• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB VII RENCANA INDUK AIR LIMBAH

7.5 Pemilihan Zona

7.5.2 Sistem Terpusat (Off-Site)

Sanitasi sistem terpusat atau dikenal dengan istilah sistem off-site atau sistem sewerage, yaitu sistem dimana fasilitas pengolahan air limbah berada diluar persil atau dipisahkan dengan batas jarak atau tanah yang menggunakan perpipaan untuk mengalirkan air limbah dari rumah-rumah secara bersamaan dan kemudian dialirkan ke IPAL.

104 Sistem terpusat adalah sistem dimana air limbah dari seluruh daerah pelayanan dikumpulkan dalam riol pengumpul, yang kemudian dialirkan kedalam riol kota menuju tempat pengolahan dan baru dibuang ke badan air penerima.

Pelayanan air limbah domestik di Kota Surakarta telah dibagi dalam 3 zona.

Dimana di setiap zona terdapat Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) yang telah beroperasi dengan baik. Di zona / wilayah selatan terdapat IPAL Semanggi dengan kapasitas sebesar 60 L / dt yang melayani sekitar 8928 SR di 28 kelurahan. DI wilayah tengah terdapat IPAL Pucangsawit 40 l/det yang melayani sekitar 576 SR di 4 kelurahan. Dan di wilayah utara terdapat IPAL Mojosongo dengan kapasitas 50 L/dt dan IPAL Mojosongo dengan kapasitas 60 L/dt yang melayani 5420 SR di 4 kelurahan.

Sistem komunal, sistem kawasan, dan sistem wilayah membutuhkan suatu instalasi pengolahan air limbah guna menurunkan senyawa organik dan padatan (suspended solids) yang terkandung dalam air limbah sampai mencapai target hasil olahan (effluent) yang diinginkan. Beberapa instalasi pengolahan yang lebih canggih dirancang juga mampu menurunkan kandungan pencemar lainnya, seperti senyawa nutrien (nitrogen dan pospat). Instalasi pengolahan untuk air limbah domestik hampir selalu menerapkan proses biologis untuk menurunkan kandungan senyawa organik, baik secara aerobik, anaerobik, maupun fakultatif.

105 Gambar VII-6. Pembagian Wilayah Sistem Off - site

Mengingat umumnya Instalasi Mekanis memiliki kapasitas dan dimensi yang besar, lokasi instalasi perlu dipilih yang sedekat mungkin dengan suatu badan air dimana effluent akan dialirkan. Instalasi Mekanis dapat dihasilkan dari modifikasi Instalasi Kolam, misalnya Kolam Aerasi yang dibentuk dari penambahan aerator pada Kolam Oksidasi dan Kolam Anaerobik. Selain itu suatu unit pengolahan di Instalasi Mekanis juga dapat dimodifikasi untuk menjadi unit pengolahan mekanis lainnya. Salah satu contohnya adalah penambahan media kerangka plastik pada suatu unit Tangki Lumpur Aktif, EAAS, SBR, atau Oxidation Ditch sehingga berubah menjadi unit pengolahan MBBR. Modifikasi ini dapat meningkatkan kapasitas dan kinerja unit pengolahan sampai dua atau tiga kali lipat.

106 Tabel VII-11. Target Hasil Olahan Instalasi Pengolahan Air Limbah

Parameter Target Hasil Olahan

pH 6 – 9

BOD5 (Biochemical Oxygen Demand) 100 mg/L

TSS (Total Suspended Solids) 100 mg/L

Minyak dan Lemak 10 mg/L

Sumber : Target hasil olahan diambil dari nilai Kadar Maksimum dalam Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. 112/2003 tentang Baku Mutu Air Limbah Domestik.

1. IPAL Semanggi adalah sebuah instalasi pengolahan air limbah skala perkotaan yang mencakup daerah pelayanan wilayah selatan. Dimana kapasitas IPAL ini adalah sebesar 60 L/dt. Sistem perpipaan yang terintegrasi dengan IPAL Semanggi memanfaatkan sistem gravitasi dari setiap sambungan rumah. Karena letaknya yang dekat dengan Sungai Premulung maka air limbah yang sudah selesai diolah akan dibuang di badan air tersebut.

Alur pengolahan limbah domestic yang diterapkan di IPAL Semanggi adalah sebagai berikut

a) Air buangan yang mengalir di Jaringan perpipaan dari setiap sambungan rumah akan disalurkan ke sebuah pipa primer utama yang menuju IPAL Semanggi

b) Air buangan yang masuk ke IPAL akan diolah dengan berbagai macam unit

c) Pertama, air buangan akan ditampung di dalam sebuah grit chamber yang berfungsi untuk memisahkan padatan yang berada di dalam air buangan tersebut. Setelah sebelumnya melewati bar screen yang berfungsi untuk memisahkan padatan berukuran besar.

d) Kedua, air buangan dialirkan menuju bak equalisasi untuk menstabilkan kondisi air.

e) Ketiga, dari bak equalisasi akan dipompa menuju bak aerasi. Di dalam bak aerasi terdapat aerator untuk mempercepat proses pengolahan

107 f) Keempat, air buangan akan diproses didalam bak sedimentasi untuk

mengendapkan partikel – partikel.

g) Kelima, air buangan yang telah melewati proses sedimentasi akan dibuang ke badan air yakni Sungai Premulung

h) Keenam, lumpur yang dihasilkan dari setiap pengolahan akan diproses di sludge drying bed

