BAB I PENDAHULUAN
H. Metodologi Penelitian
I. Sistematika Penulisan
Penelitian ini secara sistematis akan diuraikan dalam bentuk lima bab yang terdiri dari:
Pendahuluan, berisi terkait alasan kenapa penelitian ini penting untuk dilakukan, identifikasi, pembatasan dan perumusan masalah yang menjadi perhatian utama peneliti yang dijawab pada kesimpulan, tujuan dan manfaat penelitian, hasil penelitian terdahulu, metodologi penelitian dan sistematika penulisan.
Kedua, berisi tentang al-Qur’an yang hidup dalam perilaku masyarakat.
Pada bagian ini al-Quran dijadikan sebagai tradisi masyarakat, melihat tinjauan umum seputar Living Qur-an dan tradisi keagamaan.
29 Moh. Soehadha, Metode Penulisan Sosial Kualitatif untuk Studi Agama, 134.
Ketiga, deskripsi wilayah Pondok Bumi Damai al-Muhibbin yang berada di Jombang Jawa Timur. Bab ini menjelaskan hasil data dari observasi yang telah diteliti oleh peneliti, meliputi profil pesantren dan keadaan sosial agama.
Keempat, pembacaan ayat-ayat al-Qur’an untuk menolak hujan, dalam bab ini akan memaparkan bagimana cara pelaksaan pembacaan surat at-Thariq sebagai ritual menolak hujan.
Kelima menjelaskan tentang kesimpulan pada penelitian ini, saran-saran dari peneliti yang sifatnya membangun serta diakhiri dengan harapan dari beberapa kritik pembaca sehingga dapat mendorong penulis untuk memicu potensi dan kualitas yang lebih baik dari sebelumya.
19 BAB II
KAJIAN TEORITIS
A. Profil Surah al-Ṭāriq
1. Penamaan dan Posisi Surah al-Ṭāriq dalam al-Qur’an
Surah al-Ṭāriq adalah surah makkiyah. Para ahli Tafsir sepakat berpendapat bahwa surah al-Ṭāriq diturunkan pada periode Makkah yaitu setelah surah al-Balad di mana ayat-ayat dari surah ini diturunkan pada fase Mekkah sebelum Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam berhijrah ke kota Madinah.1 Surah ini dinamakan dengan al-Ṭāriq sebagaimana tertera dalam mushaf al-Iman (usmany) serta di berbagai buku tafsir lainya. Secara etimologi al-Ṭāriq berarti mengetuk dengan suara yang terdengar keras, bisa juga dipakai untuk menyebut orang yang sedang berjalan dengan kaki.
Dan secara khusus digunakan pada waktu malam, sebab umumnya pada waktu malam hari semua pintu rumah kebanyakan ditutup. Kemudian makna ini diperluas menjadi apa saja yang terlihat pada waktu malam.
Adapun para pakar tafsir mengartikan nama surat ini dengan bintang yang muncul pada malam hari2
Tema surat ini masih berkisar tentang hari akhirat. Adapun proses utama pembicaraan adalah tentang manusia, rahasia penciptaan serta tahapan-tahapannya kemudian memuat tanda-tanda kekuasaan Allah yang tiada batasnya. Dan pembenaran al-Qur’an sebagai wahyu dan kitab Allah yang menjadi pembeda anatara kebenaran dan kebatilan. Muatan surat ini ditutup dengan hiburan kepada Nabi Muhammad supaya tidak terlalau menanggapi tekanan dari kaum Quraisy. Agar beliau terus berdakwah tanpa memikirkan
1 Jalaluddin as-Suyuti, Itqan fi ‘Ulumi Qur’an Cet. I (Beirut: Darul Kutub al-Ilmiah, 2004 M/1425 ), 20.
2 Dr. Jum’ah Ali Abd. Qadir, Ma’âlim Suar al-Qur’ân, Cairo: Universitas al-Azhar, cet.I, 2004 M/1424 H, vol.2.783.
resiko karena Allah yang akan menanggani dan mengurus mereka.
