• Tidak ada hasil yang ditemukan

Sistematika Penulisan

Dalam dokumen RENCANA KERJA (RENJA) 2020 (Halaman 13-0)

BAB I PENDAHULUAN

1.4. Sistematika Penulisan

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

Mengemukakan pengertian ringkas tentang Renja Perangkat Daerah, proses penyusunan Renja Perangkat Daerah, keterkaitan antara Renja Perangkat Daerah dengan dokumen RKPD, Renstra Perangkat Daerah, dengan Renja K/L dan Renja provinsi/kabupaten/kota, serta tindak lanjutnya dengan proses penyusunan RAPBD.

1.2. Landasan Hukum

Memuat penjelasan tentang undang-undang, peraturan pemerintah, peraturan daerah, dan ketentuan peraturan lainnya yang mengatur tentang

Renja Dinas Pangan dan Pertanian Kota Bandung Tahun 2020 Page 9 SOTK, kewenangan Perangkat Daerah, serta pedoman yang dijadikan acuan dalam penyusunan perencanaan dan penganggaran Perangkat Daerah.

1.3. Maksud dan Tujuan

Memuat penjelasan tentang maksud dan tujuan dari penyusunan Renja Perangkat Daerah.

1.4. Sistematika Penulisan

Menguraikan pokok bahasan dalam penulisan Renja Perangkat Daerah, serta susunan garis besar isi

BAB II HASIL EVALUASI RENJA PERANGKAT DAERAH TAHUN LALU

2.1 Evaluasi Pelaksanaan Renja PD Tahun Lalu

Bab ini memuat kajian (review) terhadap hasil evaluasi pelaksanaan Renja PD tahun lalu (tahun n-2) dan perkiraan capaian tahun berjalan (tahun n-1), mengacu pada APBD tahun berjalan yang seharusnya pada waktu penyusunan Renja PD sudah disahkan.

Selanjutnya dikaitkan dengan pencapaian target Renstra PD berdasarkan realisasi program dan kegiatan pelaksanaan Renja PD tahun-tahun sebelumnya.

2.2 Analisis Kinerja Pelayanan PD berisi kajian terhadap capaian kinerja pelayanan PD berdasarkan indikator kinerja yang sudah ditentukan dalam SPM, maupun terhadap IKK sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 2008, dan Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007. Jenis indikator yang dikaji, disesuaikan dengan tugas dan fungsi masing-masing PD, serta ketentuan peraturan

Renja Dinas Pangan dan Pertanian Kota Bandung Tahun 2020 Page 10 perundang-undangan yang terkait dengan kinerja pelayanan.

2.3 Isu – isu penting penyelenggaraan tugas dan fungsi PD Sub bab ini berisi uraian mengenai:

1. Sejauh mana tingkat kinerja pelayanan PD dan hal kritis yang terkait dengan pelayanan PD;

2. Permasalahan dan hambatan yang dihadapi dalam menyelenggarakan tugas dan fungsi PD;

3. Dampaknya terhadap pencapaian visi dan misi kepala daerah, terhadap capaian program nasional/global, seperti SPM dan MDGs (Millenium Development Goals);

4. Tantangan dan peluang dalam meningkatkan pelayanan PD dan

5. Formulasi isu-isu penting berupa rekomendasi dan catatan yang strategis untuk ditindaklanjuti dalam perumusan program prioritas tahun rencana.

2.4 Review terhadap Rancangan Awal RKPD Sub-bab ini berisikan uraian mengenai:

1. Proses yang dilakukan yaitu membandingkan antara rancangan awal RKPD dengan hasil analisis kebutuhan;

2. Penjelasan mengenai alasan proses tersebut dilakukan;

Renja Dinas Pangan dan Pertanian Kota Bandung Tahun 2020 Page 11 3. Penjelasan temuan-temuan setelah proses tersebut dan catatan penting terhadap perbedaan dengan rancangan awal RKPD, misalnya: terdapat rumusan program dan kegiatan baru yang tidak terdapat di rancangan awal RKPD, atau program dan kegiatan cocok namun besarannya berbeda.

BAB III TUJUAN DAN SASARAN PERNGKAT DAERAH 3.1 Telaahan terhadap kebijakan nasional

Telaahan terhadap kebijakan nasional dan sebagaimana dimaksud, yaitu penelaahan yang menyangkut arah kebijakan dan prioritas pembangunan nasional dan yang terkait dengan tugas pokok dan fungsi PD.

