4.5 Struktur Agro-Ekologi dan Pola Produksi Lokal
4.5.3 Skala Usaha Tani untuk Beberapa Komoditas
Untuk memahami gambaran umum pola penggunaan input-input produksi seperti pupuk, bibit dan tenaga kerja, berikut akan ditampilkan beberapa skala usaha tani beberapa komoditas yang terdapat di dua lokasi dari hasil penelusuran yang berhasil dihimpun oleh salah seorang tenaga pendamping oragnisasi tani lokal (OTL) dan peneliti dalam bentuk tabel dibawah ini. Pada lokasinya yang terletak di dua hamparan yang berbeda, yakni hamparan Cikuray (desa Dangiang) dan Papandayan (desa Sukatani), pola pemanfaatan lahan, teknik budidaya dan pilihan komoditas utama yang diusahakan di dua lokasi tersebut menunjukkan ciri atau bentuk yang berbeda namun masih menunjukkan berbagai pola yang sama. Di desa-desa yang terletak di hamparan Cikuray, komoditas tanaman tahunan
16
Pasca operasi Walaga Lodaya pada tahun 2003, PT. Perhutani membentuk kelembagaan pengelolaan kawasan hutan yang melibatkan petani penggarap dalam pemanfaatan lahan yang dikenal dengan PHBM. Model PHBM ini kemudian lebih banyak diakses oleh para elite desa yang meninggalkan lahan garapan akibat adanya operasi tersebut. Menurut informasi yang didapatkan di lapangan, skema PHBM sesungguhnya tidak memperkenankan menanam tanaman sayuran.
Akar Wangi menjadi pilihan warga petani pada umumnya. Sementara pada petani di desa-desa hamparan Papandayan, pertanian tanaman hortikultura seperti, kol, kentang, tomat, wortel, dan sebagainya menjadi komoditas utama pilihan petani.
Tanaman Akar Wangi
Tanaman Akar Wangi merupakan salahsatu komoditas unggulan yang baru dikembangkan sesuai dengan keputusan Bupati Kabupaten Garut Nomor: 520/SK.196-HUK/96 tanggal 6 Agustus 1996, yang diantaranya menetapkan luas areal perkebunan Akar Wangi dan pengembangannya oleh masyarakat seluas 2.400 Ha dan tersebar di empat kecamatan, yaitu kecamatan Samarang seluas 750 Ha, Kecamatan Bayongbong seluas 210 Ha, Kecamatan Cilawu seluas 240 Ha, dan Kecamatan Leles seluas 750 Ha.
Tanaman akar wangi merupakan salahsatu bahan baku pembuatan kosmetik, parfum maupun sabun. Tanaman ini memiliki periode tanam hingga siap panen sekitar 10 bulan. Namun apabila petani memiliki keperluan mendesak, maka akar wangi dapat dipenen pada umur 7-8 bulan. Umumnya, waktu tanam akar wangi dilakukan pada musim hujan yakni pada bulan Januari dan panen dilaksanakan pada musim kemarau.
Untuk biaya tenaga gali dan angkut, umumnya diluar biaya produksi yang ditanggung oleh petani melainkan menjadi tanggungan para bandar (penampung). Untuk biaya bibit hanya berlaku ketika pertama kali penanaman. Pada periode tanam selanjutnya, petani sudah tidak mengeluarkan biaya pembelian bibit. Biasanya, setiap panen petani menyisakan sekitar 20 persen dari hasil panen untuk dijadikan bibit.
Dari luasan 6.400 m2 tersebutdapat menghasilkan produksi akar wangi
rata-rata 10 ton dengan harga jual 15 ribu rupiah/kg. Dengan demikian hasil yang diterima petani sebelum dikurangi dengan biaya produksi (pendapatan kotor) sekitar 15 juta rupiah. Setelah dikurangi dengan biaya produksi sebesar 4,14 juta
maka pendapatan bersih yang diterima petani sekitar Rp. 10.860.000,00 (Tabel
4.8). Karena rata-rata petani melakukan sistem tumpang sari, maka sumber
pendapatan petani juga ditunjang oleh panen dari tanaman tumpang sari seperti tembakau, sayur-sayuran dan sebagainya.
