BAB II LANDASAN TEORI
Skema 2.2 Skema Bai’ al -Murabahah
Skema Bai’ al-Murabahah
2. Akad jual beli
6 . Bayar 5. Terima barang 1. Beli barang 4. Kirim
3. Cara Perhitungan MarginPihak Bank Dalam Akad Murabahah Pembiayaan murabahah digunakan dalam kondisi dimana bank tidak memiliki objek yang diinginkan pembeli, skim ini biasanya digunakan untuk membantu pembeli untuk pengadaan objek tertentu dimana pembeli tidak memiliki kemampuan finansial yang cukup untuk melakukan pembayaran secara tunai.
Contoh kasus:
Bapak Urfan berniat membeli mobil untuk keperluan pribadi pribadi seharga Rp 120 juta, padahal pada saat itu dia hanya memiliki dana Rp 30 juta. Untuk mengatasi permasalahannya, bapak Urfan pergi
ke Bank Syari’ah untuk mencari solusi. Bagaimana skim yang akan diterima oleh Bapak Urfan?
(asumsi: ekspektasi keuntungan Bank Syariah adalah 12%/th) Bank 1. Negosiasi dan Persyaratan Nasabah Suplier Penjual
Untuk mengatasi permasalahan tersebut, bank syari’ah memberikan solusi dengan skim Bai’ al-murrabahah sebagai berikut:19
Perhitungan Bank:
Harga mobil = Rp 120 juta
Porsi nasabah = Rp 30 juta -
Porsi bank = Rp 90 juta
Margin keuntungan bank = Rp 90 juta x 12%/th x 2 th
= Rp 21,6 juta
Skim untuk nasabah:
Harga beli mobil = Rp 120 juta
Margin keuntungan bank = Rp 21,6 juta +
Harga jual bank = Rp 141, 6 juta
Angsuran pertama = Rp 30 juta -
Sisa angsuran = Rp 111,6 juta
Angsuran per bulan = Rp 4.650.000
D. Manajemen Risiko Pembiayaan dan Analisis Kelayakan Pembiayaan 1. Manajemen risiko
Manajamen risiko adalah serangkaian prosedur dan metodologi yang digunakan untuk mengidentifikasi, mengukur, memantau, dan mengendalikan risiko yang timbul dari kegiatan usaha bank. Hal ini terkait dengan definisi umum risiko, yaitu pada setiap usaha/kegiatan
19
A.Karim Adiwarman,“Bank Islam Analisis Fiqh dan Keungan”, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, Vol.3. 2007), h.122
34
selalu terdapat kemungkinan tidak tercapainya suatu tujuan atau selalu terdapat ketidakpastian atas keputusan apapun yang telah diambil.20
Manajemen risiko dikatakan pula sebagai “suatu kegiatan yang
dilakukan untuk menanggapi risiko yang telah diketahui (melalui rencana analisis risiko atau bentuk observasi lain) dalam rangka meminimalisi
konsekuensi buruk yang mungkin muncul.” Dalam hal ini risiko
dijabarkan dalam bentuk rencana atau prosedur yang reaktif. Manajemen risiko bermakna semua rangkaian kegiatan yang berhubungan dengan risiko, dimana didalamnya termasuk perencanaan (planning), penilaian (assesment) atau identifikasi dan analisis, penanganan (handling), dan pemantauan (monitoring) risiko. Manajemen risiko merupakan serangkaian prosedur yang digunakan untuk mengidentifikasikan, mengukur, memantau dan mengendalikan risiko yang timbul dari kegiatan usaha bank, meliputi produk barang dan jasa perbankan, baik pada bank konvesional maupun bank berdasarkan prinsip syariah.21
2. Fungsi dan Tujuan Manajemen Risiko
Manajemen didalam suatu badan usaha, baik industri, niaga dan jasa, tidak terkecuali jasa perbankan, didorong oleh motif mendapatkan keuntungan (profit). Untuk mendapatkan keuntungan yang besar manajemen haruslah diselenggarakan dengan efisien. Sikap ini harus dimiliki oleh setiap pengusaha dan manajer dimana pun mereka berada,
20
Prof. Dr. H. Veithzal Rifai,S.E., M.M., M.B.A. dan Rifki Ismail, S.E., M.Ec. , Ph. D.,
Islamic Risk Management For Islamic Bank ( Jakarta, Gramedia pustaka utama, 2013) h. 64
21
baik dalam organisasi bisnis, pelayanan publik maupun organisasi sosial kemasyarakatan. 22
Fungsi dari manajemen risiko terbagi menjadi 4 yaitu :23
1. Menetapkan arah dan risk appetite dengan mengkaji ulang secara berkala dan menyetujui risk exposure limits yang mengikuti perubahan strategi perusahaan.
