• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II KAJ IAN PUSTAKA DAN PENGEMBANGAN MODEL

2.2. Landasan Teori

2.2.3. Sistem Pengukuran Kinerja

2.2.3.1.Pengertian Sistem Pengukuran Kinerja

Menurut Kurniangsih dan Indriantoro (2001:35) yang dimaksud

Sistem pengukuran kinerja adalah frekuensi pengukuran kinerja para manajer dalam unit organisasi yang dipimpin mengenai kualitas dalam

aktivitas operasi perusahaan.

Menurut Mulyadi dan Setyawan (1997:227) Sistem pengukuran kinerja adalah penentuan secara periodik efektivitas operasional suatu

22

organisasi,bagian akuntansi dan personelnya berdasarkan sasaran,standar dan kriteria yang ditetapkan sebelumnya, sedangkan menurut Halim

(2000:207) Sistem pengukuran kinerja merupakan mekanisme perbaikan lingkungan organisasi dalam menetapkan strategi perusahaan.

Berdasarkan keterangan diatas dijelaskan bahwa pengukuran

kinerja adalah mengukur kinerja dari setiap aktivitas pada suatu proses ditinjau dari prespektif persyaratan pelanggan yang menjamin bahwa aktivitas kinerja secara keseluruhan bertemu persyaratan pelanggan yang

dipertaruhkan organisasi lain.

2.2.3.2.Tujuan Sistem Pengukur an Kinerja

Pengukuran kinerja karyawan adalah suatu proses yang harus

dilakukan dalam upaya pengendalian tenaga kerja.pengukuran tersebut dimaksudkan untuk memperoleh informasi yang akurat dan valid tentang perilaku dan kinrja anggota organisasi.

Menurut Mulyadi dan Setyawan (1997:227), tujuan pengukuran

kinerja adalah sebagai berikut:

1. Untuk memotivasi personil dalam mencapai sasaran organisasi dan

dalam mematuhi standar perilaku yang telah ditetapkan sebelumnya,agar membuahkan t indakan dan hasil yang diinginkan

oleh organisasi.

2. Untuk menekankan perilaku yang tidak semestinya dan untuk

meransang serta menegakkan perilaku yang semestinya diinginkan,melalui umpan balik hasil kinerja pada waktunya serta penghargaan.

2.2.3.3.Manfaat Sistem Pengukuran Kinerja

Menurut Halim, dkk (2000 : 95), manfaat pengukuran kinerja

adalah sebagai berikut

1. Mengelola operasi organisasi secara efektif dan efisien melalui

pemotivasian karyawan secara maksimal.

2. Membantu pengambilan keputusan yang bersangkutan dengan

karyawan sejauh promosi,transfer dan pemberhentian.

3. Mengidentifikasi kebijakan pelatihan dan pengembangan karyawan

dan untuk menyediakan kriteria seleksi dan evaluasi progam pelatihan

karyawan.

4. Menyediakan umpan balik bagi karyawan mengenai bagaimana

atasan mereka menilai kinerja mereka.

5. Menyediakan suatu dasar bagi distribusi pelanggan.

Menurut Mulyadi dan Setyawan (1999:228), pengukuran kinerja

dimanfaatkan oleh perusahaan untuk:

1. Pengelolaan organisasi atau perusahaan secara efektif dan efisien

melalui pemotivasian personel secara maksimum. Maksimalisasi

memotivasi personel berarti membangkitkan dorongan dalam diri

setiap personel untuk mengerahkan usahanya dalam mengenai

sasaran yang telah ditetapkan oleh organisasi. Jika setiap personel

memahami sasaran yang telah ditetapkan oleh perusahaan dan setiap

personel melaksanakan internalisasi sasaran individu dengan sasaran

perusahaan secara keseluruhan inilah yang akan memotivasi personel

24

2. Membantu pengambilan keputusan yang berkaitan dengan

penghargaan personel.penilaian kinerja akan menghasilkan data yang

dapat dipakai sebagai dasar untuk pengambilan keputusan yang

berkaitan dengan penghargaan personel. Agar dapat memotivasi

personel, penghargaan yang diberikan kepada personel perlu

didasarkan atas hasil penilaian kinerja personel perlu didasarkan atas

hasil penilain kinerja personel perlu didasarkan atas hasil penilaian

kinerja personel.

3. Menyediakan kriteria seleksi dan evaluasi progam pelatihan personel

perusahaan mempunyai kewajiban untuk mengembangkan

personelnya agar mereka selalu dapat menyesusaikan diri dengan

perubahan lingkungan bisnis yang senantiasa berubah dan

berkembang.hasil pengkuran kinerja dapat digunakan untuk

mengidentifikasi kelemahan personel dan untuk mengantisipasi

keahlian dan ketrampilan yang dituntut oleh pekerjaan agar dapat

memberikan respon memadai terhadap perubahan lingkungan bisnis

dimasa depan. Hasil pengukuran kinerja dapat juga menyediakan

kriteria untuk memilih progam pelatihan personel yang memenuhi

kebutuhan personel dan untuk mengevaluasi kesesuaian progam

pelatihan tersebut dengan kebutuhan personel.

