• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN

1.6 Kerangka Teori

1.6.3 Teori Elit

Eit merupakan orang yang memiliki suatu pengaruh besar dalam suatu kelompok. Dan dapat dipastikan bahwa dalam setiap kelompok memiliki elit. Jadi kelompok dan elit tidak bisa terpisahkan, karena elit tersebutlah yang akan

membawa kelompok tersebut kedalam suatu tujuan dan maksud terbentuknya kelompok tersebut.

Elit memiliki cakupan yang sangat luas, dimana elit menunujukkan suatu kelompok yang mempunyai kedudukan yang tinggi dalam pemerintahan, politik, ekonomi dan agama. orang Indonesia sejak tahun 1900 mengakui adanya dua tingkatan di dalam masyarakat, yaitu rakyat jelata dan priyayi. Administrasi, pegawai pemerintah dan orang-orang Indonesia yang berpendidikan dianggap sebagai elit dan priyayi. Jadi orang yang disebut elit adalah orang yang mempunyai stratifikasi di atas rakyat jelata dan mempunyai kedudukan memimpin, memberi pengaruh, menuntun dan mengatur masyarakat.29

Terkait dengan elit yang memiliki otoritas dan kekuasaan, maka elit memiliki dua tipe, yaitu elit yang memerintah secara formal dan elit yang tidak memerintah secara formal.30 Elit yang memerintah secara formal terdapat dalam pemerintahan, dimana dia dapat menguasai, memerintah dan mempengaruhi berjalannya pemerintahan. Kalau elit yang memerintah secara non-formal terdapat dalam suatu kelompok atau golongan. Seperti yang terdapat dalam kelompok agama, sosial, politik dan sebagainya.

Huky membagi elit dalam tiga kategori, yaitu:31 1. Elit karena kekayaan

29 Robert Van Niel,1984.Munculnya Elit Modern Indonesia.Jakarta: Pustaka Jaya, hal. 30

30 Sartono Kartodirjo.1981.Elit Dalam Perspektif Sejarah.Jakarta: LP3ES,hal. 114

31 Partisipasi Politik di Indonesia. Diakses melalui: http://birokrasikomplek.blogspot.com/2011/06/partisipasi-politik-di-indonesia-suatu.htm pada tanggal 02 April 2017 pukul 22.17 WIB

Kekayaan menjadi suatu sumber kekuasaan. orang-orang kaya tergabung ke dalam kelompok tertentu baik bersifat konkrit maupun abstrak dan mengkontrol masyarakat di sekitarnya, seperti majikan dengan posisi elit dalam mengkontrol bawahannya.

2. Elit karena eksekutif

Kelompok ini terdiri dari orang-orang yang mempunyai posisi strategis dalam bidang tertentu. dengan posisi yang strategis ini, elit memperoleh kekuasaan untuk mengkontrol orang lain.

3. Elit komunitas

Orang-orang tertentu dalam suatu kelompok yang dipandang sebagai kelompok yang dapat mempengaruhi kelompok lain. Dari pendapat yang dikemukakan dapat disimpulkan bahwa elit meliputi semua pemegang kekuasaan dalam suatu bangunan politik (body politic). Dalam masyarakat terdapat dua kategori elit, yaitu elit yang memerintah atau yang berkuasa dan elit yang tidak memerintah atau yang tidak berhubungan dengan pelaksanaan kekuasaan. elit lokal merupakan orang-perorangan atau aliansi dari orang yang dinilai pintar dan mempunyai pengaruh di dalam masyrakat, misalnya para tokoh masyrakat, pemuka agama, para birokrat dan orang-orang yang mempunyai kemampuan finansial yang relatif lebih tinggi dibanding masyarakat umum.

Dalam kelompok agama memiliki elit-elit yang biasanya disebut dengan elit agama. dalam Islam sendiri elit agama merupakan suatu istilah yang sering digunakan dan dibahas. Mengenai pembahasan agama sering juga singgung

mengenai Islam tradisional dan Islam Modern, dimana dikeduanya tidak bisa dipungkiri memiliki elit-elit tersendiri dalam menjalankan dan menyebarluaskan pemahamannya kepada masyarakat.

