III HASIL DAN PEMBAH ASAN
A. DISKRIPSI UMUM.
3. SPESIFIKASI TIAP SATUAN UNIT PRODUKS
Mulai tahun 2003 PD. Budi Lestari memasarkan minuman jamu Gula Asem (GULAS) dan minuman jamu cap Dua Banteng (Jagotra)
Dengan demikian sampai tahun 2004 jenis minuman yang diproduksi dengan dipasarkan oleh PD. Budi Lestari menjadi tiga jenis yaitu:
- Minuman Temulawak
- Minuman jamu Jagotra
- Minuman Gula Asem
Spesifikasi tiap unit produksinya adalah sebagai berikut :
1. Minuman jamu cap Dua Banteng (Jagotra)
- Isi botol
- Ada ijin POM No. TR 013611241
- Kode produksi : JDBS 010601
- Komposisi :
- Piperiss Nigri Fruktus = 10%
- Curcymae = 11%
27
- Sappan Liqnum = 11%
- Burmanii Corte = 6%
- Gula = 15%
- Air = 25%
- Khasiat : mengurangi sakit pegal linu mengurangi rasa sakit menambah nafsu makan
2. Minuman segar Temulawak
- Isi botol 320 ml.
- Terdaftar Depkes No. SP 025.01/109-04/97
- Komposisi : Temulawak Ess 0,5 %, gula 20 %, Tartrazine 0,3 %, dan
Anad 100%
- Khasiat : tidak ditulis didalam tabel
3. Minuman Segar Gula Asem
- Isi botol 220 ml
- Ijin Depkes NO. Sp 025-01-08-0047
- Komposisi : sari buah asem, gula merah dan air matang. - Khasiat : tidak ditulis dalam tabel
Berdasarkan hasil wawancara dengan pelaku usaha, diperoleh penjelasan bahwa PD. Budi Lestari pada saat memulai usahanya pada tahun 1996, jumlah modal usaha yang dimiliki sebesar Rp. 15.000.000,- digunakan untuk :
- Sewa sebidang tanah + bangunan Rp. 6.000.000,-
28
- Pengadaan mesin press Rp. 800.000,-
- Jaminan mesin gas CO2 Rp. 300.000,-
- Tong kayu, 4 biji Rp. 400.000,-
- Tungku Rp. 1.500.000,-
- Botol bekas 1200 botol x Rp. 300,- Rp. 360.000,-
- Krat bekas, 50 krat x Rp 300,- Rp. 150.000,-
Jumlah Rp.15.000.000,-
Sedangkan modal usaha untuk membeli bahan baku minuman jamu, dipinjam dari tukang sayur sebesar Rp. 75.000 dan dapat diproduksi sebanyak satu racikan atau 1200 botol
Sekalipun usahanya baru dimulai, namun karena pimpinan perusahaan banyak memiliki pelanggan yang sudah dikenal lama, maka keperluan botol dan pemasaran hasil tidak mengalami kesulitan.
- Salah satu kelebihan yang dimiliki perusahaan dalam mengolah usahanya dan ini merupakan kiat sukses usaha adalah :
a. Adanya dukungan 8 orang tenaga pemasaran yang memiliki daerah pemasaran
yang cukup luas, memberi kemudahan perusahaan dalam pemasaran hasil dan perolehan botol-botol bekas.
b. Ada tekad yang bulat dari pimpinan perusahaan yang tidak mengambil
keuntungan perusahaan selama 2 tahun untuk keperluan sendiri, tetapi keuntungan perusahaan ditanamkan kembali di perusahaan untuk tambahan modal.