2. Menetapkan limit umumnya mencakup pemberian kredit, penempatan non-kredit, asset liability management, trading dan kegiatan lain seperti derivatif dan lain-lain.
3. Menetapkan kecukupan prosedur atau prosedur pemeriksaan (audit) untuk memastikan adanya integrasi pengukuran risiko, kontrol sistem pelaporan, dan kepatuhan terhadap kebijakan dan prosedur yang berlaku.
4. Menetapkan metodologi untuk mengelola risiko dengan menggunakan sistem pencatatan dan pelaporan yang terintegrasi dengan sistem komputerisasi segingga dapat diukur dan dipantau sumber risiko utama terhadap organisasi bank.
Tentang Fungsi-fungsi manajemen tidak hanya sesuai dengan yang disebutkan diatas unsur-unsur dari manajemen dilengkapi dengan perencanaan yang baik harus dilakukan dengan kegiatan yang meliputi:24
22
Zainul Arifin, Dasar-Dasar Manajemen Bank Syariah, (Jakarta: Pustaka Alvabet,2006), h. 12
23
Prof. Dr. H. Veithzal Rifai,S.E., M.M., M.B.A. dan Rifki Ismail, S.E., M.Ec. , Ph. D.,
Islamic Risk Management For Islamic Bank ( Jakarta, Gramedia pustaka utama, 2013) h.83
24
Zainul Arifin, Dasar-Dasar Manajemen Bank Syariah, (Jakarta: Pustaka Alvabet,2006), h.97
36
a. Forecasting adalah suatu peramalan usaha yang sistematis, yang paling mungkin memperoleh sesuatu dimasa yang akan datang dengan dasar penaksiran dan menggunakan perhitungan yang rasional atas fakta yang ada. Fungsi perkiraan adalah memberi informasi sebagai dasar pertimbangan dalam pengambilan keputusan.
b. Objective atau tujuan adalah nilai yang akan dicapai atau diinginkan oleh seseorang atau badan usaha. Untuk mencapai tujuan dia bersedia memberi pengorbanan atau usaha yang wajar agar nilai-nilai itu terjangkau.
c. Policies dapat berarti rencana kegiatan (plan of action) atau juga dapat diartikan sebagai suatu pedoman pokok (guiding principles) yang diadakan oleh suatu badan usaha untuk menentukan kegiatan yang berulang-ulang.
d. Programmes adalah sederetan kegiatan yang digambarkan untuk melaksanakan policies. Program itu merupakan rencanan kegiatan yang dinamis yang biasanya dilaksanakan sercara bertahap, dan terikat dengan ruang (place) dan waktu (time). Program itu harus merupakan suatu kesatuan yang terkait erat dan tidak dapat dipisahkan dengan tujuan yang telah ditentukan dalam organisasi (closely integrated).
e. Schedules adalah pembagian program yang harus diselesaikan menurut urut-urutan waktu tertentu. Dalam keadaan terpaksa schedules dapat berubah, tetapi program dan tujuan tidak berubah.
f. Procedures adalah suatu gambaran sifat atau metode untuk melaksanakan suatu kegiatan atau pekerjaan. Perbedaannya dengan program adalah: program menyatakan apa yang harus dikerjakan, sedangkan prosedur berbicara tentang bagaimana melaksanakannya.
g. Budget adalah suatu taksiran atau perkiraan biaya yang harus dikeluarkan oleh pendapatan yang diharapkan diperoleh dimasa yang akan datang. Dengan demikian,
budget dinyatakan dalam waktu, uang, material dan unit-unit yang melaksanakan pekerjaan guna memperoleh hasil yang diharapkan.
