RENCANA KERJA (RENJA) 2020
DINAS PANGAN DAN PERTANIAN
KOTA BANDUNG 2020
KATA PENGANTAR
Puji syukur kita panjatkan ke hadirat Allah SWT karena dengan rahmat-Nya, Rencana Kerja Dinas Pangan dan Pertanian Kota Bandung tahun 2020 telah dapat disusun.
Perencanaan merupakan proses untuk menentukan apa yang hendak dicapai pada masa yang akan datang serta menetapkan tahapan-tahapan yang dibutuhkan untuk mencapainya dengan mempertimbangkan sumberdaya yang dimiliki. Rencana Kerja Dinas Pangan dan Pertanian Kota Bandung merupakan perencanaan program dan kegiatan Dinas Pangan dan Pertanian Kota Bandung selama satu tahun dan merupakan penjabaran per tahun dari Rencana Strategis Dinas Pangan dan Pertanian Kota Bandung.
Penyusunan Renja Dinas Pangan dan Pertanian Kota Bandung merupakan amanat dari Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional, sedangkan aturan secara teknis mengacu pada Permendagri Nomor 86 Tahun 2017.
Rencana Kerja Dinas Pangan dan Pertanian Kota Bandung akan dijadikan acuan untuk pelaksanaan program dan kegiatan yang ada di Lingkungan Dinas Pangan dan Pertanian Kota Bandung untuk menunjang pembangunan daerah secara berkesinambungan.
Kami menyadari dalam penyusunan rencana kerja ini masih ada kekurangan dalam penyajiannya untuk itu kami mengharapkan saran serta masukan dari berbagai pihak guna kesempurnaan rencana kerja ini untuk masa mendatang.
Bandung, 2019 Plt. Kepala Dinas Pangan dan
Pertanian Kota Bandung
Ir. Hj. ELLY WASLIAH Nip. 19631229 198603 2 005
Renja Dinas Pangan dan Pertanian Kota Bandung Tahun 2019 ii
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ... i
DAFTAR ISI ... i
DAFTAR TABEL ... ii
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang ... 4
1.2. Landasan Hukum ... 6
1.3. Maksud dan Tujuan ... 8
1.4. Sistematika Penulisan ... 8
BAB II EVALUASI PELAKSANAAN RENJA DINAS PANGAN DAN PERTANIAN KOTA BANDUNG TAHUN 2017 2.1. Evaluasi Pelaksanaan Renja Dinas Pangan dan Pertanian Kota Bandung Tahun 2017 dan Capaian Renstra ... 13
2.2. Analisis Kinerja Pelayanan Dinas Tahun 2017 ... 37
2.3. Isu – isu Penting Penyelenggaraan Tugas dan Fungsi Dinas Pangan dan Pertanian Kota Bandung ... 41
2.4. Review Terhadap Rancangan Awal RKPD ... 46
2.5. Penelaahan Usulan Program dan Kegiatan Masyarakat ... 47
BAB III TUJUAN, SASARAN, PROGRAM DAN KEGIATAN 3.1. Telaahan Terhadap Kebijakan ... 54
3.2. Tujuan dan Sasaran Rencana Kerja Dinas Pangan dan Pertanian Kota Bandung ... 57
3.3. Tujuan dan Sasaran Renja Dinas Pangan dan Pertanian Kota Bandung ... 59
3.4. Program dan Kegiatan Dinas Pangan dan Pertanian Kota Bandung Tahun 2019 ... 60
BAB IV RENCANA KERJA DAN PENDANAAN PERANGKAT DAERAH ... 63
BAB V PENUTUP ... 69
LAMPIRAN
Renja Dinas Pangan dan Pertanian Kota Bandung Tahun 2019 ii
DAFTAR TABEL
Tabel 1. Rekapitulasi Evaluasi Hasil Pelaksanaan Renja Perangkat Daerah dan Pencapaian Renstra Peringkat Daerah s/d Tahun 2018 ... 36 Tabel 2.1. Capaian Indikator Kinerja Utama Dinas Pangan dan Pertanian Kota
Bandung Tahun 2017 ... 37 Tabel 2.2. Capaian Indikator Kinerja Dinas Pangan dan Pertanian Kota
Bandung Tahun 2017 ... 38 Tabel 2.3. Pencapaian Kinerja Pelayanan Dinas Pangan dan Pertanian Kota
Bandung ... 40 Tabel 2.4. Analisis Kekuatan Faktor – Faktor SWOT ... 43 Tabel 2.5. Review Terhadap Rancangan Awal RKPD Tahun 2019 Kota
Bandung ... 46 Tabel 2.6. Usulan Program dan Kegiatan dari Para Pemangku Kepentingan
Tahun 2019 Kota Bandung ... 48 Tabel 3.1. Sinkronisasi Prioritas Pembangunan Kota Bandung dengan
Prioritas Nasional ... 56 Tabel 3.2. Target Indikator Utama (IKU) Dinas Pangan dan Pertanian Kota
Bandung Tahun 2019 ... 61
Renja Dinas Pangan dan Pertanian Kota Bandung Tahun 2020 Page 1 BAB I
PENDAHULUAN
Kota Bandung terletak pada posisi 107º36’ Bujur Timur dan 6º55’ Lintang Selatan. Luas wilayah Kota Bandung adalah 16.729,65 Ha.
Perhitungan luasan ini didasarkan pada Peraturan Daerah Kotamadya Daerah Tingkat II Bandung Nomor 10 Tahun 1989 tentang Perubahan Batas Wilayah Kotamadya Daerah Tingkat II Bandung sebagai tindak lanjut dari Peraturan Pemerintah Nomor 16 Tahun 1987 tentang Perubahan Batas Wilayah Kotamadya Daerah Tingkat II Bandung dengan Kabupaten Daerah Tingkat II Bandung. Secara administratif, Kota Bandung berbatasan dengan beberapa daerah kabupaten/kota lainnya, yaitu:
1. sebelah Utara berbatasan dengan Kabupaten Bandung dan Kabupaten Bandung Barat;
2. sebelah Barat berbatasan dengan Kabupaten Bandung Barat dan Kota Cimahi;
3. sebelah Tmur berbatasan dengan Kabupaten Bandung; dan 4. sebelah Selatan berbatasan dengan Kabupaten Bandung.
Gambar 1 Peta Orientasi Kota Bandung
Renja Dinas Pangan dan Pertanian Kota Bandung Tahun 2020 Page 2 Secara morfologi regional, Kota Bandung terletak di bagian tengah
“Cekungan Bandung”, yang mempunyai dimensi luas 233.000 Ha. Secara administratif, cekungan ini terletak di lima daerah administrasi kabupaten/kota, yaitu Kota Bandung, Kabupaten Bandung, Kabupaten Bandung Barat, Kota Cimahi, dan 5 Kecamatan yang termasuk Kabupaten Sumedang.
A. Kondisi Topografi
Kota Bandung terletak pada ketinggian 791 m di atas permukaan laut (dpl). Titik tertinggi berada di daerah utara dengan ketinggian 1.050 m dpl, dan titik terendah berada di sebelah selatan dengan ketinggian 675 m dpl. Wilayah yang dikelilingi oleh pegunungan membentuk Kota Bandung menjadi semacam cekungan (Bandung Basin).