29
Dari modal usaha sebesar Rp. 15.000.000,- yang dimiliki perusahaan pada awal berdirinya perusahaan, kini jumlah modal perusahaan telah berkembang menjadi Rp. 677.946.827 (tahun 2004) dengan omset penjualan dalam setiap bulannya mulai dari tahun 2000 – 2004 dapat dilihat dalam lampiran 7, dengan penjelasan sebagai berikut :
- pada tahun 2000, omset penjualan tertinggi jatuh pada bulan Oktober sebanyak 360.679 botol
- pada tahun 2001, omset penjualan tertinggi jatuh pada bulan Mei, sebanyak
:393.004 botol
- pada tahun 2002, omset penjualan tertinggi jatuh pada bulan Oktober, sebanyak : 669.647 botol
- para tahun 2003, Omset penjualan tertinggi jatuh pada bulan Juni, sebanyak : 501.565 botol
- pada tahun 2004, omset penjualan tertinggi jatuh pada tahun September, sebanyak 410.539 botol
Dengan demikian, rata-rata tertinggi omset penjualan minuman jamu selama 5 tahun sebesar 467.086 botol, adalah suatu jumlah yang cukup berhasil dan sukses
B. PEMBAHASAN
Penulis dalam melakukan penelitian memfokuskan kajian penelitiannya terhadap berbagai aspek sebagai upaya untuk memperoleh kiat-kiat yang menjadikan sukses perusahaan.
30
Demikian juga dalam pembahasan kajian meliputi aspek ekonomi, aspek tehnis dan produksi, dan aspek pemasaran. Dalam aspek pemasaran, kajian utama yang dilakukan meliputi analisa penjualan produk dan rugi/laba penjualan dengan metode analisa produk sesuai dengan teori Kotler (1997).
Fungsi dari analisa ini adalah untuk memberikan usulan kepada perusahaan mengenai tiga produk potensial.
1. Aspek Ekonomi
PD. Budi Lestari dapat dikatagorikan sebagai usaha kecil, karena kriteria yang dimiliki, salah satu diantaranya adalah menurut UU RI No. 9 tahun 1995 tentang Usaha Kecil, PD. Budi Lestari ”tidak memiliki hasil penjualan tahunan melebihi Rp. 1 Milyard dan tidak memliki kekayaan bersih diluar tanah dan bangunan sebesar Rp. 200 juta, serta berdiri sendiri dan bukan merupakan anak perusahaan”.
Salah satu kelebihan yang dimiliki usaha kecil yang bergerak disektor industri pengolahan, termasuk usaha PD. Budi Lestari adalah bahan mentah atau bahan baku sebagai bahan untuk membuat minuman jamu tidak banyak menggunakan bahan mentah import, dan bahan mentahnya sangat mudah di peroleh dipasar lokal dalam negeri seperti di pasar Jatinegera.
Karena bahan mentah atau bahan baku mudah didapat didalam negeri dan tidak tergantung dari import, maka usaha PD. Budi Lestari tetap eksis dan tidak tergoyahkan oleh krisis ekonomi yang pernah melanda di negeri ini.
31
Namun demikian, sekalipun usaha PD. Budi Lestari ini dikategorikan sebagai usaha kecil, dampak usaha PD. Budi Lestari yang dirasakan masyarakat banyak adalah sebagai berikut :
1. Memberikan peluang kerja bagi masyarakat lingkungannya dengan
peningkatkan pendapatan antara Rp. 300.000,- sampai dengan Rp. 1.000.000,-bagi tenaga kerja blanan dan harian sebagai berikut :
a. Gaji pimpinan Rp. 1.000.000,-/bulan b. Gaji seorang apoteker Rp. 750.000,-/bulan
c. Gaji Kepala bagian dan administrasi Rp. 750.000,-/bulan d. Gaji staf keuangan dan administrasi (4 orang ) @ Rp. 500.000,- e. Gaji 2 orang mandor @ Rp. 337.500,-
2. Memberikan peluang kerja dan pendapatan bagi tenaga kerja borongan
pekerjaan pencucian botol dan penutupan botol yang setiap harinya mereka peroleh tidak kurang dari Rp. 10.000,- jumlah tenaga kerja borongan sebanyak 18 orang.
