• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB VII RENCANA INDUK AIR LIMBAH

7.5 Pemilihan Zona

7.5.1 Sistem Setempat (On-Site)

Sistem setempat atau individual umumnya digunakan untuk menangani air limbah kakus (black water). Sistem ini menggunakan tangki air limbah yang terletak di lahan yang sama dengan unit bangunan dimana limbah dihasilkan. Sistem onsite di Kota Surakarta telah berkambang meliputi Septictank rumah tangga, IPAL Komunal, IPAL industri. Rencana ke depan bahwa semua sistem onsite akan menjadi pelanggan PDAM dalam program Layanan Lumpur Tinja Terjadwal (LLTT). Truk tinja akan melakukan penyedotan secara berkala terhadap lumpur dalam tangki septik. Suatu sistem setempat yang memenuhi syarat:

a) mampu menurunkan kadar senyawa organik, padatan sehingga memenuhi baku mutu air limbah domestik,

b) diletakkan setidaknya 10 meter dari sumur air bersih terdekat, c) kedap dan tidak ada kebocoran,

d) memiliki lubang kontrol sekaligus untuk penyedotan tinja, e) memiliki sistem pelepasan gas, dan

f) dirawat setidaknya melalui penyedotan lumpur tinja secara periodik.

Tangki septik merupakan salah satu komponen dari pembuatan bangunan mandi cuci kakus (MCK). Tangki septik berfungsi sebagai pengolah limbah domestik agar tidak mencemari lingkungan. Proses pengolahan limbah domestik yang terjadi pada tangki septik adalah proses pengendapan dan stabilisasi secara anaerobik. Tangki septik bisa dianggap sebagai proses pengolahan awal (primer). Tangki septik tidak efektif untuk mengurangi jumlah bakteri dan virus yang ada pada limbah domestik.

89 Sistem setempat layak digunakan untuk wilayah permukiman yang memenuhi kriteria sebagai berikut:

 Belum memiliki layanan penyaluran air limbah (off-site).

 Memiliki tingkat kepadatan penduduk atau bangunan yang rendah, yaitu kurang dari 150 orang/hektar atau kurang dari 30 unit bangunan/hektar.

 Permukaan air tanah yang dangkal, yaitu setidaknya lebih dalam dari 4 meter (dari permukaan tanah).

Ada beberapa jenis tangki air limbah yang saat ini tersedia, baik itu berupa a) tangki pasangan batu, atau b) tangki pabrikan. Tangki air limbah pabrikan umumnya terbuat dari plastik keras (fibre glass atau reinforced plastics). Tangki air limbah umumnya didesain untuk bekerja secara anaerobik, seperti yang dikenal dengan sebutan tangki septik. Walau demikian, saat ini juga tersedia tangki air limbah yang beroperasi secara aerobik atau kombinasi antara proses aerobik dan anaerobik. Sebagian tangki air limbah membutuhkan sumur atau bidang resapan, sebagian lagi tidak karena memang direncanakan untuk tersambung ke sistem komunal atau sistem kawasan.

1. IPAL komunal

Pengelolaan air limbah di Kota Surakarta selain dilakukan oleh PDAM juga dilakukan oleh DPU Kota Surakarta. Pengelolaan air limbah yang dilakukan oleh DPU Kota Surakarta adalah dengan IPAL Komunal serta MCK yang dilakukan oleh masyarakat maupun kelompok masyarakat (KSM). Tangki anaerobik semakin banyak digunakan untuk rumah susun atau kawasan permukiman kecil (20 – 200 sambungan). Contoh penggunaannya adalah pada Program USRI (Urban Sanitation and Rural Infrastructure) tahun 2012-2013.