Tabel VII-12. Perbandingan Waktu detensi dengan standar desain IPAL Semanggi

No Unit Dimensi Volume Debit td Kriteria

Desain P L d m3 m3/jam (jam) td 1 Grit Chamber 17.5 9 2.8 441 216.00 2 1 jam

2 Bak Equalisasi 400 216.00 2

3 Bak Aerasi 22.7 22 3.5 1,748 216.00 8 3 - 6 jam

4 Bak Sedimentasi - - - 456 216.00 2 2 jam

5 Aerator Bubble Jet 216.00

Jika dianalisis menggunakan waktu detensi, IPAL Semanggi dengan debit 60 l/det sudah maksimal . Jika debit ditingkatkan sesuai target pelayanan mencapai 127 l/det maka diperlukan pembangunan IPAL Semanggi 2.

Kebutuhan tahap 2 dapat membangun dengan kapasitas 100 l/det untuk mengantisipasi proyeksi debit air limbah pada tahun 2025. Pembangunan IPAL Semanggi 2 akan terpisah secara sistem mulai dari pompa ekualisasi masih dapat digunakan bersama.

108 Gambar VII-7. Sistem pengolahan lumpur tinja yang akan diterapkan di IPAL Semanggi

109 Gambar VII-8. Sistem pengolahan lumpur tinja yang akan diterapkan di IPAL Mojosongo

110 2. IPAL Mojosongo adalah instalasi pengolahan air limbah skala perkotaan yang mencakup daerah pelayanan wilayah utara. Kapasitas IPAL Mojosongo sebesar 50 L/dt. IPAL Mojosongo yang terletak di wilayah pemukiman dapat bekerja secara baik sehingga tidak menimbulkan bau yang dapat mengganggu warga.

Alur pengolahan limbah domestik yang dilakukan di IPAL Mojosongo sedikit berbeda dengan pengolahan yang terdapat di IPAL Semanggi.Adapun langkah – langkah pengolahan yang dilakukan adalah sebagai berikut :

a) Air buangan yang dialirkan melalui perpipan akan ditampung di sumur pengumpul

b) Setelah dikumpulkan, akan masuk di bak pengendapan dan materi padat dapat mengendap

c) Dari bak pengendapan, akan disalurkan menunju kolam fakultatif aerasi dan kolam aerasi yang menggunakan aerator

d) Setelah mengalami proses aerasi, akan dilanjutkan dengan proses sedimentasi di bak sedimentasi

e) Setiap lumpur yang dihasilkan di setiap pengolahan akan ditampung di dalam sludge drying bed

Tabel VII-13. Perbandingan Waktu detensi dengan standar desain IPAL Mojosongo

No Unit Dimensi Volume Debit td Kriteria

Desain

P L d m3 m3/jam (jam) td

1 Kolam Aerasi 1 21 36.6 2.8 2,152 180.00 12 3 - 6 jam 2 Kolam Aerasi 2 / Fakultatif 18 41.5 3 2,241 180.00 12 3 - 6 jam 3 Kolam Sedimentasi 46.5 55.5 2.8 7,226 180.00 40 2 jam

4 Sludge Drying Bed - - - 1,200 180.00 7

Jika dianalisis menggunakan waktu detensi IPAL Mojosongo masih sangat longgar unutk menampung debit 50 l/det. Jika debit ditingkatkan sesuai target pelayanan mencapai 70 l/det maka IPAL masih mampu mengolah air limbah dengan penambahan aerator saja tanpa perubahan desain konstruksi. Selain itu dimungkinkan untuk mengkombinasikan dengan pembungan lumpur tinja terjadwal dengan modifikasi penambahan imhoff tank sebelum bak aerasi. Debit

111 lumpur tinja yang mungkin dimasukkan diperkirakan 30 – 50 m3/hari. Namun angka ini membutuhkan studi lebih lanjut.

3. IPAL Pucangsawit merupakan instalasi pengolahan air limbah yang beroperasi di daerah pelayanan wilayah tengah. Kapasitas IPAL Pucangsawit sebesar 40L/dt. Secara fisik, IPAL Pucangsawit telah siap beroperasi namun belum ada air limbah domsetik dari sambungan rumah yang masuk ke dalam pengolahan.

Sehingga untuk saat ini, IPAL Pucangsawit dianggap belum beroperasi. IPAL pucangsawit memiliki desain yang maksimal pada debit 40 l/det. Jika ditingkatkan menjadi 60 l/det maka diperlukan pembangunan IPAL baru.

Tabel VII-14. Perbandingan Waktu detensi dengan standar desain IPAL Pucangsawit

No Unit Kebutuhan Volume Debit td Kriteria

Desain m3 m3/hr (jam) td

1 Bak Screening 1 24 144.00 0.17

2 Bak Sedimentasi Awal 6 539 144.00 3.75 3 - 5 jam

3 Biofilter Anaerob I 2 540 144.00 3.75 6 - 8 jam

4 Biofilter Anaerob II 2 540 144.00 3.75 6 - 8 jam

5 Biofilter Anaerob III 2 540 144.00 3.75 6 - 8 jam

6 Bak Pengendap Akhir 2 351 144.00 2.44 2 - 5 jam

IPAL Mojosongo

112 IPAL Pucangsawit

IPAL Semanggi

Gambar VII-9. Instalasi Pengolahan Limbah Terpusat Kota Surakarta