• Tidak ada hasil yang ditemukan

Sittu Duror — 195

Dalam dokumen 6 Landasan Utama (Halaman 188-195)

jariyah (budak perempuan) saya. Suatu hari saya datang menengoknya. Ternyata seekor serigala telah membawa lari seekor kambing saya. Saya ini hanyalah seorang manusia biasa, sehingga saya kesal dan memukulnya. Saya pun mendatangi Nabi  dan menceritakan kejadian ini kepada

beliau  dan beliau sangat menyesalkan tindakan saya

tersebut. Saya berkata: "Ya Rasululiah, apakah saya merdeka-kan saja?"

"Panggillah dia," kata Rasululiah  - Saya lalu memanggilnya. Rasulullah  kemudian bertanya kepadanya: "Di manakah Allah?"

"Di langit," jawab budak perempuan saya tersebut. "Siapakah saya <"'tanya Rasulullah  kemudian. "Anda adalah Rasulullah (Rasul Allah)," jawabnya.

"Merdekakanlah ia, karena sesungguhnya \a adalah seorang Mukminah (orang yang beriman)!" perintah Rasulullah  kepadaku" 218)

Perhatikanlah, -semoga Allah merahmatimu- itulah gambaran masyarakat yang telah dibina oleh Nabi  - Begitu sempurna aqidah mereka sampai para penggembala kambing yang jarang bertemu dengan Nabi  seperti budak ini sekalipun! Lalu, perhatikanlah masyarakat Islam pada masa sekarang ini yang berambisi menaiki kursi kepemimpinan! Jelas, kamu mendapatkan perbedaan yang jauh antara jihad mereka dengan jihad masyarakat di zaman Nabi 

-Apakah dakwah-dakwah yang menyerukan jihad itu bisa mengumpulkan pengikutyang kualitasnya melebihi seorang budak yang hina yang ditanya, "Di mana Allah?" Ataukah

218. Riwayat Ahmad (5/447) dan Muslim (537) 196 — Sittu Duror

pertanyaan itu malah akan menjadi bahan tertawaan karena dianggap aneh oleh kelompok-kelompoktersebutdi zaman pengaruh kemoderenan sekarang ini dan menjadi bahan ejekan bagi para pengamat-pengamat jama'ah? Atau paham-kah sebenarnya mereka akan pentingnya berhukum dengan apa-apa yang Allah turunkan sehingga mereka meremehkan pertanyaan: "Di mana Allah?!"

Kapankah Allah  akan mengizinkan mereka terbebas dari perbudakan yang selama ini membelenggu mereka dalam kehinaan, seperti terbebasnya budak perempuan Mu'awiyah setelah ia mengetahui dimana Allah  berada?!

"Dan Allah berkuasa atas segala urusan-Nya akan tetapi keba-nyakan manusia tidak mengetahuinya." (QS. Yusuf: 21) Pertanyaan di atas hendak mengungkapkan hakikat dakwah yang sebenarnya sekaligus menjelaskan sampai dimana ketulusan atau keikhlasan niat seseorang, yang mementingkan dan memperhatikan pelaksanaan hukum Allah  (syariat Islam) dan masalah istiwaa' yang merupakan hak Allah . Akan tetapi ada perbedaan antara yang pertama dengan yang kedua. Yang pertama, dalam pelaksanaan hukum-hukum Allah  seorang hamba bisa merasakan manfaatnya, berupa pengembalian hak yang merupakan milik seseorang dari orang yang telah menzaliminya misalnya, dan kehidupan yang lapang yang memang telah dijanjikan dengan firman Allah Ta'ala:

"jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi." (QS. Al A'raaf: 96)

Jadi, bagian hamba merupakan bagian dari hak Allah juga. (Artinya kalau hak Allah untuk diibadahi dipenuhi maka Allah

akan berikan apa yang menjadi bagian hamba berupa penghidupan yang lebih baik- pent.)

Yang kedua, tentang istiwaa' Allah. Perkara ini semata-mata merupakan hak Allah dan tidak ada sedikitpun yang merupakan bagian dari hak manusia.

Renungkanlah perbedaan ini! Kamu akan mendapati kemegahan dan keagungan sikap ikhlas yang mengidam-idamkan keharusan berhukum dengan apa-apa yang Allah turunkan, tanpa mengesampingkan hukum-hukum yang khusus berkaitan dengan sifat-sifat Allah atau mengakhirkan-nya atau menjadikanmengakhirkan-nya di pinggiran dan menganggapmengakhirkan-nya sebagai sesuatu yang tidak terlalu penting dan mendesak. Padahal pengetahuan tentang perkara tersebut termasuk seutama-utama ilmu yang diturunkan oleh Allah M, karena kemuliaan suatu ilmu itu ditentukan oleh kemuliaan dari apa yang dibahas oleh ilmu tersebut.

Hal itu membuktikan betapa pentingnya kembali kepada dakwah yang dilakukan oleh para nabi 'alaihimush shalaatu was salaam menyeru kaum mereka dengan berkata: "Wahai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan bagi kalian selain-Nya...."

Mereka (para nabi) mendahulukan perhatian akan syirkul qubuur (syirik yang ditimbulkan oleh kubur) daripadasyirkul qushuur (syirik dalam hal berhukum kepada selain Allah). Itulah sebabnya perkara imamah (kepemimpinan atau peme-rintahan) bukan merupakan bagian dari rukun iman yang ada. Renungkan dan pahamilah benar-benar masalah ini!219)

219. Ibnu Taimiyah menjelaskan masalah ini dengan sangat bagus dalam Kitab Minhajus Sunnah (1/106-110) dan dalam Kitab Oitaalul WulaatiminAjliDunya wal Tibaasuhu bil Amri bil Ma'ruf wan Nahyi 'Anil Mungkar (5/152). Penjelasan yang semisal itu terdapat dalam Al 'Uquudud Durriiyatu karya Ibnu 'Abdil Hadi (hal.147).

Akhirnya, saya memohon kepada Alah Ta'ala agar melapangkan dada-dada kaum muslimin semuanya dan da'i-da'i mereka khususnya untuk mengikuti atsar (jejak) pendahulu mereka yang shalih dalam beramal dengan enam landasan ini. Sesungguhnya tidak ada cara untuk memperoleh kebaikan di dunia dan di akhirat melainkan dengan mengikuti jejak mereka. Tidak ada jalan lain selainnya, karena keenam landasan di atas adalah pondasi-pondasi seseorang yang hendak membangun agamanya agar menjadi kuat dan kokoh. Ibarat pohon bila akarnya kuat maka batang dan durinya akan tertopang dengan baik. Semua itu merupakan taufiq dari Allah untuk mereka, tatkala Allah melihat hati-hati mereka terpatri dengan kejujuran dan keikhlasan. Dengan pondasi-pondasi tersebut mereka menjaga agama ini tetap bersih dan murni seakan-akan diturunkan pada hari ini. Benarlah perkataan Imam Daarul Hijrah Malik bin Anas rahimahullah yang berkata:

"Tidak akan bisa baik urusan umat ini kecuali dengan apa yang telah membuat baik generasiawalnya."

Dan benarlah apa yang dikatakan oleh Yang Maha Benar tatkalaberfirman:

"lika Allah mengetahui ada kebaikan dalam hatimu niscaya Dia akan memberikan kepadamu yang lebih balk dari apa yang telah diambil kepadamu dan Dia akan mengampunimu." (QS.

Al Anfaal: 70)

Segala Puji bagi Allah diawal maupun diakhir.

Dalam dokumen 6 Landasan Utama (Halaman 188-195)