• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kajian Yuridis Dan Filosofis Perubahan K

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Kajian Yuridis Dan Filosofis Perubahan K"

Copied!
155
0
0

Teks penuh

(1)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Reformasi yang dimulai pada permulaan tahun 1997 oleh para mahasiswa

dengan slogan “Reformasi Oleh Rakyat” harus melalui berbagai hambatan dan

reaksi keras dari pemerintah. Meskipun demikian kemenangan berpihak pada

rakyat yang puncaknya ditandai dengan lengsernya mantan Presiden Soeharto

setelah 32 tahun membangun pengaruh dan mengokohkan kekuasaannya.

Reformasi yang berkomitmen pada upaya perubahan menuju perbaikan

melatarbelakangi lahirnya tuntutan reformasi total yang meliputi: reformasi

politik, reformasi ekonomi, reformasi hukum, reformasi budaya, reformasi

pendidikan dan reformasi keamanan. 1)

Reformasi konstitusional - dikonkritkan dengan perubahan Undang-Undang

Dasar atau konstitusi - sebagai salah satu agenda reformasi merupakan langkah

yang membawa perubahan signifikan dalam sejarah ketatanegaraan Republik

Indonesia. Semula dalam rangka melanggengkan kekuasaan penyelenggara negara

maka Undang-Undang Dasar 1945 (UUD) mengalami proses “sakralisasi” atau

tidak boleh “disentuh” dengan berbagai ancaman dan stigma subversive yang

dituduhkan bagi yang akan menyentuhnya.2)

1) Laporan Senat ITB, Krisis Nasional, Reformasi Total, dan ITB, Bandung: Penerbit ITB,

1998, hlm. 5.

(2)

Proses pengkultusan tersebut memolakan masyarakat menjadi bangsa yang

tidak dinamis, hidup dalam ketakutan dan terkungkung doktrin pemerintah,

sehingga tidak berani untuk mengemukakan pendapatnya. Nyata, bahwa

kerancuan yang terdapat dalam UUD 1945 menimbulkan multi tafsir tanpa bisa

dikritisi demi perbaikan. Bahkan, hanya pemerintah Orde Baru (Soeharto) yang

boleh menafsirkan makna yang terkandung dalam UUD 1945, sementara Majelis

Permusyawaratan Rakyat (MPR) tinggal mengesahkan saja.3) Keadaan demikian

tentu telah membungkam aspirasi masyarakat untuk waktu yang cukup lama.

Kondisi tersebut tidak berbeda jauh dengan kondisi pada saat perubahan

konstitusi berlangsung. MPR sebagai lembaga negara yang memiliki kewenangan

mengubah UUD sebagaimana diamanatkan Pasal 3 UUD 1945, dinilai tidak

memahami isi dari konstitusi serta kerangka konseptual negara yang akan

dibangun (state and nation buildings conceptual framework). 4) Tekad bulat MPR

mengeluarkan TAP MPR Nomor VIII/MPR/1998 yang isinya mencabut Ketetapan

MPR tentang Referendum sekali lagi mereduksi peranan masyarakat untuk

berpartisipasi secara langsung menentukan muatan perubahan konstitusi.

Hasil perubahan konstitusi menuai kontroversi yang terus berkembang di

masyarakat. Beberapa di antaranya mengenai anggapan tidak adanya landasan

filosofis yang kuat dan landasan yuridis yang tidak patuh pada jenjang

perundang-undangan yang berlaku, karena faktor ketergesaan MPR dalam memenuhi

tuntutan reformasi dalam waktu singkat. Tidak adanya naskah akademik yang

3) Ibid., hlm. 137.

(3)

menjadi persyaratan pembentukan perundang-undangan semakin memperjelas

berbagai kekurangan dari sisi prosedural dan substansial perubahan konstitusi itu

sendiri.

Indonesia sebagai negara hukum seharusnya tidak membiarkan muatan

konstitusi yang menjadi fundamental law dan grundnorm bagi kehidupan

bernegaranya sebagai produk yang asal jadi. Sebagaimana diketahui, bahwa UUD

1945 mengatur seruan paham konstitusi, yaitu anatomi kekuasaan tunduk kepada

hukum (supremasi hukum). Dihubungkan dengan pendapat Wheare, dengan menempatkan konstitusi pada kedudukan yang tinggi (supreme) ada semacam

jaminan bahwa:

“Konstitusi itu akan diperhatikan dan ditaati dan menjamin agar konstitusi tidak akan dirusak dan diubah begitu saja secara sembarangan. Perubahannya harus dilakukan secara hikmat, penuh kesungguhan dan pertimbangan yang mendalam. Agar maksud ini dapat dilaksanakan dengan baik maka perubahannya pada umumnya mensyaratkan adanya suatu proses dan prosedur yang khusus atau istimewa.” 5)

Sebagaimana diketahui, menurut Sri Soemantri dalam konstitusi sekurang-kurangnya berisi tiga kelompok materi muatan: 6)

1. pengaturan tentang perlindungan hak-hak asasi manusia:

2. pengaturan tentang susunan ketatanegaraan negara yang bersifat

mendasar;

3. pengaturan tentang pembagian dan pembatasan tugas-tugas

ketatanegaraan yang juga bersifat mendasar.

5) Wheare dalam Dahlan Thaib, dkk., Teori dan Hukum Konstitusi, Jakarta: Raja Grafindo,

2005, hlm 65.

6) Krisna Harahap, Konstitusi Republik Indonesia : Sejak Proklamasi hingga Reformasi,

(4)

Dengan demikian, perubahan konstitusi haruslah memiliki dasar filosofis,

yuridis, sosiologis dan teknik pembuatan perundang-undangan yang baik

sebagaimana mestinya. Hal tersebut dikarenakan konstitusi memuat hal-hal yang

sangat mendasar dalam kehidupan bernegara, maka perubahan terhadapnya akan

berdampak secara langsung terhadap susunan ketatanegaraan suatu negara.

Mengingat perubahan konstitusi dipengaruhi oleh adanya gejolak reformasi

maka tentu tidak hanya dipengaruhi oleh aspek hukum saja melainkan sosial,

politik, budaya, terutama ekonomi. Konstitusi sebagai Grundnorm merupakan

kaidah tertinggi yang apabila dihubungkan dengan teori murni tentang hukum

maka aspek tersebut di atas bukanlah merupakan faktor yang dapat dibenarkan

dalam memproduksinya. Salah satu alasannya karena bagaimanapun juga

konstitusi diakui sebagai produk politik dan hukum sekaligus. Mengusung aliran

hukum positif, Hans Kelsen dengan grundnorm dan teori murninya yang secara tegas dinyatakan, bahwa hukum harus bebas dari anasir-anasir non legal. Di sisi

lain yang bertentangan terdapat aliran sosiological jurisprudence yang

menyatakan, bahwa hukum yang baik adalah hukum yang mencerminkan atau

sesuai dengan hukum yang hidup dalam masyarakat atau living law. Pengertian

hukum yang hidup tersebut termasuk di dalamnya faktor-faktor non legal yang

oleh Hans Kelsen seolah-olah merupakan faktor cacat dalam pembuatan hukum.

Paparan kedua aliran yang sekilas nampak bertentangan inilah yang menarik

untuk dipelajari sehingga dapat diketahui landasan filosofis apakah yang

(5)

Menyadari eratnya kaitan antara era reformasi sebagai situasi dan kondisi

yang melatarbelakangi perubahan konstitusi tersebut, maka perhatian penelitian

dipusatkan pada hasil perubahan konstitusi tahap pertama sebagai preseden yang

baik bagi perubahan berikutnya. Hal ini dikarenakan perubahan tahap pertama

dititikberatkan pada hal-hal yang bersifat substansial dan awal dari 4 (empat)

tahap perubahan konstitusi.

Perubahan konstitusi sebagai salah satu bagian dari teori konstitusi memiliki

kedudukan yang penting dalam pembelajaran mata kuliah Hukum Tata Negara.

Adapun sifat kajian dalam penulisan karya ilmiah ini dimaksudkan sebagai suatu

pembelajaran, penyelidikan dan penelaahan mengenai baik buruknya suatu

peristiwa hukum yang menjadi objek kajian dan kesesuaian antara das sollen,

yaitu sistem dan prosedur perubahan konstitusi sebagai suatu kaidah yang

seharusnya dengan das sein yaitu proses dan hasil dari perubahan tahap pertama

itu sendiri.

Ketidaksesuaian antara das sollen dan das sein menghadirkan permasalahan

yang memerlukan suatu penelitian untuk mengkaji fakta secara yuridis, filosofis

dan sosiologis secara garis besar untuk mendapatkan hasil yang objektif dan dapat

dipertanggungjawabkan. Dengan latar belakang masalah yang telah diuraikan

tersebut, maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian yang kemudian

menuangkannya ke dalam bentuk Skripsi dengan judul :

(6)

B. Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah tersebut di atas, dapat dirumuskan

beberapa masalah sebagai berikut :

1. Apa yang melatarbelakangi terjadinya perubahan konstitusi Republik

Indonesia ?

2. Bagaimanakah proses dilakukannya perubahan konstitusi Republik

Indonesia tahap pertama pasca reformasi ?

3. Apakah perubahan konstitusi Republik Indonesia tahap pertama

tersebut sudah dilakukan sesuai dengan sistem dan prosedur perubahan

konstitusi ?