B. Kondisi Geologi
Keadaan geologis di Kota Bandung dan sekitarnya terdiri atas lapisan aluvial hasil letusan Gunung Tangkuban Perahu. Jenis material di wilayah bagian utara umumnya jenis tanah andosol, sedangkan di bagian selatan serta timur terdiri atas jenis aluvial kelabu dengan bahan endapan liat. Di bagian tengah dan barat tersebar jenis tanah andosol. Secara geologis Kota Bandung berada di Cekungan Bandung yang dikelilingi oleh Gunung Berapi yang masih aktif dan berada di antara tiga daerah sumber gempa bumi yang saling melingkup, yaitu (i) sumber gempa bumi Sukabumi-Padalarang-Bandung, (ii) sumber gempa bumi Bogor-Puncak- Cianjur, serta (iii) sumber gempa bumi Garut-Tasikmalaya-Ciamis.
Daerah-daerah ini aktif di sepanjang sesar-sesar yang ada, sehingga menimbulkan gempa tektonik yang sewaktu-waktu dapat terjadi. Selain itu Kota Bandung yang berpenduduk banyak dan padat serta kerapatan bangunan yang tinggi juga berisiko tinggi pada berbagai bencana.
Untuk penyusunan Renja di bidang pangan dan pertanian berdasarkan keadaan geologis dan tanah yang ada di Kota Bandung dan sekitarnya diperlukan perencanaan yang matang dalam mencapai target kinerja yang telah ditentukan dalam jangka waktu 1 (satu) tahun.
Renja Dinas Pangan dan Pertanian Kota Bandung Tahun 2020 Page 3 Undang – Undang No. 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional telah mengamanatkan bahwa setiap Daerah harus menyusun Rencana Pembangunan Daerah secara sistematis, terarah terpadu dan tanggap terhadap perubahan, dengan jenjang perencanaan jangka panjang (25 tahun ), jangka menengah (5 tahun ), maupun jangka pendek ( 1 tahun ). Berdasarkan hal itu setiap daerah harus menetapkan Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD), Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD), Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) dan Dokumen tersebut akan menjadi acuan untuk penyusunan RENJA SKPD.
Renja Dinas Pangan dan Pertanian Kota Bandung merupakan penjabaran visi, misi, program dan kegiatan Dinas Pangan dan Pertanian yang akan dilaksanakan pada tahun 2020, penyusunan Rencana Kerja Perangkat Daerah (PD) Dinas Pangan dan Pertanian Kota Bandung berpedoman pada RKPD Kota Bandung.
Berbagai program dan kegiatan pemerintah daerah tersebut dituangkan dalam Rencana Kerja PD sebagai acuan bagi PD dalam mengoperasionalkan RKPD yang memuat rencana pembangunan selama 1 (satu) tahun yang akan dilaksanakan oleh Perangkat Daerah Pemerintah Daerah.
Mengingat peran dan fungsi RKPD Kota Bandung sangat penting bagi pemerintah dan masyarakat maka penyusunan Renja Dinas Pangan dan Pertanian Kota Bandung dilakukan secara transparan dan partisipatif untuk menghasilkan dokumen rencana kerja yang baik.
Renja Dinas Pangan dan Pertanian Kota Bandung Tahun 2020 Page 4 1.1. LATAR BELAKANG
Berdasarkan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 86 Tahun 2017, tentang tata Cara Perencanaan, Pengendalian dan Evaluasi Pembangunan Daerah,Tata Cara Evaluasi Rancangan Peraturan Daerah Tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah dan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah, serta Tata Cara Perubahan Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah, Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah, Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah dan Rencana Kerja Pemerintah Daerah yang telah ditetapkan dijadikan pedoman penyempurnaan rancangan Renja Perangkat Daerah Kota. Program dan kegiatan dalam Renja Perangkat Daerah dirumuskan dalam rangka mewujudkan pencapaian sasaran serta target kebijakan program dan kegiatan pembangunan dalam RKPD Kota Bandung Tahun 2020. Perumusan Renja Perangkat Daerah merupakan proses yang tidak terpisahkan dan dilakukan bersamaan dengan tahap perumusan rancangan Perangkat Daerah. Penyempurnaan rancangan Renja Perangkat Daerah bertujuan untuk mempertajam tujuan, sasaran, strategi, kebijakan, program dan kegiatan pembangunan daerah sesuai dengan tugas dan fungsi Perangkat Daerah yang ditetapkan dalam RKPD.
Renja Perangkat Daerah merupakan dokumen perencanaan Perangkat Daerah untuk periode 1 (satu) tahun. Undang-undang No 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional dan Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah telah mewajibkan setiap Perangkat Daerah untuk menyusun Rencana Kerja (Renja) Perangkat Daerah sebagai pedoman kerja selama periode 1 (satu) tahun dan berfungsi untuk menterjemahkan perencanaan strategis lima tahunan yang dituangkan dalam Renstra Perangkat Daerah kedalam perencanaan tahunan yang sifatnya lebih operasional.
Sebagai sebuah dokumen resmi Perangkat Daerah, Renja Perangkat Daerah mempunyai kedudukan yang strategis yaitu menjembatani antara perencanaan pada Perangkat Daerah dengan Rencana Kerja Pembangunan Daerah (RKPD), sebagai implementasi
Renja Dinas Pangan dan Pertanian Kota Bandung Tahun 2020 Page 5 pelaksanaan strategis jangka menengah (RPJMD) daerah dan Renstra Perangkat Daerah yang menjadi satu kesatuan untuk mendukung pencapaian Visi dan Misi Daerah. Renja Perangkat Daerah disusun oleh masing-masing Perangkat Daerah secara terpadu, partisipatif dan demokratis. Renja Perangkat Daerah digunakan sebagai dasar penyusunan Rencana Kerja Anggaran (RKA) Perangkat Daerah untuk penyusunan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kota dan sebagai dasar pengusulan program/kegiatan yang akan dibiayai APBD Propinsi dan APBN.
Dokumen Renja Perangkat Daerah pada dasarnya merupakan suatu proses pemikiran strategis untuk menyikapi isu-isu yang berkembang dan mengimplementasikannya dalam program dan kegiatan Perangkat Daerah. Kualitas dokumen Renja sangat ditentukan oleh kualitas program dan kegiatan yang akan dilaksanakan, sehingga penyusunan Renja Perangkat Daerah sangat ditentukan oleh kemampuan Perangkat Daerah dalam menyusun, mengorganisasikan, mengimplementasikan, mengendalikan dan mengevaluasi capaian program dan kegiatan sesuai tugas pokok dan fungsi Perangkat Daerah.
Berdasarkan Permendagri No.86 Tahun 2017 sistematika penyusunan Renja paling sedikit memuat :
a. pendahuluan;
b. hasil evaluasi Renja Perangkat Daerah tahun lalu;
c. tujuan dan sasaran Perangkat Daerah;
d. rencana kerja dan pendanaan Perangkat Daerah; dan e. penutup
Dalam prosesnya, penyusunan rancangan Renja Perangkat Daerah mengacu pada kerangka arahan yang dirumuskan dalam rancangan awal RKPD. Oleh karena itu penyusunan rancangan Renja Perangkat Daerah dapat dikerjakan secara simultan/paralel dengan penyusunan rancangan awal RKPD, dengan fokus melakukan pengkajian terlebih dahulu terhadap kondisi eksisting Perangkat Daerah, evaluasi pelaksanaan Renja Perangkat Daerah tahun-tahun sebelumnya dan
Renja Dinas Pangan dan Pertanian Kota Bandung Tahun 2020 Page 6 evaluasi kinerja terhadap pencapaian Renstra Perangkat Daerah. Tahap penetapan rancangan akhir Rencana Kerja Perangkat Daerah dilakukan dengan pengesahan oleh Kepala Daerah, selanjutnya Kepala Perangkat Daerah menetapkan Renja Perangkat Daerah untuk menjadi pedoman di lingkungan Perangkat Daerah dalam menyusun program dan kegiatan prioritas Perangkat Daerah pada tahun anggaran berkenaan.
