BAB II. PENTINGNYA PENDIDIKAN IMAN ANAK
B. SITUASI PENDIDIKAN IMAN ANAK DALAM KELUARGA
1. Ditinjau dari Orang Tua.
Keluarga merupakan tempat persemaian, pertumbuhan dan perkembangan iman anak. Dari orang tua, anak mulai mendapat pendidikan iman yang pertama dan utama, dan mulai mengalami perhatian dan kasih sayang. Perhatian dan kasih sayang dari orang tua ini merupakan tanda nyata bagi anak yang dikasihi Allah. Anak adalah milik Tuhan, diserahkan sepenuhnya kepada orang tua untuk mengasuh dan mendidik mereka. Orang tua dipanggil pada suatu tanggung jawab baru. Tanggung jawab ini harus diterima sebagai suatu anugerah dari Allah. Oleh karena itu, orang tua berkewajiban untuk menyampaikan iman kepada anak-anaknya, mendidik anak dengan kata dan teladan, membantu anak untuk memilih panggilan hidupnya, serta memelihara dan memupuk panggilan suci yang mungkin ditemukan dalam diri anak melalui pendidikan yang diterimanya di dalam keluarga seperti:
a. Kebiasaan mengajak anak untuk berdoa bersama.
Anak merupakan peniru ulung. Sifat peniru inilah yang menjadi modal dasar bagi orang tua untuk menanamkan nilai-nilai iman pada diri anak. Sebelum anak dapat berpikir dan memahami hal-hal yang abstrak serta belum sanggup membedakan hal-hal yang baik dan buruk dalam diri mereka, sebaiknya orang tua
sudah membiasakan anak untuk selalu terlibat dalam kegiatan bersama seperti makan bersama, doa bersama, dan rekreasi bersama.
Karena dengan kebiasaan tersebut yang diterima anak dalam keluarga sangat penting dalam pembentukan iman anak. Anak sudah banyak mengetahui dan belajar bagaimana harus berdoa dengan baik walaupun mereka belum terlalu mengikuti cara berdoa dengan baik dan lancar, tetapi kalau dibiasakan untuk selalu hadir dalam doa bersama dan terus menerus mengajarkan mereka secara pelan-pelan tentang tanda salib, doa Bapa Kami, dan doa salam Maria, serta doa singkat dan sederhana yang mudah dihafal dan dimengerti anak, lama kelamaan anak akan berdoa dengan lebih baik dan lancar.
Di sini orang tua tidak bisa memaksakan anak-anaknya dengan caranya sendiri, sebaiknya mengajak anak untuk berdoa melalui sikap dan keteladanan orang tua, dengan demikian anak akan melihat dan meniru apa yang diperbuat oleh orang tuanya seperti yang ditulis oleh Anne Maria Zanzucchi (1995 : 49)
b. Kebiasaan mengajak anak untuk terlibat dalam kegiatan Gereja dan lingkungan.
Pada umumnya orang tua merasa malas dan bosan mengajak anak-anak mereka hadir dalam perayaan misa dan ibadat lingkungan, karena selalu mengganggu suasana doa, akhirnya orang tua memutuskan untuk tinggal di rumah dan tidak mengajak anak lagi untuk hadir dalam perayaan ekaristi dan
ibadat lingkungan, padahal anak yang masih kecil senang sekali untuk diajak bermain dan senang melihat bangunan Gereja yang begitu megah.
Barang- barang kudus yang dilihatnya di dalam Gereja seperti patung, salib, lilin dan bunga bahkan manusia yang dilihatnya begitu banyak. Sifat keingintahuan anak sangat besar dan pasti anak akan banyak bertanya tentang apa saja yang dilihatnya.
Oleh karena itu, orang tua jangan pernah bosan dan malas mengajak anak ke gereja dan menjelaskan satu persatu kepada anak akan arti bangunan Gereja, sikap dalam Gereja, makna perayaan ekaristi, dan bagaimana cara berdoa yang baik.
