• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

Lampiran 8 Soal Ulangan Listrik Dinamis

(g) Menghitung tegangan antara dua titik. Tujuan pembelajaran terlihat

dalam soal ulangan nomor 13 poin a (lampiran 8).

Dalam RPP pertama materi ajar tidak dijelaskan secara lengkap tetapi ha-

nya dituliskan pokok bahasan yang akan disampaikan saja yakni Hukum

Ohm, hambatan seri-paralel, Hukum Kirchoff.

6) Alokasi waktu

Alokasi waktu yang tertulis dalam RPP pertama adalah 11 X 45 menit.

Namun berdasarkan hasil pengamatan peneliti, guru menyampaikan

pokok-pokok materi dengan alokasi waktu 3 X 45 menit. Hal tersebut

dapat terjadi karena guru menyampaikan materi pada poin-poin tertentu

saja.

7) Metode pengajaran

Metode pengajaran yang digunakan dalam RPP pertama adalah dengan

diskusi informasi. Hal tersebut terlihat dalam proses pembelajaran yaitu

guru menyampaikan pokok-pokok materi dengan melakukan tanya-jawab

dengan siswa dan memberikan informasi tambahan yang ada dalam

kehidupan sehari-hari.

8) Strategi pengajaran

Strategi pengajaran dalam RPP pertama tersusun secara lengkap yang

terdiri dari kegiatan pendahuluan, kegiatan inti, dan kegiatan penutup

(lampiran 7, hal. 146).

9) Penilaian

Dalam RPP pertama, bentuk penilaian tidak diuraikan secara jelas

b. RPP Kedua

Dalam RPP kedua, terlihat kelengkapan komponen RPP yaitu sebagai

berikut:

1) Identitas mata pelajaran

Pada bagian identitas ini terdiri dari identitas mata pelajaran, sekolah,

kelas/semester, tahun pelajaran (lampiran 7, hal. 150).

2) SK dan KD

SK dan KD pada RPP pertama sesuai dengan yang tertulis pada silabus

(lampiran 7, hal. 150).

3) Indikator

Indikator dalam RPP pertama terdiri dari dua point (lampiran 7, hal. 150).

(a) Mengidentifikasikan penerapan arus listrik searah dalam kehidupan

sehari-hari. Indikator ini dapat tercapai dalam proses pembelajaran.

Guru menjelaskan kepada siswa seperti pada kutipan video berikut

(video 28 Mei 2012, lampiran 3)

G :”Misalnya di sini hambatan kita lepas lihat (guru menunjukkan ampermeter) di sini ada tertulis mikro amper, berarti arus yang dapat lewat berukuran mikro, kecil. Lalu jarumnya ada di sebelah kiri berarti bergeraknya ke kanan. Berarti alat ini cocok untuk arah arus DC”.

(b)Mengidentifikasikan penerapan arus listrik bolak-balik dalam ke-

hidupan sehari-hari. Indikator ini dapat tercapai dalam proses

pembelajaran seperti pada kutipan video berikut (video 11 Mei 2012,

G :”Kalo galvanometer tadi jarumnya di tengah bisa ke kanan bisa ke kiri berarti bisa untuk arus AC”.

4) Tujuan Pembelajaran

(a) Menyusun daftar penggunaan listrik AC dalam kehidupan sehari-hari

di rumah masing-masing.Tujuan pembelajaran tidak terlihat oleh pene-

liti selama proses pembelajaran.

(b) Menyebutkan sumber tegangan listrik DC.Tujuan pembelajaran tidak

terlihat oleh peneliti selama proses pembelajaran.

(c) Menyusun daftar penggunaan listrik DC dalam kehidupan sehari-hari

di rumah masing-masing.Tujuan pembelajaran tidak terlihat oleh

peneliti selama proses pembelajaran.

(d) Menghitung energi listrik yang digunakan di rumah masing-masing dalam satu bulan.Tujuan pembelajaran tidak terlihat oleh peneliti

selama proses pembelajaran.