Kemudian pada ayat 11-12 disebutkan hubungan surat al-Ṭāriq dengan hujan.
2. Kandungan Surah al-Ṭāriq
Surat al-Ṭāriq merupakan salah satu surat yang terdapat dalam mushaf al-Qur'an yaitu di dalam juz al-Qur'an yang ke 30. Surah al-Ṭāriq merupakan surat yang terletak pada urutan surah yang ke-86. Jumlah ayat yang terdapat dalam surah al-Ṭāriq adalah 17 ayat. Allah berfirman pada ayat yang pertama:
قِرﺎَّطﻟاَو ِءﺎَمَّسﻟاَو
“Demi langit dan yang datang pada malam hari.”
ءﺎَمَّسﻟاَو
menurut tafsir Mawardi dalam surat pertama surat al-Ṭāriq adalah Allah bersumpah demi langit dan Allah juga bersumpah dengan kataقِرﺎَّطﻟاَو
3Sebagaimana yang telah dijelaskan pada tafsir-tafsir suratsebelumnya, bahwasannya langit merupakan makhluk terbesar yang dapat disaksikan melalui kasat mata.
Tidak ada makhluk yang bisa kita saksikan yang lebih luas daripada langit. Di dalam naungan langit ada matahari, rembulan, bintang-bintang, menunjukkan betapa luasnya langit. Bahkan ujungnya saja tidak kita ketahui sampai di mana, dan semua manusia di ujung dunia bagian manapun bisa menyaksikan. Itulah di antara hikmah mengapa Allah sering bersumpah dengan langit karena langit adalah benda yang bisa diliat oleh seluruh makhluk diman apun mereka berada. Allah juga bersumpah dengan yang datang pada malam hari4.
3 Ali bin Muhammad Abu Hasan Almawardi, Tafsir Al-Mawardi, Jilid 6, 245.
4 Ali bin Muhammad Abu Hasan Almawardi, Tafsir Al-Mawardi, Jilid 6, 246.
قِرﺎَّطﻟاَو
dalam bahasa arab bermaknaِلْيَّﻟِبِ ُنﺎَيْ تِْﻹَا
yaitu datang pada malam hari. Artinya apa saja yang datang pada waktu malam. Di antaranya adalah bintang-bintang karena munculnya pada waktu malam5.Kemudian Allah berfirman:
ُقِرﺎَّطﻟا ﺎَﻣ َكاَرْدَأ ﺎَﻣَو
“Dan tahukah kamu apakah yang datang pada malam hari itu?”
Ayat ini menegaskan arti kata
ُقِرﺎَّطﻟا
yang akan dijelaskan pada ayat setelahnya. Dalam tafsir Tabari kataُقِرﺎَّطﻟا
disini menunjukan menengetuk pada waktu malam6. Allah memberi pertanyaan pada ayat kedua supaya orang-orang memperhatikanya. Allah berfirman:ُبِقﺎَّثﻟا ُمْﺠَّنﻟا
“(yaitu) bintang yang bersinar tajam”
Disebut bintang karena keluarnya pada malam hari dan menghilang ketika siang hari, sebagaimana yang sudah dijelaskan oleh hadist :
نحمريا يربخ قﺮطي ﺎقرﺎط لاا
“Mengetuk pintulah dengan baik-baik”
Kemudian kata
ُبِقﺎَّثﻟا
Ibnu Abbas menjelaskanya dengan sesuatu yang menerangi. Kemudian imam Suddi berkataُبِقﺎَّثﻟا
adalah para setan akan tembus dengan cahaya tersebut7.Kemudian Allah berfirman:
ظِفﺎَﺣ ﺎَهْ يَلَع ﺎَّمَّﻟ ٍسْفَ ن ُّلُك نِإ
“Setiap orang pasti ada penjaganya”
Tidak ada satu jiwa pun melainkan ada pencatat amalnya. Sebagaimana yang telah berlalu pada tafsir surat al-Infiṭār bahwasanya setiap manusia
5 Jalaludin Al-Mahalli, Tafsir Jalalain, (Surabaya : Nurul Huda), 496.
6 Muhammad Ibnu Jarir Ath-Thabarani, Tafsir Al-Thabari, jilid 24, 351.
7 Muhammad Ali Shabuni, Mukhtasar Ibnu Katsir, (Lebanon: Bairut), 1981, 627.
diikuti oleh para malaikat yang mencatat amalan dia. Sebagaimana yang telah Allah firmaknkan dalam surah al-Infiṭār ayat 10-12.
