BAB III. PROFIL DAN PEMIKIRAN DAKWAH
D. Sosok Da’i dan Kepemimpinan Imam Khomeini
Imam Khomeini adalah sosok da’i yang berilmu luas terutama dalam bidang ilmu ’irfan (tasawuf), fiqh, ushul fiqh, dan filsafat. Dengan kemahirannya dalam bidang ilmu tersebut. Pada usia 27 tahun, seusai merampungkan studinya, ia mencurahkan pemikirannya untuk kemajuan agama melalui mengajar di berbagai tempat seperti universitas, masjid-masjid, dan lain sebagainya sebagai majlis ilmu untuk kuliah fiqh, ushul fiqh, akhlak, dan filsafat.
29
Ibid, h. 20
30
Dewan Redaksi Ensiklopedi Islam, Ensiklopedi Islam 3, h.54
31
Lukman H, Matahari Iran yang Menerangi Dunia: Imam Khomeini, h. 85
32
Imam Khomeini Qs: Pemimpin Revolusi, artikel diakses 7 Maret 2008 dari http://www.telagahikmah.org/main/jejak/007.htm
Saat mengajar, Imam terkadang kecewa jika muridnya tidak bertanya atau kritis terhadap materi yang telah diberikan. Imam selalu melatih muridnya untuk berpikir mandiri dan berkembang sebagai peneliti sejati yang berpikiran kritis. 33
Imam Khomeini pun menuangkan ilmu dan pemikirannya dengan memberi fatwa dan ijtihadnya untuk menyelesaikan masalah umat Islam demi kebaikan kehidupan umat Islam. Imam pun berdakwah melalui tulisan (dakwah bil qalam). Banyak telah kita lihat karya-karya beliau di bidang tasawuf, filsafat, dan akhlak. Terutama buku Kasyful Asrar untuk tiran Syah yang menghentakkan publik. Inilah salah satu contoh ketegasan Imam Khomeini dalam ber-amar ma’ruf nahi
munkar (mengajak kepada yang makruf/baik dan melarang kepada yang
munkar/buruk).
Bagi Imam Khomeini Islam adalah segala-galanya, karena itu beliau rela berkorban demi kejayaan Islam. Jika Islam diganggu ia akan marah dan membelanya mati-matian.34 Imam Khomeini pun sangat mencintai Rasulullah Saw dan meyakini kebenaran mutlak alquran. Hal ini membuat Khomeini bagi sebagian orang dikenal seorang ulama yang keras, tak kenal kompromi, dan disebut sebagai khalifah ortodoksi agama.35 Orang-orang yang telah menghina dan menghujat kesucian Islam, beliau tak segan-segan menghukumnya bahkan membunuhnya. Karena itu, orang menganggap kelemahannya yang terbesar ada di bidang hak asasi manusia (HAM). Dia menganggap semua penentang
33
Lukman H, Matahari Iran yang Menerangi Dunia: Imam Khomeini, h. 82
34
Ibid, 23-24
35
pemerintahan Islam adalah kafir, maka ia harus disingkirkan demi kepentingan negara dan Islam. Orang yang tak sependapat dengannya diperlakukan dengan tegas.36
Kasus Salman Rusydi misalnya, ia menghina Rasulullah Saw dan alquran melalui bukunya Ayat-Ayat Setan, Imam mengeluarkan fatwanya yaitu hukuman mati bagi Salman Rusydi di mana pun ia berada. Ia tak peduli hukuman ini dapat menyebabkan hubungan Iran dengan Barat akan kelabu, karena baginya konspirasi busuk dan pembela Baratnya atas nama HAM mutlak dihukum keras guna tak ada lagi pihak yang berani menghina Islam dan kaum muslimin.37
Namun demikian, di balik ”kegarangan” sikap Imam Khomeini itu, ternyata ia lemah lembut terhadap kaum mustadh’afin (kaum lemah). Imam sangat membela mereka. Pasca Revolusi Islam, Imam menggalang upaya perbaikan nasib kaum lemah dan tertindas dengan mengadakan berbagai program peningkatan kesejahteraan di berbagai bidang.38 Pembentukan Yayasan
Mustadh’afin contohnya, didirikan untuk kesejahteraan masyarakat tertindas
untuk memanfaatkan kekayaan negeri mereka yang terpasung untuk mereka kecap saat rezim Syah.39 Selain itu, produksi industri diberikan kepada pribumi Iran bukan diserahkan kepada para ahli asing seperti yang dilakukan Syah.40 Berbagai pusat pemberantasan buta huruf didirikan di seluruh pelosok negara
36
Ibid, h. 99
37
Islamic Cultural Center, Imam Khomeini: Pandangan, Hidup, dan Perjuangan, h.28-29
38
Ibid, h.27
39
Kedutaan Besar Republik Islam Iran, Republik Islam Iran: Selayang Pandang, h. 95