5) Materi ajar

Dalam RPP pertama materi ajar tidak dijelaskan secara lengkap tetapi

hanya dituliskan pokok bahasan yang akan disampaikan saja yakni

Listrik AC dan DC.

6) Alokasi waktu

Alokasi waktu yang tertulis dalam RPP pertama adalah 4 X 45 menit.

Namun berdasarkan hasil pengamatan peneliti, guru menyampaikan

pokok-pokok materi dengan alokasi waktu 3 X 45 menit. Hal tersebut

dapat terjadi karena guru menyampaikan materi pada poin-poin tertentu

7) Metode pengajaran

Metode pengajaran yang digunakan dalam RPP pertama adalah dengan

penugasan dan diskusi informasi. Namun guru tidak memberikan tugas

kepada siswa dan terlihat dalam proses pembelajaran yaitu guru

menyampaikan pokok-pokok materi dengan melakukan tanya-jawab

dengan siswa dan memberikan informasi tambahan yang ada dalam

kehidupan sehari-hari.

8) Strategi pengajaran

Strategi pengajaran dalam RPP pertama tersusun secara lengkap yang

terdiri dari kegiatan pendahuluan, kegiatan inti, dan kegiatan penutup

(lampiran 7, hal. 150)

9) Penilaian

Dalam RPP pertama, bentuk penilaian tidak diuraikan secara jelas se-

hingga sulit untuk melihat hasil yang dicapai pada proses pembelajaran.

c. RPP Ketiga

Dalam RPP pertama, terlihat kelengkapan komponen RPP yaitu sebagai

berikut:

1) Identitas mata pelajaran

Pada bagian identitas ini terdiri dari identitas mata pelajaran, sekolah,

kelas/semester, tahun pelajaran (lampiran 7, hal. 152).

SK dan KD pada RPP pertama sesuai dengan yang tertulis pada silabus

(lampiran 7, hal. 152).

3) Indikator

Indikator dalam RPP pertama terdiri dari satupoint(lampiran 7, hal. 152). (a) Menggunakan voltmeter, ampermeter, dan multimeter dalam

rangkaian. Indikator ini tidak terlihat dalam proses pembelajaran. Guru

menjelaskan penggunaan alat ukur listrik dengan memberikan latihan

soal dan soal dalam ulangan harian nomor 14 (lampiran 8).

4) Tujuan Pembelajaran

(a) Membaca skala alat ukur listrik dengan benar. Tujuan pembelajaran

terlihat tidak terlihat dalam proses pembelajaran namun ada dalam soal

ulangan harian nomor 14 (lampiran 8).

(b) Memasang voltmeter, ampermeter, dan multimeter dengan benar pada

rangkaian.Tujuan pembelajaran tidak terlihat dalam dalam proses pem-

belajaran namun ada dalam soal ulangan harian nomor 2 dan nomor 8

(lampiran 8).

5) Materi ajar

Dalam RPP pertama materi ajar tidak dijelaskan secara lengkap tetapi

hanya dituliskan pokok bahasan yang akan disampaikan saja yakni Alat

ukur listrik.

6) Alokasi waktu

Alokasi waktu yang tertulis dalam RPP pertama adalah 3 X 45 menit.

pokok-pokok materi dengan alokasi waktu 2 X 45 menit. Hal tersebut

dapat terjadi karena guru menyampaikan materi pada poin-poin tertentu

saja.

7) Metode pengajaran

Metode pengajaran yang digunakan dalam RPP ketiga adalah

eksperimen. Namun hal tersebut tidak terlihat dalam proses pembelajaran

karena keterbatasan waktu. Guru menjelaskan materi alat ukur dengan

metode caramah dan tanya-jawab dengan siswa untuk menyampaikan

pokok-pokok materidan memberikan informasi tambahan yang ada

dalam kehidupan sehari-hari.

8) Strategi pengajaran

Strategi pengajaran dalam RPP pertama tersusun secara lengkap yang

terdiri dari kegiatan pendahuluan, kegiatan inti, dan kegiatan penutup

(lampiran 7, hal. 152).