ظِفﺎَﺣ
dalam tafsir Jalalain diartikan sebagai malaikat yang selalu menjaga manusia dari kebaikan maupun kejelekan8. Artinya segala sesuatu yang memiliki ruh akan selalu dijaga oleh Allah SWT baik dalam keadaaan sadar maupun tidak. Karena Allah sudah mengutus beberapa malaikat untuk selalu menjaga dan mengawai manusia, seperti yang sudah difirmankan dalam al-Qur’an surat al-Ra’d ayat 11 yang artinya Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah9. Kemudian Allah berfirman :َقِلُخ َّمِﻣ ُنﺎَسنِْﻹا ِﺮُظنَيْلَ ف
“Maka hendaknya manusia memperhatikan dari apa dia diciptakan”
ٍقِفاَد ٍءﺎَّﻣ نِﻣ َقِلُخ
“Dia diciptakan dari air (mani) yang terpancar”
ِبِئاََّتَّﻟاَو ِبْلُّصﻟا ِْيَْب نِﻣ ُجُﺮَْيَ
“Yang keluar dari antara tulang punggung dan tulang dada”
Ayat-ayat ini adalah peringatan dari Allah untuk para manusia agar tidak lupa diri atau untuk merenung dari mana manusia diciptakan agar manusia tidak dapat menyombongkan dirinya di dunia. Manusia dicicptakan dari air hina yang keluar (memancar) dari kemaluan laki-laki dan rahim perempuan, yang keluar dari tulang rusuk lelaki dan tulang dadanya perempuan10. Begitu lemahnya manusia dilihat dari asal mula diciptakan, sebagaimana firman Allah SWT dalam surat al-Rūm ayat 27 yang artinya, Dan Dialah Allah
8 Jalaludin Al-Mahalli, Tafsir Jalalain, (Surabaya : Nurul Huda), 497.
9 Muhammad Ali Shabuni, Mukhtasar Ibnu Katsir, (Lebanon: Bairut), 1981, 628.
10 Jalaludin Al-Mahalli, Tafsir Jalalain, (Surabaya : Nurul Huda), 497.
yang menciptakan (manusia) dari permulaan, kemudian mengembalikan (menghidupkan)nya kembali11. Kemudian Allah berfirman:
رِدﺎَﻘَﻟ ِهِﻌْﺟَر ٰىَلَع ُهَّنِإ
“Sesungوguhnya Allah benar-benar kuasa untuk mengembalikannya”.
Surat al-Ṭāriq diturunkan untuk kaum musyrikin Arab yang mengingkari hari kebangkitan. Maka Allah ingin mengingatkan sebagaimana Allah mampu menciptakan manusia dari air mani, Allah lebih mudah untuk membangkitkan manusia kembali dari kematian12 Secara logika dan realita semua mengerti bahwasannya mengulangi sesuatu itu lebih mudah daripada ketika membuatnya pertama kali. Oleh karena itu, Allah membuat contoh seperti itu agar manusia menggunakan otaknya untuk merenungkannya.
Namun bagi Allah semuanya mudah dan sama mudahnya. Tentang tafsir ayat ini, ada 4 pendapat sebagaimana disampaikan oleh Ibnu Jarir At-Thobari. Pendapat pertama, kata ‘mengembalikannya’ kembali kepada air mani, yaitu Allah mampu mengembalikan air mani setelah terpancarkan.
