BAB IV : PEMBAHASAN
1. Sistem Pendidikan Pondok Pesantren Zumrotut
Sistem pendidikan yang digunakan di Pondok Pesantren Zumrotut Tholibin Mojo Andongdalam wawancara dengan pengasuh beliau menuturkan bahwa sistem pendidikan di pondok pesantren tersebut mengunakan sistem salaf. Karena kitab yang dikaji karangan ulama‟ terdahulu dan dalam sistem pengajaranpun masih menggunakan sistem lama atau sistem tradisional.Menurut Zamaksyari Dhofier pondok pesantren salaf merupakan pendidikan Islam yang masih mempertahankan pengajaran kitab-kitab klasik (salaf) sebagai inti pendidikan.Sedangakan sistem madrasi diadopsi untuk memudahkan metode sorogan maupun bandongan (Muhtarom, 2005: 263)
Dari hasil observasi penulis dan wawancara salah satu pengurus di pondok tersebut juga mengadopsi sistem madrasah atau sistem khalaf. Karena terlihat dipondok pesantren tersebut tidak hanya mengkaji pengetahuan agama juga pengetahuan umum yang diwujudkan dengan berdirinya madrasah aliyah dan madrasah tsanawiyah dibawah naungan yayasan podok pesantren tersebut.
Oleh sebab itu Pondok Pesantren Zumrotut Tholibin Mojo Andong mengunakan sistem terpadu karena memadukan sistem salaf dengan sistem khalaf dalam menjalakan proses kependidikan di pondok pesantren tersebut. Menurut Ronald Lukens Bull pondok pesantren terpadu adalah tipe pondok pesantren yang memadukan sistem salaf dengan sistem khalaf. Pondok pesantren tersebut mengajarkan kitab kuning sebagai inti pendidikan dan menggunakan metode sorogan, bandongan, atau weton. Kemudian dipadu dengan sistem madrasah yang memasukkan pelajaran umum (Muhtarom, 2005: 264).
Dari keterangan di atas dapat disimpulkan bahwa sistem pendidikan yang dilaksanakan di Pondok Pesantren Zumrotut Tholibin mengunakan sistem kombinasi salaf dan khalaf karena sistem pendidikan berpola tradisional dan masih menggunakan sumber kitab kuning karya ulama‟ terdahulu, yang dipadukan dengan sistem madrasah dengan dilengkapi pelajaran umum menurut tingkat dan jenjangnya.
2. Metode Pembelajaran di PP.Zumrotut Tholibin Mojo Andong
Sebuah pembelajaran pasti memiliki metode untuk menyampaikan materi pembelajaran kepada murid. Seperti halnya yang ada di Pondok Pesantren Zumrotut Tholibin memiliki beberapa metode pembelajaran yang diterapkan sebagai berikut:
a. Sorogan
Sorogan berasal dari kata sorog (bahasa Jawa), yang berarti menyodorkan atau menyerahkan (Depag, 2003: 38). Sorogan artinya seorang santri menghadap kiai dengan dengan membawa kitab yang akan diajarkannya (Muhtarom, 2005: 178).
Metode ini berlansung dimana seorang santri berhadapan dengan seorang guru, dan terjadi interaksi saling mengenal diantara keduanya. Sistem ini terbukti sangat efektif karena memungkinkan seorang guru mengawasi, menilai, dan membimbing secara maksimal kemampuan seorang santri dalam menguasai materi pembelajaran.
Metode sorogandi Pondok Pesantren Zumrotut Tholibin dilaksanakan setelah Salat Mahrib dan Salat Subuh. Salat Mahrib sorogan Al-Quran dan setelah salat Subuh kitab sesuai dengan tingkatankelasmasing-masing. Sorogan disini diajar langsung oleh para ustad maupun pengasuh pondok pesantren agar guru mengetahui sejauh mana kemampuan dari masing- masing.
