BAB I PENDAHULUAN
1.8 Sistematika Penulisan
BAB I : PENDAHULUAN
Dalam bab ini akan menguraikan latar belakang masalah, perumusan masalah, batasan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, kerangka teori, metodologi penelitian dan sistematika penelitian.
BAB II : SEJARAH PERAN ULAMA DI INDONESIA DAN TINJAUAN MENGENAI AKSI BELA ISLAM DI KOTA MEDAN ATAS PENISTAAN AGAMA OLEH AHOK
39 Burhan Bungin. 2009. Penelitian kualitatif: Komunikasi, Kebijakan Publik, dan Ilmu Sosial Lainnya.
Jakarta: PT. Kencana, hal. 153.
Dalam bab ini akan diuraikan bagaimana sejarah Ulama yang memiliki peran yang sangat penting bagi masyarakat dan bangsa Indonesia. Mulai dari masa kolonial hingga sekarang.
BAB III : ANALISIS PERAN ULAMA DALAM AKSI BELA ISLAM DI KOTA MEDAN ATAS PENISTAAN AGAMA OLEH AHOK DAN POLA KONSOLIDASI AKSI BELA ISLAM DI KOTA MEDAN
Pada bab ini peneliti akan menguraikan analisis dengan data-data yang didapat sesuai dengan pokok permasalahan yang sesuai.
BAB IV : PENUTUP
Pada bab ini peneliti akan menyajikan kesimpulan dari hasil penelitian beserta dengan saran-saran yang bersifat membangun.
BAB II
SEJARAH PERAN ULAMA DI INDONESIA DAN SEJARAH ULAMA KOTA MEDAN SERTA TINJAUAN UMUM MENGENAI AKSI BELA ISLAM DI KOTA MEDAN ATAS PENISTAAN AGAMA OLEH AHOK
2.1 SEJARAH PERAN ULAMA DI INDONESIA
2.1.1 Peran Ulama Pada Masa Kolonial
Dari masa kolonial, Ulama memiliki peran yang sangat penting dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara termasu1k dalam unsur-unsur pergerakan atas nama kemaslahatan umum. Peran penting Ulama pada masa kolonial terlihat dalam keterlibatan para Alim-Ulama dalam perlawanan atau pemberontakan rakyat melawan kekuatan Barat nampak sejak VOC atau kompeni
mengembangkan kekuasaannya di kepulauan Indonesia.40
Peranan para Ulama di Indoensia bertepatan dengan kedudukannya politik yang tidak mutlak kaum muslimin pada umumnya. Pada masa sebelum penjajahan, pada waktu kejayaan kerajaan-kerajaan Islam, peranan para Ulama tidak dapat diragukan lagi adalah sangat penting, baik dalam soal agama maupun dalam soal politik. Kebanyakan kerajaan-kerajaan Islam di Jawa, seperti Demak,
40 Op Cit., Peran Elit Agama Pada Masa Revolusi Kemerdekaan. Hlm. 36
Cirebon, dan Banten pada abad keenam belas telah diprakarsai oleh kaum Ulama melalui semacam persaudaraan sufi.41
Selang beberapa waktu, peranan para Ulama lambat laun kembali ke arah yang lebih bersifat politik, dan bahkan meluas hingga ke dunia luar, khususnya setelah terjadinya pendekatan dengan Mekah melalui ibadah haji pada abad kesembilan belas. Gerakan Padri pada abad kesembilan belas (1821-1837) adalah bukti bahwa peranan para Ulama di zaman penjajahan Belanda mulai memperoleh warna politik. Pada permulaan abad kedua puluh para Ulama, sebagaimana diterangkan diatas, sudah terlibat dalam gerakan kebangkitan nasional.42
Para masyarakat yang mengalami tekanan dan penindasan dari kolonial akan mencari perlindungan kepada para tokoh-tokoh yang dipercayai memiliki kekuatan, dengan harapan akan diberikannya semangat dan harapan hidup yang lebih baik di masa-masa yang akan datang. Tokoh-tokoh seperti itu antara lain para elit agama, seperti kyai atau Ulama. Walaupun sebagian yang lain ada yang percaya terhadap dukun-dukun yang mempunyai kekuatan ghaib. Masyarakat yang mencari perlindungan tersebut berawal dari kecenderungan masyarakat yang menginginkan pegangan-pegangan lama, seperti menghidupkan kembali nilai-nilai tradisional.43
Masyarakat yang mendominasi mendatangi para Ulama untuk meminta perlindungan merupakan masyarakat petani. Seperti yang dikatakan Harry J.
