• Tidak ada hasil yang ditemukan

F. Tinjauan Kepustakaan

3. Sistem Peradilan Pidana Anak

Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2012 diberi judul Undang-Undang tentang “Sistem Peradilan Pidana Anak”, berbeda dengan UU No. 3 Tahun 1997 yang diberi judul Undang-Undang tentang Pengadilan Anak.

Pasal 1 angka 1 UU No. 11 Tahun 2012 menyebutkan bahwa yang dimaksud dengan sistem peradilan pidana anak adalah keseluruhan proses penyelesaian perkara anak yang berhadapan dengan hukum, mulai tahap penyelidikan sampai dengan tahap pembimbingan setelah menjalani pidana.

Dalam disertasinya Setyo Wahyudi mengemukakan bahwa apa yang dimaksud dengan sistem peradilan pidana anak adalah sistem penegakan hukum peradilan pidana anak yang terdiri dari subsistem penyidikan anak, susbsistem penuntutan anak, subsistem pemeriksaan hakim anak, dan subsistem pelaksanaan sanksi hukum pidana anak yang berlandaskan hukum pidana materiil anak dan hukum pidana formal anak dan hukum pelaksanaan sanksi hukum pidana anak.

Hanya saja dari ketentuan yang terdapat dalam Pasal 1 angka 1 UU No. 11 Tahun 2012 tersebut dapat diketahui apa yang dikehendaki pembentuk undang-undang. Kehendak dari pembentuk undang-undang adalah bahwa keseluruhan proses penyelesaian perkara anak yang berhadapan dengan hukum mulai tahap penyelidikan sampai dengan tahap pembimbingan setelah menjalani pidana harus dilaksanakan sebagai suatu sistem dengan mengikuti menurut ketentuan yang terdapat dalam UU No. 11 Tahun 2012.19

19 R. Wiyono, Op. Cit., hlm. 21-22.

Istilah sistem peradilan pidana anak merupakan terjemahan dari istilah The Juvenile Justice System, yaitu suatu istilah yang digunakan sedefenisi dengan sejumlah institusi yang tergabung dalam pengadilan, yang meliputi polisi, jaksa penuntut umum dan penasehat hukum, lembaga pengawasan, pusat-pusat penahanan anak, dan fasilitas-fasilitas pembinaan anak.

Di dalam kata sistem peradilan pidana anak, terdapat istilah “sistem peradilan pidana” dan istilah anak. Kata “anak” dalam frasa “sistem peradilan pidana anak” mesti dicantumkan, karena untuk membedakan dengan sistem peradilan pidana dewasa.20

Sistem peradilan pidana anak merupakan sistem peradilan pidana, maka dalam memberikan pengertian sistem peradilan pidana anak, terlebih dahulu dijelaskan mengenai sistem peradilana pidana. Sistem peradilan pidana (criminal justice system) menunjukkan mekanisme kerja dalam penanggulangan kejahatan dengan mempergunakan dasar “pendekatan sistem”.21

Menurut Muladi, sistem peradilan pidana merupakan suatu jaringan (network) peradilan yang menggunakan hukum pidana sebagai sarana utamanya, baik hukum pidana materiil, hukum pidana formil maupun hukum pelaksanaan pidana. Sementara Romli Atmasasmita, membedakan antara pengertian “criminal justice process” dan “criminal justice system”. Pengertian criminal justice process adalah setiap tahap dari suatu putusan yang menghadapkan seorang tersangka kedalam proses yang membawanya kepada penentuan pidana baginya,

20 M. Nasir Djamil, Anak Bukan untuk Dihukum, Sinar Grafika, Jakarta, 2013, hlm. 43.

21https://www.academia.edu/31382892/KONSEP_DIVERSI_DALAM_SISTEM_PERA DILAN_PIDANA_ANAK_DI_INDONESIA.docx Diakses 9 Maret 2019 Pukul 14:19

sedangkan pengertian criminal justice system adalah interkoneksi antara keputusan dari setiap instansi yang terlibat dalam proses peradilan pidana.22

Pada akhirnya UU Sistem Peradilan Pidana Anak memberikan defenisi berupa keseluruhan proses penyelesaian perkara anak yang berhadapan dengan hukum, mulai tahap penyelidikan sampai dengan tahap pembimbingan setelah menjalani pidana.