3. Memberikan pelang kerja dan pendapatan bagi 8 orang tenaga harian daya upah perhariannya sebesar Rp. 8.000,-
4. Memberikan peluang kerja dan pendapatan bagi 44 orang tenaga kerja
lepas bagian pemasaran yang menjajakan hasil produk minuman jam PD. Budi Lestari kewarung-warung, daya pendapatan rata-rata setiap bulan tidak kurang dari Rp. 800.000,-
32
2. Aspek Tehnis dan Produksi
Penggunaan botol be kas sebagai kemasan minuman jamu produk PD. Budi Lestari nampaknya tidak akan membawa kemajuan usaha dalam jangka panjang, karena dengan menggunakan botol bekas sebagai kemasan minuman jamu, perusahaan baru dapat memenuhi permintaan sebanyak 40%, hal ini disebabkan :
1. Kebanyakan konsumen lebih menyukai botol baru bening sebagai kemasan
jamu.
2. Kebanyakan botol bekas pakai, makin lama makin sulit di dapat karena
banyak botol bekas dilabur kembali menjadi botol baru.
Kesulitan perusahaan untuk memperoleh botol-botol bekas saat ini, akan menjadikan peluang perusahaan dimasa mendatang dalam usahanya untuk meningkatkan permintaan konsumen, karena : penggunaan botol-botol bekas yang mulai dihentikan dan menggunakan botol-botol baru bening untuk kemasan minuman jamu, perusahaan akan dapat meningkatkan penjualan sampai 100% dan dengan demikian ada peningkatan penjualan sebesar 60%.
3. Aspek Pemasaran
Dalam pemasaran hasil, prinsip perusahaan hanya menjual isi saja, dan botol kemasan minuman disediakan sendiri oleh pedagang. Namun demikian untuk mempermudah penanganan sebagai upaya meningkatkan omset penjualan, perusahaan membuat suatu kebijaksanaan dalam bentuk penyediaan botol bekas bagi pedagang dengan pembayaran cash oleh pedagang pada saat mengambil barang dagangannya diperusahaan.
33
Harga botol bekas yang ditetapkan perusahaan sekitar Rp. 300,- sehingga pada saat pedagang mengambil barang dagangannya diperusahaan, pedagang wajib membayar Rp. 500,- terdiri dari isi saja Rp. 200,- dan botolnya Rp. 300,-
Bahkan untuk pedagang yang baru memulai usaha, dapat pinjaman botol dari perusahaan sebanyak 1.000 botol dengan pembayaran secara angsuran.
Langkah perusahaan yang memberikan pinjaman botol bekas sebagai upaya meningkatkan omset penjualan, nampaknya akan sangat berpengaruh terhadap perputaran modal usaha perusahaan sebagian akan tertanam dalam botol.
Dalam lampiran 6 terlihat bahwa dari 44 orang pedagang pemasok, 34 orang diantaranya masih mempunyai tunggakan hutang botol bekas dengan total sisa pinjaman sebesar Rp. 43.830.985 (catatan sampai dengan 13 Desember 2004) adalah suatu jumlah yang tidak sedikit, dan kalau hal ini dibiarkan atau setidak-tidaknya kebijakan ini diteruskan berlanjut tanpa ada usaha lain yang memaksimalkan tagihan, maka sudah jelas modal perusahaan yang tertanam dibotol bekas semakin menumpuk, yang dalam hal ini dapat disimak persentasi pengendalian pinjaman botol bekas sebagai berikut :
1. Dari jumlah pinjaman sebear Rp. 45.520.985 sampai dengan
tanggal 13 Desember 2004 jumlah yang diangsur baru sekitar Rp. 2.090.000,- atau baru 4,6%
2. Dari jumlah 34 orang penunggak terdapat 2 orang penunggak
yang sama sekali tidak mengangsur tunggakannya sebesar Rp. 1.144.300,-
34
a. Analisa Laporan Penjualan
Dalam periode tahun 2004 PD. Budi Lestari telah menjual Tiga jenis minuman, dengan total penjualan sebesar 3.490.676 botol senilai Rp. 671.955.130 (lampiran 11) dan keuntungan yang didapat sebesar Rp. 80.382.279 (lampiran 15).
Rata-rata setiap bulan pada tahun 2004 PD. Budi Lestari dapat menjual minuman 223.747 botol senilai Rp. 43.12.975,- (tabel 3). Permintaan tertinggi minuman tahun 2004 adalah sebagai berikut (lampiran 11)
- bulan September 2004 permintaan minuman Temulawak 307.554 botol
- bulan Agustus minuman Jagotra 63.763 botol
- bulan September minuman Gula Asem 49.497 botol.