Tabel 4.8. Biaya Produksi Budidaya Akar Wangi untuk Luasan 6.400 m2
No Uraian Banyaknya Rp Jumlah Keterangan
1 Bibit 1 ton 2.000/kg 2.000.000
2 Pupuk hitam 640.000 Kandang
3 Upah tenaga kerja ngored
800.000
4 Upah tenaga kerja nyukcruk
40 org 17.500/org 700.000
5 Upah gali akar wangi Bandar
6 Upah angkut akar wangi Bandar
Jumlah 4.140.000
Tanaman Kentang
Dari luas 1 Ha tanaman kentang dapat menghasilkan produksi minimal 25 ton. Hasil produksi dijual ke pihak tengkulak dengan harga rata-rata minimal 3 ribu rupiah/kg. Dengan demikian pendapatan bersih (setelah dikurangi biaya produksi) yang diterima petani sekitar 19,9 juta/panen. Bila dalam setahun minimal petani bisa mendapatkan dua kali masa panen maka dalam setahun pendapatan petani dari budidaya kentang seluas 1 Ha bisa mencapai 39,9 juta/tahun atau rata-rata 3,3 juta/bulan. Dengan membanding antara pendapatan (revenue/R) dengan biaya produksi (cost/C) maka nilai R/C budidaya kentang adalah 1,36. Untuk keperluan bibit, saat ini beberapa petani sudah dapat memproduksi sendiri tanpa perlu membeli ke bandar.
Tabel 4.9. Biaya Produksi Budidaya Kentang untuk Luasan 1 Ha
No Uraian Banyaknya Rp Jumlah Keterangan
1 Bibit 2 ton 10.000/kg 20.000.000 Bibit biasa
2 Pupuk hitam 300 karung 20.000/karung 6.000.000 Kandang
3 Pupuk urea 4 ton 1.500/kg 6.000.000 ZATS
4 Obat tepung 50 bungkus 100.000/bks 5.000.000
5 Obat tepung dakonil 20 bungkus 150.000 3.000.000
6 Obat cair colixtron 20 botol 80.000/btl 1.600.000 Pembasmi hama
7 Obat cair guntur 4 botol 1.500.000/btl 6.000.000 Pembasmi hama
8 Upah tenaga kerja mencangkul
100 jiwa 15.000/org 1.500.000 Laki – laki
9 Upah tenaga kerja nyukcruk/nyauer
200 jiwa 10.000/jiwa 2.000.000 Perempuan
10 Upah angkut 2 ton 200/kg 4.000.000 Pasca panen
Jumlah 55.100.000
Tanaman Wortel
Dari luas 1 Ha tanaman wortel dapat menghasilkan produksi minimal 30 ton per panen (4 bulan). Hasil panen dapat dijual ke pihak tengkulak dengan harga 500 hingga 1.000 rupiah per kilogram. Dengan demikian, dari hasil produksi 30
ton tersebut, pendapatan bersih (setalah dikurangi biaya produksi) yang diterima petani dengan bisa mencapai 4,6 juta hingga 19,6 juta per panen dengan kisaran nilai R/C budidaya wortel adalah 1,44 sampai dengan 2,88. Untuk keperluan bibit, umumnya petani sudah tidak perlu membeli ke bandar. Selain itu, menurut pengakuan beberapa orang warga, budidaya tanaman wortel lebih mudah, proses perawatan tidak membutuhkan banyak waktu dan tenaga kerja yang dibutuhkan relatif sedikit atau masih dapat dilakukan dengan hanya menggunakan tenaga kerja keluarga.