Gordon Bazemore menyatakan bahwa tujuan sistem peradilan pidana anak (SPPA) berbeda-beda, tergantung pada paradigma sistem peradilan pidana anak yang dianut. Terdapat tiga paradigma peradilan anak yang terkenal, yakni paradigma pembinaan individual (individual treatment paradigm), paradigma retributive (retributive paradigm), dan paradigma restoratif (restorative paradigm).23

1) Tujuan SPPA dengan Paradigma Pembinaan Individual

Yang dipentingkan adalah penekanan pada permasalahan yang dihadapi pelaku, bukan pada perbuatan/kerugian yang diakibatkan. Tanggung jawab ini terletak pada tanggung jawab sistem dalam memenuhi kebutuhan pelaku.

Penjatuhan sanksi dalam sistem peradilan pidana anak dengan paradigma pembinaan individual, adalah tindakan relevan, insidental dan secara umum tak layak. Pencapaian tujuan sanksi ditonjolkan pada indikator hal-hal berhubungan dengan apakah pelaku perlu diidentifikasi, apakah pelaku telah dimintakan untuk dibina dalam program pembinaan khusus dan sejauhmana program dapat diselesaikan. Putusan ditekankan pada perintah pemberian program untuk terapi dan pelayanan. Fokus utama untuk pengidentifikasi pelaku dan pengembangan pendekatan positifis untuk mengoreksi pelaku. Kondisi delikuensi ditetapkan dalam rangka pembinaan pelaku. Pelaku dianggap tak berkompeten dan tak mampu berbuat rasional tanpa campur tangan terapitik. Pada umumnya pelaku perlu dibina, karena pelaku akan memperoleh keuntungan dari campur tangan terapitik.

22 Wagiati Soetedjo, Hukum Pidana Anak, PT Refika Aditama, Bandung, 2010, hlm. 17.

23 M. Nasir Djamil, Op., Cit. hlm. 45.

Pencapaian tujuan diketahui dengan melihat apakah pelaku bisa menghindari pengaruh jelek dari orang/lingkungan tertentu, apakah pelaku mematuhi aturan dari Pembina, apakah pelaku hadir dan berperan serta dalam pembinaan, apakah pelaku menunjukkan kemajuan dalam sikap dan self control, apakah ada kemajuan dalam interaksi dengan keluarga; paket kerja probation telah disusun, dan aktivitas rekreasi yang telah berlangsung. Menurut sistem peradilan pidana dengan paradigma pembinaan individual, maka segi perlindungan masyarakat secara langsung bukan bagian fungsi peradilan anak.

2) Tujuan SPPA dengan Paradigma Retributif

Ditentukan pada saat pelaku telah dijatuhi pidana. Tujuan penjatuhan sanksi tercapai dilihat dengan kenyataan apakah pelaku telah dijatuhi pidana dan dengan pemidanaan yang tepat, pasti, setimpal serta adil. Bentuk pemidanaan berupa penyekapan, pengawasan elektronik, sanksi punitif, denda dan fee. Untuk menciptakan perlindungan masyarakat dilakukan dengan pengawasan sebagai strategi terbaik, seperti penahanan, penyekapan dan pengawasan elektronik.

Keberhasilan perlindungan masyarakat dengan dilihat pada keadaan apakah pelaku telah ditahan, apakah residivis berkurang dengan pencegahan atau penahanan.

