• Tidak ada hasil yang ditemukan

82 — Sittu Duror

Dalam dokumen 6 Landasan Utama (Halaman 78-84)

datang dengan melewati semua jalan yang ada atau berusaha mengetuk semua pintu yang ada, maka seluruh jalan dan pintu itu tertutup dan terkunci kecuali hanya jalan yang satu ini yang terhubung langsung dengan Allah, dan bisa menyam-paikan mereka kepada-Nya.86!

Saya berkata: "Bahkan banyaknya jalan (seharusnya) anda semakin ragu terhadapnya dan tidak peduli dengan jalan-jalan tersebut. Banyaknya golongan atau firqah-firqah yang melenceng dari kebenaran dikarenakan mereka terlalu longgar atau serba membolehkan munculnya jalan yang banyak ini atau memang menghindar dari jalan yang hanya satu, atau ingin segera sampai ke tujuan dan takut menang-gung beban perjalanan yangjauh. Ibnul Qayyim rahimahullah berkata: "Barangsiapa yang menganggap perjalanannya panjang, maka langkahhya akan melemah."87)

Hanya Allahlah yang dimintai pertolongan Wallahu musta'an.

Definisi Jalan

Dari keterangan Ibnul Qayyim rahimahullah di atas maka jelaslah bagi kita akan maksud dari 'jalan' ini, bahwa yang dimaksud dengan 'jalan' tersebut adalah rukun kedua dari tauhid itu sendiri. Rukun pertama adalah syahadat Laa //aha lllallaah. Dan rukun yang kedua adalah syahadat bahwa Muhammad adalah rasul (utusan) Allah.

Rukun ini sekaligus merupakan rukun atau syarat kedua diterimanya amal seseorang, karena sebagaimana yang telah kita ketahui bahwa amal seseorang tidak akan diterima kecuali jika disertai dua syarat:

86. At Tafsir AI Qayyim (hal.14-15)

87. Al Fawaid (hal.90) cetakan Daar AI Kutub AI'llmiyah

1. Ikhlas karena Allah Ta'ala semata.

2. Menjadikan Rasulullah  sebagai teladan satu-satunya. Dan sekarang aku tidak hendak memaparkan dalil-dalil terhadap kaidah yang masyhur ini, karena tujuan dari pembahasan ini adalah menjelaskan jalan atiu metode yang ditempuh oleh Nabi  yang merupakan satu-satunya jalan yang bisa menyampaikan kita kepada Allah. Sesungguhnya ketidaktahuan terhadap jalan yang akan ditempuh, apa saja halangan serta rintangannya maupun tujuan yang ingin dicapai, akan mengakibatkan kepenatan dan kelelahan yang sangat besar, sementara manfaat yang didapat sedikit.88)

Pembahasan ini juga hendak menjelaskan bahwa jalan yang benar itu hanya satu. Seorang pun tidak boleh menye-lisihinya dengan mengklaim bahwa jalan menuju Allah itu banyak, sebanyak jumlah manusia yang ada, atau sebanyak jumlah benda-benda yang lain, jelas klaim tersebut batil. Agama Allah datang untuk mempersatukan pemeluknya, bukan untuk mencerai-beraikan mereka.

Allah Ta'ala berfirman:

"Dan berpeganglah kamu sekalian dengan tali (agama) Allah, dan jangan kalian bercerai-berai. Ingatlah nikmat Allah atas kalian ketika dulu kalian bermusuhan, lalu Dia mempersatukan hati kalian, maka jadilah kalian sating bersaudara dengan nikmat-Nya." (QS. Al 'Imran: 103)

88. ti Fawa/cfoleh Ibnul Qayyim (hal.223)

Ulama menafsirkan bahwa "tali" dalam ayat di atas yarig bisa menjamin persatuan kaum muslimin adalah Al Qur'an.

Ibnu Mas'ud  berkata: "Sesungguhnya 'jalan' ini sudah dihamparkan. Setan-setan pun mendatangi jalan tersebut sambil menyeru: 'Wahai hamba Allah, ayolah kesini! Ini jalannya!' Padahal mereka ingin menghalangi manusia dari jalan Allah yang sebenarnya. Oleh karena itu, berpegang-teguhlah kalian kepada tali Allah. Sesungguhnya tali Allah itu adalah Al Qur'an."89)

Dalam riwayat ini terdapat dua hal:

Pertama: 'Jalan' itu hanya satu. Hanya saja memang jalan ini

dikelilingi oleh setan yang menghendaki agar manusia terbagi-bagi dan terpecah-pecah di seputar jalan ini ke dalam berbagai kelompok dan golongan. Cara yang paling mudah untuk memecah-belah manusia adalah dengan menganggap bahwa jalan ini terbagi-bagi atau mempunyai berbagai cabang! Oleh karena itu, siapa yang mempropagandakan agar manusia beranggapan bahwa kebenaran itu tidak terbatas pada satu jalan saja, maka sesungguhnya dia adalah setan.