4. Menyediakan umpan balik bagi personel

Dalam perusahaan, manajement puncak mendelegasikan

wewenangnya kepada manajement menengah dan

daya yang diperlukan untuk pelaksanaan wewenang tersebut. Manajer

bawah melaksanakan wewenang dengan mengkonsumsi sumber daya

yang dialokasikan kepada mereka. Pengunaan wewenang dan

konsumsi sumberdaya ini dipertanggungjawabkan dalam bentuk

pengukuran kinerja. Dengan pengukuran kinerja ini, manajemen

puncak memperoleh umpan balik tentang pelaksanaan wewenang

yang dilakukan oleh manajemen dibawahnya, penilaian kinerja ini

memberikan umpan balik bagi manajemen bawah dan menengah

tentang bagaimana manajemen puncak menilai kinerja mereka.

2.2.3.4.Konsep Sistem Pengukuran Kinerja

Pengukuran kinerja adalah penentuan secara periodik efektivitas operasional suatu organisasi, bagian organisasi, dan personelnya, berdasarkan sasaran,standar,dan kriteria yang telah ditetapkan sebelumya.

Menurut Mulyadi dan Setyawan (2001:353) tujuan utama pengukuran kinerja adalah untuk memotivasi personel dalam pencapaian sasaran organisasi dan dalam mematuhi standar perilaku yang telah ditetapkan sebelumnya, agar menghasilkan tindakan dan hasil yang diinginkan oleh organisasi. Standar perilaku dapat berupa kebijakan manajemen atau rencana formal yang dituangkan dalam rencana strategis,progam dan anggaran organisasi.

Pengukuran kinerja digunakan untuk menekan perilaku yang tidak semestinya dan untuk meransang serta menegakkan perilaku yang semestinya diinginkan melalui umpan balik hasil kinerja pada waktunya serta penghargaan, baik yang bersifat intrisik maupun ekstrinsik

26

2.2.3.5.Metode Sistem Pengukuran Kinerja

Pengukuran kinerja dalam rangka pengembangan sumber daya manusia mempunyai arti yang penting, hal ini mengingatkan bahwa dalam kehidupan organisasi setiap orang sebagai sumber daya manusia

ingin mendapatkan penghargaan dan perlakuan yang adil dari pimpinan organisasi yang bersangkutan dalam kehidupan suatu organisasi,ada

beberapa asumsi tentang perilaku manusia sebagai sumber daya manusia yang mendasari pentingnya pengukuran kinerja asumsi tersebut antara lain adalah sebagai berikut:

Indikator pengukuran variabel sistem pengukuran kinerja menurut

Sudarmayanti (2001:21) sebagai berikut:

1. Setiap orang ingin memiliki peluang untuk mengembangkan kemampuan kerjanya sampai tingkat maksimal.

2. Setiap orang ingin mendapatkan penghargaan apabila karyawan tersebut dinilai melaksanakan tugasnya dengan baik.

3. Setiap orang ingin mengetahui secara pasti tentang karir yang akan

diraihnya apabila dapat melaksanakan tugasnya dengan baik.

4. Setiap orang ingin mendapatkan perlakuan yang obyektif dan penilaian atas dasar prestasi kerjanya.

5. Setiap orang ingin bersedia menerima tanggung jawab yang lebih besar.

6. Setiap orang pada umumnya tidak hanya melakukan kegiatan yang

sifatnya rutin.

Berdasarkan asumsi tersebut dapat disimpulkan bahwa pengukuran prestasi kerja adalah penting dalam suatu organisasi guna

pengembangan sumber daya manusia, kegiatan ini dapat memperbaiki keputusan manajer dan memberikan umpan balik kepada pegawai tentang

kegiatan mereka.

2.2.3.6.Tahap Sistem Pengukuran Kinerja

Menurut Mulyadi (1993:424), pengukuran kinerja dilaksanakan dalam dua tahap utama yaitu:

1. Tahap persiapan:

a. Penentuan daerah pertanggung jawaban dan manajer yang bertanggung jawab.

b. Penetapan kriteria yang dipakai untuk mengukur kinerja. c. Pengukuran kinerja sesungguhnya

2. Tahap penilaian:

a. Membandingkan kinerja sesungguhnya dengan sasaran yang telah ditetapkan sebelumya

b. Penentuan penyebab timbulnya penyimpangan kinerja sesungguhnya dari yang ditetapkan dalam standar.

c. Penegakan perilaku yang diinginkan dan tindakan yang digunakan untuk mencegah perilaku yang tidak diinginkan.

Dokumen terkait