• Tidak ada hasil yang ditemukan

Solusi dalam Mengatasi Kendala- Kendala yang Dihadapi

Dalam dokumen tesis model kurikulum integrasi (Halaman 182-189)

WEIGHTING OF ASSESSMENT OBJECTIVES

4.6. Solusi dalam Mengatasi Kendala- Kendala yang Dihadapi

Dalam proses menyusun desain kurikulum, pendidik harus sadar bahwa dalam mendesain dan mengimplementasikan kurikulum pihak SMAN 3 Madiun tetap berpegang pada elemen penting yaitu siswa yang meliputi kebutuhan siswa dan relevansi dari kurikulum yang didesain dengan kebutuhan siswa saat ini, mendasari proses pengintegrasian kurikulum. Ada beberapa langkah dalam pengembangan kurikulum sesuai dengan hasil wawanara dengan salah satu informan (Wakil Kepala Sekolah Urusan Kurikulum), bahwa:

“Langkah langkah pengembangan kurikulumnya dengan cara pengembangan dari yang sederhana ke arah yang kompleks: (1) Membuat perbandingan antara kurikulum nasional dengan internasional (BSNP ) untuk tujuan pembelajarannya, (2) Menyusun secara runtut urutan materi dari yang sederhana ke yang komplek, (3) Menjabarkan kompetensi dasar BSNP dalam indikator-indikator, (4) Mengidentifikasi indikator- indikator dari kurikulum Cambridge, (5) Mengintegrasikan kedua indikator sehingga menjadi satu kesatuan, (6) Menyusun syllabus integrasinya”

Untuk syllabus integrasi dari 5 mata pelajaran tersebut sudah masuk dalam KTSP sekolah yang secara resmi mulai digunakan tahun pelajaran 2007-2008, walaupun terkadang banyak kendala yang dihadapi dalam proses penyusunan dan pengimplemetasian kurikulum.

Oleh karena itu untuk mengatasi kurangnya referensi untuk siswa maka guru memuat handout / modul berbahasa inggris dengan bantuan dosen pendamping dari PTN dan untuk membiasakan pembelajaran dalam bahasa inggris team teaching ditambah dengan dosen dari PTN yang memang telah memiliki kualifikasi berbahasa inggris dengan lancar dan baik.

Prinsip yang paling umum dan paling esensial yang dapat diambil dari teori konstruktivistik adalah guru merancang pembelajaran dimana siswa memperoleh banyak pengetahuan di luar sekolah (kelas). Menurut pandangan konstruktivism, pengetahuan bukan merupakan kumpulan fakta dari suatu kenyataan yang sedang dipelajari, melainkan merupakan bentukan kognitif seseorang terhadap obyek, pengalaman maupun lingkungannya. Pembentukan pengetahuan dilakukan secara terus menerus oleh seseorang yang setiap saat mengalami reorganisasi karena adanya pemahaman-pemahaman baru.

Dalam setiap kegiatan tidak lepas dari kndala – kendala, tetapi harus dicari solusinya. Demikian juga halnya dengan kendala-kendala yang ditemui SMA Negeri 3 Madiun dalam menyusun dan mengimplementasikan kurikulum integrasi, harus dicari solusinya agar sebagai pelaksana kegiatan tetap dapat melaksanakan kebijakan yang dibuat oleh Departemen Pendidikan Nasional. Solusi – solusi tersebut

seperti yang dituturkan oleh Kepala SMA Negeri 3 Madiun dalam wawancara sebagai berikut :