1.2. LANDASAN HUKUM
Landasan Hukum Penyusunan Rancangan Renja Perangkat Daerah adalah :
1) Undang-Undang Nomor 58 Tahun 2003 Tentang Pengelolaan Keuangan Daerah;
2) Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional;
3) Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 125, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4437) sebagaimana telah diubah dengan Undang- Undang Nomor 8 Tahun 2005 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2005 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah menjadi Undang-Undang (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 108, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4548);
4) Undang-undang Republik Indonesia Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah;
5) Undang-undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah;
6) Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah;
Renja Dinas Pangan dan Pertanian Kota Bandung Tahun 2020 Page 7 7) Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 59 Tahun 2007 tentang Perubahan atas Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah;
8) Permendagri No. 86 Tahun 2017 tentang tata Cara Perencanaan, Pengendalian dan Evaluasi Pembangunan Daerah,Tata Cara Evaluasi Rancangan Peraturan Daerah Tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah dan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah, serta Tata Cara Perubahan Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah, Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah, Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah dan Rencana Kerja Pemerintah Daerah yang telah ditetapkan dijadikan pedoman penyempurnaan rancangan Renja Perangkat Daerah Kota.Peraturan Daerah Kota Bandung Nomor 8 Tahun 2008 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Kota Bandung 2005-2025;
9) Peraturan Daerah Kota Bandung Nomor 05 Tahun 2009 tentang Perubahan Peraturan Daerah Kota Bandung Nomor 07 Tahun 2008 Tentang Tahapan, Tata Cara Penyusunan, Pengendalian dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan Serta Musyawarah Perencanaan Pembangunan Daerah;
10) Peraturan Daerah Kota Bandung Nomor 08 tahun 2016 Tentang Pembentukan dan Susunan Perangkat Daerah Kota Bandung;
11) Peraturan Daerah Kota Bandung No. 3 Tahun 2019 Tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kota Bandung 2018-2023;
Renja Dinas Pangan dan Pertanian Kota Bandung Tahun 2020 Page 8 12) Peraturan Walikota Bandung No 1389 Tahun 2016 tentang Kedudukan, Susunan Organisasi, Tugas dan Fungsi serta Tata Kerja Dinas Pangan dan Pertanian Kota Bandung.
1.3. MAKSUD DAN TUJUAN
Maksud dan tujuan penyusunan renja Perangkat Daerah adalah : 1) Memenuhi kebutuhan akan adanya perencanaan strategis
sebagai acuan dalam penyusunan rencana kegiatan sesuai dengan UU No. 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional, yang mewajibkan setiap instansi pemerintah untuk menyusun perencanaan strategis.
2) Sebagai dokumen pelaksanaan program dan kegiatan yang berpedoman pada RKPD Kota Bandung
1.4. SISTEMATIKA PENULISAN
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang
Mengemukakan pengertian ringkas tentang Renja Perangkat Daerah, proses penyusunan Renja Perangkat Daerah, keterkaitan antara Renja Perangkat Daerah dengan dokumen RKPD, Renstra Perangkat Daerah, dengan Renja K/L dan Renja provinsi/kabupaten/kota, serta tindak lanjutnya dengan proses penyusunan RAPBD.
1.2. Landasan Hukum
Memuat penjelasan tentang undang-undang, peraturan pemerintah, peraturan daerah, dan ketentuan peraturan lainnya yang mengatur tentang
Renja Dinas Pangan dan Pertanian Kota Bandung Tahun 2020 Page 9 SOTK, kewenangan Perangkat Daerah, serta pedoman yang dijadikan acuan dalam penyusunan perencanaan dan penganggaran Perangkat Daerah.
1.3. Maksud dan Tujuan
Memuat penjelasan tentang maksud dan tujuan dari penyusunan Renja Perangkat Daerah.
1.4. Sistematika Penulisan
Menguraikan pokok bahasan dalam penulisan Renja Perangkat Daerah, serta susunan garis besar isi
BAB II HASIL EVALUASI RENJA PERANGKAT DAERAH TAHUN LALU
2.1 Evaluasi Pelaksanaan Renja PD Tahun Lalu
Bab ini memuat kajian (review) terhadap hasil evaluasi pelaksanaan Renja PD tahun lalu (tahun n-2) dan perkiraan capaian tahun berjalan (tahun n-1), mengacu pada APBD tahun berjalan yang seharusnya pada waktu penyusunan Renja PD sudah disahkan.
Selanjutnya dikaitkan dengan pencapaian target Renstra PD berdasarkan realisasi program dan kegiatan pelaksanaan Renja PD tahun-tahun sebelumnya.
2.2 Analisis Kinerja Pelayanan PD berisi kajian terhadap capaian kinerja pelayanan PD berdasarkan indikator kinerja yang sudah ditentukan dalam SPM, maupun terhadap IKK sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 2008, dan Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007. Jenis indikator yang dikaji, disesuaikan dengan tugas dan fungsi masing-masing PD, serta ketentuan peraturan
Renja Dinas Pangan dan Pertanian Kota Bandung Tahun 2020 Page 10 perundang-undangan yang terkait dengan kinerja pelayanan.
2.3 Isu – isu penting penyelenggaraan tugas dan fungsi PD Sub bab ini berisi uraian mengenai:
1. Sejauh mana tingkat kinerja pelayanan PD dan hal kritis yang terkait dengan pelayanan PD;
2. Permasalahan dan hambatan yang dihadapi dalam menyelenggarakan tugas dan fungsi PD;
3. Dampaknya terhadap pencapaian visi dan misi kepala daerah, terhadap capaian program nasional/global, seperti SPM dan MDGs (Millenium Development Goals);
4. Tantangan dan peluang dalam meningkatkan pelayanan PD dan
5. Formulasi isu-isu penting berupa rekomendasi dan catatan yang strategis untuk ditindaklanjuti dalam perumusan program prioritas tahun rencana.
2.4 Review terhadap Rancangan Awal RKPD Sub-bab ini berisikan uraian mengenai:
1. Proses yang dilakukan yaitu membandingkan antara rancangan awal RKPD dengan hasil analisis kebutuhan;
2. Penjelasan mengenai alasan proses tersebut dilakukan;
Renja Dinas Pangan dan Pertanian Kota Bandung Tahun 2020 Page 11 3. Penjelasan temuan-temuan setelah proses tersebut dan catatan penting terhadap perbedaan dengan rancangan awal RKPD, misalnya: terdapat rumusan program dan kegiatan baru yang tidak terdapat di rancangan awal RKPD, atau program dan kegiatan cocok namun besarannya berbeda.
BAB III TUJUAN DAN SASARAN PERNGKAT DAERAH 3.1 Telaahan terhadap kebijakan nasional
Telaahan terhadap kebijakan nasional dan sebagaimana dimaksud, yaitu penelaahan yang menyangkut arah kebijakan dan prioritas pembangunan nasional dan yang terkait dengan tugas pokok dan fungsi PD.
3.2 Tujuan dan sasaran Renja PD
Sub bab ini berisi perumusan tujuan dan sasaran yang didasarkan atas rumusan isu-isu penting penyelenggaraan tugas dan fungsi PD yang dikaitkan dengan sasaran target kinerja Renstra PD.