Tabel 4.10. Biaya Produksi Budidaya Wortel untuk Luasan 1 Ha
No Uraian Banyaknya Rp Jumlah Ket
1 Bibit 25 bungkus 30.000/bks 750.000
2 Upah tenaga kerja mencangkul
100 jiwa 15.000/org 1.500.000 Laki – laki
3 Upah tenaga kerja bersihkan rumput
200 jiwa 10.000/org 2.000.000 Perempuan
4 Pupuk urea 1 kwintal 150.000
5 Upah angkut 30 ton 200/kg 6.000.000 Pasca panen
Jumlah 10.400.000
Tanaman Kol
Dari luas lahan 1 Ha dapat menghasilkan produksi kol rata-rata minimal 20 ton per panen (100 hari). Dengan harga jual yang berlaku di tengkulak sebesar Rp. 1.000/kg maka pendapatan bersih yang diterima petani berkisar 3,9 juta dengan nilai R/C budidaya kol adalah 1,25. Hingga saat ini, keperluan bibit kol seluruhnya masih disuplai oleh bandar atau petani masih harus membeli bibit ke bandar.
Tabel 4.11. Biaya Produksi Budidaya Kol untuk Luasan 1 Ha
No Uraian Banyaknya Rp Jumlah Ket
1 Bibit 17.500 pohon 50/pohon 875.000 1 patok = 700
pohon, 700 pohon x 25 patok
2 Pupuk hitam 300 karung 20.000/krng 6.000.000 Kandang
3 Pupuk putih 4 ton 1.500/kg 6.000.000 Urea
4 Obat laser 10 botl 90.000/btl 900.000
5 Upah tenaga kerja nyangkul
100 jiwa 15.000/org 1.500.000 Laki – laki
Upah tenaga kerja membuat lubang
50 jiwa 15.000 750.000 Laki – laki
6 Upah angkut barang 20 ton 200/kg 4.000.000 Pasca panen
Tanaman Tomat
Dari luas lahan 1 Ha dapat menghasilkan produksi tomat minimal 25 ton per panen. Apabila harga jual yang berlaku 2 ribu/kg maka dengan demikian pendapatan bersih yang di terima petani dapat mencapai 11,4 juta rupiah per panen (5 bulan) dengan nilai R/C adalah 1,3. Sama halnya dengan kol, saat ini petani masih harus membeli bibit kepada bandar atau pedagang saprodi.
Tabel 4.12. Biaya Produksi Budidaya Tomat untuk Luasan 1 Ha
No Uraian Banyaknya Rp Jumlah Keterangan
1 Bibit 20 bungkus 115.000/bks 3.300.000 1 patok = 700
pohon, 700 pohon x 25 patok
2 Pupuk hitam 300 karung 20.000/krng 6.000.000 Kandang
3 Pupuk putih 4 ton 1.500/kg 6.000.000 Urea
4 Ajir 25.000 ajir 150/ajir 3.750.000
5 Obat semprot 30 botol 100.000/botol 3.000.000
6 Obat cair 40 botol 100.000/botol 4.000.000
7 Obat Daconil 20 botol 150.000/btl 3.000.000
8 Upah tenaga kerja nyangkul
100 jiwa 15.000/jiwa 1.500.000 Laki – laki
9 Upah tenaga kerja 300 jiwa 10.000/jiwa 3.000.000 Perempuan
10 Upah angkut barang 25 ton 200/kg 5.000.000 Pasca panen
Jumlah 38.550.000
Ditinjau dari analisa usahatani berdasarkan komoditas utama yang diusahakan warga di kedua desa, maka nilai R/C yang paling tinggi secara
berturut-turut adalah akar wangi (3,62-7,01) dan wortel (1,44-2,88) (Tabel 4.14).
