• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II LANDASAN HUKUM ATAS PEMBERIAN REHABILITASI

D. Manfaat Pemberian Rehabilitasi Bagi Anak Pelaku Tindak Pidana

4. Solusi Dalam Menyelesaikan Permasalahan Pemberian

c. Melakukan penelitian dan pendidikan mengenai anak.

d. Berpartisipasi dalam penyelesaian perkara anak melalui diversi dan pendekatan keadilan restoratif.

e. Berkontribusi dalam rehabilitasi dan reintegrasi sosial anak, anak korban dan/atau anak saksi melalui organisasi kemasyarakatan.

f. Melakukan pemantauan terhadap kinerja aparat penegak hukum dalam penanganan perkara anak, atau

g. Melakukan sosialisasi mengenai hak anak serta peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan anak.124

4. Solusi Dalam Menyelesaikan Permasalahan Pemberian Rehabilitasi Bagi Anak Pelaku Tindak Pidana Narkotika

Solusi yang diambil dalam meningkatkan upaya rehabilitasi yakni melakukan pendekatan yang bersifat partisipatoris dalam seluruh program dengan melibatkan seluruh pihak yang berkepentingan. Kedua, menyusun strategi untuk menyamakan

124 Pasal 93 Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2012 Tentang Sistem Peradilan Pidana Anak

persepsi dan assessment terhadap program-program yang telah dilakukan oleh institusi penegak hukum. Ketiga, mengenalkan konsep sistem penegakan hukum yang berkeadilan dengan menggali pengalaman para pihak yang terlibat dalam Program dalam menangani kekerasan terhadap anak. Hakim juga lebih mengedepankan putusan rehabilitasi bagi pelaku atau pengguna penyalahguna narkoba terkhusus bagi anak, ada beberapa hal yang dapat dilakukan:

1. Pertama adalah perlu ada pembaharuan hukum pidana menyangkut hak untuk mendapatkan rehabilitasi tersebut yang dituangkan dalam undang-undang yang bersangkutan. Artinya ada perombakan terhadap undang yang terkait untuk menambahkan bahwa hak rehabilitasi adalah hak yang tidak saja menjadi hak bagi pecandu narkoba, tetapi juga menjadi hak pelaku atau pengguna penyalahguna narkoba.

2. Pembaharuan juga harus dilakukan terhadap sanksi yang dicantumkan.

Menyangkut sanksi yang dapat diberikan terhadap pelaku penyalahguna narkoba terkhusus tentang pengguna, perlu ditambahkan sanksi yang bersifat treatment atau tindakan yang memang dari hakikatnya sangat berbeda dengan sanksi pidana seperti yang djelaskan pada bab-bab sebelumnya dan bukan hanya sanksi pidana saja, karena memang bagi pengguna yang diyakini memang merupakan korban, seharusnya treatment berupa rehabilitasi yang lebih bijak diberikan dibanding dengan sanksi pidana.

Kedua upaya ini memang harus dilakukan, karena mengingat seluruh aparat penegak hukum, terutama hakim sebagai pemutus perkara, sangat kental dengan paradigma pikir yang positivisme. Hakim tidak berani untuk memberi putusan lain, selain apa yang dirumuskan dalam undang-undang. Menyangkut tentang hakim sendiri, ada harapan bahwa lebih mengedepankan nilai keadilan dan kepatutan (disebut kebijakan apabila menyangkut tentang anak) dibanding dengan nilai kepastian hukumnya, karena yang ada selama ini, bahwa hakim justru mengedepankan nilai kepastian hukum dibanding dengan nilai keadilan, padahal bagi

anak tentu sangat dipertimbangkan hal yang demikian mengingat anak adalah manusia yang dependen dan sangat perlu akan kasih sayang yang mendalam dari orang dewasa di sekitarnya, tidak terkecuali terhadap hakim.125

Selain itu peningkatan kerjasama dengan instansi pemerintah terkait lainnya dengan maksud untuk menyamakan persepsi terkait pelaksanaan undang-undang narkotika. Meningkatkan koordinasi yang lebih intens dengan lintas aparat penegak hukum dan membuat aturan bersama lintas aparat penegak hukum dengan melibatkan Kementerian Kesehatan, Kementerian Sosial, BNN dalam hal penanganan pecandu narkoba untuk mendapatkan rehabilitasi.

