BAB II. BIMBINGAN ROHANI DAN KEMATANGAN EMOSI
A. Sejarah Kongregasi Misi Abdi Roh Kudus
2. Spiritualitas dan Kharisma Kongregasi SSpS
Spiritualitas dan kharisma saling berkaitan, dan menjadi dasar dari keberadaan suatu tarekat. Spiritualitas dan kharisma suatu tarekat religius dapat ditinjau dengan melihat kembali pendirinya, yang telah meletakkan dasar dan tujuan pendirian tarekat.
Spiritualitas pertama-tama merupakan “way of life”, suatu cara hidup kekristenan untuk menanggapi panggilan Allah dengan terang Sabda Allah di bawah bimbingan Roh Kudus (Abdon Bisei, 2004:5). Spiritualitas sebagai buah dari perjumpaan dengan Tuhan, Kristus, Sabda Allah, Gereja, dan realitas yang membawa suatu tanggapan bagi setiap pribadi (Abdon Bisei, 2004:6). Spiritualitas pada umumnya dimaksudkan sebagai hubungan pribadi seorang beriman dengan Allahnya dan aneka perwujudannya dalam sikap dan perbuatannya. Spiritualitas tampak dalam buah Roh Kudus, doa, kegembiraan rohani, pengorbanan dan pelayanan kepada sesama (Heuken, 2005: 106).
Kharisma adalah karunia Roh Kudus yang dianugerahkan kepada orang-orang tertentu supaya diabdikan kepada sesama dan Gereja (KBBI, 2008: 627).
a. Spiritualitas Kongregasi SSpS
Spiritualitas SSpS bersumber dari warisan rohani Santo Arnoldus Janssen sebagai pendiri Kongregasi SSpS. Arnoldus Janssen mengembangkan hidup doanya sejak dari keluarganya.Ia belajar dari bapanya yang sangat menghormati Allah Tritunggal Maha Kudus dan Roh Kudus. Arnoldus Janssen menimba spiritualitas yang dihidupi dan diwariskan kepada tiga kongregasi yang telah ia dirikan.
Kongregasi SSpS didirikan dengan maksud utama yaitu untuk mewartakan Kabar Gembira, terbuka terhadap lingkungan dan kebutuhan zaman. Kongregasi
SSpS senantiasa terbuka terhadap cara baru dalam menjawab kebutuhan Gereja dalam dunia dewasa ini. Panggilan misioner SSpS berakar dalam iman kepada Allah Tritunggal Maha Kudus yang hidup dalam hati manusia. Pengalaman akan cinta dan kebersamaan hidup Allah Tritunggal mendorong untuk membagi pengalaman itu lebih lanjut. Dengan demikian Allah Tritunggal dimuliakan melalui kata dan cara hidup. Berbicara mengenai Allah Tritunggal, kita tidak bisa lepas dari relasi ketiganya. Relasi cinta Allah Tritunggal Maha Kudus inilah yang dihidupi oleh para suster SSpS, hal ini terlihat jelas pada semboyan “VIVAT DEUS UNUS ET TRINUS IN CORDIBUS NOSTRIS” yang artinya adalah Hiduplah Allah Tritunggal Dalam Hati Kita. Semboyan ini lahir dari kesadaran akan kehadiran Allah Tritunggal dalam hati Arnoldus Janssen dan kemudian diwariskan kepada Kongregasi SSpS. Sebagai Suster SSpS para suster diutus untuk mewartakan Allah Tritunggal Maha Kudus agar dikenal, dicintai dan dimuliakan oleh segala bangsa (Konst. SSpS. art. 404).
Para suster SSpS hendaknya selalu menempatkan diri dan kongregasinya di bawah bimbingan Roh Kudus dan memberi penghormatan secara khusus kepada Roh Kudus. Seorang suster SSpS hendaknya menjalin relasi yang mendalam dengan Allah Roh Kudus ini akan tampak dalam pelayanan dan kehadiran setiap suster (Konst. SSpS, 1984: 19).
b. Kharisma Kongregasi SSpS
Kharisma Kongregasi SSpS bermula dari kharisma Arnoldus Janssen, sebagai pendiri Kongregasi SSpS. Kharisma yang diwariskan ini adalah Kharisma Misioner. Kharisma Misioner sudah menandai Kongregasi SSpS sejak dari permulaan. Pada akar ideal misioner Arnoldus Janssen, akan ditemukan kemuliaan
Allah Tritunggal Mahakudus dan keikut sertaan semua orang dalam misteri ini, sebagaimana diungkapkan dalam doanya yang berbunyi “Semoga Allah Tritunggal Mahakudus, kuasa Bapa, kebijaksanaan Putera dan cinta Roh Kudus dikenal dicintai dan dimuliakan oleh banyak orang” (Rehbién, 2000:11). Santo Arnoldus Janssen menginginkan suatu tarekat religius yang sama sekali misioner, yaitu menjadikan mandat serta pelayanan misioner Gereja sebagai ciri khas dan inti hidupnya sendiri.
