BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.7 Size
Size atau ukuran perusahaan merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi kinerja perusahaan. Perusahaan besar akan mempertahankan kebesarannya dengan menjaga agar tidak terjadi penurunan nilai saham di pasar modal. Perusahaan yang berukuran besar pada umumnya usahanya lebih terdiversifikasi, lebih mudah dalam mengakses pasar modal, dan membayar tingkat suku bunga rendah (Sartono, 2001).
Berbeda dengan perusahaan besar, perusahaan baru dan yang masih kecil akan mengalami kesulitan untuk memiliki akses ke pasar modal. Kemudahan akses ke pasar modal cukup berarti untuk fleksibilitas dan kemampuannya untuk memperoleh dana yang lebih besar. Ukuran perusahaan menjadi salah satu faktor yang dipertimbangkan oleh investor dalam pengambilan keputusan investasi.
Menurut Febriani (2010):
Ukuran perusahaan adalah ukuran besarnya perusahan yang dilihat dari jumlah aktiva perusahaan. Ukuran perusahaan juga bisa menjadi ukuran mengenai kemungkinan terjadinya kegagalan perusahaan mengembalikan utang. Perusahaan yang lebih besar akan lebih mudah memperoleh pinjaman dibandingkan dengan perusahaan kecil. Hal ini terkait dengan tingkat kepercayaan yang diberikan oleh kreditur kepada perusahaan-perusahaan besar, dibandingkan dengan kepercayaan mereka kepada perusahaan kecil.
Jika perusahaan memiliki total asset yang besar menunjukkan bahwa perusahaan telah mencapai tahap kedewasaan dimana tahap ini arus kas perusahaan sudah positif dan dianggap telah memiliki prospek yang baik dalam jangka waktu yang relatif lama. Selain itu juga mencerminkan bahwa perusahaan relatif lebih stabil dan lebih mampu menghasilkan laba dibanding perusahaan dengan total asset yang kecil.
2.8 Tinjauan Peneliti Terdahulu
Penelitian terdahulu adalah ilmu yang dalam cara berpikir menghasilkan kesimpulan berupa ilmu pengetahuan yang dapat diandalkan, dalam proses berfikir menurut langkah - langkah tertentu yang logis dan didukung oleh fakta empiris. Penelitian ini merupakan pengembangan dari beberapa penelitian yang telah dilakukan oleh peneliti – peneliti sebelumnya.
Pramudya (2007) menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi Price Earning Ratio (PER) dimana variabel yang mempengaruhinya antara lain leverage, return on equity, dividend payout ratio, earning growth. Variabel leverage dan earning growth berpengaruh negatif terhadap price earning ratio
sedangkan variabel return on equity dan dividend payout ratio berpengaruh positif terhadap price earning ratio.
Hayati (2010) dalam penelitiannya yang berjudul “Faktor-faktor yang Mempengaruhi Price Earning Ratio (PER) Sebagai Salah Satu Kriteria Keputusan Investasi Saham Perusahaan Real Estate dan Property di Bursa Efek Indonesia.”
Sebagai variabel independen adalah Earning per Share (EPS), Debt Equity Ratio (DER), Return on Asset (ROA), Return on Equity (ROE) dan Price to Baook Value (PBV). Hasil penelitian menunjukkan bahwa variabel EPS, DER, ROA, ROE berpengaruh terhadap PER sedangkan PBV tidak berpengaruh terhadap PBV.
Ramadhani (2013) dalam penelitiannya yang berjudul “Faktor-faktor yang Mempengaruhi PER”. Variabel independennya antara lain Debt to Equity Ratio (DER), Return On Equity (ROE), Price to Book Value (PBV) dan Size. Penelitian dilakukan terhadap perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2007-2011. Variabel dependen yang digunakan adalah PER. Variabel DER berpengaruh positif dan signifikan terhadap PER,variabel ROE berpengaruh negatif dan signifikan terhadap PER, variabel PBV berpengaruh positif dan signifikan terhadap PER, variabel Size tidak berpengaruh signifikan terhadap PER.