Islam traditional merupakan ajaran Islam yang mengikuti para Ulama yang shaleh dengan mengikuti ajaran-ajaran Islam yang traditional dengan berpegang teguh terhadap salah satu mazhab yang empat. Islam traditional masih menjunjung tinggi nilai-nilai keislaman yang murni, tidak terpengaruh dari perkembangan zaman. Islam Tradisioanal tidak hanya berpegang kepada Al-Qur’an dan AS-Sunnah saja, tetapi juga kepada hasil pemikiran para Ulama yang memiliki dan dianggap unggul dan kokoh dalam berbagai bidang keilmuan. Ciri-ciri Islam Tradisional antara lain : 32.

1. Eklusif (tertutup) atau fanatik sempit, tidak mau menerima pendapat , pemikiran dan saran dari kelompok lain (terutama dalam bidang agama).

2. Tidak dapat membedakan antara hal-hal yang bersifat ajaran dengan yang non ajaran. Dengan ciri demikian, Islam tradisionalis menganggap semua hal yang ada hubungannya dengan agama sebagai ajaran yang harus dipertahankan.

32 Makalah Islam “Islam Tradisional dan Modern”. Diakses melalui:

http://strata2.blogspot.co.id/2016/01/islam-tradisional-dan-modern.html pada tanggal 23 februari 2017 pukul 20:15 WIB

Islam tradisional memiliki perbedaan-perbedaan yang signifikan dengan Islam modernisasi. Islam modernisasi yang mengikuti ulama-ulama pembaharu dalam arti kata ulama-ulama yang membawa paham baru, contohnya seperti:33 1. Mereka yang mengikuti ajaran Wahabi, yang mendalami ilmu agama mengikuti pola pemahaman ulama Muhammad bin Abdul Wahab

2. Mereka yang mengikuti paham Liberalisme, yang mendalami ilmu agama secara bebas mengikuti upaya pemahaman mereka sendiri yang mereka katakan sebagai mengikuti kemajuan zaman.

Modern dapat diartikan dengan suatu sikap dan cara berpikir serta cara bertindak sesuai dengan tuntutan zaman. 34 Sehingga akan menimbulkan prilaku akan kemodernitasan yang sesuai dengan tuntutan zaman. Islam modern mengikuti Rosulullah tetapi menelaah kitab dari hasil pemikiran sendiri atau mengikuti para Ulama yang menelaah kitab dengan pemikiran Ulama-Ulama tersebut. Sehingga akan terdapat perbedaan dikarenakan kajian-kajian yang menyesuaikan perjalanan kemodern zaman.

1.7 Metodologi Penelitian

Sesuai dengan uraian yang dipaparkan diatas, peneliti akan menggunakan metode penelitian deskriptif. Penelitian deskriptif merupakan suatu cara yang

33 “T radis ional dan mod ern”. Diaks es melalui

ht tps :// mut iarazuhud. wordp res s .com/ 2 013/ 01/13 /tradis ional -dan-modern/ p ada t anggal 23 Feb ruari 2017 p ukul 20 :19 WIB

34 Dilihat dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia online. Diakses melalui: http://kbbi.web.id/modern pada tanggal 23 Februari 2017 pukul 20:26 WIB

digunakan untuk memecahkan masalah berdasarkan fakta, dan data-data yang ada.

Sehingga penelitian ini memberikan gambaran yang lebih detail mengenai suatu gejala atau fenomena melalui fakta-fakta yang akurat. Tujuan dasar penelitian deskriptif ini adalah membuat deskripsi, gambaran, atau lukisan secara sistematis, faktual, dan akurat mengenai fakta-fakta, serta hubungan antara fenomena-fenomena yang disilidiki.35

1.7.1. Jenis Penelitian

Jenis penelitian yang akan digunakan dalam penyelesain penulisan penelitian adalah jenis penelitian Kualitatif. Aplikasi penelitian kualitatif menurut Bogdan dan Taylor mengungkapkan bahwa metodologi kualitatif sebagai prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan prilaku yang dapat diamati.36 Sehingga dalam pemecahan masalah dalam penelitian ini dengan mudahnya dapat dipahami dan digambarkan secara sistematis dengan fakta-fakta yang akurat dan tepat.

