Oleh : Kolonel Laut (T) Didik Hari Prasetyo, S.E.
Conventional Structure Base Isolated Structure
mengalami kerusakan yang fatal pasca gempa bumi. Kedua teknologi tersebut adalah Base Isolation Devices dan Seismic Dampers.
Base Isolation Devices Konsep dari Base Isolation Devices adalah sebagaimana digambarkan dalam figure 1.a, yaitu bangunan diletakkan di atas rollers yang bisa bergerak tanpa gesekan.
Ketika tanah bergetar, maka rollers akan bergerak dengan sendirinya dan bangunan di atasnya tidak ikut bergerak dan tidak terjadi penyaluran energi dari getaran gempa ke bangunan. Singkat kata, bangunan tidak akan merasakan getaran ketika ada gempa bumi.
Rollers bisa juga digantikan dengan lapisan fleksibel yang mampu melawan besarnya gaya ke samping (horisontal), sebagaimana digambarkan dalam figure 1.b.
Dengan adanya BIS, energi yang ditimbulkan oleh getaran tanah dapat diredam, sehingga menjadi sangat kecil dibandingkan apabila bangunan didirikan langsung di atas tanah tanpa base isolation, atau disebut dengan fixed base building (Figure 1c). Pada gambar tersebut nampak bahwa bangunan tanpa base isolation akan bergerak dengan kasar (apabila tanah bergetar) dan akan mengalami simpangan yang sangat besar.
Lapisan fleksibel itu disebut base-isolators dan bangunan diatasnya disebut base-isolated buildings. Keistimewaan dari teknologi ini adalah memberi kelenturan pada bangunan, karena isolators dirancang untuk meredam energi dan menambah damping sistem, sehingga dapat mengurangi seismic respon pada bangunan.
Terdapat berbagai macam isolator yang dapat ditemukan
di pasaran, bentuknya seperti bantalan karet yang besar dengan berbagai macam bahan yang harus disesuaikan dengan bangunan yang akan didirikan. Perlu dilakukan studi terlebih dahulu untuk menentukan tipe yang cocok dengan kekhususan bangunan.
Teknologi BIS mulai
dikembangkan sejak tahun 1980-an d1980-an sekar1980-ang sudah digunak1980-an di berbagai negara maju seperti di Italy, Japan, New Zealand dan USA.
Sekarang sudah banyak bangunan di seluruh dunia dilengkapi dengan BIS.
Fakta menyebutkan, sebagian besar korban gempa karena tertimpa bangunan. Maka, harus dipikirkan bangunan di daerah rawan gempa. Wilayah Indonesia selama ini dianalogikan sebagai laboratoriun gempa bumi dengan skala penuh. Dengan kondisi itu didapat berbagai teori kerusakan struktur bangunan yang bisa menjadi aneka model untuk memperbaiki rancang bangun.
Bahkan juga bisa melahirkan penemuan teknologi baru yang dapat dijadikan solusi tepat guna.
Berbagai temuan dan analisis model kerusakan dari laboratorium alam dapat digunakan sebagai dasar perbaikan rekayasa struktur bangunan bila ada gempa, agar korban diminimalkan. Kepedulian sering terlupakan sampai timbul bencana lagi. Program reduksi bencana dunia dari UN-ISDR (United Nations-International Strategy for Disaster Reduction), telah memberi pesan untuk senantiasa “Learning from today’s disasters for tomorrow’s hazards”
(Belajar dari bencana hari ini untuk menghadapi ancaman esok). Bagi daerah langganan gempa harus ekstra waspada dan mencari solusi teknologi meminimalkan korban jiwa dan harta benda.
Ada bahan baku lokal melimpah yang murah. Beberapa desain dan rancang bangun terhadap bangunan hasil inovasi para teknologi lokal sudah berhasil diselesaikan dengan baik. Sayang, banyak pihak kurang merespons dan memasyarakatkan hasil aplikasi teknologi tepat guna tadi. Salah satu solusi tersebut seismic bearing hasil rancang bangun para teknolog Balai Penelitian Teknologi Karet (BPTK) Bogor, Jawa Barat. Teknologi bangunan dengan metode seismic
bearing mampu meredam berbagai energi dan gaya akibat gempa menggunakan bantalan karet alam dipadu lempeng baja.
Adapun alat peredam gempa tersebut, cukup banyak jenisnya, antara lain :
1. Bantalan karet tahan gempa (seismic bearing)
2. Lock Up Device (LUD) 3. Fluid Viscous Damper (FVD) 4. High Damping Device (HIDAM) 5. dan lainnya
Bantalan terbuat dari kombinasi lempengan karet alam dan
lempeng baja dipasang di setiap kolom bagian bawah, di antara pondasi dan bangunan. Karet alam berfungsi untuk mengurangi getaran gempa. Sedangkan lempengan baja untuk menambah kekakuan bantalan karet, sehingga defleksi dan deformasi bangunan saat bertumpu di atas bantalan karet tidak besar.