9) Penilaian

Dalam RPP pertama, bentuk penilaian tidak diuraikan secara jelas

sehingga sulit untuk melihat hasil yang dicapai pada proses

pembelajaran.

Dari penjelasan tentang pelaksanaan RPP di atas dapat terlihat bahwa

komponen RPP sudah sesuai dengan Peraturan Pemerintah. Tidak semua

indikator dan tujuan pembelajaran dapat tercapai dalam proses

menyampaikan materi yang dianggap penting saja.Saat menjelaskan materi,

guru tidak melihat buku karena sudah memiliki pengalaman mengajar lama.

Guru menggunakan buku yang dibawa hanya untuk memberikan contoh

soal seperti yang diungkapkan bahwa

Ya kadang-kadang saya bawa buku itu untuk ngasih contoh soal biar angkanya pas, biar ga terlalu sulit juga untuk menghitung, biar angkanya ga sulit biar ngitung nya pas, kalo angkanya sulit juga siswa sulit

ngitungnya”.(wawancara 4 Juni 2012, lampiran 5).

Penilaian tidak diadakan pada setiap pembuatan RPP namun

dilaksanakan sekaligus dalam ulangan harian. Soal-soal yang digunakan

guru diperoleh dari berbagai sumber seperti

“LKS, buku paket juga ada dari latihan soal juga ada, tapi kadang-kadang saya juga buat sendiri, kalo materinya seperti ini berarti yasoalnya menyesuaikan ya disesuaikan saja dengan materinya.”(wawancara 11 Juni 2012, lampiran 5).

Kesimpulan mengenai perencanaan pembelajaran yang dilakukan guru

adalah membuat RPP sesuai dengan Peraturan Pemerintah, namun tidak

semua indikator dan tujuan pembelajaran dapat tercapai dalam proses

pembelajaran karena keterbatasan waktu, guru tidak melihat buku saat

menjelaskan materi. Guru tidak melakukan penilaian pada setiap pembuatan

RPP namun penilaian dilaksanakan sekaligus dalam ulangan harian.Guru

menggunakan berbagai sumber untuk membuat soal ulangan baik dari LKS

atau pun membuat sendiri.

e. Kemampuan Guru dalam Pelaksanaan Pembelajaran yang Mendidik dan Dialogis

Perhatian guru kepada siswanya terlihat dalam wawancara seperti yang

diungkapkan guru bahwa:

“Kalo udah selesai menjelaskan, kalo udah ada rangkuman, itukan siswa mencatat, nah pada saat siswa mencatat itu saya keliling untuk melihat siswa setelah keliling kelas ya bisa memantau kegiatan siswa, catatannya lengkap atau tidak terus kalau kalau ada yang salah menuliskan simbol, jadi kita sekalian bisa mengambil nilai afektif”. (wawancara 4 Juni 2012, lampiran 5)

Ungkapan guru tersebut sesuai dengan pengamatan peneliti yaitu guru

sangat perhatian dengan siswa. Guru mendapati siswa yang keliru dalam

mencatat penjelasan yang ada di papan tulis kemudian guru memberikan

perbaikan pada catatan siswa tersebut seperti dtunjukkan pada kutipan

berikut (video 28 Mei 2012, menit 01:35, lampiran 3):

G :”Kita sudah melewati hukum II Kirchoff. Isinya apa Angel?

Dibuka catatannya dibaca isinya (guru menghampiri siswa)”

S :”Belahan.”

G :”Ko belahan? Nyatatnya salah. Berlaku, berlaku pada loop.

Isinya jumlah perubahan tegangan dalam loop sama dengan nol.

Gambar 4.4Guru mendekati siswa yang salah mencatat

Guru tidak hanya memberikan perhatian kepada siswa terkait dengan

materi pelajaran, namun guru juga memberi perhatian kepada siswa yang

guru mendapati siswa yang mamakai dua anting pada satu telinganya

kemudian mengingatkan tentang peraturan yang dilanggar siswa tersebut

menggunakan buku point seperti ditunjukkan pada kutipan berikut (video 11

Mei 2012, lampiran 3).

