Guru SMA Negeri 1 Samboja Kutai Kartanegara Abstrak
Faktor keberhasilan proses dan hasil pembelajaran di kelas dipengaruhi oleh guru dan siswa. Selain menguasai materi seorang guru juga dituntut untuk menguasai strategi-strategi penyampaian materi tersebut, cara guru menciptakan suasana kelas akan berpengaruh terhadap respon siswa dalam proses pembelajaran. Pendidikan Kewarganegaraan merupakan salah satu mata pelajaran yang diajarkan pada semua jenjang. Pendidikan Kewarganegaraan menuntut siswa menunjukkan sikap yang responsif, baik, kreatif, dan bertanggung jawab.
Tujuan diadakan penelitian tindakan kelas ( PTK ) ini adalah untuk mengetahui penerapan model pembelajaran problem based learning dalam meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa dalam pelajaran PKn. Penelitian tindakan ini dilakukan dalam 3 siklus. Dari hasil tindakan yang dilakukan terbukti dapat meningkatkan prestasi belajar siswa dengan mencapai standar ideal. Dari 62,30
% pada Siklus l, dapat meningkat pada siklus 2 menjadi 75,79 % dan siklus 3 mencapai 79,94%, dan secara klasikal telah mencapai ketuntasan. Hasil penelitian tindakan ini menunjukkan bahwa penerapan model pembelajaran problem based learning dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas XI-IPA.2 dengan ketuntasan mencapai 100%, dengan demikian penerapan model pembelajaran problem based learning efektif dalam meningkatkan hasil belajar siswa pelajaran PKn di SMA 1 Samboja.
Kata Kunci : Hasil Belajar Siswa, Model Pembelajaran Problem Based Learning, Pembelajaran PKn di SMA.
(BORNEO, Edisi Khusus, Nomor 17 Agustus 2017) 86
PENDAHULUAN
Pendidikan berperan untuk meningkatkan kualitas manusia, yaitu manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berbudi pekerti yang luhur, mandiri, maju, kreatif, trampil, bertanggung jawab, produktif serta sehat jasmani dan rohani, sehingga mampu menghadapi segala perubahan era globalisasi yang menuntut kesiapan sumber daya manusia bukan hanya sebagai penonton, tetapi harus mampu sebagai pelaku.
Materi PKn meliputi nilai-nilai moral dan norma mencakup kehidupan kebangsaan, ideologi, politik, sosial budaya, pertahanan keamanan serta perilaku yang diharapkan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Penentuan konteks pada materi yang digunakan dalam proses pengembangan nilai moral dalam interaksi belajar mengajar didasarkan atas pertimbangan kebermanfaatan bagi siswa dalam kehidupan sehari-sehari, kedekatan dengan lingkungan siswa, harapan masyarakat, bangsa dan negara untuk masa mendatang.
Dalam melaksanakan proses pembelajaran, guru bebas memilih strategi dan model yang tepat dan dapat digunakan sesuai materi yang diajarkan.
Berdasarkan pengamatan di lapangan, pembelajaran PKn belum maksimal untuk mencapai tujuan pembelajaran yang sesuai dengan tuntutan KTSP. Keadaan ini tidak melibatkan lingkungan sebagai sumber belajar, tidak memanfaatkan berbagai strategi, tidak memanfaatkan pendekatan dan model-model pembelajaran pendidikan nilai-moral yang ada, sehingga kemampuan siswa tidak mampu beradaptasi secara sosial di masyarakat, bahkan hasil belajar siswa tidak maksimal. Oleh karena itu kemampuan guru dalam menerapkan berbagi metode dan modle pembelajaran harus ditingkatkan agar tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan oleh sekolah dapat tercapai. Guru PKn SMA 1 Samboja, yang menunjukkan bahwa unjuk kerja guru dalam pembelajaran PKn masih kurang memadai untuk menciptakan pembelajaran yang sesuai dengan tuntutan pengajaran nilai-moral.
Dari hasil pengamatan di lapangan dan hasil ulangan harian dan Semester ganjil siswa tahun 2013-2014, belum mecapai KKM yang telah ditetapkan oleh 75. Rata-rata nilai siswa yang mencapai KKM baru 49,21%. Dengan demikian secara klasikal siswa belum tuntas dalam belajar PKn. Hal ini disebabkan pada saat aktivitas pembelajaran berlangsung, siswa lebih banyak pasif, guru belum memiliki kemampuan
(BORNEO, Edisi Khusus, Nomor 17 Agustus 2017) 87 memanfaatkan pendekatan, strategi, dan model pengajaran pendidikan nilai. Oleh karena itu diperlukan suatu uoaya peningkatan aktivitas dan hasil belajar siswa melalui strategi dan model pembelajaran yang tepat, salah satu model model pembelajaran yang sesuai dengan materi PKn adalah penerapan model pembelajaran Problem Based Learning.
Model pembelajaran Problem Based Learning suatu pendekatan pembelajaran yang menggunakan masalah dunia nyata sebagai suatu konteks bagi siswa untuk belajar tentang cara berpikir kritis dan keterampilan masalah, serta untuk memperoleh pengetahuan dan konsep yang esensial dari materi pelajaran.
Pembelajaran berbasis masalah (Problem Based Learning) digunakan untuk merangsang berpikir tingkat tinggi dalam situasi berorientasi masalah, termasuk didalamnya belajar bagaimana belajar.
Penerapan model pembelajaran ini akan dapat meningkatkan hasil belajar siswa pelajaran PKn. Oleh karena itu peneliti perlu melakukan penelitian tindakan dengan judul : “Upaya Peningkatan Hasil Belajar PKn melalui model pembelajaran Problem Based Learning siswa kelas XI-IPA.2 SMA 1 Samboja Kab. Kutai Kartanegara Tahun pelajaran 2013-2014”.