Dari Tiga jenis minuman tersebut, jumlah permintaan tertinggi adalah minuman Temulawak. Hal ini dikarenakan sebutan temulawak sudah melekat dihati masyarakat pencintanya, sehingga tanpa harus melalui promosipun masyarakat umum pecandu minuman jamu sudah mengenalnya. Jumlah permintaan terkecil minuman jamu bulan September 2004 adalah minuman jamu Gula asem sebesar 49.497 botol (temulawak 307.554 botol, Jagotra 63.763 botol). Hal ini disebabkan karena image masyarakat terhadap minuman biasa yang ditanggapinya sebagai minuman biasa yang menyegarkan sekedar menghilangkan rasa haus, kurang penjelasan khasiat tambahan lainnya.
35
Gambar 3 Persentasi penjualan produk minuman jamu PD. Budi Lestari tahun 2004 (PD. Budi Lestari 2004)
Berdasarkan gambar 3 tersebut diatas, dapat dinyatakan bahwa minuman jamu temulawak merupakan produk yang paling banyak diminati konsumen, yaitu 76,91% dan produk yang memiliki volume penjualan terendah adalah produk minuman jamu Gula Asem (7,45%).
Berdasarkan data laporan penjualan tersebut, perusahaan perlu membuat strategi batu guna meningkatkan volume penjualan produk minuman gula asem adalah belum banyak nya masyarakat yang mengenal jenis minuman ini, maka salusi terbaik untuk meningkatkan volume penjualan adalah perlunya promosi dari perusahaan.
Rincian laporan penjualan minuman jamu Temulawak dalam setiap bulannya pada tahun 2004 adalah sebagaimana tersebut dalam tabel : 3
Gulas 7,45%
Jagotra 15,64% Temulawak 76,9%
36
NO. BULAN TEMULAWAK
(botol) KETERANGAN 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus Sepetember Oktober November Desember 200.732 162.972 239.204 301.717 276.552 262.533 250.466 296.870 307.554 248.016 138.347 - Jumlah 2.684.963
Tabel. 3 Omset penjualan bulanan minuman jamu Temulawak tahun 2004
Tabel 3 menunjukkan, bahwa pada bulan September penjualan produk minuman jamu Temulawak menduduki peringkat tertinggi yaitu 307.554 botol. Peningkatan produksi terjadi sejak Agustus 2004. Volume penjualan terendah terjadi pada bulan Februari sebesar 162.972 botol, kemudian seterusnya mulai bulan Maret hingga bulan September naik terus, tetapi dalam bulan November turun kembali dibawah volume penjualan bulan Februari 2004. Hal demikian terjadi karena adanya jenis produk minuman Jagotra dan Gula Asem.
37
2. Volume penjualan bulanan minuman jamu Jagotra tahun 2004 dapat dilihat dalam tabel 4
NO. BULAN TEMULAWAK
(botol) KETERANGAN 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus Sepetember Oktober November Desember 46.826 bt 35.658 bt 52.074 bt 59.074 bt 59.289 bt 52.029 bt 56.723 bt 63.763 bt 53.308 bt 45.967 bt 21.269 bt Jumlah 545.980
38
Tabel 4 terlihat adanya peningkatkan permintaan pada bulan Agustus sebanyak 63.763 botol. Hal ini menunjukkan mulai adanya tanggapan konsumen terhadap produk minuman jamu Jagotra, tetapi pada bulan-bulan berikutnya jumlah permintaan semakin menurun. Nampaknya tingginya permintaan minuman jamu Jagotra bulan Agustus, adalah terjadi karena konsumen ingin coba-coba, sehingga perintaan naik, kemudian pada bulan-bulan berikutnya mulai menurun kembali. Hal demikian perusahaan harus cukup waspada dan perlu mengambil kebijaksanaan baru bagaimana permintaan dapat kembali naik.