G :”Kuping mu kenapa ko lubangnya dua pake anting dua?”

(Siswa langsung melepas antingnya dan menberikan kepada guru.) G :”Yang bawa buku point siapa? Coba saya pinjam. (guru kembali

menghampiri anak tersebut) kamu sudah pernah baca ini belum? Ini termasuk point kelakuan, ini ada tertulis di sini, kuku di cat, point berikutnya 31 3J memakai anting lebih dari satu pasang dan

atau tidak pada tempatnya.”

G :”Untuk semua sudah tahu kan? Di buku point sudah ada tertulis

pake anting lebih dari satu pasang dan tidak pada tempatnya.

Pointnya berapa? Dua ya,”

G :”(Kembali menghampiri anak tadi dan menulis nama anak tersebut di selembar kertas) besok di bawa buku pointnya. Anting ini saya ambil bukan buat saya pake tapi nanti ini di ambil di

tempat Bu Bekti.”

G :”Sapa mau lagi kena point?”

S :”Enggak bu.”

Gambar 4.5Guru menghampiri siswa yang memakai dua anting

Guru melibatkan siswa dalam proses pembelajaran dengan cara

memberikan contoh soal dan mengajak siswa untuk mengerjakan bersama-

guru mengajukan pertanyaan untuk menggali kemampuan berpikir siswa

dan mamahami maksud dari materi yang disampaikan oleh guru seperti

pada kutipan berikut (Video 18 Mei 2012, menit 02:00, lampiran 3)

G :”Kalo tiga hambatan 4 Ohm 6 ohm 12 ohm kalo saya susun seri

berapa hambatan pengganti Rs? (guru menuliskan soal di papan tulis) R1 4 Ohm, R2 6 Ohm, R3 12 Ohm disusun seri berapa Rs

nya?”

S :”22 Ohm (siswa serentak menjawab bersama).”

S :”22 bu.”

G :”Dari mana 22?”

S :”Dari 4 + 6+12=22.”

G :”22, bener ga Angel?”

S :”Iya bu bener.”

G :”Sekarang kalo R123 ini saya susun paralel, berapa hambatan penggantinya Rp? itung dulu. Angel berapa?”(sambil menunjuk

siswa)

S :”20 bu.”

G :”20 dari mana? Udah di hitung belum?”

S :”2.”

G :”Harnum berapa? ½ ya?”

S :”Eh 2 deng bu.”

Selain melakukan tanya-jawab dengan siswa guru juga melibatkan siswa

dalam proses pembelajaran dengan meminta siswa untuk memperagakan

susunan hambatan agar lebih mudah dalam memahami materi seperti yang

diungkapkan guru bahwa

“Untuk susunan hambatan itu kan kalo pake gambar aja siswa mungkin juga masih bingung membayangkannya, nah kalo kita pake alat peraga ya setidaknya dengan memperagakan di depan kelas, siswa bisa lebih mudah

memahaminya”(wawancara 11 Juni 2012, lampiran 5)

Hal tersebut sesuai dengan pengamatan peneliti selama proses

pembelajaran yang tampak bahwa guru menyuruh tiga siswa maju di depan

yang diibaratkan sebagai arus listrik yang mengalir seperti kutipan berikut

(video 11 Mei 2012, lampiran 3)

G :”Yang pertama itu susunan seri. Susunan seri kalian gandengan

tangan. Kemudian kita lihat bahwa, kemarin itu apa ? Penghantar itu mempunyai hambatan. Sekarang kita lihat, lihat ini di tangan saya ada spidol, anggap saja sebagai arus listriknya. Arus listrik tadi mengalir dari potesial tinggi ke potensial rendah. Di sini ada potensial tinggi (guru mengangkat tangan yang memegang spidol) nah di sana ga ada apa-apa, maka ini dikatakan lebih tinggi daripada disana. Spidol ini bisa sampai sana kalo melewati suatu penghantar. Nah penghantar dari sini sampai sana, itu memberikan hambatan. Ini bisa menghambat, menghambat, dan menghambat. Ini teman kalian penghantar spidol, dari sini sampai

sana.”