3.2 Tujuan dan sasaran Renja PD

Sub bab ini berisi perumusan tujuan dan sasaran yang didasarkan atas rumusan isu-isu penting penyelenggaraan tugas dan fungsi PD yang dikaitkan dengan sasaran target kinerja Renstra PD.

3.3 Program dan Kegiatan Tahun 2020 Berisikan penjelasan mengenai:

a. Faktor-faktor yang menjadi bahan pertimbangan terhadap rumusan program dan kegiatan. Misal:

Pencapaian visi dan misi kepala daerah, Pencapaian MDGs, Pengentasan kemiskinan, Pencapaian SPM, Pendayagunaan potensi ekonomi daerah, Pengembangan daerah terisolir, dsb.

Renja Dinas Pangan dan Pertanian Kota Bandung Tahun 2020 Page 12 b. Uraian garis besar mengenai rekapitulasi

program dan kegiatan, yang meliputi:

 Jumlah program dan jumlah kegiatan.

 Sifat penyebaran lokasi program dan kegiatan (apa saja yang tersebar ke berbagai kawasan dan apa saja yang terfokus pada kawasan atau kelompok masyarakat tertentu).

BAB IV. RENCANA KERJA DAN PENDANAAN PERANGKAT DAERAH

BAB V. PENUTUP

Berisikan uraian penutup, berupa:

a. Catatan penting yang perlu mendapat perhatian, baik dalam rangka pelaksanaannya maupun seandainya ketersediaan anggaran tidak sesuai dengan kebutuhan.

b. Kaidah-kaidah pelaksanaan.

c. Rencana tindak lanjut.

Renja Dinas Pangan dan Pertanian Kota Bandung Tahun 2020 Page 13 BAB II

HASIL EVALUASI RENJA DINAS PANGAN DAN PERTANIAN KOTA BANDUNG TAHUN 2018

2.1. HASIL EVALUASI RENJA DINAS PANGAN DAN PERTANIAN KOTA BANDUNG TAHUN 2018

Pada tahun 2018 Dinas Pangan dan Pertanian Kota Bandung telah melaksanakan 1 (satu) Urusan Wajib Non Pelayanan Dasar yaitu Urusan Pangan dan 2 (dua) Urusan Pilihan yaitu Urusan Pertanian, dan Urusan Kelautan dan Perikanan. Terhadap masing-masing urusan tersebut dianalisis sebagai berikut :

A. URUSAN WAJIB 1. URUSAN PANGAN

Urusan Pangan mendapat alokasi anggaran sebesar Rp. 2.281.721.675 dan realisasi sebesar Rp. 2.240.279.450 atau 98,18 %. Program dan kegiatan pada Urusan Pangan dilaksanakan oleh Dinas Pangan dan Pertanian dengan hasil capaian kinerja program sebagai berikut :

No. Program Indikator Kerja

Satuan Satuan Realisasi Keterangan/Faktor Pendukung/Faktor Penghambat/Solusi

1 Program

Ketahanan Pangan

Skor Pola Pangan Harapan (PPH)

nilai 91,69 91,69 Pola Pangan Harapan merupakan suatu metode yang digunakan untuk menilai jumlah dan komposisi atau ketersediaan pangan.

Pola Pangan Harapan biasanya digunakan untuk perencanaan konsumsi, kebutuhan dan penyediaan pangan wilayah. Dalam menentukan PPH ada beberapa komponen yang harus diketahui diantaranya yaitu konsumsi energi dan zat

Renja Dinas Pangan dan Pertanian Kota Bandung Tahun 2020 Page 14

gizi total, persentase energi dan gizi aktual, dan skor kecukupan energi dan zat gizi.

Dengan pendekatan Pola Pangan Harapan dapat dinilai mutu pangan penduduk berdasarkan skor pangan (dietary score). Semakin tinggi skor mutu pangan, menunjukkan situasi pangan yang semakin beragam dan semakin baik komposisi dan mutu gizinya. Tahun 2018 dari target 91,69 terealisasi sebesar 91,69 atau 100,00%. Dalam dua tahun terakhir, indikator Skor Pola Pangan Harapan (PPH) ketersediaan terus meningkat dan selalu mencapai target. Jika dibandingkan dengan target akhir RPJMD pada tahun 2018, capaian kinerja pada tahun 2018 sudah mencapai 100,00%. Yaitu dari target 91,69 sudah tercapai sesuai target 91,69.