Benda dalam buku “peranan elit pada masa revolusi kemerdekaan Indonesia”
41,loc Cit., hal. 53
42 Ibid.,
43 Ibid.,
menyebutkan bahwa pemberontakan-pemberontakan petani yang muncul sepanjang abad ke-19 sebagian besar bercirikan Islam. gerakan-gerakan yang bercirikan Islam tidak akan terlepas dari adanya peran Ulama sebagai pemimpin dalam melakukan perlawan-perlawan yang terjadi.
Perlawanan-perlawanan yang bercirikan Islam merupakan perlawanan yang memperjuangkan hak-hak yang sesuai dengan agama Islam dan melawan kebathilan. Memperjuangkan hak menjadi keharusan dan gugur dalam mempertahankan hak merupakan mati sahid. Mati sahid merupakan mati dengan membawa kemuliaan dengan imbalan syurga. Sehingga mati dalam keadaan sahid menjadi dambaan seluruh kaum Muslimin.44
Keterlibatan elit-elit agama Islam ini semakin kelihatan terutama dalam gerakan-gerakan rakyat yang muncul secara sporadis dalam hampir sepanjang abad ke-19 sampai dengan awal abad ke-20.45 Pergerakan-pergerakan atas perlawan yang dilakukan masyarakat merupakan kekuatan yang direalisasikan dan ditanamkan oleh Ulama kepada masyarakat.
Clifford Geetzh dalam bukunya “Islam Obsererved : Religius Development in Marocco and Indonesia” mencatat empat kali pemberontakan yang dipimpin para Alim-Ulama. Dia menyebutkan sebagai Pemberontakan Santri (Santri insurrection) melawan Imperialis Belanda pada abad ke-20, yakni
44 Ibid.,
45 Ibid., hlm. 36
pemberontakan di Sumatera Barat (1821-1828), Jawa Tengah (1826-1830), Barat Laut Jawa (1840-1880), dan Aceh (1873-1903).46
Pemberontakan santri Sumatera Barat tidak lain adalah pemberontakan yang dilakukan oleh Kaum Paderi di daerah Bonjol, Sumatera Barat yang dipimpin oleh Ulama Besar Malim Basa yang dikenal sebagai Tuanku Imam Bonjol. Kaum Paderi yang dijiwai oleh semangat keislaman dan cinta tanah air melakukan perlawanan terhadap kolonialis Belanda.47
Di jawa Tengah para santri melakukan perlawanan yang dipimpin oleh Pangeran Diponegoro dibantu oleh Kyai Maja, seorang Ulama terkenal waktu itu.
Perang Diponegoro dikenal dengan sebutan Java Oorlog merupakan perlawanan rakyat setempat terhadap kekuasaan Kolonialis Belanda yang menerapkan sistem kerja paksa, dan penyerobotan atas tanah-tanah masyarakat, yang semuanya itu menimbulkan kesengsaraan dan penderitaan yang berkepanjangan.48
Pemberontakan santri di Barat Laut Jawa yang dimaksudkan oleh C.
Geertz, adalah pemberontakan yang dilakukan oleh para Ulama dan Umat Islam Banten yang berupaya melepaskan diri dari sistem tanam paksa yang diberlakukan oleh Pemerintah Kolonial. Pemberontakan Ulama dan Umat Islam di Banten terjadi pada tahun 1834, 1833, 1842, 1849, 1880, dan 1888.
Begitu juga dengan pemberontakan santri di Aceh yang disebutkan oleh C.
