• Tidak ada hasil yang ditemukan

Persepsi Instansi-Instansi Terhadap Alumni Jurusan Dakwah STAIN Samarinda

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Persepsi Instansi-Instansi Terhadap Alumni Jurusan Dakwah STAIN Samarinda"

Copied!
76
0
0

Teks penuh

(1)

Persepsi Instansi-Instansi Terhadap Alumni

Jurusan Dakwah STAIN Samarinda

OLEH:

IDA SURYANI WIJAYA

ABU BAKAR MADANI

PUSAT PENELITIAN DAN PENGABDIAN MASYARAKAT (P3M) SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI (STAIN) SAMARINDA

(2)

KATA PENGANTAR

Dengan mengucapkan puji dan syukur kehadirat Allah SWT atas segala karunia rahmat dan hidayah-Nya, sehingga penelitian yang berjudul :”Persepsi Instansi-Instansi Terhadap alumni Jurusan Dakwah di Samarinda” dapat diselesaikan, penelitian dilakukan sebagai salah satu dari Tri Dharma Perguruan Tinggi.

Penulis menyadari bahwa penelitian ini dapat diselasaikan karena adanya bantuan, dukungan dan bimbingan dari berbagai pihak, baik itu teman dosen, pihak P3M sebagai penyelenggara, dan juga tim evaluator yang banyak memberikan masukan sebagi bahan perbaikan untuk penulisan laporan penelitian ini. Pada kesempatan ini penulis menyampaikan rasa terima kasih kepada:

1. DR. H. Mukhammad Ilyasin, M.Pd selaku Ketua STAIN Samarinda

2. Kepala dan staf P3M STAIN Samarinda

3. Seluruh Alumni Jurusan Dakwah STAIN Samarinda

4. Semua pihak yang telah membantu baik langsung maupun tidak langsung dalam penyelesaian penelitian ini.

Semoga Allah S.W.T. membalas semua amal kebaikan mereka dengan balasan yang lebih dari yang mereka berikan kepada penulis. Penulis menyadari bahwa Penelitian ini masih jauh dari sempurna, karenanya kritik dan saran yang bersifat membangun sangat penulis harapkan untuk karya yang lebih baik di masa mendatang. Akhirnya hanya kepada Allah S.W.T. penulis berharap semoga hasil penelitian ini dapat bermanfaat bagi penulis khususnya, dan bagi pembaca umumnya.

Samarinda, Desember 2013 Peneliti / penulis

(3)

Abstraks

BAB I : Pendahuluan

A.Latar Belakang Masalah ………. 1

B.Rumusan Masalah ……….. 5

C.Tujuan Penelitian ……… 5

D.Kegunaan Penelitian ………. 5

E. Fokus dan Ruang Lingkup penelitian ……….... 6

F. Kajian Pustaka ……… 7

G.Sistematika Penulisan .………. 10

BAB II : Kajian Teori A.Pengertian Persepsi ………. 12

B.Fungsi Perguruan Tinggi di Dunia Pendidikan ……….. 19

C.Standar Mutu Perguruan Tinggi ………. 24

BAB III : Metode Penelitian A.Jenis Penelitian ……… 31

B.Sumber Data Penelitian ……….. 33

C.Teknik Pengumpulan Data……….. 34

D.Teknik Analisis dan Interpretasi Data ……… 37

BAB IV : Hasil Penelitian A. Profil Lembaga STAIN Samaerinda ……… 40

B. Visi, Misi dan Tujuan STAIN Samarinda ……… 48

C. Profil Program Studi Manajemen Dakwah ……….. 49

D. Profil Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam .. 55

E. Persepsi Instansi Pengguna Alumni Jurusan Dakwah …. 61 BAB V : Penutup A.Kesimpulan ……….. 69

(4)

keberhasilan alumni dalam menjalankan peran mereka di jenjang pendidikan yang lebih tinggi maupun berbagai bidang pekerjaan yang mereka jalani secara profesional sesuai minat dan kemampuan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengatahui persepsi intansi-instansi terhadap alumni Jurusan Dakwah STAIN Samarinda, dengan rumusan masalah “bagaimana persepsi inatnasi-instansi terhadap alumni Jurusan Dakwah STAIN Samarinda”.

Kajian teori yang dipergunakan adalah teori persepsi, dimana menurut Jalaluddin Rahmat persepsi adalah pengamatan tentang objek, peristiwa atau hubungan-hubungan yang diperoleh dengan menyimpulkan informasi dan menafsirkan pesan. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Persepsi adalah kator internal dan factor eksternal. Faktor internal meliputi fisiologis, perhatian, minat, kebutuhan yang searah, pengalaman dan ingatan. Faktor Eskternal yang Mempengaruhi Persepsi merupakan karakteristik dari lingkungan dan obyek-obyek yang terlibat di dalamnya. Elemen-elemen tersebut dapat mengubah sudut pandang seseorang terhadap dunia sekitarnya dan mempengaruhi bagaimana seseorang merasakannya atau menerimanya.

Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kualitatif, dengan harapan dapat mengetahui persepsi instansi-instansi dimana laumni Jurusan Dakwah mengabdikan diri. Sumber data dalam penelitian ini adalah sumber data primer dan sumber data sekunder. Dalam hal ini sumber data primernya adalah pimpinan lembaga tempat alumni bekerja. Sumber data sekunder adalah sumber data yang tidak langsung memberikan data kepada peneliti, misalnya melalui dokumentasi, data tertulis. Teknik pengumpulan data yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah wawancara, observasi, pemanfaatan dokumen. Teknik analisis data terdapat bebrapa proses yaitu reduksi data penyajian data, dan penarikan kesimpulan.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa persepsi yang didapatkan dari instansi pengguna alumni Jurusan Dakwah berbeda-beda di awalnya, ada yang langsung bisa menerima dan ada yang masih bertanya-tanya karena mendengarkan istilah “dakwah”, walaupun akhirnya pimpinan instansi bisa menerima kehadiran mereka. Yang bisa langsung menerima alumni Jurusan Dakwah untuk bekerja karena instansi tersebut sudah mempunyai pengetahuan dan pengalaman dengan orang-orang di STAIN, hal ini dipengaruhi oleh faktor dalam persepsi yaitu adanya faktor internal Faktor internalnya adalah adanya pengetahuan dan pengalaman. Kurangnya pengetahuan terhadap Jurusan Dakwah dapat dihindari dengan sosialisasi kepada masyarakat tentang Jurusan dakwah.

(5)

BAB I

PENDAHULUAN A.LATAR BELAKANG MASALAH

Perguruan tinggi sebagai wadah bagi siswa yang ingin melanjutkan studinya mempunyai peran besar bagi kehidupan masyarakat. Perguruan tinggi dibangun untuk mencetak mahasiswa yang mumpuni dalam segala bidang. Dewasa ini banyak masyarakat mengharapkan untuk dapat kuliah di tempat yang menjanjikan pekerjaan, setelah lulus kemudian langsung kerja, sehingga perguruan tinggi–perguruan tinggi yang berani menjanjikan hal tersebut bisa dipastikan mempunyai peminat yang sangat banyak. Perguruan tinggi merupakan kelanjutan pendidikan menengah yang diselenggarakan untuk mempersiapkan peserta didik untuk menjadi anggota masyarakat yang memiliki kemampuan akademis dan profesional yang dapat menerapkan, mengembangkan dan menciptakan ilmu pengetahuan, teknologi dan kesenian.