Faktor pendukung tercapainya kinerja : Ada beberapa faktor yang mempengaruhi tercapainya skor PPH, yaitu :

1. Infrastruktur yang baik 2. Ketersediaan pangan selalu tersedia 3. Koordinasi yang baik antara stake holder 4. Pelaksanaan sosialisasi konsumsi pangan yang intensif.

Ton 60 89,057 Cadangan Pangan

Pemerintah Daerah adalah persediaan pangan yang dikuasai dan dikelola oleh Pemerintah Daerah yang digunakan untuk menanggulangi kekurangan pangan, bencana alam, bencana

Renja Dinas Pangan dan Pertanian Kota Bandung Tahun 2020 Page 15

sosial, dan/atau menghadapi keadaan darurat. Pemerintah Kota dalam rangka penguatan cadangan pangan diharuskan menyediakan pangan kota equivalen beras minimal 60 ton setiap tahunnya sesuai Permentan No. 65 Tahun 2010 tentang Standar Pelayanan Minimal Bidang Ketahanan Pangan Provinsi dan Kabupaten/Kota.

Faktor pendorong pencapaian target yaitu adanya komitmen pimpinan dalam pemenuhan Standar Pelayanan Minimal Bidang Pangan berdasarkan Permentan No. 65 Tahun 2010 tentang Standar Pelayanan Minimal Bidang Ketahanan Pangan untuk pengadaan cadangan pangan setiap tahunnya. pangan segar dilakukan sidak pengawasan pangan segar dengan melibatkan instansi terkait (Kepolisian, Satpol PP, Dinas UKM dan INDAG, BP POM, dan Dinas Kesehatan) serta meningkatkan pelatihan dan sosialisasi ke swalayan, pasar tradisional, konsumen/PKK, ke pelaku usaha (TPA), DKM (pada saat pelatihan hewan qurban) . Perhitungan indikator ini berbeda dengan indikator yang lain, semakin sedikit terjadinya kasus pencemaran pangan

Renja Dinas Pangan dan Pertanian Kota Bandung Tahun 2020 Page 16

segar maka menunjukan semakin baik kinerja dinas.

Cara pengukuran Persentase Menurun = Target-(Realisasi-Target) x 100 %

--- Target

Faktor pendorong pencapaian target adalah 1. tersedianya sarana dan prasarana penunjang untuk kegiatan Peningkatan mutu dan keamanan pangan, diantaranya : tersedianya

laboratorium dinas dan kendaraan laboratorium keliling. 2. Dalam upaya meningkatkan

pengawasan dan pemeriksaan mutu pangan segar yang beredar di wilayah Kota Bandung, Dinas Pangan dan Pertanian

melakukan kerjasama dengan 8 holding company pasar modern dalam pengadaan mini lab food security, dan bekerjasama dengan PD.

Pasar Bermartabat dalam pengadaan mini lab food security di beberapa pasar salmonela pada daging babi

asin cucut dan teri nasi

Renja Dinas Pangan dan Pertanian Kota Bandung Tahun 2020 Page 17 Permasalahan yang dihadapi dalam penyelenggaraan Urusan Pangan tahun 2018 dan rumusan solusinya adalah sebagai berikut.

No. Permasalahan Solusi

1. Belum optimalnya implementasi percepatan penganekaragaman konsumsi pangan lokal (P2KP) yang diharapkan dapat mengurangi konsumsi beras, hal ini disebabkan ketersediaan pangan lokal sebagai sumber karbohidrat (pengganti beras) masih sulit diperoleh, harga pangan alternatif relatif lebih mahal, sulit menghilangkan kebiasaan

makan nasi, dan terbatasnya pengetahuan dan keterampilan masyarakat tentang pangan alternatif.

Mengoptimalkan implementasi Percepatan Penganekaragaman Konsumsi Pangan (P2KP), melalui sosialisasi kepada masyarakat tentang pangan alternatif, bimbingan dan pelatihan menyusun menu Beragam Bergizi Seimbang dan Aman (B2SA), Program One Day No Rice, dan bekerjasama dengan kabupaten/

Mengoptimalkan implementasi Percepatan Penganekaragaman Konsumsi Pangan (P2KP), melalui sosialisasi kepada masyarakat tentang pangan alternatif, bimbingan dan pelatihan menyusun menu Beragam Bergizi Seimbang dan Aman (B2SA), Program One Day No Rice, dan bekerjasama dengan kabupaten/Kota penghasil bahan umbi-umbian, dan program One Day No Rice.

