• Tidak ada hasil yang ditemukan

Cakrawala Edisi 443 Tahun

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Cakrawala Edisi 443 Tahun"

Copied!
80
0
0

Teks penuh

(1)
(2)

Salam Jalesveva Jayamahe!

Pembaca yang budiman,

Sebagai media informasi kemaritiman, Majalah Cakrawala tidak pernah henti menginformasikan hal-hal yang dirasa penting untuk diketahui khalayak luas. Dalam Edisi 443 kali ini mengupas upaya tentang pemberdayaan wilayah pertahanan laut atau kerap disebut Dawilhasnla, yang disorot dari beberapa sisi mulai dari perspektif historis, peran strategis TNI AL, keterlibatan Pramuka Saka Bahari, pemberdayaan angkutan laut nasional, hingga berbagai pendapat dan pandangan yang disampaikan Aspotmar Kasal dan Kadispotmar sebagai narasumber. Diharapkan dengan Dawihanla, kita dapat meraih kejayaan laut.

Setelah kurang lebih 10 tahun lamanya TNI AL hanya mengandalkan KRI dr. Soeharso-990 sebagai kapal rumah sakit yang sudah malang melintang memberikan bantuan kesehatan ke mayarakat di daerah-daerah terpencil, kini hadir KRI Semarang-594 sebagai kapal rumah sakit kedua yang dimiliki TNI AL.

Hal tersebut sangat diapresiasi Kadiskesal saat wawancara khusus.

Berbagai peristiwa penting yang diangkat antara lain penekanan dalam Rapim TNI AL agar siap mengikuti perkembangan teknologi guna menghadapi perubahan dunia, satuan TNI yang terintegrasi di Natuna untuk mengatasi ancaman di perbatasan, keikutsertaan prajurit TNI AL pada Multinational Exercise AMAN 2019, kehadiran 5 Helikopter Anti Kapal Selam jenis Panther AS565 MBe memperkuat jajaran Puspenerbal dan HUT Kowal pada 5 Januari lalu mengisyaratkan adanya peluang emas Kowal melebarkan sayap pengabdian serta berbagai ulasan menarik lainnya.

Yang berbeda dari sebelumnya, mulai edisi ini menampilkan Lensa Peristiwa yang menampilkan foto-foto menarik berbagai kegiatan di lingkungan TNI AL lengkap dengan caption atau keterangan foto, sehingga dapat melengkapi informasi yang disuguhkan. Selamat membaca.

Kadispenal, Laksma TNI Mohamad Zaenal, S.E., M.M., M.Soc.Sc.

PELINDUNG:

KASAL - Laksamana TNI Siwi Sukma Adji, S.E., M.M.

PEMIMPIN UMUM: Laksma TNI Mohamad Zaenal, S.E., M.M., M.Soc.Sc.

WAKIL PEMIMPIN UMUM: Kolonel Laut (E) Nevy Dwi Soesanto, S.T.

PEMIMPIN REDAKSI: Kolonel Mar Aris Setiawan REDAKTUR: Kolonel Laut (KH) Drs. Ariris Mr. - Kolonel Laut (KH) Drs. Heddy Sakti A.M.P. - Kolonel Laut (KH) Drs. Syarif Thoyib, M.Si. - Letkol Laut (KH) Drs. Heri Sutrisno, M.Si. -

Letkol Laut (KH) Mujahidin, S.H. - Letkol Laut (KH) Agus Susilo Kaeri, S.S., M.SI. - Letkol Laut (KH/W) Leila Kristin, S.S., M.M. - Letkol Laut (KH) Ign. M. Pundjung T., S.Sos., M.Sc. - Kapten Laut (KH/W) Yosina Kahibela Miha D.G., S.Sos. - Pembina IV/a Adi Patrianto, S.S. PENATA WAJAH: Penata III/c Mujiyanto - Penata III/c Irma Kurniawaty, A.Md. Graf. -

Pengatur Tk. I II/d Aroby Pujadi REDAKTUR FOTO: Serma PDK/W Mirliyana - Penata Tk. I III/d Wamrin TATA USAHA: Penda III/a Raya Mentawita T. DISTRIBUSI: Serda Mar Sayidi - Kopda TTU Supriyadi

DITERBITKAN OLEH: Dinas Penerangan Angkatan Laut

ALAMAT REDAKSI: Dinas Penerangan Angkatan Laut, Gedung B-4 Lt. 2, Mabesal Cilangkap, Jaktim-13870, Telp. (021) 8723314 - www.tnial.mil.id. No. ISSN: 0216-440x, Radio JJM 107.7 FM dan 1170 AM

Redaksi menerima tulisan (maksimal 5 halaman dengan spasi 1,5) beserta foto dari segenap anggota TNI/TNI AL dan masyarakat umum. Naskah dicetak di kertas ukuran A4 serta dilengkapi dengan data digital dalam Compact Disc (CD) atau soft copy dapat dikirim via email redaksi.

Naskah yang telah dikirim, menjadi milik redaksi dan redaksi berhak memperbaiki/mengedit tanpa mengubah isi/makna.

Naskah yang dimuat akan mendapat imbalan sepantasnya.

Redaksi juga menerima kritik, saran dan opini singkat.

Tulisan dikirim ke Redaksi Cakrawala dengan alamat Dinas Penerangan Angkatan Laut, Gedung B-4 Lt. 2, Mabesal Cilangkap, Jakarta Timur - 13870 atau via email: cakrawala42@

gmail.com

Cover: Letda Laut (KH) Edy S. Tarigan, S.Kom

(3)

PENEGAKAN KEDAULATAN DAN HUKUM DI LAUT 32 Keberhasilan TNI AL Perangi Narkoba dari Jalur Laut,

Perlunya Sinergitas Instansi Terkait

62 TNI Angkatan Laut Siap Bantu Amankan Pemilu Serentak 64 Pemilu 2019, Pentingnya Menjaga Sikap Netralitas PNS

di Lingkungan TNI

72 Menyusuri Kehidupan Prajurit Tapal Batas di Hari Dharma Samudra

PEMBANGUNAN KEKUATAN MATRA LAUT

15 Eksistensi Pramuka Saka Bahari, Dalam Penyelenggaraan Pertahanan Matra Laut

22 Hadapi Perubahan Dunia, TNI AL Siap Ikuti Perkembangan Teknologi

29 Pemberdayaan Angkutan Laut Nasional untuk Kepentingan Pertahanan

35 Satuan TNI Terintegrasi di Natuna Berikan Detterence Effect Terhadap Ancaman di Perbatasan

42 Kadiskesal: Apresiasi yang Tinggi Atas Kehadiran KRI Semarang-594 sebagai Kapal Rumah Sakit

54 Peran Helikopter AKS Panther AS 565 MBe Dalam Konsep Operasi Peperangan Anti Kapal Selam

58 Networking Warfare, Ancaman Nyata dari Ruang Siber DIPLOMASI

38 KRI Banda Aceh-593 dan KRI Halasan-630 di Ajang Internasional LIMA 2019

50 Latma “Multinational Exercise AMAN 2019”, Keikutsertaan Prajurit TNI AL pada Latihan Pengamanan Maritim Bersama di Laut Arab

DAWILHANLA DAN TUGAS KEMANUSIAAN 4 Dawilhanla dalam Perspektif Historis

8 Aktualisasi Peran Strategis TNI AL Raih Kejayaan Laut 18 Mengemban Tugas Dawilhanla guna Tersedianya Komcad

dan Komduk

25 Pelaksanaan Tugas dan Perkembangan Lingkungan Strategis Kegiatan Binpotmar

46 Dukungan TNI Angkatan Laut Menangani Musibah Bencana Alam

68 Solusi Konstruksi Bangunan Tahan Gempa Bumi TRADISI DAN KEJUANGAN

77 Peluang Emas Kowal Melebarkan Sayap Pengabdian LENSA PERISTIWA

40 Foto-foto

Daftar Isi

CAKRAWALA EDISI 443 TAHUN 2019

4

15

54

51

(4)

DAWILHANLA DAN TUGAS KEMANUSIAAN

Dawilhanla dalam Perspektif Historis

Oleh: Adi Patrianto

Luasnya wilayah laut dan tersebarnya kepentingan nasional suatu negara merupakan tantangan terbesar bagi setiap satuan angkatan laut di manapun.