Dunia pendidikan merupakan hal yang sangat pokok untuk saat ini, seiring dengan perkembangan zaman dan semakin majunya teknologi informatika, membuat masyarakat Indonesia harus mengenyam pendidikan agar tidak ketinggalan zaman. Kebutuhan pendidikan yang semakin meningkat dan menjadi kebutuhan pokok menjadikan masyarakat Indonesia dituntut untuk mengenyam pendidikan, terutama pendidikan di perguruan tinggi.

Pendidikan merupakan salah satu sasaran pokok pemerintah dalam rangka meningkatkan kesejahteraan rakyat. Pada kehidupan sekarang ini semua orang

(6)

berkepentingan terhadap jalannya pendidikan karena pendidikan merupakan wadah pembinaan tenaga kerja, dapat untuk menambah lapangan pekerjaan, serta untuk memperoleh status tertentu dalam masyarakat. Dunia pendidikan sekaran ini dihadapkan pada tantangan kemajuan zaman. Dengan adanya kemajuan zaman ini, banyak aspek-aspek kehidupan yang berubah dan bergeser. Oleh karena itu, paradigma dan system pendidikan harus disesuaikan dengan tuntutan zaman. Tentau saja perubahan tersebut diharapkan dapat menuju pendidikan masa depan lebih baik.

Tidak bisa dipungkiri bahwa semua orang berharap ketika memilih perguruan tinggi dengan jurusan atau program studi sesuai keinginan, tentulah semua mengharapkan segera mendapatkan pekerjaan setelah lulus nanti. Lulus Kuliah merupakan suatu kebahagiaan bagi orang tua, teman-teman, dan tentunya Wisudawan/Wisudawati itu sendiri. Tolok ukur Keberhasilan bagi kampus tentu adalah Output jumlah kelulusan Mahasiswa yang menjadi almamater kampus tersebut.

Perguruan Tinggi sebagai salah satu elemen dalam Sistem Pendidikan Nasional mempunyai tanggungjawab dalam mencerdaskan kehidupan bangsa dan mewujudkan visi Indonesia untuk menciptakan masyarakat yang maju, sejahtera, mandiri dan berdaya saing tinggi. Untuk mewujudkan masyarakat yang memiliki daya saing tinggi dalam kancah internasional, Perguruan Tinggi termasuk Perguruan Tinggi Agama Islam (PTAI) dituntut untuk menghasilkan lulusan yang

(7)

berkualitas serta mampu memberikan tawaran solusi terhadap berbagai masalah kemanusiaan dan kebangsaan.

Berdasarkan tujuan pendidikan tinggi sebagaimana diatur dalam PP 60 Tahun 1999 dan misi Departemen Agama, maka secara konstitusional tujuan Pendidikan Tinggi Islam antara lain;

1. Menyiapkan peserta didik menjadi anggota masyarakat yang memiliki kemampuan akademik dan atau profesional yang dapat menerapkan, mengembangkan, dan atau memperkaya khazanah ilmu, teknologi, seni dan atau kebudayaan yang bernafaskan Islam.

2. Mengembangkan dan menyebarkan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni yang bernafaskan Islam dan atau kebudayaan Islam untuk meningkatkan taraf kehidupan masyarakat serta memperkaya kebudayaan nasional.

3. Merumuskan, menyebarluaskan dan mendidikkan filosofi dan nilai-nilai agama Islam sehingga dapat digunakan oleh masyarakat sebagai parameter perilaku kehidupan, menjadi inspirator dan katalisator pembangunan, serta motivator terciptanya toleransi kehidupan beragama, serta kehidupan yang harmonis antar umat yang berbeda agama.

Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Samarinda merupakan satu-satunya perguruan tinggi Islam negeri yang ada di Kalimantan Timur, tentunya banyak harapan yang disandarkan oleh calon mahasiswa ketika memutuskan untuk kuliah di STAIN Samarinda. Dengan kelebihan yang dimiliki oleh STAIN dimana perguruan tinggi ini tidak hanya mengajarkan ilmu pengetahuan umum melainkan

(8)

juga ilmu pengetahuan agama, menjadikan STAIN harus mampu bersaing dengan beberapa perguruan tinggi yang ada di Kalimantan Timur khususnya di Samarinda.

STAIN Samarinda memiliki tiga jurusan yaitu Jurusan Tarbiyah, Jurusan Syariah, dan Jurusan Dakwah. Sebagai salah satu jurusan yang ada di Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Samarinda, Jurusan Dakwah mulai berdiri pada tahun 1997 dengan program studi Manajemen Dakwah (MD), kemudian di tahun 2004 program studi bertambah lagi dengan program studi baru yaitu Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI).

Sampai sekarang Jurusan Dakwah telah melahirkan 163 lulusan baik dari prodi Manajemen Dakwah (MD) maupun dari prodi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI). Alumni Iurusan Dakwah menyebar di Kalimantan Timur dengan berbagai profesi antara lain menjadi Guru, pegawai perpustaakaan, menjadi PNS di dinas Sosial Pemkot Samarinda, menjadi PNS di Kemenag kota, menjadi pegawai Bank, dan ada yang menjadi da’i.

Salah satu indikator keberhasilan proses pendidikan dapat dilihat dari keberhasilan alumni dalam menjalankan peran mereka di jenjang pendidikan yang lebih tinggi maupun berbagai bidang pekerjaan yang mereka jalani secara profesional sesuai minat dan kemampuan.

Dengan banyaknya profesi yang ditekuni oleh alumni menunjukkan bahwa banyak pekerjaan yang memerlukan tenaga dari lulusan Jurusan Dakwah meskipun tidak sesuai dengan kompetensi yang ada. Melihat dari banyaknya

(9)

profesi yang tidak sesuai dengan harapan ketika lulus dari Jurusan Dakwah itulah maka perlu dilakukan penelitian tentang Persepsi Instansi-Instansi Terhadap Alumni Jurusan Dakwah STAIN Samarinda. Dengan mengetahui persepsi dari lembaga-lembaga tempat para alumni bekerja diharapkan dapat memberi masukan kepada Jurusan Dakwah untuk dapat meningkatkan kualitas dari alumni Jurusan Dakwah.

B.RUMUSAN MASALAH

Dari latar belakang masalah diatas maka yang menjadi rumusan masalah dalam penelitian ini “Bagaimana persepsi Instansi-Instansi terhadap alumni Jurusan Dakwah STAIN Samarinda?”

C.TUJUAN PENELITIAN

Tujuan dari penelitian ini adalah: Untuk mengetahui persepsi instansi-intansi terhadap alumni Jurusan Dakwah STAIN Samarinda

D.KEGUNAAN PENELITIAN

1. Kegunaan Teoritis

Dari hasil penelitian ini diharapkan memberikan manfaat dalam upaya memperkaya khasanah ilmu pengetahuan pada umumnya dan khususnya ilmu komunikasi.

(10)

2. Kegunaan Praktis

Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat dijadikan masukan serta membantu pihak pimpinan STAIN Samarinda dan Jurusan Dakwah untuk dapat mengembangkan mata kuliah dan kurikulum sesuai dengan kebutuhan saat ini.

E.Fokus dan Ruang Lingkup Penelitian

Persepsi adalah pengamatan tentang objek, peristiwa, atau hubungan-hubungan yang diperoleh dengan menyimpulkan. Persepsi merupakan suatu proses pengorganisasian, penginterpretasian terhadap stimulus yang diterima oleh organisme atau individu sehingga menjadi sesuatu yang berarti, dan merupakan aktivitas yang integrated dalam diri individu. Lembaga yang dimaksud di penelitian ini adalah lembaga-lembaga tempat alumni Jurusan Dakwah bekerja setelah lulus dari kuliah. Jadi persepsi lembaga yang dimaksudkan adalah hasil pengamatan atau pendapat, dan pandangan lembaga-lembaga tempat alumni Jurusan Dakwah bekerja atau mengabdikan diri. Pendapat atau pandangan yang dimaksudkan disini adalah pendapat tentang kemampuan dan keahlian dari para alumni.