“ SMA Negeri 3 Madiun telah melakukan beberapa langkah dalam menghadapi pelaksanaan sebagai Rintisan SBI antara lain : (1) untuk menyiapkan SDM guru telah dilakukan pelatihan computer dan kursus bahasa inggris khusus pada guru science dan matematika yang telah masuk tahun kedua, (2) untuk kelancaran penyusunan kurikulum integrasi dan membantu pemahaman guru tentang kurikulum Canbridge serta untuk melatih kelancaran bahasa inggris guru, SMA Negeri 3 Madiun melakukan kerjasama dengan beberapa dosen dari Perguruan Tinggi Negeri untuk melakukan pendampingan dan sebagai konsultan dari guru science dan matematika, (3) Melakukan penyusunan kurikulum integrasi dengan berpedoman pada teori dan prinsip pengembangan kurikulum yang sesuai, (4) memberikan keleluasaan kepada guru untuk merumuskan indicator yang sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai, (5) melengkapi buku-buku referensi untuk guru dan siswa dari Cambridge University Press, (6) melengkapi tiap kelas dengan kompputer dan LCD serta jaringan LAN, (7) memberikan beban mengajar yang tidak terlalu berat pada guru yang mengajar di kelas Rintisan SBI, (8) Memberikan penghargaan khusus pada guru bahasa Inggris dan science dan matematika berupa insentif tertentu, (9) memberlakukan English day pada seluruh warga sekolah khususnya siswa. ”

Kendala tidak adanya dokumen kurikulum yang diadaptasi sebagai contoh, dari pembuat kebijakan, solusi yang dilakukan yaitu dengan melakukan bencmark ke negara-negara tetangga untuk mempelajari dokumen kurikulumnya untuk menjadi pertimbangan.

Kendala tidak adanya ketentuan kurikulum internasional yang akan diadaptasi dan level kurikulum yang akan diadaptasi solusi melakukan kerja sama dengan Cambridge University untuk menjadi ” Centre” sehingga kita dapat mengadaptasi kurikulumnya sekaligus menjadi sekolah yang dipercaya untuk melaksanakan ujian sertifikasi internasional sendiri .

Kendala tidak adanya petunjuk yang baku dalam penyusunan kurikulum dari pembuat kebijakan.

Solusi melakukan studi literatur tentang kebijakan diversivikasi kurikulum dan teori serta landasan

pengembangan kurikulum.

Kendala keterbatasan guru dalam penguasaan bahasa Inggris, sehingga membutuhkan waktu yang cukup lama untuk memahami isi dan materi kurikulum dari Cambridge University.

Solusi melakukan kerja sama dengan dosen PTN sesuai dengan matapelajaran dan memiliki kompetensi berbahasa iinggris yang baik.

Pendampingan dilakukan selama penyususnan kurikulum maupun implementasinya dalam pembelajaran.

Kendala dalam standart isihanya berisi standart kompetensi dan kompetensi dasar, indikator tiap-tiap kompetensi dasar, guru harus menjabarkan dan mengintegrasikan dengan indikator internasional.

Solusiuntuk kompetensi dasar yang sama dengan materi yang sama maka indikator menyesuaikan dengan indikator yang terdapat pada kurikulum Nasional tahun 2004.

Kendala memahami kedalaman materi yang diminta oleh kurikulum internasional.

Solusidengan melakukan pendampingan oleh dosen dari PTN

Kendala keterbatasan buku referensi internasionalbaik untuk guru maupun siswa.

Solusi pembelian buku referensi untuk guru dan siswa secara bertahap setiap tahun dianggarkan.

Kendala keterbatasan sekolah dalam menyediakan sarana pembelajaran yang berbasis ICT sesuai tuntutan kurikulum internasional.

Solusi melengkapi secra bertahap sarana pembelajaran berbasis ICT dan dianggarkan setiap tahun. Dalam rencana tahunan tercapai 100% pada tahun 2008/2009.

Kendala keterbatasan waktu guru untuk mempelajari dan menyiapkan

perangkat pembelajaran yang dituntut oleh standart criteria SBI.

Solusi untuk guru matapelajaran yang diintegrasikan diberikan beban mengajar maksimal 18 jam pelajaran per minggu, dan diwajibkan mengikuti MGMP RSBI se Jawa Timur untuk sharing dengan sekolah lain.

BAB V PENUTUP 5.1 . Kesimpulan

1. Secara umum tujuan, isi, strategi dan organisasi kurikulum integrasi telah sesuai dengan kurikulum internasional yang diadaptasi yaitu kurikulum dari Cambridge University dan telah sesuai dengan ketentuan standart criteria SBI, bahwa kurikulum yang digunakan adalah kurikulum nasional yang diadaptasikan dengan kurikulum internasional.

