BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.3. Sosial Ekonomi dan Sosial Budaya Masyarakat Pesisir
Masyarakat pesisir pantai sebagian besar adalah nelayan. Nelayan adalah sebuah fenomena sosial yang sampai saat ini masih merupakan tema yang sangat menarik untuk didiskusikan. Nelayan dikonsepsikan sebagai orang yang melakukan penangkapan atau budidaya di laut dan ditempat yang masih dipengaruhi pasang surut (Tarigan, 2000). Jadi bila ada yang menangkap ikan di tempat budidaya ikan seperti tambak, kolam ikan dan di danau, sungai tidak termasuk nelayan. Selanjutnya menurut Tarigan (2000), berdasarkan pendapatannya, nelayan dapat dibagi menjadi:
a. Nelayan tetap atau nelayan penuh, yakni nelayan yang pendapatannya seluruhnya berasal dari perikanan.
b. Nelayan sambilan utama, yakni nelayan yang sebagian besar pendapatannya
berasal dari perikanan.
c. Nelayan sambilan tambahan, yakni nelayan yang sebagian kecil pendapatannya
berasal dari perikanan.
d. Nelayan musiman, yakni orang yang dalam musim tertentu saja aktif sebagai
nelayan.
Kemudian berdasarkan perahu/kapal penangkap yang digunakan, nelayan dibagi atas:
a. Nelayan berperahu tak bermotor, terdiri dari: nelayan jukung dan nelayan perahu
papan (kecil, sedang dan besar).
b. Nelayan berperahu motor tempel.
c. Nelayan berkapal motor menurut GT (gross ton) terdiri dari < 5 GT, 5 – 10 GT,
10 – 20 GT, 20 – 30 GT, 30 – 50 GT, 50 – 100 GT. 100 – 200 GT, 200 – 500 GT, > 500 GT.
Sedangkan menurut status, nelayan dapat dibagi:
a. Nelayan Pemilik, yaitu pemilik perahu tak bermotor, pemilik kapal motor (toke).
b. Nelayan Juragan, yaitu pengemudi pada perahu bermotor atau sebagai kapten
kapal motor.
c. Nelayan Buruh, adalah pekerja menangkap ikan pada perahu motor atau pada
Isu yang selalu mucul ketika membicarakan masyarakat pesisir adalah masyarakat yang marjinal, miskin dan menjadi sasaran eksploitasi penguasa baik
secara ekonomi maupun politik,terutama nelayan yang digolongkan sebagai nelayan
musiman, nelayan yang hanya memiliki perahu tanpa motor atau nelayan buruh. Pada umumnya, 80% masyarakat pesisir masih dalam kondisi miskin dengan tingkat
pendidikannya yang rendah. Kemiskinan yang selalu menjadi trade mark bagi
masyarakat pesisir dalam beberapa hal dapat dibenarkan dengan beberapa fakta seperti kondisi pemukiman yang kumuh, tingkat pendapatan dan pendidikan yang rendah, rentannya mereka terhadap perubahan sosial, politik, dan ekonomi yang melanda, dan ketidakberdayaan mereka terhadap intervensi pemodal, dan penguasa yang datang. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa faktor struktural yang
menyebabkan terjadinya kemiskinan nelayan. Mubyarto et al (1984), Mubyarto dan
Sutrisno (1988), Resusun (1985), Rizal (1985) dan Zulkifli (1989) menyatakan bahwa faktor struktural ini juga sering kali menjadi alasan untuk timbulnya konflik pada masyarakat pesisir yaitu konflik nelayan tradisional terhadap pemilik alat tangkap modren seperti pukat harimau. Konflik itu terjadi karena pukat harimau melakukan penangkapan ikan di zona penangkapan nelayan tradisional. Misalnya, salah satu penyebab konflik adalah adanya penabrakan nelayan oleh pukat harimau. Menurut catatan Suhendra (1998) ada sampai 37 kejadian nelayan ditabrak pukat harimau dengan korban meninggal 5 orang, hilang 31 orang, sejak tahun 1993 sampai Juli 1998. Keadaan dan kondisi di atas seringkali memicu terjadinya pengerusakan sumberdaya alam di sekitarnya.