(a) (b)

Gambar 4.6 Guru membimbing siswa memperagakan susunan hambatan seri (b) paralel (a)

Bentuk pembelajaran yang mendidik juga ditunjukkan dengan kepedulian

guru yang menanggapi pertanyaan siswa tentang tugas yang belum

terselesaikan dalam satu semester. Guru memberikan penjelasan dengan

penuh perhatian dan antusias seperti pada kutipan berikut (video 11 Mei

2012, lampiran 3)

S :”Bu rangkumannya bareng sama bu katam?”

G :”Rangkumannya bareng sama bu katam ya terserah kalian tapi

kamu ga usah peke buku yang tebel banyak-banyak buat belajar.

Jelas?”

S :”Jelas bu.”

S :”Bu, tugas akhirnya itu yang rangkuman apa bu?”

G :”Termometer belum”

S :”Terus yang termometer itu dikumpulkan yang udah dikasih

skala, eh yang udah di tandai, terus kalo udah gitu dikumpulin

dalam bentuk laporan bu?”

S :”Satu kelompok 4 orang berarti empat-empatnya bikin laporan?”

G :”Iya empat-empatnya bikin laporan.”

S :”Dilaporannya cuma nyebutin skalanya doang apa bu?”

G :”Loh, laporannya kan sudah tak kasih petunjuknya. Laporan dalam termometer itu ya di tulis lengkap seperti ini, seperti laporan resmi. Ada tujuan, alat dan bahan, cara kerja, kemudian

data.”

S :”Berarti itu kita tulis ulang terus data nya kita tulis lagi?”

G :”Datanya tulis lagi dalam bentuk tabel, di hitung seperti hukum

Ohm kemarin, ya ndak?”

S :”Berarti kaya gitu aja kan bu?”

G :”Saya sudah menunjukkan seperti Kirchoff seperti Ohm, lalu

kamu nyobanya thermometer. Jadi ada tujuan, alat dan bahan, cara kerja, data lalu perhitungan dan kemudian kesimpulan.”

Dapat disimpulkan bahwa kemampuan guru dalam melaksanakan

pembelajaran yang mendidik dan dialogis tampak dalam hasil wawancara

dan data rekaman proses pembelajaran. Guru memberikan perhatian kepada

siswa tidak hanya dalam memahami materi pelajaran tetapi guru juga

menanamkan nilai moral untuk manaati peraturan sekolah dengan cara

mendekati dan menegur siswa yang melanggar peraturan tersebut. Terkait

dengan meningkatkan keterlibatan siswa dalam proses pembelajaran, guru

menyuruh siswa untuk maju di depan kelas memperagakan materi yang

disampaikan dengan tujuan agar siswa lebih mudah dalam mamahami

materi. Guru juga memberi perhatian dan tanggapan secara antusias kepada

pertanyaan siswa mengenai tugas-tugas selama satu semester yang masih

f. Kemampuan Guru dalamPemanfaatan Teknologi Pembelajaran

Guru mengungkapkan bahwa

“Ya saya itu kadang-kadang menggunakan peran teknologi yang ada misalnya dengan laptop yang dihubungkan ke viewer untuk menjelaskan materi, tapi tidak untuk semua materi. Listrik dinamis sendiri menggunakan powerpoint hanya pada bagian materi yang awal-awal seperti arus listrik itu dan untuk selanjutnya ya saya biasa saja karna keterbatasan waktu dan keterampilan saya juga belum begitu banyak tentang pembuatan

powerpoint, hanya sebisa saya saja.”(wawancara 11 Juni 2012, lampiran 5) Seperti hasil pengamatan peneliti, guru lebih banyak menggunakan papan

tulis dan ceramah dalam menjelaskan materi. Guru memberikan kotak pada

persamaan-persamaan yang dianggap penting seperti pada gambar berikut

Gambar 4.7 Guru memberi kotak pada persamaan.