Hal ini menunjukkan bahwa, usaha pertanian di tingkat rumah tangga petani masih mampu memberikan nilai surplus. Pertanyaan yang muncul kemudian, apa yang menyebabkan kemiskinan masih menghinggapi rumah tangga pertanian di dataran tinggi Garut?
Tabel 4.13. Perbandingan R/C dari setiap komoditas yang diusahakan Komoditas Pendapatan Kotor Biaya Produksi Pendapatan Bersih Rasio Keterangan R C R-C R/C Akar Wangi (6400 m2)
15.000.000 4.140.000 10.860.000 3,62 Panen pertama kali 15.000.000 2.140.000 12.860.000 7,01 Panen berikutnya
Kentang 75.000.000 55.100.000 19.900.000 1,36 Luasan 1 Ha
Wortel (1 Ha)
15.000.000 10.400.000 4.600.000 1,44 Harga jual 500/kilo 30.000.000 10.400.000 19.600.000 2,88 Harga jual 1000/kilo
Kol 20.000.000 16.025.000 3.975.000 1,25 Luasan 1 Ha
Adapun pola produksi dan budidaya lokal khususnya di lahan pendudukan
warga (reclaiming), baik di desa Dangiang maupun Sukatani, mayoritas petani
menerapkan sistem tanam tumpang sari. Yang membedakan di dua lokasi tersebut adalah jenis dan variasi tanaman tumpang sari dan jenis tanaman tegakan serta periodesasi pemanfaatan lahan yang dalam hal ini sangat dipengaruhi jenis tanaman, faktor musim dan ketersediaan air. Perbandingan pola pemanfaatan
lahan dan jenis komoditas yang diusahakan di dua lokasi ditunjukkan pada Tabel
4.14.
Tabel 4.14. Perbandingan Pola Pemanfaatan Lahan di Dua Lokasi
No Uraian Desa Dangiang Desa Sukatani
1 Jenis tanaman tegakan
Kopi, kalices dan jengjeng. Jengjeng, Kopi, Nangka, Alpukat dan Afrika. Kalices dihindari oleh petani karena menyerap air terlalu besar 2 Strategi
Ekstensifikasi Lahan
Perluasan kawasan budidaya pertanian mulai merambah kawasan
leuweung tutupan. Pembelian maupun gadai bagi rumah tangga petani yang telah mampu membentuk surplus.
Melalui pembelian maupun gadai bagi rumah tangga petani yang telah mampu membentuk surplus
3 Komoditas utama yang diusahakan petani
Akar wangi Tanaman sayuran.
4 Komoditas lain yang telah dan akan diusahakan petani
Tembakau dan tanaman sayuran lainnya. Ke depan akan ditanam kopi sebagai tumpang sari, khususnya untuk lahan pada kemiringan kritis.
Tanaman tahunan khususnya di areal garapan di daerah kehutanan .
5 Pola Tanam Tumpang sari dengan tanaman syuran dan tembakau. Dalam 1 tahun, terdapat 3 masa panen, yakni panen kentang, tembakau dan akar wangi.
Tumpang sari dengan taaman sayuran. Siklus tanam terbatas. Yakni hanya di musim hujan atau lahan yang terdekat dengan sumber air. 6 Ketergantungan
akan kebutuhan air
Relatif tinggi, khususnya untuk tanaman tumpang sari (tanaman sayuran dan padi)
Sangat tinggi, khususnya daerah-daerah yang jauh dengan
perkampungan dan atau sumber air
7 Penggunaan Pupuk Kimia dan Organik Umumnya Pupuk Kimia. Permintaan
komoditas sayuran yang sangat besar menyebabkan pola penanaman tanaman sayuran menggunakan pupuk kimia yang intensif
4.6. Ikhtisar
Kabupaten Garut dengan luas tanah permukaan sekitar 306.519 Ha (3.065,19 km²) merupakan kabupaten di Jawa yang memiliki persentase luas wilayah kehutanan dan perusahaan perkebunan besarnya tertinggi, yakni 50
persen dari keseluruhan wilayah kabupaten. Penguasaan hutan terluas dipegang oleh Perhutani Unit III KPH Garut, yaitu sekitar 31,42 persen atau seluas 96.305,33 Ha. Selanjutnya, penguasaan hutan oleh BKSDA Sub Garut sekitar 4,28 persen atau seluas 13.111,50 Ha, yang meliputi hutan Konservasi atau Cagar Alam 17.215,15 Ha dan Taman Wisata Alam 748,65 Ha.
