BAB IV PENAFSIRAN AL-ALUSĪY TERHADAP KHAUF DALAM AL-
A. Penafsiran Al-Alusīy terhadap Khauf dalam Al-Qur’ān berdasarkan
1. Tashrif Khauf pada Fi’il Madhi
ُلوُقَيْل َو َ َّللَّٱ ۟اوُقَّتَيْلَف ْمِهْيَلَع ۟اوُفاَخ اًفََٰع ِض ًةَّي ِ رُذ ْمِهِفْلَخ ْنِم ۟اوُك َرَت ْوَل َنيِذَّلٱ َشْخَيْل َو اًديِدَس ًلَ ْوَق ۟او
“Dan hendaklah takut kepada Allah SWT., orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka
85
bertakwa kepada Allah SWT., dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar” (QS. An-Nisa’ [4]: 9).1
Sebab turunnya ayat tersebut Ketika Mujahid r.a. Menjelaskan, bahwa ayat ini diturunkan berkenaan dengan permintaan Sa’ad bin Abi Waqqash r.a., yang suatu saat sedang sakit keras, kepada Rasulullah SAW., kala Rasulullah SAW., datang menjenguk, Sa’ad r.a. Berkata, ‘Wahai Rasulullah SAW., aku tidak memiliki ahli waris kecuali seorang anak perempuan. Aku boleh mengifakkan dua pertiga dari hartaku ?’ ‘Tidak boleh, ‘Jawab Rasul SAW.,
‘Separuh, ya Rasul ?’ ‘Tidak, Jawab Rasul SAW., lagi. ‘Jika sepertiga, ya Rasul ?’ ‘Rasul SAW., mengizinkan, ‘’Ya, sepertiga juga sudah banyak. Rasul SAW., lalu bersabda, ‘Lebih baik kamu meninggalkan ahli warismu dalam keadaan berkecukupan daripada miskin yang meminta-minta kepada manusia.’ (HR. Bukhari dan Muslim).2
Dalam penafsiran Al-Alusīy dalam ayat ini ada beberapa pendapat:
Pertama, ayat itu memerintahkan untuk para pemberi wasiat supaya takut kepada Allah SWT., atau khawatir terhadap anak-anak mereka, sehingga mereka akan memperlakukan anak yatim sebagaimana anak-anak mereka yang lemah itu diperlakukan dengan baik setelah mereka meninggal dunia.
Pendapat Ibn Abbas hal tersebut juga mendukung. Dan ayat ini berkaitan dengan ayat sebelumnya, karena ayat sebelumnya itu Allah SWT., memerintahkan kepada ahli waris supaya memberikan hak-hak mereka agar
1Ibid., hlm. 106.
2Ahmad Hatta, “Tafsir Qur’an Perkata”, (Jakarta : Maghfirah Pustaka, 2009), hal: 78
86
mencegah ketimpangan dan hendaknya orang yang memberi wasiat itu menjaga apa yang mereka berikan dan khawatir terhadap anak yatim sebagaimana mereka khawatir sesuatu yang buruk terjadi kepada anak-anak mereka. Kedua, Ayat ini merupakan perintah bagi orang yang menghadiri orang yang sakit, ketika orang yang sakit itu memberikan wasiat, supaya orang-orang yang hadir itu takut kepada tuhan mereka atau khawatir dan peduli terhadap anak-anak orang yang memberikan wasiat dan hendaknya mereka juga memberikan kasih sayang kepada anak-anak yang memberikan wasiat sebagaimana mereka sayang terhadap anak-anak mereka. Ketiga, Merupakan perintah bagi orang-orang yang mukmin supaya memperhatikan ahli waris, maka janganlah mereka berlebihan dalam masalah wasiat karena diriwayatkan Salafush Shalih senang berwasiat hartanya tidak lebih dari sepertiga.3
Dalam Penafsiran Al-Alusīy menafsirkan untuk para wali seharusnya penuh perhatian dan kasih sayang terhadap anak-anak yatim dalam asuhannya, karena ketakutan dan kekhwatiran hal serupa menimpa anak-anak kalian, kekahwatiran yang dimaksud telah disinggung dalam penafsiran Sayyid Quthb
“terhadap realita yang terjadi di Arab Jahiliyah, yakni penelantaran hak – hak orang lemah, pada umumnya. Khususnya terhadap anak yatim dan wanita. Kebobrokan ini masih terjadi di beberapa circle masyarakat Muslim (yang merupakan pecahan asli dari masyarakat jahiliyah) saat itu”4 sehingga
3Abu Al-Sana Shihab Al-Din Al-Sayiyid Mahmud Al-Alusīy, “Tafsir…, hlm. 329-330.
