• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II : Kajian Teori

C. Standar Mutu Perguruan Tinggi

Pada tanggal 16 Mei 2005 telah ditetapkan Peraturan Pemerintah Nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan (SNP). Peraturan pemerintah tersebut menyatakan bahwa NSP bertujuan menjamin mutu pendidikan nasional. Oleh karena itu, pemenuhan SNP oleh perguruan tinggi akan berrati bahwa perguruan tinggi tersebut menjamin mutu pendidikan tingi yang diselengarakannya. Dalam SNP terdapat beberapa system, diantaranya system penjaminan mutu perguruan tinggi, system penjaminan mutu internal, system penjaminan mutu eksternal, pangkalan data perguruan tinggi.

Dalam system penjaminan mutu internal terdapat beberapa standar diantaranya: standar identitas, standar isi, standar proses pembelajaran, standar kompetensi lulusan, standar pendidik dan tenaga kependidikan, standar prasarana dan sarana, standar pengelolaan, standar penilaian pendidikan, standar kemahasiswaan, standar suasana akademik.8

1. Standar idetitas. Identitas secara sederhana dapat diartikan sebagai jati diri, tanda pengenal, atau sekumpulan unsur yang yang secara bersamaan mampu mencutrakan tentang siapa atau apa. Untuk perguruan tinggi, identitas tidak lain adalah karakteristik essensial dan khas yang melekat pada institusi tersebut sehingga mampu mencitrakan dan membedakannya dengan institusi serupa lainnya. Karakteristik ini terdiri dari sejumlah unsure arau elemen yang

harus dipenuhi setiap perguruan tinggi dalam menjalankan pelayanan pendidikan tinggi kepada masyarakat.

2. Standar isi. Standar isi ini dimaksudkan untuk member insipirasi perguruan tinggi dalam melaksanakan SPMI, khususnya dalam hal menetapkan, melaksanakan, dan mengendalikan standar isi. Standar isi mencakup lingkup materi dan tingkat kompetensi untuk mencapai kompetensi lulusan pada jenjang dan jenis pendidikan tertentu. Standar isi memuat kerangka dasar dan struktur kurikulum, beban belajar, kurikulumtingkat satuan pendidikan, dan kalender akademik.

Standar isi adalah ruang lingkup materi dan tingkat kompetensi yang dituangkan dalam criteria tentang kompetensi tamatan, kompetensi bahan kajian, kompetensi mata kuliah, dan silabus pembelajaran yang harus dipenuhi oleh mahasiswa pada perguruan tinggi. Hal ini berarti bahwa substansi standar isi tidak lain adalah tentang kurikulum, dan standar isi ini akan berkaitan dengan standar mutu yang lain.

3. Standar proses pembelajaran. Pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. Di lingkungan pendidikan tinggi, interaksi tersebut terjadi antara mahasiswa dengan dosen. Dalam interaksi yang berpusat pada mahasiswa tersebut terjadi proses perubahan yang dialami mahasiswa dalam empat ranah, yang disebut ranah kognitif, yaitu kemampuan yang berkenaan dengan pengetahuan, penalaran atau pikiran. Ranah afektif yanitu kemampuan yang mengutamakan

perasaan, emosi, dan reaksi-reaksi yang berbeda berdasarkan penalaran. Ranah psikomotorik yaitu kemampuan yang mengutamakan ketrampilan jasmani. Ranah kooperatif yaitu kemampuan untuk bekerjasama.

Agar proses pembelajaran dapat menghasilkan perubahan pada mahasiswa dalam empat ranah tersebut, diperlukan standar mutu proses pembelajaran yang disusun berdasarkan peraturan perundangan, visi dan misi perguruan tinggi serta memperhatikan kopmetensi lulusan yang dibutuhkan stakeholders. Dalam suatu proses pembelajaran, terdapat berbagai komponen yang satu sama yang lain berinteraksi. Komponen-komponen tersebut adalah dosen,, mahasiswa, tujuan pembelajaran, materi pembelajaranm metode atau strategi pembelajaran.

4. Standar kompetensi lulusan. Tujuan utama dari penyelenggaraan program studi yang terdapat pada suatu perguruan tinggi adalah menghasilkan lulusan sesuai dengan criteria yang ditetapkan oleh jurusan sebagai pengelola prodi. Peraturan Pemerintah No. 19 Yahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan menyebutkan bahwa standar kompetensi lulusan adalah kualifikasi kemampuan lulusan yang mencakup sikap, pengetahuan, dan keterampilan. 5. Standar pendidik dan tenaga kependidikan. Tenaga kependidikan bertugas

melaksanakan administrasi, pengelolaan, pengembangan, pengawasan, dan pelayanan teknis untuk menunjang proses pendidikan pada satuan pendidikan. Sedangkan pendidik merupakan tenaga professional yang bertugas merencanakan dan melaksanakan proses pembelajaran, menilai hasil

pembelajaran, melakukan pembimbingan dan pelatihan, serta melakukan epenlitian dan penganbdian kepada masyarakat, terutama bagi pendidik di perguruan tinggi.