3. Proses manajemen pada risiko kredit dan analisis kelayakan pembiayaan murabahah
Pengertian dari risiko kredit dalah risiko dimana nasabah atau debitur atau counterpart tidak mampu memenuhi kewajiban keuangannya sesuai kontrak atau kesepakatan yang telah dilakukan. Definisi ini dapat diperluas yaitu bahwa risiko kredit adalah risiko yang timbul dikarenakan kualitas kredit semakin menurun. Memang penurunan kualitas kredit
38
dimaksud belum tentu berimplikasi pada terjadinya default, namun paling tidak kemungkinan terjadinya default akan semakin besar. Hal-hal yang termasuk dalam Risiko kredit adalah :25
A. Lending Risk, yaitu risiko akibat nasabah/debitur tidak mampu melunasi fasilitas yang telah diberikan oleh bank, baik berupa fasilitas kredit langsung maupun tidak langsung (cash loan maupun
non cash loan)
B. Counterparty Risk, risiko dimana counterpart tidak bisa melunasi kewajibannya ke bank baik sebelum tanggal kesepakatan maupun pada saat tanggal kesepakatan.
C. Issuer Risk, risiko dimana penerbit suatu surat berharga tidak bisa melunasi kepada bank sejumlah nilai surat berharga yang dimiliki bank.
Ada beberapa prinsip-prinsip penilaian kredit yang sering dilakukan yaitu dengan analisis 5C, analisis 7P. Kedua prinsip ini 5C dan 7P memeliki persamaan, yaitu apa-apa yang terkandung dalam 5C dirinci lebih lanjut dalam prinsip 7P dan didalam prinsip 7P lebih terinci juga
25
Ahza Anwari / Tuesday, 11 May 2010 12:29
jangkauan analisisnya lebih luas dari 5C. Prinsip pemberian kredit dengan analisis 5C dapat dijelaskan sebagai berikut:26
1. Character, adalah sifat watak seseorang dalam hal ini calon debitur. Tujuannya adalah memberikan keyakinan kepada bank bahwa sifat atau watak dari orang-orang yang akan diberikan kredit benar-benar terpecaya. Character merupakan ukuran untuk menilai
“kemauan” nasabah membayar kreditnya.
2. Capacity (Capability), untuk melihat kemampuan calon nasabah dalam membayar kreditnya yang dihubungkan dengan kemampuan mengelola bisnis serta kemampuan mencari laba.
3. Capital, untuk mengetahui sumber-sumber pembiayaan yang dimiliki nasabah terhadap usaha yang akan dibiayai oleh bank. 4. Colleteral, merupakan jaminan yang diberikan calon nasabah baik
yang bersifat fisik maupun non fisik.
5. Condition, dalam menilai kredit hendaknya juga dinilai kondisi ekonomi sekarang dan untuk dimasa yang akan datang seseuai sektor masing-masing.
Sementara itu penilaian dengan 7P adalah sebagai berikut :27
1. Personality yaitu menilai nasabah dari segi kepribadiannya atau tingkah lakunya sehari-hari maupun masa lalunya.
26
Kasmir,S.E.,MM. Manajemen Perbankan (Jakarta,PT Raja Grafindo Persada,2008) h. 91-92
27
40
2. Party yaitu mengklasifikasikan nasabah kedalam klafikasi tertentu atau golongan-golongan berdasarkan modal, loyalitas serta karakternya.