Apabila orang tua dengan sikap sabar menjelaskan satu persatu kepada anak dengan kata yang halus dan penuh kasih, maka dengan sendirinya anak akan mencoba dan melakukannya dengan baik sesuai dengan apa yang telah diajarkannya kepada mereka. Sehingga suatu saat tiba waktunya untuk menerima komuni pertama atau dipilih menjadi anggota misdinar, dan mengikuti Sekolah Minggu anak tidak merasa kaget lagi karena orang tua sudah menjelaskannya kepada mereka.
Demikian juga dengan keterlibatan anak di lingkungan, apabila orang tua sudah mengajarkan hal-hal baik tentang Tuhan dan sesama, maka dengan sendirinya kebaikan yang diterima anak dalam keluarga akan dibagikan juga di lingkungan seperti sikap berdoa yang baik, sikap menghargai orang yang lebih tua, dan memberi sapaan kepada setiap orang yang dijumpainya.
c. Kebiasaan anak untuk membaca dan mendengarkan sabda Tuhan.
Anak yang masih kecil sama sekali belum mengerti dan menangkap sabda Tuhan yang dibacakan orang tua dalam keluarga saat berdoa bersama, bahkan membaca pun mungkin belum bisa, tetapi terus menerus membiasakan anak untuk hadir bersama serta setia melatih anak-anak membaca Kitab Suci setiap hari sebelum mengadakan doa bersama tentunya akan membantu anak untuk lebih mengerti dan menangkapnya.
Apabila anak sudah bisa membaca dengan baik dan lancar, maka berilah mereka giliran untuk membaca sabda Tuhan secara bergantian setiap malam, dan memberi tugas kepada anak untuk mencari salah satu ayat Kitab Suci yang sangat cocok dengan kehidupan anak, kemudian disharingkan waktu doa bersama. Selain itu juga orang tua dapat menceriterakan kisah dari Kitab Suci, kehidupan Santo-Santa kepada anak-anak sebelum mereka tidur malam, karena dengan ceritera tersebut membantu anak untuk semakin ingat dan meneladani sikap hidup orang kudus dalam kehidupan sehari-hari.
2. Ditinjau Dari Pandangan Gereja.
a. Pendidikan Dilihat Dari Perjanjian Lama.
Sejauh yang penulis temukan dalam Perjanjian Lama tentang isi pendidikan iman anak menurut Kitab Suci. Dalam Perjanjian Lama ( Ul 6 : 6-7 ) dikatakan:
“ Apa yang kuperintahkan kepadamu pada hari ini haruslah engkau perhatikan, haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada
anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau berbaring, dan apabila engkau bangun”
Di sini jelas sekali bagaimana pentingnya tugas dan tanggung jawab orang tua sebagai pendidik iman anak yang pertama dan utama dalam mengajar, membimbing, dan mendidik nilai-nilai iman setiap hari kepada anak-anak sejak mereka lahir sampai dengan menginjak usia dewasa. Pendidikan yang dimaksudkan di sini adalah usaha orang tua untuk menumbuhkembangkan iman anak untuk semakin mengerti, memahami, dan mengenal serta melibatkan diri sepenuhnya akan setiap nasehat-nasehat yang sungguh menyentuh aspek kehidupan mereka setiap hari.
b. Pendidikan Dilihat Dari Perjanjian Baru.
Pendidikan iman yang patut ditiru dan diteladani orang tua kristiani dalam mendidik iman anak-anaknya dalam keluarga adalah Yesus Kristus, Yesuslah yang menjadi pokok iman yang pertama dan utama yang patut diteladani.
Dalam injil (Yoh,15: 9-10) Yesus telah memberikan kasih dan keteladanan yang begitu besar kepada murid-muridnya. Perhatian Yesus akan pendidikan iman lebih tertuju pada suatu relasi yang mendalam. Demikian juga dengan daya-daya kekuatan pada diri anak dalam hidup beriman yang akan ditumbuhkembangkan lebih-lebih yang berkaitan dengan kesanggupan anak untuk memperkuat relasi percaya dan setia dengan orang tua yang akan
membimbing dan menghantar kepada suatu kepercayaan dan penyerahan sepenuhnya kepada Allah.