Gulo (2013) dalam penelitiannya yang berjudul “Faktor-faktor yang mempengaruhi PER”. Sebagai variabel independen adalah Dividend Payout Ratio, Size dan Earning Growth. Penelitian dilakukan terhadap Perusahaan Barang Konsumsi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2008-2011. Hasil
menunjukkan bahwasanya secara parsial DPR dan Size berpengaruh signifikan terhadap PER. Sementara earning growth tidak berpengaruh signifikan terhadap PER.
Rahma (2014) dengan judul penelitian “Analisis Variabel Fundamental yang Berpengaruh terhadap Price Earning Ratio (PER) sebagai Dasar Penilaian Saham pada Perusahaan Automotive and Allied yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia”. Dimana variabel independennya adalah ROE, DER, earning per share, earning growth, price to book value dan dividend payout atio. Hasil penelitian menunjukkan bahwa variabel earning growth, debt equity ratio dan return on equity berpengaruh negatif signifikan terhadap price earning ratio, sedangkan dividend payout ratio, price to book value dan earning per share berpengaruh secara positif dan signifikan terhadap price earning ratio.
Penelitian berikutnya dilakukan oleh Zakin (2015), dengan judul penelitian
“Analisis Dividend Payout Ratio (DPR) dan Investment Opportunity Set (IOS) terhadap Price Earning Ratio (PER). Penelitian dilakukan pada perusahaan sektor manufaktur di Jakarta Islamic Index periode 2011-2014. Hasil dari penilitiannya menyatakan bahwa variabel dividend payout ratio tidak berpengaruh terhadap price earning ratio, dan investment opportunity set berpengaruh terhadap price earning ratio.
Kusumadewi (2016) dengan judul penelitian “Pengaruh Likuiditas, Dividend Payout Ratio, Kesempatan Investasi dan Leverage terhadap Price Earning Ratio.”Penelitian dilakukan terhadap perusahaan sektor industri barang konsumsi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2010-2014. Variabel likuiditas dan dividend payout ratio berpengaruh positif tidak signifikan terhadap
PER. Faktor kesempatan investasi berpengaruh positif signifikan terhadap PER dan faktor leverage berpengaruh negatif signifikan terhadap PER.
Dutta (2018) dengan judul penelitian “Determinant of P/E Ratio: An Empirical Study on Listed Manufactured Companies in DSE.”Variabel independen antara lain Dividend Yield, Size, Leverage dan Net Asset Value per Share. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Dividend Yield dan Size berpengaruh negatif dan signifikan terhadap PER sedangkan Leverage dan Net Asset Value per Share berpengaruh secara positif terhadap PER.
Tabel 2.1
Tinjauan Penelitian Terdahulu No Peneliti
(Tahun)
Judul Variabel Hasil Penelitian
1 Pramudya,
Variabel leverage dan earning growth berpengaruh negatif terhadap price earning ratio sedangkan variabel return on equity dan dividend payout ratio berpengaruh positif terhadap price earning ratio.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa variabel EPS, DER, ROA, ROE berpengaruh terhadap PER sedangkan PBV tidak
Variabel DER berpengaruh positif dan signifikan terhadap PER,variabel ROE berpengaruh negatif dan signifikan terhadap PER,variabel PBV berpengaruh positif dan signifikan terhadap PER, variabel Size tidak berpengaruh signifikan terhadap PER.
Hasil menunjukkan bahwasanya secara parsial DPR dan Size berpengaruh signifikan terhadap
Independen/Bebas:
Dividend Payout Ratio, Size dan Earning Growth.
PER. Sementara earning growth tidak berpengaruh signifikan terhadap PER. equity ratio, earning per share, dividend payout ratio, price to book value, dan earning growth
Variabel earning growth, debt equity ratio dan return on equity berpengaruh negatif signifikan terhadap price earning ratio, sedangkan dividend payout ratio, price to book value dan earning per share berpengaruh secara positif dan signifikan terhadap price earning ratio.
