• Tidak ada hasil yang ditemukan

Sittu Duror — 103

Dalam dokumen 6 Landasan Utama (Halaman 98-102)

wahyu tersebut (Al Qur'an dan As Sunnah) serta mengamal-kannya sesuai dengan yang dikehendaki oleh Allah  dan Rasul-Nya  - Dan tidak ada jama'ah pada waktu itu kecuali sahabat-sahabat Rasulullah .

Oleh karena itu, para ulama men-shah ih-kan sebuah lafadz lain dari hadits ini yang diriwayatkan oleh Al Hakim yang sekaligus sebagai pendukung hadits di atas berkenaan dengan golongan yang selamat ini yang berbunyi: "Ajaran yang saat ini aku dan para sahabatku pegangi."

Dalil lain dalam masalah ini adalah yang diriwayatkan oleh Al 'Irbadh bin Sariyah^: "Rasulullah  pernah memberi nasihat kepada kami dengan nasihat yang dalam hingga mengalir air mata kami dan bergetarlah hati kami." Ada salah seorang berkata: "Ya Rasulullah, seakan-akan ini adalah nasehat orang yang hendak berpisah. Apa yang akan engkau wasiatkan kepada kami?" Beliau bersabda: "Aku wasiatkan kepada kalian agar bertakwa kepada Allah, mendengar dan taat sekalipun (yang memerintah kalian) seorang budak dari Habasyah. Sesungguhnya orang-orang yang hidup diantara kalian sesudahku akan melihat perselisihan yang banyak. Oleh karena itu, peganglah oleh kalian Sunnahku dan Sunnah para Khalifah yang mendapat petunjuk yang mem-bimbing. Peganglah dia dengan gigi geraham kalian dan hati-hatilah kalian dari perkara-perkara yang baru, karena sesungguhnya setiap perkara yang baru itu bid'ah dan setiap bid'ah itu sesat." (HR. Abu Dawud dan yang lainnya, shahih)

Dalam hadits ini ada penggabungan antara mengikuti sunnah nabawiyah dan sunnah para khalifah yang mendapat hidayah.117)

117. Seperti yang disyaratkan oleh Ibnu Qudamah -rahimahullah- dalam Lum'atul I'tiqad nomor6-AI-Badr.

Kemudian renungkanlah bagaimana Nabi  menjadikan kalimat ini sebagai wasiat bagi umat sesudahnya agar menge-tahui kebenaran dan kemurnian manhaj ini. Renungkanlah juga bagaimana beliau  menginginkan umatnya ketika menghadapi berbagai perselisihan atau perseteruan dengan cara berpegang-teguh kepada manhaj ini. Biia kita mau mere-nungkan hal tersebut, niscaya akan tahu bahwa "pemahaman salafush shalih" adalah sesuatu yang menyelamatkan atau menghindarkan kita dari perpecahan.

Asy Syathibi rahimahullah berkata: "Maka beliau  menyejajarkan -seperti yang anda lihat sendiri- sunnah para khulafaur rasyidin dengan sunnah beliau sendiri, dan bahwa di antara syarat mengikuti sunnah beliau adalah dengan mengikuti sunnah para khulafaur rasyidin. Beliau menyebut-kan bahwa perkara-perkara yang baru itu bertentangan dengan sunnah dan bukan bagian dari sunnah mereka sedikitpun. Hal ini dikarenakan Allah  sendiri telah ridha terhadap mereka dalam segala hal yang mereka lakukan; apakah mereka itu melakukan sesuatu semata-mata karena mengikuti sunnah Nabi, atau berdasarkan pemahaman mereka terhadap sunnah Nabi  baik secara rinci maupun secara global, yang barangkali orang lain (pada waktu itu) tidak memahaminya."118)

Dan aku jadikan nas hadits-hadits di atas sebagai landasan dan dalil untuk memperjelas apa yang sedang saya bahas. Aku melihat Ibnu Abi 'Izzi rahimahullah juga mengemukakan hal tersebut ketika menjelaskan ucapan Imam Ath Thahawi (dalam kitabAqf/cfa/i Thahawiyah): "Dan kita harus mengikuti