Pelaksanaan metode sorogan di Pondok Pesantren Zumrotut Tholibin sudah terjadwal sebagai berikut:
1) Pembelajaran Sorogan setelah Mahrib
(a) Kelas Al Ibtidaiyyah Awwal : KitabQiro‟ati (b) Kelas Al Ibtidaiyyah Tsaniyah : Kitab Al Qur‟an (c) Kelas Al Ibtidaiyyah Tsalisah : Kitab Al Qur‟an 2) Pembelajaran Sorogan setelah Subuh
(a) Kelas Al Ibtidaiyyah awwal : Kitab Safinatun Najah
(b) Kelas Al ibtidaiyyah Tsaniyah : Kitab Sulam taufiq (c) Kelas Al Ibtidaiyyah Tsalitsah : Kitab Matan
Minhajul Qowim
Menurut Zamakhsyari Dhofier (2011: 54-55) metode sorogan merupakan bagian yang paling sulit dari keseluruhan metode pendidikan pesantren, sebab metode sorogan menuntut kesabaran, kerajinan, ketaatan dan disiplin pribadi guru pembimbing dan murid.
Oleh sebab itu di Pondok Pesantren Zumrotut Tholibin metode sorogan dilakukan oleh santri pemula agar santri terbiasa dan menjadi pondasi awal sebelum menginjak ke tingkatan yang lebih tinggi.
b. Bandongan
Wetonan, istilah weton ini berasal dari kata wektu (bahasa Jawa) yang berarti waktu, sebab pengajian tersebut diberikan pada waktu-waktu tertantu, yaitu sebelum dan atau sesudah
melakukan shalat fardlu. Istilah wetonan ini di Jawa Barat disebut dengan bandongan(Depag, 2003: 40).
Metode ini dilakukan oleh seorang guru terhadap sekelompok santri untuk mendengarkan atau menyimak apa yang dibacakan guru dari sebuah kitab. guru membaca, menerjemahkan, menerangkan dan sering kali mengulas teks- teks kitab berbahasa Arab tanpa harakat.
Metode bandongan di PP. Zumrotut Tholibin dilaksanakan di waktu dhuhur dan subuh untuk santri tingkatan atas. Dan metode bandongan ini dilaksanakan diserambi masjid dengan penyampainnya seorang kyai, atau ustadz membacakan serta menjelaskan isi kandungan kitab kuning, sementara santri mendengarkan dan memberi makna pada kitab masing-masing.
Jadwal metode bandongan di Pondok Pesantren Zumrotut Tholibin dilaksanakan oleh santri tingkatan atas yaitu kelas Al Mutawasithoh Awwal- „Aliyah Awwaldan dilaksanakan pada waktu setelah Salat Dhuhur Kitab Syarah Fathul Qorib (Taushih) dan setelah Salat Subuh Kitab Kifayatul Ahyar.
Berikut ini syarat-syarat penggunaan metode bandongan agar metode bandongandapat berjalan baik dan lancar dalam buku Pengatar Ilmu dalam Metodologi Islam karya Armai Arief (2002: 156) :
1) Metode ini hanya cocok diberikan pada siswa yang sudah mengikuti sistem sorogan.
2) Murid yang diajarkan sekurang-kurangnya lima orang. 3) Tenaga guru yang mengajar sedikit, sedangkan murid
banyak.
4) Bahan yang diajarkan terlalu banyak, sedangkan alokasi waktu sedikit.
c. Takror atau Musyawarah Mata Pelajaran
Musyawarah yang dilakukan di PP. Zumrotut Tholibin adalah musyawarah mata pelajaran atau yang sering santri sebut dengan takror.
1) Jadwal atau waktu Takror
Takror dilakukan masing-masing kelas dalam seminggu dilaksanakan sekali waktunya pukul 21.00 sampai 21.30 WIB. Masing-masing kelas memiliki jadwal yang berbeda- beda.