C. Maksud dan Tujuan Penelitian

Maksud dilakukannya penelitian ini adalah untuk mempelajari kelebihan

dan kekurangan perubahan konstitusi tahap pertama.

Penelitian ini bertujuan untuk :

1. Mengetahui faktor-faktor yang melatarbelakangi terjadinya perubahan

konstitusi Republik Indonesia.

2. Memperoleh deskripsi lengkap dan jelas mengenai proses

dilakukannya perubahan konstitusi Republik Indonesia tahap pertama

pasca reformasi.

3. Mengetahui kesesuaian perubahan konstitusi Republik Indonesia tahap

(7)

D. Kegunaan Penelitian

Secara teoritis penelitian ini diharapkan dapat :

1. Memperkaya wacana dan khasanah keilmuan di bidang hukum pada

umumnya dan hukum tata negara pada khususnya.

2. Menjadi referensi dalam membahas, menelaah kembali atau mengkaji

perubahan-perubahan konstitusi yang telah, sedang dan akan

dilakukan.

Adapun kegunaan secara praktis antara lain :

1. Bagi pemerintah dan instansi yang berkompeten, diharapkan dapat

menjadi bahan informasi dan pertimbangan dalam pengambilan dan

penentuan kebijaksanaan pembuatan, perubahan termasuk

pengembangan perundang-undangan, khususnya Konstutisi di

Indonesia.

2. Bagi peneliti lain, sebagai pemicu semangat dalam mengkaji berbagai

kebijakan yang berdampak langsung terhadap khalayak ramai maupun

bahan referensi untuk mengadakan penelitian lebih lanjut mengenai

objek kajian yang sama.

E. Metode Penelitian

Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah :

1. Spefikasi Penelitian

Penelitian ini bersifat Deskriptif Analitis, yaitu suatu metode yang

menggambarkan atau melukiskan permasalahan yang berkaitan dengan objek

(8)

2. Metode Pendekatan

Metode pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah yuridis

normatif dan filosofis yang dimaksudkan sebagai pengkajian bahan-bahan

hukum khususnya hasil perubahan konstitusi tahap pertama dari pandangan

filsafat hukum.

Pendekatan yuridis normatif dititikberatkan pada data sekunder yaitu data

yang diperoleh melalui bahan-bahan kepustakaan dengan berpegang pada

segi-segi yuridis dan asas-asas hukum.

Pendekatan filosofis dibatasi pada filsafat khusus mengenai hukum atau

filsafat hukum dengan menggunakan pokok pemikiran para filsuf dari

beberapa aliran filsafat hukum yang relevan untuk mengupas permasalahan.

Berkaitan dengan hal ini Sunaryati Hartono menyatakan bahwa ;

“ ... dalam menemukan asas-asas hukum, kaidah-kaidah hukum dan teori-teori hukum baru (basic research), penggunaan metode penelitian sosial, di samping metode penelitian normatif memberi bobot lebih pada penelitian yang bersangkutan.

Namun demikian, supaya penulisan atau penelitian yang dilakukan benar-benar dinilai sebagai suatu penelitian hukum, penelitian itu bagaimanapun juga harus menggunakan metode penelitian yang normatif.” 7)

3. Teknik Pengumpulan Data

Studi Kepustakaan : teknik pengumpulan data dilakukan dengan cara studi

dokumen terhadap berbagai sumber data sekunder, yaitu:

1) Bahan hukum primer yang digunakan : Undang-Undang Dasar 1945

dan perundang-undangan di bawahnya.

7) Sunaryati Hartono, Penelitian Hukum di Indonesia Pada Akhir Abad ke-20, Bandung:

(9)

2) Bahan hukum sekunder yang digunakan : buku literatur hukum, jurnal

penelitian hukum, laporan penelitian hukum, laporan hukum media

cetak atau media elektronik.

3) Bahan hukum tertier yang digunakan : kamus hukum, kamus filsafat

dan kamus umum bahasa Indonesia.

4. Metode Analisis Data

Dalam memilih metode analisis data penulis tidak hanya menggunakan

metode analisis kualitatif melainkan dilengkapi dengan analisis komprehensif

dan lengkap. Analisis data dilakukan secara kualitatif, komprehensif, dan

lengkap. Sebagaimana dinyatakan oleh Abdulkadir Muhammad bahwa :

“ Analisis kualitatif artinya menguraikan data secara bermutu dalam bentuk kalimat yang teratur, runtun, logis, dan tidak tumpang tindih, dan efektif, sehingga memudahkan interpretasi data dan pemahaman hasil analisis. Komprehensif artinya analisis data secara mendalam dari berbagai aspek sesuai dengan lingkup penelitian. Lengkap artinya tidak ada bagian yang terlupakan,semuanya sudah masuk dalam analisis.” 8)

F. Kerangka Pemikiran

Secara singkat kronologis pembentukan UUD 1945 merupakan suatu hasil

perjuangan dalam mewujudkan suatu negara yang merdeka dan berdaulat oleh

pendiri negara Indonesia. Mereka memahami bahwa konstitusi dapat

dipersamakan dengan piagam kelahiran suatu negara baru (a birth certificate).

Maka pada tanggal 16 Juli 1945 Putera Indonesia berkumpul di Jakarta

dalam Rapat persiapan Undang-Undang Dasar sebagai bagian dari Panitia

Persiapan Kemerdekaan Indonesia (Dokuritsu Zyunbi Tyoosakai). Hasilnya

8) Abdulkadir Muhammad, Hukum dan Penelitian Hukum, Bandung: Citra Aditya Bakti,

(10)

ditinjau kembali oleh Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan

(Dokuritsu Zyunbi Iin Kai) tanggal 18 Agustus 1945. Dalam rapat persiapan

Undang Dasar tersebut dibentuk suatu Panitia Perancang

Undang-Undang Dasar yang diketuai oleh Ir. Soekarno beserta 18 anggota lainnya.

Kemudian dalam rapat besar (sidang pleno) dibentuk pula Panitia Kecil Perancang

Undang-Undang Dasar dengan Supomo sebagai ketua.9)

Indonesia sebagai negara hukum menempatkan Undang-Undang Dasar

1945 atau konstitusi sebagai dasar dari segala hukum yang kedudukannya

merupakan peraturan tertinggi dalam negara dengan muatan dasar-dasar seluruh

sistem hukum dalam negara itu. Dengan demikian, Undang-Undang Dasar

memuat peraturan-pokok mengenai sendi-sendi pertama untuk menegakkan

bangunan besar yang bernama “negara”.10)

Kelestarian suatu konstitusi merupakan hal yang didambakan beberapa

pihak dengan tuntutan stabilitas tinggi. Bagi sebagian pihak tersebut, perubahan

hanya akan mengganggu kemapanan yang selama ini didapat. Meskipun

demikian, waktu terus menuntut perkembangan yang secara konstan membuka

peluang untuk diadakan perubahan menuju perbaikan di segala bidang, salah

satunya konstitusi negara.

Perkembangan zaman menjadi alasan untuk menyesuaikan konstitusi

dengan masanya, dan moment reformasi adalah saat yang tepat. Lembaga negara

berwenang yaitu Majelis Permusyawaratan Rakyat bergegas untuk melakukan

persidangan dalam rangka persiapan perubahan konstitusi. Sebagai syarat

9) Krisna Harahap, Konstitusi Republik..., Op. Cit., hlm.32.

10) Abu Daud Busro dan Abubakar Busro, Asas-Asas Hukum Tata Negara, Jakarta: Ghalia

(11)

dilakukannya perubahan konstitusi secara formal harus dipenuhi syarat filosofis,

yuridis, dan sosiologis untuk memperoleh produk legislatif yang baik.

Syarat tersebut tidak semata-mata dibebankan pada perubahan konstitusi

melainkan secara umum merupakan syarat pembentukan perundang-undangan

yang baik. Bahkan, dengan menempatkan konstitusi sebagai kaidah hukum

tertinggi maka persyaratan untuk mengubahnya secara umum memiliki

persyaratan yang lebih sulit. Pernyataan tersebut didasari oleh sifat konstitusi

yang dibedakan dari tingkat kesulitan untuk mengubahnya. Semakin sulit

persya-ratannya maka konstitusi tersebut dikategorikan sebagai konstitusi yang rigid

(kaku), sebaliknya apabila persyaratannya tidak sulit maka termasuk konstitusi

yang flexible (luwes).

Indonesia sendiri memiliki persyaratan yang cukup sulit dengan

mempersyaratkan upaya referendum terlebih dahulu sebelum dilakukan perubahan

konstitusi. Referendum yang dianggap menghambat reformasi konstitusional itu

dicabut dengan dikeluarkannya Ketetapan MPR Nomor VIII/MPR/1998. Secara

prosedural apakah pencabutan TAP MPR tentang Referendum tersebut dapat

dibenarkan atau tidak menjadi permasalahan yuridis.