Ciri khas Kharisma Misioner Kongregasi harus dilihat dalam hubungannya dengan Kharisma Misioner Gereja Universal. Misi Gereja didasarkan pada misi Allah Tritunggal.
Karena Gereja di dunia pada hakekatnya bersifat misioner, menurut rencana Bapa, ia mendapat asalnya dalam perutusan Putera dan Roh Kudus. Rencana ini mengalir dari cinta seperti air mancur dari Allah Bapa. Dengan begitu berlimpah ruah Ia mencurahkan dan tidak pernah berhenti mencurahkan kebaikan Ilahinya menjadi semua di dalam semua (1 Kor 15:28).
Semua karya misi Gereja dimaksudkan agar memenuhi mandat Kristus yaitu mewartakan keselamatan bagi semua orang dan membimbing mereka ke dalam kebersamaan hidup dengan Bapa. Sebagai Abdi Roh Kudus dimensi misioner senantiasa meresapi setiap aspek kehidupannya. Mereka dipanggil untuk mengambil bagian dalam mandat Kristus dan Gereja. Gereja memberi kepada Kongregasi SSpS perutusan misioner yang nyata. Santo Arnoldus Janssen menginginkan supaya para suster bekerja di daerah misi dimana ada pelayanan sebagai perempuan dalam bidang kesehatan, pendidikan, sosial pastoral, pembinaan rohani, pelayanan terhadap orang kecil, miskin tertindas dan tersisih (Konst. SSpS. art.103-104).
Konsekuensi menjadi seorang suster SSpS, ialah harus bersedia untuk berkarya di daerah misi ke mana saja diutus. Dalam perutusan misi harus berani mengorbankan tanah air, bahasa ibu dan lingkungan kebudayaan. Kesediaan ini adalah ciri khas panggilan misioner sebagai SSpS (Konst. SSpS. art. 104).
Kesediaan dalam perutusan misi menuntut suatu pengosongan diri, suatu kebebasan batin dari setiap suster yang diutus. Dengan pengosongan diri akan membentuk dalam diri seorang misionaris sikap rela menerima, serta memungkinkan orang untuk menghargai kebudayaan lain. Dengan pengosongan diri akan membuat seseorang SSpS matang emosinya, mampu mendengarkan dengan hati, memiliki empati dan peduli dengan lingkungannya, sehingga dapat menyentuh hati umat di tempat para suster SSpS hidup di antara mereka.
Suster SSpS mempunyai tugas yang utama yaitu mewartakan kabar Gembira. Maka diharapkan dimana para suster diutus tetap menyadari bahwa mereka adalah suster-suster misi. Dengan demikian dimana mereka berada senantiasa berusaha untuk membangkitkan dan memelihara tanggungjawab misioner bagi Gereja Universal (Konst. art. 104). Pelayanan misioner dapat tumbuh subur hanya dalam mengikuti Yesus dan dalam kelekatan dengan pribadi-Nya. Karena itu hanya terang dan kekuatan Roh Kuduslah yang menyanggupkan para suster untuk melayani dalam karya penyelamatan Allah, dalam segala hal yang dikerjakan. Bentuk konkrit hidup mengikuti Yesus dalam Kongregasi SSpS ditentukan oleh kaul keperawanan, kemurnian dan kemiskinan. Ketiga nasihat Injil itu mengungkapkan cinta kepada Kristus satu-satunya dan kepada sesama.Pengabdian misioner para suster SSpS berdasarkan relasi Allah Tritunggal dicintai Bapa, diutus Putera dan dikuatkan oleh Roh Kudus (Konst. SSpS. art. 122).
Sebagai Kongregasi Misi Abdi Roh Kudus, SSpS juga mengharapkan setiap anggotanya memiliki jiwa misioner yang besar, supaya dapat menjadi misionaris yang tangguh dizaman sekarang. Hal ini sangat penting bagi misionaris SSpS dimanapun mereka diutus. Untuk mencapai ini dibutuhkan pembinaan yang mampu menciptakan kondisi bagi seseorang untuk bertumbuh dalam kedewasaan iman dan matang emosinya seperti yang diharapkan oleh Tuhan maupun Kongregasi agar mampu menjadi pewarta-pewarta Kabar Gembira yang tangguh dan berpijak pada nilai-nilai hidup yang diyakini.