125 Nashriana, Pertimbangan Hakim Dalam Menjatuhkan Putusan Pidana Penjara Terhadap Anak Pelaku Penyalahgunaan Narkoba, Artikel, (Palembang: Universitas Sriwijaya, 2009), hlm. 34

BAB III

PERTIMBANGAN HAKIM DALAM MEMBERIKAN REHABILITASI TERHADAP ANAK PELAKU TINDAK PIDANA NARKOTIKA

A. Pertimbangan Hakim Dalam Memberikan Rehabilitasi Terhadap Anak Pelaku Tindak Pidana Narkotika Pada Penetapan Nomor 111/Pid.Sus-Anak/2014/Pn.Sby

1. Kasus Posisi a. Kronologi

Perkara anak dengan tersangka Jerrico Rizky Anugrah Bin Heri Siswanto, Surabaya 16 Juli 1997, Umur 17 Tahun, Laki-Laki, Kebangsaan Indonesia, Jl. Cipta Menanggal I Blok 16 No. H1 Surabaya, Agama Kristen, Pendidikan SMK Kelas 1.

Berdasarkan laporan hasil diversi dan laporan hakim tanggal 18 Nopember 2014, antara anak dan Jaksa Penuntut Umum dan Bapas telah dicapai kesepakatan diversi tanggal 18 Nopember 2014, dengan ketentuan sebagai berikut:126

1) Bahwa tersangka telah mengakui dan menyesali perbuatannya dan berjanji tidak akan mengulangi perbuatannya lagi.

2) Bahwa Tim Asesmen Terpadu BNN Provinsi Jawa Timur telah merekomendasikan, agar anak menjalani rehabilitasi di UPT Rehab Sosial ANKN (Anak Nakal dan Korban Narkotika) Jalan Balong Sari Dalam No.1 Surabaya.

3) Bahwa Pembimbing Kemasyarakatan Bapas kelas I Surabaya menyetujui Asesmen Terpadu BNN Provinsi Jawa Timur yang merekomendasikan agar anak menjalani Rehabilitasi Sosial di ANKN (Anak Nakal dan Korban Narkotika).

4) Bahwa Jaksa Penuntut Umum dan Bapas sepakat, bahwa anak yang bernama Jerrico Rizky Anugrah Bin Heri Siswanto, menjalani Rehabilitasi Sosial di ANKN (Anak Nakal dan Korban Narkotika) selama 4 (empat) bulan, terhitung sejak penetapan ditetapan oleh Ketua Pengadilan Negeri Surabaya.

126 Penetapan Nomor 111/Pid.Sus-Anak/2014/Pn.Sby

b. Pertimbangan Hakim

Pertimbangan pemberian rehabilitasi bagi anak pelaku tindak pidana narkotika pada penetapan ini didasarkan karena:127

a. Bahwa anak telah mengakui dan menyesali perbuatannya dan berjanji tidak akan mengulangi perbuatannya lagi.

b. Bahwa BNN Provinsi Jawa Timur telah merekomendasikan, agar anak menjalani rehabilitasi pada Unit Pelayanan Terpadu Rehab Sosial ANKN (Anak Nakal & Korban Narkotika) Jalan Balong Sari Dalam No. 1 Surabaya.

c. Bahwa Pembimbing Kemasyarakatan Bapas kelas I Surabaya menyetujui dan merekomendasikan agar anak menjalani rehabilitasi sosial.

d. Bahwa BNN sepakat bahwa anak tersebut menjalani rehabilitasi sosial selama 4 (empat) bulan, terhitung sejak penetapan ditetapan oleh Ketua Pengadilan Negeri Surabaya.

c. Penetapan Hakim

Memperhatikan ketentuan Pasal 12, Pasal 52 ayat 5 Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2012 Tentang Sistem Peradilan Pidana Anak serta peraturan peraturan perundang-undangan lain yang bersangkutan, maka dalam hal ini Ketua Pengadilan Negeri Surabaya Menetapkan:128

1) Mengabulkan permohonan pemohon hakim.

2) Memerintahkan para pihak untuk melaksanakan kesepakatan diversi.

3) Memerintahkan hakim untuk mengeluarkan penetapan penghentian pemeriksaan setelah kesepakatan diversi dilaksanakan seluruhnya.