Alumni menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah orang-orang yang telah mengikuti atau tamat dari suatu sekolah atau perguruan tinggi. Alumni yang dimaksudkan adalah alumni dari Jurusan Dakwah Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Samarinda. Jurusan Dakwah telah melahirkan lebih dari 100 alumni yang telah mengabdikan diri di masyarakat. Alumni Jurusan

(11)

Dakwah menyebar di wilayah Kalimantan Timur, seperti di Penajam, Sangatta, Kutai Barat, Samarinda dll. Kebanyakan kembali ke tanah kelahiran masing-masing.

F. Kajian Pustaka

Sebelum melakukan penelitian ini, ada beberapa tulisan yang berbicara tentang lulusan perguruan tinggi, diantaranya:

1. M. Rasul Asmawi, Strategi Meningkatkan Lulusan Bermutu di Perguruan Tinggi

Peningkatan mutu pendidikan di perguruan tinggi merupakan urgensi yang mendesak untuk segera dilakukan perbaikan. Peningkatan mutu ini pada dasarnya dapat dilakukan dengan strategi merubah salah satu dari subsistem: manusia, struktur, teknologi, dan proses organisasi. Perubahan itu dilakukan pada sub system manusia dan teknologi, yang meliputi mahasiswa yang dididik, dosen sebagai pendidik dan pengajar, sarana dan prasarana.

Peningkatan kemampuan untuk mengelolah dan mengembangkan perguruan tinggi sudah sangat dirasakan perlu, termasuk untuk menggunakan prinsip-prinsip manajemen modern yang berorinetasi pada mutu/kualitas. Bagi para pemilik dan pengelolah perguruan tinggi, system manajemen mutu pada hakekatnya berinti pada perbaikan terus menerus untuk memperkuat dan mengembangkan mutu lulusan sehingga dapat diserap oleh kalangan instansi dan pasar tenaga kerja. pada era globalisasi ini era persaingan mutu dan

(12)

kualitas dari suatu produk. Produk yang bermutu akan diminati oleh konsumen. Begitupun perguruan tinggi di era globalisasi harus berbasis pada mutu.

Berkaitan dengan mutu pendidikan, sebenarnya tidak hanya yang mendapat perhatian itu dosen yang berkualitas dan berbobot, tetapi aspek lainnya seperti standar isi, proses, kompetensi lulusan, sarana dan prasarana, pengelolaan, pembiayaan, dan penilaian pendidikan, perlu juga dibangun sedemikian rupa mengingat ini memiliki keterkaitan dalam rangka organisasi menjadi lebih efektif dan efisien.

Mengenai penyerapan lulusan perguruan tinggi ini sampai sekarang masih menjadi perdebatan yang belum selesai, yang sebenarnya adanya perbedaan di dalam pendekatan. Sedikitnya itu ada dua pendekatan yang berbeda; yakni pendekatan dari dunia kerja dan pendekatan kalangan perguruan tinggi. Pendekatan pertama menyatakan bahwa lulusan perguruan tinggi harus memiliki keterampilan kerja yang memadai dan siap untuk bekerja. Pendekatan kedua, tujuan pendekatan itu tidak disiapkan hanya untuk bekerja, tetapi jauh lebih luas, yakni menyangkut pembentukan peserta didik menjadi manusia seutuhnya dan keterampilan merupakan hal yang penting yang dapat dimiliki oleh seseorang.1

1. M. Rasul Asmawi, “Strategi Meningkatkan Lulusan Bermutu di Perguruan Tinggi”,

Makara, Sosial Humaniora, vol. 9, no. 2 (2005).

(13)

2. Ali Muhson dkk, Analisis Relevansi Lulusan Perguruan Tinggi Dengan Dunia Kerja

pendidikan merupakan salah satu sasaran pokok pemerintah dalam rangka meningkatkan kesejahteraan rakyat. Pada kehidupan sekarang ini semua orang berkepentingan terhadap jalannya pendidikan karena pendidikan merupakan wadah pembinaan tenaga kerja, dapat untuk menambah lapangan pekerjaan, serta untuk memperoleh status tertentu dalam masyarakat. Dunia pendidikan sekarang dihadapkan pada tantangan kemajuan zaman. Dengan adanya kemajuan zaman ini, banyak aspek-aspek yang berubah dan bergeser. Oleh karena itu, mau tidak mau paradigm dan system pendidikan harus disesuaikan dengan tuntutan zaman. Tentu saja perubahanter sebut diharapkan dapat menuju pendidikan masa depan yang lebih baik.

Perubahan pendidikan yang pertama berkaitan dengan system pendidikan, yakni system pendidikan, yakni system pendidikan tradisional direformasi menjadi system pendidikan empowering of people, system pendidikan ini diharapkan dapat mengembangkan kemampuan masyarakat. Reformasi yang kedua berkaitan dengan orientasi pendidikan. Pendidikan sekarang ini harus berorientasi pada dunia kerja, sehingga penekanannya tidak semata-mata pada aspek kognitif, namun juga pada aspek-aspek kepribadian yang lainnya yang justru lebih penting. Dengan demikian sekarang ini harus betul-betul berorientasi pada life skill.

(14)

Sekarang sudah saatnya menyiapkan peserta didik melalui pendidikan dengan pola, konsep, dan model baru yang dapat mengembangkan kepribadian. Pendidikan harus membantu pengembangan peserta didik agar memiliki kecakapan hidup yang bermakna dan berguna di kemudian hari. Dengan adanya orientasi, paradigm, dan system pendidikan yang baru, diharapkan dapat mengatasi masalah pengangguran yang saat ini merupakan salah satu dari berbagai masalah ketenagakerjaan di Indonesia. 2

G.Sistematika Penulisan

Penelitian yang berjudul Persepsi Instansi-Instansi terhadap Alumni Jurusan Dakwah ini terdiri dari 5 bab. Bab pertama, pendahuluan yang menyajikan pokok-pokok pikiran yang tertuang dalam latar belakang masalah, kemudian dipertegas dalam rumusan masalah yang menjadi titik berat penulis dalam penulisan penelitian, tujuan dan kegunaan penelitian yang dicapai serta focus dan ruang lingkup penelitian.

Bab kedua adalah berisi uraian-uraian yang bersumber dari kajian berbagai literatur yang mendukung penelitian ini. Dalam bab ini diuraikan pengertian persepsi, fungsi perguruan tinggi di dunia pendidikan dan lingkungan masyarakat.

Bab ketiga adalah bab metodologi penelitian yang menjadi petunjuk dalam melaksanakan penelitian yang berkaitan dengan jenis dan lokasi penelitian, dalam penelitian ini digunakan penelitian deskriptif kualitatif, disamping itu juda ada

2Ali Muhson dkk, “Analisis Relevansi Lulusan Perguruan Tinggi Dengan Dunia Kerja”,

(15)

sumber data penelitian, teknik pengumpulan data, teknik analisis dan interpretasi data yang semuanya untuk menunjang penulisan penelitian ini.