Dividen Payout Ratio (DPR) dan Investment Opportunity Set (IOS)
Variabel dividend payout ratio tidak berpengaruh terhadap price earning ratio, dan investment opportunity set berpengaruh terhadap price earning ratio.
7 Kusumade
Variabel likuiditas dan dividend payout ratio berpengaruh positif tidak signifikan terhadap PER.
Faktor kesempatan investasi berpengaruh positif signifikan terhadap PER dan faktor berpengaruh negatif dan signifikan terhadap Price Earning Ratio. Sedangkan Leverage, Net
Assset Value per
Shareberpengaruh secara positif terhadap Price Earning Ratio.
Price Earning Ratio (PER)
(Y)
2.9 Kerangka Konseptual dan Hipotesis Penelitian
2.9.1 Kerangka Konseptual
Berdasarkan latar belakang masalah dan tinjauan teoritis yang telah diuraikan sebelumnya, maka kerangka berpikir penelitian ini adalah sebagai berikut:
Variabel Independen Variabel Dependen
Gambar 2.1 Kerangka Konseptual
Sekaran dalam bukunya Business Research, 1992 dalam (Sugiyono, 2010) mengemukakan bahwa, kerangka konsep merupakan model konseptual tentang bagaimana teori berhubungan dengan berbagai faktor yang telah diidentifikasi sebagai masalah yang penting.Kerangka konsep yang baik akan menjelaskan
Dividend Payout Ratio (DPR) (X1)
Earning Growth (X2)
Price to Book Value (PBV) (X4)
Kesempatan Investasi (X3)
Size (X5)
Ha
secara teoritis pertautan antar variabel yang akan diteliti. Kerangka berfikir dalam suatu penelitian perlu dikemukakan apabila dalam penelitian tersebut berkenaan dua variabel atau lebih. Apabila penelitian hanya membahas sebuah variabel atau lebih secara mandiri, maka yang dilakukan peneliti disamping mengemukakan deskripsi teoritis untuk masing-masing variabel, juga argumentasi terhadap variasi besaran variabel yang diteliti (Sugiyono, 2010).
Dalam penelitian ini, variabel independen atau variabel bebas yang digunakan adalah Dividend Payout Ratio (DPR), Earning Growth, Kesempatan Investasi, Size dan Price to Book Value. Sebagai variabel dependen yaitu Price Earning Ratio (PER). DPR merupakan perbandingan antara deviden per lembar saham dengan laba per lembar saham, semakin besar deviden yang dibagikan maka akan sangat menarik buat investor. Perubahan atas DPR dapat mempengaruhi perubahan PER. Jika DPR tinggi maka PER akan tinggi. Jika earning growth tinggi maka PER juga akan tinggi. Hal ini dapat dijelaskan secara logika, jika suatu perusahaan dengan tingkat pertumbuhan yang tinggi, maka perusahaan ini dianggap tidak mengalami kesulitan untuk membayar deviden kepada investor. Investor yang mengamati tingkat pertumbuhan earning yang tinggi membuat investor mau membayar beberapa kali lipat dari setiap earning perusahaan sehingga PER sahamnya tinggi pula. Tingkat earning growth yang terus menerus menggambarkan tingkat pertumbuhan penjualan perusahaan.