3. Perpose yaitu untuk mengetahui tujuan nasabah dalam mengambil kredit, termasuk jenis kredit yang diinginkan nasabah.
4. Prospect yaitu untuk menilai usaha nasabah dimasa yang akan datang apakah menguntungkan atau tidak.
5. Payment yaitu merupakan ukuran bagaimana cara nasabah mengembalikan kredit yang telah diambil atau dari sumber mana saja dana untuk pengembalian kredit yang diperoleh.
6. Profitability untuk menganalisis bagaimana kemampuan nasabah dalam mencari laba.
7. Protection tujuannya adalah bagaimana menjaga kredit yang dikucurkan oleh bank, tetapi melalui suatu perlindungan.
Analisis 5C dan 7P harus disempurnakan dengan 1S yaitu Syariah Penilaian ini dilakukan untuk menegaskan bahwa usaha yang akan dibiayai benar-benar usaha yang tidak melanggar syariah dan sesuai dengan fatwa DSN.28
Seperti halnya bank konvesional, bank Islam juga menghadapi risiko pembiayaan yang menyalurkan dananya kemasyarakat. Risiko pembiayaan atau sering disebut pula default risk merupakan suatu risiko akibat
28
Hafsah freya/ Friday, diakses pada 18 Jan 2013 08:40 dari http://freyacatatanku. blogspot.com/2013/01/pembiayaan-dalam-perbankansyariah-i_18.html
kegagalan atau ketidak mampuan nasabah (pengusaha) mengembalikan pinjaman/pembiayaan yang diterima dari bank sesuai dengan jangka waktu yang ditentukan atau dijadwalkan. Ketidakmampuan nasabah memenuhi perjanjian yang telah disepakati kedua belah pihak secara teknis keadaan tersebut merupakan default. Untuk mengantisipasi risiko pembiayaan aktivitas manajemen risiko yang telah ditetapkan untuk bank Islam pada produk murabahah dijelaskan sebagai berikut:29
Bank membeli barang atau komoditi khusus, kemudian dijual kembali kepada nasabah dengan harga pokok ditambah dengan margin yang telah disepakati bersama. Khusus untuk transaksi murabahah dengan pesanan yang sifatnya mengikat, risiko yang dihadapi bank Islam hampir sama dengan risiko dengan bank konvesional. Sedangkan dalam transaksi
murabahah tanpa pesanan atau dengan pesanan yang sifatnya tidak mengikat nasabah untuk membeli, menyebabkan bank menghadapi dua risiko. Pertama, tidak ada jaminan bagi bank islam seandainya pembeli membatalkan transaksi. Kedua, bank Islam akan mengalami risiko kerugian, dikarenakan menurunnya nilai barang tersebut akibat cacat atau rusak selama masa penyimpanan.30
4.Identifikasi risiko dan antisipasinya
Identifikasi risiko yang dilakukan dalam bank Islam tidak hanya mencakup berbagai risiko yang ada pada bank-bank pada umumnya,
29
Prof. Dr. H. Veithzal Rifai,S.E., M.M., M.B.A. dan Rifki Ismail, S.E., M.Ec. , Ph. D.,
Islamic Risk Management For Islamic Bank ( Jakarta, Gramedia pustaka utama, 2013) h.240
30
42
melainkan juga meliputi berbagai risiko yang khas hanya ada pada bank-bank yang beroperasi berdasarkan prinsip syariah. Dalam hal ini, keunikan bank Islam terletak pada enam hal:31
1. Proses transaksi pembiayaan. Karakteristik bank Islam dalam proses ini setidaknya terlihat pada tiga aspek, yaitu proses transaksi pembiayaan syariah, proses transaksi bagi hasil dana pihak ketiga dan proses transaksi devisa.