2. Model pengembangan kurikulum integrasi menganut prinsi pengembangan

The grass root model dan the demonstration model, sebab kurikulum integrasi disusun berdasarkan inisiatif dan upaya pengembangan dari sekolah, sebagai bentuk implementasi suatu kebijakan. Selain itu kurikulum integrasi yang disusun oleh SMA Negeri 3 Madiun hanya dan masih berlaku untuk lingkup SMA negeri 3 Madiun.

3. Implementasi kurikulum integrasi mempunyai sasaran adalah siswa, sebagai obyek yang menerima implementasi kebijakan, guru sebagai pelaksanan kebijakan, dan lembaga dalam hal ini sekolah, sebagai fasilitator dalam menyiapkan sarana pembelajaran dan memfasilitasi semua kebutuhan guru dan siswa dalam proses pembelajaran.

4. Kompetensi siswa

Untuk mengukur kompetensi siswa digunakan nilai hasil belajar siswa yang menggunakan standart kriteria yaitu standart ketuntasan minimal. Dari hasil belajar maupun uji coba sertifikasi, kompetensi yang dicapai siswa baik kognitif, afektif dan psikomotor belum maksimal, hal ini dapat

dilihat dari : (a) penentuan SKBM masih ada yang di bawah ketentuan SKBM nasional, ( b) dari hasil tes uji coba sertifikasi masih banyak siswa yang kurang kompeten. Sehingga dapat dikatakan masih jauh dari standart criteria yang ditentukan oleh Rintisan SBI

5. Dalam penyusunan dan pengimplementasian kurikulum integrasi terdapat kendala-kendala yaitu: (a) kurang siapnya pembuat kebijakan dalam memfasilitasi kebijakan yang dibuat, (b) kurangnya dukungan pemerintah daerah tingkat I maupun tingkat II dalam memfasilitasi operasional dari program tersebut, (c) kurangnya motivasi guru untuk melakukan inovasi pembelajaran dan pembaharuan pendidikan, (d) kurangnya kompetensi guru dalam bidang bahasa inggris dan TIK, (e) kurang lengkapnya sarana pembelajaran sesuai kriteria internasional, (f) kurangnya dukungan masyarakat terhadap program tersebut.

6. Dibutuhkan solusi agar sebagai pelaksana kegiatan tetap dapat melaksanakan kebijakan yang dibuat oleh Departemen Pendidikan Nasional. Solusi – solusi tersebut adalah (1). Dilakukan pelatihan komputer dan kursus bahasa inggris khusus pada guru science dan matematika, (2) Kerjasama dengan beberapa dosen dari Perguruan Tinggi Negeri untuk melakukan pendampingan, (3) Melakukan penyusunan kurikulum integrasi dengan berpedoman pada teori dan prinsip pengembangan kurikulum yang sesuai, (4) memberikan keleluasaan kepada guru untuk merumuskan indicator yang sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai, (5) melengkapi buku-buku referensi dari Cambridge

University Press, (6) melengkapi tiap kelas dengan kompputer dan LCD serta jaringan LAN, (7) memberikan beban mengajar yang tidak terlalu berat pada guru yang mengajar di kelas Rintisan SBI, (8) Memberikan penghargaan khusus pada guru bahasa Inggris dan science dan matematika berupa insentif tertentu, (9) memberlakukan English day pada seluruh warga sekolah khususnya siswa.

5.2. Saran

Dengan memperhatikan hasil penelitian tentang Model Kurikulum Integrasi Pada Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional di SMA Negeri 3 Madiun, maka di sarankan agar:

1. Sufisiensi yaitu pengembangan kurikulum integrasi yang memunculkan terobosan inovatif untuk membuat ketersediaan dan keterbukaan dengan paradigma pendidikan masa kini, dimana perubahan sosial sebagai suatu keniscayaan.

2. Efisiensi yaitu pendidikan di SMA Negeri 3 Madiun yang memunculkan terobosan inovatif untuk membuat program pendidikan yang berprespektif masa depan.

3. Fasilitas yaitu sarana pendidikan yang memunculkan terobosan inovatif yang menyangkut secara langsung kepentingan para peserta didik dari tiga parameter ini maka pihak sekolah diharapkan dapat terhindar dari penafsiran yang kolot di dalam memaknai pendidikan saat ini.

Dalam dokumen tesis model kurikulum integrasi (Halaman 182-189)