Kesempatan investasi merupakan keputusan investasi dalam bentuk kombinasi antara aktiva yang dimiliki (assets in place) dan opsi investasi di masa yang akan datang, di mana kesempatan investasi tersebut akan memengaruhi nilai
perusahaan. Price to Book Value (PBV) menggambarkan seberapa besar pasar menghargai nilai buku suatu saham. Semakin besar rasio ini menggambarkan kepercayaan pasar akan prospek perusahaan tersebut. PBV menunjukkan seberapa jauh suatu perusahaan mampu menciptakan nilai perusahaan relatif terhadap jumlah modal yang diinvestasikan. Semakin besar rasio, semakin besar nilai pasar (market value) dibandingkan nilai buku (book value). Ukuran (size) perusahaan secara umum menunjukkan kemampuan perusahaan dalam mendanai operasi dan investasi yang menguntungkan bagi perusahaan, sehingga semakin besar sebuah perusahaan maka akan semakin besar pula penjualannya dan berdampak pada laba perusahaan. Peningkatan ini akanberdampak positif pada PER pada masa yang akan datang karena akan dinilai positif oleh para investor.
2.9.2 Hipotesis Penelitian
Menurut Sugiyono (2007) hipotesis penelitian adalah: “penelitian yang menggunakan pendekatan kuantitatif. Pada penelitian kualitatif, tidak dirumuskan hipotesis, tetapi justru diharapkan dapat ditemukan hipotesis. Selanjutnya hipotesis tersebut akan diuji oleh peneliti dengan menggunakan pendekatan kuantitatif”. Sesuai dengan pernyataan tersebut, dapat disimpulkan bahwa hipotesis penelitian merupakan jawaban yang bersifat sementara terhadap masalah penelitian, sampai terbukti melalui data yang terkumpul dan harus diuji secara empiris. Berdasarkan kerangka konseptual di atas maka penulis mencoba merumuskan hipotesis yang merupakan kesimpulan sementara dari penelitian sebagai berikut :
Ha: terdapat pengaruh yang signifikan antara Dividend Payout Ratio (DPR), Earning Growth, Kesempatan Investasi, Price to Book Value dan Size terhadap Price Earning Ratio secara parsial maupun simultan.
H0: tidak terdapat pengaruh yang signifikan antara Dividend Payout Ratio (DPR), Earning Growth, Kesempatan Investasi, Price to Book Value dan Size terhadap Price Earning Ratio secara parsial maupun simultan.
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Jenis Penelitian
Jenis penelitian merupakan kerangka kerja untuk merinci hubungan yang bertujuan untuk mengetahui hubungan variabel bebas dan variabel terikat dalam suatu penelitian. Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah kausal. Desain kausal asosiatif berguna untuk menganalisis hubungan-hubungan antara satu variabel dengan variabel lainnya atau bagaimana suatu variabel memengaruhi variabel lainnya. Penelitian ini menguji pengaruh Dividend Payout Ratio (DPR), Earning Growth, Kesempatan Investasi, Price to Book Value dan Size terhadap Price Earning Ratio (PER).
3.2 Populasi dan Sampel Penelitian
Populasi adalah kumpulan dari elemen-elemen yang mempunyai karakteristik tertentu yang dapat digunakan untuk membuat kesimpulan (Chandarin, 2017:125).
Elemen tersebut dapat berupa orang, manajer, auditor, perusahaan, peristiwa atas segala sesuatu yang menarik untuk diamati/diteliti. Populasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah semua perusahaan barang konsumsi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia tahun 2016 sampai tahun 2018. Populasi dalam penelitian ini berjumlah 47 perusahaan dan tidak semua populasi ini akan menjadi objek penelitian sehingga perlu dilakukan pengambilan sampel.
Populasi yang terdiri atas jutaan elemen tidak mungkin dapat diobservasi semua, oleh karena itu, peneliti menggunakan sampel. Sampel merupakan kumpulan objek yang mewakili populasi (Chandarin, 2017:125). Sampel yang diambil harus mempunyai karakteristik yang sama dengan populasinya danharus mewakili (representative) anggota populasi. Sebagai bagian dari populasi, maka apa yang dipelajari dari sampel itu juga menggambarkan apa yang terjadi pada populasi. Untuk itu sampel yang diambil dari populasi harus betul-betul merepresentasikan populasi dari sampel tersebut. Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan teknik purposive sampling. Pengambilan sampel (purposive sampling) merupakan metode penyampelan dengan berdasar pada kriteria tertentu (Chandarin, 2017:127). Kriteria yang digunakan dapat berdasarkan pertimbangan (judgement) tertentu atau jatah (quota) tertentu.