3) Tujuan SPPA dengan Paradigma Restoratif

Di dalam mencapai tujuan penjatuhan sanksi, maka diikutsertakan korban untuk berhak aktif terlibat dalam proses peradilan. Indikator pencapaian tujuan penjatuhan sanksi tercapai dengan dilihat pada apakah korban telah direstorasi, kepuasaan korban, besar ganti rugi, kesadaran pelaku atas perbuatannya, jumlah kesepakatan perbaikan yang dibuat, kualitas pelayanan kerja dan keseluruhan proses yang terjadi. Bentuk-bentuk sanksi yaitu restitusi, mediasi pelaku korban, pelayanan korban, restorasi masyarakat, pelayanan langsung pada korban atau denda restoratif.24

Peradilan anak diselenggarakan dengan tujuan untuk mendidik kembali dan memperbaiki sikap dan perilaku anak sehingga ia dapat meninggalkan perilaku buruk yang selama ini telah ia lakukan. Perlindungan terhadap

24 Ibid.

kepentingan anak yang diusahakan dengan memberikan bimbingan/pendidikan dalam rangka rehabilitasi dan resosialisasi menjadi landasan peradilan anak.25

Kekhususan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak (UU SPPA) membuat asas-asas yang digunakan dalam undang-undang tersebut pun berbeda dengan asas-asas yang terdapat dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) yang memuat tentang pelanggaran dan kejahatan maupun asas-asas yang terdapat dalam Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP). Dalam hal ini, Undang-Undang SPPA selain memuat tentang hukum materil juga sekaligus memuat hukum formil (yang disebut dengan hukum acara dalam peradilan pidana anak). Pasal 2 UU SPPA dan penjelasannya menyatakan bahwa asas dari Sistem Peradilan Pidana Anak adalah :

1) Perlindungan, dimaksudkan untuk melindungi dan mengayomi anak yang berhadapan dengan hukum agar anak dapat menyongsong masa depannya yang masih panjang serta memberi kesempatan kepada anak agar melalui pembinaan akan diperoleh jati dirinya untuk menjadi manusia yang mandiri, bertanggung jawab, dan berguna bagi diri sendiri, keluarga, masyarakat, bangsa dan negara. Perlindungan anak juga meliputi kegiatan yang bersifat langsung dan tidak langsung dari tindakan yang membahayakan anak secara fisik dan/atau psikis.

2) Keadilan, adalah bahwa setiap penyelesaian perkara anak harus mencerminkan rasa keadilan bagi anak. Semua pihak yang terlibat dalam tindak pidana harus menghindari dan menjauhkan anak dari proses peradilan sehingga dapat menghindari stigmatisasi terhadap anak yang berhadapan dengan hukum dan diharapkan anak dapat kembali ke lingkungan sosial secara wajar proses peradilan perkara anak sejak ditangkap, ditahan dan diadili pembinaannya wajib dilakukan oleh pejabat khusus yang benar-benar memahami masalah anak. Hakim dalam memutus perkara harus yakin benar bahwa putusannya dapat menjadi salah satu dasar yang kuat untuk mengembalikan dan mengantar anak menuju masa depan yang baik untuk mengembangkan dirinya sebgaia warga negara yang bertanggung jawab bagi kehidupan keluarga, bangsa dan negara.

25 Maidin Gultom, Op Cit., hlm 193.

3) Non Diskriminasi, adalah tidak adanya perlakuan yang berbeda disasarkan pada suku, agama, ras, golongan, jenis kelamin, etnik, budaya dan bahasa, status hukum anak, urutan kelahiran anak, serta kondisi fisik dan/atau mental.

4) Kepentingan Terbaik Bagi Anak, artinya segala tindakan dan pengambil keputusan yang menyangkut anak, baik yang dilakukan keluarga, masyarakat maupun pemangku hukum, kelangsungan hidup dan tumbuh kembang anak harus selalu menjadi pertimbangan yang utama.