2. Proses manajemen. Keunikan bank islam dalam proses manajemen terlihat pada sistem dan prosedur operasional akuntansi dan chart of account (CoA), sistem dan prosedur operasional teknologi informasi, sistem dan prosedur operasional tutup buku, serta sistem dan prosedur operasional pengembangan produk.
3. Sumber daya manusia. Keunikan bank Islam dan sumber daya manusia terlihat pada spesifikasi kapabilitas yang tidak hanya mencakup dalam bidang perbankan secara umum tetapi juga meliputi aspek-aspek syariah.
4. Teknologi. Keunikan bank Islam dalam bidang teknologi terlihat pada Business Requirement Specification (BRS) untuk pembiayaan berbasis bagi hasil dan Business Requirement Specification (BRS) dana pihak ketiga.
31
A.Karim Adiwarman, “Bank Islam Analisis Fiqh dan Keuangan”, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, Vol.3. 2007), h.256-257
5. Lingkungan eksternal. Keunikan bank Islam dalam hal ini terlihat pada keberadaan dual regulatory body, yaitu bank Indonesia dan Dewan Syariah Nasional.
6. Kerusakan. Keunikan bank Islam dalam hal ini terlihat misalnya ketika terjadi kerusakan pada objek ijarah atau IMBT (Ijarah Muntahia bit-Tamlik).
Antisipasi risiko dalam bank bertujuan untuk:32
a. Preventive. Dalam hal ini, bank Islam memerlukan persetujuan DPS untuk mencegah kekeliruan proses dan transaksi dari aspek syariah. Disamping itu, bank Islam juga memerlukan opini bahwa fatwa DSN bila bank Indonesia memandang persetujuan DPS belum memadai atau berada diluar kewenangannya.
b. Detective. Pengawasan dalam bank Islam meliputi dua aspek, yaitu aspek perbankan oleh bank Indonesia dan aspek syariah oleh DPS. Kadangkala timbul pemahaman yang berbeda atas suatu transaksi apakah melanggar syariah atau tidak.
c. Recovery. Koreksi atas suatu kesalahan dapat melibatkan bank Indonesia untuk aspek perbankan dan DSN untuk aspek syariah.
32
44
BAB III
GAMBARAN UMUM BANK MUAMALAT INDONESIA
A. Sejarah Singkat dan Perkembangannya1
PT Bank Muamalat Indonesia Tbk didirikan pada tahun 1991, diprakarsai oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan Pemerintah Indonesia, dan memulai kegiatan operasinya pada bulan Mei 1992. Dengan dukungan nyata dari eksponen Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia (ICMI) dan beberapa pengusaha Muslim, pendirian Bank Muamalat juga menerima dukungan masyarakat, terbukti dari komitmen pembelian saham Perseroan senilai Rp 84 miliar pada saat penandatanganan akta pendirian Perseroan. Selanjutnya, pada acara silaturahmi peringatan pendirian tersebut di Istana Bogor, diperoleh tambahan komitmen dari masyarakat Jawa Barat yang turut menanam modal senilai Rp 106 miliar.
Pada tanggal 27 Oktober 1994, hanya dua tahun setelah didirikan, Bank Muamalat berhasil meraih predikat sebagai Bank Devisa. Pengakuan ini semakin memperkokoh posisi Perseroan sebagai bank syariah pertama dan terkemuka di Indonesia dengan beragam jasa maupun produk yang terus dikembangkan.
Akhir tahun 90-an, Indonesia mengalami krisis moneter yang memporakporandakan sebagian besar perekonomian Asia Tenggara. Sektor perbankan nasional tergulung oleh kredit macet di segmen
1
korporasi. Bank Muamalat pun terimbas dampak krisis. Di tahun 1998, rasio pembiayaan macet (NPF) mencapai lebih dari 60%. Perseroan mencatat rugi sebesar Rp 105 miliar. Ekuitas mencapai titik terendah, yaitu Rp 39,3 miliar, kurang dari sepertiga modal setor awal.