4) Memerintahkan pengadilan untuk bertanggung jawab atas barang bukti sampai kesepakatan diversi dilaksanakan seluruhnya.

5) Memerintahkan barang bukti berupa 1 (satu) buah pipet kaca yang masih ada sabu sisa pakai dengan berat kurang lebih 1,59 gram, 1 buah alat hisap sabu dari botol You C 1000, 3 buah korek api, 3 buah skrop dari sedotan plastic 3 kompor dari botol plastik, di gunakan pembuktian dalam perkara lain.

127 Penetapan Nomor 111/Pid.Sus-Anak/2014/Pn.Sby

128 Penetapan Nomor 111/Pid.Sus-Anak/2014/Pn.Sby

2. Analisis Kasus

Jenis tindak pidana yang dapat dilakukan pelaksanaan konsep diversi dalam Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2012 Tentang Sistem Peradilan Pidana Anak adalah jenis tindak pidana yang berupa tindak pidana ringan, tindak pidana yang berupa pelanggaran dan tindak pidana yang memiliki ancaman pidana dibawah 7 (tujuh) tahun dan bukan merupakan pengulangan tindak pidana, dimana hal ini di sebutkan dalam Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2012 Sistem Peradilan Pidana Anak, yakni:

Pasal 7

(1) Pada tingkat penyidikan, penuntutan, dan pemeriksaan perkara anak di pengadilan negeri wajib diupayakan diversi.

(2) Diversi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan dalam hal tindak pidana yang dilakukan:

a. Diancam dengan pidana penjara di bawah 7 (tujuh) tahun, dan b. Bukan merupakan pengulangan tindak pidana.

Pasal 9

(1) Penyidik, penuntut umum, dan hakim dalam melakukan diversi harus mempertimbangkan:

a. Kategori tindak pidana b. Umur anak

c. Hasil penelitian kemasyarakatan dari bapas, dan d. Dukungan lingkungan keluarga dan masyarakat.

(2) Kesepakatan diversi harus mendapatkan persetujuan korban dan/atau keluarga anak korban serta kesediaan anak dan keluarganya, kecuali untuk:

a. Tindak pidana yang berupa pelanggaran, b. Tindak pidana ringan,

c. Tindak pidana tanpa korban, atau

d. Nilai kerugian korban tidak lebih dari nilai upah minimum provinsi setempat.

Sebagaimana yang diketahui bahwa diversi merupakan wewenang dari aparat penegak hukum yang menangani kasus tindak pidana untuk mengambil tindakan

meneruskan perkara atau mengehentikan perkara, mengambil tindakan tertentu sesuai dengan kebijakan yang dimiliknya.129

Berdasarkan hal tersebut terdapat suatu kebijakan apakah pekara tersebut diteruskan atau dihentikan, apabila perkara tersebut diteruskan, maka akan berhadapan dengan sistem peradilan pidana anak dan akan terdapat sanksi pidana yang harus dijalankan, namun apabila perkara tersebut tidak diteruskan, maka dari awal tingkat penyidikan perkara akan dihentikan guna kepentingan bagi kedua belah pihak.

Pada prinsipnya diversi dimaksudkan untuk memulihkan hubungan yang terjadi karena adanya tindak pidana yang terjadi dan juga untuk kepentingan masa depan bagi kedua belah pihak. Hal inilah yang menjadi prinsip mengapa dilakukan diversi khusunya bagi anak pelaku tindak pidana yang dimaksudkan untuk mewujudkan kesejahteraan bagi anak itu sendiri. Melalui diversi, diharapkan dapat memberikan kesempatan bagi anak untuk menjadi sosok baru yang bersih dari catatan kejahatan dan tidak menjadi residivis.130

Timbul perbedaan pemahaman mengenai tahapan yang paling efektif untuk melakukan pendiversian, apakah dilakukan pada tahap penyelidikan di kepolisian, penyidikan di kejaksaan ataupun pemeriksaan di pengadilan, jika dilihat dari pengertian utama diversi yaitu penyimpangan perkara anak yang berhadapan dengan hukum dan sistem peradilan pidana formal, sehingga anak terhindar dari dampak