Sedangkan luas kawasan Perkebunan besar di Kabupaten Garut sekitar 25.300,0054 Ha atau 11,67 persen dari total luas wilayah yang terdiri dari Perkebunan Swasta 12.029,315 Ha dan Perkebunan Negara seluas 13.270,6903 Ha. Di luar wilayah sawah yang meliputi 49.812 Ha atau 16,29 persen, tata guna lahan pertanian rakyat di Garut kebanyakan berupa lahan kering (tegalan dan kebun campuran) seluas 97.401 Ha atau 31,78 persen dari luas wilayah.
Sebagai salahsatu Kabupaten di Propinisi Jawa Barat, kontribusi nilai tambah di Kabupaten Garut dominan disumbang oleh sektor pertanian yang mencapai 48,03 persen. Hal ini sangat beralasan mengingat kondisi topografi wilayahnya yang sebagian besar merupakan dataran tinggi atau perbukitan yang berada disekitar kawasan gunung berapi dengan kondisi lahan pertanian memiliki tingkat kesuburan yang baik. Bila dilihat dari angkatan kerja yang bekerja di sektor pertanian mayoritas merupakan kategori penduduk yang tidak pernah mengenyam pendidikan dasar atau paling tidak hanya sampai pendidikan tingkat dasar (SD).
Berdasarkan kondisi topografi dan riwayat penguasaan lahan, di dua lokasi studi (desa Dangiang dan Sukatani) merupakan contoh desa-desa di dataran tinggi Garut dimana areal lahan pertanian warga berdampingan dengan pola penguasaan kawasan oleh perusahaan perkebunan dan kehutanan negara. Jika di desa Dangiang areal pertanian warga berdampingan dengan perkebunan teh PTPN VIII Dayeuh Manggung, di desa Sukatani merupakan salahsatu desa di kecamatan Cisurupan dimana posisi areal lahan pertanian warga berdampingan dengan areal kehutanan klaim PT. Perhutani.
Masuknya bentuk-bentuk pengusaan lahan oleh perusahaan perkebunan dan kehutanan milik negara dikemudian hari turut mendorong lahirnya bentuk-bentuk
tergabung dalam organisasi tani lokal (OTL) Serikat Petani Pasundan (SPP). Khusus di desa Sukatani, selain OTL SPP, terdapat kelembagaan lain yakni PHBM (Pengelolaan Hutan Berbasis Masyarakat) yang dibentuk oleh PT. Perhutani dalam mengatur dan mengontrol akses warga terhadap lahan kehutanan.
Adapun pola produksi dan budidaya lokal khususnya di lahan pendudukan
warga (reclaiming), baik di desa Dangiang maupun Sukatani, mayoritas petani
menerapkan sistem tanam tumpang sari. Yang membedakan di dua lokasi tersebut adalah jenis dan variasi tanaman tumpang sari dan jenis tanaman tegakan serta periodesasi pemanfaatan lahan yang dalam hal ini sangat dipengaruhi jenis tanaman, faktor musim dan ketersediaan air. Sementara dari analisa usahatani berdasarkan komoditas utama yang diusahakan warga di kedua desa, maka nilai R/C yang paling tinggi secara berturut-turut adalah akar wangi (3,62-7,01) dan wortel (1,44-2,88). Hal ini menunjukkan bahwa, usaha pertanian di tingkat rumah tangga petani di kedua desa masih mampu memberikan nilai surplus. Pertanyaan yang muncul kemudian, apa yang menyebabkan kemiskinan menghinggapi rumah tangga pertanian di kedua desa dataran tinggi Garut?