2) Model Takror
Model pelaksanaan takror di PP. Zumrotut Tholibin dengan diskusi ataupun perdebatan yang dilakukkan antara santri dengan santri untuk mengulas hal-halyang ada dalam yang belum dipahami santri mengenai materi kitab-kitab yang telah dipelajaridengan ustad. Kegiatan ini dipimpin oleh salah satu santri dan saling bergantian.
d. Hafalan
Metode ini dilakukan oleh para santri dengan cara menghafal suatu teks tertentu di bawah bimbingan dan pengawasan kiai atau ustadz. Para santri diberi tugas untuk menghafal bacaan-bacaan dalam jangka waktu tertentu. Hafalan yang dimiliki santri ini kemudian disetorkan atau dihalkan dihadapan kiai atau ustadz secara periodik tergantung kepada petunjuk kiai atau ustadz yang bersangkutan (Depag, 2003: 39).
Di PP. Zumrotut Tholibin setiap santri dituntut bisa menghafal surat-surat pendek, doa harian dan beberapa nadhoman kitab kuning sesuai dengan tingkatan santri. Seperti nadhoman imriti, alfiah dan bagi santri yang mau menghafal Al- Quran disini juga bisa.Dalam metode hafalan ini para santri diberi tugas untuk menghafal bacaan-bacaan tertentu dalam jangka waktu tertentu.Hafalan yang dimiliki santri ini kemudian di “setorkan” dihadapan kyai atau ustadznya.
e. Bathul Masa‟il
Penerapan metode ini di PP. Zumrotut Tholibin dilaksanakan satu tahun sekali, biasanya bersamaan dengan hari dimana pondok pesantren akhirusanah dilaksanakan oleh para kyai, dewan asyatid dan alumni. Kegiatan ini diskusi dan tanya jawab menurut Al-Quran dan Hadist yang membahas permasalahan-
permasalahan yang ada dimasyarakat sekitar. Setelah semua disepakati kemudian hasilnya dibukukan.
Dalam menggunakan metode Musyawarah atau Bahtsul masa‟il biasanya para kiai atau ustad mempertimbangkan ketentuan-ketentuan berikut:
1) Peserta musyawarah adalah para santri yang berada pada tingkat menengah atau tinggi.
2) Peserta musyawarah tidak memiliki perbedaan kemampuan mencolok. Ini dimaksudkan sebagai upaya untuk mengurangi kegagalan musyawarah.
3) Tidak ada persoalan (materi) yang dimusyawarahkan biasanya ditentukan terlebih dahulu oleh kiai atau ustadz pada pertemuan sebelumnya.
4) Pada beberapa pesantren yang memiliki santri tingkat tinggi, musyawarah dapat dilakukan secara terjadwal sebagai latihan untuk para santri (Depag, 2003: 44).
f. Metode Demonstasi
Menurut Syaiful Bahri dan Aswan (2010: 90), metode demonstrasi adalah cara penyajian pelajaran dengan memperagakan atau mempertunjukkan kepada siswa suatu proses, situasi, atau benda tertentu yang dipelajari, baik sebenarnya ataupun tiruan, yang sering disertai dengan penjelasan lisan.
Metode ini dilakukan dengan cara memperagakan atau mempraktekan suatu ketrampilan dalam hal pelaksanaan ibadah tertentu yang dilakukan secara perseorangan maupun keelompok dibawah petunjuk atau bimbingan kiai atau ustadz (Depag, 2003: 47).
Di PP. Zumrotut Tholibin juga menerapkan metode demonstrasi seperti hasil wawancara penulis kepada beberapa narasumber, Para santri diminta mempraktekkan tata cara wudlu dan salat yang dibimbing oleh pengurus secara langsung. Untuk mengevaluasi sejauh mana pemahaman santri tentang materi dalam kitab Safinatun Najah yang sudah disampaikan atau diajarkan oleh ibu Nyai Hj. Siti Sutijah. 3. Implementasi Metode Sorogan dalam Mempelajari Kitab Safinatun
Najah di Pondok Pesantren Zumrotut Tholibin
Di Pondok Pesantren Zumrotut Tholibin Mojo Andong Kabupaten Boyolali, merupakan pondok pesantren yang masih menerapkan metode lama sorogan.Karena metode sorogan merupakan metode pertama yang diterapkan sejak berdirinya Pondok Pesantren Zumrotut Tholibin. Pelaksanaan metode sorogan untuk mengkaji Kitab Safinatun Najah di Pondok Pesantren Zumrotut Tholibin Andongpun diajarkan oleh ibu Nyai Siti Sutijah sendiri, dengan harapkan dapat menjadi pondasi awal untuk menuju tingkatan-tingkatan kitab yang lebih tinggi.