Perubahan konstitusi yang dilakukan Majelis Permusyawaratan Rakyat

pada tahun 1999-2002 secara 4 tahap dilatarbelakangi tuntutan reformasi dan

demokratisasi di segala bidang. Tuntutan reformasi konstitusional dilakukan

sesegera mungkin setelah para anggota dan pimpinan setuju merealisasikan hal

tersebut dengan persidangan MPR-RI secara terus-menerus untuk mengubah

(12)

Sifat penelitian ini adalah kajian filosofis yang berarti suatu penyelidikan

secara filosofi digunakan berdasarkan pada beberapa teori yang beberapa aliran

atau mazhab yang dianggap relevan untuk mengupas permasalahan. Menurut

pandangan Theo Huijbers :

“Filosofi adalah kegiatan intelektual yang metodis dan sistematis, secara refleksi menangkap makna yang hakiki dari keseluruhan yang ada. Objek filosofi bersifat universal mencakup segala yang dialami manusia ( d.h.i. perubahan konstitusi, penulis). Berpikir filosofi adalah mencari arti yang sebenarnya dari segala hal yang ada melalui pandangan cakrawala yang paling luas. Metode pemikiran filosofi adalah refleksi atas pengalaman dan pengertian tentang suatu hal dalam cakrawala yang universal. Pengolahan pikirannya secara metodis dan sistematis. Tujuannya adalah kebenaran yang membahagiakan manusia. 11)

Karya tulis ini menggunakan pendekatan konsep negara hukum sebagai

grand theory, dengan didukung oleh teori grundnorm dari Hans Kelsen aliran

positivisme hukum dan Living law dari aliran sosiological jurisprudence sebagai

middle range theory serta teori perubahan Formal UUD sebagai applied theory.

GRAND THEORY

Konsep Negara Hukum

Penggunaan konsep negara hukum sebagai grand theory adalah untuk

menegaskan bahwa negara Indonesia yang merupakan salah satu negara modern

yang berdasarkan atas hukum (rechtsstaat) tidak berdasarkan kekuasaan

(machtstaat), dan pemerintahan sistem konstitutional yaitu berdasarkan sistem

konstitusi (hukum dasar) bukan absolutisme (kekuasaan yang tidak terbatas). 12).

11) Abdulkadir Muhammad, Op. Cit., hlm.1.

(13)

Dengan demikian, penelitian ini berpijak pada norma yang telah ditetapkan secara

konstitusional yaitu tercantum pada Pasal 1 ayat (3) UUD 1945 setelah perubahan.

Sebelum mengalami perubahan, konsep negara hukum Republik Indonesia

tidak secara tersurat dimasukkan ke dalam batang tubuh melainkan diuraikan

dalam penjelasan UUD 1945. Kemudian pada perubahan konstitusi tahap ketiga,

konsep negara hukum ditegaskan ke dalam Pasal 1 ayat (3) yaitu “Negara

Indonesia adalah Negara Hukum”. Konsekuensi yang mengikutinya adalah

munculnya 3 (tiga) prinsip dasar wajib dijunjung oleh setiap warga negara yaitu

supremasi hukum; kesetaraan di hadapan hukum; dan penegakan hukum dengan

cara-cara yang tidak bertentangan dengan hukum.13)

Menurut FJ. Stahl sebagaimana dikutip oleh Oemar Senoadji kemudian dikutip kembali oleh S.F. Marbun, merumuskan unsur-unsur Rechtsstaat dalam arti klasik sebagai berikut : 14)

a. perlindungan terhadap hak-hak asasi manusia,

b. pemisahan atau pembagian kekuasaan negara untuk menjamin hak-hak

asasi manusia,

c. pemerintahan berdasarkan peraturan,

d. adanya peradilan administratif.

Diberlakukannya negara hukum di Indonesia memberi harapan tercapainya

perlindungan hak-hak warga negara dari kesewenangan pemerintahan yang besar

kemungkinannya untuk terjadi. Meskipun demikian, realitas di lapangan

13) Redaksi,RPJMN Tahun 2004-2009,Jakarta: Sinar Grafika, 2005, hlm. 85.

14) SF. Marbun, Peradilan Administrasi Negara dan upaya Administratif di Indonesia,

(14)

membuktikan sebaliknya. Kesadaran warga negara maupun birokrat negara bahwa

Indonesia memang Negara Hukum hampir tidak tampak ke permukaan.

Selanjutnya, negara hukum sebagai grand theory digunakan juga untuk

menggarisbawahi keberlakuan hukum itu sendiri yaitu hukum berlaku untuk

semua tanpa kecuali. Hal yang harus dipahami sebagai “tanpa kecuali” adalah

bahwa dalam pembuatan, perubahan konstitusi yang dilakukan oleh para ahli dan

pejabat negara sekalipun tetap harus sesuai dengan hukum yang berlaku.

Acuannya adalah sistem dan prosedur perubahan konstitusi yang disepakati.

MIDDLE RANGE THEORY

Dengan tetap bertumpu pada konsep negara hukum sebagai grand theory

maka dipergunakan dua teori sebagai middle range theory yang dianggap paling

memiliki keterkaitan. Kedua teori tersebut merupakan teori yang lahir dari

penggolongan aliran/mazhab filsafat hukum. Sebagai salah satu cabang dari

filsafat, yaitu filsafat etika atau moral maka filsafat hukum memiliki tujuan yang

sama dengan filsafat pada umumnya yakni mencari hakekat terdalam yang

menjadi pokok penyelidikan.

Sedangkan penggunaan teori grundnorm dan living law sebagai middle range theory diilhami dari pemikiran bahwa suatu grundnorm atau kaidah tertinggi haruslah digali dari kaidah-kaidah hukum yang hidup dan berkembang

dalam masyarakat itu sendiri atau living law.

(15)

Di Indonesia, grundnorm diwujudkan dalam Pancasila yang sekaligus

merupakan landasan ideal negara Indonesia. Keberlakuan Pancasila melingkupi

kehidupan bernegara secara umum. Dengan adanya asas lex superior derogat legi

inferiori maka kaidah yang termuat dalam Pancasila seharusnya menjadi acuan

bagi peraturan-peraturan di bawahnya.

Adapun kaidah dasar yang disebut grundnorm dinyatakan dalam suatu

konsep yaitu Pancasila yang bersarikan aliran pikiran kekeluargaan dan

merupakan dasar filsafat bangsa Indonesia yang menjadi dasar Pembukaan UUD

1945.

Pancasila yang dikemukakan pertama kali oleh Ir. Soekarno bukan hasil

dari keinginan pribadi semata tetapi perwujudan dari jiwa bangsa yang sarat

nuansa kekeluargaan dan gotong-royong. Jiwa bangsa terpancar dari

kebiasaan-kebiasaan kemudian melahirkan hukum yang senantiasa tumbuh dan berkembang

dalam masyarakat, hukum yang demikian disebut living law. Artinya suatu

grundnorm harus mendasarkan pada living law.

2. Teori Living Law

Sedangkan yang dimaksud dengan teori living law sebagai teori yang

dikembangkan oleh mazhab sociological jurisprudence adalah suatu pemikiran

bahwa : “ Hukum yang baik adalah hukum yang sesuai dengan hukum yang hidup

dalam masyarakat.”

Pokok pikiran yang berusaha disampaikan adalah bahwa faktor pembentuk

hukum tidak semata-mata ditentukan oleh faktor legal saja, melainkan

(16)

masyarakat, maka ia mengakui adanya faktor politik dan faktor non legal lainnya

yang dapat mempengaruhi suatu hukum.

Asas yang erat dengan teori living law adalah asas kedaulatan rakyat yang

sebelum perubahan konstitusi diwujudkan oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat

sebagai pemegang sepenuhnya kedaulatan rakyat. Diubah atau tidaknya hal

tersebut tentu tidak mengurangi peranan rakyat untuk berperan aktif menentukan

kebijakan yang secara langsung maupun tidak langsung terhadap kehidupannya

maupun demi kepentingan negara secara luas. Dengan demikian, suatu peraturan

yang baik adalah yang dapat mengakomodir dan menengahi keinginan rakyat

yang beragam.

APPLIED THEORY

Abstraksi teori-teori tersebut memiliki teori turunan atau derivasi dalam

bentuk Perubahan Formal Konstitusi atau Formal Amendment sebagai applied theory yang sekaligus menjadi objek penelitian. Karena jaman terus berkembang tersebut maka diperlukan suatu instrumen untuk memperbaharui Undang-Undang

Dasar sebagai penyesuaian. Pembahasan perubahan konstitusi tersebut dibatasi

pada hasil perubahan tahap pertama.

Konstitusi dapat diartikan secara luas maupun sempit. Menurut Krisna Harahap : 15)

“ Konstitusi dalam arti luas diartikan sebagai dokumen hukum (legal

document) resmi dengan kedudukan yang sangat istimewa, baik bentuk

tertulis (written) maupun tidak tertulis (unwritten). Sedangkan dalam pengertian sempit, nama yang diberikan, yakni Undang-Undang Dasar

(17)

(UUD) kepada dokumen hukum, dokumen politik yang berisi antara lain susunan organisasi negara dan cara kerjanya.”

Sedangkan menurut A.A.H. Struycken, konstitusi adalah Undang-Undang yang memuat garis-garis besar dan asas-asas tentang organisasi daripada negara.

