PENDAHULUAN
Latar Belakang
Spektrofotometri merupakan salah satu cabang analisis instrumental yang mempelajari interaksi anatara atom atau molekul dengan radiasi elektromagnetik. Interaksi antara atom atau molekul dengan radiasi elektromagnetik dapat berupa hamburan (scattering), absorpsi (absorption), emisi (emission). Interaksi antara radiasi elektromagnetik dengan atom atau molekul yang berupa absorbsi melahirkan spektrofotometri absorpsi antara lain spektrofotometri ultraviolet (UV), spektrofotometri sinar tampak (VIS), spektofotometri infra merah (IR). Spektrofotometer UV-Vis merupakan alat dengan teknik spektrofotometer pada daerah ultra-violet dan sinar tampak. Alat ini digunakan guna mengukur serapan sinar ultra violet atau sinar tampak oleh suatu materi dalam bentuk larutan. Konsentrasi larutan yang dianalisis sebanding dengan jumlah sinar yang diserap oleh zat yang terdapat dalam larutan tersebut (Ani, 2010).
Spektrofotometri ultra violet yang dipakai untuk aplikasi kuantitatif menggunakan radiasi dengan panjang gelombang 200-380 nm, sedangkan spektrofotometri sinar tampak menggunakan reaksi dengan panjang gelombang 380-780 nm. Molekul yang dapat memberikan absorbsi yang bermakna pada panjang gelombang 200-780 nm adalah molekul-molekul yang mempunyai gugus kromofor dan gugus auksokrom (Samuel, 2011).
Spektrofotometer UV-VIS banyak dimanfaatkan seperti dalam analisis logam berbahaya dalam sampel pangan atau bahan yang sering digunakan dalam kehidupan. Air merupakan salah satu kebutuhan yang luas oleh masyarakat. Beragam sumber air yang digunakan dalam keseharian. Salah satu sumbernya ialah air sumur. Kandungan dalam air sangat mempengaruhi kesehatan masyarakat yang menggunakannya (Rini, 2010). Oleh karena itu, tujuan dilakukan praktikum ini untuk mempelajari tampilan spektrum dan panjang gelombang maksimum larutan berwarna merah dan menentukan konsentrasi larutan berdasarkan kurva standar dari larutan yang diketahui konsentrasinya.
Tujuan Praktikum
Tujuan dilakukan praktikum ini untuk mempelajari tampilan spektrum dan panjang gelombang maksimum larutan berwarna merah dan menentukan konsentrasi larutan berdasarkan kurva standar dari larutan yang diketahui konsentrasinya.
74
TINJAUN PUSTAKA
Spektrofotometer merupakan alat yang digunakan untuk mengukur absorbansi dengan cara melewatkan cahaya dengan panjang gelombang tertentu pada suatu obyek kaca atau kuarsa yang disebut kuvet. Sebagian dari cahaya tersebut akan diserap dan sisanya akan dilewatkan. Nilai absorbansi dari cahaya yang dilewatkan akan sebanding dengan konsentrasi larutan di dalam kuvet (Cairns, 2009).
Spektrofotometer sangat berhubungan dengan pengukuran jauhnya pengabsorbansian energi cahaya oleh suatu sistem kimia sebagai fungsi panjang gelombang dengan absorban maksimum dari suatu unsur senyawa. Konsentrasi unsur atau senyawa dapat dihitung menggunakan kurva standar yang diukur pada panjang gelombang absorban tertentu, yaitu panjang gelombang yang diperoleh dari hasil nilai absorbansi yang tertinggi. Spektrum absorban selain bergantug pada sifat dasar kimia, juga bergantung pada faktor-faktor lain. Larutan pembanding dalam spektrofotometri pada umumnya adalah pelarut murni atau suatu larutan blanko yang mengandung sedikit zat yang akan ditetapkan atautidak sama sekali (Wudi, 2008).