2. Kota Bandung bukan merupakan daerah produksi sehingga pangan segar yang dijual dan dikonsumsi masyarakat sebagian besar (95

%) berasal dari luar wilayah Kota Bandung, sehingga diperlukan pengawasan pangan segar yang lebih intensif.

Meningkatkan frekuensi sosialisasi keamanan pangan

Meningkatkan koordinasi dengan dinas/ instansi dan lembaga terkait.

3. Pelaku usaha dan masyarakat masih kurang memahami tentang tata cara penanganan dan penyimpanan produk pangan segar serta pengetahuan tentang bahayanya penggunaan bahan kimia berbahaya.

 Hasil evaluasi dan tindak lanjut dari Kegiatan Peningkatan Mutu dan Keamanan Pangan Segar tahun 2017 merupakan upaya untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas pengawasan komoditi hasil pertanian dengan harapan komoditi yang beredar di Kota Bandung aman untuk dikonsumsi.

Sudah ada inovasi dari Dinas yaitu dengan adanya Mini Lab Food Security di Pasar Modern dan Pasar Tradisional yang erupakan

kolaborasi antara Dinas Pangan dan Pertanian dengan Pasar Modern dan Pasar Tradisional, selain itu sudah ada juga Mobil Lab Keliling Dinas yang melakukan pemeriksaan secara keliling mengenai keamanan

pangan segar di Kota Bandung.

4. Terbatasnya SDM pengawas mutu pangan segar terutama petugas laboratorium yang memiliki pendidikan khusus (analis kimia).

Meningkatkan pelatihan kepada para petugas pemeriksa mini lab food security yang ada di seluruh pasar tradisional dan pasar modern

Renja Dinas Pangan dan Pertanian Kota Bandung Tahun 2020 Page 18 B. URUSAN PILIHAN

1. URUSAN KELAUTAN DAN PERIKANAN

Urusan Kelautan dan Perikanan mendapat alokasi anggaran sebesar Rp. 1.791.255.431 dan realisasi sebesar Rp 1.644.935.266 atau 91.83 %.

Program dan kegiatan pada Urusan Kelautan dan Perikanan dilaksanakan oleh Dinas Pangan dan Pertanian dengan hasil capaian kinerja program sebagai berikut :

No. Program Indikator Kerja

Satuan Satuan Realisasi Keterangan/Faktor Pendukung/Faktor

Ton 2.970 2970,63 Produksi ikan konsumsi pada tahun 2018 terealisasi sebesar 2.970,63 ton dari target 2.970 ton atau 100,02%.

Produksi ikan konsumsi diperoleh dari

beberapa jenis ikan seperti ikan mas, nila, mujair, lele, sepat siam, dengan jumlah produksi terbesar adalah Ikan Lele, diikuti oleh Ikan Nila, Mas, Mujair, dan ikan lainnya. Ikan Sepat Siam. Ikan lele sebagai penyumbang produksi terbesar, hal ini dikarenakan selain banyak peminatnya juga budidaya ikan lele dapat dilakukan dengan media terpal yang dapat disimpan di pekarangan rumah sehingga tidak memerlukan

lahan/kolam yang luas.

Daerah produksi ikan di Kota Bandung tersebar di beberapa

kecamatan,

diantaranya Kecamatan Cibiru, Arcamanik, dan Ujungberung.

Renja Dinas Pangan dan Pertanian Kota Bandung Tahun 2020 Page 19

Formulasi Penghitungan :

Produksi Ikan Konsumsi :

P = Luas lahan (kolam) x padat tebar – kematian ket:

Kematian = rata-rata 10 %

Padat tebar tergantung jenis dan perlakuan (teknologi).

Faktor pendukung tercapainya kinerja adalah : adanya peningkatan minat dan pengetahuan

masyarakat dan petani ikan melalui

pembinaan, pelatihan-pelatihan maupun workshop yang diadakan oleh Dinas.