Setiap unsur angkatan laut sebuah negara dituntut mampu mengamankan dan melindungi kepentingan nasionalnya sekaligus menjaga kedaulatan wilayah yurisdiksinya. Dengan rentang tugasnya yang demikian luas beserta kompleksitasnya, bukan sebuah perkara mudah, bahkan untuk angkatan laut dari

negara super power sekalipun. Apalagi jika tuntutan tugas tersebut dihadapkan pada keterbatasan kekuatan dan kemampuan dari unsur-unsur angkatan laut.

U

ntuk itulah angkatan laut membutuhkan adanya kerjasama yang sinergis dengan seluruh komponen bangsa sehingga dapat diberdayakan sebagai sumber daya nasional di bidang pertahanan maritim.

Seluruh sumber daya nasional

tersebut dapat diberdayakan sebagai komponen cadangan dan komponen pendukung guna mendukung pencapaian tugas pokok angkatan laut sebagai komponen utama pertahanan negara di bidang maritim. Strategi pertahanan maritim nasional

tersebut termaktub dalam

Pemberdayaan Wilayah Pertahanan Laut (Dawilhanla).

Meskipun program Dawilhanla santer terdengar di era kontemporer ini, namun konsep tersebut sesungguhnya memiliki perjalanan historis yang

(5)

tak kalah panjangnya dengan sejarah suatu bangsa dan menjadi tugas pembinaan kewilayahan dari angkatan laut. Sebagai salah satu negara maritim, Indonesia sejatinya telah mengembangkan dan mengimplementasikan konsep tersebut jauh sebelum negara ini memproklamasikan kemerdekaannya pada tanggal 17 Agustus 1945, bahkan jauh sebelum kolonialisme Eropa menancapkan kukunya di Bumi Nusantara ini.

Dawilhanla sendiri di Indonesia pada hakekatnya merupakan kegiatan membantu pemerintah dalam menyiapkan seluruh potensi maritim nasional sehingga menjadi kekuatan pertahanan yang telah dipersiapkan sedini mungkin.

Berdasarkan Undang-Undang Nomor 34 Tahun 2004 pasal 7 dan 9 tentang TNI, TNI Angkatan Laut sebagai kekuatan utama pertahanan maritim memiliki tanggung jawab untuk mengimplementasikan Dawilhanla.

Perjalanan Historis Dawilhanla di Indonesia

Sebagai bangsa maritim, bangsa Indonesia sejak berabad- abad silam sesungguhnya telah mengembangkan dan mengimplementasikan konsep Dawilhanla. Para sejarawan

maritim bersepakat bahwa beberapa kerajaan maritim Nusantara seperti Sriwijaya, Singasari, Majapahit dan Demak, telah menerapkan konsep tersebut dalam membangun imperiumnya. Keberhasilan

kerajaan-kerajaan Nusantara tersebut tidak semata dilandasi oleh superioritas dari armada perangnya. Menarik menyimak pendapat dari sejarawan asal Inggris Oliver William Wolters saat meneliti kemaharajaan Sriwijaya.

Di sini, Wolters mengungkapkan bahwa keberhasilan Sriwijaya dalam meraih hegemoni di Nusantara bagian barat dan utara justru berkat kuatnya dukungan dari masyarakat pesisir yang sebagian besar berprofesi sebagai nelayan dan pelaut kapal-kapal dagang.

Sriwijaya sendiri diketahui hanya memiliki rakyat sedikit dan armada kapal perang yang tidak terlalu banyak. Masyarakat pesisir justru menjadi “kekuatan utama” Sriwijaya dalam meraih supremasi di laut.

Langkah Sriwijaya tersebut kemudian diadopsi oleh kerajaan- kerajaan besar lainnya. Kerajaan Singasari dan Majapahit berhasil melaksanakan operasi lintas laut ke negeri-negeri seberang lautan berkat kuatnya dukungan dari saudagar-saudagar pemilik kapal di pesisir utara Jawa. Demikian pula dengan Kesultanan Demak yang mampu memobilisasi dan mengorganisir armada kapal berukuran besar seperti Jung dan Pangajawa, yang banyak dioperasikan oleh saudagar dan pedagang antar pulau di pesisir Jawa bagian utara serta Sumatera bagian selatan untuk menyerang pangkalan Portugis di Malaka pada tahun 1513.

Kolonial Hindia Belanda ketika menguasai Nusantara membangun industri kemaritiman dengan membentuk Maskapai Pelayaran Hindia Belanda atau Koninklijke Paketvaart Maatschappij (KPM) dan membuka sekolah pelayaran di beberapa daerah. Sementara kepada kalangan penggiat kemaritiman Nusantara yang memiliki armada kapal bertonase kecil atau

sedang diposisikan sebagai unsur pendukung bagi kegiatan KPM dan kapal-kapal negara lain. Namun kuatnya praktek monopoli dan kurangnya pemberdayaan potensi masyarakat pesisir, baik dari aspek sosial maupun ekonomi, memberikan imbas yang luar biasa bagi sistem pertahanan nasional Hindia Belanda.

Langkah sebaliknya justru ditempuh oleh Pemerintah Pendudukan Jepang saat

menguasai Hindia Belanda, dengan memberdayakan masyarakat lokal untuk mendukung sistem pertahanan mereka. Jepang secara masif menggalang komunikasi dengan kalangan pelaut atau nelayan pribumi guna mengantisipasi kemungkinan kehadiran unsur-unsur musuh. Di sini, bangsa Indonesia terutama

(6)

yang bekerja di kapal-kapal logistik Jepang diajarkan berbagai taktik menghindari sergapan musuh dan mengidentifikasi jenis kapal. Semua ini menjadi pengalaman yang menguntungkan bangsa Indonesia ketika merintis pembentukan unsur pertahanan di laut pasca Proklamasi Kemerdekaan RI tanggal 17

Agustus 1945.

Dawilhanla oleh TNI Angkatan LautSaat membentuk unsur armada, BKR Laut sebagai embrio kekuatan pertahanan maritim negara Indonesia dihadapkan pada keterbatasan materiil, seperti minimnya kapal dan persenjataan.

Sementara di sisi lain, BKR Laut dituntut mampu menyebarluaskan berita proklamasi, membangun lembaga pemerintahan serta kekuatan perjuangan di daerah- daerah. Oleh sebab itu, BKR Laut yang kemudian berubah menjadi Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) secara intensif mengadakan pendekatan kepada masyarakat nelayan dan saudagar pemilik kapal agar bersedia mendukung operasional ALRI. Langkah ini membuahkan hasil yang positif, sebagian besar ekspedisi lintas laut ALRI ke daerah-daerah berhasil dilaksanakan. Tidak hanya itu, banyak masyarakat nelayan dengan sukarela membantu tugas- tugas ALRI dalam menegakkan kedaulatan negara di laut, seperti hibah kapal, penyediaan personel pengawak kapal, informasi pergerakan kapal Belanda, hingga penyaluran logistik dan pergeseran pasukan.