Spektofotometer banyak digunakan dalam penentuan konsentrasi suatu larutan. Secara umum spektrofotometer dibedakan menjadi empat macam, yaitu spektrofotometer ultraviolet, spektrofotometer sinar tampak, spektrofotometer infra merah dan spektrofotometer serapan atom. Spektrofotometer bekerja dengan cara mengukur banyaknya cahaya yang melewati suatu sampel yang akan diserap atau diteruskan (Keenan, 2012).
Unsur-unsur terpenting suatu spektrofotometer yakni sumber energi radiasi yang kontinu dan meliputi daerah spektrum untuk dijalankannya. Unsur terpenting lainnya yakni monokromator yang merupakan suatu alat untuk mengisolasi suatu berkas sempit dari panjang gelombang spektrum luas yang disiarkan oleh sumber. Selain itu wadah untuk contoh dan detektor yang merupakan suatu transducer yang mengubah energi radiasi menjadi isyarat listrik, serta penguat dan rangkaian yang membuat isyarat listrik cocok untuk diamati. Sistem pembacaan dapat mempertunjukkan besarnya isyarat listrik (Harjadi, 2013).
Suatu spektrofotometer standar terdiri atas spektrofotometer untuk menghasilkan cahaya dengan panjang gelombang terseleksi yaitu bersifat monokromatik serta suatu fotometer yaitu suatu piranti untuk mengukur intensitas berkas monokromatik. Penggunaan spektrofotometer memiliki beberapa kelebihan yakni dapat digunakan secara luas, memiliki kepekaan yang tinggi, tingkat selektifitas baik, dan ketelitian tinggi (Khopkar, 2010).
Metode analisa menggunakan spektrofotometer disebut spektrofotometri. Spektrofotometri merupakan suatu metoda analisa yang didasarkan pada pengukuran serapan sinar monokromatis oleh suatu lajur larutan berwarna pada panjang gelombamg spesifik dengan menggunakan monokromator prisma atau kisi difraksi dengan detektor fototube. Benda bercahaya seperti matahari atau bohlam listrik memancarkan spektrum yang lebar terdiri atas panjang gelombang. Panjang gelombang yang dikaitkan dengan cahaya tampak itu mampu mempengaruhi selaput pelangi mata manusia dan karenanya menimbulkan kesan subyektif akan ketampakan (vision). Dalam analisis secara
76
spektrofotometri terdapat tiga daerah panjang gelombang elektromagnetik yang digunakan, yaitu daerah UV (200 – 380 nm), daerah visible (380 – 700 nm), daerah inframerah (700 – 3000 nm) (Khopkar, 2010).
PEMBAHASAN
Spektrofotometri adalah analisa instrument yang membahas tentang molekul dan radiasi elektromagnetik obat golongan sulfadiamida yang mempunyai struktur umum. Spektrofotometri adalah suatu metode analisi kimia yang di gunakan untuk menerapkan kadar suatu zat atau senyawa obat dengan menggunakan alat yang biasa di sebut spektrofotometer.
Prinsip kerja spektrofotometer adalah menggunakan instrumen obat atau molekul dengan radiasi elektromagnetik, yang energik nya sesuai. Interaksi tersebut akan meningkatkan energi potensi elektron pada tingkat aksitan. Apabila pada molekul yang sederhana tadi hanya terjadi transisi elektronik pada suatu macam gugus maka akan terjadi suatu absorbsi yang merupakan garis spektrum.
Spektrofotometri uv – vs dapat di lakukan penentuan terhadap sampel yang berupa larutan, gas, atau uap. Untuk sampel yang berupa larutan perlu di perhatikan beberapa persyaratan pelarut yang di gerakan antara lain:
1. Pelarut yang di gunakan tidak menggunakan sistem ikatan rangkap terkonjugasi pada struktur molekulnya dan tidak berwarna.
2. Tidak terjadi interaksi dengan senyawa di analisa . 3. Kemurniannya harus tinggi atau derajat untuk analisis.
Pada umumnya pelarut yang sering sering di pakai dalam analisis spektrofotometer uv – vis adalah air, etanol, skloheksa-tetraproponal. Hal lain yang perlu di perhatikan dalam pemilihan pelarut adalah polaritas dari pelarut yang di pakaikarena akan sangat berpengaruh terhadap pergeseran spektrum molekul yang di analisa.