3. Volume penjualan bulanan minuman jamu Gula Asem tahun 2004 (lihat tabel5)
NO. BULAN TEMULAWAK
(botol) KETERANGAN 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus Sepetember Oktober November Desember 8.854 6.949 14.656 20.229 24.629 26.338 25.293 34.052 49.497 32.864 16.372 Jumlah 259.733
39
Tabel 5 menunjukkan permintaan pasar terhadap prpduk minuman Gula Asem (GULAS) tertinggi jatuh pada bulan September 2004sebesae 49.497 botol, kemudian menurun tajam pada bulan-bulan berikutnya. Hal demikian perusahaan harus cukup waspada, mengapa hal ini terjadi, dan bagaimana solusi terbaik untuk mengatasinya. Hasil wawancara penulis dengan 40 orang responden (lampiran 14) menunjukkan bahwa konsumen lebih banyak menyukai jamu Temulawak sebanyak 24 orang, dan lebih menyukai Jagotra 9 orang, dan yang menyukai Gula Asem 7 orang. Mengapa paling menyukai Temulawak dan tidak menyukai minuman lainnya, karena alasan- alasan berikut:
1. Minuman Jagotra, ditangani sebagai minuman pekerja berat seperti sopir, tukang becak, kuli bangunan dan lain-lain.
2. Minuman Gulas, adalah minuman dengan rasa asem-asem sedikit, kurang
diminati
3. Sedangkan minuman temulawak paling banyak disukai orang, dikarenakan
minuman jamu temulawak ditanggapinya sebagai minuman bergengsi yang sudah cukup dikenal sejak nenek moyang.
40
3. Analisa Laba Penjualan
Pada tahun 2004 total keuntungan yang diperloleh PD. Budi Lestari dari ketiga jenis minuman sebesar Rp. 80.382.279,-.
Keuntungan terbesar dipeoleh dari minuman temulawak sebesar Rp. 61.814.900,- dan keuntungan terendah diperoleh dari minuman jamu Gula Asem sebesar Rp. 6.617.279,-
Rincian total keuntungan dan rataan perolehan keuntungan tiap jenis minuman setiap bulannya seperti tampak dalam tabel. 6
No. Jenis Minuman Laba Penjualan/tahun (Rp.) Rataan Laba/perbulan Persentasi laba penjualan dari total laba 1. 2. 3. Temulawak Jagotra Gula Asem 61.814.900 12..877.200 6.617.279 5.151.242 1.073.100 551.439 76,90% 16,02% 8,23% Tabel. 6 Total laba penjualan dan rataan keuntungan / bulan.
Dari tabel 6, terlihat bahwa jenis minuman jamu temulawak memberikan konstribusi laba terbesar dalam setiap bulannya sebesar Rp. 5.11.242,- (76,9%) dan terendah minuman gula asem sebesar Rp. 551.439 (8,23%).
Pada tahuun 2004 perusahaan telah memproduksi Tiga jenis minuman dengan total penjualan sebanyak 3.490.676 botol seniali Rp. 671.955.130 (lampiran 7) dan total keuntungan sebesar Rp.80.382.279 (lampiran 15).
41
Rata-rata setiap bulan perusahaan dapat menghasilkan minuman 290.890 botol (lampiran 7) dengan nilai rata-rata laba setiap bulan sebesar Rp. 6.700.000,- (lampiran 15).
Dari ketiga jenis minuman tersebut, tampak jelas bahwa minuman gula asem (Gulas) memberikan konstribusi laba terkecil, dan dari hasil pengamatan dilapangan, meman pada dasarnya permintaan minuman gula asem sangat sedikit, dan hal ini sudah sepatutnya perusahaan mulai mengambil langkah-langkah kedepan bagaimana solusi terbaik agar minuman gula asem ini permintaan dari masyarakat menjadi meningkat.
Langkah-langkah ini perlu segera dilakukan karena konstribusi keuntungan yang diperoleh dari minuman gula asem, hanya 8,2%, sedangkan yang lainnya seperti Jagotra, memberikan konstribusi laba 16,02% dan minuman temulawak 76,9%).
4. ANALISIS SWOT
Analisis SWOT adalah identifikasi berbagai faktor secara sistimatis untuk merumuskan stratei perusahaan. Analisis ini didasarkan pada logika yang dapat memakasimalkan kekuatan (strengths) dan peluang (opportunities) dan secara bersamaan dapat meminimalkan kelebihan (weaknesses) dan ancaman (threats).