Sebagai contoh, keberhasilan ALRI menembus pertahanan laut Belanda di sekitar Bali berkat peran serta dukungan dari nelayan-

nelayan Banyuwangi. Lalu, peran saudagar-saudagar kapal yang menghibahkan kapal-kapal beserta awaknya untuk mendukung ekspedisi ke Sulawesi, Kalimantan dan Maluku. Meskipun mereka bukan kombatan, bahkan tidak pernah menjalani pendidikan kemiliteran, namun turut berkontribusi bagi keberhasilan pelaksanaan tugas ALRI.

Setelah tercapai pengakuan kedaulatan pada akhir tahun 1949, ALRI membentuk unsur Komando Utama atau Kotama di sejumlah daerah yang dinamakan Komando Daerah Maritim. Salah satu tugas Kotama tersebut adalah melakukan pembinaan kepada masyarakat pesisir di daerahnya masing-masing seperti pemeliharaan keamanan dan ketertiban di pelabuhan-pelabuhan atau berkoordinasi dengan instansi setempat untuk kepentingan masyarakat umum. Selain itu, pembangunan fasilitas kesehatan seperti rumah sakit dan poliklinik di tiap Kotama ALRI memberikan dampak yang signifikan bagi peningkatan kesehatan masyarakat setempat.

Kemudian dalam rangka gelar operasi untuk menumpas pemberontakan di beberapa daerah, ALRI memobilisasi sejumlah kapal angkut milik Pelni, Jawatan Pelayaran atau maskapai pelayaran Belanda: KPM. Namun seiring dengan kian menguatnya armada pelayaran nasional, ALRI tidak lagi memobilisasi kapal-kapal asing. Saat menggelar operasi penumpasan pemberontak PRRI di Sumatera dan Permesta di Sulawesi, ALRI juga menempatkan persenjataan anti serangan udara di kapal-kapal angkut milik Pelni atau Jawatan Pelayaran. Mobilisasi atau militerisasi kapal-kapal sipil dalam jumlah besar kembali dilakukan ALRI ketika berlangsung kampanye militer pembebasan Irian Barat Trikora. Selain mempersenjatai kapal-kapal yang dimobilisasi, ALRI juga merekrut beberapa awak kapal sipil sebagai sukarelawan.

Ketika memasuki masa damai, ALRI yang telah berubah nama menjadi TNI Angkatan Laut menggelar operasi bakti sebagai bagian dari pemberdayaan

masyarakat pesisir dan pulau-pulau terpencil dalam rangka pembinaan

(7)

potensi nasional kekuatan maritim (Binpotnaskuatmar). Pelaksanaan operasi teritorial tidak hanya mengemban fungsi pertahanan, namun juga dalam rangka

meningkatkan ketahanan nasional melalui peningkatan kesejahteraan masyarakat pesisir. Kini, program Dawilhanla tersebut dilaksanakan sebagai salah satu bagian dalam Operasi Militer Selain Perang (OMSP).

Pembinaan fungsi Dawilhanla merupakan tugas pokok Dinas Pembinaan Potensi Maritim (Dispotmar) yang diresmikan pembentukannya tahun 1997.

Program Dawilhanla dilaksanakan mulai dari tingkat nasional

(Mabesal), wilayah (Kotama) hingga ke tingkat lokal (Lantamal).

Tugas pokok tersebut meliputi penyelenggaraan pembinaan, fungsi dan melaksanakan kegiatan Pembinaan Potensi Nasional (Binpotnas) bidang maritim yang mencakup pembinaan sumber daya manusia (SDM), sumber daya alam (SDA), sumber daya buatan (SDB), mendukung penyiapan sarana prasarana nasional bidang maritim sekaligus mendinamisasikan pembangunan kelautan. Semua itu diatur melalui Buku Petunjuk Pelaksanaan Pemberdayaan Wilayah Pertahanan Laut yang disusun pada tahun 2015.

TNI AL mengimplementasikan konsep Dawilhanla dalam bentuk pembinaan terhadap berbagai potensi kemaritiman yang ada melalui kegiatan Pramuka Saka Bahari, Pembinaan Desa Pesisir (Bindesir), Operasi Bakti Surya Bhaskara Jaya (SBJ), Pelayaran Lingkar Nusantara (Pelantara), Lintas Nusantara Remaja Pemuda Bahari (LNRPB), Joy Sailing, serta Bintal Juang Remaja Bahari (BJRB).

Melalui optimalisasi pelaksanaan Dawilhanla yang meliputi pembinaan dan pemberdayaan potensi masyarakat maritim serta angkutan laut nasional, maka akan terwujud komponen cadangan dan pendukung yang mampu mendukung pelaksanaan tugas TNI AL sebagai komponen utama pertahanan negara di laut.

Pelajaran dari Inggris Pemberdayaan wilayah pertahanan sebagai langkah untuk mendukung tugas pokok di bidang pertahanan sesungguhnya tidak hanya dilaksanakan oleh TNI. Tercatat sejumlah negara maju seperti Amerika Serikat, Cina, Inggris dan Australia, juga menerapkannya dengan konsep yang berbeda-beda, umumnya menyesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi geografisnya.

Dari sejumlah negara yang institusi angkatan lautnya terbilang berhasil dalam mengimplementasikan konsep Dawilhanla, adalah Angkatan Laut Kerajaan Inggris. Berbekal pengalamannya selama ratusan tahun, AL Inggris melakukan pembinaan dan penggalangan terhadap seluruh potensi

kemaritimannya sehingga mampu mendukung pelaksanaan tugasnya.

Salah satu diantaranya yang paling fenomenal adalah saat pelaksanaan Operasi Dinamo (26 Mei – 4 Juni 1940) di daerah Dunkirk, Perancis.

Operasi Dinamo merupakan operasi penyelamatan terbesar sepanjang sejarah militer dan dilaksanakan secara terpadu oleh Angkatan Laut Inggris bersama armada niaga dan masyarakat maritim. Operasi ini berhasil menyelamatkan lebih dari 338 ribu personel Sekutu.

Pengalaman tersebut sepatutnya dapat menjadi pembelajaran yang berharga bagi seluruh komponen pertahanan maritim, utamanya bagi negara kepulauan seperti Indonesia. Pelaksanaan Dawilhanla tidak semata-mata beban dari TNI AL, namun menjadi tanggung jawab dari seluruh stakeholder bangsa ini. Oleh sebab itu, dalam mengimplementasikan Dawilhanla, TNI AL harus didukung penuh, sehingga pelaksanaannya

berlangsung secara interrelationship.

Fungsi pertahanan laut memang merupakan daily activity-nya Angkatan Laut, namun pertahanan nasional bersifat semesta, sehingga menjadi kewajiban setiap warga negara. ©

Pelaksanaan Dawilhanla tidak semata-mata beban dari TNI AL, namun menjadi tanggung jawab dari seluruh

stakeholder bangsa ini.

(8)

Aktualisasi Peran Strategis TNI AL Raih Kejayaan Laut

Oleh: Mayor Laut (P) Retno Wahyudi, S.E.