78
Unsur-unsur terpenting suatu spektrofotometer adalah (1) Sumber energi radiasi yang kontinu dan meliputi daerah spektrum, di mana alat ditujukan untuk dijalankan, (2) Monokromator, yang merupakan suatu alat untuk mengisolasi suatu berkas sempit dari panjang gelombang-panjang gelombang daru spektrum luas yang disiarkan oleh sumber (tentu saja tepat monokromatisitas tidak dicapai), (3)Wadah untuk contoh, kuvet yang terbuat dari kuarsa memeliki ketelitian yang tinggi, (4) Detektor yang merupakan suatu transducer yang mengubahenergi radiasi menjadi isyarat listrik, (5) Penguat dan rangkaian yang bersangkutan yang membuat isyarat listrik cocok untuk diamati, (6) Sistem pembacaan yang dapat mempertunjukkan besarnya isyarat listrik.
Penyebab kesalahan sistematik yang sering terjadi dalam analisis menggunakan spektrofotometer adalah serapan oleh pelarut. Hal ini dapat diatasi dengan penggunaan blangko, yaitu larutan yang berisi matrik selain komponen yang akan dianalisis. Kesalahan kedua serapan oleh kuvet. Kuvet yang biasa digunakan adalah dari bahan gelas atau kuarsa. Dibandingkan dengan kuvet dari bahan gelas, kuvet kuarsa memberikan kualitas yang lebih baik, namun tentu saja harganya jauh lebih mahal. Serapan oleh kuvet ini diatasi dengan penggunaan jenis, ukuran, dan bahan kuvet yang sama untuk tempat blangko dan sampel. Kesalahan ketiga fotometrik normal pada pengukuran dengan absorbansi yang sangat rendah atau sangat tinggi. Hal ini dapat diatur dengan pengaturan konsentrasi, sesuai dengan kisaran sensitivitas dari alat yang digunakan.
KESIMPULAN
Berdasarkan hasil pengamatan dan pembahasan, maka dapat ditarik beberapa kesimpulan sebagai berikut :
1. Semakin tinggi panjang gelombang yang di gunakan untuk mengukur sampel, maka semakin tinggi pula nilai absorbennya.
2. Prinsip kerja spektrofotometer adalah menggunakan instrumen obat atau molekul dengan radiasi elektromagnetik, yang energik nya sesuai
3. Penyebab kesalahan sistematik yang sering terjadi dalam analisis menggunakan spektrofotometer adalah serapan oleh pelarut.
4. Spektrofotometri uv – vs dapat di lakukan penentuan terhadap sampel yang berupa larutan, gas, atau uap.
5. Unsur-unsur terpenting suatu spektrofotometer adalah (1) Sumber energi radiasi yang kontinu dan meliputi daerah spektrum, monokromator, wadah, dan detector.
80
DAFTAR PUSTAKA
Aisya.2011.Penentuan Asam Amino Protein.Jakarta : Gramedia Pustaka. Almatsier, 2010. Perpindahan massa karbohidrat menjadi glukosa dari buah
kersen dengan proses hidrolisis.Jurnal penelitian ilmu teknik.10(1): 1-5. Ani, Sriwijaya. 2010. Farmasi Universitas. Pustaka: Jakarta
Anonim. 2014. Alat-alat Praktikum Kimia. http : zavataa.blogspot.com/alat_alat praktikum.html (diakses pada tanggal 05 November 2015).
Anwar.2012. Biokimia Umum Jilid 3.Jakarta : UI PRESS.
Atmaka, Puja. 2011. Pengenalan Alat dan Bahan Kimia. Jakarta. Erlangga. Atmarita, 2009. Kamus Gizi. Kompas Media Nusantara. Jakarta.
Cairns D. 2009. Intisari Kimia Farmasi Edisi Kedua. Penerjemah : Puspita Rini. Damin, 2009. Pengantar Kimia Buku panduan Kuliah Mahasiswa Kedokteran.