3.3 Program dan Kegiatan Tahun 2020 Berisikan penjelasan mengenai:
a. Faktor-faktor yang menjadi bahan pertimbangan terhadap rumusan program dan kegiatan. Misal:
Pencapaian visi dan misi kepala daerah, Pencapaian MDGs, Pengentasan kemiskinan, Pencapaian SPM, Pendayagunaan potensi ekonomi daerah, Pengembangan daerah terisolir, dsb.
Renja Dinas Pangan dan Pertanian Kota Bandung Tahun 2020 Page 12 b. Uraian garis besar mengenai rekapitulasi
program dan kegiatan, yang meliputi:
Jumlah program dan jumlah kegiatan.
Sifat penyebaran lokasi program dan kegiatan (apa saja yang tersebar ke berbagai kawasan dan apa saja yang terfokus pada kawasan atau kelompok masyarakat tertentu).
BAB IV. RENCANA KERJA DAN PENDANAAN PERANGKAT DAERAH
BAB V. PENUTUP
Berisikan uraian penutup, berupa:
a. Catatan penting yang perlu mendapat perhatian, baik dalam rangka pelaksanaannya maupun seandainya ketersediaan anggaran tidak sesuai dengan kebutuhan.
b. Kaidah-kaidah pelaksanaan.
c. Rencana tindak lanjut.
Renja Dinas Pangan dan Pertanian Kota Bandung Tahun 2020 Page 13 BAB II
HASIL EVALUASI RENJA DINAS PANGAN DAN PERTANIAN KOTA BANDUNG TAHUN 2018
2.1. HASIL EVALUASI RENJA DINAS PANGAN DAN PERTANIAN KOTA BANDUNG TAHUN 2018
Pada tahun 2018 Dinas Pangan dan Pertanian Kota Bandung telah melaksanakan 1 (satu) Urusan Wajib Non Pelayanan Dasar yaitu Urusan Pangan dan 2 (dua) Urusan Pilihan yaitu Urusan Pertanian, dan Urusan Kelautan dan Perikanan. Terhadap masing-masing urusan tersebut dianalisis sebagai berikut :
A. URUSAN WAJIB 1. URUSAN PANGAN
Urusan Pangan mendapat alokasi anggaran sebesar Rp. 2.281.721.675 dan realisasi sebesar Rp. 2.240.279.450 atau 98,18 %. Program dan kegiatan pada Urusan Pangan dilaksanakan oleh Dinas Pangan dan Pertanian dengan hasil capaian kinerja program sebagai berikut :
No. Program Indikator Kerja
Satuan Satuan Realisasi Keterangan/Faktor Pendukung/Faktor Penghambat/Solusi
1 Program
Ketahanan Pangan
Skor Pola Pangan Harapan (PPH)
nilai 91,69 91,69 Pola Pangan Harapan merupakan suatu metode yang digunakan untuk menilai jumlah dan komposisi atau ketersediaan pangan.
Pola Pangan Harapan biasanya digunakan untuk perencanaan konsumsi, kebutuhan dan penyediaan pangan wilayah. Dalam menentukan PPH ada beberapa komponen yang harus diketahui diantaranya yaitu konsumsi energi dan zat
Renja Dinas Pangan dan Pertanian Kota Bandung Tahun 2020 Page 14
gizi total, persentase energi dan gizi aktual, dan skor kecukupan energi dan zat gizi.
Dengan pendekatan Pola Pangan Harapan dapat dinilai mutu pangan penduduk berdasarkan skor pangan (dietary score). Semakin tinggi skor mutu pangan, menunjukkan situasi pangan yang semakin beragam dan semakin baik komposisi dan mutu gizinya. Tahun 2018 dari target 91,69 terealisasi sebesar 91,69 atau 100,00%. Dalam dua tahun terakhir, indikator Skor Pola Pangan Harapan (PPH) ketersediaan terus meningkat dan selalu mencapai target. Jika dibandingkan dengan target akhir RPJMD pada tahun 2018, capaian kinerja pada tahun 2018 sudah mencapai 100,00%. Yaitu dari target 91,69 sudah tercapai sesuai target 91,69.
Faktor pendukung tercapainya kinerja : Ada beberapa faktor yang mempengaruhi tercapainya skor PPH, yaitu :
1. Infrastruktur yang baik 2. Ketersediaan pangan selalu tersedia 3. Koordinasi yang baik antara stake holder 4. Pelaksanaan sosialisasi konsumsi pangan yang intensif.
Penguatan cadangan pangan ekuivalen beras
Ton 60 89,057 Cadangan Pangan
Pemerintah Daerah adalah persediaan pangan yang dikuasai dan dikelola oleh Pemerintah Daerah yang digunakan untuk menanggulangi kekurangan pangan, bencana alam, bencana
Renja Dinas Pangan dan Pertanian Kota Bandung Tahun 2020 Page 15
sosial, dan/atau menghadapi keadaan darurat. Pemerintah Kota dalam rangka penguatan cadangan pangan diharuskan menyediakan pangan kota equivalen beras minimal 60 ton setiap tahunnya sesuai Permentan No. 65 Tahun 2010 tentang Standar Pelayanan Minimal Bidang Ketahanan Pangan Provinsi dan Kabupaten/Kota.
Faktor pendorong pencapaian target yaitu adanya komitmen pimpinan dalam pemenuhan Standar Pelayanan Minimal Bidang Pangan berdasarkan Permentan No. 65 Tahun 2010 tentang Standar Pelayanan Minimal Bidang Ketahanan Pangan untuk pengadaan cadangan pangan setiap tahunnya.
2 Program Peningkatan Keamanan Pangan Hasil Pertanian
Jumlah maksimum pangan segar hasil pertanian yang tercemar
kasus 11 1 1 kasus formalin pada
apel malang.
Untuk menekan terjadinya kasus pencemaran produk pangan segar dilakukan sidak pengawasan pangan segar dengan melibatkan instansi terkait (Kepolisian, Satpol PP, Dinas UKM dan INDAG, BP POM, dan Dinas Kesehatan) serta meningkatkan pelatihan dan sosialisasi ke swalayan, pasar tradisional, konsumen/PKK, ke pelaku usaha (TPA), DKM (pada saat pelatihan hewan qurban) . Perhitungan indikator ini berbeda dengan indikator yang lain, semakin sedikit terjadinya kasus pencemaran pangan
Renja Dinas Pangan dan Pertanian Kota Bandung Tahun 2020 Page 16
segar maka menunjukan semakin baik kinerja dinas.
Cara pengukuran Persentase Menurun = Target-(Realisasi-Target) x 100 %
--- Target
Faktor pendorong pencapaian target adalah 1. tersedianya sarana dan prasarana penunjang untuk kegiatan Peningkatan mutu dan keamanan pangan, diantaranya : tersedianya
laboratorium dinas dan kendaraan laboratorium keliling. 2. Dalam upaya meningkatkan
pengawasan dan pemeriksaan mutu pangan segar yang beredar di wilayah Kota Bandung, Dinas Pangan dan Pertanian
melakukan kerjasama dengan 8 holding company pasar modern dalam pengadaan mini lab food security, dan bekerjasama dengan PD.
Pasar Bermartabat dalam pengadaan mini lab food security di beberapa pasar tradisional.