Oleh karena itu Struycken digolongkan sebagai penganut paham bahwa konstitusi

sama dengan Undang-Undang Dasar. 16) Dalam karya ilmiah ini istilah konstitusi

yang dimaksud adalah konstitusi dalam pengertian sempit. Oleh karena itu

konstitusi dipersamakan dengan Undang-Undang Dasar. Syarat pembentukan

maupun perubahan peraturan perundang-undangan yang baik harus memenuhi

atau memiliki landasan yang kuat. Syarat tersebut adalah:

1. landasan filosofis

2. landasan yuridis

3. landasan sosiologis

Mengenai kewenangan mengubah Undang-Undang Dasar/ konstitusi, di dalam

UUD 1945 sendiri telah disediakan diktum yang dapat digunakan MPR untuk

mengubah ketentuan konstitusi lama dengan konstitusi yang baru, yakni melalui

Pasal 3 UUD 1945, bahwa “ Majelis Permusyawaratan Rakyat menetapkan

Undang-Undang Dasar dan garis-garis besar daripada haluan negara”.

(18)
(19)

Konstitusi /UUD 1945

Pada bagian sistematika penulisan ini, untuk mempermudah penelitian penulis

membagi ke dalam Bab-bab dan Sub bab sebagai berikut :

Bab I merupakan Bab Pendahuluan yang di dalamnya membahas mengenai

Latar Belakang Masalah, Identifikasi Masalah, Maksud dan Tujuan Penelitian,

Metode Penelitian, Kerangka Pemikiran, dan Sistematika Penulisan.

Bab II menguraikan berbagai teori yang digunakan sebagai tinjauan pustaka

mengenai Negara Hukum dan Konstitusi Serta Landasan Filosofisnya ini

diuraikan Negara Hukum dengan Berbagai Pengertian, Ciri dan Tujuan Negara

Hukum serta Teori-teori Negara Hukum; Kajian Teoritis Tentang Konstitusi

meliputi Tinjauan Secara Umum dan Teori Perubahan Konstitusi; Dasar Filosofis

Negara memuat Filsafat Hukum dan Negara serta Pancasila Sebagai Dasar

Filosofis Negara Republik Indonesia.

Bab III memaparkan data faktual dan objektif yang antara lain mengenai

Perubahan Konstitusi Republik Indonesia Tahap Pertama dengan menggambarkan

Situasi dan Kondisi Objektif Terjadinya Perubahan Konstitusi, Notulensi Panitia

Ad-Hoc I Badan Pekerja MPR RI dan hasilnya berupa Perubahan Tahap Pertama

Undang-Undang Dasar 1945.

Bab IV menjadi inti dari penelitian yaitu merupakan bab pembahasan melalui

pengkajian Mengenai Perubahan Konstitusi Republik Indonesia Tahap Pertama

Pasca Reformasi yang meliputi Latar Belakang, Proses Perubahan Konstitusi

Republik Indonesia Tahap Pertama Pasca Reformasi serta Kajian Mengenai

(20)

Bab V sebagai bab terakhir dalam penulisan skripsi ini adalah Kesimpulan dan

Saran yang merupakan kristalisasi dari pembahasan-pembahasan sebelumnya dan

(21)

BAB II

NEGARA HUKUM DAN KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA SERTA LANDASAN FILOSOFISNYA

A. Negara Hukum

Negara berasal dari kata statum (bahasa Latin) yang artinya menempatkan

dalam keadaan berdiri, kemudian berkembang menjadi staat (bahasa Belanda dan

Jerman). Menurut Logeman, Negara adalah organisasi kekuasaan yang bertujuan

mengatur masyarakat dengan kekuasaannya itu.17)

Secara umum, suatu negara biasanya memiliki tiga unsur pokok yaitu :

rakyat atau sejumlah orang ; wilayah tertentu ; pemerintahan yang berwibawa dan

berdaulat. Sebagai unsur pelengkap ditambahkan pengakuan oleh masyarakat

internasional atau negara-negara lain.18)

Hukum memiliki banyak definisi yang berbeda, oleh karena itu Immanuel

Kant menyatakan doktrinnya yang terkenal “Noch suchen Die Juristen eine

Devinition zu ihrem Begriffe von Recht” yang menggambarkan hukum memiliki

banyak segi dan meliputi segala macam hal, maka tidak mungkin orang dapat

membuat definisi apa sebenarnya hukum itu.19)

17) Ande Akhmad, Kumpulan Catatan Kuliah,(catatan kuliah Fakultas Hukum Universitas

Padjajaran): Bandung, 2003,hlm. 93.

18

) Muhammad Tahir Azhary, Negara Hukum : Suatu Studi tentang Prinsip-Prinsipnya Dilihat dari Segi Hukum Islam, Implementasinya pada Periode Negara Madinah dan Masa Kini,

Jakarta: Kencana, 2003, hlm. 17.

(22)

Namun, secara sederhana Sri Soemantri menyatakan hukum dapat dirumuskan sebagai seperangkat aturan tingkah laku yang dapat tertulis dan tidak

tertulis dan dibedakan sebagai hukum publik dan hukum privat.20)

Konsep bernegara Indonesia adalah konsep negara hukum yang juga dianut

oleh hampir semua negara modern saat ini. Seperti halnya sistem pemerintahan

dan bentuk negara yang dirumuskan pada pertama kali negara ini dibentuk, maka

konsep bernegara pun dirumuskan bersamaan dengan momen tersebut. Secara

lahiriah konsep bernegara tidak tampak dalam setiap batang tubuh konstitusi RI,

namun Pembukaan UUD 1945 telah menyiratkan prinsip-prinsip dasar yang

merupakan ciri-ciri negara hukum formal dan negara hukum material. Untuk lebih

memahami beberapa konsep negara hukum berdasarkan sistem hukum dunia,

berikut ini dipaparkan beberapa konsep negara hukum yang dianggap mewakili

sistem hukum terbesar di berbagai belahan dunia serta konsep negara hukum

Indonesia :

1. Rechtsstaat

Istilah rechtsstaat mulai populer sejak abad 19 di Eropa yang saat itu tengah

menganut paham negara hukum dalam arti sempit, yakni negara yang segala

sesuatunya didasarkan pada hukum tertulis yang diwujudkan dalam bentuk

undang-undang. Kebutuhan masyarakat pada waktu itu masih sangat sederhana

maka peraturan yang tertuang dalam undang-undang dianggap telah memenuhi

segala kebutuhan masyarakat.

(23)

Kebutuhan tersebut utamanya menyangkut soal ketenteraman, keamanan

dan ketertiban, sedangkan soal-soal lainnya, penyelenggaraannya diserahkan

sepenuhnya pada warga. Negara dalam posisi seperti ini disebut negara penjaga

malam (nachtwakerstaat). Pada masa itu peranan negara tidak begitu besar dan

hukum administrasi belum berkembang. Demikian pula kehadiran peradilan

administrasi belum merupakan kebutuhan yang sangat urgen.21)

Dengan terjadinya perkembangan jaman yang pesat dan disertai tuntutan

kebutuhan hidup yang semakin meningkat, peranan negara menjadi sangat

diperlukan untuk memenuhi kebutuhan dan kesejahteraan warganya. Sejak

memasuki negara modern pada abad 20, konsep negara hukum formal

ditinggalkan dan diganti dengan konsep negara hukum dalam arti material.

Berkembangnya konsep negara hukum material sejalan dengan perkembangan

peranan negara yang semakin besar dan luas, yakni menyelenggarakan

kesejahteraan umum yang disebut welfare state atau menurut istilah Lemaire

disebut bestuurzoorg.22)

Konsep rechtsstaat lahir dari suatu perjuangan menentang absolutisme

ketika masyarakat merasa tidak adanya perlindungan terhadap hak asasi manusia

dan penguasa yang bertindak sewenang-wenang, sehingga sifatnya revolusioner.

Konsep rechtsstaat ini bertumpu pada sistem hukum kontinental yang disebut

civil law, dengan demikian istilah rechtsstaat banyak dianut di negara-negara

Eropa Kontinental. Civil law menitikberatkan pengoperasiannya pada

21) S.F. Marbun, Op.cit., hlm.11.

(24)

administrasi. Hal tersebut merupakan alasan mengapa negara Eropa Kontinental

memasukkan unsur peradilan administrasi sebagai salah satu unsur rechtsstaat.

Dimasukannya unsur peradilan administrasi ke dalam unsur rechtsstaat,

dimaksudkan untuk memberikan perlindungan hukum bagi warga masyarakat

terhadap sikap tindak pemerintah yang melanggar hak asasi dalam lapangan

administrasi negara. Konsekuensi logis yang lahir dari hal tersebut adalah bahwa

perlindungan hukum tidak bersifat sepihak, melainkan perlindungan hukum bagi

administasi negara yang telah bertindak benar dan sesuai dengan hukum juga

diberikan dengan porsi yang sama. Timbal balik tersebut menegaskan bahwa

dalam suatu negara hukum perlindungan yang diberikan kepada warga dan

pejabat administrasi negara adalah sama.

Pemaparan konsep rechtsstaat di atas dipadatkan ke dalam ciri-ciri dari

seorang ahli dari kalangan ahli Hukum Eropa Kontinental, Friedrich Julius Stahl

yang memberikan ciri-ciri rechtsstaat sebagai berikut : 23)

1. Pengakuan dan perlindungan terhadap hak asasi manusia. 2. Negara didasarkan pada teori trias politica.

3. Pemerintahan didasarkan pada undang-undang.

4. Ada peradilan administrasi negara yang bertugas menangani kasus perbuatan melanggar hukum oleh pemerintah ( onrechtmatige overheidsdaad ).