40
hingga di daerah pedusunan. Hasilnya sejumlah rakyat lumayan besar menjadi melek huruf. 41
Imam Khomeini dikenal sebagai pribadi yang sangat jujur, ikhlas dalam melakukan sesuatu dan tak pernah mau dipuji. Justru ia cemas dan gelisah bila seseorang menyanjung karakteristik moral dan sosialnya. Banyak pihak yang menyebut Imam Khomeini sebagai perwujudan spiritual dan akhlak Islam. Dalam pandangan Hujjatul Islam Muhammad Ali Ansari yang juga kepala Pusat Penerbitan Karya-Karya Imam Khomeini, Imam tak pernah mencari popularitas. Ia tak peduli akan penilaian manusia, para negarawan atau pemerintah. Melainkan pergerakannya itu untuk kemajuan dalam aspek moral, dalam penyempurnaan moralnya, dan pengenalannya akan Tuhan.42 Memang, keberserahan diri Imam kepada Allah Swt terpancar dari kekokohan imannya. Ia tak pernah takut apa pun kecuali pada Allah Swt. 43
Imam Khomeini terkenal sebagai ulama memiliki integritas tinggi juga seorang yang zuhud (tak silau dunia). Harta yang dimiliki Imam hingga akhir hayatnya hanyalah sebuah rumah sederhana yang telah diwakafkan pada Dewan Revolusi, alat masaknya, tempat duduk belajar sekaligus untuk tidurnya, serta beberapa buku dan alat ibadah.44 Di kota Qum, tempat tinggalnya, meski ia penguasa tertinggi di Iran, Imam hanya menumpang di beberapa kamar yang ada
41
Ibid, h. 79
42
Lukman H, Matahari Iran yang Menerangi Dunia: Imam Khomeini, h. 81-82
43
Islamic Cultural Center, Imam Khomeini: Pandangan, Hidup, dan Perjuangan, h. 26
44
Yamani, Wasiat Sufi Ayatullah Khomeini: Aspek Sufistik Ayatullah Khomeini yang Tak Banyak Diketahui, h. 44-48
di Husainiyyah (surau) Jamaran, Teheran Utara.45 Hingga akhir hayatnya Imam hanya tinggal di kontrakan rumah petak berukuran 3x5 meter sekaligus sebagai tempat menerima tamu dan para duta besar.46 Pakaian sehari-harinya pun seperti rakyat biasa tak ada yang istimewa.47 Pasca wafat Imam, jutaan orang yang berkunjung ke rumah Imam, tercengang seakan tak percaya bahwa seorang pemimpin revolusi yang spektakuler di abad ke dua puluh ini hidup amat sederhana.48
Sebagai seorang pemimpin, Imam telah menunjukkan bahwa gerakannya menumpas tiran Syah Reza di Iran yang mengesampingkan Islam, peran ulama, bahkan tanah airnya rela dijadikan boneka oleh Barat, adalah gerakan komunal yang solid hingga mampu menggulingkan tiran tersebut. Ini karena Imam Khomeini amat memahami pentingnya sebuah persatuan. Imam Khomeini merangkul semua kalangan, mulai dari para ulama, para mahasiswa dan kalangan intelektual universitas, para pedagang (bazari), hingga rakyat jelata korban penindasan rezim Syah Reza. 49
Perihal pandangan sebagian orang bahwa Imam otoriter semasa memimpin, ternyata Imam menghargai hak rakyatnya. Terutama dalam hal menentukan pemimpinnya. Konsep Wilayat Al-faqih yang kemudian diterjemahkan dalam
45
Dewan Redaksi Ensiklopedi Islam, Ensiklopedi Islam 3, h. 55
46
Rommy Fibri, Mendiang Khomeini Tinggal di Rumah Sederhana, artikel diakses pada 7 Maret 2008 di http://www.liputan6.com/luarnegeri/?id=148058.
47
Dewan Redaksi Ensiklopedi Islam, Ensiklopedi Islam 3, h. 55
48
Yamani, Wasiat Sufi Ayatullah Khomeini: Aspek Sufistik Ayatullah Khomeini yang Tak Banyak Diketahui, h. 44
49
UUD Republik Islam Iran, presiden sebagai otoritas kekuasaan eksekutif, dipilih langsung oleh rakyat.hingga saat ini, 26 tahun pasca Revolusi Islam Iran, telah berlangsung delapan kali pemilihan presiden.50
Namun demikian, sebagai manusia biasa, kelemahan kepemimpinan Imam Khomeini dalam memimpin Republik Islam Iran tetaplah ada. Salah satunya Imam kurang campur tangan dalam banyak soal non-agama, seperti inflasi, perdagangan luar negeri, sektor swasta dalam ekonomi, dan lain sebagainya, sehingga ini menjadi sumber perdebatan di kalangan pejabat.51