3 Jumlah
maksimum pangan segar hasil peternakan yang tercemar
kasus 12 3 1 kasus peroksida pada
kikil dan 2 kasus salmonela pada daging babi
4 Program
Peningkatan Keamanan Pangan Hasil Perikanan
Jumlah maksimum pangan segar hasil perikanan yang tercemar
kasus 12 2 2 kasus formalin pada
asin cucut dan teri nasi
Renja Dinas Pangan dan Pertanian Kota Bandung Tahun 2020 Page 17 Permasalahan yang dihadapi dalam penyelenggaraan Urusan Pangan tahun 2018 dan rumusan solusinya adalah sebagai berikut.
No. Permasalahan Solusi
1. Belum optimalnya implementasi percepatan penganekaragaman konsumsi pangan lokal (P2KP) yang diharapkan dapat mengurangi konsumsi beras, hal ini disebabkan ketersediaan pangan lokal sebagai sumber karbohidrat (pengganti beras) masih sulit diperoleh, harga pangan alternatif relatif lebih mahal, sulit menghilangkan kebiasaan
makan nasi, dan terbatasnya pengetahuan dan keterampilan masyarakat tentang pangan alternatif.
Mengoptimalkan implementasi Percepatan Penganekaragaman Konsumsi Pangan (P2KP), melalui sosialisasi kepada masyarakat tentang pangan alternatif, bimbingan dan pelatihan menyusun menu Beragam Bergizi Seimbang dan Aman (B2SA), Program One Day No Rice, dan bekerjasama dengan kabupaten/
Mengoptimalkan implementasi Percepatan Penganekaragaman Konsumsi Pangan (P2KP), melalui sosialisasi kepada masyarakat tentang pangan alternatif, bimbingan dan pelatihan menyusun menu Beragam Bergizi Seimbang dan Aman (B2SA), Program One Day No Rice, dan bekerjasama dengan kabupaten/Kota penghasil bahan umbi-umbian, dan program One Day No Rice.
2. Kota Bandung bukan merupakan daerah produksi sehingga pangan segar yang dijual dan dikonsumsi masyarakat sebagian besar (95
%) berasal dari luar wilayah Kota Bandung, sehingga diperlukan pengawasan pangan segar yang lebih intensif.
Meningkatkan frekuensi sosialisasi keamanan pangan
Meningkatkan koordinasi dengan dinas/ instansi dan lembaga terkait.
3. Pelaku usaha dan masyarakat masih kurang memahami tentang tata cara penanganan dan penyimpanan produk pangan segar serta pengetahuan tentang bahayanya penggunaan bahan kimia berbahaya.
Hasil evaluasi dan tindak lanjut dari Kegiatan Peningkatan Mutu dan Keamanan Pangan Segar tahun 2017 merupakan upaya untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas pengawasan komoditi hasil pertanian dengan harapan komoditi yang beredar di Kota Bandung aman untuk dikonsumsi.
Sudah ada inovasi dari Dinas yaitu dengan adanya Mini Lab Food Security di Pasar Modern dan Pasar Tradisional yang erupakan
kolaborasi antara Dinas Pangan dan Pertanian dengan Pasar Modern dan Pasar Tradisional, selain itu sudah ada juga Mobil Lab Keliling Dinas yang melakukan pemeriksaan secara keliling mengenai keamanan
pangan segar di Kota Bandung.
4. Terbatasnya SDM pengawas mutu pangan segar terutama petugas laboratorium yang memiliki pendidikan khusus (analis kimia).
Meningkatkan pelatihan kepada para petugas pemeriksa mini lab food security yang ada di seluruh pasar tradisional dan pasar modern
Renja Dinas Pangan dan Pertanian Kota Bandung Tahun 2020 Page 18 B. URUSAN PILIHAN
1. URUSAN KELAUTAN DAN PERIKANAN
Urusan Kelautan dan Perikanan mendapat alokasi anggaran sebesar Rp. 1.791.255.431 dan realisasi sebesar Rp 1.644.935.266 atau 91.83 %.
Program dan kegiatan pada Urusan Kelautan dan Perikanan dilaksanakan oleh Dinas Pangan dan Pertanian dengan hasil capaian kinerja program sebagai berikut :
No. Program Indikator Kerja
Satuan Satuan Realisasi Keterangan/Faktor Pendukung/Faktor Penghambat/Solusi
1 Program
Pengembangan Budidaya Perikanan
Produksi Ikan Konsumsi
Ton 2.970 2970,63 Produksi ikan konsumsi pada tahun 2018 terealisasi sebesar 2.970,63 ton dari target 2.970 ton atau 100,02%.
Produksi ikan konsumsi diperoleh dari
beberapa jenis ikan seperti ikan mas, nila, mujair, lele, sepat siam, dengan jumlah produksi terbesar adalah Ikan Lele, diikuti oleh Ikan Nila, Mas, Mujair, dan ikan lainnya. Ikan Sepat Siam. Ikan lele sebagai penyumbang produksi terbesar, hal ini dikarenakan selain banyak peminatnya juga budidaya ikan lele dapat dilakukan dengan media terpal yang dapat disimpan di pekarangan rumah sehingga tidak memerlukan
lahan/kolam yang luas.
Daerah produksi ikan di Kota Bandung tersebar di beberapa
kecamatan,
diantaranya Kecamatan Cibiru, Arcamanik, dan Ujungberung.
Renja Dinas Pangan dan Pertanian Kota Bandung Tahun 2020 Page 19
Formulasi Penghitungan :
Produksi Ikan Konsumsi :
P = Luas lahan (kolam) x padat tebar – kematian ket:
Kematian = rata-rata 10 %
Padat tebar tergantung jenis dan perlakuan (teknologi).
Faktor pendukung tercapainya kinerja adalah : adanya peningkatan minat dan pengetahuan
masyarakat dan petani ikan melalui
pembinaan, pelatihan- pelatihan maupun workshop yang diadakan oleh Dinas.
Produksi ikan hias
Produksi ikan hias
1.221.700 1.260.869 Produksi ikan hias pada tahun 2018 terealisasi sebesar 1.260.869 ekor dari target 1.221.700 ekor atau sebesar 103,21%. Jenis ikan hias yang
dibudidayakan di Kota Bandung ada 13 jenis, yaitu Barbir, Cupang, Frontosa, Gapi, Leuleupi, Udang Hias, Louhan, Manvis, Mas Koki, Molly, Plati, Rainbow, dan Sapu Hias, dengan
penyumbang produksi terbesar adalah ikan Mas Koki dan Frontosa.
Daerah budidaya ikan hias di Kota Bandung diantaranya Kecamatan Cibiru, Arcamanik, Regol, dan Ujungberung.
Formulasi menghitungnya : Produksi Ikan Hias : P = Luas lahan (kolam) x padat tebar – kematian
Renja Dinas Pangan dan Pertanian Kota Bandung Tahun 2020 Page 20
ket:
Kematian = rata-rata 10 %
Padat tebar tergantung jenis dan perlakuan (teknologi) Faktor pendukung tercapainya kinerja adalah : adanya peningkatan minat dan pengetahuan
masyarakat dan petani ikan melalui
pembinaan, pelatihan- pelatihan maupun workshop yang diadakan oleh Dinas.
Permasalahan yang dihadapi dalam penyelenggaraan Urusan Kelautan dan Perikanan tahun 2018 dan rumusan solusinya adalah sebagai berikut :
No. Permasalahan Solusi
1. Semakin sempitnya lahan untuk budidaya perikanan sebagai akibat alih fungsi lahan di Kota Bandung.
Mengoptimalkan pemanfaatan lahan
pekarangan melalui pemilihan komoditas yang mempunyai produktivitas tinggi, nilai ekonomis tinggi dan bisa dikembangkan dilahan yang sempit (ikan hias dan ikan lele).