KAJIAN PUSTAKA
Pengertian Hasil Belajar Siswa
Menurut Chaplin, pengertian hasil belajar atau hasil belajar adalah : “Hasil belajar merupakan suatu tingkatan khusus yang diperoleh sebagai hasil dari kecakapan kepandaian, keahlian dan kemampuan di dalam karya akademik yang dinilai oleh guru atau melalui tes prestasi”
(1992: 159). Pendapat Chaplin di atas mengandung pengertian bahwa prestasi itu hakikatnya berupa perubahan perilaku pada individu di sekolah, perubahan itu terjadi setelah individu yang bersangkutan mengalami proses belajar mengajar tertentu.
Hasil belajar adalah kemampuan yang dimiliki siswa setelah ia ingin menerima pengalaman belajar atau yang optimal yang dapat dicapai dari kegiatan belajar di sekolah untuk pelajaran. Hasil belajar seperti yang dijelaskan oleh Poerwadarminta (1993 : 768) adalah hasil yang telah dicapai (dilakukan). Pengertian hasil belajar menurut pendapat Mochtar Buchari (1986 : 94) adalah hasil yang dicapai atau ditonjolkan oleh anak sebagai hasil belajarnya, baik berupa angka atau
(BORNEO, Edisi Khusus, Nomor 17 Agustus 2017) 88
huruf serta tindakannya yang mencerminkan hasil belajar yang dicapai masing-masing anak dalam periode tertentu.
Nasution (1972:45) berpendapat bahwa hasil belajar adalah kemampuan anak didik berdasarkan hasil dari pengalaman atau pelajaran setelah mengikuti program belajar secara periodik. Dengan selesainya proses belajar mengajar pada umumnya dilanjutkan dengan adanya suatu evaluasi. Dimana evaluasi ini mengandung maksud untuk mengetahui kemajuan belajar atau penguasaan siswa atau terhadap materi yang diberikan oleh guru.
Dari hasil evaluasi ini akan dapat diketahui hasil belajar siswa yang biasanya dinyatakan dalam bentuk nilai atau angka. Dengan demikian hasil belajar merupakan suatu nilai yang menunjukkan hasil belajar dari aktifitas yang berlangsung dalam interaksi aktif sebagai perubahan dalam pengetahuan, pemahaman keterampilan dan nilai sikap menurut kemampuan anak dalam perubahan baru. Dalam proses belajar mengajar anak didik merupakan masalah utama karena anak didiklah yang diharapkan dapat menyerap seluruh materi pelajaran yang diprogramkan didalam kurikulum.
Model Pembelajaran Problem Based Learning
Pembelajaran berbasis masalah (Problem-Based Learning) adalah suatu pendekatan pembelajaran yang menggunakan masalah dunia nyata sebagai suatu konteks bagi siswa untuk belajar tentang cara berpikir kritis dan keterampilan masalah, serta untuk memperoleh pengetahuan dan konsep yang esensial dari materi pelajaran.
Pembelajaran berbasis masalah digunakan untuk merangsang berpikir tingkat tinggi dalam situasi berorientasi masalah, termasuk didalamnya belajar bagaimana belajar. Menurut Ibrahim dan Nur (2002:2 dalam Nurhadi dkk, 2004), “Pembelajaran berbasis masalah dikenal dengan nama lain seperti Project-based Teaching (pembelajaran proyek), Experience-Based Education (pendidikan berdasarkan pengalaman), Authentic learning (Pembelajaran autentik), dan Anchored instructian (pembelajaran berakar pada kehidupan nyata)”. Berbagai pengembangan pembelajaran berbasis masalah menunjukkan ciri-ciri sebagai berikut : a) Pengajuan pertanyaan atau masalah b) Berfokus pada ketrampilan antar disiplin c) Penyelidikan autentik d) Menghasilkan produk/karya dan memamerkannya. Pengajaran berbasis masalah dirancang untuk membantu guru memberikan informasi
(BORNEO, Edisi Khusus, Nomor 17 Agustus 2017) 89 banyaknya kepada siswa. Pembelajaran berbasis masalah dikembangkan terutama untuk membantu siswa mengembangkan kemampuan berpikir, pemecahan masalah, dan keterampilan intelektual; belajar tentang berbagai peran orang dewasa melalui pelibatan mereka dalam pengalaman nyata atau simulasi; dan menjadi pembelajar yang otonom dan mandiri. (Nurhadi, Burhan & Agus, 2004).3)
Tahapan pembelajaran berbasis masalah biasanya terdiri dari lima tahapan utama yang dimulai guru memperkenalkan siswa dengan suatu situasi masalah yang diakhiri dengan penyajian dan analisa hasil kerja siswa. Tahap pertama adalah orientasi siswa terhadap masalah.
Guru menjelaskan tujuan pembelajaran, menjelaskan logistik yang dibutuhkan, memotivasi siswa agar terlibat dalam aktivitas pemecahan masalah yang dipilih. Tahap kedua adalah mengorganisasi siswa untuk belajar. Tahap ketiga adalah membimbing penyelidikan individual dan kelompok. Guru mendorong siswa untuk mengumpulkan informasi yang sesuai, melaksanakan eksperimen, untuk mendapatkan penjelasan dan penyelesaian masalahnya. Tahap keempat adalah mengembangkan dan menyajikan hasil karya. Guru membantu siswa merencanakan dan menyiapkan karya yang sesuai dengan laporan, video dan model serta membantu mereka berbagi tugas dengan temannya. Tahap kelima adalah menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah. Guru membantu siswa melakukan refleksi atau evaluasi.
METODE PENELITIAN