Kata orang, kalau air susu sudah keluar dari putingnya maka tidak mungkin dikembalikan, begitupun dengan air mani kalau sudah keluar dari kemaluan maka tidak mungkin dikembalikan. Bagi manusia mustahil, tetapi Allah kuasa untuk mengembalikan itu semua, Allah mampu untuk mengembalikan air mani yang sudah terpancarkan masuk kembali ke dalam kemaluan. Pendapat kedua, yaitu Allah mampu mengembalikan manusia kembali menjadi air mani jika Allah berkehendak. Pendapat ketiga, yaitu Allah mampu mengembalikan manusia dari kondisi tua kepada kondisi
11 Muhammad Ali Shabuni, Mukhtasar Ibnu Katsir, (Lebanon: Bairut), 1981, 629.
12 Jalaludin Al-Mahalli, Tafsir Jalalain, (Surabaya : Nurul Huda), 497.
muda, dari kondisi muda kepada kondisi anak-anak13.Kemudian Allah berfirman:
ُﺮِئاَﺮَّسﻟا ىَلْ بُ ت َمْﻮَ ي
“Pada hari ditampakkan segala rahasia” (al-Ṭāriq [86]: 9).
Pada hari kiamat kelak semua rahasia akan terbuka dan terbongkar, tidak ada rahasia yang tersembunyi pada hari kiamat. Semua dibuka dengan jelas dan dapat dilihat oleh orang lainya14. Oleh karena itu, hendaknya kita juga memperhatikan masalah hati kita di samping amalan jawarih (anggota badan), di antaranya berupa masalah keikhlasan, masalah qana’ah, masalah beriman kepada takdir, maka masalah hati ini adalah perkara yang sangat penting. Karena sangat berpengaruh terhadap amalan kita di dunia dan di akhirat kelak tatkala yaumul hisab, hari kebangkitan.
Kemudian Allah berfirman:
ُهَﻟ ﺎَمَف ٍﺮِصَنَ َلاَو ٍةَّﻮُ ق نِﻣ
“Maka manusia tidak lagi mempunyai suatu kekuatan dan tidak (pula) ada penolong”
Seseorang tidak akan dapat menghindar dai siksaan Allah dan juga tidak ada orang lain yang bisa menolong dia. Tidak ada kekuatan dari dirinya dan tidak pula dari orang lain15 Bagaimana seorang ayah dan ibu akan menolong anaknya atau sebaliknya -jika telah ditetapkan masuk neraka-, sementara pada hari kiamat satu sama lain akan lari saling meninggalkan. Allah bapaknya,36. dari istri dan anak-anaknya”. (QS ‘Abasa [80]: 34-36).
13 Muhammad bin Zariri bin Yazid, Jamiul Bayan Fi Ta’wilil Qu’an, (Muassah Risalah, 2000), 134.
14 Muhammad Ali Shabuni, Mukhtasar Ibnu Katsir, (Lebanon: Bairut), 1981, 630.
15 Jalaludin Al-Mahalli, Tafsir Jalalain, (Surabaya : Nurul Huda), 497.
Oleh karena itu, ingatlah bahwasanya yang akan menolong kita adalah amalan kita. Jangan pernah berharap kepada orang lain. Kemudian Allah berfirman:
ِعْﺟَّﺮﻟا ِتاَذ ِءﺎَمَّسﻟاَو
“Demi langit yang mengandung hujan” al-Ṭāriq [86]: 11.
Dikatakan
ِعْﺟَّﺮﻟا
karena hujan itu berulang-ulang16, sebagaimana dalam ilmu fisika bahwasannya air itu turun kemudian akan kembali lagi ke langit.Sehingga disebut dengan berulang-ulang.