Guru menggunakan media powerpoint hanya pada materi tertentu saja yang dianggap tidak terlalu banyak dalam menjelaskan penurunan

persamaan-persamaan untuk mendapatkan suatu rumus seperti yang

diungkapkan guru bahwa

“tidak semua materi pelajaran saya sampaikan menggunakan powerpoint,

kalo banyak persamaan rumus kan agak sulit, jadi ya yang teori saja misalnya gelombang elektromagnetik.” (wawancara 11 Juni 2012, lampiran 5)

Pengetahuan guru tentang teknologi pembelajaran diperoleh melalui

pengalaman saat mengikuti seminar, penataran atau pun belajar sendiri

secara otodidak, hal tersebut terbukti dengan ungkapan guru bahwa

“penggunaan powerpoint itu ya saya dapat dari seminar, penataran dan

juga kadang belajar sendiri”(wawancara 11 Juni 2012, lampiran 5).

Guru lebih senang melaksanakan proses pembelajaran di dalam kelas,

dan jarang sekali melaksanakan proses pembelajaran di luar kelas seperti di

dalam laboraturium. Hal tersebut dilakukan guru karena untuk masalah

efektifitas waktu dan ketersediaan alat praktikum yang tidak memadai

sehingga guru merasa kurang maksimal dalam menyampaikan tujuan

pelajaran. Guru juga beranggapan bahwa jika belajar dalam laboraturium,

guru tidak maksimal dalam melakukan pengawasan terhadap perilaku siswa

saat mengikuti proses pembelajaran. Siswa yang aktif dan menyenangisains akan lebih banyak beraktifitas dan yang kurang berminat akan lebih banyak

bermain-main. Hal tersebut sesuai dengan yang dikatakan guru bahwa

“Kalo di laboraturium itu biasanya kurang maksimal, waktunya juga lebih

banyak yang terbuang karena yang minat ya belajar sungguh-sungguh, tapi yang kurang berminat ya kadang banyak naim-mainnya, jadi ya siswa sulit

untuk diawasi”(wawancara 11 Juni 2012,lampiran 5)

Selama melakukan pembelajaran di dalam kelas, guru tidak pernah

melihat buku pegangan yang dibawa. Guru membawa buku saat proses

pembelajaran hanya untuk mencari contoh soal agar siswa mudah dalam

melakukan perhitungan seperti yang diungkapkan guru

“Oh ya kadang-kadang saya bawa buku itu untuk ngasih contoh soal biar angkanya pas, biar ga terlalu sulit juga untuk menghitung, biar angkanya

ga sulit biar ngitung nya pas, kalo angkanya sulit juga siswa sulit

ngitungnya.”(wawancara 4 Juni 2012, lampiran 5)

Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa guru tidak selalu

menggunakan teknologi saat menjelaskan materi pelajaran. Guru hanya

menggunakan teknologi dalam hal ini adalah powerpoint pada materi tertentu saja dan guru lebih banyak menggunakan media papan tulis dan

metode ceramah dalam menjelaskan materi.

Guru jarang sekali melaksanakan proses pembelajaran di luar kelas

seperti di dalam laboraturium. Guru menganggap bahwa jika belajar dalam

laboraturium, guru tidak maksimal dalam melakukan pengawasan terhadap

perilaku siswa saat mengikuti proses pembelajaran. Guru tidak melihat buku

pegangan yang dibawa ke kelas saat menjelaskan materi pembelajaran.

g. Kemampuan Guru dalam Melakukan Evaluasi Hasil Belajar

Guru melakukan evaluasi hasil belajar kepada siswa pada setiap akhir

penjelasan pada satu bab materi tertentu. Hal ini dilakukan guru dikarenakan

untuk membantu siswa agar tidak terlalu banyak dalam mempelajari materi.