129 Marlina, Op. Cit., hlm. 1.

130 Ibid., hlm. 2

buruk sistem tersebut, maka jika melihat penekanan ini, seharusnya sejak dari awal pada tingkat kepolisian kasus anak harus langsung di diversi, dan jika sudah dalam tahap kejaksaan dan tahapan selanjutnya tidak akan efektif karena anak tersebut telah masuk dalam sistem peradilan pidana.131

Diversi harus diupayakan dalam setiap tahapan pemeriksaan mulai dari kepolisian hingga persidangan, dimana hal ini dimaksudkan untuk mencegah adanya penyalahgunaan diversi karena faktor tertentu, seperti jabatan orang tua pelaku tindak pidana, harta yang dimiliki, atau koneksi pada penegak hukum tersebut. Pendiversian disemua tahap ditegaskan dalam Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2012 Tentang Sistem Peradilan Pidana Anak.

Penyidik wajib mengupayakan diversi dalam waktu paling lama 7 (tujuh) hari setelah penyidikan dimulai. Proses diversi dilaksanakan paling lama 30 (tiga puluh) hari setelah dimulainya diversi. Pada proses diversi yang telah berhasil mencapai kesepakatan, maka penyidik harus menyampaikan berita acara diversi beserta kesepakatan diversi kepada ketua pengadilan negeri untuk dibuat penetapan, dan dalam hal diversi gagal, penyidik wajib melanjutkan penyidikan dan melimpahkan perkara ke penuntut umum dengan melampirkan berita acara diversi dan laporan penelitian kemasyarakatan.

Kesepakatan diversi dimaksudkan untuk menyelesaikan tindak pidana yang berupa pelanggaran, tindak pidana ringan, tindak pidana tanpa korban, atau nilai

131 Pasal 7 Ayat (1) Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2012 Tentang Sistem Peradilan Pidana Anak

kerugian korban tidak lebih dari nilai upah minimum provinsi setempat. Diversi dapat dilakukan oleh penyidik bersama pelaku dan/atau keluarganya, pembimbing kemasyarakatan, serta dapat melibatkan tokoh masyarakat. Kesepakatan diversi dilakukan oleh penyidik atas rekomendasi pembimbing kemasyarakatan dapat berbentuk pengembalian kerugian dalam hal ada korban, rehabilitasi medis dan psikososial, penyerahan kembali kepada orang tua/wali, keikutsertaan dalam pendidikan atau pelatihan di lembaga pendidikan atau LPKS paling lama 3 (tiga) bulan, atau pelayanan masyarakat paling lama 3 (tiga) bulan.132

Hasil kesepakatan dituangkan dalam bentuk kesepakatan diversi. Hasil kesepakatan diversi disampaikan oleh atasan langsung pejabat yang bertanggung jawab di setiap tingkat pemeriksaan ke pengadilan negeri sesuai dengan daerah hukumnya dalam waktu paling lama 3 (tiga) hari sejak kesepakatan dicapai untuk memperoleh penetapan. Penetapan dilakukan dalam waktu paling lama 3 (tiga) hari terhitung sejak diterimanya kesepakatan diversi. Penetapan disampaikan kepada pembimbing kemasyarakatan, penyidik, penuntut umum, atau hakim dalam waktu paling lama 3 (tiga) hari sejak ditetapkan. Setelah menerima penetapan penyidik menerbitkan penetapan penghentian penyidikan atau penuntut umum menerbitkan penetapan penghentian penuntutan.133

Tujuan dari diversi adalah untuk mendapatkan cara menangani pelanggaran hukum diluar pengadilan atau sistem peradilan yang formal. Ada kesamaan antara

132 Pasal 10 Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2012 Tentang Sistem Peradilan Pidana Anak.

133 Pasal 12 Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2012 Tentang Sistem Peradilan Pidana Anak.

tujuan diskresi dan diversi. Pelaksanaan diversi dilatar belakangi keinginan menghindari efek negatif terhadap jiwa dan perkembangan anak oleh keterlibatannya dengan sistem peradilan pidana. Pelaksanaan diversi oleh aparat penegak hukum didasari oleh kewenangan aparat penegak hukum yang disebut discretion atau diskresi.134