Kemudian Allah berfirman:
ِعْﺪَّصﻟا ِتاَذ ِضْرَْلأاَو
“Dan bumi yang mempunyai tumbuh-tumbuhan”
Yang dimaksud dengan
ِعْﺪَّص ﻟا
adalahُقُّﻘَشَّتﻟا
danرﺎَطِفْنِلاا
, yaituterbelahnya tanah karena keluarnya tumbuhan ke atas17 kemudian Ibnu Abbas mengartikanya dengan retak karena tumbuh-tumbuhan18. Maksud dari ayat-ayat ini adalah langit menurunkan hujan sehingga tercurahkan kepada tanah yang mati dan tandus, lalu tanah tersebut hidup kembali dengan keluarnya tetumbuhan pada tanah-tanah tersebut. Maka demikianlah pula hari kebangkitan, mudah bagi Allah membangkitkan kembali jasad-jasad yang telah mati sebagaimana mudahnya bagi Allah untuk menghidupkan kembali tanah yang telah tandus. Kemudian Allah berfirman:
لْصَف لْﻮَﻘَﻟ ُهَّنِإ
16 Jalaludin Al-Mahalli, Tafsir Jalalain, (Surabaya : Nurul Huda), 497.
17 Jalaludin Al-Mahalli, Tafsir Jalalain, (Surabaya : Nurul Huda), 497.
18 Muhammad Ali Shabuni, Mukhtasar Ibnu Katsir, (Lebanon: Bairut), 1981, 631.
“Sungguh (Al-Quran) itu benar-benar firman pemisah (antara yang hak dan yang batil)”
ِلْزَْلِْبِ َﻮُه ﺎَﻣَو
“Dan (Al-Quran) itu bukanlah senda gurauan”
Al-Quran adalah pemutus dan pembeda antara yang hak dan bathil., Ibnu Abbas menafsirkan dengan hukum yang adil19. Dan apabila sudah datang ayat dari Allah maka kewajiban kita adalah menerimanya. Apabila sudah ada ayat, sudah ada hadist, maka seluruh perkataan manusia harus kita buang. Kita harus mendahulukan perkataan Allah dan perkataan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Seluruh isi kandungan al-Qur’an adalah serius dan tidak ada yang merupakan senda gurau semata. Maka ini merupakan bantahan kepada kaum musyrikin yang menyatakan bahwa ayat-ayat al-Qur’an hanyalah dongeng-dongeng orang-orang terdahulu yang dibacakan oleh Nabi untuk bercanda dan bersenda gurau20. Kemudian Allah berfirman:
اًﺪْيَك َنوُﺪيِكَي ْمَُّنَِّإ
“Sungguh, mereka (orang kafir) merencanakan tipu daya yang jahat”
اًﺪْيَك ُﺪيِكَأَو
“Dan Aku pun membuat rencana (tipu daya) yang jitu”
Orang-orang kafir yang selalu berbuat tipu daya kepada nabi Muhammad pada akhirnya senjata makan tuan karena Allah Maha mengetahui segalanya21. Patut diketahui bahwasanya tidak boleh mengatakan Allah Maha Pembuat Tipu Daya, karena tidak boleh kita menisbatkan sifat tipu daya yang permanen kepada Allah. Namun Allah terkadang membuat tipu daya kepada orang yang berbuat tidak baik.. Kemudian Allah berfirman:
اًﺪْيَوُر ْمُهْلِهْﻣَأ َنيِﺮِفﺎَكْﻟا ِلِّهَمَف
19 Muhammad Ali Shabuni, Mukhtasar Ibnu Katsir, (Lebanon: Bairut), 1981, 632.
20 Jalaludin Al-Mahalli, Tafsir Jalalain, (Surabaya : Nurul Huda), 497.
21 Jalaludin Al-Mahalli, Tafsir Jalalain, (Surabaya : Nurul Huda), 497.
“Karena itu berilah penangguhan kepada orang-orang kafir. Berilah mereka kesempatan untuk sementara waktu”
Oleh karena itu, orang-orang kafir berbuat kerusakan di dunia tinggal menunggu waktu azab Allah akan turun kepada mereka, baik berupa siksaan, malapetaka dan kehancuran3022. Sebagaimana firman Allah dalam surat Luqmān ayat 24 yang artinya, Kami biarkan mereka bersenang-senang sebentar kemudian kami paksa mereka (masuk) kedalam siksaan yang keras.