Bab keempat adalah bab yang menyajikan hasil penelitian. Hasil-hasil penelitian yang penulis peroleh dari kajian teori dalam berbagai rujukan serta hasil wawancara, pengamatan, dan dokumentasi, kemudian dielaborasikan sedemikian rupa dengan merujuk pada rumusan masalah dan fokus penelitian. Hasil penelitian ini mencakup tentang profil Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Samarinda, Visi, Misi, dan Tujuan Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Samarinda, Profil program studi Manajemen Dakwah, Profil program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam, persepsi instansi terhadap alumni Jurusan Dakwah

Bab kelima sebagai bab terakhir yang mengetengahkan beberapa kesimpulan hasil penelitian. Disamping hasil penelitian juga ada implikasi penelitian berupa saran-saran dan rekomendasi yang bermuara pada tindak lanjut hasil penelitian.

(16)

BAB II

KAJIAN TEORI

A.Pengertian persepsi

Persepsi merupakan salah satu aspek psikologis yang penting bagi manusia dalam merespon kehadiran berbagai aspek dan gejala di sekitarnya. Persepsi mengandung pengertian yang sangat luas, menyangkut intern dan ekstern. Berbagai ahli telah memberikan definisi yang beragam tentang persepsi, walaupun pada prinsipnya mengandung makna yang sama. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, persepsi adalah tanggapan (penerimaan) langsung dari sesuatu. Proses seseorang mengetahui beberapa hal melalui panca inderanya. Menurut Sugihartono bahwa persepsi adalah kemampuan otak dalam menerjemahkan stimulus atau proses untuk menerjemahkan stimulus yang masuk ke dalam alat indera manusia.1 Persepsi manusia terdapat perbedaan sudut pandang dalam penginderaan. Ada yang mempersepsikan sesuatu itu baik atau persepsi yang positif maupun persepsi negatif yang akan mempengaruhi tindakan manusia yang tampak atau nyata.

Bimo Walgito mengungkapkan bahwa persepsi merupakan suatu proses pengorganisasian, penginterpretasian terhadap stimulus yang diterima oleh organisme atau individu sehingga menjadi sesuatu yang berarti, dan merupakan aktivitas yang integrated dalam diri individu. Respon sebagai akibat dari persepsi dapat diambil oleh individu dengan berbagai macam 10 bentuk. Stimulus mana

(17)

yang akan mendapatkan respon dari individu tergantung pada perhatian individu yang bersangkutan.2 Berdasarkan hal tersebut, perasaan, kemampuan berfikir, pengalaman-pengalaman yang dimiliki individu tidak sama, maka dalam mempersepsi sesuatu stimulus, hasil persepsi mungkin akan berbeda antar individu satu dengan individu lain.

Setiap orang mempunyai kecenderungan dalam melihat benda yang sama dengan cara yang berbeda-beda. Perbedaan tersebut bisa dipengaruhi oleh banyak faktor, diantaranya adalah pengetahuan, pengalaman dan sudut pandangnya. Persepsi juga bertautan dengan cara pandang seseorang terhadap suatu objek tertentu dengan cara yang berbeda-beda dengan menggunakan alat indera yang dimiliki, kemudian berusaha untuk menafsirkannya. Persepsi baik positif maupun negatif ibarat file yang sudah tersimpan rapi di dalam alam pikiran bawah sadar kita. File itu akan segera muncul ketika ada stimulus yang memicunya, ada kejadian yang membukanya. Persepsi merupakan hasil kerja otak dalam memahami atau menilai suatu hal yang terjadi di sekitarnya.

Jalaludin Rakhmat menyatakan persepsi adalah pengamatan tentang objek, peristiwa atau hubungan-hubungan yang diperoleh dengan menyimpulkan informasi dan menafsirkan pesan.3 Sedangkan, Suharman menyatakan: “persepsi

merupakan suatu proses menginterpretasikan atau menafsir informasi yang diperoleh melalui system alat indera manusia”. Menurutnya ada tiga aspek di

2 Bimo Walgito, Pengantar Psikologi Umum, (Yogyakarta: Andi, 2004), h.70.

(18)

dalam persepsi yang dianggap relevan dengan kognisi manusia, yaitu pencatatan indera, pengenalan pola, dan perhatian.

Dari penjelasan di atas dapat ditarik suatu kesamaan pendapat bahwa persepsi merupakan suatu proses yang dimulai dari penglihatan hingga terbentuk tanggapan yang terjadi dalam diri individu sehingga individu sadar akan segala sesuatu dalam lingkungannya melalui indera-indera yang dimilikinya

Syarat terjadinya persepsi menurut Sunaryo adalah sebagai berikut:4 a.Adanya objek yang dipersepsi

b.Adanya perhatian yang merupakan langkah pertama sebagai suatu persiapan dalam mengadakan persepsi.

c.Adanya alat indera/reseptor yaitu alat untuk menerima stimulus.

d.Saraf sensoris sebagai alat untuk meneruskan stimulus ke otak, yang kemudian sebagai alat untuk mengadakan respon.

Secara umum persepsi adalah proses internal kita memilih, mengevaluasi dan mengorganisasikan stimuli dan lingkungan kita. Menurut Deddy Mulyana persepsi adalah inti komunikasi, sedangkan penafsiran (interpretasi) adalah inti persepsi, yang identik dengan penyandian-balik (decoding) dalam proses komunikasi. Selanjutnya Deddy Mulyana mengemukakan persepsilah yang menentukan kita memilih suatu pesan dan mengabaikan pesan lisan.5 Persepsi adalah proses internal yang memungkinkan kita memilih, mengorganisasikan,

4Sunaryo, Psikologi Untuk Keperawatan, (Jakarta: Kedokteran EGC: 2004), h. 89.

(19)

dan menafsirkan rangsangan dari lingkungan kita, dan proses tersebut mempengaruhi perilaku kita Faktor-faktor yang mempengaruhi persepsi.

Dalam membentuk persepsi, pemikiran-pemikiran yang ada di pengaruhi oleh factor-faktor dari eksternal dan factor internal yang mempengaruhi persepsi itu sendiri.

1. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Persepsi a. Faktor Internal yang Mempengaruhi Persepsi

Faktor internal yang mempengaruhi persepsi, yaitu factor-faktor yang terdapat dalam diri individu, yang mencakup beberapa hal, antara lain:6

1) Fisiologis. Informasi masuk melalui alat indera, selanjutnya informasi yang diperoleh ini akan mempengaruhi dan melengkapi usaha untuk memberikan arti terhadap lingkungan sekitarnya. Kapasitas indera untuk mempersepsi pada tiap orang berbeda-beda sehingga interpretasi terhadap lingkungan juga dapat berbeda.

2) Perhatian. Individu memerlukan sejumlah energi yang dikeluarkan untuk memperhatikan atau memfokuskan pada bentuk fisik dan fasilitas mental yang ada pada suatu obyek. Energi tiap orang berbeda-beda sehingga perhatian seseorang terhadap obyek juga berbeda dan hal ini akan mempengaruhi persepsi terhadap suatu obyek.

3) Minat. Persepsi terhadap suatu obyek bervariasi tergantung pada seberapa banyak energi atau perceptual vigilance yang digerakkan untuk 6Jalaluddin Rahmat, Psikologi..., h.190

(20)

mempersepsi. Perceptual vigilance merupakan kecenderungan seseorang untuk memperhatikan tipe tertentu dari stimulus atau dapat dikatakan sebagai minat.

4) Kebutuhan yang searah. Faktor ini dapat dilihat dari bagaimana kuatnya seseorang individu mencari obyek-obyek atau pesan yang dapat memberikan jawaban sesuai dengan dirinya.