Greetz berlangsung pada tahun 1873-1903, adalah pemberontakan yang dilakukan oleh Cut Nya’ Dhien, yang lebih dikenal sebagai perang Aceh (De Groot Aceh
46 Ibid., hlm. 40
47 Ibid.,
48Ibid.,
Oorlog). Pemberontakan di Aceh pada mulanya dipimpin oleh Teuku Umar suami cut Nya’ Dhien sendiri. Setelah Teuku Umar mati sahid di Meulaboh, pimpinan perang kemudia diambil alih oleh Cut Nya’ Dhien. Genderang perang yang didengungkan oleh Cut Nya’ Dhien sangat menakutkan Belanda.49
2.1.2 Peran Ulama dalam Merebut Kemerdekaan
Pada dasarnya dalam merebut kemerdekaan Indonesia merupakan hasil dari perjuangan seluruh bangsa Indonesia. Namun dari berbagai peristiwa perlawanan dan perebutan dalam merebut kemerdekaan tidak terlepas dari adanya peran Ulama. Ulama dijadikan suatu mediator dalam memberikan semangat juang dengan dilandasi dalih-dalih keagamaan. Sebab pada dasarnya pada saat itu Islam merupakan agama mayoritas di Indonesia. Semangat juang dalam merebut kemerdekaan dari tangan kolonial tidak terlepas dari anjuran-anjuran yang terdapat dalam Al-Qur’an, As-Sunnah dan Ijtihad-Ijtihad dari para Ulama. Nilai-nilai perjuangan yang dapat diambil adalah seperti kemuliaan mati sahid dalam merebut kemerdekaan dan mempertahankan tanah air.50
Pada masa revolusi (1945-1949) para Ulama menjalankan peranan sangat penting dalam aksi mobilisasi massa untuk bertempur melawan Belanda. Banyak
49 Ibid.,
50Ibid.,
diantara para komandan kaum gerilya yang bertempur berasal dari para Ulama dari berbagai tingkatan, umunya disebut para kiai.51
Selain bertempur melawan penjajah, Ulama juga memiliki peran dengan mendesak founding father untuk segera memerdekakan Indonesia. Kemerdekaan bangsa Indonesia yang diperjuangkan oleh para Ulama dengan mendesak Soekarno untuk memproklamirkan Kemerdekaan Republik Indonesia saat di halangi oleh Inggris. Karena apabila tidak segera diproklamirkan, maka bangsa Indonesia harus menunggu Kemerdekaan Negara dan Bangsa Indonesia selama 300 tahun mendatang. Selain mendesak Soekarno untuk segera memproklamirkan Kemerdekaan Republik Indonesia, para ulama juga mempunyai beberapa jasa yang tidak dapat diabaikan oleh bangsa Indonesia.
Pertama, para ulama menyadarkan rakyat akan ketidakadilan dan kesewenang-wenangan para penjajah. Di berbagai pesantren, madrasah, organisasi, dan pertemuan lainya, para ulama menanamkan kesadaran di hati rakyat akan ketidakadilan dan kesewenang-wenangan tersebut. Kedua, para ulama memimpin gerakan non kooperatif pada penjajah Belanda. Para ulama di masa penjajahan banyak mendirikan pesantren di daerah-daerah terpencil, untuk menjauhi bangsa penjajah yang banyak tinggal di kota. Di masa revolusi, Belanda mempropagandakan pelayanan perjalanan haji dengan ongkos dan fasilitas yang dapat dijangkau oleh kaum Muslim di daerah jajahanya. KH Hasyim Asy’ari menentang, beliau mengeluarkan fatwa bahwa pergi haji dalam masa revolusi
51 Loc Cit.,
dengan menggunakan kapal Belanda hukumnya haram. Setiap bujukan agar Kiai Hasyim tunduk dan mendukung Belanda selalu gagal dilakukan. Gerakan non kooperatif ini pun dilakukan dan dipimpin oleh ulama-ulama lainnya.52
Ketiga, mengeluarkan fatwa wajibnya jihad melawan penjajah. Fatwa jihad ini sangat besar pengaruhnya dalam membangkitkan semangat pahlawan.