Diversi dilakukan dengan alasan untuk memberikan suatu kesempatan kepada pelanggar hukum agar menjadi orang yang baik kembali melalui jalur non formal dengan melibatkan sumber daya masyarakat. Diversi berupaya memberikan keadilan kepada kasus anak yang telah terlanjur melakukan tindak pidana sampai kepada aparat penegak hukum sebagai pihak penegak hukum. Kedua keadilan tersebut dipaparkan melalui sebuah penelitian terhadap keadaan dan situasi untuk memperoleh sanksi atau tindakan yang tepat (appropriate treatment) tiga jenis pelaksanaan program diversi dilaksanakan yaitu :

1. Pelaksanaan kontrol secara sosial (sosial control orintation) yaitu aparat penegak hukum menyerahkan pelaku dalam tanggung jawab pengawasan atau pengamatan masyarakat, dengan ketaatan pada persetujuan atau peringatan yang diberikan. Pelaku menerima tanggung jawab atas perbuatannya dan tidak diharapkan adanya kesempatan kedua kali bagi pelaku oleh masyarakat.

2. Pelayanan sosial oleh masyarakat terhadap pelaku (sosial service orientation), yaitu melaksanakan fungsi untuk mengawasi, mencampuri, memperbaiki dan menyediakan pelayanan pada pelaku dan keluarganya. Masyarakat dapat mencampuri keluarga pelaku untuk memberikan perbaikan atau pelayanan.

3. Menuju proses restorative justice atau perundingan (balanced or restroative justice orientation), yaitu melindungi masyarakat, memberi kesempatan pelaku bertanggung jawab langsung pada korban dan masyarakat dan membuat kesepakatan bersama antara korban pelaku dan masyarakat, pelaksanaanya

134 Ibid., hlm. 2.

semua pihak yang terkait dipertemukan untuk bersama-sama mencapai kesepakatan tindakan pada pelaku.135

Berdasarkan kesepakatan diversi tersebut telah memenuhi dan tidak bertentangan dengan perundang-undangan, sehingga beralasan untuk dikabulkan oleh pengadilan negeri selaku pembuat keputusan mengenai rehabilitasi. Perlu diketahui bahwa penetapan ini merupakan produk hukum lembaga peradilan yang sama kekuatan hukumnya dengan putusan pengadilan lainnya dan penetapan ini merupakan bentuk pengalihan pidana anak dari hukuman penjara menjadi rehabilitasi, dimana pemberian ini dimaksudkan agar mengubah prilaku anak menjadi lebih baik lagi.

B. Pertimbangan Hakim Dalam Memberikan Rehabilitasi Terhadap Anak Pelaku Tindak Pidana Narkotika Pada Putusan Nomor 1817 K/Pid.Sus/2011 1. Kasus Posisi

a. Kronologi

Perkara pidana khusus dalam tingkat kasasi dengan terdakwa Ahmad Ferdiansyah, Medan 6 Februari 1993, Umur 17 Tahun, Laki-Laki, Indonesia, Jalan Pademangan II, Gang 18 No. 6 RT.005 RW.003, Kelurahan Pademangan Timur, Kecamatan Pademangan, Jakarta Utara, Agama Islam, Pekerjaan Karyawan.

Terdakwa Ahmad Ferdiansyah pada hari Jum’at tanggal 14 Januari 2011 sekitar pukul 23.00 WIB, atau setidak-tidaknya pada suatu waktu lain dalam bulan Januari 2011, bertempat di Jalan Kran Raya, Kelurahan Gunung Sahari Selatan, Kecamatan Kemayoran, Jakarta Pusat, atau setidak-tidaknya pada suatu tempat yang masih termasuk dalam daerah hukum Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, tanpa hak atau

135 Ibid., hlm. 5-6.

melawan hukum menanam, memelihara, memiliki, menyimpan, menguasai atau menyediakan Narkotika Golongan I dalam bentuk tanaman.

b. Dakwaan

Berdasarkan dakwaan yang diajukan oleh jaksa penuntut umum diketahui bahwa:136

a. Pada waktu dan tempat sebagaimana tersebut di atas, terdakwa ditangkap oleh saksi Dasuki, saksi Suprayogo dan saksi Topan Meidika (ketiganya adalah anggota Unit Narkoba Polsek Kamayoran), dan saat akan dilakukan penggeledahan badan, saat itu terdakwa membuang 1 (satu) bungkus kertas warna putih berisikan daun ganja yang sebelumnya diselipkan di celana bagian depan, dan saat terdakwa membuang 1 (satu) bungkus kertas warna putih berisikan daun ganja tersebut diketahui oleh saksi Suprayogo, selanjutnya terdakwa diminta untuk mengambil kembali 1 (satu) bungkus kertas warna putih berisikan daun ganja yang telah dibuangnya tersebut, yang merupakan milik terdakwa yang didapatkan dari Ali (DPO) dengan cara membeli seharga Rp.