Pengaruh gempa bumi yang sangat merusak struktur bangunan
adalah load pad dari komponen gaya atau getaran horizontal yang menimbulkan gaya reaksi besar.
Bahkan di puncak atau ujung bangunan dapat membesar dua kali. Bila aliran gaya pada bangunan lebih besar dari kekuatan struktur, bangunan tersebut akan rusak parah. Gaya reaksi yang diterima struktur bangunan dapat dikurangi melalui penggunaan bantalan karet alam. Melalui uji coba skala penuh bangunan, bantalan karet alam dapat meredam daya reaksi hingga 70 persen karena karet alam memiliki sifat fleksibilitas dan penyerap energi. Material BIS dapat digunakan sampai umur 60 - 100 tahun, bahkan lebih lama dari umur bangunan itu sendiri (BPPP, 1997) dan biayanya relatif ekonomis dibanding dengan bangunan menggunakan perkuatan konstruksi baja.
Seismic Isolation Rubber
U-shaped Damper
Slide Bearings
Oil Damper
Teknologi BIS telah digunakan dalam tataran internasional, multifungsi dan ekonomis sehingga bisa disimpulkan bahwa Teknologi BIS dapat diimplementasikan dan merupakan solusi konstruksi bangunan tahan gempa.
Paradigma kontruksi bangunan tahan gempa mesti fleksibel terhadap teknologi BIS sesuai dengan prioritas bahaya gempa yang bakal terjadi pada masa mendatang, sehingga mampu menghadapi gempa bumi dan meminimalisir kerugian materiil
serta korban jiwa. Akhirnya sesuai dengan tujuan tulisan ini untuk menyampaikan informasi teknologi Base Isolation System dapat
bermanfaat bagi Bangsa Indonesia, TNI dan TNI AL khususnya.
Jalesveva Jayamahe.©
Contoh pemakaian Teknologi BIS dalam kontruksi bangunan:
Rumah Hunian Gedung Pemprov Padang Jalan Tol di Bandung
Jembatan Suramadu Dermaga
“Learning from today’s disasters for tomorrow’s hazards”
(Belajar dari bencana hari ini untuk menghadapi ancaman esok).
B
ila kita mendengar kata Merauke, maka bayangan kita sebagai prajurit TNI terdengar begitu menyeramkan. Di mana opini prajurit tentang Merauke adalah tempat pembuangan bagi prajurit bermasalah. Bahkan bila seorang pimpinan marah kepada prajuritnya maka pimpinan tersebut akan mengatakan, “Saya buang kamu ke Merauke“. Sejatinya hal itu tidaklah benar. Pembaca yang budiman marilah kita melihat kembali sekilas tentang kota di Tapal Batas yaitu Merauke, di mana terdapat Prajurit yang handal, professional dan gagah perkasa serta bermental baja sebagai penjaga perbatasan wilayah Negara Republik Indonesia yang kita cintai ini.Merauke, kota di ujung timur Nusantara setingkat dengan kabupaten yang terletak di ujung paling timur wilayah Nusantara yaitu Indonesia. Merauke merupakan salah satu kabupaten di antara 29 kabupaten/Kota yang berada di ada di Propinsi Papua.
Secara geografis letak kabupaten/
kota Merauke berada antara 137 – 140 derajat BT dan 5 derajat 00’9 00’ LS. Kabupaten Merauke terletak paling Timur wilayah Nusantara dengan batas-batas sebagai berikut:
- Sebelah utara dengan kabupaten Boven Digoel dan kabupaten Mopi - Sebelah timur dengan Negara Papua New Guinea
- Sebelah selatan berbatasan dengan Laut Arafuru
- Sebelah barat berbatasan dengan Laut Arafuru juga.
Kondisi kabupaten yang relatif masih alami merupakan peluang dan tantangan bagi prajurit kita terutama prajurit TNI Angkatan Laut karena memiliki keindahan yang artistik dengan topografinya yang unik dan menyimpan potensi di bidang maritim dan ekonomi yang merupakan kekayaan besar milik Indonesia yang diberikan Allah SWT. Sehingga perlu pengawal-pengawal khusus yang bersifat ksatria untuk menjaga keutuhan Merauke agar tetap menjadi bagian Negara Indonesia tercinta.
Di samping itu Perbatasan Australia-Indonesia adalah perbatasan maritim antara PENEGAKAN KEDAULATAN DAN HUKUM DI LAUT