Produksi ikan hias

Produksi ikan hias

1.221.700 1.260.869 Produksi ikan hias pada tahun 2018 terealisasi sebesar 1.260.869 ekor dari target 1.221.700 ekor atau sebesar 103,21%. Jenis ikan hias yang

dibudidayakan di Kota Bandung ada 13 jenis, yaitu Barbir, Cupang, Frontosa, Gapi, Leuleupi, Udang Hias, Louhan, Manvis, Mas Koki, Molly, Plati, Rainbow, dan Sapu Hias, dengan

penyumbang produksi terbesar adalah ikan Mas Koki dan Frontosa.

Daerah budidaya ikan hias di Kota Bandung diantaranya Kecamatan

Renja Dinas Pangan dan Pertanian Kota Bandung Tahun 2020 Page 20

ket:

Kematian = rata-rata 10 %

Padat tebar tergantung jenis dan perlakuan (teknologi) Faktor pendukung tercapainya kinerja adalah : adanya peningkatan minat dan pengetahuan

masyarakat dan petani ikan melalui

pembinaan, pelatihan-pelatihan maupun workshop yang diadakan oleh Dinas.

Permasalahan yang dihadapi dalam penyelenggaraan Urusan Kelautan dan Perikanan tahun 2018 dan rumusan solusinya adalah sebagai berikut :

No. Permasalahan Solusi

1. Semakin sempitnya lahan untuk budidaya perikanan sebagai akibat alih fungsi lahan di Kota Bandung.

Mengoptimalkan pemanfaatan lahan

pekarangan melalui pemilihan komoditas yang mempunyai produktivitas tinggi, nilai ekonomis tinggi dan bisa dikembangkan dilahan yang sempit (ikan hias dan ikan lele).

2. URUSAN PERTANIAN

Urusan Pertanian mendapat alokasi anggaran sebesar Rp. 6.209.550.329 dan realisasi sebesar Rp 5.736.509.942 atau 92.38 %. Program dan kegiatan pada Urusan Pangan dilaksanakan oleh Dinas Pangan dan Pertanian dengan hasil capaian kinerja program sebagai berikut :

No. Program Indikator Kerja

Satuan Satuan Realisasi Keterangan/Faktor Pendukung/Faktor

mencapai 198.959 pohon/tahun atau melebihi target sebesar 102,03%

dimana targetnya yaitu 195.000

Renja Dinas Pangan dan Pertanian Kota Bandung Tahun 2020 Page 21 pohon/tahun. Jika dibandingkan dengan target RPJMD, capaian kinerja pada tahun 2018 sudah melebihi target yaitu mencapai 102,03% dimana dari target 195.000 pohon/tahun di akhir tahun RPJMD sudah tercapai 198.959

pohon/tahun.

pada tahun 2014 produksi mencapai 186.920 pot/tahun, tahun 2015 sebesar 189.002 pot/tahun, tahun 2016 realisasinya

mencapai 190.754 pot/tahun dari target 190.000 pot/tahun atau 100,40%, pada tahun 2017 realisasinya

mencapai 195.442 pot/tahun dari target 192.000 pot/tahun atau 101,79%.

Ada sekitar 24 jenis tanaman hias yang ada di Kota Bandung dan yang menjadi komoditas unggulan adalah jenis Anggrek, Gladiol dan Sedap Malam. Dari capaian 198.959 pohon/tahun pada tahun 2018, 5 (lima) jenis

Renja Dinas Pangan dan Pertanian Kota Bandung Tahun 2020 Page 22 tanaman hias penyumbang produksi terbesar adalah Sedap Malam, Gladiol, Anggrek, Mawar, Sanseivera

(pedang-pedangan), dan Anthurium Daun.

2. Produksi

Tanaman Sayuran

Pohon 250.000 252.400 Produksi tanaman sayuran pada tahun 2018 mencapai 252.400 pohon atau melebihi target sebesar 100,96%

dimana targetnya yaitu 250.000 pohon.

Produksi tanaman sayuran berasal dari adanya program Urban Farming yang secara masif dilaksanakan di 30 Kecamatan serta dilakukan pelatihan kampung berkebun pada tingkat RW yang ada di Kota Bandung, sehingga masyarakat mempunyai minat untuk berkebun sayuran walaupun di lahan yang sempit.