Pemberdayaan Wilayah

Pertahanan Laut (Dawilhanla) jika ditinjau dari Astagatra (Trigatra dan Pancagatra), mempunyai peran penting dan strategis dalam

menciptakan keamanan dan kemakmuran (security and prosperity) Bangsa Indonesia.

Hal ini tentunya merupakan cita-cita luhur bersama untuk mengembalikan kejayaan laut dalam mendukung pembangunan nasional, guna mengangkat harkat dan martabat Bangsa Indonesia di kancah dunia.

G

una menjamin tetap tegaknya Negara Kesatuan Republik Indonesia dan kelangsungan hidup bangsa dan negara, maka sumber daya manusia menjadi titik sentral yang perlu dibina dan dikembangkan sebagai potensi bangsa yang mampu melaksanakan pembangunan maupun mengatasi segala bentuk ancaman, tantangan, hambatan dan gangguan (ATHG) yang berasal dari dalam maupun luar negeri.

Sebagaimana tercantum dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 3 Tahun 2002 tentang Pertahanan Negara

bahwa sistem pertahanan negara adalah sistem pertahanan yang bersifat semesta, yang melibatkan seluruh warga negara, wilayah dan sumber daya nasional lainnya, serta dipersiapkan secara dini oleh pemerintah dan diselenggarakan secara total, terpadu, terarah dan berlanjut untuk menegakkan kedaulatan negara, keutuhan wilayah dan keselamatan segenap bangsa dari segala ancaman.

Undang-Undang Nomor 34 Tahun 2004 pasal 9 (e) menyebutkan bahwasanya TNI Angkatan Laut (TNI AL) yang merupakan bagian dari TNI

mengemban tugas Pemberdayaan Wilayah Pertahanan Laut

(Dawilhanla) merupakan segala usaha, pekerjaan dan kegiatan yang berkaitan dengan perencanaan, pembinaan, pengembangan, pengerahan dan pengendalian serta pemanfaatan semua potensi nasional yang ada dalam rangka mendukung kepentingan pertahanan negara aspek laut dalam mewujudkan Ruang, Alat dan Kondisi (RAK) juang yang tangguh dalam menghadapi ATHG.

DAWILHANLA DAN TUGAS KEMANUSIAAN

(9)

Penyelenggaraan Fungsi-Fungsi Dawilhanla

Menyikapi kebijakan

Pemerintah dalam mewujudkan Indonesia sebagai poros maritim dunia, maka penyelenggaraan Dawilhanla oleh TNI AL dilaksanakan secara terintegrasi dan sinergis dengan melibatkan seluruh komponen bangsa. Lima Pilar penopang pada kebijakan poros maritim dunia menjadikan acuan bagi eksistensi Dawilhanla dalam mewujudkan cita-cita tersebut. Pada suatu kesempatan juga Bapak Presiden Joko Widodo telah memberikan perhatian bahwasanya memberikan kepercayaan kepada TNI AL dalam menjalankan tugas-tugas dan membantu pembangunan nasional. Menindaklanjuti hal tersebut, penyelenggaraan program kegiatan Dawilhanla dilaksanakan secara terencana dan terus menerus dan/atau bekerjasama dengan Kementerian/

LPNK dan semua lapisan masyarakat serta berpedoman pada pokok-pokok kebijakan Kepala Staf Angkatan Laut. Upaya yang dilaksanakan oleh TNI AL membutuhkan keterlibatan satu kesatuan yang kuat antara masyarakat, Pemerintah dan TNI sendiri sebagai komponen utama dalam Sistem Pertahanan Negara Semesta (Sishanta). Untuk menjamin kelancaran pelaksanaan tersebut, diperlukan berbagai langkah terobosan baru yang bersifat realistis dan konkret, sehingga program Dawilhanla dapat terlaksana secara optimal, konsisten dan berkesinambungan.

Membina Kemampuan Potensi Maritim, yaitu merencanakan, merumuskan program yang

berkaitan dengan penyiapan kemampuan potensi maritim di bidang latihan, administrasi personel, materiil, sarana dan prasarana serta menyosialisasikan, mengawasi, mengendalikan dan mengevaluasi pelaksanaannya.

Kebijakan perencanaan TNI AL yang mengacu pada perencanaan strategis dan perkembangan lingkungan strategis di bidang maritim menjadi acuan dalam menunjukkan eksistensi TNI AL dalam melaksanakan tugas yang telah diamanatkan dalam undang- undang.

Komponen bangsa bidang maritim terdiri dari masyarakat pesisir/nelayan, pelaku industri &

jasa maritim yang menggunakan lautan sebagai sumber kehidupan.

Pembinaan yang dilaksanakan merupakan upaya menciptakan kemampuan potensi maritim melalui bela negara untuk ketahanan negara yang ada di wilayah di seluruh Indonesia.

Tercapainya pembinaan potensi maritim tentunya tidak terlepas dari kondisi lingkungan yang menunjang yaitu tingkat kehidupan masyarakat pesisir yang sejahtera dan adanya kesadaran hukum dalam mengelola potensi maritim dengan baik. Hal ini sangat penting mengingat sumber kekayaan lautan yang berlimpah. Kondisi inilah yang merupakan tujuan dari Dawilhanla terhadap perannya turut serta dalam mewujudkan pembangunan nasional.

Membina Ketahanan Wilayah Maritim, yaitu merencanakan, mengkaji dan merumuskan program yang berkaitan dengan penyusunan tata ruang wilayah, pembinaan dan pendayagunaan sumber daya dan sarana

prasarana nasional bidang maritim serta pemantapan kondisi juang yang tangguh bagi kepentingan pertahanan negara aspek laut. Pembinaan ketahanan wilayah maritim di masa damai diaplikasikan dalam bentuk pembinaan desa pesisir, pembinaan angkutan laut nasional dan pembinaan aspek hidrografi dan oseanografi sebagai Komponen Cadangan (Komcad) yang disiapkan untuk dikerahkan di saat situasi darurat yang mengancam kedaulatan bangsa Indonesia melalui mobilisasi guna memperbesar dan memperkuat kekuatan dan kemampuan Komponen Utama yaitu TNI.

Membina Komunikasi Sosial Maritim, yaitu merencanakan, mengkaji dan merumuskan program yang berkaitan dengan komunikasi sosial meliputi komunikasi dengan aparat pemerintah, pemilik dan

pengelola serta pengguna potensi maritim, komponen masyarakat dan keluarga besar TNI AL dan komponen bangsa lainnya bagi kepentingan pertahanan negara.

Komunikasi sosial maritim yang dibangun tentunya bersifat membangun dengan memberikan pandangan kepada masyarakat khususnya masyarakat pesisir dalam melihat lautan sebagai sumber penghidupan dan pertahanan negara.

Peran diplomasi TNI AL ke dalam merupakan kepanjangan tangan pemerintah dalam

mendukung kebijakan pemerintah bidang maritim yang disampaikan ke masyarakat maritim. Melalui sosialisasi atau penyuluhan- penyuluhan hukum, keselamatan pelayaran dan pelestarian

(10)

budidaya perikanan serta potensi maritim lainnya merupakan cara komunikasi sosial yang dibangun TNI AL dalam menyamakan pola pikir dan cara tindak dalam kehidupan maritim. Edukasi yang diberikan terhadap masyarakat secara berkesinambungan akan dapat menumbuhkan rasa cinta dan jiwa maritim bangsa, sehingga timbul kepekaan dalam memandang lingkungan maritim sebagai bagian dari komponen pembangunan nasional yang harus diperhatikan dan dimanfaatkan dengan optimal.