2. URUSAN PERTANIAN
Urusan Pertanian mendapat alokasi anggaran sebesar Rp. 6.209.550.329 dan realisasi sebesar Rp 5.736.509.942 atau 92.38 %. Program dan kegiatan pada Urusan Pangan dilaksanakan oleh Dinas Pangan dan Pertanian dengan hasil capaian kinerja program sebagai berikut :
No. Program Indikator Kerja
Satuan Satuan Realisasi Keterangan/Faktor Pendukung/Faktor Penghambat/Solusi
1. Program
Peningkatan Ketahanan Pangan (Pertanian/
Perkebunan)
Produksi Tanaman hias
Pohon/Ta- hun
195.000 198.959 Pada tahun 2018 realisasinya
mencapai 198.959 pohon/tahun atau melebihi target sebesar 102,03%
dimana targetnya yaitu 195.000
Renja Dinas Pangan dan Pertanian Kota Bandung Tahun 2020 Page 21 pohon/tahun. Jika dibandingkan dengan target RPJMD, capaian kinerja pada tahun 2018 sudah melebihi target yaitu mencapai 102,03% dimana dari target 195.000 pohon/tahun di akhir tahun RPJMD sudah tercapai 198.959
pohon/tahun.
pada tahun 2014 produksi mencapai 186.920 pot/tahun, tahun 2015 sebesar 189.002 pot/tahun, tahun 2016 realisasinya
mencapai 190.754 pot/tahun dari target 190.000 pot/tahun atau 100,40%, pada tahun 2017 realisasinya
mencapai 195.442 pot/tahun dari target 192.000 pot/tahun atau 101,79%.
Ada sekitar 24 jenis tanaman hias yang ada di Kota Bandung dan yang menjadi komoditas unggulan adalah jenis Anggrek, Gladiol dan Sedap Malam. Dari capaian 198.959 pohon/tahun pada tahun 2018, 5 (lima) jenis
Renja Dinas Pangan dan Pertanian Kota Bandung Tahun 2020 Page 22 tanaman hias penyumbang produksi terbesar adalah Sedap Malam, Gladiol, Anggrek, Mawar, Sanseivera
(pedang-
pedangan), dan Anthurium Daun.
2. Produksi
Tanaman Sayuran
Pohon 250.000 252.400 Produksi tanaman sayuran pada tahun 2018 mencapai 252.400 pohon atau melebihi target sebesar 100,96%
dimana targetnya yaitu 250.000 pohon.
Produksi tanaman sayuran berasal dari adanya program Urban Farming yang secara masif dilaksanakan di 30 Kecamatan serta dilakukan pelatihan kampung berkebun pada tingkat RW yang ada di Kota Bandung, sehingga masyarakat mempunyai minat untuk berkebun sayuran walaupun di lahan yang sempit.
Penyuluhan dan pelatihan kepada kelompok tani pun secara rutin dilakukan oleh Penyuluh Pertanian Lapangan
Renja Dinas Pangan dan Pertanian Kota Bandung Tahun 2020 Page 23 Dispangtan.
3. Program
Peningkatan Pemasaran Hasil Produksi Pertanian/
Perkebunan
Jumlah pelaku usaha bidang pertanian dan perikanan
Pelaku Usaha
300 342 Pada Tahun 2018 dari target RPJMD sebanyak 300 pelaku usaha dapat terealisasi sebanyak 342 (114,00 %) pelaku usaha di bidang pertanian dan perikanan.
Faktor pendorong pencapaian target yaitu tersedianya dana, SDM, sarana dan prasarana sebagai penunjang untuk kegiatan pelatihan kepada kelompok masyarakat yang berminat untuk menjadi wira usaha.
4. Program
Peningkatan Produksi Pertanian/
Perkebunan
Pohon produktif
Pohon 15.000 15.751 Tanaman produktif atau tanaman buah adalah tanaman yang menghasilkan buah untuk dikonsumsi.
Tanaman buah dibatasi pada pohon atau tanaman yang menghasilkan buah sebagai bahan pangan.
Beberapa contoh tanaman produktif diantaranya : Pohon mangga, pohon rambutan, pohon nangka dan lainya.
Selain dimanfaatkan untuk penghijauan fungsi tanaman hidup adalah untuk di ambil hasilnya. Pada tahun 2018 pohon produktif (tanaman buah- buahan) terealisasi sebanyak 15.751 pohon dari target 15.000 pohon atau terealisasi sebesar 105,00 %.
Faktor pendorong pencapaian target adalah adanya kebijakan untuk penghijauan kota dan dukungan anggaran.
5. Tingkat
mutu tembakau
% 100 100 Tercapainya kualitas
mutu tembakau 100 % sesuai permintaan
Renja Dinas Pangan dan Pertanian Kota Bandung Tahun 2020 Page 24
(DBHCT) pasar. Faktor
pendorong pencapaian target yaitu adanya pelatihan mengenai kulitas mutu tembakau kepada kelompok tani tembakau, study lapangan ke daerah lain, dan workshop mengenai budidaya, pasca panen dan peraturan
penggunaan tembakau.
6. Program
Pencegahan dan Penanggula-ngan Penyakit Ternak
Kasus Penyakit Zoonosa di Kota Bandung
Kasus 7 0 Penyakit zoonosa
merupakan penyakit atau infeksi pada binatang yang dapat ditularkan kepada manusia. Penyakit yang tergolong dalam zoonosa
misalnya, Antraks, Rabies, Brucellosis, Avian Influenza, dan lain-lain. Kota Bandung merupakan
pusat pemasaran ternak terbesar di Jawa Barat, sehingga resiko masuknya penyakit zoonosa dari daerah asal ternak ke Kota Bandung relatif tinggi.
Pada tahun 2018 tidak terjadi kasus zoonosa di Kota Bandung, dari target maksimal kejadian kasus sebanyak 7 kasus realisasinya nol kasus berarti melebihi target.
Cara pengukuran indicator jumlah kasus zoonosa ini
berbeda dengan indicator yang lain, semakin sedikit terjadinya kasus zoonosa maka kinerjanya semakin baik. Cara pengukuran seperti ini termasuk pengukuran persentase menurun.
7. Program
Peningkatan
Populasi ternak
Ekor 35.693 35.702 Peningkatan populasi ini selain karena Kota
Renja Dinas Pangan dan Pertanian Kota Bandung Tahun 2020 Page 25
Produksi Hasil Peternakan
Domba Bandung merupakan
daerah dengan tingkat lalu lintas ternak yang dinamis juga adanya penerapan teknologi budidaya ternak yang telah dilakukan oleh para peternak. Hasil usaha peternakan sangat dibutuhkan oleh warga Kota Bandung, namun usaha ini menghadapi tantangan karena adanya keterbatasan lahan, masalah sanitasi dan lingkungan padat penduduk, maka kegiatan agribisnis peternakan di Kota Bandung hanya menjadi daerah tujuan
pemasaran hasil-hasil peternakan.
Faktor pendorong pencapaian target : Peningkatan populasi ini salah satunya disebabkan oleh jumlah rumah tangga
peternakan Domba yang bertambah terutama ketika mendekati ibadah haji, penerapan teknologi budidaya ternak yang telah dilakukan oleh para peternak, yang diperoleh melalui pelatihan, workshop dan pembinaan yang dilakukan oleh dinas.