90 Tabel VII-9. Data Pengguna Sistem Komunal - IPAL Komunal Kota Surakarta

NO KSM ALAMAT SARANA

SANITASI OPERASIONAL PENGGUNA

1

BIOGAS 01-03-07 85 Org/hari (SANIMAS 2006) (SANIMAS 2007) Surakarta

5

BIOGAS April 2008 30 org/hari (SANIMAS 2007)

6

KSM SEHATI Makam Bergolo RT.01/09

BIOGAS MARET 2010 175 org/hari (SANIMAS 2009)

91

NO KSM ALAMAT SARANA

SANITASI OPERASIONAL PENGGUNA

11

KSM MANGGA Perum Relokasi RT.04/029Ngempla

KSM JAMBU Perum Relokasi RT.04/029Ngempla

KSM APEL Perum Relokasi RT.04/029Ngempla

92

NO KSM ALAMAT SARANA

SANITASI OPERASIONAL PENGGUNA

20

(SLBM 2011) Surakarta

23

SEHAT Jagalan RT.03/14 Kel.JagalanKec.Jeb

93

NO KSM ALAMAT SARANA

SANITASI OPERASIONAL PENGGUNA

30

(SPBM USRI 2012) Kec.JebresSurakart a

KSM RUKUN Pringgading RT.03/07 Kel.StabelanKec.B anjarsari Surakarta

KOMUNAL Belum OP Rencana 36

MANUNGGAL Sangkrah Rt.01/03 Kec.Pasarkliwon

Surakarta

KOMUNAL Maret 2014

40 SR (SPBM USRI

2013) 2 MCK

40

KPP AYEM

RAHARJO Sangkrah Rt.02/01 Kec.Pasarkliwon

94

NO KSM ALAMAT SARANA

SANITASI OPERASIONAL PENGGUNA

41

ROYONG Semanggi Rt.06/01 Kec.Pasarkliwon

BARU Purwosari Rt.02/11 Kec.Laweyan

MAJU JAYA Sumber Rt.01/03 Kec.Banjarsari

95

NO KSM ALAMAT SARANA

SANITASI OPERASIONAL PENGGUNA

50

KPP NAYU

BARAT Nusukan Rt.01/13 Kec.Banjarsari

BERSERI Stabelan Rt.01/07 Kec.Banjarsari

LEGOWO Gandekan Rt.04/07 Kec.Jebres

JAGAL Jagalan Rt.06/05 Kec.Jebres (SLBM 2013) Kec. Laweyan

Surakarta

96

NO KSM ALAMAT SARANA

SANITASI OPERASIONAL PENGGUNA

61

(SLBM 2013) Kec.Banjarsari Surakarta (USAID 2013) Kec.Pasarkliwon

Surakarta MCK : 45 KK

97

NO KSM ALAMAT SARANA

SANITASI OPERASIONAL PENGGUNA 81 (SPBM USRI

IPAL industri onsite adalah instalasi pengolahan air limbah yang berada di sekitar usaha atau kegiatan berlangsung. IPAL ini dibangun oleh perusahaan atau pemilik kegiatan atau usaha yang menghasilkan limbah cair kemudian limbah hasil pengolahannya baru dibuang ke badan air sekitarnya. Kegiatan atau usaha ini meliputi beberapa unit industri, perhotelan maupun rumah sakit yang ada di Kota Surakarta. Kegiatan usaha yang menghasilkan limbah cair menurut amanat Perda Provinsi Jawa Tengah Nomor 5 Tahun 2012 wajib melakukan pengolahan limbah yang dihasilkan dan dilaporkan kepada BLH setempat. Beberapa kegiatan usaha di Kota Surakarta sudah ada yang dilengkapi dengan IPAL dan rutin melakukan pelaporan ke BLH Kota Surakarta, diantaranya adalah sebagai berikut:

1. Indovetsin 2. Iskandar Tex 3. Danar Hadi

4. PT. Kusuma Mulya Tekstil 5. Batik Semar

16. Hotel Royal Heritage 17. Hotel The Sunan Hotel 18. Hotel Sahid Jaya 19. Hotel Kusuma Sahid

98 3. IPAL Industri Komunal

IPAL industri komunal adalah instalasi pengolahan air limbah industri yang menampung dan mengolah limbah cair industri dari beberapa kegiatan yang sejenis yang masih dalam satu kawasan. IPAL Komunal digunakan untuk mengolah beberapa kegiatan dengan skala kecil atau menengah, sehingga diharapkan limbah cari kegiatan kecil atau menengah ini tetap dapat terolah dan tidak mencemari lingkungan. Terdapat 2 unit IPAL Komunal di Kota Surakarta yang berada di Kelurahan Laweyan dan Kelurahan Sondakan.