5) Penghargaan Terhadap Pendapat Anak, untuk memberi kebebasan kepada anak dalam rangka mengembangkan kreativitas dan intelektualitasnya (daya nalarnya). Penghormatan atas hak anak untuk berpartisipasi dan menyatakan pendapatnya sesuai dengan tingkat usia anak dalam pengambilan keputusan, terutama jika menyangkut hal yang mempengaruhi kehidupan anak.

6) Kelangsungan Hidup dan Tumbuh Kembang Anak, sebagai hak asasi yang paling mendasar bagi anak yang dilindungi oleh negara, pemerintah, masyarakat, keluarga dan orangtua.

7) Pembinaan dan Pembimbingan Anak, adalah kegiatan untuk meningkatkan kualitas ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa, intelektual, sikap dan perilaku, pelatihan keterampilan, profesional, serta kesehatan jasmani dan rohani anak baik di dalam maupun di luar proses peradilan pidana.

Pembimbingan adalah pemberian tuntutan untuk meningkatkan kuallitas ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa, intelektual, sikap dan perilaku, pelatihan keterampilan, profesional, serta kesehatan jasmani dan rohani klien pemasyarakatan.

8) Proporsional, berarti segala perlakuan terhadap anak harus memperhatikan batas keperluan, umur dan kondisi anak. Anak yang berkonflik dengan hukum perlu mendapatkan bantuan dan perlindungan agar seimbang dan manusiawi. Anak harus diperlakukan sesuai dengan situasi, kondisi mental dan fisik, keadilan sosial dengan kemampuannya pada usia tertentu.

9) Perampasan Kemerdekaan dan Pemidanaan sebagai Upaya Terakhir (The last resort), pada dasarnya anak tidak dapat dirampas kemerdekaannya, kecuali terpaksa guna kepentingan penyelesaian perkara.

10) Penghindaran Pembalasan, dalam hal ini semua pihak yang terlibat dalam tindak pidana (korban, anak dan masyarakat), dalam mencari solusi untuk memperbaiki, rekonsiliasi, dan menenteramkan hati tidak berdasarkan pembalasan. Penghindaran pembalasan adalah prinsip menjauhkan upaya pembalasan dalam proses peradilan pidana anak.

Hal yang paling menonjol dari UU SPPA ini adalah terkait tentang asas perampasan kemerdekaan sebagai upaya terakhir. Bagi anak pelaku tindak pidana atau yang disebut dengan anak yang berkonflik dengan hukum tidak serta merta langsung di proses peradilan pidana. Namun wajib mengupayakan diversi mulai dari tingkat penyidikan, penuntutan dan pengadilan negeri dengan ketentuan

bahwa tindak pidana yang dilakukan anak diancam pidana penjara di bawah 7 (tujuh) tahun dan bukan merupakan pengulangan tindak pidana. Berbeda dengan proses peradilan pidana dewasa yang tidak mengenal asas ini, namun lebih kepada asas praduga tak bersalah (Persumption of Innocent).

Mengingat ciri dan sifat yang khas pada anak dan demi perlindungan terhadap anak yang berkonflik dengan hukum, maka ada beberapa substansi lain yang juga cukup penting untuk diperhatikan dalam mengimplementasikan UU No.

11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak, yaitu :

a) Untuk menghindari dan menjauhkan anak dari proses peradilan sehingga anak terhindar dari stigmatisasi dan anak dapat kembali ke lingkungan sosialnya secara wajar, maka aparat penegak hukum harus mengutamakan penyelesaian kasus di luar jalur hukum melalui Diversi (Pasal 5 ayat 3).

b) Proses penyelesaian kasus anak yang berkonflik dengan hukum harus bertujuan pada terciptanya Keadilan Restoratif, baik bagi anak maupun bagi korban (Pasal 5 ayat 1).

c) Diversi wajib diupayakan mulai tingkat penyidikan, penuntutan dan pengadilan negeri, dengan memperhatikan bahwa tindak pidana yang dilakukan anak diancam pidana penjara dibawah 7 tahun dan bukan merupakan pengulangan tindak pidana (Pasal 7).