SWOT adalah singkatan dari lingkungan internal strenths dan weaknesses serta lingkungan eksternal opportunities dan threats yang dihadapi dunia bisnis.
42
peluang (opportunities) dan ancaman (threats) denan faktor internal kekuatan (strengths) dan kelemahan (weaknesses).
Profil SWOT usaha minuman jamu PD. Budi Lestari di Jakarta dapat dilhat dalam tabel : 7 dan analisis matrix SWOTnya dapat dilihat dalam tabel : 8
Kekuatan (S) Kelemahan (W)
1. Armada pemasaran yang kuat dan
berpengalaman
2. Penempatan satu orang Apoteker
sebagai pengawas mutu minuman
3. Terdaftarnya minuman di Dep.
Kesehatan
4. Proses produksi masih sanat
sederhana
5. Harga produk terjangkau
1. Ketergantungan botol bekas
sebagai kemasan
2. modal usaha banyak tertanam
dalam pinjaman botol bekas. 3. lokasi perpakiran di tempat usaha
kurang banyak menampung kendaraan.
4. promosi belum dijalankan
5. khasiat minuman temulawak dan
gula asem belum ditulis dalam label
Peluang (O) Ancaman (T)
1. baru terlayani permintaan pasar
40%. Masih ada peluang 60%.
2. dukungan dari pemerintah
setempat sanat positip
3. hubungan perusahaan dengan
pedagang pemasok sangat baik
4. masih terbatasnya pelaku usaha
sejenis diwilayah kerja
5. Kebijakan pemerintah yang
mendukung perkembangan IK.
1. persediaan botol bekas dipasaran, jumlahnya semakin menipis.
2. citra produk minuman gula asem
belum banyak dikenal masyarakat luas.
3. persaingan kedepan semakin
meningkat
4. terhadap pesaing semakin
canggih
5. ketergantungan pada satu
pemasok bahan baku. Tabel 7 PORFIL SWOT USAHA MINUMAN JAMU PD. BUDI LESTARI.
43
Alat yang dapat dipakai untuk menyusun faktor-faktor strategis perusahaan adalah matrik SWOT yang dalam hal ini dituangkan dalam analisis matrix SWOT tabel. 8.
Matrik ini dapat menggambarkan secara jelas bagaimana peluang dan ancaman eksternal yang dihadapi perusahaan dapat disesuaikan derngan kekuatan dan kelemahan yang dimilikina. Matrik ini dapat menghasilkan empat kemungkinan alternatif strategis.
a. Strategi SO
Strategi ini dibuat berdasarkan jalan pemikiran perusahaan, yaitu dengan memanfaatkan seluruh kekuatan untuk merebut dan memanfaatkan peluang sebesar-besarnya.
b. Strategi ST
Strtategi ini digunakan untuk menggalang kekuatan yang dimiliki perusahaan dalam mengatasi ancaman.
c. Strategi WO
Strategi ini diterapkan berdasarkan pemanfaatan peluang yang ada dengan cara meminimalkan kelemahan yang ada.
d. Strategi WT.
Strategi ini didasarkan pada kegiatan yang bersifat defensif dan berusaha memenimalkan kelemahan yang ada serta menghindari ancaman.
44 LINGKUNGAN INTERNAL LINGKUNGAN INTERNAL Kekuatan (S) Kelemahan (w) S1. S2. S3. S4. S5.
Airmata pemasaran yang kuat dan berpengalaman. Penempatan satu orang Apoteker sebagai pengawas mutu minuman. Terdaptarnya minumandi Dep. Kesehatan
Penggunaan air matang yang panas mendidih sebagai adonan minuman jamu.
Harga produk yang terjangkau. W1. W2. W3. W4. Ketergantungan botol bekas sebagai kemasan. Modal usaha banyak tertanam dalam peminjaman botol bekas. Lokasi perpohonan tempat usaha kurang kendaraan.