Selanjutnya Philipus M. Hadjon mengemukakan ciri-ciri rechtsstaat

sebagai berikut: 24)

1. adanya undang-undang dasar atau konstitusi yang memuat ketentuan tertulis tentang hubungan antara penguasa dan rakyat;

23) F.J. Stahl dalam Marojahan Pandjaitan, Kerangka Teoritik Tentang Konsep Negara Hukum, Teori Demokrasi, dan Teori Perundang-undangan, Makalah, hlm.1.

(25)

2. adanya pembagian kekuasaan negara, yang meliputi : kekuasaan pembuatan undang-undang yang ada pada parlemen, kekuasaan kehakiman yang bebas yang tidak hanya menangani sengketa antara individu rakyat tetapi juga antara penguasa dan rakyat, dan pemerintah yang mendasarkan tindakannya atas undang-undang (wetmatig bestuur);

3. diakui dan dilindunginya hak-hak kebebasan rakyat (vrijgeidsrechten van de burger).

2. Rule of law

Istilah the rule of law mulai populer dengan terbitnya sebuah buku dari

Albert Venn Dicey tahun 1885 dengan judul Introduction to the study of the law of the constitution. Konsep the rule of law berkembang secara evolusioner yang bertumpu pada sistem hukum yang disebut common law dengan menitikberatkan

pengoperasiannya pada judicial. The rule of law banyak dikembangkan di

negara-negara dengan tradisi Anglo Saxon. 25)

Berbeda dengan konsep rechtsstaat yang memiliki peradilan administrasi,

maka rule of law dengan prinsip persamaan di hadapan hukumnya tidak mengenal

dan ditemukan adanya unsur peradilan administrasi. Argumentasi yang

diketengahkan Dicey untuk hal itu adalah bahwa persamaan dihadapan hukum atau penundukan yang sama dari semua golongan kepada ordinary law of the land

yang dilaksanakan oleh ordinary court, ini berarti bahwa tidak ada orang yang

berada di atas hukum, baik pejabat maupun warga negara biasa berkewajiban

untuk menaati hukum yang sama; tidak ada peradilan administrasi negara.26))

Penekanan atas prinsip persamaan di hadapan hukum (equality before the law)

membuat arti peradilan administrasi dianggap tidak signifikan.

25)Ibid.,hlm. 2.

26) Suharizal dan Firdaus Arifin, Refleksi Reformasi Konstitusi 1999-2002, Bandung: Citra

(26)

Pada dasarnya Prinsip equality before the law menghendaki agar prinsip

persamaan antara rakyat dengan pejabat administrasi negara harus juga tercermin

dalam lapangan peradilan. Pejabat administrasi atau Pemerintah atau rakyat harus

sama-sama tunduk kepada hukum dan bersamaan kedudukannya di hadapan

hukum.27) Prinsip equality before the law hanya salah satu ciri rule of law yang

dikemukakan oleh A.V. Dicey sebagai berikut : 28)

1. Supremasi hukum, dalam arti tidak boleh ada kesewenang-wenangan sehingga seseorang hanya dapat dihukum jika melanggar hukum.

2. Kedudukan yang sama di depan hukum baik bagi rakyat biasa maupun bagi pejabat.

3. Terjaminnya hak-hak asasi manusia oleh undang-undang dan keputusan-keputusan pengadilan.

Masih menurut Dicey, arti ciri pertama dari the rule of law di atas adalah supremasi absolut atau predominasi dari reguler law, untuk menentang pengaruh

dari arbitary power dan meniadakan kesewenang-wenangan, prerogatif atau

discretionary authority yang luas dari pemerintah; kedua, konstitusi adalah hasil

the ordinary law of the land bahwa hukum konstitusi bukanlah sumber melainkan

merupakan konsekuensi dari hak-hak individu yang dirumuskan dan ditegaskan

oleh peradilan.29)

Demikian juga E.C.S. Wade mengetengahkan 3 ciri rule of law, yakni : 30)

1. Mendahulukan hukum dan ketertiban dalam masyarakat daripada anarki.

2. Pemerintahan harus dilaksanakan sesuai dengan hukum.

3. Ada peraturan perundang-undangan yang dijadikan dasar melaksanakan perbuatan.

27) S.F. Marbun, Op.cit., hlm.12.

28) Marojahan, Loc.cit.,hlm. 4.

29) Suharizal dan Firdaus Arifin, Op.cit., hlm. 61.

(27)

3. Negara Hukum di Indonesia

Tanpa dicantumkannya konsep negara hukum dalam batang tubuh UUD

1945 sekalipun, dengan sendirinya dapat disimpulkan dan disepakati bersama

bahwa prinsip-prinsip dan ciri negara hukum yang termuat di pembukaan menjadi

isyarat nyata untuk menentukan Indonesia memang menganut konsep negara

hukum. Ketentuan yang menyatakan bahwa Indonesia adalah negara yang

berdasarkan atas hukum (rechtsstaat) dan tidak berdasarkan kekuasaan semata

(machtstaat) ditemukan pada Penjelasan UUD 1945, demikian pula ketentuan

mengenai sistem pemerintahan Indonesia. Dalam Penjelasan disebutkan bahwa

sistem Pemerintahan Indonesia menganut sistem konstitusional. Artinya

Pemerintah berdasarkan atas sistem Konstitusi (Hukum Dasar), tidak berdasarkan

absolutisme.

Di Indonesia, istilah negara hukum sering diterjemahkan rechtsstaats atau

the rule of law. Paham rechtsstaats, pada dasarnya bertumpu pada sistem hukum

Eropa Kontinental.31) Apabila dimaknai sesuai dengan Pembukaan UUD 1945

tersebut maka negara hukum yang dimaksudkan di Indonesia adalah negara

hukum yang dijiwai oleh nilai-nilai religius, nilai-nilai kemanusiaan, nilai-nilai

kerakyatan dan nilai-nilai keadilan.32) Tidak ingin tertinggal dengan konsep

negara hukum lainnya, Indonesia memiliki suatu unsur pembeda yang menjiwai

31) Suharizal dan Firdaus Arifin, Op.cit., hlm. 61.

(28)

seluruh aktivitas negara hukumnya. Unsur yang dimaksud adalah lima sila hasil

rumusan filosofis founding fathers yang dikenal dengan Pancasila.

Pancasila yang menjiwai kehidupan bernegara mendorong lahirnya istilah

Negara Hukum Pancasila. Sederhananya, Negara Hukum Pancasila adalah negara

yang berdasarkan Pancasila yang menjunjung tinggi faham kekeluargaan.

Pancasila dan faham atau asas kekeluargaan bukan merupakan satu konteks

pengertian, namun keduanya saling berhubungan erat. Hubungan tersebut

dinyatakan Sri Soemantri dalam Bunga Rampai Hukum Tata Negara bahwa keduanya tidak dapat dibedakan apalagi dipisahkan antara Negara Pancasila

(negara yang berdasarkan filsafat Pancasila) dan Negara Kekeluargaan. Dengan

perkataan lain, Negara Kekeluargaan hanya terdapat dalam negara berdasarkan

Pancasila sedangkan negara yang berdasarkan Pancasila selalu merupakan Negara

kekeluargaan.33) Ciri lainnya dari Negara Hukum Pancasila yang dipaparkan Senoadji ialah adanya jaminan terhadap freedom of religion atau kebebasan beragama. Tetapi, kebebasan beragama di Negara Hukum Pancasila selalu dalam

konotasi yang positif, artinya tiada tempat bagi ateisme atau propaganda anti

agama di Bumi Indonesia. Ciri berikutnya adalah tiada pemisahan yang rigid dan

mutlak antara agama dan negara.34)

Untuk mendapatkan pandangan yang menyeluruh mengenai negara hukum

Pancasila di Indonesia, berikut ini dipaparkan hal-hal yang mengindikasikan

Negara Republik Indonesia sebagai Negara Hukum. Ketentuan-ketentuan tersebut

33) Marojahan, Loc.cit.,hlm. 24.

(29)

tersebar di dalam Undang-undang Dasar 1945 baik dalam Pembukaan, Batang

Tubuh maupun Penjelasan sebagai berikut :35)

1. dalam Penjelasan UUD mengenai Sistem Pemerintahan Negara Indonesia, ditemukan penekanan pada hukum (rechts) yang dihadapkan dengan kekuasaan (macht). Artinya UUD 1945 menempatkan penolakan terhadap hak-hak kemanusiaan. Rumusan yang terdapat pada Penjelasan UUD 1945 tersebut, sesungguhnya merupakan penjabaran dari Pokok-pokok Pikiran yang terkandung dalam Pembukaan UUD 1945 yang memuat cita hukum (rechtssidee).

2. penegasan penolakan terhadap kekuasaan yang bersifat absolutisme itu, kemudian dipagar dan dikunci secara ketat perumusan sistem pemerintahan yang berdasarkan atas konstitusi (hukum dasar). Dengan demikian negara hukum menurut UUD 1945 adalah negara hukum dengan sistem konstitusional.

3. negara hukum yang dimaksud dalam Penjelasan UUD 1945, bukanlah negara hukum dalam arti formal atau negara penjaga malam, tetapi negara hukum dalam arti luas yakni negara hukum dalam arti material. Sebab dalam alinea keempat Pembukaan UUD 1945, disebutkan negara bukan saja melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, tetapi juga harus memajukan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa.