d) Proses diversi dilakukan melalui musyawarah dengan melibatkan anak dan orangtua/walinya, korban dan/atau orangtua/walinya, Pembimbing Kemasyarakatan, Pekerja Sosial profesional, Tenaga Kesejahteraan Sosial, dan masyarakat (Pasal 8).

e) Proses peradilan perkara anak sejak ditangkap, ditahan dan diadili pembinaanya wajib dilakukan oleh pejabat khusus yang memahami masalah anak (Pasal 17).

f) Dalam menangani perkara anak, petugas wajib memperhatikan kepentingan terbaik untuk anak dan mengusahakan suasana kekeluargaan (Pasal 18).

g) Identitas anak yang berkonflik dengan hukum, anak korban, dan/atau anak saksi wajib dirahasiakan (Pasal 19).

h) Petugas-petugas yang melakukan pemeriksaan dalam perkara anak tidak memakai toga atau atribut kedinasan (Pasal 22).

i) Dalam hal anak yang berkonflik dengan hukum telah berumur 12 tahun dan belum mencapai 14 tahun hanya dapat dikenakan tindakan (Pasal 21 dan 69).

j) Pidana yang dapat dijatuhkan terhadap anak yang berkonflik dengam hukum terdiri atas pidana pokok (pidana peringatan, pidana dengan syarat, pelatihan kerja, pembinaan dalam lembaga dan penjara), pidana tambahan (seperti

perampasan keunntungan yang diperoleh dari tindak pidana, pemenuhan kewajiban adat) (Pasal 71).

k) Tindakan yang dapat dikenakan kepada anak yang berkonflik dengan hukum berupa pengembalian anak kepada orangtua/wali, penyerahan kepada seseorang, perawatan di rumah sakit jiwa, perawatan di LPKS, kewajiban mengikuti pendidikan formal, pencabutan surat izin mengemudi atau perbaikan akibat tindak pidana (Pasal 82).

l) Anak yang menjalani proses peradilan dapat ditempatkan di Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKS atau LPKA) (Pasal 84 dan 85).26

Seperti yang telah diuraikan di atas, bahwa dalam UU SPPA yang paling penting untuk diperhatikan itu adalah dengan menghindari dan menjauhkan anak dari proses peradilan sehingga anak terhindar dari stigmatisasi masyarakat yang memberikan label negatif kepada setiap anak yang berkonflik dengan hukum.

Penghindaran anak dari proses peradilan pidana dapat di lihat dari upaya diversi yang wajib dilakukan oleh penyidik, jaksa, maupun hakim dalam tingkat penyidikan, penuntutan dan persidangan sesuai dengan amanat UU SPPA yang terdapat dalam Pasal 7 ayat (1). Dengan ketentuan bahwa tindak pidana yang dilakukan oleh anak diancam pidana dengan pidana penjara di bawah 7 (tujuh) tahun dan bukan merupakan pengulangan tindak pidana. Anak yang melakukan tindak pidana yang ancamannya lebih dari 7 (tujuh) tahun dan merupakan sebuah pengulangan tindak pidana tidak wajib diupayakan diversi karena hal ini bertujuan untuk menanamkan rasa tanggung jawab kepada anak untuk tidak mengulangi lagi perbuatan yang berupa tindak pidana. Diversi yang dilakukan untuk memperoleh keadilan restoratif (restoratif justice) bagi anak yang berkonflik dengan hukum maupun bagi anak yang menjadi korban tindak pidana.