Membina Bakti TNI AL, yaitu merencanakan, mengkaji, merumuskan dan menyusun program yang berkaitan dengan penyelenggaraan Operasi Bakti, Karya Bakti TNI AL dan Penanggulangan Bencana dalam rangka mendukung pembangunan nasional dan meningkatkan kemanunggalan TNI AL–

rakyat yang berdaya guna dan berhasil guna bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat dan pertahanan negara. Melalui program-program pembangunan

yang dicanangkan oleh Pemerintah maupun TNI dalam upaya

membangun dan menciptakan lingkungan masyarakat maritim yang lebih baik guna tercapainya ketahanan wilayah maritim dan kesejahteraan masyarakat.

Membina Wilayah Perbatasan, yaitu merencanakan, mengkaji, merumuskan dan menyusun program yang berkaitan dengan penyelenggaraan pembinaan potensi maritim di wilayah perbatasan, pulau-pulau kecil dan terluar dalam rangka mendukung pertahanan negara. Pembinaan bela negara yang dilaksanakan terhadap masyarakat maritim di wilayah perbatasan harus mampu menumbuhkan jiwa nasionalisme.

Wilayah perbatasan merupakan wilayah yang sangat rawan terhadap tindak kejahatan yang dapat mengancam kedaulatan bangsa. Pengaruh negatif dari negara lain yang dapat merugikan bangsa harus diantisipasi sejak dini.

Wilayah perbatasan laut di Indonesia meliputi pulau-pulau terluar yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia merupakan

wilayah yang perlu mendapat perhatian lebih, mengingat letaknya yang rawan terhadap pelanggaran-pelanggaran hukum yang dapat merugikan dan

mengancam kepentingan nasional.

Melalui pembinaan masyarakat yang berkesinambungan, peran masyarakat di wilayah disamping sebagai alat pertahanan juga sebagai mata dan telinga dalam menjaga keamanan dari ancaman yang berasal dari luar seperti pelanggaran bernavigasi, kegiatan illegal, peredaran narkoba dan pelanggaran hukum lainnya.

Oleh karena itu, kesejahteraan masyarakat perbatasan harus dijamin supaya tidak dapat dibeli oleh negara lain yang sangat berbahaya bagi kedaulatan NKRI.

Peran Strategis Dawilhanla dalam Poros Maritim Dunia

Tercapainya keamanan dan kesejahteraan bangsa Indonesia sektor maritim merupakan output dalam melaksanakan pembinaan maritim dalam pelaksanaan pemberdayaan wilayah pertahanan laut. Semboyan “Jalesveva

Gambar 1. Photo situasi pemberangkatan Pasukan Gabungan di Pelabuhan Tj. Priok

Operasi “17 Agustus” pada tahun 1958 merupakan Operasi Gabungan dengan Tupok menghancurkan pemberontakan PRRI yang terjadi beberapa wilayah di Indonesia termasuk di Sumatera Barat.

Kekuatan pasukan yang dikerahkan:

TNI AD dan KKo TNI AL dengan menggunakan Kapal Pelni dan Jawatan Pelayaran dalam pergeseran pasukan serta pesawat tempur TNI AU

(11)

Jayamahe” seyogyanya bukan hanya dimiliki oleh TNI AL namun juga milik Bangsa Indonesia, Rakyat Indonesia yang menjadikan lautan sebagai sumber penghasilan yang menjanjikan. Hal tersebut tidaklah berlebihan mengingat luasnya wilayah lautan dibandingkan dengan luasnya daratan.

Seperti halnya Indonesia, negara berkembang seperti Vietnam yang wilayahnya memiliki lautan telah memberlakukan resolusi tentang strategi kelautan di mana menetapkan ekonomi laut sebagai salah satu ujung tombak dengan target ekonomi sampai dengan tahun 2020 harus mencapai lebih dari 53-55 % Gross Domestic Product (GDP) dan memberikan bantuan sebanyak lebih dari 60%

nilai ekspor di seluruh negeri.

Dengan konsistensi dan komitmen terhadap pencapaian tersebut, pemerintah Vietnam sangat serius dalam usaha pencapaiannya. Hal tersebut terlihat dari kebijakan pemerintah Vietnam yang

mengerahkan kapal pemerintahan (coast guard) untuk mengawal dan menjamin keselamatan nelayannya yang melaksanakan penangkapan ikan di wilayah perbatasan negaranya, seperti di perairan perbatasan Vietnam dengan Indonesia. Melihat kondisi tersebut, terlihat keseriusan yang tinggi dari Pemerintah Vietnam dalam menjaga kedaulatan wilayah dan mengamankan nelayannya yang sedang menangkap ikan dari gangguan-gangguan di laut.

Pertumbuhan ekonomi dan berkembangnya negara Vietnam yang makin maju tidak terlepas dari ekonomi kelautan yang menjadi salah satu andalannya.

Oleh karenanya, pembangunan pertahanan laut melalui pengadaan armada kapal perangnya

merupakan bentuk keberhasilan ekonomi kelautan yang dicapai dan tidak salah jika hasilnya juga untuk kepentingan pertahanan di laut untuk menghadapi ancaman kedaulatan yaitu sengketa wilayah

perbatasan di Laut Cina Selatan.

Belajar dari pembangunan nasional di negara Vietnam, Indonesia yang mempunyai kekayaan laut sekitar 1,3 kali PDB dan 7 kali APBN 2018 harus mampu merealisasikan pembangunan nasional yang lebih hebat dan pembangunan kekuatan laut yang lebih kuat.

Peran strategis Dawilhanla TNI AL bersama instansi maritim lainnya dalam membangun karakter maritim masyarakat Indonesia dilaksanakan secara masif, terukur dan berkesinambungan. Peran Dawilhanla diharapkan mampu memberikan kontribusi dalam menjembatani permasalahan- permasalahan yang muncul pada masyarakat maritim demi tercapainya tujuan negara.

Membangun Budaya Maritim Indonesia

Mengembalikan budaya maritim Indonesia yang telah luntur merupakan hal yang tidak mudah, mengingat selama

Gambar 2. Peta Perbatasan Wilayah Negara Indonesia

(12)

350 tahun dijajah Belanda mengakibatkan masyarakat Indonesia mengalami pembelokan karakter, yang semula berjiwa laut dengan berprofesi sebagai pelaut- pelaut tangguh beralih ke jiwa agraris untuk bercocok tanam.

Dengan kurun waktu yang sangat lama tersebut, budaya maritim yang merupakan peninggalan nenek moyang seolah-olah lenyap berganti dengan jiwa agraris yang identik dengan bercocok tanam.

Peran Dawilhanla TNI AL dalam membangun kembali budaya maritim Indonesia dapat dilaksanakan melalui hal-hal mendasar seperti penggalakkan olahraga perairan di wilayah- wilayah kerja Pangkalan TNI AL dengan melibatkan masyarakat untuk diadakan pembinaan olahraga perairan yang selama ini kurang diminati. Adapun olahraganya seperti olahraga layar, dayung, menyelam dan olahraga perairan lainnya yang tujuannya di samping untuk meraih prestasi juga menciptakan rasa cinta dan rasa memiliki terhadap lautan.