Penyuluhan dan pelatihan kepada kelompok tani pun secara rutin dilakukan oleh Penyuluh Pertanian Lapangan

Renja Dinas Pangan dan Pertanian Kota Bandung Tahun 2020 Page 23 target RPJMD sebanyak 300 pelaku usaha dapat terealisasi sebanyak 342 (114,00 %) pelaku usaha di bidang pertanian dan perikanan.

Faktor pendorong pencapaian target yaitu tersedianya dana, SDM, sarana dan prasarana sebagai penunjang untuk kegiatan pelatihan kepada kelompok masyarakat yang berminat untuk menjadi wira usaha.

4. Program

Pohon 15.000 15.751 Tanaman produktif atau tanaman buah adalah tanaman yang menghasilkan buah untuk dikonsumsi.

Tanaman buah dibatasi pada pohon atau tanaman yang menghasilkan buah sebagai bahan pangan.

Beberapa contoh tanaman produktif diantaranya : Pohon mangga, pohon rambutan, pohon nangka dan lainya.

Selain dimanfaatkan untuk penghijauan fungsi tanaman hidup adalah untuk di ambil hasilnya. Pada tahun 2018 pohon produktif (tanaman buah-buahan) terealisasi sebanyak 15.751 pohon dari target 15.000 pohon atau terealisasi sebesar 105,00 %.

Faktor pendorong pencapaian target adalah adanya kebijakan untuk penghijauan kota dan dukungan anggaran.

5. Tingkat

mutu tembakau

% 100 100 Tercapainya kualitas

mutu tembakau 100 % sesuai permintaan

Renja Dinas Pangan dan Pertanian Kota Bandung Tahun 2020 Page 24

(DBHCT) pasar. Faktor

pendorong pencapaian target yaitu adanya pelatihan mengenai kulitas mutu tembakau kepada kelompok tani tembakau, study lapangan ke daerah lain, dan workshop mengenai budidaya, pasca panen dan peraturan atau infeksi pada binatang yang dapat ditularkan kepada manusia. Penyakit yang tergolong dalam zoonosa

misalnya, Antraks, Rabies, Brucellosis, Avian Influenza, dan lain-lain. Kota Bandung merupakan

pusat pemasaran ternak terbesar di Jawa Barat, sehingga resiko masuknya penyakit zoonosa dari daerah asal ternak ke Kota Bandung relatif tinggi.

Pada tahun 2018 tidak terjadi kasus zoonosa di Kota Bandung, dari target maksimal kejadian kasus sebanyak 7 kasus realisasinya nol kasus berarti melebihi target.

Cara pengukuran indicator jumlah kasus zoonosa ini

berbeda dengan indicator yang lain, semakin sedikit terjadinya kasus zoonosa maka kinerjanya semakin baik. Cara pengukuran seperti ini termasuk pengukuran persentase

Ekor 35.693 35.702 Peningkatan populasi ini selain karena Kota

Renja Dinas Pangan dan Pertanian Kota Bandung Tahun 2020 Page 25

Produksi Hasil Peternakan

Domba Bandung merupakan

daerah dengan tingkat lalu lintas ternak yang dinamis juga adanya penerapan teknologi budidaya ternak yang telah dilakukan oleh para peternak. Hasil usaha peternakan sangat dibutuhkan oleh warga Kota Bandung, namun usaha ini menghadapi tantangan karena adanya keterbatasan lahan, masalah sanitasi dan lingkungan padat penduduk, maka kegiatan agribisnis peternakan di Kota Bandung hanya menjadi daerah tujuan

pemasaran hasil-hasil peternakan.

Faktor pendorong pencapaian target : Peningkatan populasi ini salah satunya disebabkan oleh jumlah rumah tangga

peternakan Domba yang bertambah terutama ketika mendekati ibadah haji, penerapan teknologi budidaya ternak yang telah dilakukan oleh para peternak, yang diperoleh melalui pelatihan, workshop dan pembinaan yang dilakukan oleh dinas.