Menjawab pertanyaan diatas, pada bagian selanjutnya akan diuraikan secara lebih jauh mengenai situasi kemiskinan serta proses marginalisasi yang hadir dalam sejarah perkembangan hubungan produksi dan distribusi komunitas petani di kedua desa dataran tinggi Garut.
PEDESAAN DATARAN TINGGI GARUT
5.1. Tipologi Tingkat Perkembangan Desa
Pada bagian sebelumnya (Bab 4) telah dipaparkan bahwa Kabupaten Garut merupakan salah satu kabupaten di Jawa Barat yang menjadi sentra pengembangan minyak Akar Wangi serta pemasok kebutuhan sayuran dibeberapa pasar luar Jawa Barat. Dari analisa usahatani berdasarkan komoditas utama (hortikultura dan akar wangi) yang diusahakan warga di kedua desa menunjukkan, usaha pertanian di tingkat rumah tangga petani di kedua desa masih mampu memberikan nilai surplus. Namun masuknya bentuk-bentuk penguasaan lahan di dataran tinggi Jawa Barat oleh para pemilik modal besar (perusahaan perkebunan dan kehutanan negara) mempengaruhi kondisi kemiskinan rumah tangga petani.
Semangat rejim orde baru meningkatkan pertumbuhan ekonomi dengan
asumsi menetes ke bawah (trickle down effect) melalui strategi pembangunan
industri padat modal di perkotaan dan peningkatan kinerja ekspor, satu sisi telah menunjukkan kinerja positif pembangunan ekonomi dalam skala makro. Namun di sisi yang lain telah meninggalkan, membiarkan atau meminggirkan persoalan ketimpangan sosial-ekonomi di pedesaan. Dalam tulisannya yang bertajuk “Modernization without Development in Rural Java” Sajogyo (1973)
menyatakan, “Revolusi Hijau”17 merupakan suatu bentuk modernisasi di pedesaan
yang hanya menguntungkan petani lapisan atas di desa sementara petani lapisan bawah, petani gurem dan buruh tani tertinggal dalam agenda pembangunan.
17
Istilah “Revolusi Hijau” mulai dikenal di Indonesia sejak tahun 1960-an, pada dasarnya mengacu kepada program intensifikasi pertanian tanaman pangan lewat introdusir teknologi baru dalam teknik pertanian (agronomi). Namun dalam pelaksanaannya, siapa dan golongan petani mana yang memanfaatkan dan menikmati program tersebut tidak terlalu dirisaukan; landasan pikir utamanya ialah produksi harus naik, soal pembagian hasil, nanti diatur oleh mekanisme pasar sendiri. Dalam karangannya yang berjudul “The Green Revolution Cornucopia or Pandora’s Box”, Clifton Wharton (1969) mengilustrasikan istilah Revolusi Hijau sebagai Kotak Pandora yang mengandung ketidakpastian; segala sesuatu bisa keluar atau muncul dari Kotak Pandora tersebut. (Tjondronegoro 1989)
Seperti yang diutarakan oleh White (1990), penduduk pedesaan di Jawa dicirikan oleh luas rata-rata skala usahatani yang sangat kecil, tingkat ketuna-kismaan yang tinggi, sebaran atas pemilikan maupun penguasaan atas lahan yang tidak merata serta adanya konsentrasi kemiskinan yang relatif tinggi dibanding daerah-daerah lainnya di Indonesia. Dari berbagai studi mikro sejak tahun 1970an menunjukkan adanya pola nafkah ganda (kombinasi kegiatan pertanian dan non pertanian) di tingkat rumah tangga petani (RTP) yang tidak hanya dilakukan RTP lapisan terbawah (petani gurem dan buruh tani) melainkan juga dilakukan oleh RTP lapisan atas di desa. Namun yang membedakan terletak pada pilihan strategi nafkah dari masing-masing lapisan. Pada RTP lapisan bawah, dorongan utama dirinya mencari nafkah diluar sektor pertanian karena tidak tersedianya kesempatan kerja dalam pertanian sehingga mereka terpaksa mencari tambahan penghasilan diluar sektor pertanian meski dengan imbalan yang lebih rendah, atau
oleh White diistilahkan sebagai “push factor” (Sajogyo dan Tambunan 1990).