Perang melawan penjajah dianggap jihad fi sabilillah, yakni perang suci atau perang sabil demi agama. Keempat, memobilisasi dan memimpin rakyat dalam perjuangan fisik melawan penjajah. Banyak ulama yang menjadi pemimpin perlawanan, seperti Pangeran Dipenogoro, Fatahillah, Imam Bonjol, Teungku Cik Ditiro, KH Hasyim Asy’ari, KH Abbas Buntet, KH Zainal Mustafa, dll.
Kelima, menyerupakan persatuan membela kemerdekaan RI yang diproklamasikan Soekarno-Hatta. Para ulama yang dipimpin Kiai Hasyim Asy’ari memfatwakan kewajiban mempertahankan kemerdekaan RI, dan pada 1954 sebuah Musyawarah Alim Ulama Indonesia (NU) di Cipanas mengambil keputusan bahwa Presiden Soekarno adalah Waliyyul Amri Dharuri bisy-Syaukah, artinya pemegang pemerintahan yang punya cukup kewibawaan dipatuhi oleh pejabat dan rakyat.53
Keenam, berperan aktif dalam mengisi awal kemerdekaan. Sebelum kemerdekaan para ulama ikut mempersiapkan kemerdekaan, termasuk di BPUPKI (Badan Penyelidik Usaha-usaha Kemerdekaan Indonesia). Dan pada awal kemerdekaan, banyak ulama yang aktif di pemerintahan atau parlemen. Dan juga
52 Ibid.,
53Ibid.,
tak terhitung para ulama yang berjuang melalui organisasi dan pendidikan.
Kemerdekaan bukan hanya hasil dari usaha para bangsawan, tokoh nasionalis terpelajar, dan tentara, namun juga hasil besar dari usaha para ulama. Karenanya sudah selayaknya perjuangann para ulama harus dihargai, baik ulama yang sudah terkenal maupun yang belum terkenal karena jasa kepahlawanannya harus di hargai. Sebagaimana yang dikatakan Bung Karno, “Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa para pahlawannya.”54
2.1.3 Peran Ulama Pada Masa Orde Lama
Pada masa demokrasi terpimpin Presiden Soekarno (Orde lama), khususnya setelah pembubaran Masyumi, peran Ulama semakin berkurang karena adanya batasan-batasan yang dibuat oleh pemimpin pada saat itu. Hal ini membuat para Ulama harus mengundurkan diri dari politik formal dan membatasi perannya pada soal-soal keagamaan saja, kecuali sejumlah kecil Ulama Nahdatul Ulama yang masih tetap memperoleh lindungan Soekarno.55
Dengan makin berkurangnya peranan para Ulama dalam politik formal, baik pemerintah maupun pihak Ulama menghadapi tantangan untuk mencari bentuk peranan baru bagi para Ulama dalam masyarakat. Dalam kaitan ini dirasakan perlunya dibentuk sebuah wadah baru yang berlaku di seluruh negeri bagi para Ulama untuk mewakili kepemimpinan kaum muslimin. Dalam sebuah
54 “Peran Ulama Dalam Kemerdekaan Rakyat Indonesia”. Diakses melalui: http://syaamilquran.com/peran-ulama-dalam-kemerdekaan-rakyat-indonesia.html pada tanggal 24 Februari 2017 pukul 15:19 WIB
55 Loc Cit., hal. 54
konferensi para Ulama di Jakarta yang diselenggarakan oleh Pusat Dakwah Islam dari tanggal 30 September hingga 4 Oktober 1970, telah diajukan suatu saran untuk memajukan kesatuan kaum muslimin dalam kegiatan sosial mereka dengan membentuk sebuah majelis bagi para Ulama Indonesia, yang akan diberi tugas untuk memberikan fatwa-fatwa.56