10.000 (sepuluh ribu rupiah).

b. Bahwa terdakwa dalam memiliki, menyimpan atau menguasai Narkotika Golongan I dalam bentuk tanaman berupa 1 (satu) bungkus kertas putih berisi daun ganja kering tersebut tidak ada ijin dari kementerian kesehatan atau pejabat yang berwenang untuk itu.

c. Berdasarkan Berita Acara Pemeriksaan Laboratoris UPT Laboratorium Uji Narkoba Pelaksana Harian Badan Narkotika Nasional No. 12.B/II/2011/UPT.Lab Uji Narkoba, menyimpulkan bahwa barang bukti berupa 1 (satu) bungkus kecil kertas berisi bahan/daun dengan berat netto 1,0160 gram milik Ahmad Ferdiansyah adalah positif ganja mengandung THC (tetrahydrocannabinol) dan terdaftar dalam Golongan I Nomor Urut 8, 9 Lampiran I Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 35 Tahun 2009 Tentang Narkotika.

Perbuatan terdakwa tersebut merupakan perbuatan tindak pidana yang dilarang oleh ketentuan peraturan perundang-undangan sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam Pasal 111 ayat (1) Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 Tentang Narkotika.

136 Putusan Nomor 1817 K/Pid.Sus/2011

c. Tuntutan

Berdasarkan tuntutan pidana yang diajukan oleh jaksa penuntut umum diketahui bahwa:137

1) Menyatakan terdakwa Ahmad Ferdiansyah terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana tanpa hak atau melawan hukum memiliki, menyimpan atau meguasai Narkotika Golongan I dalam bentuk tanaman berupa ganja.

2) Menjatuhkan pidana terhadap terdakwa Ahmad Ferdiansyah dengan pidana penjara selama 4 (empat) tahun dikurangi selama terdakwa berada dalam tahanan, dengan perintah agar terdakwa tetap ditahan.

3) Menjatuhkan pidana denda sebesar Rp. 800.000.000 (delapan ratus juta rupiah) subsidair 6 (enam) bulan penjara.

4) Menyatakan barang bukti berupa 1 (satu) bungkus kecil kertas berisi bahan atau daun dengan berat netto 1,0160 gram setelah dipergunakan untuk pemeriksaan laboratorium sisa 0,7753 gram, dirampas untuk dimusnahkan.

5) Menetapkan agar terdakwa dibebani membayar biaya perkara sebesar Rp. 2.000 (dua ribu rupiah).

d. Pertimbangan Hakim

Menurut pendapat hakim, bahwa putusan pengadilan tinggi tersebut telah diberitahukan kepada jaksa penuntut umum dan jaksa penuntut umum mengajukan permohonan kasasi, dengan demikian permohonan kasasi beserta dengan alasan-alasannya telah diajukan dalam tenggang waktu dan dengan cara menurut undang-undang, oleh karena itu permohonan kasasi tersebut formal dapat diterima. Hakim menyatakan bahwa alasan-alasan yang diajukan oleh pemohon kasasi pada pokoknya sebagai berikut:138

1) Bahwa dalam halaman 6 alinea terakhir Putusan Pengadilan Tinggi Jakarta menyebutkan “menimbang, bahwa oleh karena Terdakwa telah terbukti melakukan tindak pidana seperti disebutkan dalam pertimbangan di atas, maka

137 Putusan Nomor 1817 K/Pid.Sus/2011

138 Putusan Nomor 1817 K/Pid.Sus/2011

tergolong anak nakal sesuai Pasal 1 angka 2 huruf a Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 Tentang Narkotika.” Bahwa pertimbangan Putusan Pengadilan Tinggi DKI tersebut sangatlah keliru, karena mempertimbangkan anak nakal dengan mendasarkan pada Undang-Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 Tentang Narkotika.