5) Pengalaman dan ingatan. Pengalaman dapat dikatakan tergantung pada ingatan dalam arti sejauh mana seseorang dapat mengingat kejadian-kejadian lampau untuk mengetahui suatu rangsang dalam pengertian luas. 6) Suasana hati. Keadaan emosi mempengaruhi perilaku seseorang, mood ini

menunjukkan bagaimana perasaan seseorang pada waktu yang dapat mempengaruhi bagaimana seseorang dalam menerima, bereaksi dan mengingat.

b. Faktor Eskternal yang Mempengaruhi Persepsi

Factor eksternal yang mempengaruhi persepsi, merupakan karakteristik dari lingkungan dan obyek-obyek yang terlibat di dalamnya. Elemen-elemen tersebut dapat mengubah sudut pandang seseorang terhadap dunia sekitarnya dan mempengaruhi bagaimana seseorang merasakannya atau menerimanya. Sementara itu factor-faktor eksternal yang mempengaruhi persepsi adalah:

1) Ukuran dan penempatan dari obyek atau stimulus. Faktor ini menyatakan bahwa semakin besarnya hubungan suatu obyek, maka semakin mudah

(21)

untuk dipahami. Bentuk ini akan mempengaruhi persepsi individu dan dengan melihat bentuk ukuran suatu obyek individu akan mudah untuk perhatian pada gilirannya membentuk persepsi.

2) Warna dari obyek-obyek. Obyek-obyek yang mempunyai cahaya lebih banyak, akan lebih mudah dipahami (to be perceived) dibandingkan dengan yang sedikit.

3) Keunikan dan kekontrasan stimulus. Stimulus luar yang penampilannya dengan latarbelakang dan sekelilingnya yang sama sekali di luar sangkaan individu yang lain akan banyak menarik perhatian.

4) Intensitas dan kekuatan dari stimulus. Stimulus dari luar akan memberi makna lebih bila lebih sering diperhatikan dibandingkan dengan yang hanya sekali dilihat. Kekuatan dari stimulus merupakan daya dari suatu obyek yang bisa mempengaruhi persepsi.

5) Motion atau gerakan. Individu akan banyak memberikan perhatian terhadap obyek yang memberikan gerakan dalam jangkauan pandangan dibandingkan obyek yang diam.

Menurut Bimo Walgito faktor-faktor yang berperan dalam persepsi dapat dikemukakan beberapa faktor, yaitu: 7

a. Objek yang dipersepsi. Objek menimbulkan stimulus yang mengenai alat indera atau reseptor. Stimulus dapat datang dari luar individu yang mempersepsi,

(22)

tetapi juga dapat datang dari dalam diri individu yang bersangkutan yang langsung mengenai syaraf penerima yang bekerja sebagai reseptor.

b. Alat indera, syaraf dan susunan syaraf. Alat indera atau reseptor merupakan alat untuk menerima stimulus, di samping itu juga harus ada syaraf sensoris sebagai alat untuk meneruskan stimulus yang diterima reseptor ke pusat susunan syaraf, yaitu otak sebagai pusat kesadaran. Sebagai alat untuk mengadakan respon diperlukan motoris yang dapat membentuk persepsi seseorang.

c. Perhatian. Untuk menyadari atau dalam mengadakan persepsi diperlukan adanya perhatian, yaitu merupakan langkah utama sebagai suatu persiapan dalam rangka mengadakan persepsi. Perhatian merupakan pemusatan atau konsentrasi dari seluruh aktivitas individu yang ditujukkan kepada sesuatu sekumpulan objek.

Faktor-faktor tersebut menjadikan persepsi individu berbeda satu sama lain dan akan berpengaruh pada individu dalam mempersepsi suatu objek, stimulus, meskipun objek tersebut benar-benar sama. Persepsi seseorang atau kelompok dapat jauh berbeda dengan persepsi orang atau kelompok lain sekalipun situasinya sama. Perbedaan persepsi dapat ditelusuri pada adanya perbedaan-perbedaan individu, perbedaan-perbedaan dalam kepribadian, perbedaan dalam sikap atau perbedaan dalam motivasi. Pada dasarnya proses terbentuknya persepsi ini terjadi dalam diri seseorang, namun persepsi juga dipengaruhi oleh pengalaman, proses belajar, dan pengetahuannya.

(23)

a. Stimulus atau Rangsangan

Terjadinya persepsi diawali ketika seseorang dihadapkan pada suatu stimulus/rangsangan yang hadir dari lingkungannya

b.Registrasi

Dalam proses registrasi, suatu gejala yang nampak adalah mekanisme fisik yang berupa penginderaan dan syarat seseorang berpengaruh melalui alat indera yang dimilikinya. Seseorang dapat mendengarkan atau melihat informasi yang terkirim kepadanya, kemudian mendaftar semua informasi yang terkirim kepadanya tersebut

c. Interpretasi

Interpretasi merupakan suatu aspek kognitif dari persepsi yang sangat penting yaitu proses memberikan arti kepada stimulus yang diterimanya. Proses interpretasi tersebut bergantung pada cara pendalaman, motivasi, dan kepribadian seseorang.

B.Fungsi Perguruan Tinggi di Dunia Pendidikan dan Lingkungan Masyarakat

Istilah Perguruan Tinggi yang digunakan untuk lapisan ke-2, identik dengan istilah Perguruan Tinggi yang disebut dalam Peraturan Pemerintah No.30 tahun 1990, yaitu organisasi satuan pendidikan, yang menyelenggarakan pendidikan di jenjang pendidikan tinggi, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat.

(24)

1. Membina kualitas hasil dan kinerja Perguruan Tinggi, agar dapat memberi sumbangan yang nyata kepada perkembangan IPOLEKSOSBUD di masyarakat. Untuk dapat melaksanakan pembinaan kual itas yang baik, secara periodik Perguruan Tinggi menyelenggarakan evaluasi-diri yang melibatkan semua Unit Akademik Dasar. Evaluasi-diri sewajarnya dianggap sebagai perangkat manajemen Perguruan Tinggi yang utama, karena setiap pengambilan keputusan harus dapat mengacu pada hasil evaluasi-diri.

2. Merencanakan pengembangan Perguruan Tinggi menghadapi perkembangan di

masyarakat. Rencana Strategis menjangkau waktu pengembangan 10 tahun, seyogyanya dapat dibuat oleh Perguruan Tinggi. Dari Rencana Strategis tersebut, dapat dijabarkan Rencana Operasional Lima Tahunan dan Rencana Operasional Tahunan, dan yang terakhir ini mengkaitkan pada Memorandum Program Koordinatif Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, dalam arti bahwa bagian-bagian Rencana Operasional Tahunan yang memerlukan anggaran pembangunan, dapat diajukan sebagai Daftar Isian Proyek.

3. Mengupayakan tersedianya sumberdaya untuk menyelenggarakan tugas-tugas fungsional dan rencana perkembangan Perguruan Tinggi. Sumberdaya diupayakan, tidak hanya Otoritas Pusat, tetapi juga dari pihak-pihak lain melalui kerjasama, kontrak penelitian, penyediaan pendidikan dan pelatihan khusus, sumbangan dan lain-lain.

4. Menyelenggarakan pola manajemen Perguruan Tinggi, yang dilandasi

(25)

suasana akademik yang kondusif untuk pelaksanaan kegiatan fungsional pendidikan tinggi.

Perguruan Tinggi merupakan wadah bagi masyarakat kampus. Sebagai suatu organisasi maka perguruan tinggi mempunyai (1) struktur, (2) aturan penyelesaian tugas, yang mencakup pembagian tugas antar kelompok fungsional dan antar warga dalam kelompok yang sama, (3) rencana kegiatan, dan (4) tujuan. Tujuan dibimbing oleh asas dan membimbing rencana kegiatan. Struktur dan aturan penyelesaian tugas menjadi prasarana pencapaian tujuan dan sekaligus mencerminkan asas.