Secara umum, ada dua pendekatan yang dilakukan dalam menganalisis kemiskinan nelayan yaitu pendekatan struktural dan kultural. Beberapa tulisan mengenai masyarakat pesisir dengan pendekatan struktural yang menggambarkan
tentang kemiskinan/kondisi ekonominya. Hasil penelitian Mubyarto et al (1984)
menunjukkan bahwa masyarakat pesisir di daerah Jepara sebagian berasal dari golongan sedang, miskin, dan miskin sekali. Selanjutnya dinyatakan bahwa kemiskinan masyarakat pesisir pantai lebih banyak disebabkan oleh adanya tekanan struktur, di mana masyarakat pesisir terbagi atas kelompok kaya dan kaya sekali di satu pihak, miskin dan miskin sekali di lain pihak. Penelitian ini menunjukkan adanya dominasi/eksploitasi dari masyarakat pesisir kaya terhadap nelayan miskin. Hampir sama atas dasar penelitian di atas Mubyarto dan Sutrisno (1988) juga melihat kemiskinan masyarakat pesisir di Kepulauan Riau.
Hampir sama dengan asumsi yang dibangun oleh Mubyarto tentang pengaruh struktur, Resusun (1985) juga menemukan data bahwa masyarakat pesisir pantai di Pulau Sembilan, Kabupaten Sinjai, Sulawesi Selatan, ada satu kelompok masyarakat yang hidupnya tidak berkecukupan, yaitu yang tidak punya modal (nelayan kecil), dan mereka selalu diekspoitasi oleh nelayan yang punya modal
(punggawa) dan pedagang (pa’bilolo) yaitu sawi bagang atau pa’bagang atau
pembantu utama punggawa dalam menangani kegiatan operasi penangkapan ikan. Penelitian yang dilakukan oleh Resusun (1985) di atas juga menunjukkan adanya struktur hubungan sosial yang khas pada masyarakat pesisir. Hubungan itu adalah adanya ketidakseimbangan antara yang mempunyai modal usaha dan para
pekerjanya. Hubungan itu adalah antara punggawa-sawi/pa’bagang yang bersifat
timbal balik (reciprocity). Walaupun sawi perlu sang punggawa sebagai sumber
lapangan kerja, punggawa juga memerlukan tenaga sawi. Seorang punggawa akan
berusaha supaya sawi yang dipercayai menetap diusahanya. Akibatnya terjadi
hubungan yang selalu merugikan sawi. Karena seringkali kerelaan punggawa untuk
meminjamkan uang kepada sawi berdasarkan motivasi agar sawi tetap berada
di lingkaran setan. Hutang yang tidak bisa dilunasi seringkali harus dibalas dengan jasa yang sangat berlebihan. Hal ini terlihat dalam penelitian yang dilakukan oleh Rizal (1985) di Desa Bari, Kabupaten Bulukumba menyebutkan bahwa seorang istri
sawi mengerjakan apa saja di rumah isteri punggawa untuk membalas jasa punggawa
membantu suaminya. Sejalan dengan hal di atas di Propinsi Sumatera Utara hasil penelitian dengan pendekatan struktural mengenai kondisi sosial ekonomi masyarakat pesisir juga telah dilakukan oleh Zulkifli (1989) di Desa Bagan Deli, Kecamatan Medan Labuhan, yang menyebutkan akibat struktur patron dan klien antara pemborong dan nelayan, maka nelayan Desa Bagan Deli menjadi miskin. Sedangkan tulisan yang membahas kondisi sosial ekonomi masyarakat pesisir dengan pendekatan kultural telah dilakukan oleh Harahap (1992, 1993, 1994) yang melakukan serangkaian penelitian yang berkaitan dengan kemiskinan masyarakat pesisir di tiga desa di Pantai Timur Sumatera Utara. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa penyebab kemiskinan mereka adalah faktor budaya dan rusaknya sumberdaya alam khususnya daerah laut dan perikanan (pesisir) yaitu ekosistem mangrove yang telah diubah menjadi tambak udang.