Seperti yang diungkapkan guru bahwa

“Untuk membantu siswa biar nggak terlalu banyak mempelajari materi saat

belajar, saya itu biasanya kalo abis satu bab ya saya adakan

ulangan.”(wawancara 11 Juni 2012, lampiran 5).

Guru membuat soal dengan dua tipe pada evaluasi listrik dinamis. Tipe

soal pertama dengan jumlah 8 butir soal yakni guru membuat soal uraian

dengan jawaban singkat dan tipe soal kedua dengan jumlah butir 7 soal

untuk melakukan perhitungan dalam penyelesaiannya. Alasan guru

membuat soal dengan tipe tersebut adalah yang pertama untuk mengecek

pemahaman siswa tentang konsep teori yang telah dijelaskan dan kemudian

siswa juga dapat menerapkan persamaa-persamaan dalam menyelesaikan

soal. Seperti yang diungkapkan guru bahwa “uraian singkat itu kan mudah

untuk mengecek pemahaman siswa dan kalo udah ngerti rumusnya juga kan gampang menyelesaikan soal-soal yang jauh lebih sulit”(wawancara 4 Juni 2012, lampiran 5). Soal-soal yang dibuat guru tersebut dapat dilihat lebih lengkap pada lampiran 8.

Sebelum melakukan evaluasi pada materi listrik dinamis, guru membuat

kisi-kisi soal yang disesuaikan dengan kompetensi dasar pada silabus

(lampiran 6). Namun berdasarkan pengamatan peneliti, guru tidak

melakukan pembuatan soal pada kompetensi dasar 5.2 (KD 5.2)

dikarenakan KD ini berkaitan dengan energi dan daya listrik yang

disampaikan pada akhir materi dan guru berpendapat bahwa sub materi ini

marupakan penerapan dari listrik dinamis sehingga siswa dapat

menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari setelah mendapatkan

penjelasan singkat dari guru. Hal tersebut sesuai dengan ungkapan guru

bahwa

“Ulangan listrik saya lakukan sebelum masuk sub materi energi dan daya

listrik itu karena biar bisa dapat waktunya ga mepet dengan ujian semester. Nah kalo energi dan daya listrik itu kan dengan dijelaskan ya siswa ga terlalu sulit karena juga bisa langsung diterapkan dan dilihat dalam kehidupan sehari-hari”.(wawancara 4 Juni 2012, lampiran 5).

Selain membuat kisi-kisi soal, guru juga membuat pedoman penilaian

pada evaluasi hasil belajar siswa. Nilai maksimal yang diberikan guru untuk

siswa yang dapat menyelesaikan semua soal adalah 100 dengan rincian

sebagai berikut:

Tabel 4.2 Kriterian Penilaian Ulangan Listrik Dinamis

Tipe soal

Pertama Kedua

Nomor soal Skore soal Nomor soal Skore soal

1 1 9 3 2 2 10 3 3 1 11 3 4 1 12 3 5 1 13 12 6 1 14 3 7 1 15 3 8 2 Jumlah 10 30

Berdasarkan tabel di atas, guru membuat kriteria penilaian sebagai

berikut:

Kriteria penilaian

Skore maksimal = tipe soal pertama + tipe soal kedua = 10 + 30 = 40

Nilai maksimal = (skore maksimal / 4) X 10 = 100

Penjelasan lebih lanjut tentang penilaian yang dilakukan guru dalam

evaluasi listrik dinamis dapat dilihat pada lampiran 9.

Berdasarkan penjelasan mengenai evaluasi yang dilakukan guru pada

materi listrik dinamis dapat disimpulkan bahwa guru mampu dan paham

dengan dua tipe untuk mengecek pemahaman siswa tentang konsep teori

dan penggunaan persamaan-persamaan matematis. Guru melakukan

persiapan dengan membuat kisi-kisi soal beserta penyelesaian soal dan

kriteria penilaian jawaban siswa sehingga memudahkan guru dalam

Dokumen terkait