Permasalahan yang dihadapi dalam penyelenggaraan Urusan Pertanian tahun 2018 dan rumusan solusinya adalah sebagai berikut :
No. Permasalahan Solusi
1. Semakin sempitnya lahan pertanian sebagai akibat alih fungsi lahan
Kebijakan yang diambil dalam rangka mengantisipasi alih fungsi lahan pertanian adalah mengembangkan model pertanian perkotaan melalui pemilihan komoditas pertanian yang memiliki produktivitas tinggi, memiliki nilai ekonomi tinggi, dan mempunyai peluang pasar yang terbuka serta dapat
Renja Dinas Pangan dan Pertanian Kota Bandung Tahun 2020 Page 26
dikembangkan pada lahan sempit, sehingga diharapkan keterbatasan lahan bukan menjadi kendala untuk usaha dibidang pertanian, dan kegiatan Urban Farming merupakan salah satu solusi untuk pemanfaatan lahan sempit yang ada di Kota Bandung. Untuk meningkatkan nilai tambah, usaha pertanian lainnya yang dikembangkan adalah pengolahan hasil pertanian.
2. Semakin sempitnya lahan pertanian sebagai akibat alih fungsi lahan
Lebih mengintensifkan pemeriksaan lalulintas ternak yang masuk ke Kota Bandung.
3. Masih rendahnya pengetahuan dan sikap pelaku usaha dibidang pertanian serta masyarakat tentang bahayanya penggunaan
bahan kimia berbahaya dan produk pertanian yang tidak memenuhi persyaratan keamanan mutu pangan
Meningkatkan pembinaan kepada para pelaku usaha pangan segar tentang pentingnya keamanan pangan serta meningkatkan pengawasan dan pemeriksaan mutu pangan segar yang dipasarkan di pasar tradisional maupun di pasar modern
4. Limbah padat RPH Babi berupa jeroan dan feces tidak bisa dibuang langsung ke luar RPH
Membuat tempat pengolahan limbah padat RPH Babi dengan metode komposting karkas, dengan bekerja sama dengan staf ahli komposting karkas dari UNPAD. Hasil sudah terlihat dengan metode komposting karkas, limbah padat RPH babi sudah dapat ditangani dan hasilnya sudah dapat dibuang keluar RPH karena sudah terurai sempurna menjadi kompos
5. Masih kurangnya kesadaran masyarakat tentang pentingnya menjaga kesehatan hewan/ternak.
Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat tentang pentingnya menjaga kesehatan hewan/ternak, melakukan vaksinasi secara rutin di 151 Kelurahan, dan meningkatkan pelayanan kesehatan hewan di Klinik Hewan.
Renja Dinas Pangan dan Pertanian Kota Bandung Tahun 2020 Page 27 2.2. ANALISIS KINERJA PELAYANAN DINAS TAHUN 2018
Dalam rangka mengukur dan peningkatan kinerja serta lebih meningkatnya akuntabilitas kinerja pemerintah, maka setiap instansi pemerintah perlu menetapkan Indikator Kinerja Utama (IKU). Untuk itu pertama kali yang perlu dilakukan instansi pemerintah adalah menentukan apa yang menjadi kinerja utama dari instansi pemerintah yang bersangkutan. Dengan demikian kinerja utama terkandung dalam tujuan dan sasaran strategis instansi pemerintah, sehingga IKU adalah merupakan ukuran keberhasilan dari suatu tujuan dan sasaran strategis instansi pemerintah.
Dengan kata lain IKU digunakan sebagai ukuran keberhasilan dari instansi pemerintah yang bersangkutan. Dinas Pangan Dan Pertanian Kota Bandung telah menetapkan Indikator Kinerja Utama melalui Keputusan Walikota Bandung tentang Indikator Kinerja Utama Kota Bandung. Upaya untuk meningkatkan akuntabilitas, Dinas Pangan Dan Pertanian Kota Bandung juga melakukan reviu terhadap Indikator Kinerja Utama, dalam melakukan reviu dengan memperhatikan capaian kinerja, permasalahan dan isu-isu strategis yang sangat mempengaruhi keberhasilan suatu organisasi.
Hasil pengukuran atas indikator kinerja utama Dinas Pangan Dan Pertanian Kota Bandung tahun 2018 menunjukan hasil sebagai berikut:
Tabel 2.1
Capaian Indikator Kinerja Utama Dinas Pangan Dan Pertanian Kota Bandung
Tahun 2018
No Indikator Kinerja Utama Satuan Target Realisasi Capaian
%
1 Tersedianya Cadangan Pangan
Ekuivalen Beras ton 60 89,057 148,43
2 Jumlah maksimum pangan segar
yang tercemar kasus 35 6 182.00
3 Jumlah Pelaku Usaha Bidang Pertanian dan Perikanan
pelaku
usaha 300 342 114,00
Renja Dinas Pangan dan Pertanian Kota Bandung Tahun 2020 Page 28 Dari tabel tersebut terlihat bahwa tingkat pencapaian Indikator Kinerja Utama (IKU) sebagai berikut :
Capaian kinerja yang melebih/melampaui target ditunjukan pada indikator Tersedianya Cadangan Pangan Ekuivalen Beras, dengan capaian kinerja 148,43 %, pada indikator Jumlah maksimum pangan segar yang tercemar, dengan capaian kinerja 182.00 %, pada indikator Jumlah Pelaku Usaha Bidang Pertanian dan Perikanan, dengan capaian kinerja sebesar 114,00 %.
C. Pengukuran, Evaluasi dan Analisis Capaian Kinerja Sasaran Strategis
Secara umum Dinas Pangan Dan Pertanian Kota Bandung telah dapat melaksanakan tugas dalam rangka mencapai tujuan dan sasaran yang telah ditetapkan dalam Renstra 2013-2018. Jumlah Sasaran yang ditetapkan untuk mencapai visi dan misi Dinas Pangan Dan Pertanian Kota Bandung Tahun 2013-2018 sebanyak 6 sasaran.
Tahun 2018 adalah tahun ke 5 pelaksanaan Rencana Strategis Dinas Pangan Dan Pertanian, dari sebanyak 6 sasaran strategis dengan 12 indikator kinerja yang ditetapkan maka pencapaian kinerja sasaran Dinas Pangan Dan Pertanian Kota Bandung adalah sebagai berikut :
Tabel 2.2
Capaian Indikator Kinerja
Dinas Pangan Dan Pertanian Kota Bandung Tahun 2018
No Indikator Kinerja Satuan Target Realisasi Capaian
%
1 Tersedianya Cadangan Pangan
Ekuivalen Beras ton 60 89,057 148,43
2 Skor Pola Pangan Harapan (PPH) nilai 91,69 91,69 100.00 3 Jumlah maksimum pangan segar
yang tercemar kasus 35 6 182.00
4
Jumlah Maksimum Kasus Penyakit Zoonosa di Kota Bandung
kasus 7 0 200.00
5 Produksi Tanaman Hias pohon/tahun 195.000 198.959 102.03 6 Produksi Tanaman Sayuran pohon 250.000 252.400 100.96 7 Produksi Tanaman Buah-buahan pohon 15.000 15.751 105.01
Renja Dinas Pangan dan Pertanian Kota Bandung Tahun 2020 Page 29 8 Populasi Ternak Domba ekor 35.693 35.702 100.03
9 Produksi Ikan Hias ekor 1.221.700 1.260.869 112.00 10 Produksi Ikan Konsumsi ton 2.970 2.970,63 100.00 11 Jumlah Pelaku Usaha Bidang
Pertanian dan Perikanan
pelaku
usaha 300 342 114,00
12 Indeks Kepuasan Masyarakat
(IKM) indeks 83 84 101.20
Renja Dinas Pangan dan Pertanian Kota Bandung Tahun 2020 Page 30 Tabel 2.3.