Permasalahan yang dihadapi dalam penyelenggaraan Urusan Pertanian tahun 2018 dan rumusan solusinya adalah sebagai berikut :

No. Permasalahan Solusi

1. Semakin sempitnya lahan pertanian sebagai akibat alih fungsi lahan

Kebijakan yang diambil dalam rangka mengantisipasi alih fungsi lahan pertanian adalah mengembangkan model pertanian perkotaan melalui pemilihan komoditas pertanian yang memiliki produktivitas tinggi, memiliki nilai ekonomi tinggi, dan mempunyai peluang pasar yang terbuka serta dapat

Renja Dinas Pangan dan Pertanian Kota Bandung Tahun 2020 Page 26

dikembangkan pada lahan sempit, sehingga diharapkan keterbatasan lahan bukan menjadi kendala untuk usaha dibidang pertanian, dan kegiatan Urban Farming merupakan salah satu solusi untuk pemanfaatan lahan sempit yang ada di Kota Bandung. Untuk meningkatkan nilai tambah, usaha pertanian lainnya yang dikembangkan adalah pengolahan hasil pertanian.

2. Semakin sempitnya lahan pertanian sebagai akibat alih fungsi lahan

Lebih mengintensifkan pemeriksaan lalulintas ternak yang masuk ke Kota Bandung.

3. Masih rendahnya pengetahuan dan sikap pelaku usaha dibidang pertanian serta masyarakat tentang bahayanya penggunaan

bahan kimia berbahaya dan produk pertanian yang tidak memenuhi persyaratan keamanan mutu pangan

Meningkatkan pembinaan kepada para pelaku usaha pangan segar tentang pentingnya keamanan pangan serta meningkatkan pengawasan dan pemeriksaan mutu pangan segar yang dipasarkan di pasar tradisional maupun di pasar modern

4. Limbah padat RPH Babi berupa jeroan dan feces tidak bisa dibuang langsung ke luar RPH

Membuat tempat pengolahan limbah padat RPH Babi dengan metode komposting karkas, dengan bekerja sama dengan staf ahli komposting karkas dari UNPAD. Hasil sudah terlihat dengan metode komposting karkas, limbah padat RPH babi sudah dapat ditangani dan hasilnya sudah dapat dibuang keluar RPH karena sudah terurai sempurna menjadi kompos

5. Masih kurangnya kesadaran masyarakat tentang pentingnya menjaga kesehatan hewan/ternak.

Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat tentang pentingnya menjaga kesehatan hewan/ternak, melakukan vaksinasi secara rutin di 151 Kelurahan, dan meningkatkan pelayanan kesehatan hewan di Klinik Hewan.

Renja Dinas Pangan dan Pertanian Kota Bandung Tahun 2020 Page 27 2.2. ANALISIS KINERJA PELAYANAN DINAS TAHUN 2018

Dalam rangka mengukur dan peningkatan kinerja serta lebih meningkatnya akuntabilitas kinerja pemerintah, maka setiap instansi pemerintah perlu menetapkan Indikator Kinerja Utama (IKU). Untuk itu pertama kali yang perlu dilakukan instansi pemerintah adalah menentukan apa yang menjadi kinerja utama dari instansi pemerintah yang bersangkutan. Dengan demikian kinerja utama terkandung dalam tujuan dan sasaran strategis instansi pemerintah, sehingga IKU adalah merupakan ukuran keberhasilan dari suatu tujuan dan sasaran strategis instansi pemerintah.

Dengan kata lain IKU digunakan sebagai ukuran keberhasilan dari instansi pemerintah yang bersangkutan. Dinas Pangan Dan Pertanian Kota Bandung telah menetapkan Indikator Kinerja Utama melalui Keputusan Walikota Bandung tentang Indikator Kinerja Utama Kota Bandung. Upaya untuk meningkatkan akuntabilitas, Dinas Pangan Dan Pertanian Kota Bandung juga melakukan reviu terhadap Indikator Kinerja Utama, dalam melakukan reviu dengan memperhatikan capaian kinerja, permasalahan dan isu-isu strategis yang sangat mempengaruhi keberhasilan suatu organisasi.

Hasil pengukuran atas indikator kinerja utama Dinas Pangan Dan Pertanian Kota Bandung tahun 2018 menunjukan hasil sebagai berikut:

Tabel 2.1

Capaian Indikator Kinerja Utama Dinas Pangan Dan Pertanian Kota Bandung

Tahun 2018

No Indikator Kinerja Utama Satuan Target Realisasi Capaian

%

1 Tersedianya Cadangan Pangan

Ekuivalen Beras ton 60 89,057 148,43

Ekuivalen Beras ton 60 89,057 148,43

Dalam dokumen RENCANA KERJA (RENJA) 2020 (Halaman 13-0)

Dokumen terkait