2) Bahwa dalam halaman 7 alinea pertama Putusan Pengadilan Tinggi Jakarta menyebutkan “menimbang, Pasal 22 Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 menentukan terhadap anak nakal hanya dapat dijatuhi “pidana” atau “tindakan”

yang ditentukan dalam undang-undang”; Bahwa pertimbangan Putusan Pengadilan Tinggi DKI tersebut sangatlah keliru, karena bunyi Pasal 22 Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 adalah “Ketentuan lebih lanjut mengenai syarat dan tata cara memperoleh Surat Persetujuan Impor dan Surat Persetujuan Ekspor diatur dengan Peraturan Menteri”; Dari kekeliruan poin 1 dan 2 tersebut di atas, tidak tertutup kemungkinan akan berpengaruh terhadap kekeliruan dalam pertimbangan hukum selanjutnya, sehingga akan terjadi kekeliruan dalam penerapan hukum.

3) Bahwa dalam halaman 7 alinea terakhir Putusan Pengadilan Tinggi Jakarta menyebutkan “menimbang, bahwa Hakim Pengadilan Tinggi berpendapat menjatuhkan pidana penjara kepada terdakwa, apalagi untuk waktu yang cukup panjang sesuai Pasal 111 ayat (1) Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika, tidak sesuai dengan asas perlindungan anak yang mendahulukan kepentingan terbaik bagi anak sesuai Pasal 59 Jo Pasal 64 Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak.” Bahwa pertimbangan Majelis Hakim Pengadilan Tinggi Jakarta tersebut sangatlah keliru, karena dengan mempertimbangkan yang demikian berarti tertutup kemungkinannya bagi setiap anak yang melakukan tindak pidana yang ancamannya tinggi untuk dikenai pemidanaan (atau dengan kata lain, anak yang melakukan tindak pidana yang ancamannya tinggi, terlebih ada ancaman minimal untuk Pasal 111 ayat (1) selama 4 (empat) tahun), terhadap anak tersebut akan terlepas dari sanksi pemidanaan dan hanya dikenai “tindakan” dan ini justru bertentangan dengan ketentuan Pasal 22 Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1997 Tentang Pengadilan Anak yang membuka peluang untuk dijatuhinya sanksi pemidanaan bagi anak yang menyatakan terhadap anak nakal hanya dapat dijatuhi “pidana” atau “tindakan”, serta bertentangan atau tidak sesuai dengan ketentuan Pasal 26 ayat (1) mengenai ancaman pemidanaan bagi anak, yaitu paling lama setengah dari maksimum ancaman pidana bagi orang dewasa.

4) Bahwa dalam pertimbangannya, majelis hakim pengadilan tinggi jakarta semata-sama hanya mempertimbangkan kepentingan terdakwa, namun tidak mempertimbangkan mengenai kepentingan masyarakat umum lainnya, terutama mengenai maraknya penyalahgunaan narkotika yang akhir-akhir ini banyak dilakukan oleh anak, sehingga dikhawatirkan apabila putusan hakim berupa tindakan tersebut diberlakukan bagi setiap anak yang melakukan penyalahgunaan narkotika justru akan membahayakan bagi anak-anak lainnya, karena tidak

tertutup kemungkinan sindikat narkotika akan mencari sasarannya kepada anak, karena sindikat narkotika tersebut mempertimbangkan bahwa apabila melalui anak nantinya majelis hakim hanya menjatuhkan sanksi berupa tindakan.

Menurut hakim, bahwa atas alasan-alasan tersebut hakim berpendapat bahwa keberatan tersebut tidak dapat dibenarkan, oleh karena tidak terbukti dalam putusan pengadilan tinggi suatu peraturan hukum tidak diterapkan atau diterapkan tidak sebagaimana mestinya, atau cara mengadili tidak dilaksanakan menurut ketentuan undang-undang, atau pengadilan tinggi telah melampaui batas wewenangnya sebagaimana yang dimaksud dalam Pasal 253 Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP). Hakim menyatakan bahwa alasan kasasi tersebut tidak dapat dibenarkan, oleh karena mengenai berat ringannya hukuman dalam perkara ini adalah wewenang judex facti yang tidak tunduk pada kasasi, kecuali apabila judex facti menjatuhkan suatu hukuman yang tidak diatur oleh peraturan perundang-undangan.

Menurut pendapat hakim bahwa putusan Pengadilan Tinggi Jakarta No.

Menurut pendapat hakim bahwa putusan Pengadilan Tinggi Jakarta No.