Dalam upaya memperkuat permodalannya, Bank Muamalat mencari pemodal yang potensial, dan ditanggapi secara positif oleh Islamic Development Bank (IDB) yang berkedudukan di Jeddah, Arab Saudi. Pada RUPS tanggal 21 Juni 1999 IDB secara resmi menjadi salah satu pemegang saham Bank Muamalat. Oleh karenanya, kurun waktu antara tahun 1999 dan 2002 merupakan masa-masa yang penuh tantangan sekaligus keberhasilan bagi Bank Muamalat. Dalam kurun waktu tersebut, Bank Muamalat berhasil membalikkan kondisi dari rugi menjadi laba berkat upaya dan dedikasi setiap Kru Muamalat, ditunjang oleh kepemimpinan yang kuat, strategi pengembangan usaha yang tepat, serta ketaatan terhadap pelaksanaan perbankan syariah secara murni.
Melalui masa-masa sulit ini, Bank Muamalat berhasil bangkit dari keterpurukan. Diawali dari pengangkatan kepengurusan baru dimana seluruh anggota Direksi diangkat dari dalam tubuh Muamalat, Bank Muamalat kemudian menggelar rencana kerja lima tahun dengan penekanan pada (i) tidak mengandalkan setoran modal tambahan dari para pemegang saham, (ii) tidak melakukan PHK satu pun terhadap sumber daya insani yang ada, dan dalam hal pemangkasan biaya, tidak memotong hak Kru Muamalat sedikitpun, (iii) pemulihan kepercayaan dan rasa
46
percaya diri Kru Muamalat menjadi prioritas utama di tahun pertama kepengurusan Direksi baru, (iv) peletakan landasan usaha baru dengan menegakkan disiplin kerja Muamalat menjadi agenda utama di tahun kedua, dan (v) pembangunan tonggak-tonggak usaha dengan menciptakan serta menumbuhkan peluang usaha menjadi sasaran Bank Muamalat pada tahun ketiga dan seterusnya, yang akhirnya membawa Bank Muamalat, dengan rahmat Allah Rabbul Izzati, ke era pertumbuhan baru memasuki tahun 2004 dan seterusnya.
Hingga akhir tahun 2007, Bank Muamalat tetap merupakan bank syariah terkemuka di Indonesia dengan jumlah aktiva sebesar Rp 10,617 triliun, serta perolehan laba bersih sebesar Rp 221,71 miliar.
1. Sejarah Singkat Bank Muamalat cabang Kupang
Bank Muamalat cabang Kupang. BMI hadir di Kota Kupang Sejak 09 September 2006. Bank Muamalat ini telah diresmikan oleh gubernur Nusa Tenggara Timur yang menjabat pada tahun tersebut yaitu Piet Alexander Tallo, SH. Modal awal pembukaan cabang sebesar 1 Miliar rupiah dan Jumlah karyawan atau kru adalah 33 orang termasuk pimpinan cabang serta banking staff dan non banking staff. BMI cabang Kupang mempunyai 1 (satu) kantor cabang yang beralamat di Jln. Soekarno No.27 Fontein Kupang, NTT (Nusa Tenggara Timur).
B. Visi, Misi dan Strategi Bank Muamalat Indonesia
a. Visi
Visi Bank Muamalat adalah menjadi bank syariah utama di Indonesia, dominan di pasar spiritual, dikagumi di pasar rasional. b. Misi
Misi Bank Muamalat adalah menjadi Role Model Lembaga Keuangan Syariah dunia dengan penekanan pada semangat kewirausahaan, keunggulan manajemen dan orientasi investasi yang inovatif untuk memaksimumkan nilai bagi stakeholder.