Dengan kecintaannya tersebut, akan muncul ide gagasan yang menciptakan kehidupan baru, sekaligus sumber penghasilan yang berdampak pada pertumbuhan ekonomi nasional dari sektor kelautan.

Kebijakan pemerintah saat ini perlahan telah mengembalikan

fungsi laut sebagai sumber kehidupan dan telah dijadikan pembahasan-pembahasan dalam seminar atau pembicaraan dalam forum-forum diskusi baik di pusat maupun di daerah. Budaya menjaga dan melestarikan laut yang dulunya sebagai tempat

“buangan” harus diubah menjadi tempat yang dicintai karena potensi kekayaannya yang harus dijaga dan dimanfaatkan. Cara pandang dan pola pikir demikianlah yang harus terus disuarakan supaya generasi yang akan datang sudah mengenal lautan dan juga dapat menumbuh kembangkan kembali rasa cinta dan memilikinya lautan.

Menjaga dan Mengelola Sumber Daya Laut

Kebijakan Pemerintah bidang maritim melalui Undang-Undang RI dan Peraturan Menteri yang telah ada menjadi acuan dalam melaksanakan pengelolaan sumber daya laut yang benar. Kekayaan laut yang berlimpah belum sebanding dengan pendapatan negara sektor laut. Masih rendahnya pendapatan tersebut dikarenakan masih adanya permasalahan administrasi yang belum sesuai ketentuan dan juga potensi kelautan yang belum dimanfaatkan secara optimal.

Peran Dawilhanla dalam melaksanakan komunikasi sosial dengan melaksanakan pendataan pelanggaran, sosialisasi

peraturan atau hukum di wilayah bertujuan untuk mempermudah dalam melaksanakan usahanya.

Hal ini wujud dari kehadiran pemerintah dalam hal ini TNI AL dalam mengatasi permasalahan- permasalahan yang terjadi. Di sisi lain, komunikasi sosial juga dapat berbentuk pelatihan-pelatihan tentang pengelolaan budidaya kelautan dengan membentuk kelompok masyarakat maupun bentuk upaya lain yang dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat dalam memanfaatkan sumber daya laut sebagai sumber penghasilan.

Instruksi Bapak Presiden Joko Widodo yang memberikan kepercayaan kepada TNI AL dalam menjalankan tugas-tugas dan membantu pembangunan nasional mengandung arti bahwasanya peran TNI AL dalam hal ini

Dawilhanla menjadi andalan dalam kelangsungan pembangunan nasional yang bersumber dari kekayaan lautan. Sinergitas antar instansi pemerintahan atau komunitas maritim menjadi poin penting dalam kesuksesan menjaga dan mengelola sumber daya laut dengan baik untuk kesejahteraan rakyat Indonesia.

Pembangunan Infrastruktur dan Konektivitas

Pembangunan infrastruktur dan konektivitas melalui pembangunan

(13)

pelabuhan-pelabuhan sebagai sarana penunjang program “Tol Laut” bertujuan untuk pemerataan pembangunan di seluruh wilayah Indonesia khususnya di wilayah Indonesia bagian timur. Program

“Tol Laut” yang telah ditetapkan dapat diformulasikan sebagai berikut;

Pertama, menjamin keamanan pelaksanaan pembangunan dengan cara memberikan sosialisasi dan pembinaan terhadap masyarakat sekitar pembangunan infrastruktur agar mendukung pembangunan, bukan sebaliknya sebagai penghalang pembangunan yang dilaksanakan di beberapa wilayah di Indonesia.

Kedua, memberikan dukungan personel dalam mendukung pembangunan infrastruktur melalui peran Bakti TNI AL yang dilaksanakan oleh Pangkalan TNI AL setempat dalam melaksanakan pembangunan.

Ketiga, memberikan

dukungan survey pelabuhan yang dilaksanakan oleh Pushidrosal bersama masyarakat binaan di sekitar pelabuhan dalam menggunakan sarana dan

prasarana untuk digunakan survey.

Keempat, sebagai pembina Angkutan Laut Nasional, Kolinlamil dapat berperan serta dalam pembangunan nasional dengan menjembatani kebutuhan sarana transportasi atau angkutan

laut untuk pergeseran sarana dan prasarana serta material penunjang pembangunan yang dilaksanakan di daerah-daerah dengan

berkoordinasi dengan Satkowil setempat.

Diplomasi Maritim Peran diplomasi maritim yang dilaksanakan TNI AL di wilayah-wilayah merupakan tugas dari Staf Potensi Maritim untuk melaksanakan koordinasi dan menyampaikan hal-hal penting terkait permasalahan dan perencanaan bidang maritim untuk kepentingan bersama atau nasional.

Dengan berpedoman pada aspek- aspek Trigatra sebagai faktor utama dalam tercapainya keamanan dan kemakmuran bangsa. Peran diplomasi maritim sangatlah penting dalam memperkuat pertahanan negara di laut di mana, diplomasi TNI AL akan efektif dan tajam dalam membawa misinya jika hasil tugas pokok atau hasil operasi yang dilaksanakan dalam menegakkan hukum dan menjaga kedaulatan bangsa berpengaruh positif bagi pembangunan nasional dan juga penilaian positif negara luar terhadap Indonesia. Hal ini sangat penting bagi kemajuan pembangunan nasional di mana terciptanya keamanan suatu negara akan menjamin negara lain untuk berinvestasi di Indonesia. Ditinjau dari geostrategi

Indonesia, diplomasi maritim akan berpengaruh terhadap geopolitik dan geoekonomi Indonesia, minimal berpengaruh terhadap negara di kawasan atau regional.

Seperti kita ketahui bersama bahwa anggaran APBN diperoleh dari penerimaan perpajakan, pendapatan negara bukan pajak (PNBP) dan hibah. Target APBN tersebut harus dicapai oleh Kementerian Keuangan.

Sumbangsih dari sektor kelautan yang sudah mulai meningkat diharapkan mampu lebih lagi melalui diplomasi maritim yang terus dilaksanakan terhadap pemerintah maupun pelaku usaha maritim. Peran Dawilhanla melalui diplomasi maritim diharapkan semakin tajam sehingga akan mengubah mental masyarakat maritim dalam memanfaatkan kekayaan laut secara optimal sampai tercapainya Jalesveva Jayamahe.

Membangun Kekuatan Maritim

Membangun kekuatan maritim yang Profesional dan Modern serta Berkemampuan Proyeksi Regional dan Berkomitmen Global yang menjadi Visi Bapak Kasal yang harus dipahami dan diaktualisasikan. Berawal dari terciptanya keamanan (security), di mana keamanan yang dimaksud bukan hanya sebatas terbebas

(14)

dari kegiatan illegal namun juga keamanan pelayaran, keamanan dari segala bentuk pelanggaran.

Hal ini sangat penting karena merupakan tugas utama TNI AL yang harus dipertanggungjawabkan kepada bangsa dan negara. Dari kondisi tersebut mendatangkan kesejahteraan (prosperity), yang diperoleh dari pemanfaatan kekayaan laut yang menghasilkan penghidupan dan kesejahteraan masyarakat maritim. Hasil tersebut juga harus dibayarkan kepada negara sesuai dengan ketentuan perundangan yang selanjutnya digunakan untuk mendukung pembangunan nasional.

Pemenuhan alutsista TNI AL menjadi prioritas ditinjau dari letak strategis Indonesia dan potensi kekayaan laut yang dihasilkan.