A. IPAL Laweyan

Instalasi Pengolahan Air Limbah ini diresmikan pada tanggal 18 Maret 2008 oleh Ir. H. Joko Widodo yang pada saat itu menjabat sebagai walikota Kota Surakarta dengan bantuan dana dari Deutsche Gesellschaft fur Technische Zusammenarbeit (GTZ) Jerman sebagai upaya pengendalian pencemaran air terpadu pada segmen terpilih Bengawan Solo. Susunan pengurus Institusi/Badan Pengelola IPAL Kampoeng Batik Laweyan terdiri atas: ketua, sekretaris, bendahara dan beberapa seksi.

Pada IPAL ini menggunakan system gravitasi yang mana air limbah mengalir dari tempat yang tinggi ke tempat yang rendah. Laweyan bagian barat dan tengah cenderung memiliki kontur yang tinggi, maka atas dasar itulah limbah yang berasal dari Laweyan bagian barat dan tengah dapat ditampung dan diolah di system IPAL tersebut dengan menggunakan peralatan yang cenderung masih konvensional. Sedangkan untuk limbah industri batik yang berasal dari Laweyan bagian timur tidak dapat disalurkan ke sistem pengolahan limbah IPAL Laweyan karena muka tanah yang terlalu rendah menyebabkan air limbah tidak dapat mengalir ke sistem pengolahan IPAL Laweyan tersebut.

IPAL di Laweyan ini memiliki kapasitas penampungan air limbah yang sangat terbatas, tercatat hanya 9 industri batik yang berada di bagian barat dan tengah yang limbahnya bisa dialirkan ke IPAL Laweyan. Kesembilan industri batik tersebut dan lokasinya diantaranya adalah :

 Batik Mahkota milik Ir. Alpha Febela Priyatmono (bagian barat)

 Batik Puspa Kencana milik H. Achmad Sulaiman (bagian tengah)

99

 Batik Amelia milik Sukarni (bagian tengah)

 Batik Gress Tenan milik sardjono (bagian tengah)

 Batik Budi milik Gunawan Kurnia Pribadi (bagian tengah)

 Batik Surya Pelangi milik Rochyani (bagian tengah)

 Batik Cempaka milik Dani Arifmawan W (bagian tengah)

 Batik Adina milik Didik Setyadi (bagian tengah)

 Batik Suwanto milik Suwanto (bagian tengah) B. IPAL Sondakan

IPAL komunal Sondakan dibangun pada tahun 2012 oleh pemerintah Kota Surakarta dari dana bantuan DAK. Namun IPAL ini sengaja tidak dioperasikan karena air limbah dari masing-masing industry tidak dapat mengalir ke IPAL. IPAL ini menampung limbah dari 7 industri batik. Selain itu untuk kepengurusan operasional IPAL sudah tidak ada lagi karena IPAL yang sudah tidak beroperasi.

4. IPLT Putricempo

IPLT ini berada di kawasan TPA Putri Cempo. Terdapat beberapa unit yang beroperasi di IPLT ini, antara lain unit imhoff tank, kolam anaerobic, kolam fakultati, kolam maturasi dan sludge dryin bed. Dengan proyeksi limbah yang terus meningkat, pada tahun ini IPLT Putri Cempo tengah direnovasi untuk memperbesar kapasitasnya. Jika dilihat secara ukuran desain maka masih ada kemungkinan peningkatan kapasitas layanan menjadi 90 m3/hari dengan beberapa modifikasi.