Pendekatan kualitatif diharapkan mampu menghasilkan uraian yang mendalam tentang ucapan, tulisan, dan prilaku yang dapat diamati dari suatu individu, kelompok, masyarakat, atau organisasi tertentu yang dikaji dari sudut pandang yang utuh, komprehensif, dan holistic.37

35 Sudarman Danin. 2002. Menjadi Peneliti Kualitatif:Ancangan Metodologi Presentasi dan Publikasi Hasil Pnelitian untuk Mahasiswa dan Peneliti Bidang Ilmu-Ilmu Sosial, Pendidikan Humaniora. Bandung : Pustaka Setia, hal. 41.

36 Bambang Prasetyo dkk. 2005. Metode Penelitian Kualitatif: Teori dan Aplikasi. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, hal. 42.

37 Lexy J Moleong. 1994. Metode Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja Rosdakarya, hal. 27.

1.7.2. Teknik Pengumpulan Data

Dalam pengumpulan data dalam penelitian ini adalah dengan cara studi pustaka dan wawancara dengan berbagai narasumber yang berkaitan dengan pembahasan penelitian.

a. Pengumpulan data primer yaitu, data yang diperoleh dari objek atau lokasi penelitian. Perolehan data primer dalam hal ini dilakukan dengan vcara wawancara. Wawancara adalah alat pengumpul data berupa tanya jawab antara pihak pencafi informasi dengan sumber yang berlangsung secara lisan.38 Adapun yang menjadi narasumber dalam penelitian ini antara lain:

1. MUI kota Medan 2. GAPAI Kota Medan

3. Peserta Aksi Bela Islam di kota Medan

b. Dengan pengumpulan secara studi pustaka merupakan pengumpulan data yang bersifat sekunder, seperti yang didapat dari buku, jurnal, website, artikel, ataupun sumber-sumber lain. Pengumpulan data dengan cara membaca, menganalisi, dan dikutip dari sumber-sumber data yang ada.

38 Hadari Nawawi.1987. Metodologi Penelitian Bidang Sosial. Yogyakarta: Gajah Mada University Press.hal.63

1.7.3. Teknik Analisa Data

Teknik Analisa Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah menggunakan jenis data kualitatif, dimana analisis data ini dikumpulkan pada saat pengumpulan berlangsung dan dalam suatu periode tertentu. Adapun teknik analisis data adalah teknik analisis data kualitatif yaitu dengan menekankan analisis pada sebuah proses pengambilan kesimpulan secara induktif dan deduktif serta analisis pada fenomena yang sedang diamatai dengan menggunakan metode ilmiah.39

1.8. Sistematika Penulisan

BAB I : PENDAHULUAN

Dalam bab ini akan menguraikan latar belakang masalah, perumusan masalah, batasan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, kerangka teori, metodologi penelitian dan sistematika penelitian.

BAB II : SEJARAH PERAN ULAMA DI INDONESIA DAN TINJAUAN MENGENAI AKSI BELA ISLAM DI KOTA MEDAN ATAS PENISTAAN AGAMA OLEH AHOK

39 Burhan Bungin. 2009. Penelitian kualitatif: Komunikasi, Kebijakan Publik, dan Ilmu Sosial Lainnya.

Jakarta: PT. Kencana, hal. 153.

Dalam bab ini akan diuraikan bagaimana sejarah Ulama yang memiliki peran yang sangat penting bagi masyarakat dan bangsa Indonesia. Mulai dari masa kolonial hingga sekarang.

BAB III : ANALISIS PERAN ULAMA DALAM AKSI BELA ISLAM DI KOTA MEDAN ATAS PENISTAAN AGAMA OLEH AHOK DAN POLA KONSOLIDASI AKSI BELA ISLAM DI KOTA MEDAN

Pada bab ini peneliti akan menguraikan analisis dengan data-data yang didapat sesuai dengan pokok permasalahan yang sesuai.