EGC. Jakarta.
Edahwati, 2010. Kimia Organik II. UM Press. Malang. Farizi, 2013.Kimia dasar.UPT MKU:Makasar.
Ginting. 2011. Pengenalan Alat Praktikum. Surabaya. Erlangga. Hakim.2010.Struktur dan Fungsi Protein. Bogor : M-Brio Press.
Hala, Yusminah. 2009. Penuntun Praktikum Biokimia Dasar Jurusan Kimia. FMIPA UNM. Makasar.
Handito dkk, 2014. Pengantar Biokimia. UI Press. Jakarta.
Hasrah. 2015. Pengenalan Alat-alat Praktikum. http : Hanifa.blogspot.com/alat alat-praktikum.html (diakses pada tanggal 05 November 2015).
Katili, Abubakar Sidik.2009. Jurnal Pelangi Ilmu. Struktur dan Fungsi Protein Kolagen: 2-5.
Khairil.2010. Protein dan Asam Amino. Makassar : Universitas Hasanuddin. Mukaromah dan Yusrin, 2010. Kimia dasar 2 : commoa Textbook. UM Press.
Nata. 2009. Modul praktikum kimia. Muhammadiyah Sukabumi : Sukabumi. Nazar. 2012. Kimia Pangan dan Gizi. PT. Gramedia Utama : Jakarta.
Novita. 2010. Biokimia. Sumatra : Universitas Sumatra.
Nugraheni,A.K.l.R.Zakariah dan Hargono, 2013. Pembuatan Biotanol Grade Bahan Bakar dari Bahan Buku Umbi Gadung Melalui Proses fermentasi dan Distilasi- Dehidraksi . Jurnal Teknologi Kimia dan Industri. Vol.2(3):166.
Oman,k. 2010. Cerdas Blajar Biologi. Grafindo Media Pratama : Jakarta. Pine. 2013. Denaturasi Protein. Erlangga : Jakarta.
Raymond. 2010. Biokimia Dasar. Lembah Harapan : Makassar. Riawan, S. 2009. Menjelajah Dunia Biologi. Platinum: Jakarta.
Rohman, T. 2011. Penanganan Bahan Kimia dengan Alat Gelas Kimia serta Penanganan Karbon akibat Kontak dengan Bahan Kimia. Banjar Baru. Makalah Seminar.
Rue. 2013. Bioteknologi Modern. Universitas Gadjah Mada : Yogyakarta. Saad, Abdul. 2010. Biokimia Protein Enzim dan Asam Nukleat. ITB-Press:
Bandung.
Santoso. 2012. Praktis Belajar Kimia. Visindo Media Persada : Jakarta.
Sartika, Ratu Ayu. 2008. Pengaruh Asam Lemak Jenuh, Tidak Jenuh dan Asam Lemak Trans terhadap kesehatan. Jurnal kesehatan Masyarakat Nasional.Vol.2 (4). 154-156.
Sesilia.M dan L.Yuanita,2012. Aktifitas Enzim Amilase Rattus Novegrgicu Pada Diet Tinggi Serat Pangan : Variasi pH dan Lama Perebusan .Journal Of Chemistry. Vol.1(1):101-102.
Sirrajudin,2011.Kimia dasar II.UM Press : Malang.
Sumardjo, 2009. Prinsip dasar ilmu gizi. gramedia pustaka:Jakarta. Taufik. 2010. Kamis Gizi. Kompres : Jakarta.
82
Wardani, Sri. 2008. Pengembangan Keterampilan Proses Sains dalam
Pembelajaran Kromatografi Lapis Tipis melalui Praktikum Skala Mikro. Volume 2 No 2. Halaman 319.
Wudi . 2008. Analisis Kimia Kuantitatif Edisi Keenam. Penerjemah : Sopyan Iis. Yuni, A. 2010. Kimia Hidup. Pustaka : Bandung.
Zaini. 2010. Protein dalam Kehidupan. Universitas Negeri Yogyakarta:Yogyakarta.