100 Tabel VII-10. Perbandingan Desain Aktual IPLT dengan kriteria Desain

Instalasi Desain Aktual Kriteria Desain

panjang lebar tinggi volume panjang lebar tinggi volume

Imhoff tank 14 14 8.4 1152 10 5 8 400

Kolam anaerobik 2 20.5 19.35 2.7 1071 18 9 2 324

Kolam anaerobik 1 21.4 18.2 2.7 1051 25 13 2 650

Kolam Fakultatif 28.8 15.6 1.5 673 29 14 1.5 609

Kolam Maturasi 27.8 23.2 1.2 773 24 12 1 288

Sludge Drying Bed 9.025 18 1 162

Keterangan : Standar merujuk pada pedoman PU (PETUNJUK TEKNIS CT/AL/Re-TC/001/98)

5. Layanan Lumpur Tinja Terjadwal (LLTT)

Layanan Lumpur Tinja Terjadwal (LLTT) adalah suatu mekanisme pelayanan penyedotan lumpur tinja yang dilakukan secara periodik atau terjadwal yang diterapkan pada sistem pengelolaan air limbah setempat, yang kemudian diolah pada instalasi yang ditetapkan serta terkait dengan metode pembayaran yang telah ditetapkan. Program Layanan Lumpur Tinja Terjadwal Kota Surakarta merupakan sebuah kegiatan yang diharapkan dapat berjalan dengan terintegrasi dan berkelanjutan.

Setiap unit on-site (septic tank) yang dimiliki warga harus didata dan pengelola memiliki daftar setiap warga yang dilayani (A). Dari daftar tersebut, disusunlah sebuah jadwal pengurasan yang akan dilakukan secara rutin setiap tiga tahun sekali. Setiap tahunnya dilakukan sebuah inspeksi berkala untuk memantau kondisi unit on-site oleh pihak yang berwenang (B). Setiap pengurasan dan pengangkutan limbah tinja akan selalu dipantau oleh pihak atau instansi terkait.

Dimana pengangkutan limbah tinja tersebut menggunakan truk tanki tertutup (C).

Dan hasil pengangkutan akan diolah secara baik dan dapat dimanfaatkan secara aman. Pengolahan dilakukan di sebuah instalasi pengolahan lumpur tinja yang memiliki berbagai unit pengolahan (D).

Layanan Lumpur Tinja Terjadwal harus berjalan secara terkendali. Dimana kendali dari pelayanan ini dipegang oleh pusat kendali (PDAM atau instansi). Pusat kendali bertugas untuk memberikan perintah pengurasan kepada unit kerja dan unit kerja yang turun ke lapangan harus secara berkala menginfokan setiap kegiatan

101 yang mereka lakukan sehingga tidak terjadi kesalahan prosedur atau pelanggaran.

Informasi yang wajib disampaikan ke pusat kendali adalah ketika unit kerja sedang melaksanakan penyedotan, ketika sedang melakukan perjalanan seusai penyedotan dan ketika pembuangan di IPLT atau IPAL. Jika terdapat pelanggaran dan pengangkutan tak berjalan sesuai rencana maka akan dikenai sanksi. Untuk meminimalkan pelanggaran digunakanlah GPS pada setiap unit yang bekerja sehingga dapat dipantau secara realtime.

Gambar VII-4. Alur Layanan Lumpur Tinja Terjadwal

Penerapan Sistem Layanan Lumpur tinja Terjadwal ini akan membawa berbagai manfaat bagi berbagai pihak. Tinja yang secara berkala diangkut dan dikelola dengan baik tentunya akan mengurangi jumlah tinja yang dibuang sembarangan ke lingkungan dan hal ini akan menyehatkan lingkungan. Retribusi yang ditarik dari layanan ini juga akan menambah pemasukan bagi Pemda dan sekaligus dapat meningkatkan prestasi kota dalam pengelolaan limbah. Lebih jauh lagi, penarikan retribusi yang diterapkan dalam sistem layanan lumpur tinja ini merupakan sebuah penerapan Undang-Undang Lingkungan Hidup No 32 tahun 2009 tentang prinsip pencemar membayar dan merupakan sebuah bentuk keadilan.