Anomali pembangunan pertanian dan pedesaan baik melalui agenda revolusi hijau maupun kehadiran perusahaan perkebunan dan kehutanan negara juga tampak pada tingkat perkembangan desa-desa di Kabupaten Garut. Sebagaimana akan ditunjukkan pada bagian selanjutnya mengenai tipologi tingkat perkembangan desa berdasarkan pengolahan data Podes Kabupaten Garut tahun
2008.18 Dengan mengkombinasikan kedua komponen atau faktor hasil reduksi
data Potensi Desa Kabupaten Garut Tahun 2008 yakni : 1) Tingkat aksesbilitas; dan 2) Tingkat keberdayaan ekonomi mayoritas penduduk desa, di Kabupaten Garut terdapat empat tipe desa yang menggambarkan tingkat perkembangan desa (Tabel 5.1). Keempat tipe desa di Kabupaten Garut adalah sebagai berikut :
1. Tipe 1: desa yang memiliki aksesbilitas dan tingkat keberdayaan ekonomi warga yang relatif tinggi,
2. Tipe 2 : desa yang memiliki aksesbilitas kurang baik namun tingkat keberdayaan ekonomi penduduk relatif tinggi,
18
Menggunakan metode analisis faktor (Principal Component Analysis). Untuk mempermudah pengintepretasian hasil, pada umumnya digunakan hanya dua faktor sehingga posisi individu dapat digambarkan dalam ruang berdimensi dua (Susetyo 1990).
3. Tipe 3 : desa yang memiliki aksesbilitas kurang baik dan tingkat keberdayaan ekonomi penduduk masih relatif rendah (tingkat perkembangan desa yang paling tertinggal)
4. Tipe 4 : desa yang memiliki aksesbilitas baik namun tingkat keberdayaan ekonomi penduduknya masih relatif rendah (miskin). Tabel 5.1. Matriks Tipologi Desa di Kabupaten Garut Tahun 2008
Keberdayaan Ekonomi Warga Aksesbilitas Tinggi (Sejahtera) Rendah (Miskin) Jumlah
Baik (terbuka) 52 desa Tipe 1
(12,26%) Tipe 4 94 desa (22,17%) 146 desa (34,43%)
Kurang baik (terisolir) 109 desa Tipe 2
(25,71%) Tipe 3 169 desa (39,86%) 2 desa penelitian 278 desa (65,57%) Jumlah 161 desa (37,97%) 263 desa (62,03%) 424 desa (100%)
Sumber : diolah dari data Potensi Desa (Podes) Tahun 2008
Pada Tabel 5.1 tampak bahwa mayoritas desa-desa atau sekitar 39,86
persen (169 desa) di Kabupaten Garut masuk dalam kategori tipe 3 (tiga) yakni desa yang tingkat perkembangannya paling tertinggal dalam hal aksesbilitas (infrastruktur) dan rendahnya tingkat keberdayaan ekonomi penduduk (miskin). Meskipun menurut laporan BPS Kabupaten Garut, pada tahun 2007 sektor pertanian merupakan penyumbang terbesar (48,03%) terhadap PDRB Kabupaten Garut, persentase tersebut sesungguhnya tidak menunjukkan hubungan yang positif dengan tingkat perkembangan desa pertanian (desa yang sumber penghidupan utama mayoritas warganya berasal dari pertanian) yang umumnya
merupakan desa kategori tipe 3 atau sekitar 194 desa (45,8%) (Tabel 5.2).