3. Fadhilah (keutamaan) Surah al-Ṭāriq
Setiap huruf dan kata dalam al-Qur’an selalu memiliki makna yang begitu dalam karena merupakan Kalamullah termasuk juga surah al-Thariq.
Al-Qur’an juga akan bisa menjadi hujjah yang akan membela kita jika kita mengamalkan kandungannya. Sebaliknya, Al-Qur’an juga akan menuntut kita, jika kita tidak mengamalkanya. Sesungguhnya Al-Qur’an akan menjadi musuh pada hari kiamat bagi orang-orang yang membaca dan menghafalnya saja, namun menyelisihi dan tidak mengamalkannya31. Salah satu surat dalam al-Qur’an adalah surah al-Ṭāriq. Surah al-Ṭāriq ini memiliki keistimewaan serta keutamaan tersendiri. Dalam kitab Lamahatul Anwar wa Nafahatul Azhar, Muhammad bin Abdul Wahid Al-Ghafiqi
menyebutkan beberapa riwayat mengenai keutamaan surah al-Takwīr (surat-surat pendek juz 30). Pertama, orang yang membaca surah al-Ṭāriq, maka dia akan mendapatkan pahala dan kebaikan sebanyak bintang-bintang yang ada di langit. Hal ini berdasarkan riwayat berikut;
َع ْن
22 Muhammad Ali Shabuni, Mukhtasar Ibnu Katsir, (Lebanon: Bairut), 1981, 635.
31 Ustadz Ahmad zainudin,Lc, Keutamaan Membaca Al-Qur’an, https://Artikel Muslim.Or.id.diambil pada tanggal 11 januari 2020.
Dari Ubay bin Ka’ab, dari Rasulullah Saw; Barangsiapa membaca surah
‘Was samaa-i wath thariq, maka Allah akan memberinya sepuluh kebaikan sebanyak hitungan bintang yang ada di langit.
Dalam sebuah riwayat yang dikeluarkan oleh Imam Al-Tsa’labi disebutkan sebagai berikut;
‘Was samaa-i wath thariq, maka Allah akan memberinya pahala sepuluh kebaikan sebanyak hitungan bintang yang ada di langit. Kedua, orang yang membaca surah al-Ṭāriq, maka dia akan dilindungi dan dihalangi dari musuh-musuhnya.
Ini sebagaimana disebutkan dalam riwayat berikut;
ُر ِو
Diriwayatkan dari Nabi Saw bahwa beliau bersabda; Barangsiapa takut terjadi sesuatu pada dirinya, kemudian dia membaca surah al-Ṭāriq, maka Allah akan menjaganya dari musuhnya, dan Allah akan menghalanginya dari musuhnya.
Demikianlah beberapa penjelasakan terkait keutamaan surat al-Ṭāriq menurut beberapa Ulama’ yang sudah disebutkan oleh peneliti.
B. Penjelasan Tentang Hujan 1. Proses Terjadinya Hujan
Al-Qur’an banyak sekali membahas tentang fenomena alam, seperti eksistensi air, eksistensi laut, eksistensi awan dan angin, eksistensi tetumbuhan dan pepohonan, eksistensi binatang, kebersihan lingkungan dan kerusakan lingkungan32. Salah satunya adalah hujan, fenomena alam tersebut dipahami kadang kala sebagai rahmat dan juga sebagai azab.
32 Muchlis M.Hanafi, Pelestarian Lingkungan hidup (Tafsir al-Qur’an Tematik),(Jakarta: Lajnah Pentashih Al-Qur’an, 2012), 27.