BAB IV : PENUTUP

Pada bab ini peneliti akan menyajikan kesimpulan dari hasil penelitian beserta dengan saran-saran yang bersifat membangun.

BAB II

SEJARAH PERAN ULAMA DI INDONESIA DAN SEJARAH ULAMA KOTA MEDAN SERTA TINJAUAN UMUM MENGENAI AKSI BELA ISLAM DI KOTA MEDAN ATAS PENISTAAN AGAMA OLEH AHOK

2.1 SEJARAH PERAN ULAMA DI INDONESIA

2.1.1 Peran Ulama Pada Masa Kolonial

Dari masa kolonial, Ulama memiliki peran yang sangat penting dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara termasu1k dalam unsur-unsur pergerakan atas nama kemaslahatan umum. Peran penting Ulama pada masa kolonial terlihat dalam keterlibatan para Alim-Ulama dalam perlawanan atau pemberontakan rakyat melawan kekuatan Barat nampak sejak VOC atau kompeni

mengembangkan kekuasaannya di kepulauan Indonesia.40

Peranan para Ulama di Indoensia bertepatan dengan kedudukannya politik yang tidak mutlak kaum muslimin pada umumnya. Pada masa sebelum penjajahan, pada waktu kejayaan kerajaan-kerajaan Islam, peranan para Ulama tidak dapat diragukan lagi adalah sangat penting, baik dalam soal agama maupun dalam soal politik. Kebanyakan kerajaan-kerajaan Islam di Jawa, seperti Demak,

40 Op Cit., Peran Elit Agama Pada Masa Revolusi Kemerdekaan. Hlm. 36

Cirebon, dan Banten pada abad keenam belas telah diprakarsai oleh kaum Ulama melalui semacam persaudaraan sufi.41

Selang beberapa waktu, peranan para Ulama lambat laun kembali ke arah yang lebih bersifat politik, dan bahkan meluas hingga ke dunia luar, khususnya setelah terjadinya pendekatan dengan Mekah melalui ibadah haji pada abad kesembilan belas. Gerakan Padri pada abad kesembilan belas (1821-1837) adalah bukti bahwa peranan para Ulama di zaman penjajahan Belanda mulai memperoleh warna politik. Pada permulaan abad kedua puluh para Ulama, sebagaimana diterangkan diatas, sudah terlibat dalam gerakan kebangkitan nasional.42

Para masyarakat yang mengalami tekanan dan penindasan dari kolonial akan mencari perlindungan kepada para tokoh-tokoh yang dipercayai memiliki kekuatan, dengan harapan akan diberikannya semangat dan harapan hidup yang lebih baik di masa-masa yang akan datang. Tokoh-tokoh seperti itu antara lain para elit agama, seperti kyai atau Ulama. Walaupun sebagian yang lain ada yang percaya terhadap dukun-dukun yang mempunyai kekuatan ghaib. Masyarakat yang mencari perlindungan tersebut berawal dari kecenderungan masyarakat yang menginginkan pegangan-pegangan lama, seperti menghidupkan kembali nilai-nilai tradisional.43

Masyarakat yang mendominasi mendatangi para Ulama untuk meminta perlindungan merupakan masyarakat petani. Seperti yang dikatakan Harry J.

Benda dalam buku “peranan elit pada masa revolusi kemerdekaan Indonesia”

41,loc Cit., hal. 53

42 Ibid.,

43 Ibid.,

menyebutkan bahwa pemberontakan-pemberontakan petani yang muncul sepanjang abad ke-19 sebagian besar bercirikan Islam. gerakan-gerakan yang bercirikan Islam tidak akan terlepas dari adanya peran Ulama sebagai pemimpin dalam melakukan perlawan-perlawan yang terjadi.