Perguruan tinggi sebagai masyarakat tidak terlepas dari suatu masyarakat besar yang menjadi lingkungannya (pengertian atau ungkapan universal), atau yang menjadi induknya (pengertian atau ungkapan paternalistik). Dalam hal Indonesia, yang kebanyakan warganya sangat cenderung pada paternalisme, masyarakat perguruan tinggi menjadi anak masyarakat besar Indonesia. Penempatan dan penyesuaian diri masyarakat kampus pada masyarakat besar Indonesia lebih banyak berlangsung secara formalistic (melalui ketentuan, peraturan, undang-undang yang bermaksud baik) daripada secara ekologi. Fakta ini berpengaruh jelas pada penjabaran asas menjadi tujuan dan selanjutnya pada penjabaran tujuan menjadi tugas pokok. Barangkali pengaruh fakta ini sampai pula mencapai asas.

Hakekat perguruan tinggi di Indonesia dapat kiranya tercermin pada hal-hal berikut:

(26)

1. Merupakan pelaksana pemerintah dalam bidang pendidikan dan pengajaran di atas perguruan tingkat menegah.

2. Bertugas pokok melestarikan kebudayaan kebangsaan Indonesia dengan cara ilmiah sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

3. Menjalankan Tridharma Perguruan Tinggi yang terdiri dari: pengembangan pendidikan dan pengajaran Penelitian dalam rangka pengembangan kebudayaan khususnya ilmu pengetahuan, teknologi, pendidikan dan seni. Pengabdian pada masyarakat.

4. Menyelenggarakan pembinaan civitas akademika dan hubungannya dengan lingkungannya.

Di Indonesia, perguruan tinggi dapat berbentuk akademik, politeknik, sekolah, institut atau universitas. Pendidikan umum merupakan pendidikan yang mengutamakan perluasan pengetahuan dan peningkatan keterampilan peserta didik dengan pengkhususan yang diwujudkan pada tingkat-tingkat akhir masa pendidikan. Pendidikan kejuruan merupakan pendidikan yang mempersiapkan peserta didik untuk dapat bekerja dalam bidang tertentu. Pendidikan umum mensosialisasikan nilai dalam rangka konsensus nilai. Karakteristik pendidikan umum adalah tujuannya lebih menyangkut moralitas dan penyikapan, bahan ajar berupa nilai-nilai, dan metode yang dipakai menuntut pelibatan emosi, intelektualitas, dan sosial pembelajar.

Dalam mewujudkan masyarakat yang berpendidikan, perguruan tinggi mempunyai peran sebagai berikut; Pertama, perguruan tinggi penyalur bakat.

(27)

Perguruan tinggi tak sekedar menjadi sebuah lembaga pendidikan sebagaimana sekolah-sekolah menengah ataupun sekolah atas. Akan tetapi perguruan tinggi berfungsi sebagai penyaluran minat mahasiswa terhadap bidang tertentu, sesuai dengan bakat, minat, dan keinginan masing-masing.

Kedua, perguruan tinggi dan stabilitas nasional. Tak hanya mengasah individu saja, perguruan tinggi juga berperan aktif dalam berlangsungnya stabilitas nasional, baik dalam bidang pendidikan, bidang ekonomu, maupun pengabdian masyarakat. Dalam bidang pendidikan misalnya, lulusan perguruan tinggi diharapkan mampu melakukan perubahan dan pengembangan demi kemajuan pendidikan di Indonesia, salah satunya dengan menjadi tenaga pengajar di sekolah-sekolah. Dalam bidang ekonomi, mahasiswa yang notabene adalah agen sosial diharapkan mampu berperan aktiv untuk mengentaskan kemiskinan di negeri ini, yaitu dengan cara menularkan ilmu dan kemmapuan yang dimilinya kepada masyarakat yang belum mengerti.

Ketiga, pengabdian perguruan tinggi. Dalam pengembangan masyarakat, mahasiswa tingkat akhir akan diberikan tugas KKL (kuliah kerja lapangan) yang dilaksanakan di daerah-daerah. Perguruan tinggi berfungsi sebgai jembatan antara kepentingan pemerintah an spirasi masyarakat. Perguruan tinggi mengayomi keinginan-keinginan masyarakat untuk kemudian disampaikan kepada pemerintah, sebaliknya juga perguruan tinggi memberikan masukan-masukan kepada pemerintah tentang apa saja yang diinginkan oleh warga.

(28)

C.Standar Mutu Perguruan Tinggi

Pada tanggal 16 Mei 2005 telah ditetapkan Peraturan Pemerintah Nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan (SNP). Peraturan pemerintah tersebut menyatakan bahwa NSP bertujuan menjamin mutu pendidikan nasional. Oleh karena itu, pemenuhan SNP oleh perguruan tinggi akan berrati bahwa

perguruan tinggi tersebut menjamin mutu pendidikan tingi yang

diselengarakannya. Dalam SNP terdapat beberapa system, diantaranya system penjaminan mutu perguruan tinggi, system penjaminan mutu internal, system penjaminan mutu eksternal, pangkalan data perguruan tinggi.

Dalam system penjaminan mutu internal terdapat beberapa standar diantaranya: standar identitas, standar isi, standar proses pembelajaran, standar kompetensi lulusan, standar pendidik dan tenaga kependidikan, standar prasarana dan sarana, standar pengelolaan, standar penilaian pendidikan, standar kemahasiswaan, standar suasana akademik.8

1. Standar idetitas. Identitas secara sederhana dapat diartikan sebagai jati diri, tanda pengenal, atau sekumpulan unsur yang yang secara bersamaan mampu mencutrakan tentang siapa atau apa. Untuk perguruan tinggi, identitas tidak lain adalah karakteristik essensial dan khas yang melekat pada institusi tersebut sehingga mampu mencitrakan dan membedakannya dengan institusi serupa lainnya. Karakteristik ini terdiri dari sejumlah unsure arau elemen yang

(29)

harus dipenuhi setiap perguruan tinggi dalam menjalankan pelayanan pendidikan tinggi kepada masyarakat.

2. Standar isi. Standar isi ini dimaksudkan untuk member insipirasi perguruan tinggi dalam melaksanakan SPMI, khususnya dalam hal menetapkan, melaksanakan, dan mengendalikan standar isi. Standar isi mencakup lingkup materi dan tingkat kompetensi untuk mencapai kompetensi lulusan pada jenjang dan jenis pendidikan tertentu. Standar isi memuat kerangka dasar dan struktur kurikulum, beban belajar, kurikulumtingkat satuan pendidikan, dan kalender akademik.

Standar isi adalah ruang lingkup materi dan tingkat kompetensi yang dituangkan dalam criteria tentang kompetensi tamatan, kompetensi bahan kajian, kompetensi mata kuliah, dan silabus pembelajaran yang harus dipenuhi oleh mahasiswa pada perguruan tinggi. Hal ini berarti bahwa substansi standar isi tidak lain adalah tentang kurikulum, dan standar isi ini akan berkaitan dengan standar mutu yang lain.

3. Standar proses pembelajaran. Pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. Di lingkungan pendidikan tinggi, interaksi tersebut terjadi antara mahasiswa dengan dosen. Dalam interaksi yang berpusat pada mahasiswa tersebut terjadi proses perubahan yang dialami mahasiswa dalam empat ranah, yang disebut ranah kognitif, yaitu kemampuan yang berkenaan dengan pengetahuan, penalaran atau pikiran. Ranah afektif yanitu kemampuan yang mengutamakan

(30)

perasaan, emosi, dan reaksi-reaksi yang berbeda berdasarkan penalaran. Ranah psikomotorik yaitu kemampuan yang mengutamakan ketrampilan jasmani. Ranah kooperatif yaitu kemampuan untuk bekerjasama.