Dengan kekayaan lautan yang nilainya 7 kali APBN tahun 2018 sangatlah wajar jika pemenuhan alutsista menjadi hal mendesak.

Hal ini merupakan dampak dari banglingstra di kawasan yang tidak menentu yang membutuhkan kesiapsiagaan armada jikalau terjadi peningkatan eskalasi konflik di Laut Cina Selatan maupun konflik yang terjadi di wilayah rawan konflik yang membutuhkan eksistensi KRI yang siap tempur.

Kekuatan maritim Indonesia menjadi hal yang mutlak harus diutamakan sebagai alat bargaining power diplomasi regional maupun global. Hal ini membutuhkan komitmen yang kuat dan rasa kepedulian yang tinggi dalam upaya membangun kekuatan angkatan laut yang diperhitungkan di dunia. Dengan demikian Dawilhanla benar-benar merupakan wujud aktualisasi peran strategis TNI AL dalam meraih kejayaan laut sesuai semboyan “Jalesveva Jayamahe”

dan terwujudnya Indonesia sebagai poros maritim dunia. ©

(15)

PEMBANGUNAN KEKUATAN MATRA LAUT

Eksistensi Pramuka Saka Bahari

Dalam Penyelenggaraan Pertahanan Matra Laut

B

erdasarkan latar belakang sejarah dan potensi yang dimilikinya, tidak menutup kemungkinan Pemerintah

meletakkan Saka Bahari dalam salah satu komponen dalam penyelenggaraan pertahanan matra laut.

Sejarah Pramuka Saka Bahari tidak terlepas dengan peran perkembangan gerakan kepanduan di Indonesia dan peran TNI AL.

Kepanduan maritim (Sea Scout) pertama kali dibentuk di Inggris pada tahun 1906 yang kemudian diikuti oleh negara-negara Eropa termasuk Belanda.yang dikenal dengan sebutan Zeeverkenners. Pada tahun 1912 Asosiasi Kepanduan Dunia yang diketuai oleh Lord Baden Powell resmi memasukkan Sea Scout, sehingga kepanduan maritim ini kemudian berkembang luas di seluruh dunia, termasuk di negara jajahan Belanda yaitu

Hindia Belanda atau Nederland Indie. Pemerintah Kolonial melalui asosiasi kepanduan Hindia Belanda atau Nederland Indie Padvinderij Vereniging (NIPV) memasukkan Zeeverkenners ke dalam salah satu sayap organisasinya. Pada sisi yang lain para tokoh kepanduan bumiputera yang tergabung dalam Kepanduan Bangsa Indonesia (KBI) juga membentuk kepanduan maritim yang disebut Pandu Laut.

Keterbatasan kapasitas maritim bumiputera dan proyeksi gerakan kepanduan untuk kepentingan politik kaum pergerakan, membuat Pandu Laut tidak berkembang seperti yang diharapkan. Pada masa Pendudukan Jepang seluruh organisasi kepanduan dibekukan dan organisasi kepemudaan diarahkan untuk kepentingan perang seperti Sinendan, Keibodan dan Pembela Tanah Air (Peta).

Organisasi kepanduan dihidupkan

kembali oleh Pemerintah RI pada bulan Desember 1945 dengan asosiasi yang dinamakan Pandu Rakyat Indonesia. Pandu Laut baru dihidupkan kembali pada tahun 1952 atas upaya TNI Angkatan Laut yang saat itu bernama

Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) dan instansi pemerintah lainnya. Sejumlah anggota Pandu Laut disertakan dalam pelayaran muhibah KRI Dewaruci ke Wladivostok dan Australia.

Pemerintah berhasil menyatukan seluruh organisasi kepanduan dalam satu wadah yang dinamakan Gerakan Pramuka pada tanggal 14 Agustus 1961. Pandu Laut berubah nama menjadi Pramuka Urusan Samudra. Pada tahun 1983, terbitlah Instruksi Bersama Kepala Staf Angkatan Laut dan Ketua Kwartir Nasional Gerakan Pramuka Nomor : 081 Tahun 1983 dan INS/I/

VI/ 1983 tentang Satuan Karya

Pramuka Satuan Karya (Saka) Bahari telah dikenal sebagai wadah pembentukan karakter bangsa

dan penanaman spirit maritim yang dijalankan dengan sistem dan metode kegiatan kepanduan.

(16)

Bahari. Surat keputusan inilah yang kemudian menjadi penanda resmi berdirinya Pramuka Satuan Karya (Saka) Bahari di Indonesia.

Pembentukan Karakter Bangsa Eksistensi Pramuka Saka Bahari sangat penting dalam pembinaan generasi muda Indonesia untuk sasaran berbagai program

nasional. Seperti halnya organisasi Pramuka pada umumnya, Saka Bahari menjadi salah satu wadah dalam pembentukan karakter kebangsaan (national character building). Organisasi untuk anggota Pramuka Penegak dan Pandega ini merupakan objek utama dalam penanaman jiwa bahari yang sejalan dengan Program Indonesia sebagai Poros Maritim Dunia. Sementara itu Satuan Karya yang bergerak di bidang maritim ini juga menjadi tempat pendidikan/pelatihan bela negara yang saat ini menjadi salah satu program Kementerian Pertahanan.

Berdasarkan sejarah pembentukan dan karakteristik organisasinya, tidak menutup kemungkinan Saka Bahari diproyeksikan pada posisi yang lebih spesifik dalam penyelenggaraan pertahanan laut

seperti ditempatkan dalam salah satu komponen pendukung.

Pelibatan kepanduan maritim dalam penyelenggaraan pertahanan negara sebagai komponen

pendukung bukan hal yang baru.

Sejak Perang Dunia I, Angkatan Laut Inggris (Royal Navy) menempatkan Royal Sea Scout sebagai salah satu komponen pendukungnya. Royal Navy menentukan sejumlah Sea Scout Group (RN Recognition) yang kemudian secara rutin membina grup-grup kepanduan laut kerajaan tersebut di pangkalan angkatan laut dan kapal perang yang ditunjuk.

Dalam penyelenggaraan pertahanan maritim Inggris, para personel Sea Scout tersebut menjalankan penugasan pertahanan pangkalan sebagai pengawas pantai (coast watcher), pendukung penyiapan logistik, regu evakuasi korban, pemadam kebakaran dan kurir.

Amerika Serikat memiliki pendekatan yang berbeda dalam pelibatan pandu maritimnya dalam penyelanggaraan pertahanan maritimnya. Pada masa damai Sea Scout of Boys Scout of America (BSA) dibina dengan kegiatan yang lebih berkonten sea fearer and

adventurer tentang kehidupan di kapal dan menggunakan atribut mirip US Navy. Pada masa perang para pandu maritim yang aktif dan yang tidak aktif dimobilisasi sebagai prajurit aktif dan ditempatkan di berbagai satuan baik yang berada di pangkalan maupun di kapal perang.