Ditinjau dari tingkat keberdayaan ekonomi penduduk, mayoritas desa atau sekitar 263 desa (62,03%) di Kabupaten Garut masuk dalam kategori desa miskin.
Sementara dari 395 desa yang diidentifikasi sebagai desa pertanian19, 259 desa
19
Kategori desa pertanian yang dimaksud adalah desa yang sumber penghasilan utama mayoritas warganya berasal dari pertanian.
(65,57%) diantaranya merupakan desa yang mayoritas warganya masuk kategori miskin. Fakta ini menandakan bahwa konsentrasi penduduk atau kantung-kantung kemiskinan berada di wilayah pedesaan berbasis pertanian. Argumen ini sangat kontras dengan padangan Bank Dunia (2008) yang tercermin dalam publikasinya
yang bertajuk The World Development Report 2008: Agriculture for Development
yang menyebutkan bahwa angka kemiskinan di pedesaan Indonesia memiliki tren yang terus menurun (World Bank, 2008).
Dalam laporan yang dirilis Bank Dunia tersebut digambarkan situasi penurunan angka kemiskinan di pedesaan Indonesia bersandar pada tiga jalur utama, yakni: usahatani komersil, diversifikasi nafkah rumah tangga petani dan pengerahan tenaga kerja upahan (pertanian dan non pertanian), serta migrasi keluar desa. Indonesia dan sebagian negara Asia lainnya dimasukkan dalam kategori negara yang sedang mengalami transformasi struktural dengan ditandai pergeseran peran pertanian kepada sektor industri dan jasa disatu sisi dan diikuti oleh penurunan jumlah penduduk miskin di pedesaan.
Oleh beberapa pakar, jawaban atas tingginya sumbangan angka kemiskinan penduduk di pedesaan berbasis pertanian dan semakin meningkatnya angkatan kerja pedesaan yang bekerja diluar sektor pertanian (ditandai arus besar migrasi penduduk ke kota) adalah mendorong proyek-proyek pembangunan industri non
pertanian yang dapat menyerap angkatan kerja dari pedesaan.20 Kesimpulan yang
sangat reduksionis semacam ini akan menghilangkan jejak ketimpangan dari praktek-pratek kebijakan pembangunan pedesaan lewat agenda revolusi hijau
yang bias tuan tanah (landlord bias) dan bias kota (urban bias).21
20
Dalam sebuah diskusi membedah visi ekonomi Capres 2009-2014 yang ditayangkan oleh Metro TV, seorang tim ekonom salahsatu kandidat presiden menyatakan, meskipun sektor pertanian masih merupakan sektor yang banyak menyerap angkatan kerja di pedesaan, namun dirinya sudah tidak mampu memberikan tingkat pendapatan yang layak bagi petani mengingat rata-rata penguasaan tanah di Jawa tergolong kecil. Dengan kata lain, pembangunan pertanian tidak lain adalah membiarkan kemiskinan terus mengjangkiti masyarakat pedesaan. Oleh karena itu, politik kebijakan anggaran sudah saatnya bergeser dan mengarah kepada pengembangan sektor-sektor industri yang dapat menampung angkatan kerja pedesaan yang terus meningkat.
21
Mengutip Li (2009), pada kenyataannya terdapat dua kekuatan baru di masa kini yang “menyerang” wilayah pedesaan di Asia yakni: 1) hilangnya akses rakyat pedesaan atas tanah di suatu wilayah akibat penutupan akses (enclosure) baik oleh proyek atau badan usaha industri ataupun kegiatan konservasi milik pemerintah atau swasta, dan 2) rendahnya daya serap tenaga kerja lokal oleh industri yang dibangun di sekitarnya. Bukannya menjadi cadangan tenaga kerja,