Promosi belum dijalankan
Khasiat minuman belum ditulis dalam label
Peluang (O)
01. Baru terlupakan permintaan pasar 40% masih ada peluang 60% 02. Dukungan dari Pemda
setempat cukup positip 03. Hubungan permohonan
dengan pedagang pemasok sangat baik. 04. Masih terbatasnya
pelaku usaha rejenis di wilayah kerja
05. Kebijakan pemerintah yang mendukung perkembangan 1 K
Strategi S-O (agresif)
1. Penggunaan botol baru benang putih untuk kemasan meminum sesuai permintaan banyak konsumen.
2. Memberi fasilitas sewa kendaraan kepada pedagang pemasok yang tidak memenuhi kendaraan sendiri.
3. Memaksimalkan hasil produk dengan mutu yang memadai.
Strategi W-O ( deversifikasi )
1. Pinjaman botol bekas dibatasi hanya kepada pedagang pemasok yang baru memenuhi usaha. 2. Penulisan khasiat minuman
dalam label sebagai usaha meningkatkan omset penjualan.
3. Ada rencana penghentian penggunaan botol bekas digarnti dengan botol baru yang putih bening.
45
ANCAMAN (T) Strategi S-T (diferensiasi)
1. Promosi hasil produk
perusahaan akan segera dijalankan.
2. Peningkatan pengawasan
mutu sebagai usaha memperluas pemasaran hasil.
3. Pemberdayaan SDM dan
atau merekrt SDM yang berkwalitas. Strategi W-T ( Defensit) 1.Memanfaatkan lembaga keuangan sebagai pengunjung kegiatan industri. 2.Meningkatkan
pengenalan label produk untuk menjaga eksistensi IK (Industri Kecil). T1. T2. T3. T4. T5. Persediaan botol bekas dipasarkan yang jumlahnya Semakin menepis. Citra produk meminum gula asem dan cap dua banteng belum Banyak dikenal masyarakat luas. Persaingan Kedepan semakin meningkat. Teknologi pesaing semakin canggi h. Ketergantungan pada satu pedagang pemasok bahan baku
Tabel : 8 malik swot usaha minum jamu PD Budi Lestari di Jakarta.
Dari matrik swat diatas, dapat dilihat bahwa strategi (S1,O1) atau (S1,T) atau (W1,O1) atau (W1,T1) merupakan kombinasi faktor internal dengan faktor ekternal yang menghasilkan pilihan strategi.
46
Dari hasil pembahasan 3 kajian, aspek ekonomi, teknik dan produksi, dan pemasaran secara deskriptif serta analisis kualitatif dengan analisis swasta, didapatkan informasi dan fakta bahwa usaha minuman PD. Budi Lestari sangat pofensial untuk dikembangkan lebih lanjut dengan alasan :
1. Secara komersial, usaha minuman PD. Budi Lestari ini, banyak mendapat
respon yang cukup bagus dari konsumen. Sekalipun pesaingnya banyak, namun didaerah kerjanya hanya terdapat dua pesaing perusahaan sejenis, dan usaha PD. Budi Lestari mempunyai daya saing tinggi karena :
- Pengolahan minuman jamu temulawaknya menggunakan air panas yang
mendidih.
- Penempatan satu orang apoteker sebagai pengawas mutu
- Baru dapat memenuhi permintaan konsumen 40% dan dengan demikian
ada potensi permintaan konsumen 60% lagi.
2. Secara teknis teknologi, proses pembuatan minuman masih sangat sederhana masih banyak menggunakan ketrampilan tangan karyawannya, sehingga belum memerlukan keahlian khusus. Dengan dukungan modal yang kuat sebagai upaya memenuhi permintaan konsumen, penghentian penggunaan botol bekas sebagai kemasan minuman dibuat dengan botol baru putih bening, permintaan konsumen yang pontensial 60% lagi akan terpenuhi dan omset penjualan perusahaan akan meningkat.
47
3. Setiap kelemahan yang terjadi dalam internal perusahaan maupun ancaman
yang maupun terjadi dari ekternal perusahaan, dipastikan dapat diatasi melalui berbagai strategi sebagaimana tersebut dalam strategi SO, ST, WO, dan WT dalam matrik SWOT diatas.
48
STRUKTUR ORGANISASI