Padahal hujan tersebut kalau dilihat dari proses turunnya pengertianya sama yaitu karena proses alam semata yaitu salah satu contoh proses terjadinya hujan sebagai berikut, air yang terkena sinar matahari akan menguap. Uap air tersebut akan naik ke angkasa, karena suhu di angkasa itu sangat dingin, maka suhu itu mengembunkan uap air menjadi titik-titik air. Kumpulan titik air ini tampak sebagai awan. Tiupan angin yang membawa titik-titik air dari tempat lain membuat titik-titik-titik-titik air menjadi sangat banyak, sehingga awan tampak semakin menebal. Suhu yang semakin dingin membuat titik-titik air semakin besar dan berat hingga akhirnya jatuh ke bumi sebagai hujan.33
Menurut imam al-Rafi’i sebagaimana dikutip al-Munawi, bahwasanya hujan turun setiap siang dan malam. Namun, Allah menurunkanya sesuai kehendak-Nya, dilaut ataupun di darat. Terkadang huja turun tidak sesuai dengan muslimnya dan terkadang pula hujan turun sesuai dengan musimnya. Semua itu tergantung pada kehendak sang pemilik alam yaitu Allah SWT.34
َءﺎَش ُثْيَﺣ ُالله ُهُفِّﺮَصُيَو ﺎَهْ ي ِف ُﺮُط َْت ُءﺎَمَّسﻟاَو َّلاِإ ٍرﺎََنَّ َلاَو ٍلْيَﻟ ْنِﻣ ﺎَﻣ
Ibnu ‘Abbas juga pernah meriwayatkan bahwa setiap tahun hujan turun tidak lebih sedikit dari tahun sebelumnya. Karena Allah telah membagi turunnya hujan diantara hamba-hambanya dan sesuai dengan kehendak-Nya35.
ﺎَﻣ ىَلَع ِهِدﺎَب ِع َْيَْب َكِﻟَذ ُمْسِق َالله ِنِكَﻟَو ٍمﺎ َع ْنِﻣ اًﺮَطَﻣ ُّلَقَأ ٍمﺎَع ْنِﻣ ﺎَﻣ ٍسﺎَّبَع ِنْبا ِنَعَو َءﺎَش
33 Umi Habibah Dkk,..Ilmu Pengetahuan Alam 5, (Jakarta:CV.Mitra Media Pustaka,2010), 184.
34 Syarh al-Jami’ al-Shagir, Faidhul Qadir, Maktabah Tajariyatul Kubra, 1971.
35 Mausu’ah al-Hafidz Ibnu Hajar, 560.
Diriwayatkan bahwa malaikat mengetahui jumlah butiran hujan dan kadar turunnya pada setiap tahun. Dikarenakan butiran hujan yang turun tidak pernah berbeda, hanya saja butiran hujan yang turun disetiap daerah berbeda-beda.36
ِه ْيِف ُفِلَتَْتَ ْنِكَﻟ ُفِل َتَْيَ َلا ُهَّنَِلأ ٍمﺎَع ُّلُك ِهِرَﺪَقَو ِﺮَطَمْﻟا ُدَﺪَع َنْﻮُ فِﺮْﻌَ ي َﺔَكِئ َﻼَمْﻟا َّنَأ َيِوُرَو ِد َﻼَبْﻟا
Dalam ilmu geografi proses terjadinya hujan ialah berasal dari penguapan air laut dan permukaan akibat penyinaran matahari. Kemudian mengalami pengembunan (kondensasi) membentuk titik air yang berkumpul menjadi awan. Jika titik-titik air sudah berat, maka turunlah dalam bentuk hujan37. Pendapat di atas bisa kita pahami sebagai proses alam semata, proses tersebut seakan-akan tidak memperlihatkan kepada manusia bahwa hujan tidak menimbulkan azab atau musibah, akan tetapi hujan turun sebagai kabar gembira atau rahmat bagi alam seperti ayat berikut:38
ْيَﺪَي َْيَْب اًﺮْشُب َحَياِّﺮﻟا ُلِﺳْﺮُ ي يِذَّﻟا َﻮُهَو
“Dan Dialah yang meniupkan angin sebagai pembawa berita gembira sebelum kedatangan rahmat-Nya (hujan), hingga apabila angin itu telah membawa awan mendung, Kami halau ke suatu daerah yang tandus, lalu Kami turunkan hujan di daerah itu, Maka Kami keluarkan dengan sebab hujan itu berbagai macam buah-buahan. seperti Itulah Kami membangkitkan orang-orang yang telah mati, Mudah-mudahan kamu mengambil pelajaran.” (Surah al-A’rāf [7]: 57).