Perguruan tinggi merupakan lembaga/ institusi yang sangat bertanggung jawab terhadap kemajuan dan kepandaian bangsanya agar mampu bersaing dengan bangsa lain. Sistem pendidikan/ pengajarannya pun harus secara rutin dilakukan evaluasi dengan mengacu perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni serta perkembangan global dalam masyarakat dunia. Sistem pendidikan di perguruan tinggi yang hanya mengarah pada produk lulusan tanpa melihat proses pencapaian hasil pendidikan perlu dilakukan evaluasi. Dengan adanya sistem Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) yang merupakan salah satu jawaban agar para lulusan perguruan tinggi tersebut mampu bersaing dengan para lulusan dari perguruan tinggi dari luar negeri maka untuk mengukur keberhasilan sistem KBK tersebut perlu adanya suatu Standar Kompetensi Lulusan (SKL).

Standar Kompetensi Lulusan ini bukan merupakan suatu patokan yang berharga mati akan tetapi juga tidak terlalu longgar sehingga tujuan dari sistem KBK tersebut tidak tercapai. Selain dari pada itu dalam SKL ini masih memberikan tempat dimana perguruan tinggi dapat mengembangkan potensi yang sesuai dengan kompetensi masing masing. Tujuan besar pada akhirnya adalah untuk dapat mempersiapkan para lulusan dapat langsung bekerja yang sesuai dengan bidangnya, mampu mengimplementasikan ilmunya serta mampu

menegembangkan diri untuk menjawab tantangan yang baru dan berpikiran untuk belajar selama hidupnya.

Dengan kondisi global yang saat ini kita hadapi bersama mengakibatkan persaingan yang sangat ketat akan dialami para lulusan di dalam dunia usaha. Hal tersebut juga membawa dampak pada adanya perubahan persyaratan kerja yang juga sangat ketat . Persyaratan kerja ini tidak hanya menekankan pada kualitas lulusan yang tidak hanya menekankan pada penguasaan hard skills (kemampuan teknis dan akademis) akan tetapi juga penguasaan soft skills. Di dalam usaha pemenuhan kebutuhan industri kerja tersebut, tentu akan berakibat pada perubahan paradigma (pola pikir) dalam proses pembelajaran. Perubahan pola piker yang dapat memenuhi proses pembelajaran yang dapat menghasilkan mutu lulusan sebagaimana yang diharapkan oleh pasar kerja akan menuntut para lulusan mampu meresapi arti dari kompetensi dalam pedidikan yaitu kognitif, psikomotorik dan afektif.

Untuk menghasilkan kondisi seperti diatas perlu adanya persyaratan yang harus dipenuhi mulai dari sistem pendidikan , kurikulum , dosen dan fasilitas yang secara terintegrasi mengarah pada keberhasilan sistem KBK tersebut. Oleh karena itu salah satu acuan yang harus ada adalah Standar Kompetensi Lulusan - Perguruan Tinggi ( SKL – PT ) agar pola evaluasi dan monitoring atas keberhasilan sistem KBK ini dapat dilakukan. SKL – PT ini didesain cukup longgar sehingga mampu mengadopsi kebutuhan dunia pendidikan saat ini dan mengantisipasi perkembangan di masa depan.

Setiap program studi merumuskan profil, kualifikasi, kompetensi dan indikator capaian kompetensi lulusannya. Ketiga parameter tersebut digunakan sebagai standar ukuran keberhasilan penyelenggaraan program studi. Profil lulusan adalah suatu deskripsi singkat yang menggambarkan tentang peran lulusan suatu program studi. Departemen Pendidikan Nasional melalui Keputusan Menteri No. 232/U/2000 telah menetapkan bahwa program sarjana diarahkan pada hasil lulusan yang memeiliki kualifikasi sebagai berikut :

1. Menguasai dasar-dasar ilmiah dan ketrampilan dalam bidang keahlian tertentu sehingga mampu menemukan, memahami, menjelaskan, dan merumuskan cara penyelesaian masalah yang ada di dalam kawasan keahliannya;

2. Mampu menerapkan ilmu pengetahuan dan keterampilan yang dimilikinya sesuai dengan bidang keahliannya dalam kegiatan produktif dan pelayanan kepada masyarakat dengan sikap dan perilaku yang sesuai dengan tata kehidupan bersama;

3. Mampu bersikap dan berperilaku dalam membawakan diri berkarya di bidang keahliannya maupun dalam berkehidupan bersama di masyarakat;

4. Mampu mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan/atau kesenian yang merupakan keahliannya.

Tujuan utama dari penyelenggaraan program studi yang terdapat pada suatu perguruan tinggi adalah menghasilkan lulusan sesuai dengan criteria yang

ditetapkan oleh jurusan sebagai pengelolah prodi. Kriteria kelulusan mahasiswa dari suatu prodi lazimnya dirumuskan dalam bentuk standar kompetensi lulusan. Untuk jenjang pendidikan tinggi yang menyelenggarakan pendidikan akademik, profesi, ataupun vokasi, keberadaan standar ini menjadi sangat mutlak dan strategis sifatnya.

Dokumen terkait