%) dijual dalam bentuk ikan segar (gelondongan) keluar kota meliputi: Provinsi Riau (Pekanbaru, Dumai, Duri, Batam), ke Provinsi Sumatera Barat (Padang, Bikittinggi, Solok, Padang Panjang) dan ke Padang Sidempuan (Sumatera Utara). Sedangkan untuk dalam kabupaten dan kabupaten sekitarnya dijual dalam bentuk segar ke hotel, restoran/rumah makan, rumah tangga, dan ke pengolah ikan bilis (goreng kering, goreng krispy, dan belah/asin). Besarnya porsi ikan yang dikirim ke luar kabupaten ini sebagian dipengaruhi oleh masalah sosial karena ikan bilis dianggap ikan murahan sehingga masyarakat setempat tidak banyak yang mengkonsumsinya.

55 Gambar 16. Rantai Pemasaran Ikan Bilih di Kab. Simalungun, Sumut

Dari rantai pemasaran di atas dapat diketahui rendahnya porsi konsumsi masyarakat lokal terhadap ikan bilih. Harga jual ikan bilih di tingkat nelayan sebesar Rp 3.000 – Rp 5.000 per-kg kepada pedagang yang kemudian dijual eceran dalam kota atau dikirim ke luar kota dengan mengambil keuntungan bersih Rp 2.000 – Rp 3.000 per-kilogram . Namun jika diolah (goreng) harga dapat mencapai Rp 50.000/kg (bahkan di Jakarta harganya dapat mencapai Rp 80.000 – Rp 100.000/kg. Mengingat rendahnya konsumsi ikan bilih oleh masyarakat setempat dan cukup jauhnya kesenjangan harga dari produsen (nelayan) hingga ke konsumen akhir, beberapa strategi penetrasi pasar yang dapat disarankan dalam rangka pengembangan pemasaran adalah:

1) Menggalakkan minat masyarakat setempat untuk mengkonsumsi ikan bilih, dapat dilakukan melalui even-even yang mengenalkan berbagai masakan olahan berbahan ikan bilih. Melalui even ini diharapkan kesan ikan bilih sebagai ikan yang “murah” dan murahan dapat berkurang dan minat masyarakat dalam mengkonsumsi ikan bilih meningkat sehingga harga di tingkat produsen (nelayan) dapat meningkat

2) Danau Toba merupakan kawasan obyek wisata (ke pulau Samosir) yang dikunjungi orang dari berbagai daerah sehingga berpotensi sebagai pasar “camilan/oleh-oleh” berupa produk olahan berbahan baku ikan bilih. Kondisi saat ini, pengolahan ikan bilih di Simalungun (khususnya Parapat) tidak lebih dari sepuluh orang yang dilakukan dalam skala rumah

Nelayan bagan Nelayan tradisional Pedagang pengumpul besar Sumut (Padang Sidempuan) Sumbar (Padang, Bukittinggi, Solok, Padang Panjang) Riau (Pekanbaru, Dumai, Batam, Duri)

Pengolah (goreng kering, goreng krispi, belah/asin Hotel/restoran/ rumah makan Rumah tangga Pengumpul kecil/ pengecer Luar kabupaten 80% 20% 30 10 60 20 35 10 35

56 tangga. Pengolahan dalam bentuk ikan goreng (80% kering), ikan goreng krispi, dan ikan belah/asin. Itupun diolah dalam lingkungan yang kurang higienis, tanpa label/label halal. Perlu dilakukan pembinaan secara menyeluruh terkait dengan manajemen usaha, manajemen keuangan, permodalan, dan peningkatan kemampuan kewirausahaan

(enterpreunership).

Dokumen terkait