Peran Ulama pada masa orde lama tidak terlepas juga dari adanya pergerakan-pergerakan yang dilakukan oleh organisasi-organisasi Islam yang dipimpin oleh Ulama. Setiap perjalanan dan kehidupan yang berlangsung dalam organisasi Islam tersebut merupakan atas dasar adanya campur tangan yang sangat besar dari peran Ulama yang berada di dalam organisasi tersebut. Adapaun organisasi Islam yang memiliki pengaruh dan peran besar pada masa orde lama seperti adanya Nahdatul Ulama (NU). Organisasi NU tidak terlepas dari adanya peran Ulama yang menduduki jabatan penting dangan memiliki pengaruh yang besar dalam mengambil suatu keputusan untuk melangsungkan berjalannya organisasi tersebut. Setiap apa yang dilakukan oleh NU merupakan atas perintah dan kewenangan dari adanya peran Ulama yang memotori dan mengkontrol organisasi tersebut.57
Pada periode 1960-1966 NU tampil menjadi kekuatan yang melawan komunisme, hal ini dilakukan dengan membentuk beberapa organisasi, seperti : Banser (Barisan Ansor Serba Guna), Lesbumi (Lembaga Seni Budaya Muslim), Pertanu (Persatuan Petani NU), dan lain-lain. Pada tanggal 5 Oktober1965 NU
56 Ibid.,
57Op Cit.,
menuntut pembubaran PKI. Prestasi yang disandang NU, diantaranya: Pertama, penyelenggaraan Pemilu pertama diserahkan kepada sebuah panitia Pemilu yang anggotanya terdiri dari wakil-wakil partai politik. Jadi, tidak dilaksanakan oleh pemerintah. Hal yang demikian dikenang dan dicatat oleh sejarah sebagai Pemilu yang diselenggarakan berdasarkan policy Mendagri Mr. Soenarjo (dari NU). Pada Pemilu ini, NU meraih 45 kursi di parlemen (DPR).58
Kedua, lahirnya Peraturan Pemerintah 10: membatasi aktifitas ekonomi para pengusaha asing serta bertujuan memproteksi dan mendorong agar para pengusaha pribumi dapat berkembang. Peraturan Pemerintah ini lahir pada saat Departemen Perdagangan dipimpin oleh Drs. Rahmat Mulyoamiseno (NU) Ketiga, penggagasan berdirinya masjid Istiqlal oleh K.H. A. Wahid Hasyim (Menteri Agama saat itu) dan disetujui Presiden Soekarno. Adapun pelaksanaannya direalisasikan pada masa Menteri Agama K.H. M. Ilyas (NU).
Keempat, penggagasan pendirian IAIN oleh K.H. Wahib Wahab (Menteri Agama saat itu). Kelima, realisasi penerjemahan al-Qur’an kedalam bahasa Indonesia oleh Menteri Agama Prof. K.H. Syaifuddin Zuhri (NU). Keenam, penyelenggaraan kegiatan Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) yang diprakarsai oleh Menteri Agama K.H. M. Dahlan (NU), yang di kemudian hari menjadi acara nasional, silaturrohmi para qori’ dan huffadz se-tanah air. Ketujuh, penggagalan terbentuknya “Kabinet Kaki Empat” (PNI-PKI-Masyumi-NU), perlawanan langsung terhadap aksi-aksi PKI disegala bidang. Ketika Prof. Dr. Hamka
58Ibid.,
dihantam PKI, NU melalui media massa yang dimilikinya, yaitu surat kabar harian Duta Masyarakat (Dumas) secara terang-terangan membela Hamka.
Puncak dari perlawanan NU terhadap PKI adalah gagalnya G30S PKI. 59
NU tercatat sebagai partai politik pertama yang mengusulkan kepada Presiden Soekarno agar PKI dibubarkan. Sikap tegas ini dicetuskan oleh NU pada tanggal 5 Oktober 1965 ketika masyarakat Indonesia masih bersikap ragu-ragu tentang siapa yang menjadi arsitek G30S PKI.60
2.1.4 Peran Ulama Pada Masa Orde Baru
Pada masa orde baru dibawah kepemimpinan Soeharto, yang menjadi persoalan utama dalam negeri adalah persoalan terkait dengan komunis ataupun PKI. Pada masa ini semua yang berhubungan dengan PKI harus dihilangkan. Baik secara pemikiran dan ideologi Komunis, logo PKI, bendera PKI, bahkan orang yang tersandung dalam PKI.