Agar proses pembelajaran dapat menghasilkan perubahan pada mahasiswa dalam empat ranah tersebut, diperlukan standar mutu proses pembelajaran yang disusun berdasarkan peraturan perundangan, visi dan misi perguruan tinggi serta memperhatikan kopmetensi lulusan yang dibutuhkan stakeholders. Dalam suatu proses pembelajaran, terdapat berbagai komponen yang satu sama yang lain berinteraksi. Komponen-komponen tersebut adalah dosen,, mahasiswa, tujuan pembelajaran, materi pembelajaranm metode atau strategi pembelajaran.

4. Standar kompetensi lulusan. Tujuan utama dari penyelenggaraan program studi yang terdapat pada suatu perguruan tinggi adalah menghasilkan lulusan sesuai dengan criteria yang ditetapkan oleh jurusan sebagai pengelola prodi. Peraturan Pemerintah No. 19 Yahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan menyebutkan bahwa standar kompetensi lulusan adalah kualifikasi kemampuan lulusan yang mencakup sikap, pengetahuan, dan keterampilan. 5. Standar pendidik dan tenaga kependidikan. Tenaga kependidikan bertugas

melaksanakan administrasi, pengelolaan, pengembangan, pengawasan, dan pelayanan teknis untuk menunjang proses pendidikan pada satuan pendidikan. Sedangkan pendidik merupakan tenaga professional yang bertugas merencanakan dan melaksanakan proses pembelajaran, menilai hasil

(31)

pembelajaran, melakukan pembimbingan dan pelatihan, serta melakukan epenlitian dan penganbdian kepada masyarakat, terutama bagi pendidik di perguruan tinggi.

Perguruan tinggi merupakan lembaga/ institusi yang sangat bertanggung jawab terhadap kemajuan dan kepandaian bangsanya agar mampu bersaing dengan bangsa lain. Sistem pendidikan/ pengajarannya pun harus secara rutin dilakukan evaluasi dengan mengacu perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni serta perkembangan global dalam masyarakat dunia. Sistem pendidikan di perguruan tinggi yang hanya mengarah pada produk lulusan tanpa melihat proses pencapaian hasil pendidikan perlu dilakukan evaluasi. Dengan adanya sistem Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) yang merupakan salah satu jawaban agar para lulusan perguruan tinggi tersebut mampu bersaing dengan para lulusan dari perguruan tinggi dari luar negeri maka untuk mengukur keberhasilan sistem KBK tersebut perlu adanya suatu Standar Kompetensi Lulusan (SKL).

Standar Kompetensi Lulusan ini bukan merupakan suatu patokan yang berharga mati akan tetapi juga tidak terlalu longgar sehingga tujuan dari sistem KBK tersebut tidak tercapai. Selain dari pada itu dalam SKL ini masih memberikan tempat dimana perguruan tinggi dapat mengembangkan potensi yang sesuai dengan kompetensi masing masing. Tujuan besar pada akhirnya adalah untuk dapat mempersiapkan para lulusan dapat langsung bekerja yang sesuai dengan bidangnya, mampu mengimplementasikan ilmunya serta mampu

(32)

menegembangkan diri untuk menjawab tantangan yang baru dan berpikiran untuk belajar selama hidupnya.

Dengan kondisi global yang saat ini kita hadapi bersama mengakibatkan persaingan yang sangat ketat akan dialami para lulusan di dalam dunia usaha. Hal tersebut juga membawa dampak pada adanya perubahan persyaratan kerja yang juga sangat ketat . Persyaratan kerja ini tidak hanya menekankan pada kualitas lulusan yang tidak hanya menekankan pada penguasaan hard skills (kemampuan teknis dan akademis) akan tetapi juga penguasaan soft skills. Di dalam usaha pemenuhan kebutuhan industri kerja tersebut, tentu akan berakibat pada perubahan paradigma (pola pikir) dalam proses pembelajaran. Perubahan pola piker yang dapat memenuhi proses pembelajaran yang dapat menghasilkan mutu lulusan sebagaimana yang diharapkan oleh pasar kerja akan menuntut para lulusan mampu meresapi arti dari kompetensi dalam pedidikan yaitu kognitif, psikomotorik dan afektif.

Untuk menghasilkan kondisi seperti diatas perlu adanya persyaratan yang harus dipenuhi mulai dari sistem pendidikan , kurikulum , dosen dan fasilitas yang secara terintegrasi mengarah pada keberhasilan sistem KBK tersebut. Oleh karena itu salah satu acuan yang harus ada adalah Standar Kompetensi Lulusan - Perguruan Tinggi ( SKL – PT ) agar pola evaluasi dan monitoring atas keberhasilan sistem KBK ini dapat dilakukan. SKL – PT ini didesain cukup longgar sehingga mampu mengadopsi kebutuhan dunia pendidikan saat ini dan mengantisipasi perkembangan di masa depan.

(33)

Setiap program studi merumuskan profil, kualifikasi, kompetensi dan indikator capaian kompetensi lulusannya. Ketiga parameter tersebut digunakan sebagai standar ukuran keberhasilan penyelenggaraan program studi. Profil lulusan adalah suatu deskripsi singkat yang menggambarkan tentang peran lulusan suatu program studi. Departemen Pendidikan Nasional melalui Keputusan Menteri No. 232/U/2000 telah menetapkan bahwa program sarjana diarahkan pada hasil lulusan yang memeiliki kualifikasi sebagai berikut :

1. Menguasai dasar-dasar ilmiah dan ketrampilan dalam bidang keahlian tertentu sehingga mampu menemukan, memahami, menjelaskan, dan merumuskan cara penyelesaian masalah yang ada di dalam kawasan keahliannya;

2. Mampu menerapkan ilmu pengetahuan dan keterampilan yang

dimilikinya sesuai dengan bidang keahliannya dalam kegiatan produktif dan pelayanan kepada masyarakat dengan sikap dan perilaku yang sesuai dengan tata kehidupan bersama;

3. Mampu bersikap dan berperilaku dalam membawakan diri berkarya di bidang keahliannya maupun dalam berkehidupan bersama di masyarakat;

4. Mampu mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan/atau kesenian yang merupakan keahliannya.

Tujuan utama dari penyelenggaraan program studi yang terdapat pada suatu perguruan tinggi adalah menghasilkan lulusan sesuai dengan criteria yang

(34)

ditetapkan oleh jurusan sebagai pengelolah prodi. Kriteria kelulusan mahasiswa dari suatu prodi lazimnya dirumuskan dalam bentuk standar kompetensi lulusan. Untuk jenjang pendidikan tinggi yang menyelenggarakan pendidikan akademik, profesi, ataupun vokasi, keberadaan standar ini menjadi sangat mutlak dan strategis sifatnya.

