• Tidak ada hasil yang ditemukan

Situasi dan Kondisi Objektif Terjadinya Perubahan Konstitus

Dalam dokumen Kajian Yuridis Dan Filosofis Perubahan K (Halaman 52-59)

18 ) Muhammad Tahir Azhary, Negara Hukum : Suatu Studi tentang Prinsip-Prinsipnya Dilihat dari Segi Hukum Islam, Implementasinya pada Periode Negara Madinah dan Masa Kini,

PERUBAHAN KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA TAHAP PERTAMA

A. Situasi dan Kondisi Objektif Terjadinya Perubahan Konstitus

Memaparkan situasi dan kondisi yang merupakan bagian dari suatu peristiwa kehidupan akan memberikan banyak sudut pandang. Setiap sudut menampilkan pandangan yang kebenarannya bersifat relatif. Relatifitas tersebut ditengarai dengan pola pikir terbuka pada keadaan sesungguhnya tanpa harus menutup-nutupi.

Sumber yang dianggap cukup representatif adalah Pokok-pokok Reformasi Pembangunan Nasional sebagai Garis-garis Besar Haluan Negara yang diterapkan oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) untuk dilaksanakan oleh Presiden/Mandataris MPR sejak menjadi Ketetapan MPR sampai dengan diselenggarakannya Sidang Umum MPR hasil Pemilihan Umum 1999. Pelaksanaan Ketetapan tersebut diawasi oleh Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). Eksplanasi berikut mengenai situasi dan kondisi objektif terjadinya perubahan konstitusi disarikan dari beberapa sumber.84)

Tongkat estafet kepemimpinan seharusnya diserahkan kepada pihak yang memiliki kapasitas dan kapabilitas yang lebih baik dari kepemimpinan sebelumnya. Selain faktor individu para pemimpin prosedur pergantian tersebut 84) Diolah dari : Seketariat Jenderal MPR, Ketetapan MPR No. X/MPR/1998 tentang Pokok-pokok Reformasi Pembangunan Nasional sebagai Garis-Garis Besar Haluan Negara, Majelis Permusyawaratan Rakyat, 1998 ; berbagai media cetak dan elektronik.

juga perlu diperhatikan. Prosedur yang sesuai ketentuan dan konstitusional menentukan validitas hasil perubahan itu sendiri. Pergantian pemerintah orde baru kepada orde reformasi bukti memuncaknya pemberontakan dari masyarakat yang merasa diperlakukan sewenang-wenang. Pemicu lainnya adalah kasus penem- bakan terhadap demonstran Universitas Trisakti Jakarta pada 12 Mei 1998 yang menumbalkan 4 mahasiswa terbunuh. Pemerintah orde baru menjadikan negara ini seolah-olah negara model perompak (predatory state) yang siap “memangsa” siapa saja penghalang jalan menuju kekuasaan panjangnya.

Dari sektor politik Negara Kesatuan Republik Indonesia yang menganut sistem pemerintahan presidensial tendensius pada pemerintahan despotisme. Berbagai sektor kehidupan masyarakat dikuasai oleh golongan. Lembaga eksekutif mendominasi penyelenggaraan negara dan kehidupan masyarakat dikarenakan kehidupan politik belum memadai. Pemusatan kekuasaan menutup kesempatan berkembangnya fungsi-fungsi politik secara proporsional dan optimal yang mengakibatkan Indonesia mengidap krisis struktural dan sistematik. Hal tersebut diperburuk dengan praktik-praktik Korupsi, Kolusi dan Nepotisme yang semakin merajalela.

Sektor ekonomi melahirkan banyak skandal yang berujung pada krisis ekonomi dan moneter berkepanjangan. Hilangnya kontrol rakyat di bidang ekonomi khususnya terhadap konsentrasi aset dan akses ekonomi pada kelompok yang berlindung di balik kekuasaan, termasuk di dalamnya praktik-praktik ekonomi distortif dan jatuhnya nilai tukar rupiah sampai ke tingkat yang sangat rendah memperburuk keadaan perekonomian nasional, seperti :

a. Terjadinya korupsi terbesar sepanjang sejarah Indonesia di tubuh Pertamina pada paruh akhir dekade 1970-an yang menguapkan utang luar negeri sebesar US$ 10.4 milyar85)

b. Sejak regim Soeharto melalui IGGI (Inter Governmental Group on Indonesia) pada 1967 hingga diubah namanya menjadi CGI (Consultative Group on Indonesia) pada 1922- pemerintah RI sudah menjadi pengutang dan pada tahun 2001 jumlah utang tersebut sebesar US$ 3.14 milyar.86)

Tidak jauh berbeda dengan penegakan hukum dalam negeri yang tidak didukung secara optimal oleh lembaga-lembaga peradilan dengan senantiasa memihak dan menjadi alat para pihak berkuasa dan “bermodal besar”. Sementara itu rakyat mulai mengadopsi perilaku pada umumnya yaitu suap-menyuap di lingkungan peradilan. Penyelenggaraan pemerintah yang seperti ini dikenal sebagai birokrasi korupsi, kolusi dan nepotisme.