4. negara hukum yang dimaksud dalam Penjelasan UUD 1945 harus sejalan dengan negara demokrasi, sehingga keduanya merupakan dua pilar yang tegak lurus dan saling menopang. Karena itu MPR sebagai pemegang kedaulatan rakyat harus benar-benar tercermin sebagai penjelmaan seluruh rakyat Indonesia, sehingga benar-benar terjamin sifat demokratisnya.

5. dalam negara hukum Indonesia menurut UUD 1945, kekuasaan Kepala Negara harus terbatas dan bukan tak terbatas. Artinya Kepala Negara bukan diktator. Meskipun Kepala Negara tidak bertanggung jawab kepada Dewan Perwakilan Rakyat, tetapi Kepala Negara harus memperhatikan sungguh-sungguh suara Dewan Perwakilan Rakyat. Untuk menghindari Presiden bersifat absolut, kedudukan dan peranan DPR diletakkan pada posisi yang kuat, sehingga DPR tidak dapat dibubarkan oleh Presiden. DPR melakukan pengawasan terhadap Presiden dan bahkan memegang wewenang memberikan persetujuan kepada Presiden dalam menetapkan undang-undang dan APBN. Hal ini mencerminkan kuatnya kedudukan rakyat dalam sistem Pemerintahan Negara Indonesia.

6. dalam Batang Tubuh UUD 1945 ditemukan juga beberapa ketentuan mengenai rumusan hak-hak kemanusiaan yang dijelmakan dalam rumusan “hak-hak warganegara” dan kedudukan penduduk.

(30)

Mengingat bahwa konsep negara hukum Republik Indonesia tidak secara

tegas tercantum dalam batang tubuh melainkan dalam penjelasan maka pada

perkembangannya konsep Negara Hukum memiliki tempat tersendiri dalam

batang tubuh UUD 1945 setelah amandemen tahap ke-3 (tiga). Ketentuan tersebut

ditetapkan secara konstitusional di Pasal 1 ayat (3) yaitu “Negara Indonesia adalah

Negara Hukum”.

Persamaan pokok antara rechtsstaat dengan rule of law adalah adanya

keinginan untuk memberikan jaminan terhadap hak-hak asasi manusia. Dengan

demikian, dapat ditarik benang merah bahwa inti konsep negara hukum adalah

negara yang segala tindak tanduk pelaksanaannya tunduk pada peraturan hukum

yang berlaku. Sedangkan tujuan negara hukum pada intinya memiliki tujuan yang

sama dengan hakikat konstitusi tidak lain dari perwujudan paham tentang

konstitusi atau konstitusionalisme yaitu pembatasan terhadap kekuasaan

pemerintah di satu pihak dan jaminan terhadap kekuasaan pemerintahan di satu

pihak dan jaminan terhadap hak-hak warga negara manapun setiap penduduk di

pihak lain.36)

B. Kajian Teoritis Tentang Konstitusi 1. Tinjauan Umum Konstitusi

Konstitusi bagi suatu negara hukum merupakan harga mati yang tidak bisa

ditawar lagi. Seperti yang telah disinggung sebelumnya, negara hukum

memerlukan konstitusi untuk memuat aturan dasar yang menjadi sumber berbagai

36) Bagir Manan, Pertumbuhan dan Perkembangan Konstitusi Suatu Negara, Bandung:

(31)

peraturan di bawahnya. Bahkan menurut Sri Soemantri, tidak ada satu Negara pun di dunia sekarang ini yang tidak mempunyai konstitusi atau Undang-Undang

Dasar. Negara dan konstitusi merupakan dua lembaga yang tidak dapat dipisahkan

satu dengan yang lainnya, demikian Sri Soemantri.37)

Berbicara konstitusi berarti berbicara mengenai hukum, dan untuk

pengertian hukum dapat dilihat dalam penjelasan Undang-undang Dasar 1945,

Bab Umum No. IV yang dirumuskan sebagai berikut :38)

“ Undang-Undang Dasar hanya memuat aturan-aturan pokok, menurut garis-garis besar sebagai instruksi kepada pemerintah pusat dan lain-lain penyelenggara negara untuk menyelenggarakan kehidupan negara dan kesejahteraan sosial.”

Dari penjelasan tersebut undang-undang dapat diartikan hukum sebagai alat

atau sarana dalam penyelenggaraan negara dan kesejahteraan sosial. Mengenai

sumber hukum dapat dilihat dalam penjelasan UUD 1945, Bab Umum No. III

yang dirumuskan sebagai berikut :

“ Pokok-pokok pikiran yang terkandung dalam pembukaan meliputi suasana kebatinan dari UUD negara Indonesia, pokok-pokok pikiran ini mewujudkan cita-cita hukum negara, baik hukum tertulis (UUD) maupun tidak tertulis. 39)

Sedang fungsi hukum menurut UUD 1945 lebih diperluas di dalam

penjelasan pada Pasal 28,29 ayat 1 dan Pasal 34, sebagai berikut :

“ Pasal-pasal baik yang hanya mengenai warga negara maupun yang mengenai seluruh penduduk memuat hasrat bangsa Indonesia untuk membangun negara yang bersifat demokratis dan yang hendak menyelenggarakan keadilan sosial dan perikemanusiaan” 40)

37) Sri Soemantri, Op.cit., hlm. 2.

38) Toga Hutagalung, Hukum dan Keadilan dalam Pemahaman Filsafat Pancasila dan UUD 1945, (Disertasi Fakultas Hukum Universitas Padjajaran, Bandung), hlm. 24.

39)Ibid., hlm.25.

(32)

1.1Pengertian Konstitusi

Konstitusi secara etimologis berasal dari bahasa Latin yaitu constituo

(tunggal), constituones (jamak). Istilah konstitusi berasal dari bahasa Perancis

(constituer) yang berarti membentuk. Pemakaian istilah konstitusi yang

dimaksudkan ialah pembentukan suatu negara atau menyusun dan menyatakan

suatu negara.41) Konstitusi merupakan segala ketentuan dan aturan mengenai

ketatanegaraan (Undang-Undang Dasar, dan sebagainya, atau Undang-Undang

Dasar suatu negara).42) Berbeda halnya dengan konstitusionalisme, yaitu suatu

paham mengenai pembatasan kekuasaan dan jaminan hak-hak rakyat melalui

konstitusi.43) Pembatasan ini dilatarbelakangi suatu pemikiran bahwa kekuasaan

yang terpusat pada satu tangan akan sulit mewujudkan cita-cita bangsa yang

mendambakan keadilan dan kesejahteraan. Penyebabnya, menurut Lord Acton,

power tends to corrupt, absolute power corrupts absolutely.44)

Undang-Undang Dasar sering disebut dengan istilah “konstitusi”. Sri Soemantri dalam disertasinya dan Struycken merupakan beberapa ahli yang menganggap konstitusi sama dengan Undang-Undang Dasar. Tetapi pengertian

konstitusi yang disamakan dengan Undang-Undang Dasar, adalah suatu

kekeliruan pandangan.45) Sebab jika ditelusuri lebih jauh dalam kepustakaan,

ternyata ada perbedaan pengertian antara Undang-Undang Dasar dan konstitusi.

Argumentasi tersebut dapat terlihat dari perbandingan pengertian konstitusi

dalam arti luas dan sempit. Berikut menurut Krisna Harahap, konstitusi dapat 41) Dahlan Thaib, dkk., Teori dan Hukum Konstitusi, Jakarta: RajaGrafindo, 2005, hlm.1.

42)Ibid., hlm 1.

43)Ibid.

44) Krisna Harahap, Konstitusi Republik, Op.cit., hlm.7.

(33)

diartikan secara luas maupun sempit. Konstitusi dalam arti luas diartikan sebagai

dokumen hukum (legal document) resmi dengan kedudukan yang sangat

istimewa, baik bentuk tertulis (written) maupun tidak tertulis (unwritten).

Sedangkan dalam pengertian sempit, nama yang diberikan, yakni Undang-Undang

Dasar (UUD) kepada dokumen hukum, dokumen politik yang berisi antara lain

susunan organisasi negara dan cara kerjanya. 46)

Menurut Herman Heller, bahwa konstitusi mempunyai arti yang lebih luas daripada Undang-Undang Dasar. Konstitusi, sesungguhnya tidak hanya bersifat

yuridis semata-mata, melainkan juga sosiologis dan politis. Sedangkan

Undang-Undang Dasar, hanya merupakan sebagian dari pengertian konstitusi, yakni die

geschreiben verfassung atau konstitusi yang ditulis.47) Sedangkan istilah Undang –

Undang Dasar merupakan terjemahan istilah yang dalam bahasa Belandanya

disebut Gronwet. Perkataan wet diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia undang

– undang dan grond berarti tanah/dasar.48)

K.C. Wheare dalam buku Modern Constitution : 1966 mengartikan konstitusi sebagai keseluruhan sistem ketatanegaraan dari suatu negara berupa

kumpulan peraturan-peraturan yang membentuk, mengatur atau memerintah

dalam pemerintahan”. 49)

C.F. Strong dalam buku Modern Political Constitution : 1966

mendefinisikan konstitusi sebagai “A constitution is a collection of principles

according to which the powers of government, the right of the government and the

46) Krisna Harahap, Konstitusi Republik Op. Cit., hlm.1.