36 Syarh al-Jami’ al-Shagir, Faidhul Qadir, Maktabah Tajariyatul Kubra, h, 631
37 Hartono, Geografi 1 jelajah bumi dan alam semesta untuk kelas X SMA/MA,(Jakarta: CV.Citra Praya.2009),99.
38 Muchlis M.Hanafi, Pelestarian Lingkungan hidup (Tafsir al-Qur’an Tematik), 57.
2. Kadar dan Kandungan Air Hujan
Kandungan H2O atau uap air hujan merupakan kandungan paling dominan, karena berkisar sekitar 90 hingga 99.9%. Pada saat siklus hujan, ada yang dinamakan proses penguapan di mana menjadi sumber terbawanya H2O pada hujan. Penguapan H2O akan membentuk awan kecil yang akan terbawa angin dan menjadi sumber utama hujan. Hujan merupakan proses turunnya butiran air dari atmosfer ke permukan bumi dalam bentuk es, salju, ataupun bentuk cair. Proses turunnya hujan sendiri diawali dengan proses penguapan air di permukaan bumi. Penguapan paling besar dibantu oleh energi sinar matahari. Panas dari sinar matahari yang terpapar pada permukaan air menyebabkan air lapisan permukaan akan menguap dan mengapung ke udara sampai atmosfer. Uap air ini terkumpul akibat dorongan angin. Angin yang disebabkan oleh udara yang bergerak akibat perbedaan tekanan, yakni menuju udara yang meiliki tekanan lebih rendah. Ditempat dengan tekanan udara yang lebih rendah itulah sedikit demi sedikit uap air tersebut terkumpul dan menjadi awan yang lebih pekat.
Jika dilihat dari permukaan bumi berupa awan mendung. Saat awan ini berkumpul menjadi lebih pekat dan mengalami penurunan suhu di atmosfer, maka air dalam bentuk uap ini berubah menjadi bentuk cairnya kembali dan turun sebagai hujan.
Siklus air atau siklus hidrologi adalah pergerakan dan perubahan air didalam hidrosfer39. Siklus ini merupakan pengulangan proses turunnya hujan. Karena sifat air yang mudah berubah wujud seperti cair, padat, dan gas. Perubahan wujud air ini bisa disebabkan banyak hal, seperti paparan sinar matahari dan perubahan musim. Air yang berada di daratan seperti laut, danau, dan sungai yang terpapar sinar mentari mengalami perubahan
39 Ndarto, Hidrologi, (Jakarta: Bumi Aksara, 2014), 4.
wujud menjadi gas atau mengalami penguapan. Kemudian naik ke udara dan berubah menjadi awan dan mengalami perubahan wujud kembali menjadi cair dan turun sebagai hujan. Proses tersebut terus mengalami pengulangan. Terus terjadi berulang-ulang mulai dari proses penguapan air didaratan, pembentukkan awan, turunnya hujan, hingga menguap kembali.
3. Fungsi Air Hujan Bagi Kehidupan a. Pemasok air tawar
Penyebab air hujan ini tawar adalah pada saat air laut menguap kandungan garam yang tercampur pada air tertinggal dan tidak ikut menguap. Kandungan garam tetap tertinggal, sedangkan air yang menguap tersebut terpisah dan berubah menjadi zat gas dan naik ke atmosfer.
Pada saat hujan turun air yang dihasilkan adalah air tawar. Hal itu sangat berpengaruh terhadap kehidupan di bumi. Mengingat setiap makhluk hidup
Pada saat hujan turun air yang dihasilkan adalah air tawar. Hal itu sangat berpengaruh terhadap kehidupan di bumi. Mengingat setiap makhluk hidup