Sehubungan dengan hal di atas, Krisna Harahap memberi fakta adanya korelasi yang erat antara tindak pidana korupsi dan tingkat kemiskinan di negeri ini. Faktanya bahwa sebagaimana diperkirakan Sumitro Djojohadikusumo, 30% dari APBN setiap tahunnya masuk saku para koruptor. Bahkan, menurutnya lagi, berdasarkan laporan BPK dalam semester I tahun 2004, prosentase penyimpangan APBN setahun sebelumnya telah mencapai 50%.87) Oleh karena itu, Krisna

menyatakan bahwa perbuatan para koruptor dianggap telah menindas hak asasi 85) Suryadi Rajab, Indonesia : Hilangnya Rasa Aman, Hak Asasi Manusia dan Transisi Politik Indonesia, Jakarta: Perhimpunan Bantuan Hukum dan Hak Asasi Manusia, 2002, hlm. 25.

86)Ibid., hlm. 36

87 Krisna Harahap, Menuju Ketertiban Hukum yang Berkeadilan, Pidato Pengukuhan Guru Besar Sekolah Tinggi Hukum Bandung, 2005, hlm. 9.

manusia dan perlu dikategorikan sebagai extra ordinary crime yang memerlukan penanganan yang luar biasa pula.88) Respon yang diberikan pemerintah adalah

dengan mengeluarkan UU No.28 tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Negara yang Bersih dan Bebas dari Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme. Penyelenggara negara yang dimaksud mulai dari Pejabat Negara yang menjalankan fungsi eksekutif, legislatif, atau yudikatif dan pejabat lain yang fungsi dan tugas pokoknya berkaitan dengan penyelenggaraan negara sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Dikeluarkannya UU No.28 tahun 1999 tersebut adalah kepanjangan tangan dari amanat yang diberikan oleh MPR melalui TAP MPR No. XI/MPR/1998 tentang Penyelenggaraan Negara yang Bersih dan Bebas Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme. Di dalam UU No.28 tahun 1999 ini dapat dilihat bahwa sanksi pidana dan administratif ditujukan untuk memberi efek jera kepada setiap penyelenggara yang melakukan tindak pidana korupsi, kolusi dan nepotisme.

Dari sektor kebudayaan dan sosial secara perlahan tapi pasti meruntuhkan pertahanan jati diri Indonesia yang menjunjung tinggi adat timur. Menurut

Suryadi Rajab, menggolongkan pelanggaran hak-hak ekonomi, sosial dan budaya, tidak mudah dilihat berdasarkan kasus per kasus. Ia menuturkan bahwa hak-hak ekonomi, sosial dan budaya dipandang sebagai hak-hak kolektif. Hak sosial yang seharusnya didapatkan dapat berupa: hak atas jaminan sosial; hak atas perlindungan keluarga termasuk ibu dan anak; hak atas standar hidup yang layak, pangan, sandang dan perumahan.89) Misalkan saja diskriminasi terhadap

88)Ibid., hlm. 11.

perempuan yang sepanjang tahun 1997-2001, menunjukkan peningkatan yang signifikan. Sebagai bukti banyaknya pelanggaran atas hak-hak tersebut dapat dilihat dari data berikut:90)

Kekerasan Terhadap Perempuan

No Tahun Jumlah Kasus

1 1997 64

2 1998 101

3 1999 113

4 2000 232

5 2001 258

Sumber: Kompas, 19 Desember 2001

Bahkan di kalangan remaja telah membudaya gaya hidup hedonis, pergaulan bebas, kenakalan remaja dan narkoba, pencurian dan pengrusakan. Kondisi anak bangsa yang memprihatinkan tersebut salah satunya diakibatkan banyak beredarnya tontonan tidak mendidik yang menampilkan unsur kekerasan, pornoaksi dan pornografi baik dalam bentuk VCD, DVD maupun jenis media elektronik lainnya. Ditambah dengan tidak efektifnya Lembaga Sensor Film menyeleksi film-film yang di tayangkan di stasiun televisi dengan muatan unsur yang sama. Meskipun era globalisasi dan hak menikmati kemajuan teknologi memiliki peran penting bagi kemajuan bangsa, namun bersikap hati-hati untuk menyerap nilai-nilai budaya asing adalah keharusan.