Sorogan dilaksanakan dengan cara seorang santri menghadap kiai dengan membawa kitab yang akan diajarkannya. Kiai membacakan kitab kalimat demi kalimat.Kemudian diterjemahkan kedalam bahasa Jawa. Santri menyimak dan ngesahi kitabnya sendiri lalu kiai menyuruh santri untuk mengulang apa yang telah disampaikan kiai agar mendapatkan pengesahan ( Muhtarom, 2005: 178).
Realita pelaksanaan metode sorogan dalam mempelajari Kitab Safinatun Najah di Pondok Pesantren Zumrotut Tholibin dilakukan selama 60 menit.5 menit pertama santri membaca do‟a. Selanjutnya 40 menit kedua ibu Nyai Siti Sutijah membacakan kitab sekaligus menerangkan materi yang terdapat dalam Kitab Safinatun Najah. Santri ngesahi atau memaknai kitab yang mereka bawa. Setelah itu ibu Nyai Siti Sutijah melakukan tanya jawab untuk mengetahui pemahaman santri terhadap materi yang sudah diberikan selama 10 menit. Dan 5 menit terakhir doa penutup.Pada pertemuan selanjutnya dengan waktu yang sama tetapi pada 40 menit kedua ibu Nyai Siti Sutijah gunakan untuk santri menyodorkan materi pada pertemuan sebelumnya.
Implementasi metode sorogandalam mempelajari Kitab Safinatun Najah di Pondok Pesantren Zumrotut Tholibin dapat disimpulkan sebagai berikut:
a. Bu nyai masuk dengan mengucap salam dan membuka dengan Surat Al Fatihah.
b. Bu nyai menanyakan hal yang belum jelas mengenai bab pada pertemuan sebelumnya.
c. Jika semua santri sudah sudah jelas semua, kemudian bu nyai tersebut membacakan teks dalam kitab dengan huruf Arab yang dipelajari baik sambil melihat maupun secara hafalan, kemudian memberikan arti/makna kata perkata dengan bahasa yang mudah dipahami.
d. Santri dengan tekun mendengarkan apa yang dibacakan bu nyai dan mencocokannya dengan kitab yang dibawanya.
e. Selain mendengarkan, menyimak, dan memaknai santri terkadang juga melakukan mencatat hal-hal yang dirasanya penting.
f. Ibu nyai, selanjutnya menerangkan mengenai bab yang telah disampaikan tadi.
g. Ibu nyai, menanyakan kepada santri apa yang belum dipahami santri.
h. Pertemuan selanjutnya, bu nyai meminta santri saling bergantian untuk membacakan bab yang sebelumnya telah dipelajari dihadapan bu nyai.
i. Setelah semua selesai,bu nyai mengakhiri dengan doa dan salam
Dalam pembelajaran pastinya terdapat evaluasi yang bertujuan untuk mengetahui seberapa jauh hasil yang telah dicapai dalam proses pendidikan dan pengajaran yang telah dilaksanakan dan untuk mengetahui apakah seorang peserta didik sudah layak untuk terjun ke masyarakat atau melanjutkan ke lembaga pendidikan yang lebih tinggi (Muhtarom, 2005: 182). Evaluasi pembelajaran soroganKitab Safinatun Najah di Pondok Pesantren Zumrotut Tholibin dilakukan santri dengan menyodorkan kitab ke hadapan bu Nyai, kemudian menirukan kembali apa yang telah disampaikan bu nyai sebelumnya, sebelum memulai pelajaran baru. Dalam peristiwa ini, bu nyai melakukan monitoring dan koreksi seperlunya kesalahan atau bacaan sorogan santri.
Evaluasi selain itu juga dilakukan dalam bentuk praktek karena Kitab Safinatun Najah didalamnya terdapat materi yang membahas mengenai fiqh ibadah oleh karena itu memerlukan praktek santri agar dalam beribadah tidak terjadi kesalahan. Ibu Nyai Siti Sutijah menyerahkan praktek itu kepada pengurus.