Penyedotan lumpur tinja bertujuan untuk mengeluarkan akumulasi endapan lumpur di dasar tangki air limbah. Selanjutnya akan dibawa ke instalasi pengolahan lumpur tinja (IPLT). Penyedotan dilakukan dengan menggunakan: Truk lumpur

102 tinja; Truk dengan tangki baja bervolume 3 m3-4 m3 yang dilengkapi pompa sedot lumpur dengan selang sekitar 40 meter (penyedot dan pembuangan). Truk lumpur tinja digunakan untuk menjangkau bangunan yang terletak di jalan-jalan besar.

Penyedotan lumpur tinja perlu didukung dengan prosedur operasi standar yang meliputi (a) pemeriksaan mobil atau motor lumpur tinja, (b) tata cara mengemudi, (c) pemeriksaan kondisi tangki air limbah, (d) penyedotan lumpur tinja, (e) perlindungan keselamatan kerja, (f) penurunan lumpur tinja di IPLT.

Layanan penyedotan lumpur tinja dapat dilakukan dengan:

 Pola panggilan; Layanan penyedotan tinja hanya datang berdasarkan permintaan pemilik rumah atau bangunan. Pembayaran dilakukan sesuai volume lumpur tinja yang disedot.

 Pola berlangganan; Layanan penyedotan tinja datang secara berkala sesuai jadwal yang sudah ditentukan, misalnya dua atau tiga tahun sekali. Pembayaran layanan dilakukan pelanggan secara bulanan sesuai tarif yang disepakati.

Gambar VII-5. Makanisme Kontrol Truk Pengangkut Tinja

103 Pengembangan sistem layanan lumpur tinja ini memerlukan dukungan dari berbagai pihak untuk turut menyukseskannya. Dukungan yang paling utama adalah dukungan dari pemerintah kota atau pemerintahan setempat. Banyak dukungan yang dapat diberikan oleh pemerintah pusat selain uang dan materi. Penyusunan dan penetapan berbagai regulasi dan kebijakan yang dikeluarkan pemerintah dapat mendukung kelancaran sistem layanan lumpur tinja ini. Kebijakan yang dikeluarkan dapat berupa perintah optimasi IPAL atau IPLT ataupun perintah pendaftaran unit on-site setempat. Peran SKPD-SKPD meliputi Bappeda Kota, Dinas Tata Ruang Kota, Dinas Kesehatan, Dinas Perhubungan dan Informasi, Dinas Pekerjaan Umum, Dinas Kebersihan dan Pertamanan, Dinas Lingkungan Hidup, Badan Penanaman Modal dan Perizinan Terpadu dalam LLTT:

• Meningkatkan kesadaran masyarakat

• Menjaga kualitas unit setempat

• Mengatur spesifikasi & izin truk tinja

• Memanfaatkan lumpur kering olahan

• Memantau dampak lingkungan LLTT

Pelaksanaan sistem layanan lumpur terjadwal merupakan sebuah sistem yang berbasis akan keberadaan unit on-site di lingkungan masyarakat. Untuk itulah diperlukan sebuah sensus pelanggan yang merupakan langkah awal pelaksanaan pendaftaran unit setempat. Dari sensus pelanggan ini akan diketahui jumlah dan kondisi dari unit setempat yang ada, sekaligus potensi pelanggan layanan lumpur tinja. Lalu, dari sensus yang dilakukan akan memberikan indikasi ke masyarakat akan adanya sebuah layanan lumpur tinja. Pada akhirnya, jumlah warga yang berminat akan menjadi pertimbangan PDAM dalam pelaksanaan sistem ini.