Perlawanan-perlawanan yang bercirikan Islam merupakan perlawanan yang memperjuangkan hak-hak yang sesuai dengan agama Islam dan melawan kebathilan. Memperjuangkan hak menjadi keharusan dan gugur dalam mempertahankan hak merupakan mati sahid. Mati sahid merupakan mati dengan membawa kemuliaan dengan imbalan syurga. Sehingga mati dalam keadaan sahid menjadi dambaan seluruh kaum Muslimin.44

Keterlibatan elit-elit agama Islam ini semakin kelihatan terutama dalam gerakan-gerakan rakyat yang muncul secara sporadis dalam hampir sepanjang abad ke-19 sampai dengan awal abad ke-20.45 Pergerakan-pergerakan atas perlawan yang dilakukan masyarakat merupakan kekuatan yang direalisasikan dan ditanamkan oleh Ulama kepada masyarakat.

Clifford Geetzh dalam bukunya “Islam Obsererved : Religius Development in Marocco and Indonesia” mencatat empat kali pemberontakan yang dipimpin para Alim-Ulama. Dia menyebutkan sebagai Pemberontakan Santri (Santri insurrection) melawan Imperialis Belanda pada abad ke-20, yakni

44 Ibid.,

45 Ibid., hlm. 36

pemberontakan di Sumatera Barat (1821-1828), Jawa Tengah (1826-1830), Barat Laut Jawa (1840-1880), dan Aceh (1873-1903).46

Pemberontakan santri Sumatera Barat tidak lain adalah pemberontakan yang dilakukan oleh Kaum Paderi di daerah Bonjol, Sumatera Barat yang dipimpin oleh Ulama Besar Malim Basa yang dikenal sebagai Tuanku Imam Bonjol. Kaum Paderi yang dijiwai oleh semangat keislaman dan cinta tanah air melakukan perlawanan terhadap kolonialis Belanda.47

Di jawa Tengah para santri melakukan perlawanan yang dipimpin oleh Pangeran Diponegoro dibantu oleh Kyai Maja, seorang Ulama terkenal waktu itu.

Perang Diponegoro dikenal dengan sebutan Java Oorlog merupakan perlawanan rakyat setempat terhadap kekuasaan Kolonialis Belanda yang menerapkan sistem kerja paksa, dan penyerobotan atas tanah-tanah masyarakat, yang semuanya itu menimbulkan kesengsaraan dan penderitaan yang berkepanjangan.48

Pemberontakan santri di Barat Laut Jawa yang dimaksudkan oleh C.

Geertz, adalah pemberontakan yang dilakukan oleh para Ulama dan Umat Islam Banten yang berupaya melepaskan diri dari sistem tanam paksa yang diberlakukan oleh Pemerintah Kolonial. Pemberontakan Ulama dan Umat Islam di Banten terjadi pada tahun 1834, 1833, 1842, 1849, 1880, dan 1888.

Begitu juga dengan pemberontakan santri di Aceh yang disebutkan oleh C.

Greetz berlangsung pada tahun 1873-1903, adalah pemberontakan yang dilakukan oleh Cut Nya’ Dhien, yang lebih dikenal sebagai perang Aceh (De Groot Aceh

46 Ibid., hlm. 40

47 Ibid.,

48Ibid.,

Oorlog). Pemberontakan di Aceh pada mulanya dipimpin oleh Teuku Umar suami cut Nya’ Dhien sendiri. Setelah Teuku Umar mati sahid di Meulaboh, pimpinan perang kemudia diambil alih oleh Cut Nya’ Dhien. Genderang perang yang didengungkan oleh Cut Nya’ Dhien sangat menakutkan Belanda.49

2.1.2 Peran Ulama dalam Merebut Kemerdekaan

Pada dasarnya dalam merebut kemerdekaan Indonesia merupakan hasil dari perjuangan seluruh bangsa Indonesia. Namun dari berbagai peristiwa perlawanan dan perebutan dalam merebut kemerdekaan tidak terlepas dari adanya peran Ulama. Ulama dijadikan suatu mediator dalam memberikan semangat juang dengan dilandasi dalih-dalih keagamaan. Sebab pada dasarnya pada saat itu Islam merupakan agama mayoritas di Indonesia. Semangat juang dalam merebut kemerdekaan dari tangan kolonial tidak terlepas dari anjuran-anjuran yang terdapat dalam Al-Qur’an, As-Sunnah dan Ijtihad-Ijtihad dari para Ulama. Nilai-nilai perjuangan yang dapat diambil adalah seperti kemuliaan mati sahid dalam merebut kemerdekaan dan mempertahankan tanah air.50