Peristiwa lain yang telah menorehkan luka dalam sejarah kemanusiaan Indonesia adalah banyaknya pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) selang pemerintahan Orde Baru. Pembunuhan masal yang dikenal dengan istilah petrus

(penembakan misterius) terhadap gabungan anak liar (GALI) pada 1982-1983, pembantaian di Tanjungpriok pada September 1984, pemberlakuan Daerah

Operasi Militer (DOM) di Aceh yang menumbalkan banyak nyawa. Masa transisi dari pemerintahan Orde Baru kepada Orde Reformasi juga diwarnai berbagai tindak kejahatan seperti penjarahan, pembakaran bahkan pemerkosaan massal yang disertai pembunuhan terhadap warga keturunan Tionghoa.91)

Situasi dan kondisi yang demikian menuntut para pembaharu melakukan suatu gerakan terorganisir dan berkelanjutan. Gerakan yang digulirkan oleh para agen perubahan, yaitu mahasiswa. Mahasiswa memulai agenda pergerakannya pada tahun 1997 untuk menyelamatkan bangsa dari keterpurukannya. Pergerakan tersebut dikenal dengan reformasi. Reformasi diartikan sebagai perubahan radikal untuk perbaikan (bidang sosial, politik, atau agama) dalam suatu masyarakat atau negara.92) Sedangkan Radikal itu sendiri diartikan, secara menyeluruh atau habis-

habisan; perubahan radikal yaitu perubahan yang amat keras menuntut perubahan undang-undang, pemerintahan dan lain sebagainya.93) Bedanya reformasi dengan

revolusi dilihat dari pengertiannya yaitu, perubahan ketatanegaraan (pemerintahan atau keadaan sosial) yang dilakukan dengan kekerasan (seperti dengan perlawanan bersenjata); berevolusi, mengadakan perlawanan dibuat mengubah ketatanegaraan (pemerintahan, keadilan sosial).94)

Kenyataan ini mengakibatkan hilangnya kepercayaan masyarakat terhadap penyelenggaraan negara yang kekuasaan pelaksanaannya terpusat pada lembaga eksekutif, sehingga tidak terdapat keseimbangan pembagian kekuasaan dan fungsi

91) Suryadi Rajab, Op.cit., hlm. 11.

92) Tim Penyusun Kamus Besar Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta: Depdikbud RI, 1988, hlm. 735.

93)Ibid.,hlm. 718.

pengawasan antar lembaga negara. Konstitusi dijadikan alat pembenar ketimpangan tersebut.

Sebut saja upaya regim Soeharto mempertahankan kekuasaannya dengan mempolitisir makna Pasal 7 UUD 1945 yaitu “Presiden dan Wakil Presiden memegang jabatannya selama masa lima tahun, dan sesudahnya dapat dipilih kembali”. Pasal tersebut melegitimasi Presiden dan Wakilnya untuk menduduki jabatan yang sama dengan cara apapun secara terus-menerus tanpa batas waktu. Bahkan, menurut Pasal 14 UUD 1945 Presiden memiliki kewenangan untuk memberi grasi, amnesti, abolisi dan rehabilitasi yang tidak saja menggerogoti kewenangan Mahkamah Agung tetapi disalahgunakan untuk membebaskan kroni- kroninya dari jerat hukum.

Fakta bahwa Soeharto menjabat selama 32 tahun justru semakin membelenggu rakyat dalam memperoleh hak-hak dasarnya, karenanya diperlukan reformasi mendasar di segala bidang terutama politik, ekonomi, hukum dan sosial budaya. Reformasi konstitusional adalah bagian dari reformasi hukum yang menghendaki perbaikan secara mendasar yang dimulai dari sumber peraturan di Indonesia.

Hal-hal tersebut di atas yang menjadi situasi dan kondisi objektif terjadinya perubahan konstitusi. Dengan demikian, ketika perubahan konstitusi dilaksanakan sebagai salah satu tuntutan reformasi yang sekaligus melatarbelakangi perubahan tersebut, ditetapkanlah tujuan reformasi pembangunan nasional antara lain :95)

1. Mewujudkan kedaulatan rakyat dalam seluruh sendi kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara melalui perluasan peningkatan 95) Sekretariat Jenderal MPR...Op.cit.

partisipasi politik rakyat secara tertib untuk menciptakan stabilitas nasional.

2. Mengatasi krisis ekonomi dalam waktu sesingkat-singkatnya, terutama untuk menghasilkan stabilitas moneter yang tanggap terhadap pengaruh global dan pemulihan aktivitas usaha nasional.

3. menegakkan kedaulatan hukum yang demokratis berdasarkan nilai-nilai kebenaran dan keadilan, Hak Asasi Manusia menuju terciptanya ketertiban umum dan perbaikan sikap mental.

4. meletakkan dasar-dasar kerangka dan agenda reformasi sosial budaya dalam usaha mewujudkan masyarakat madani.

Dalam dokumen Kajian Yuridis Dan Filosofis Perubahan K (Halaman 52-59)