c. Strategi
Dalam menerapkan konsep-konsep syari’ah yang Islami dan
meningkatkan fee based income, untuk mencapai tujuannya, Bank Muamalat Indonesia mendasarkan usahanya dengan kegiatan sebagai berikut:
1) Sasaran pembinaan, yaitu membina dan mempercepat perkembangan mayarakat ekonomi menengah ke bawah bangsa Indonesia untuk menjembatani kesenjangan sosial ekonomi yang terjadi karena dampak pembangunan, sehingga terbentuk dasar yang kokoh bagi pengembangan manusia Indonesia seutuhnya dalam pembangunan nasional jangka panjang 25 tahun ke-dua. 2) Strategi pengembangan yaitu:
48
a) Bekerjasama dengan baik dengan bank-bank perkreditan rakyat (BPR) yang telah ada. Mendorong pengembangan BPR baru di daerah-daerah potensial.
b) Bekerjasama dengan Badan Amil Zakat, Infaq dan Sedekah (BAZIS) untuk menginsentifkan pengelolaan dana ZIS.
c) Meransang lembaga penyedia bantuan teknik menajemen pengusaha kecil dan menengah untuk tumbuh dan berkembang lebih baik.
d) Meransang lembaga penyedia bantuan pembinaan keterampilan akuntasnsi untuk tumbuh dan berkembang lebih baik.
e) Mengembangkan peranan kelembagaan penyediaan teknologi paska panen.
f) Mengembangkan peranan kelembagaan pemasaran hasil produksi.
C. Struktur Organisasi Bank Muamalat Indonesia
Dalam struktur organisasi di Bank Muamalat Indonesia pemegang saham bertindak sebagai pemilik modal yang terdiri dari umat Islam yang telah berpartisipasi dalam saham. Struktur organisasi Bank Muamalat Indonesia dapat dilihat pada Gambar 3.1. Secara garis besar organisasi Bank Muamalat dapat dijelaskan sebagai berikut:
Adalah pemegang kekuasaan tertinggi dalam perusahaan. RUPS ini diadakan pada akhir tahun yang terdiri dari pemegang saham perusahaan.
2. Dewan Pengawas Syariah (DPS)
Terdiri dari cendikiawan muslim dan ulama yang berkompeten. DPS bertugas untuk menyeleksi produk-produk dan jasa-jasa yang dihasilkan oleh Bank Muamalat Indonesia, apakah sesuai dengan ketentuan syariah atau tidak.
3. Dewan Komisaris
Dalam struktur kedudukannya sejajar dengan dewan pengawas syariah. Dewan Komisaris terdiri dari pemegang saham serta membawahi Dewan Direksi dan Dewan Audit.
4. Dewan Direksi a. Direktur Operasi
Direkur operasi bertanggung jawab atas segala aktivitas yaitu administrasi dari produk yang dihasilkan. Direktur Operasi membawahi:
b. Urusan organisasi sumber daya insani
Yaitu divisi yang menangani produktivitas para karyawan agar kegiatan operasional perusahaan berjalan dengan efektif.
c. Urusan Operasi
Yaitu divisi yang menangani administrasi suatu bank yang berhubungan dengan masyarakat.
50
d. Urusan teknologi sistem informasi
Yaitu divisi yang menangani dan bertanggung jawab atas sistem teknologi informasi bank.
e. Direktur Pembiayaan Usaha Menengah
Direktur ini mengatur segala pembiayaan yang termasuk pada golongan usaha menengah. Direktur ini membawahi:
1) Group marketing
2) Urusan support pembiayaan 3) Urusan penyelesaian pembiayaan
f. Direktur Pembiyaan Usaha Kecil
Direktur ini mengatur dan bertanggung jawa atas segala pembiayaan yang termasuk pada golongan usaha kecil. Direktur ini membawahi:
1) Urusan individual banking
2) Urusan lembaga keuangan mikro syariah 3) Urusan pembiayaan usaha kecil
Selain urusan-urusan tersebut di atas, terdapat pula beberapa urusan yang berada di bawah naungan dewan direksi, yaitu:
1) Urusan sekretariat perusahaan 2) Urusan pengawasan SKIA
3) Urusan luar negeri dan institusional banking 4) Kantor cabang