118. All'tisham (1/104)

Sunnah dan Al Jama'ah serta menjauhi penyimpangan, perselisihan, dan perpecahan."119'

Penerapan:

Untuk menjelaskan pentingnya memahami Al Qur'an dan As Sunnah dengan pemahaman para salafush shalih, saya bawakan kisah Imam Ahmad rahimahullah ketika beliau melalui hari-hari yang penuh ujian dan cobaan (di penjara). Saya mengutip kisah ini untuk memperjelas bahasan di atas. Al Ajurri rahimahullah berkata: Al Muhtadi rahimahullah bercerita kepada saya. Beliau berkata: "Tidak seorang pun yang dapat menghentikan ayah saya yaitu Khalifah Al Watsiq kecuali seorang syaikh yang berasal dari Al Mashishah (Imam Ahmad) yang dipenjara beberapa waktu. Pada suatu hari ayah saya teringat kepada beliau, lalu memerintahkan agar beliau dihadapkan kepadanya. Didatangkanlah beliau dengan tangan yang masih terikat. Dan ketika beliau sudah sampai ke hadapan ayah saya maka beliau pun mengucapkan salam tetapi salam beliau tidak dijawab oleh ayah saya. Berkatalah beliau: "Wahai Amirul Mukminin, anda tidak beradab dengan adab Allah la'ala begitu pula adab Rasul-Nya  terhadap saya (padahal) Allah Ta'ala berfirman:

'Apabila kamu dihormati dengan suatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik, atau balaslah (dengan yangserupa).'(QS. An Nisa: 86)

Dan Nabi juga memerintahkan untuk menjawab salam!" "Wa'alaikassalaam", jawab ayah saya langsung yang kemu-

119. (hal. 382-383) cetakan Al Maktab Al Islami

dian memerintahkan Ibnu Abi Duad untuk menanyai beliau. Beliau pun berkata: "Wahai Amirul Mukminin, sekarang ini saya dipenjara dan terikat; saya shalat di penjara dengan tayamum; saya tidak diberi air. Oleh karena itu, perintah-kanlah untuk melepaskan ikatan saya ini dan menyediakan air buat saya agar saya bisa berwudhu' dan shalat, kemudian setelah itu baru anda menanyaiku!"

Ayah saya pun memerintahkan agar ikatan beliau dilepaskan dan diambilkan air. Kemudian beliau pun berwudhu, lalu shalat. Setelah itu ayah saya berkata kepada Ibnu Abi Duad: "Tanyailah dial", tapi beliau (Imam Ahmad) langsung berseru: "Sayalah yang (harus) bertanya kepadanya dan kepada Anda (wahai Khalifah), dan perintahkan dia untuk menjawab pertanyaan saya!" Ayah saya pun berkata kepada beliau: "Baik, tanyailah dia!" Beliau pun maju ke hadapan Ibnu Abi Duad, kemudian bertanya: "Beritahukanlah kepadaku tentang apa yang anda dakwahkan kepada orang banyak, apakah yang anda dakwahkan itu adalah juga yang didakwahkan oleh Rasulullah ?"

"Tidak," jawab Ibnu Abi Duad.

"Ataukah yang didakwahkan oleh Abu Bakar Ash Shiddieq ?" tanya beliau.

"Tidak," jawab Ibnu Abi Duad.

"Ataukah yang didakwahkan oleh Umar bin Khaththab  sesudah keduanya tiada?" tanya beliau kemudian.

"Ataukah yang didakwahkan oleh Utsman bin Affan ?" tanya beliau seterusnya.

"Tidak,' jawab Ibnu Abi Duad.

"Atau yang didakwahkan oleh Ali bin Abi Thalib ?" tanya beliau lebih lanjut.

Dalam dokumen 6 Landasan Utama (Halaman 98-102)