Sampel yang digunakan dalam penelitian ini dipilih berdasarkan kriteria sebagai berikut:
1. Perusahaan barang konsumsi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia pada periode tahun 2016-2018.
2. Memiliki laporan keuangan yang lengkap dan diaudit pada periode 2016-2018.
3. Perusahaan tersebut tidak didelisting (keluar) dari Bursa Efek Indonesia dari tahun 2016-2018.
4. Perusahaan tersebut menampilkan dividen dalam periode 2016-2018.
Pengamatan terhadap perusahaan yang terpilih sebagai sampel dilakukan selama 3 tahun berturut-turut yaitu tahun 2016, 2017 dan 2018 sehingga berdasarkan kriteria yang telah dikemukakan maka perusahaan yang menjadi
sampel pada penelitian ini berjumlah 20 perusahaan dengan 3 tahun amatan sehingga total sampelnya berjumlah 60 perusahaan (20x3). Daftar perusahaan yang dijadikan sebagai sampel dapat dilihat pada tabel 3.1.
Tabel 3.1 Populasi dan Sampel
No Populasi Kriteria Sampel
1 2 3 4
35 Tempo Scan Pacific Tbk S15
36 Akasha Wira International Tbk x
37 Pt Kino Indonesia Tbk S16
38 Pt Cottonindo AriestaTbk. x x
39 Martina BertoTbk x
40 Mustika RatuTbk x
41 Mandom Indonesia Tbk S17
42 Unilever Indonesia Tbk S18
43 Pt Chitose Internasional Tbk S19
44 Kedaung Indah Can Tbk S20
45 Langgeng Makmur Industri Tbk x
46 Pt Integra Indocabinet Tbk x x
47 Pt Hartadinata Abadi Tbk x
Sumber : data yang diolah penulis 2020
3.3 Jenis Data
Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder. Data sekunder merupakan data yang berasal dari pihak atau lembaga yang menggunakan atau mempublikasinya (Chandarin, 2017:124). Data tersebut diperoleh melalui penelusuran komputerisasi dari situs resmi milik Bursa Efek Indonesia yaitu www.idx.co.id dalam format elektronik (database). Bursa Efek Indonesia dipilih sebagai narasumber utama dalam penelitian ini atas dasar rasionalitas bahwa Bursa Efek Indonesia (BEI )merupakan wadah pasar modal resmi di Indonesia.
3.4 Metode Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data dalam penelitian ini adalah metode dokumentasi.
Pada penelitian ini, pengumpulan data dilakukan dengan dua tahap. Pengumpulan data dimulai dengan tahap penelitian terdahulu yaitu dengan melakukan studi pustaka dengan mempelajari buku – buku dan referensi lain yang berkaitan dengan masalah yang diteliti. Pada tahap kedua, pengumpulan data sekunder yang diperoleh dari
media internet dengan mendownload melalui situs www.idx.co.id untuk memperoleh data mengenai laporan keuangan yang telah dipublikasikan.
3.5 Defenisi Operasional dan Pengukuran Variabel
Variabel – variabel dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Variabel Dependen (Variabel Terikat)
Menurut Jogiyanto (2003), “Definisi operasional adalah menjelaskan karakteristik dari objek ke dalam elemen – elemen yang dapat diobservasi yang menyebabkan konsep dapat diukur dan dioperasionalisasikan di dalam riset.”
Menurut Sugiyono (2007) dilihat dari sudut pandang hubungannya, variabel yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari variabel independen yaitu variabel yang mempengaruhi atau yang menjadi sebab perubahan atau timbulnya variabel dependen, sedangkan variabel dependen adalah variabel yang dipengaruhi atau yang menjadi akibat adanya variabel bebas. Variabel dependen dalam penelitian ini adalah Price Earning Ratio (PER).