Pada masa revolusi (1945-1949) para Ulama menjalankan peranan sangat penting dalam aksi mobilisasi massa untuk bertempur melawan Belanda. Banyak

49 Ibid.,

50Ibid.,

diantara para komandan kaum gerilya yang bertempur berasal dari para Ulama dari berbagai tingkatan, umunya disebut para kiai.51

Selain bertempur melawan penjajah, Ulama juga memiliki peran dengan mendesak founding father untuk segera memerdekakan Indonesia. Kemerdekaan bangsa Indonesia yang diperjuangkan oleh para Ulama dengan mendesak Soekarno untuk memproklamirkan Kemerdekaan Republik Indonesia saat di halangi oleh Inggris. Karena apabila tidak segera diproklamirkan, maka bangsa Indonesia harus menunggu Kemerdekaan Negara dan Bangsa Indonesia selama 300 tahun mendatang. Selain mendesak Soekarno untuk segera memproklamirkan Kemerdekaan Republik Indonesia, para ulama juga mempunyai beberapa jasa yang tidak dapat diabaikan oleh bangsa Indonesia.

Pertama, para ulama menyadarkan rakyat akan ketidakadilan dan kesewenang-wenangan para penjajah. Di berbagai pesantren, madrasah, organisasi, dan pertemuan lainya, para ulama menanamkan kesadaran di hati rakyat akan ketidakadilan dan kesewenang-wenangan tersebut. Kedua, para ulama memimpin gerakan non kooperatif pada penjajah Belanda. Para ulama di masa penjajahan banyak mendirikan pesantren di daerah-daerah terpencil, untuk menjauhi bangsa penjajah yang banyak tinggal di kota. Di masa revolusi, Belanda mempropagandakan pelayanan perjalanan haji dengan ongkos dan fasilitas yang dapat dijangkau oleh kaum Muslim di daerah jajahanya. KH Hasyim Asy’ari menentang, beliau mengeluarkan fatwa bahwa pergi haji dalam masa revolusi

51 Loc Cit.,

dengan menggunakan kapal Belanda hukumnya haram. Setiap bujukan agar Kiai Hasyim tunduk dan mendukung Belanda selalu gagal dilakukan. Gerakan non kooperatif ini pun dilakukan dan dipimpin oleh ulama-ulama lainnya.52

Ketiga, mengeluarkan fatwa wajibnya jihad melawan penjajah. Fatwa jihad ini sangat besar pengaruhnya dalam membangkitkan semangat pahlawan.

Perang melawan penjajah dianggap jihad fi sabilillah, yakni perang suci atau perang sabil demi agama. Keempat, memobilisasi dan memimpin rakyat dalam perjuangan fisik melawan penjajah. Banyak ulama yang menjadi pemimpin perlawanan, seperti Pangeran Dipenogoro, Fatahillah, Imam Bonjol, Teungku Cik Ditiro, KH Hasyim Asy’ari, KH Abbas Buntet, KH Zainal Mustafa, dll.

Kelima, menyerupakan persatuan membela kemerdekaan RI yang diproklamasikan Soekarno-Hatta. Para ulama yang dipimpin Kiai Hasyim Asy’ari memfatwakan kewajiban mempertahankan kemerdekaan RI, dan pada 1954 sebuah Musyawarah Alim Ulama Indonesia (NU) di Cipanas mengambil keputusan bahwa Presiden Soekarno adalah Waliyyul Amri Dharuri bisy-Syaukah, artinya pemegang pemerintahan yang punya cukup kewibawaan dipatuhi oleh pejabat dan rakyat.53

Keenam, berperan aktif dalam mengisi awal kemerdekaan. Sebelum kemerdekaan para ulama ikut mempersiapkan kemerdekaan, termasuk di BPUPKI (Badan Penyelidik Usaha-usaha Kemerdekaan Indonesia). Dan pada awal kemerdekaan, banyak ulama yang aktif di pemerintahan atau parlemen. Dan juga

52 Ibid.,

53Ibid.,

tak terhitung para ulama yang berjuang melalui organisasi dan pendidikan.