Kemungkinan Pramuka Saka Bahari untuk dibentuk sebagai komponen pendukung dalam pertahanan matra laut sangat besar, hal ini disebabkan oleh karakteristik organisasi dan sistem pembinaannya yang diperlukan dalam pengembangan SDM pertahanan. Organisasi dan sistem pembinaan Pramuka memiliki dasar-dasar kemiliteran. Para anggotanya di organisasi dalam kelompok seperti halnya regu dan peleton dalam struktur ketentaraan, hanya pemimpinnya dipilih

secara demokratis oleh anggota kelompoknya. Pramuka memiliki ketentuan moral yang diperlihatkan dalam Tri Satya dan Dasa Darma serta mengedepankan soliditas korsa. Kegiatannya bercorak

learning by doing menyerupai teknik dasar keprajuritan yang dikemas sebagai kegiatan permainan seperti perpetaan, komunikasi isyarat (morse, semaphore dan huruf sandi), mencari jejak, menaksir tinggi pohon dan lebar sungai, hiking, camping dan survival. Materi latihannya senantiasa diselipkan filosofi dan ideologi kebangsaan beserta implementasinya yang mampu menyaring dampak negatif di era globalisasi dan keterbukaan informasi saat ini. Dalam hal ini kegiatan Pramuka dapat menjadi bagian dari pendidikan dan pelatihan bela negara.

Konten kemaritiman

diperlihatkan dalam kegiatan dan latihan yang diwujudkan dalam

(17)

empat krida yang bisa disisipkan muatan-muatan pertahanan laut.

Empat krida tersebut adalah Krida Sumber Daya Bahari yang kelompok kegiatannya mencakup eksplorasi sumber daya alam dan sumber daya maritim, Krida Jasa Bahari yang lingkup kegiatannya pada segala bentuk pelayanan di kapal dan pelabuhan, Krida Wisata Bahari yang cakupan kegiatannya pada hobi dan olahraga bahari dan Krida Reksa Bahari yang berkonten kegiatan navigasi, perambuan laut dan keselamatan di laut.

Peran TNI AL

Selama ini pembinaan Pramuka Saka Bahari tidak lepas dari peran TNI AL. Ketua Majelis Pembimbing Saka Bahari Nasional dijabat oleh Kepala Staf Angkatan Laut (Kasal) dan Ketua Pemimpin Saka Bahari Kwartir Nasional dipegang oleh Kepala Dinas Potensi Maritim (Kadispotmar). Tidak hanya itu sebagian besar Ketua Majelis Pembimbing dan Ketua Saka Bahari di tingkat daerah dipegang perwira TNI AL. Selain memberikan pelatihan secara berkala kepada para anggota Saka Bahari, TNI Angkatan Laut juga menyertakan perwakilan anggota Saka Bahari pada operasi bakti dan pelayaran muhibah seperti Operasi Bakti Surya Bhaskara Jaya dan pelayaran Kartika Jala Krida.

Tidak hanya itu TNI Angkatan Laut juga menyelenggarakan

kegiatan Pelayaran Lintas

Nusantara (Pelantara) yang diikuti oleh perwakilan Saka Bahari dari seluruh daerah di Indonesia. Dalam kegiatan itu para peserta dikenalkan kehidupan di kapal perang,

wawasan kebangsaan, pendidikan/

pelatihan bela negara dan kemaritiman serta diperkenalkan kondisi geografis, demografis, sosial dan budaya di sejumlah daerah yang disinggahi pelayaran tersebut.

Selain karakteristik kegiatan Saka Bahari yang menjadi sisi kekuatannya, pembentukan Staf Umum Potensi Maritim (Spotmar) yang menajamkan penyelenggaraan pemberdayaan wilayah pertahanan laut (Dawilhanla) untuk

menyiapkan potensi sumber daya maritim nasional menjadi kekuatan pertahanan laut, merupakan peluang untuk meningkatkan eksistensi Saka Bahari dalam penyelenggaraan pertahanan matra laut. Harapannya sarana dan prasarana latihan Saka beraspek maritim ini perlu ditingkatkan di samping penajaman dan intensifikasi penyampaian materi pertahanan negara di laut dari konsepsi hingga tataran praktikal.

Untuk itu diperlukan perencanaan pembinaan Saka Bahari agar dapat disiapkan sebagai kekuatan pengganda yang memperkuat TNI AL sebagai komponen inti pertahanan di laut.

Belum adanya peraturan perundang-undangan yang

mengatur Komponen Cadangan dan Komponen Pendukung Pertahanan masih menjadi tantangan dalam mengoptimalkan Pramuka Saka Bahari dalam pertahanan negara di laut.

Namun demikian ada sejumlah upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kapasitas Pramuka Saka Bahari. Mengingat secara faktual pembinaan Saka Bahari melibatkan pemangku kepentingan dalam pemerintahan, maka komunikasi dan koordinasi yang intens merupakan pekerjaan yang wajib selalu dilakukan.

Secara organisatoris Pramuka Saka Bahari di bawah pembinaan Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora), yang dalam hal ini dilaksanakan oleh Kwartir Nasional Gerakan Pramuka. Keduanya merencanakan pembinaan dan penganggaran kegiatan Pramuka Saka Bahari di tanah air. Sementara pemangku kepentingan yang lain seperti Kementerian Pertahanan, Kementerian Perhubungan, Kementerian Kelautan dan Perikanan serta TNI AL

bertanggung jawab pada penajaman konten materi kegiatannya seperti kemaritiman, bela negara dan pertahanan matra lautnya. Bagian penting lainnya adalah bagaimana menyusun sistem mobilisasi anggota Saka Bahari untuk menghadapi ancaman militer dan nir militer. (Kak Tris-Saka Bahari Kota Bekasi).

Pramuka memiliki ketentuan moral yang diperlihatkan dalam Tri Satya dan Dasa Darma serta mengedepankan soliditas korsa. Kegiatannya bercorak learning by doing menyerupai teknik dasar keprajuritan yang dikemas sebagai kegiatan permainan seperti perpetaan, komunikasi isyarat (morse, semaphore

dan huruf sandi), mencari jejak, menaksir tinggi pohon dan lebar sungai, hiking, camping dan survival.

Gambar

Gambar 1. Photo situasi pemberangkatan Pasukan Gabungan di Pelabuhan Tj. Priok
Gambar 2. Peta Perbatasan Wilayah  Negara Indonesia
Gambar Design Penempatan Dipping Sonar.
Gambar Dimensi Helikopter Panther AS565 MBe.

Referensi

Dokumen terkait

Irigasi mempunyai fungsi untuk mendukung produktifitas lahan dalam rangka meningkatkan produksi pertanian, ketahanan pangan nasional, dan kesejahteraan

Kegiatan yang mendukung pencapaian dari program ini adalah kegiatan Pembinaan ketahanan keluarga, dengan indikator kinerja persentase keberhasilan

1.. Kontribusi Sumber Daya Air terhadap Dimensi Pembangunan Nasional 2. Koordinasi Lintas Kementerian dalam mendukung Kedaulatan Pangan dan Ketahanan Air. Longlist Rencana

Pasal 3 UU Nomor 30 Tahun 2007 tentang Energi, bahwa dalam rangka mendukung pembangunan nasional secara berkelanjutan dan meningkatkan ketahanan energi nasional maka pengelolaan

Undang-Undang Nomor 17 tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional 2005-2025 mengamanatkan bahwa untuk mendukung keberhasilan pembangunan, perlu

Undang-Undang Nomor 17 tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional 2005-2025 mengamanatkan bahwa untuk mendukung keberhasilan pembangunan, perlu

Kawasan perbatasan mempunyai nilai strategis dalam mendukung keberhasilan pembangunan nasional, hal tersebut ditunjukkan oleh karakteristik kegiatan yang mempunyai

Oleh karena itu, tulisan ini ditujukan untuk menganalisis posisi dan strategi Indonesia dalam perubahan iklim dalam rangka mendukung ketahanan nasional guna menghadapi ancaman perubahan