Price Earning Ratio (PER) menjelaskan bagaiamna pasar menghargai kinerja dari suatu perusahaan terhadap kinerja suatu perusahaan yang dicerminkan oleh EPS nya.
Rumus price earning ratio adalah sebagai berikut.
PER =
2. Variabel Independen (Variabel Bebas)
Menurut Kuncoro (2003:42), “variabel independen adalah variabel yang dapat mempengaruhi perubahan dalam variabel dependen dan mempunyai hubungan yang positif ataupun yang negatif bagi variabel dependen nantinya”.
Variabel independen dalam penelitian ini adalah:
1. Dividend Payout Ratio (DPR)
Dividend payout ratio (DPR) menunjukkan besarnya tingkat pembayaran
dividen dibandingkan dengan laba per saham yang diperoleh oleh perusahaan pada tahun tertentu. Rasio ini dihitung dengan menggunakan rumus:
DPR=
x 100%
2. Earning Growth
Earning growth adalah tingkat pertumbuhan laba yang diperoleh suatu
perusahaan pada tahun tersebut. Perusahaan yang memiliki pertumbuhan yang terbatas atau pertumbuhan laba yang rendah akan menyebabkan PER yang rendah, sebaliknya perusahaan dengan pertumbuhan laba yang tinggi akan menghasilkan nilai PER yang tinggi. Earning growth ini dapat dirumuskan sebagai berikut:
EG =
3. Kesempatan Investasi
Kesempatan investasi diukur menggunakan proksi MVBVE (Market to book value of equity) Rasio ini mencerminkan bahwa pasar menilai return dari investasi perusahaan di masa depan akan lebih besar dari return yang diharapkan dari ekuitasnya (Watts 1996). Hal ini berarti jumlah saham beredar yang dikalikan
dengan harga penutupan saham sebagai penilaian pasar dibagi dengan total ekuitas perusahaan.
Rumus MVBVE adalah:
4. Price to Book Value
Menurut Darmadji (2012:157) Price to Book Value Ratio Ratio atau PBV merupakan suatu rasio yang dapat menggambarkan seberapa besar pasar menghargai nilai buku saham suatu perusahaan.
Rasio ini dihitung dengan rumus:
PBV=
5. Size
Size atau ukuran perusahaan merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi kinerja perusahaan. Perusahaan besar akan mempertahankan kebesarannya dengan menjaga agar tidak terjadi penurunan nilai saham di pasar modal. Perusahaan yang berukuran besar pada umumnya usahanya lebih terdiversifikasi, lebih mudah dalam mengakses pasar modal, dan membayar tingkat suku bunga rendah (Sartono, 2001). Ukuran perusahaan dapat dihitung dengan rumus :
Size = Ln of Total Assets
Tabel 3.2
Defenisi operasional dan pengukuran variabel
No Variabel Defenisi Operasional Pengukuran Skala
1 Dividend perusahaan pada tahun tertentu. perusahaan pada tahun tersebut. harga penutupan saham dengan total ekuitas.
seberapa besar pasar menghargai nilai buku saham suatu perusahaan.
Rasio 5 Size Total Asset yang dimiliki
perusahaan pada akhir
tahun tertentu. Ln of Total Asset Rasio
6 Price
Earning Ratio
menjelaskan bagaimana pasar menghargai kinerja dari suatu perusahaan terhadap kinerja suatu perusahaan yang dicerminkan oleh EPS nya.
Rasio
3.6 Metode Analisis Data
Metode analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode analisis statistik dengan menggunakan program SPSS (Statistic Product and Service Solution). Sebelum melakukan hipotesis, terlebih dahulu peneliti melakukan uji asumsi klasik. Pengujian uji asumsi klasik yang dilakukan terdiri dari: uji normalitas, uji multikolinearitas, uji autokorelasi dan uji heterokedastisitas.