Dr. Hamka merupakan ketua umum pertama Majelis Ulama Indonesia (MUI) memiliki alasan mengapa dia menerima baik kedudukan sebagai ketua umum MUI. Pertama, Hamka berkata bahwa untuk menghadapi ideologo Komunis di Indoensia, orang harus menggunakan ideologi yang lebih kuat, yakni Islam. untuk mencapai ini hal ini, kaum muslimin seharusnya dapat bekerja sama
59Ibid.,
60 “ Peran NU dari Masa Ke Masa”. Diakses melalui:
https://ahlusunnahwaljamaahblog.wordpress.com/2016/07/12/peran-nu-dari-masa-ke-masa/. pada tanggal 25 Februari 2017 pukul 17:35 WIB
dengan pemerintahan Soeharto, yang juga bersikap antikomunis. Alasan kedua bersifat lebih taktis. Ia berkata bahwa pemerintah telah senantiasa bersikap tidak percaya terhadap kaum muslimin, betapapun luhur maksud kaum muslimin. Pada waktu yang bersamaan setiap usaha pihak pemerintah demi perbaikan nasib rakyat, yang sebagian besar beragama Islam, telah dianggap oleh kaum muslimin sebagai sekular dan palsu. Hamka berpendapat bahwa dengan pembentukan MUI keadaan demikian akan dapat diperbaiki.61
Selain adanya Majelis Ulama Indonesia (MUI), pada masa kepemimpinan Soeharto (Orde Baru) adanya organisasi massa Islam yang merupakan organisasi yang tidak terlepas dari adanya peran-peran Ulama yang membangun, menjaga, serta menjalankan organisasi. NU lebih berkiprah pada pengembangan masyarakat tingkat bawah (grass root) untuk menciptakan civil society. Juga pada rezim inilah terlahir konsensus untuk kembali ke khittah 1926 melalui muktamar NU ke-27 di Sukorejo Situbondo, tahun 1984. Inti dari Khittah adalah keinginan untuk kembali pada semangat perjuangan awal, menjadi ormas sosial keagamaan. Keputusan penting lainnya adalah NU secara formal menerima Pancasila sebagai asas tunggal atau landasan dasar NU. Sampai pada meletupnya reformasi yang pada era itu merupakan kemengan bagi warga nahdliyin.62
NU memang punya bobot politik yang cukup besar, karena massa yang bisa dimobilisasi dalam krisis politik. Pada zaman revolusi, dan juga pada zaman
61 Hamka Rusjdi.1981.Pribadi dan Martabat Prof. Dr. Hamka.Jakarta: Pustaka Panjimas, hal. 68
62 “Peranan Ulama’ Dari Masa Ke Masa”. Diakses melalui:
http://zakaaswaja.blogspot.co.id/2016/07/peranan-nahdlatul-ulama-dari-masa-ke.html pada tanggal 25 Februari 2017 pukul 18:18 WIB
peralihan dari Orde Lama ke Orde Baru, orang NU telah memainkan peranan sangat menonjol, sebagai unsur utama laskar Hizbullah dan Sabilillah pada 1945-49, dan sebagai pelaku utama pembunuhan terhadap orang-orang PKI pada 1965- 66. Berkat kekuatan fisiknya, NU memainkan peranan penting dalam perubahan politik dua masa peralihan tersebut; tetapi sumbangan penting itu tidak pernah dapat diterjemahkan menjadi pengaruh nyata dalam pemerintahan, dewan perwakilan, maupun masyarakat sipil. Dua figur NU yang paling menonjol pada masa peralihan tersebut, Wahid Hasyim dan Subchan ZE, kemudian disingkirkan (dimarginalisir) dari sistem politik; massa NU tak dilibatkan dan tetap berada di pinggiran. Tokoh NU yang bisa survive dekat pusat kekuasaan ialah Idham Chalid, politisi gaya lama yang tidak mewakili sikap atau ideologi tertentu dan selalu bisa beradaptasi dengan setiap perubahan.63
2.1.5 Peran Ulama Pada Masa Reformasi
NU sebagai organisasi kemasyarakatan bisa lebih leluasa mengembangkan diri, memfokuskan pada visi dan misinya di bidang-bidang sosial, kemasyarakatan, keagamaan dan pendidikan. Makin banyak tantangan yang dihadapi, massa NU yang banyak bermukim di pedesaan terutama di Jatim dan sebagian Jawa Tengah serta beberapa daerah mulai intensif mendapatkan perhatian dari pimpinan NU. Sebagian besar nahdliyin di pedesaan tak lepas dari belitan kemiskinan, namun organisasi-organisasi otonom NU melakukan
63Ibid.,
langkah lebih konkrit untuk berupaya mengatasi kemiskinan, karena bila dibiarkan terus-menerus lama-kelamaan akan menggerus massa NU.