26 Elisabeth Juniarti, Op Cit., hlm. 32-36.

Menurut Peraturan Mahkamah Agung (PERMA) No. 4 Tahun Tahun 2014 tentang Pedoman Pelaksanaan Diversi dalam Sistem Peradilan Pidana Anak menyebutkan bahwa musyawarah diversi adalah musyawarah antara pihak yang melibatkan anak dan orang tua/wali, korban dan/atau orang tua/walinya, Pembimbing Kemasyarakatan, Pekerja Sosial Profesional, perwakilan dan pihak-pihak yang terlibat lainnya untuk mencapai kesepakatan diversi melalui pendekatan keadilan restoratif. Sedangkan fasilitator adalah hakim yang di tunjuk oleh Ketua Pengadilan untuk menangani perkara anak yang bersangkutan. Diversi adalah pengalihan proses pada sistem penyelesaian perkara anak yang panjang dan sangat kaku. Mediasi atau musyawarah sebagai bagian yang tidak terpisahkan dalam diversi untuk mencapai keadilan restoratif.27

Hal lain yang merupakan kekhususan dari UU SPPA yaitu petugas-petugas yang melakukan pemeriksaan seperti penyidik, penuntut umum, hakim, pembimbing kemasyarakatan, advokat, atau pemberi bantuan hukum lainnya terhadap perkara anak tidak memakai toga atau atribut kedinasan seperti yang tertuang dalam Pasal 22 UU SPPA. Sangat jelas perbedaannya dengan proses peradilan pidana yang wajib menggunakan toga ataupun atribut kedinasan pada saat melakukan proses pemeriksaan perkara.

Pidana yang dijatuhkan kepada anak yang berkonflik dengan hukum pun beragam seperti pidana pokok yang terdiri dari pidana peringatan, pidana dengan syarat, pelatihan kerja, pembinaan dalam lembaga dan penjara serta pidana tambahan berupa perampasan keuntungan yang diperoleh dari tindak pidana dan

27 https://www.mahkamahagung.go.id/id/artikel/2613/keadilan-restoratif-sebagai-tujuan-pelaksanaan-diversi-pada-sistem-peradilan-pidana-anak Diakses 9 Maret 2019 Pukul 16:58

pemenuhan kewajiban adat. Dalam sistem peradilan pidana anak, hukuman mati yang merupakan hukuman pokok dalam Pasal 10 KUHP tidak dibenarkan oleh pembuat undang-undang untuk dijatuhkan terhadap anak. Menurut ketentuan Pasal 81 ayat (2) UU SPPA pidana penjara yang dapat dijatuhkan kepada anak pun paling lama ½ (satu perdua) dari maksimum ancaman pidana penjara bagi orang dewasa serta dalam Pasal 81 ayat (6) UU SPPA disebutkan bahwa jika tindak pidana yang dilakukan anak merupakan tindak pidana yang diancam dengan pidana mati atau pidana penjara seumur hidup, maka pidana yang dijatuhkan adalah pidana penjara yaitu paling lama 10 (sepuluh) tahun. Selain itu, hukuman tambahan seperti pengumuman keputusan hakim dalam Pasal 10 KUHP juga tidak dibenarkan sebagai hukuman tambahan untuk dijatuhkan kepada anak yang berkonflik dengan hukum. Selain pidana, anak juga dapat dijatuhi tindakan seperti yang terdapat dalam Pasal 82 UU SPPA. Berbeda dengan peradilan orang dewasa yang tidak mengenal konsep tindakan sebagai sanksi. Lebih jelasnya pakar hukum pidana Andi Hamzah menyatakan, Pasal 10 KUHP selalu mengatur mengenai pidana, tidak ada tindakan. Lebih lanjut, Andi Hamzah menegaskan bahwa tindakan (maatregel) bukan merupakan pidana.28

Anak yang berkonflik dengan hukum yang telah dijatuhi putusan pengadilan ditempatkan di Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA) yang terpisah dari Lembaga Pemasyarakatan narapidana. Anak yang ditempatkan di LPKA dibina dan diberikan pelatihan agar mengembalikan kondisi mental si anak

28 Andi Hamzah, Sistem Pidana dan Pemidanaan Indonesia, Pradnya Paramita, Jakarta, 1993, hlm. 35.

dari stigmatisasi masyarakat dan dapat diterima kembali nantinya di tengah-tengah masyarakat setelah keluar dari LPKA.