3.6.1 Pengujian Asumsi Klasik
a. Uji Normalitas
Uji ini digunakan dalam tahap awal dalam metode pemilihan analisis data.
Jika data normal digunakan uji parametik dan jika data tidak normal digunakan non parametik atau treatment agar data normal. Menurut Umar (2009:181), “uji normalitas bertujuan untuk mengetahui apakah variabel dependen, independen atau keduanya berdistribusi normal, mendekati normal atau tidak”. Deteksi normalitas dapat dilakukan dengan melihat penyebaran data (titik) pada sumbu diagonal dari grafik.
Menurut Ghozali (2006:112), dasar pengambilan keputusan dari uji normalitas adalah:
1) Jika data menyebar disekitar garis diagonal dan mengikuti arah garis diagonal, maka model regresi memenuhi asumsi normalitas.
2) Jika data menyebar jauh dari garis diagonal dan atau tidak mengikuti arah garis diagonal, maka model regresi tidak memenuhi asumsi normalitas.
Untuk menguji normalitas data, peneliti juga menggunakan uji Konglomorov Smirnov yaitu:
Jika ρ value (Asymp. Sig) ≤ α (0,05) maka data berdistribusi tidak normal
Jika ρ value (Asymp. Sig) ≥ α (0,05) maka data berdistribusi normal.
b. Uji Multikolinearitas
Uji multikolinearitas berhubungan dengan adanya korelasi antara variabel independen. Sebuah perusahaan terjangkit penyakit ini bila dua atau lebih variabel independen memiliki tingkat korelasi yang tinggi (Gujarati, 1995). Sebuah persamaan regresi dikatakan baik bila persamaan tersebut memiliki variabel independen yang saling tidak berkorelasi. Semakin rendah korelasi antar variabel independen, maka persamaan tersebut akan semakin baik. Uji ini harus dilakukan bila kita ingin mendapatkan hasil yang baik dan menggunakan persamaan regresi tersebut sebagai penduga atau estimator (Syamsul Hadi 2006:168).
Deteksi adanya multikolinearitas adalah:
1. Besaran VIF (Variance Inflation Factor) dan Tolerance
Model regresi yang bebas dari multikolineritas adalah mempunyai nilai VIF
<10 dan mempunyai angka tolerance >0,1 2. Besaran korelasi antara variabel independen
Pedoman suatu regresi yang bebas dari multikolinearitas adalah koefisien korelasi antara variabel independen haruslah lemah yaitu dibawah 0,05. Jika korelasi kuat maka terjadi problem multikolinearitas
c. Uji Autokorelasi
Masalah autokorelasi akan muncul bila data yang dipakai adalah data runtut waktu (time series). Uji autokorelasi dilakukan untuk mengetahui apakah dalam sebuah model regresi linear terdapat hubungan yang kuat baik positif maupun negatif antar data yang ada pada variabel-variabel penelitian (Umar, 2009:182).
Ada beberapa cara yang dapat digunakan untuk mendeteksi ada atau tidaknya autokorelasi (Ghozali, 2006:96):
1. Uji Durbin-Watson (DW test)
Uji Durbin-Watson hanya digunakan untuk autokorelasi tingkat satu (first order auto correlatoon) dan mensyaratkan adanya intercept (kostanta) dalam model regresi dan tidak ada variabel lag diantara variabel independen 2. Uji Lagrange Multiplier (LM test)
Uji autokorelasi dengan LM test terutama digunakan untuk sample besar diatas 100 observasi. Uji ini memang lebih dapat digunakan dengan uji DW test terutama bila sampel yang digunakan relatif besar dan derajat autokrelasi lebih dari satu.
3. Uji Statistics Q: Box –Pierce dan Ljung Box-Pierce, digunakan untuk melihat autokorelasi dengan lag lebih dari dua.
d. Uji Heterokedastisitas
Uji heterokedastisitas bertujuan untuk melihat apakah didalam model
Uji heterokedastisitas bertujuan untuk melihat apakah didalam model