47) Dikutip oleh Moh. Kusnardi dan Harmaily Ibrahim dan dikutip kembali oleh Abu

Daud Busroh dan Abubakar Busro, Op.cit.,hlm.41. 48) Dahlan Thaib, dkk., Op.cit., hlm.7.

(34)

relation between the two are adjusted.” 50) Dari rumusan tersebut menunjukkan

bahwa Strong telah menafsirkan konstitusi dalam arti sempit, yakni berupa sebuah naskah ataupun sekumpulan peraturan-peraturan yang mengandung

otoritas sebagai Hukum Tata Negara.51)

1.2Materi Muatan Konstitusi

Struycken dalam bukunya Het Staatsrecht van Het Koninkrijk der

Nederlanden menyatakan bahwa Undang-Undang Dasar sebagai Konstitusi

tertulis merupakan sebuah dokumen formal yang berisi:52)

1. Hasil perjuangan politik bangsa di waktu yang lampau.

2. Tingkat-tingkat tertinggi perkembangan ketatanegaraan bangsa.

3. Pandangan tokoh-tokoh bangsa yang hendak diwujudkan, baik untuk waktu sekarang maupun untuk masa yang akan datang.

4. Suatu keinginan, dengan mana perkembangan kehidupan ketatanegaraan bangsa hendak dipimpin.

Menurut J.G. Steenbeek, sebagaimana dikutip Sri Soemantri dalam disertasinya dan dikutip kembali oleh Dahlan Thaib bahwa pada umumnya suatu konstitusi berisi tiga hal pokok, yaitu : 53)

Pertama, adanya jaminan terhadap hak-hak asasi manusia dan warga

negaranya;

Kedua, ditetapkannya susunan ketatanegaraan suatu negara yang bersifat

fundamental;

Ketiga, adanya pembagian dan pembatasan tugas ketatanegaraan yang juga

bersifat fundamental.

50)Ibid., hlm.12.

51) Abu Daud Busroh dan Abu Bakar Busroh, Op.cit., hlm. 45.

52) Dikutip oleh Sri Soemantri, Op.cit., hlm.2.

(35)

1.3Fungsi, Kedudukan dan Tujuan Konstitusi

Mengenai fungsi dan kedudukan konstitusi, beberapa penulis seperti C.F. Strong, K.C. Wheare, M. Rosenfeld 12, Henc van Maarseveen, Lawrence Beer, Sri Soemantri dan Jimly Asshiddiqie memperlihatkan adanya pandangan yang satu sama lain bertautan. Fungsi dan kedudukan tersebut adalah :54)

1) Konstitusi berfungsi sebagai dokumen nasional (national document) yang

mengandung perjanjian luhur, berisi kesepakatan-kesepakatan tentang

politik, hukum, pendidikan, kebudayaan, ekonomi, kesejahteraan, dan

aspek fundamental yang menjadi tujuan negara.

2) Konstitusi sebagai piagam kelahiran negara baru (a birth certificate of new

state). Hal ini juga merupakan bukti adanya pengakuan masyarakat

internasional ditandai dengan adanya ratifikasi terhadap

perjanjian-perjanjian internasional.

3) Konstitusi sebagai sumber hukum tertinggi. Konstitusi mengatur maksud

dan tujuan terbentuknya suatu negara dengan sistem administrasinya

melalui adanya kepastian hukum yang terkandung dalam pasal-pasalnya,

unifikasi hukum nasional, social control, memberikan legitimasi atas

berdirinya lembaga-lembaga negara termasuk pengaturan tentang

pembagian dan pemisahan kekuasaan antara organ legislatif, eksekutif,

dan yudisial. Konstitusi sebagai sumber hukum tidak saja berfungsi

sebagai a tool of social engineering, melainkan juga harus mampu

merespon secara kritis perubahan zaman.

(36)

4) Konstitusi sebagai identitas nasional dan lambang persatuan. Konstitusi

menjadi suatu sarana untuk memperhatikan berbagai nilai dan norma suatu

bangsa dan negara, misalnya simbol demokrasi, keadilan, kemerdekaan,

negara hukum, yang dijadikan sandaran untuk mencapai kemajuan dan

keberhasilan tujuan negara. Konstitusi suatu negara diharapkan dapat

menyatakan persepsi masyarakat dan pemerintah, sehingga

memperlihatkan adanya nilai identitas kebangsaan, persatuan dan

kesatuan, perasaan bangga dan kehormatan sebagai bangsa yang

bermartabat. Konstitusi dapat memberikan pemenuhan atas

harapan-harapan sosial, ekonomi dan kepentingan politik. Konstitusi tidak saja

menganut pembagian dan pemisahan kekuasaan dalam lembaga-lembaga

politik seperti legislatif, eksekutif dan yudisial, akan tetapi juga mengatur

tentang penciptaan keseimbangan hubungan (check and balances)

diantaranya aparat pemerintah di pusat maupun di daerah.

5) Konstitusi sebagai alat untuk membatasi kekuasaan. Konstitusi dapat

berfungsi untuk membatasi kekuasaan, mengendalikan perkembangan dan

situasi politik yang selalu berubah, serta berupaya untuk menghindarkan

adanya penyalahgunaan kekuasaan. Berdasarkan alasan tersebut, menjadi

sangat penting untuk diperhatikan seberapa jauh formulasi pasal-pasal

dalam konstitusi mengakomodasikan materi muatan pokok dan penting

sehingga dapat mencegah timbulnya penafsiran yang beraneka ragam.

6) Konstitusi sebagai pelindung HAM dan kebebasan warga negara.

(37)

hak-hak kebebasan warga negara. Hal ini merupakan pengejawantahan

suatu negara hukum dengan ciri-ciri equality before the law, non

diskriminatif dan keadilan hukum (legal justice) dan keadilan moralitas

(social and moral justice).

Konstitusi itu sendiri disebut-sebut sebagai aturan yang memiliki

keistimewaan dibandingkan dengan peraturan lainnya, yang antara lain

dikarenakan :55)

1) merupakan fundamental law, atau hukum yang paling mendasar dalam suatu negara

2) the highest law, merupakan hukum tertinggi

3) a birth certificate, sama halnya akta kelahiran dari suatu negara

4) staatsfundamentalnorm, yaitu aturan - aturan dasar mengenai negara.

Mengenai tujuan dibentuknya Konstitusi terdapat beberapa pendapat yang

akan diulas sebagaimana berikut:

1) C.F Strong, the object of a constitution in short, are to limit the arbitary action of the government, to quarantee the rights of governed, and to

define the operation of the sovereign power; 56)

2) Loeweinstain (political power and the government process), yaitu suatu sarana dasar untuk mengawasi proses – proses kekuasaan : 57)

a. “memberi pembatasan dan pengawasan terhadap kekuasaan politik”

b. “ membebaskan kekuasaan dari kontrol mutlak para penguasa”

55) Krisna Harahap, Konstitusi Republik, Op.cit., hlm. 1-3.

56) Dahlan Thaib, dkk., Op.cit., hlm 23.

(38)

Karena negara merupakan organisasi kekuasaan, maka daripada itu di

setiap negara ditemukan bermacam – macam pusat kekuasaan dan

kekuasaan itu sendiri harus dibatasi dengan konstitusi/ UUD.

3) Hans Kelsen dan Hans Nawrasky (muridnya), konstitusi bertujuan untuk mewujudkan 2 norma utama yaitu staatsfundamentalnorm (norma

fundamental negara) dan staatsgrundgesetz (aturan dasar) ;

2. Teori Perubahan Konstitusi

Perubahan konstitusi merupakan suatu keniscayaan, demikian para tokoh

kenegaraan berkata, untuk itu konstitusi selalu mencantumkan bab mengenai

perubahan konstitusi. Walaupun konstitusi setiap negara dibuat untuk jangka

waktu yang lama, namun cepatnya perkembangan masyarakat dalam berbagai

sektor kehidupan membuka mata untuk melakukan penyesuaian konstitusi agar

tidak tertinggal jauh dalam peradaban.

Sebelum memberi pemaparan lebih jauh, terlebih dahulu dijelaskan arti

perubahan dan amandemen itu sendiri. Sri Soemantri menyimpulkan bahwa mengubah maupun mengamandemen UUD adalah sama, yang dijelaskan

sebagaimana berikut :

(39)

Dalam Hukum Tata Negara Amerika Serikat “to amend the Constitution

mengandung arti bukan saja mengubah sesuatu juga menambahkan sesuatu yang

belum diatur dalam Konstitusi.58)

Perubahan konstitusi dapat dilakukan secara formal dan tidak formal. Kedua

cara tersebut dapat dibedakan dari ada tidaknya ketentuan mengenai perubahan

tersebut dalam konstitusi itu sendiri. Dengan kata lain secara yuridik, perubahan

konstitusi dapat dilakukan apabila dalam konstitusi itu telah ditetapkan tentang

syarat dan prosedur konstitusi. Perubahan konstitusi yang ditetapkan dalam

konstitusi disebut perubahan secara formal (formal amendment). Di samping itu

perubahan konstitusi juga dapat dilakukan dengan cara yang tidak formal yaitu

oleh kekuatan-kekuatan yang bersifat primer, penafsiran oleh pengadilan dan oleh

kebiasaan dalam bidang ketatanegaraan.59)

Perubahan ini dipengaruhi oleh sifat undang-undang dasar itu sendiri yang

terbagi dalam dua golongan, yaitu undang-undang dasar yang rigid dan flexible.