Allah Ta'ala berfirman:

"Maka tidak ada sesudah kebenaran itu, melainkan kesesatan." (QS. Yunus: 32)

Kedua: Tafsir tentang "tali Allah" yang wajib dipegang-teguh

oleh seluruh kaum muslimin agar mereka bersatu, yang di-tafsirkan dengan Kitabullah (Al Qur'an) tidaklah bertentangan

89. Riwayat Abu tlbaid dalam Fadhailul Qur'an (hal.75), Ad Darimi (2 / 433), Ibnu Nashir dalam As Sunnah (22), Ath Tabrani (9 / 9031) dan Ibnu Bathah dalam Al Ibanah (135). Riwayat ini Shahih.

dengan yang dikemukakan oleh Ibnu Mas'ud  bahwa 'ash shiraathal mustaqiim' (jalan yang lurus) adalah yang ditinggal-kan oleh Rasulullah  buat kita (umatnya), yaitu Al Qur'an dan As Sunnah.90' Beliau bersabda:

"Aku tinggalkan kepada kalian dua hal yang jika kalian ber-pegang dengannya, kalian tidak akan tersesat sepeninggalku selama-lamanya: Kitabullah dan sunnahku." (HR. Malik, Ibnu Nashrdan Iain-Iain)9"

Dan sunnah Rasulullah  itu sama dengan Al Qur'an. Keduanya pada hakikatnya adalah wahyu. Sunnah beliau  sebagai tafsirdan penjelasan dari Al Qur'an. Bahkan sebaik-baik penafsir ayat-ayat Allah di antara makhluk-makhluk ciptaan-Nya adalah rasul-Nya^sendiri. Allah berfirman:

"Dan Kami turunkan kepadamu Al Kitab supaya engkau menjelaskan kepada manusia apa yang diturunkan kepada mereka."(QS.An Nahl:44)

'Aisyah  berkata:

90. Riwayat Ath Thabrani (10/10.454), Al Baihaqy dalam Asy Syu'ab (4 /1487) dan semisal itu juga Ibnu Jarir dalam Tafsimya (8 / 88-89) dan Ibnu Wadhah dalam Al 0/da7(76). Riwayat ini shahih.

91. Riwayat Malik (2 / 899), Ibnu Nashr dalam As-Sunnah (68), Al Hakim (1 / 93). Al Albani menilai hasan hadits ini dalam te'//qnya terhadap kitab AIMisykaatC186) 86 — Sittu Duror

"Akhlak beliau  adalah Al Qur'an." (HR. Ahmad dan Muslim)921

Nabi  memerintahkan umatnya apabila timbul perpe-cahan diantara mereka supaya berpegang dengan sunnahnya. Beliau ^bersabda:

" Dan sesungguhnya siapa saja orang-orang yang hidup di antara kalian sesudahku akan melihat perselisihan yang banyak. Maka hendaknya kalian pegang sunnahku dan sunnah para khalifah yang mendapat petunjuk, peganglah dia dan gigitlah dengan gigi geraham kalian. Dan hati-hatilah kalian dengan perkara-perkara yangbaru, karena sesungguhnya setiap perkara yangbaru itu bid'ah." (HR. Abu Dawud, At Tirmudzi dan Iain-Iain)93>

Dalam menjelaskan sebab bersatunya pemahaman para salafush shalih dalam satu aqidah, Ibnu Baththah rahimahullah berkata: "Generasi pertama (dari umat ini) seluruhnya senantiasa berada di atas jalur yang satu, di atas kata hati yang satu dan mazhab yang sama (satu). Al Qur'an adalah pegangan mereka, dan Sunnah Rasulullah  adalah imam mereka. Mereka tidak menggunakan berbagai pendapat dan tidak pula bersandar kepada hawa nafsu. Mereka senantiasa dalam ke-adaan seperti itu. Hati mereka terjaga dalam lindungan Tuhan

92. Riwayat Ahmad (6/91,163) dan Muslim (746)

93. Riwayat Abu Dawud (4608), At Tirmidzi (2676) dan lainnya. Riwayat ini Shah fa Sittu Duror — 87

Yang Menguasai dan dengan pertolongan-Nya jiwa mereka terhalang dari kecenderungan mengikuti hawa nafsu."94)

Benarlah yang dikatakan beliau rahimahullah bahwa sesungguhnya agama Allah itu satu; tidak lebih. Allah  berfirman:

"Kalau kiranya Al Qur'an itu bukan dan sisi Allah, niscaya mereka akan mendapat pertentangan yang banyak di da/am-nya." (QS. An Nisa: 82)

Jalan yang kita serukan kepada manusia dan kita ajak mereka untuk melaluinya adalah jalan yang paling terang dan jelas serta paling sempurna dan lengkap.

Dari Al Irbadh bin Sariyah 4& dia berkata: "Rasulullah  bersabda:

'Sesungguhnya aku tinggalkan kalian dalam keadaan terang-benderang; malam seperti siang. Siapa yang menyimpang sesudahku darinya (agama ini) pasti akan binasa.'" (HR. Ahmad, Ibnu Majah, Ai Hakim dan yang lainnya)95)

Apabila seseorang mencoba menyempumakan agama ini atau menghiasinya dengan sesuatu yang tidak pernah dila-kukan oleh Rasulullah  dan para sahabatnya, maka sesung-guhnya dia telah membelokkan mereka ke jalan-jalan (yang

94. Al lbanah/AI Qadr (M237)

95. Riwayat Ahmad (4 /126), Ibnu Majah (5,43), Ibnu Abi 'Aasim dalam As-Sunnah (47-49), Al Hakim (1 / 96). Al Albani dalam Ihilaal A Jannah ketika men-tahkrij kitabAsSunnab(1/27).

Dalam dokumen 6 Landasan Utama (Halaman 78-84)