B. Kelebihan dan Kekurangan Metode Sorogandalam Mempelajari Kitab Safinatun Najah di PP. Zumrotut TholibinMojo Andong Berikut ini diaparkan kelebihan dan kekurangan metode sorogan dalam mempelajari Kitab Safinatun Najah di PP. Zumrotut Tholibin Mojo Andong sebagai berikut:
1. Kelebihan Metode Sorogan dalam mempelajari Kitab Safinatun Najah
Kelebihan dari metode sorogandalam pembelajaran Kitab Safinatun Najah di PP. ZMT sebagai berikut:
a. Antara guru dan santri memiliki hubungan yang lebih dekat. Pada pelaksanaan metode sorogan Kitab Safinatun Najah di PP. Zumrotut Tholibin penulis melihat terjadi kedekatan antara guru dan santri karena santri dapat mengungkapkan apa yang belum dia ketahui secara langsung gurupun akan membagi ilmunya secara langsung kepada santri jadi pemahaman santri akan lebih mendalam.
Dalam hal ini santri akan merasa sungkan atau takut apabila tidak dapat membaca, sehingga murid termotivasi untuk belajar. b. Kemamapuan masing-masing santri yang berbeda-beda dapat
diketahui langsung oleh guru, sehingga perhatian yang diberikan sesuai dengan kemampuan santri.
Dalampelaksanaan metode sorogan dalam mempelajari Kitab Safinatun Najah di Pondok Pesantren Zumrotut Tholibin, guru dapat melihat kemampuan langsung santrinya karena masing-masing santri memiliki karakter yang berbeda-beda. Sehingga guru memperlakukan masing-masing santri berbeda- beda pula.
Santri terkadang ada yang unggul di nahwu sharafnya, ada yang unggul di kosa katanya, terkadang malah ada juga yang sama sekali belum bisa baca sehingga guru harus memperlakukan khusus kepada santri tersebut agar tidak tertinggal dengan teman-temannya.
c. Dapat menerapkan kaidah-kaidah bahasa Arab
Dalam pelaksanaan sorogan Kitab Safinatun Najah di Pondok Pesantren Zumrotut Tholibin santri ditanyai oleh guru untuk memahami kedudukan kalimat baik dari nahwu atau Sharaf bagi santri yang sudah mahir dalam membacanya.
Pembelajaran menggunakan metode ini merupakan pengembangan materi yang disampaikan pada madrasah diniyah yang ada di Pondok Pesantren Zumrotut Tholibin. Karena santri yang belajarsorogan Kitab Safinatun Najah itu santri pemula maka yang ditanyakan santripun hanya dasar-dasar dari kaidah- kaidah bahasa Arab saja.
d. Menambah kosakata bahasa Arab
Pelaksanaan metode sorogan dalam mempelajari Kitab Safinatun Najah di Pondok Pesantren Zumrotut Tholibin menjadikan santri memiliki banyak kosakata bahasa Arab karena dalam memaknai kitab guru menyampaikan satu persatu arti perkata yang ada di dalam kitab dengan jelas dan santri menyalinnya kembali pada kitabnya masing-masing.
Jika santri ketinggalan guru dalam memaknai ataupun tidak masuk dalam pertemuan. Santri akan berusaha mencari kosakata yang sudah dipelajari dikamus ataupun bertanya kepada temannya agar tidak tertinggal dengan santri yang lainnya. e. Menambah wawasan ilmu pengetahuan
Dalam pembelajaran sorogan Kitab Safinatin Najah di Pondok Pesantren Zumrotut Tholibin guru setelah memaknai kemudian menerangkan materi apa yang telah dipelajari. Dan guru mengkaitkan materi dengan yang ada dilingkungan agar santri lebih paham. Gurupun member kesempatan santri untuk bertanya hal-hal yang belum santri ketahui.