Dikhawatirkan akan banyak umat nahdliyn semakin renggang hubungan silaturahim, fungsional dan strukturnya dengan NU. Organisasi-organisasi otonom NU adalah Muslimat NU, GP Ansor, Fatayat, IPNU dan IPPNU, juga kalangan mahasiwanya yang tergabung dalam PMII. Organisasi-organisasi otonom itu sebenarnya merupakan potensi cukup besar yang bila dikelola maksimal akan menjadikan pohon NU lebih subur, rindang dan akarnya juga semakin kuat.64
Angkatan Muda NU semakin banyak yang menjadi intelektual dalam berbagai bidang, bahkan mulai ada yang sudah diperhitungkan dalam forum nasional maupun internasional. Pada 1985 mereka mendirikan Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumberdaya Manusia (Lakpesdam) NU. Selain itu, sebetulnya NU memiliki kelebihan dari warganya kalangan bawah yang menjadi wiraswasta meskipun sebagian besar masih dalam skala usaha kecil. Tapi di sini sudah ada modal dasar yakni jiwa wiraswasta mereka. Bila mereka terus dibina oleh NU dengan dukungan pemerintah, mereka tidak akan sulit untuk ditingkatkan menjadi wiraswasta tingkat menengah dan kemudian tinggi. Misi NU yang tak kurang beratnya adalah bagaimana mengantisipasi gerakan-gerakan radikal dari kalangan Islam sendiri, baik yang berasal dari luar maupun dalam negeri. Mengantisipasi
64 Loc cit.,
hal itu pada 2012 NU membentuk Laskar Aswaja untuk merespons keresahan atas radikalisme berbasis agama.65
Pegangan yang dipakai NU sejauh ini tetap mempertahankan paham ahlus sunnah wal jama'ah (aswaja) yang disesuaikan dengan kultur masyarakat dalam bingkai kebangsaan dan NKRI. Menangkal gerakan radikal lewat gerakan dakwah dan secara fisik bila dalam keadaan terpaksa dengan Laskar Aswaja. Aswaja bila ditilik pengertiannya adalah aliran yang dianut siapa pun umat Islam yang berpegang teguh pada Al Qur'an dan sunnah nabi. Dengan pengertian itu maka sebenarnya NU bukanlah satu-satunya organisasi Islam di Indonesia yang menganut paham Aswaja. Secara akidah NU menempatkan dirinya di jalan tengah, tidak mengakomodasi ekstrimisme baik radikal maupun liberal.66
2.2 Sejarah Ulama kota Medan dan Tinjauan Umum Mengenai Aksi Bela Islam di Kota Medan Atas Penistaan Agama Oleh Ahok
Pada masa lalu di kota Medan telah lahir sejumlah Ulama yang melakukan da’wah. Kehadiran mereka bagaikan matahari yang memancarkan cahaya ke bumi yang menerangi ruang qalbu manusia. Aktifitas da’wah yang dilakukan mereka bukan saja menerangi jiwa orang yang telah beriman akan tetapi mampu merubah orang yang belum beriman menjadi beriman.67
65Ibid.,
66Ibid.,
67 Peta Dakwah Kota Medan. Loc Cit., hal. 76-77
Mereka memiliki kapasitas ilmu sebagai Ulama dan komitmen terhadap penegakan nilai keislaman yang teguh, istiqamah, dan ikhlas. Kota Medan khususnya, dan Sumatera Utara umumnya, dari kota sampai ke desa, cahaya
Mereka memiliki kapasitas ilmu sebagai Ulama dan komitmen terhadap penegakan nilai keislaman yang teguh, istiqamah, dan ikhlas. Kota Medan khususnya, dan Sumatera Utara umumnya, dari kota sampai ke desa, cahaya