4Sayyid Quthb, “Fi Zhilal Al-Qur’ān": Di Bawah Naungan Al-Qur‟an Juz IX, terj, As’ad Yasin, (Jakarta: Gema Insani Press, 2003), cet. Ke-1, hlm. 240.
87
memperlakukan anak yatim sebagaimana kamu menginginkan bila keturunanmu diperlakukan dengan baik. Ayat ini memperingatkan bahaya berlaku aniaya khususnya kepada anak yatim. Dan agar memperlakukan anak yatim itu seperti anak sendiri dengan dasar takut kepada Allah SWT.,, Dalam penafsirannya, sifat khauf “Memerintahkan untuk para pemberi wasiat supaya takut kepada Allah SWT., atau khawatir terhadap anak-anak mereka, sehingga mereka akan memperlakukan anak yatim sebagaimana anak-anak mereka yang lemah itu diperlakukan dengan baik setelah mereka meninggal dunia”5 .dengan didukung penafsiran Ibn Katsir Makna khauf yang dimaksud oleh ayat “ialah takutlah kalian kepada Allah dalam memegang harta anak-anak yatim. Sebagaimana kamu menginginkan bila keturunanmu sesudahmu diperlakukan dengan baik, maka perlakukanlah keturunan orang lain dengan perlakuan yang baik bila kamu memelihara mereka.6
Dari penafsiran Al-Alusīy didukung oleh Ibn katsir penulis menyimpulkan dengan mengamalkan sifat khauf, ketakutan kepada Allah SWT., untuk para wali seharusnya penuh perhatian dan kasih sayang terhadap anak-anak yatim dalam asuhannya seperti dia memperlakukan anaknya dengan baik, dan untuk para pewasiat atau orang tua agar tidak khawatir anaknya tidak mendapatkan kesejahteraan, seperti pada fenomena Mid Life Crisis Ketika kita menyerahkan tanggung jawab anak perempuan kita kepada suaminya ketika telah dinikahi, dengan mengamalkan sifat khauf tidak
5Abu Al-Sana Shihab Al-Din Al-Sayiyid Mahmud Al-Alusīy, “Tafsir…, hlm. 329-330.
6Ibn Katsir, “Tafsir al-Qur‟an al-Azhim”, terj. Dkk, Jilid 2, (Bogor: Pustaka Imam Asy-Syafi‟I, 2004), hlm. 241.
88
sepatutnya kita khawatir akan rezeki atau kesejahteraan dalam hidupnya, maka usaha dalam ayat ini yang kita dapat lakukan yaitu memperlakukan yang bukan anak kita sebagaimana memperlakukan anak kita sendiri.
Penulis menyimpulkan bahwa dalam penafsiran Alusīy didukung mufassir lainnya tersebut menjelaskan anjuran-anjuran untuk memperhatikan nasib anak-anak mereka apabila menjadi yatim. Dan perintah untuk takutlah kepada Allah SWT., yang dimana ini bentuk dari mengamalkan sifat khauf dan orang-orang yang meninggalkan keturunan di kemudian hari yang lemah dalam keadaan yatim yang belum mampu mandiri dan khawatir terhadap kesejahteraan-Nya. karena khawatir mereka tidak terurus, dan hidup dalam kemiskinan. Seperti konsep yang penulis angkat yaitu Mid Life Crisis ketika orang tua yang khawatir akan kehidupan anaknya setelah dia tiada, kekhawatiran setelah anak-anaknya sudah dewasa dan meninggalkan rumah, atau menikah dengan seseorang yang dikhawatirkan anaknya tidak mendapatkan kesejahteraan dari rumah tangga, istilah ini disebut dengan emptynest dan salah satu dari gejala dari fenomena Mid Life Crisis. Padahal Ketika kita mengamalkan konsep khauf tidak sepatutnya kita khawatir akan rezeki kita, jika demikian kita tidak termasuk orang-orang yang beriman dan mengingkari Kitabullah juga tidak takut atas ancaman Allah SWT., Sufyan bin Uyainah r.a berkata: “Kekhawatirannmu atas rezeki esok hari, dicatat untukmu sebagai satu dosa”.7 Oleh karena itu sebagai orang yang beriman, kita tidak seharusnya mengkhawatirkan persoalan rezeki, padahal dalam surah
7Muhammad Hasan bin Aqil Nabi Musa Asy-Syarif, Ringkasan Siyar A’lam An-Nubala’
Karya Imam Adz-Dzahabi, Jilid 2, (Islam Rahmatan, 2008), hlm. 208.
89
Hud ayat 6 Allah SWT., Berfirman : “Tidak satu pun hewan yang bergerak di atas bumi melainkan dijamin rezekinya oleh Allah. Dia mengetahui tempat ke- diamannya dan tempat penyimpanan- nya. Semua (tertulis) dalam Kitab yang nyata (Lauh Mahfuz). 8