Guru dalam pembelajaran biasanya juga memberikan cerita atau pengalaman agar santri termotivasi untuk bertanya ataupun santri dapat lebih memahami materi yang disampaikan guru. 2. Kekurangan Metode Sorogan dalam Mempelajari Kitab Safinatun
Najah
Kekurangan metode sorogandalam mempelajari Kitab Safinatun Najah di Pondok Pesantren Zumrotut Tholibin sebagai berikut: a. Tidak efisien karena santri terlalu banyak sehingga santri
yang sudah selesai menyodorkan tidak mau memperhatikan temennya yang sedang maju oleh karena itu terjadi kegaduhan.
Pelaksanaan metode sorogan dalam mempelajari Kitab Safinatun Najah di Pondok Pesantren Zumrotut Tholibin
memang ibu Nyai Siti Sutijah sekali dalam pertemuan menghadapi 20 santri sampai 25 santri hal ini sebetulnya membuat pembelajaran tidak efektif. Walaupun ibu Nyai Siti Sutijah sudah membuat sistem sehari untuk memaknai dan menerangkan dan hari berikutnya untuk sorogan.
Santri yang sudah menyodorkan atau menyorogkan biasanya malah membuat kegaduhan dibelakang, selain begitu santri harus bersuara keras agar bu Nyai Siti Sutijah dapat mendengar. Santri yang belum majupun kadang tak mau mendengarkan yang sedang maju, sehingga ibu Nyai Siti Sutijah harus mengulang kesalahan yang sama terhadap santri.
b. Santri membutuhkan persiapan matang sebelum pembelajaran.
Metode sorogan berbeda dengan metode yang lain karena metode ini santri diharapkan sebelum mengikuti pembelajaran terlebih dulu harus belajar karena evaluasi yang ada pada metode sorogandilaksanakan secara langsung. Jadi setiap santri harus selalu mempersiapkan ataupun belajar sebelum mengikuti pembelajaran dengan melengkapi makna atau yang lain.
c. Santri cepat bosan karena metode ini membutuhkan kesabaran, kerajinan dan disiplin untuk pribadi masing-masing santri.
Pelaksanaan metode sorogan dalam mempelajari Kitab Safinatun Najah di Pondok Pesantren Zumrotut Tholibin
membutuhkan waktu yang lama karena santri yang terlalu banyak dan harus menyodorkan kitab satu persatu. Oleh karena itu dibutuhkan kesabaran santri dalam menunggu antrian kepada santri yang lain.
Pelaksanakan ini juga membutuhkan kerajinan dan kedisiplinan karena sehari saja tidak masuk santri akan tertinggal dengan santri lainnya. Karena metode sorogan adalah metode yang sifatnya pribadi atau individu. jika santri tertinggal maka santri harus melengkapi maknaan kepada temannya. d. Membutuhkan Waktu yang lama
Pembelajaran sorogan Kitab Safinatun Najah di Pondok Pesantren Zumrotut Tholibin di ikuti terlalu banyak santri sehingga waktu yang dibutuhkan untuk menyodorkan santri lama karena harus berantri terkadang santri malah belum siap untuk menyodorkan sehingga menambah waktu lama pembelajaran.
BAB IV PEMBAHASAN
C.Implementasi Metode Sorogan dalam Mempelajari Kitab Safinatun Najah di PP. Zumrotut Tholibin Mojo Andong Kabupaten Boyolali
Sebuah metode pembelajaran di pondok pesantren, tidak dapat terlepas dari sistem pendidikan dan sistem pembelajaran yang mendukungnya. Seperti halnya metode sorogan yang ada di Pondok Pesantren Zumrotut TholibinMojo Andong tidak bisa terlepas dari hal- hal yang melengkapinya, sebagai berikut:
1. Sistem Pendidikan Pondok Pesantren Zumrotut Tholibin Mojo Andong
Sistem pendidikan yang digunakan di Pondok Pesantren Zumrotut Tholibin Mojo Andongdalam wawancara dengan pengasuh beliau menuturkan bahwa sistem pendidikan di pondok pesantren tersebut mengunakan sistem salaf. Karena kitab yang dikaji karangan ulama‟ terdahulu dan dalam sistem pengajaranpun masih menggunakan sistem lama atau sistem tradisional.Menurut Zamaksyari Dhofier pondok pesantren salaf merupakan pendidikan Islam yang masih mempertahankan pengajaran kitab-kitab klasik (salaf) sebagai inti pendidikan.Sedangakan sistem madrasi diadopsi untuk memudahkan metode sorogan maupun bandongan (Muhtarom, 2005: 263)
Dari hasil observasi penulis dan wawancara salah satu pengurus di pondok tersebut juga mengadopsi sistem madrasah atau sistem khalaf. Karena terlihat dipondok pesantren tersebut tidak hanya mengkaji pengetahuan agama juga pengetahuan umum yang diwujudkan dengan berdirinya madrasah aliyah dan madrasah tsanawiyah dibawah naungan yayasan podok pesantren tersebut.