Pencapaian Kinerja Pelayanan Dinas Pangan dan Pertanian Kota Bandung
NO Indikator Kinerja
SPM/
Standar Nasional
IKK
Target Renstra Realisasi Capaian Kinerja
Proyeksi Capaian Kinerja Tahun
2016
Tahun 2017
Tahun 2018
Tahun 2019
Tahun 2016
Tahun 2017
Tahun 2018
Tahun 2019
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12)
Urusan Wajib
Ketahanan Pangan
1 Skor Pola Pangan Harapan (PPH) (Ketersediaan)
SPM 2010- 2015
Ketersediaan Pangan Utama (IKK 3 - 42)
91.5 91.68 91.69 87,6 (PPH Konsumsi)
91.67 91.69 91.69 87,6 (PPH Konsumsi) 2 Cadangan Pangan
Ekuivalen Beras (Ton)
Ketersediaan Pangan
Utama (IKK 3 - 42)
60 60 60 60 82.29 79.837 89,057 80.00
Urusan Pilihan
Kelautan dan Perikanan
3 Produksi Ikan Konsumsi (Ton)
Produksi Perikanan (IKK 3 - 1 Agregasi)
2,931 2,970 2,970 2,970 2,965 2,970.70 2.970,63 2,970
4 Tingkat Konsumsi Ikan (kg/kapita/th)
Produksi Perikanan (IKK 3 - 2 Agregasi)
36.03 36.82 37.94 37.95 36.94 39.06 37.94 37.95
Pertanian
5 Produktivitas Tanaman Padi (kw/ha)
Produktivitas padi atau bahan pangan utama lokal lainnya per hektar (IKK 3 - 3 Agregasi)
65.06 - - 68.08 68.05 68.08 68.08 68.08
Renja Dinas Pangan dan Pertanian Kota Bandung Tahun 2020 Page 31 2.3. ISU-ISU PENTING PENYELENGGARAAN TUGAS DAN FUNGSI DINAS
PANGAN DAN PERTANIAN KOTA BANDUNG
Analisis isu-isu strategis merupakan bagian penting dan sangat menentukan dalam proses penyusunan rencana pembangunan daerah untuk melengkapi tahapan-tahapan yang telah dilakukan sebelumnya. Identifikasi isu yang tepat dan bersifat strategis meningkatkan akseptabilitas prioritas pembangunan, dapat dioperasionalkan dan secara moral serta etika birokratis dapat dipertanggungjawabkan dan menjawab persolan nyata yang dihadapi dalam pembangunan.
Isu-isu strategis berdasarkan tugas dan fungsi Perangkat Daerah adalah kondisi yang menjadi perhatian dalam perencanaan pembangunan karena dampaknya yang signifikan bagi Perangkat Daerah mendatang. Suatu kondisi/kejadian yang menjadi isu strategis adalah keadaan yang apabila tidak diantisipasi, akan menimbulkan kerugian yang lebih besar atau sebaliknya, dalam hal tidak dimanfaatkan, akan menghilangkan peluang untuk meningkatkan layanan kepada masyarakat dalam jangka panjang.
Berdasarkan hasil analisis terhadap isu strategis dalam perencanaan pembangunan daerah di Kota Bandung dapat diidentifikasi beberapa hal sebagai berikut :
- Masih perlunya penguatan ketersediaan pangan - Ada keterbatasan luas lahan pertanian perkotaan
- Masih kurangnya pengetahuan dan keterampilan pelaku usaha Pertanian dan Perikanan
- Diperlukannya pemberdayaan masyarakat di Bidang Pangan, Pertanian dan Perikanan
- Masih adanya kasus-kasus penyalahgunaan bahan kimia berbahaya pada produk pertanian
- Masih adanya potensi pemaparan zoonosa
Renja Dinas Pangan dan Pertanian Kota Bandung Tahun 2020 Page 32 Strategi dan Kebijakan Perangkat Daerah
Strategi adalah langkah berisikan program-program sebagai prioritas pembangunan daerah/perangkat daerah untuk mencapai sasaran. Berbagai rumusan strategi yang disusun menunjukkan kemantapan pemerintah daerah dalam memegang prinsipnya sebagai pelayan masyarakat.
Perencanaan yang dilaksanakan secara efektif dan efisien sebagai pola strategis pembangunan akan memberikan nilai tambah (value added) pada pencapaian pembangunan daerah dari segi kuantitas maupun kualitasnya. Sebagai salah satu rujukan penting dalam perencanaan pembangunan daerah, rumusan strategi akan mengimplementasikan bagaimana sasaran pembangunan akan dicapai dengan serangkaian arah kebijakan dari pemangku kepentingan. Oleh karena itu, strategi diturunkan dalam sejumlah arah kebijakan dan program pembangunan operasional dari upaya-upaya nyata dalam mewujudkan visi pembangunan daerah.
Metode yang digunakan sebagai alat bantu dalam merumuskan strategi pembangunan jangka menengah Dinas Pangan dan Pertanian Kota Bandung tahun 2018-2023 yaitu analisis Logic Model.
“Logic Model adalah alat yang menyampaikan skema, program, atau proyek singkat, format yang visual. Model logika ini menjelaskan tindakan yang direncanakan dan hasil yang diharapkan. Sebuah model adalah gambaran pemikiran saat individu atau kelompok tentang bagaimana ide atau program mereka mungkin bekerja”.
Logic model membantu penyusunan desain, perencanaan, pengembangan strategi, serta lebih lanjut dapat digunakan untuk monitoring, dan evaluasi pada level Pemerintah Kota Bandung. Model ini dapat diuji untuk kelayakan, dan lebih detailnya dapat menyelaraskan dengan kegiatan, sumber daya, output pada urusan teknis atau Perangkat Daerah. Hubungan antara unsur-unsur, baik interaksi relatif dan urutan berdasarkan hubungan sebab akibat (kausal), serta dapat menjadi acuan dalam menyusun rencana aksi Pemerintah Kota maupun pada Perangkat Daerah. Logic model yang telah disusun oleh Dinas Pangan dan Pertanian Kota Bandung terdapat dalam 3 Misi, yaitu Misi 1 : Membangun masyarakat yang humanis, agamis, berkualitas dan berdaya saing, Misi 3 : Membangun
Renja Dinas Pangan dan Pertanian Kota Bandung Tahun 2020 Page 33 perekonomian yang mandiri, kokoh, dan berkeadilan dan Misi 4 : Mewujudkan Bandung nyaman melalui perencanaan tata ruang, pembangunan infrastruktur serta pengendalian pemanfaatan ruang yang berkualitas dan berwawasan lingkungan .
Dinas Pangan dan Pertanian Kota Bandung secara urusan masuk ke misi 3 tetapi karena ada capaian tujuan dan sasaran yang sama maka ada kegiatan Cross Cutting dengan misi lain, sehingga Dinas Pangan dan Pertanian Kota Bandung masuk juga di misi 1 dan 4 yang beririsan dengan urusan lain.
Logic Model yang telah disusun adalah sebagaimana terlampir di bawah ini :
Renja Dinas Pangan dan Pertanian Kota Bandung Tahun 2020 Page 34
Renja Dinas Pangan dan Pertanian Kota Bandung Tahun 2020 Page 35
Renja Dinas Pangan dan Pertanian Kota Bandung Tahun 2020 Page 36