Menentukan apakah undang-undang dasar tersebut tergolong flexible atau rigid

dapat diukur dengan mengajukan pertanyaan apakah undang-undang dasar itu

mudah atau tidak mudah mengikuti perkembangan zaman. Kalau mudah maka

undang-undang dasar itu flexible sebaliknya maka sifatnya rigid.60)

2.1 Kewenangan Mengubah Konstitusi

Pada tahap pertama perubahan UUD 1945 kewenangan untuk mengubah

dimiliki oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat atas dasar Pasal 3 UUD 1945

58) Sri Soemantri,Op.Cit.,hlm.162.

59) Naskah Akademik..., Op.cit., hlm.179.

(40)

yang berbunyi “ Majelis permusyawaratan Rakyat menetapkan

Undang-undang Dasar dan garis-garis besar daripada haluan Negara.”

Tugas dan Wewenang MPR Pasal 3 dan Pasal 4Ketetapan MPR-RI No.

I/MPR/1983 jo Ketetapan MPR-RI No. II/MPR/1999 tentang Peraturan

Tata-Tertib Majelis Permusyawaratan Rakyat :

Pasal 3, Majelis mempunyai tugas :

1) menetapkan Undang-Undang Dasar;

2) menetapkan Garis-Garis Besar Haluan Negara;

3) memilih dan mengangkat Presiden dan Wakil Presiden.

Pasal 4, Majelis mempunyai wewenang :

f. mengubah Undang-undang Dasar.

Untuk keanggotaan MPR sendiri diatur dalam Pasal 2 ayat (1) “ Majelis

Permusyawaratan Rakyat terdiri dari anggota Dewan Perwakilan Rakyat dan

anggota Dewan Perwakilan Daerah yang dipilih melalui pemilihan umum

dan diatur lebih lanjut dengan undang-undang.”

2.2 Sistem Perubahan Konstitusi

Dalam literatur Hukum Tata Negara dikenal dua sistem perubahan

konstitusi, yakni penggantian atau perubahan secara menyeluruh (re-new)

dan perubahan dengan melakukan penambahan atau yang dikenal dengan

istilah addendum.

Sistem perubahan atau renewel adalah, apabila suatu konstitusi (UUD)

(41)

diberlakukan adalah konstitusi yang baru secara keseluruhan. Di antara

negara yang menganut sistem ini adalah Belanda, Jerman, dan Perancis.61)

Perubahan UUD 1945 disepakati untuk diubah dengan cara addendum,

yakni perubahan UUD 1945 dilakukan dengan tetap mempertahankan

naskah asli UUD 1945 sebagaimana terdapat dalam Lembaran Negara No.

75 Tahun 1959 hasil Dekrit Presiden 5 Juli 1959 dan naskah

perubahan-perubahan UUD 1945 diletakkan melekat pada naskah asli.62)

Bahwa Undang-undang Dasar atau konstitusi dapat diubah melalui jalan

penafsiran dikemukakan oleh K.C. Wheare yang merumuskan empat macam cara untuk mengubah konstitusi, yaitu melalui :63)

1. beberapa kekuatan yang bersifat primer (some primary force) ;

2. perubahan yang diatur dalam konstitusi (formal amandement);

3. penafsiran secara hukum (judicial interpretation) ;

4. kebiasaan dan kebiasaan yang terdapat dalam bidang ketatanegaraan

(usage and convention)

C.F. Strong juga mengemukakan empat macam cara prosedur perubahan konstitusi, yaitu : 64)

1. perubahan konstitusi yang dilakukan oleh pemegang kekuasaan legislatif, akan tetapi menurut pembatasan – pembatasan tertentu;

2. perubahan konstitusi yang dilakukan oleh rakyat melalui suatu referendum;

61) Dahlan Thaib,dkk., Op.cit., hlm. 67.

62) Ni’matul Huda, Op.cit., hlm. 147.

63) Sri Soemantri, Op.cit., hlm. 259.

(42)

3. perubahan konstitusi – dan ini berlaku dalam negara serikat- yang dilakukan oleh sejumlah negara – negara bagian;

4. perubahan konstitusi yang dilakukan dalam suatu konvensi atau dilakukan oleh suatu lembaga negara khusus yang dibentuk hanya untuk keperluan perubahan.

2.3 Dasar Hukum dan Syarat Perubahan Konstitusi RI

Tiap-tiap undang-undang dasar biasanya memuat ketentuan yang

menetapkan organ yang berhak mengubah naskah undang-undang dasar itu

sendiri dan prosedur yang harus dilalui untuk mengadakan perubahan itu.65)

Dalam UUD 1945 terdapat satu pasal yang khusus mengatur tentang cara

perubahan UUD, yaitu Pasal 37. BAB XVI Mengenai Perubahan

Undang-Undang Dasar Pasal 37 UUD 1945 menyebutkan :

(1) Untuk mengubah Undang-undang Dasar sekurang–kurangnya 2/3 daripada jumlah anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat harus hadir.

(2) Putusan diambil dengan persetujuan sekurang-kurangnya 2/3 daripada jumlah anggota yang hadir.

Pasal 37 tersebut mengandung tiga norma, yaitu : 66)

1. bahwa wewenang untuk mengubah UUD ada pada MPR sebagai Lembaga Tertinggi

2. bahwa untuk mengubah UUD kuorum yang harus dipenuhi sekurang – kurangnya adalah 2/3 dari seluruh jumlah anggota MPR;

3. bahwa putusan tentang perubahan UUD adalah sah apabila disetujui oleh sekurang – kurangnya 2/3 dari anggota MPR yang hadir.

65) Abu Daud Busroh dan Abubakar Busro, Op.cit., hlm. 46.

(43)

C. Dasar Filosofis Negara (Filosofische Grondslag)

Filsafat yang menjadi pisau bedah dalam penelitian ini memiliki perangkat

tersendiri yang lazim dipergunakan dalam menyelesaikan berbagai permasalahan

yang sifatnya bukan penyelesaian praktis. Bagaimana pun juga, sifat abstrak dan

hipotesis kajian filsafat tidak dapat dipungkiri. Perangkat yang akan dipergunakan

dalam mengkaji secara filosofis perubahan konstitusi tahap pertama ini akan

dibatasi pada teori filsafat hukum yang berkaitan pembahasan.

Undang-Undang Dasar merupakan bentuk hukum tertulis yang secara umum

merupakan bagian dari hukum dalam arti luas. Untuk itu, dalam pemaparannya

teori filsafat di sini tidak secara kaku dan monoton menggunakan istilah konstitusi

atau Undang-Undang Dasar.

Sekedar untuk mengingat kembali pengertian filsafat hukum, berikut ini

diulas beberapa definisi filsafat hukum sebagai berikut.

Soetikno (1976 : 10), merumuskan : 67)

“Filsafat hukum mencari hakikat daripada hukum, yang menyelidiki kaidah hukum sebagai pertimbangan nilai-nilai”.

Purnadi Purbacaraka dan Soerjono Soekanto (1979 : 11), mengatakan : 68)

Filsafat hukum adalah perenungan dan perumusan nilai-nilai; kecuali itu

filsafat hukum juga mencakup penyerasian nilai-nilai misalnya : penyerasian antara ketertiban dengan ketentraman, antara kebendaan dengan keakhlakan, dan antara kelanggengan/konservatisme dengan

pembaharuan”.

67) Lili Rasjidi dan Ira Rasjidi, Dasar-dasar Filsafat dan Teori Hukum, Bandung : Citra

Referensi

Dokumen terkait

Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas V SD N 1 Sidabowa, sedangkan untuk sampelnya diambil seluruh siswa kelas VA sebagai kelas kontrol

usaha dialokasikan dandicatat sebagai angsuran pokok kewajiban sewa guna usaha dan beban bunga berdasarkan tingkat bunga yang diperhitungkan terhadap sisa kewajiban penyewa

Data hasil penelitian diperoleh dari : pengamatan terhadap keterlaksanaan Rencana pelaksanaan tindakan (RPP), aktivitas siswa dalam kelompoknya baik dalam kelompok

Studi kasus yang telah dilakukan menggunakan STKI ini didapatkan hasil sistem mampu melakukan proses preprosesing (tokenisasi, filtering, dan stemming) dan

35 Ms.. yang sangat berpengaruh terhadap keberlangsungan proses dan kegiatan pembelajaran bagi peserta didik di lembaga pendidikan Islam. Pengemba- ngan kurikulum

tidak memiliki pengaruh secara parsial terhadap Return On Asset Perusahaan bank yang terdaftar di Bank Go Public Indonesia, hal ini dapat diketahui dari nilai

Hasil ELISA deteksi virus PYMoV menggunakan antiserum BSV pada benih lada Sukabumi menunjukkan nilai absorban yang negatif untuk semua sampel, sedangkan

alat-alat untuk mencapai tujuan apabila manajemen operasi sendiri kurang pengetahuan tentang pengelolaan yang efisien. Audit operasional bertujuan unuk mencapai efisiensi