Oleh sebab itu Pondok Pesantren Zumrotut Tholibin Mojo Andong mengunakan sistem terpadu karena memadukan sistem salaf dengan sistem khalaf dalam menjalakan proses kependidikan di pondok pesantren tersebut. Menurut Ronald Lukens Bull pondok pesantren terpadu adalah tipe pondok pesantren yang memadukan sistem salaf dengan sistem khalaf. Pondok pesantren tersebut mengajarkan kitab kuning sebagai inti pendidikan dan menggunakan metode sorogan, bandongan, atau weton. Kemudian dipadu dengan sistem madrasah yang memasukkan pelajaran umum (Muhtarom, 2005: 264).
Dari keterangan di atas dapat disimpulkan bahwa sistem pendidikan yang dilaksanakan di Pondok Pesantren Zumrotut Tholibin mengunakan sistem kombinasi salaf dan khalaf karena sistem pendidikan berpola tradisional dan masih menggunakan sumber kitab kuning karya ulama‟ terdahulu, yang dipadukan dengan sistem madrasah dengan dilengkapi pelajaran umum menurut tingkat dan jenjangnya.
2. Metode Pembelajaran di PP.Zumrotut Tholibin Mojo Andong
Sebuah pembelajaran pasti memiliki metode untuk menyampaikan materi pembelajaran kepada murid. Seperti halnya yang ada di Pondok Pesantren Zumrotut Tholibin memiliki beberapa metode pembelajaran yang diterapkan sebagai berikut:
a. Sorogan
Sorogan berasal dari kata sorog (bahasa Jawa), yang berarti menyodorkan atau menyerahkan (Depag, 2003: 38). Sorogan artinya seorang santri menghadap kiai dengan dengan membawa kitab yang akan diajarkannya (Muhtarom, 2005: 178).
Metode ini berlansung dimana seorang santri berhadapan dengan seorang guru, dan terjadi interaksi saling mengenal diantara keduanya. Sistem ini terbukti sangat efektif karena memungkinkan seorang guru mengawasi, menilai, dan membimbing secara maksimal kemampuan seorang santri dalam menguasai materi pembelajaran.
Metode sorogandi Pondok Pesantren Zumrotut Tholibin dilaksanakan setelah Salat Mahrib dan Salat Subuh. Salat Mahrib sorogan Al-Quran dan setelah salat Subuh kitab sesuai dengan tingkatankelasmasing-masing. Sorogan disini diajar langsung oleh para ustad maupun pengasuh pondok pesantren agar guru mengetahui sejauh mana kemampuan dari masing- masing.
Pelaksanaan metode sorogan di Pondok Pesantren Zumrotut Tholibin sudah terjadwal sebagai berikut:
3) Pembelajaran Sorogan setelah Mahrib
(a) Kelas Al Ibtidaiyyah Awwal : KitabQiro‟ati (b) Kelas Al Ibtidaiyyah Tsaniyah : Kitab Al Qur‟an (c) Kelas Al Ibtidaiyyah Tsalisah : Kitab Al Qur‟an 4) Pembelajaran Sorogan setelah Subuh
(a) Kelas Al Ibtidaiyyah awwal : Kitab Safinatun Najah
(b) Kelas Al ibtidaiyyah Tsaniyah : Kitab Sulam taufiq (c) Kelas Al Ibtidaiyyah Tsalitsah : Kitab Matan