Kemerdekaan bukan hanya hasil dari usaha para bangsawan, tokoh nasionalis terpelajar, dan tentara, namun juga hasil besar dari usaha para ulama. Karenanya sudah selayaknya perjuangann para ulama harus dihargai, baik ulama yang sudah terkenal maupun yang belum terkenal karena jasa kepahlawanannya harus di hargai. Sebagaimana yang dikatakan Bung Karno, “Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa para pahlawannya.”54

2.1.3 Peran Ulama Pada Masa Orde Lama

Pada masa demokrasi terpimpin Presiden Soekarno (Orde lama), khususnya setelah pembubaran Masyumi, peran Ulama semakin berkurang karena adanya batasan-batasan yang dibuat oleh pemimpin pada saat itu. Hal ini membuat para Ulama harus mengundurkan diri dari politik formal dan membatasi perannya pada soal-soal keagamaan saja, kecuali sejumlah kecil Ulama Nahdatul Ulama yang masih tetap memperoleh lindungan Soekarno.55

Dengan makin berkurangnya peranan para Ulama dalam politik formal, baik pemerintah maupun pihak Ulama menghadapi tantangan untuk mencari bentuk peranan baru bagi para Ulama dalam masyarakat. Dalam kaitan ini dirasakan perlunya dibentuk sebuah wadah baru yang berlaku di seluruh negeri bagi para Ulama untuk mewakili kepemimpinan kaum muslimin. Dalam sebuah

54 “Peran Ulama Dalam Kemerdekaan Rakyat Indonesia”. Diakses melalui: http://syaamilquran.com/peran-ulama-dalam-kemerdekaan-rakyat-indonesia.html pada tanggal 24 Februari 2017 pukul 15:19 WIB

55 Loc Cit., hal. 54

konferensi para Ulama di Jakarta yang diselenggarakan oleh Pusat Dakwah Islam dari tanggal 30 September hingga 4 Oktober 1970, telah diajukan suatu saran untuk memajukan kesatuan kaum muslimin dalam kegiatan sosial mereka dengan membentuk sebuah majelis bagi para Ulama Indonesia, yang akan diberi tugas untuk memberikan fatwa-fatwa.56

Peran Ulama pada masa orde lama tidak terlepas juga dari adanya pergerakan-pergerakan yang dilakukan oleh organisasi-organisasi Islam yang dipimpin oleh Ulama. Setiap perjalanan dan kehidupan yang berlangsung dalam organisasi Islam tersebut merupakan atas dasar adanya campur tangan yang sangat besar dari peran Ulama yang berada di dalam organisasi tersebut. Adapaun organisasi Islam yang memiliki pengaruh dan peran besar pada masa orde lama seperti adanya Nahdatul Ulama (NU). Organisasi NU tidak terlepas dari adanya peran Ulama yang menduduki jabatan penting dangan memiliki pengaruh yang besar dalam mengambil suatu keputusan untuk melangsungkan berjalannya organisasi tersebut. Setiap apa yang dilakukan oleh NU merupakan atas perintah dan kewenangan dari adanya peran Ulama yang memotori dan mengkontrol organisasi tersebut.57

Pada periode 1960-1966 NU tampil menjadi kekuatan yang melawan komunisme, hal ini dilakukan dengan membentuk beberapa organisasi, seperti : Banser (Barisan Ansor Serba Guna), Lesbumi (Lembaga Seni Budaya Muslim), Pertanu (Persatuan Petani NU), dan lain-lain. Pada tanggal 5 Oktober1965 NU

Pada periode 1960-1966 NU tampil menjadi kekuatan yang melawan komunisme, hal ini dilakukan dengan membentuk beberapa organisasi, seperti : Banser (Barisan Ansor Serba Guna), Lesbumi (Lembaga Seni Budaya Muslim), Pertanu (Persatuan Petani NU), dan lain-lain. Pada tanggal 5 Oktober1965 NU

Dokumen terkait