(35)

BAB III

METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian

Dalam penelitian digunakan penelitian deskriptif kualitatif. Jenis penelitian ini memaparkan situasi dan peristiwa, penelitian deskriptif adalah suatu penelitian yang bertujuan menyajikan informasi secara sangat tepat dan teliti tentang karakteristik yang sangat luas dari suatu populasi. Penelitian deskriptif dapat bersifat kualitatif jika data yang disajikan berupa cerita yang mendalam dan rinci dari responden atau para informan tentang pertimbangan, pengalaman, pengetahuan, filsafat atau pandangan hidup mereka. Menurut Mely G. Tan penelitian deskriptif kualitatif bertujuan mengambarkan secara tepat sifat-sifat individu, keadaan, gejala atau kelompok tertentu.1

Tujuan dari penelitian deskriptif ini adalah untuk mencari faktual yang mendetail tentang gejala yang ada, untuk mengidentifikasi masalah-masalah atau untuk mendapatkan justifikasi keadaan dan prkatek-praktek yang sedang berlangsung, untuk membuat komparasi dan evaluasi, untuk mengetahui apa yang dikerjakan oleh orang lain dalam menangani masalah atau situasi yang sama agar dapat belajar dari mereka unutuk kepentingan pembuatan rencana dan pengambilan keputusan di masa depan.2

1Soejono dan Abdurrahman, Metode Penelitian Suatu Pemikiran dan Penerapan

(Jakarta: Rineka Cipta, 2005), h. 22.

2Sumadi Suryadibrata, Metodologi Penelitian (Jakarta: RajaGrafindo Persada, 2006), h.

(36)

Menurut Denzin dan Lincoln penelitian kualitatif adalah penelitian yang menggunakan latar ilmiah, dengan menafsirkan fenomena yang terjadi dan dilakukan dengan jalan melibatkan metode yang ada.3 Sedangkan menurut Lexy

J Moleong sendiri penelitian kualitatif adalah penelitian yang dimaksudkan untuk memahami fenomena tentang apa yang dialami oleh subyek penelitian, misalnya perilaku, tindakan, dll., secara holistic dan dengan cara deskripsi dalam bentuk kata-kata dan bahasa, pada suatu konteks khusus yang alamiah dan dengan memanfaatkan berbagai metode alamiah.4

Sementara menurut Hamidi penelitian kualitatif memiliki ciri khas penyajian datanya yaitu dalam bentuk narasi, cerita yang mendalam atau rinci dari hasil wawancara atau observasi pada para responden.5 Penelitian kualitatif dapat diartikan sebagai rangkaian kegiatan atau proses menjaring informasi, dari kondisi sewajarnya dalam kehidupan suatu obyek, dihubungkan dengan pemecahan masalah. Penelitian kualitatif dimulai dengan mengumpulkan informasi-informasi. Nasution mengemukakan bahwa penelitian kualitatif pada prinsipnya mengamati orang dalam lingkungan hidupnya, berinteraksi dengan

3Lexy J Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif (Cet. XXI; Bandung:Remaja

Rosdakarya, 2005)h. 5.

4 Lexy J Moleong, Metodologi….., h. 6.

5 Hamidi, Metode Penelitian Kuantitatif (Malang: UPT Penerbitan Muhammadiyah,

(37)

mereka, berusaha memahami bahasa dan tafsiran mereka tentang dunia sekitarnya.6

Dalam penelitian ini yang akan diteliti adalah persepsi pimpinan instansi tempat alumni Jurusan Dakwah bekerja. Dengan metode deskriptif kualitatif diharapkan akan diperoleh data yang lebih lengkap, lebih mendalam, lebih kredibel, dan bermakna sehingga tujuan penelitian dapat dicapai. Dari uraian di atas, dapat dikatakan bahwa penelitian ini akan memaparkan atau menyajikan informasi-informasi yang didasarkan pada pengalaman, pengetahuan, pandangan, dari pimpinan instansi tempat alumni bekerja.

B. Sumber Data Penelitian

Sumber data dalam penelitian ini adalah sumber data primer dan sumber data sekunder. Sumber data primer adalah sumber data yang langsung memberikan data kepada peneliti, sumber data dalam penelitian kualitatif adalah kata-kata dan tindakan. Dalam hal ini sumber data primernya adalah pimpinan lembaga tempat alumni bekerja. Sumber data sekunder adalah sumber data yang tidak langsung memberikan data kepada peneliti, misalnya melalui dokumentasi, data tertulis, dll.

(38)

C. Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data yang dipergunakan dalam penelitian kualitatif adalah wawancara, observasi, pemanfaatan dokumen.

1. Wawancara

Wawancara atau interviu adalah bentuk komunikasi verbal yang bertujuan untuk mendapatkan informasi tertentu. Percakapan ini dilakukan oleh dua pihak, yaitu pewawancara yang mengajukan pertanyaan dan terwawancara yang memberikan jawaban atas pertanyaan itu. Menurut Lincoln dan Guba, maksud mengadakan wawancara adalah mengkontruksi mengenai orang, kejadian, organisasi, perasaan, motivasi, tuntutan, kepedulian dan lain-lain kebulatan; mengkonstruksi kebulatan-kebulatan demikian sebagai yang dialami masa lalu; memproyeksikan kebulatan-kebulatan sebagai yang diharapkan untuk dialami pada masa yang akan datang; memverifikasi, mengubah, dan memperluas informasi yang diperoleh oleh orang lain, baik manusia maupun bukan manusia; dan memverikasi, mengubah, dan memperluas konstruksi yang dikembangkan oleh peneliti sebagai pengecekan anggota.7

Ada beberapa macam wawancara, yaitu wawancara terstruktur, wawancara semiterstruktur, dan wawancara tak berstruktur. Wawancara terstruktur digunakan sebagai teknik pengumpulan data, bila peneliti telah mengetahui dengan pasti informasi apa yang akan diperoleh. Wawancara semi

(39)

terstruktur termasuk dalan kategori in-dept interview, dimana dalam pelaksanaannya lebih bebas bila dibandingkan dengan wawancara terstruktur. Tujuan dari wawancara jenis ini adalah untuk menemukan permasalahan secara lebih terbuka, dimana pihak yang diajak wawancara diminta pendapat, dan ide-idenya. Wawancara tak berstruktur adalah wawancara yang bebas dimana peneliti tidak menggunakan pedoman wawancara yang telah tersususn secara sistematis dan lengkap untuk pengumpulan datanya.8 Berdasarkan atas perencanaan pertanyaan yang telah disusun, penelitian ini menggunakan jenis wawancara tak berstruktur. Wawancara ini tidak menggunakan daftar pertanyaan yang akan diajukan tetapi tetap menghasilkan data.

2. Observasi

Observasi sebagai salah satu teknik pengumpulan data dalam penelitian kualitatif adalah merupakan cara untuk mendapatkan data yang bersifat alamiah di lapangan, karena kejadian yang diamati dalam latar yang alamiah. Melalui observasi berperan serta, peneliti dapat berpartisipasi dalam rutinitas informan baik mengamati apa yang mereka lakukan, mendengarkan apa yang mereka katakan, dan menanyai orang-orang lainnya disekitar mereka selama jangka waktu tertentu.9

8Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D, (Bandung: Alfabeta, 2007),

h. 233.

9Dedy Mulyana, Metodologi Penelitian Kualitatif; Paradigma Baru Ilmu Komunikasi dan

(40)

Observasi ialah pengamatan dan pencatatan yang sistematis terhadap gejala-gejala yang diteliti.10 Ada beberapa kelebihan atau kebaikan dalam penggunaan observasi sebagai salah satu alat untuk mengumpulkan data yaitu;

1) Merupakan metode yang dapat langsung digunakan untuk meneliti bermacam-macam gejala. Banyak aspek tingkah laku manusia yang hanya dapat dilakukan melalui observasi langsung.

2) Untuk subyek yang diteliti, observasi ini lebih sedikit tuntutannya. Orang-orang yang selalu sibuk pun mungkin tidak keberatan untuk diamat-amati, walaupun dia mungkin keberatan untuk menjawab kuesioner.

3) Pengamatan memungkinkan peneliti pencatatan yang serempak dengan terjadinya suatu gejala.11

3. Dokumentasi

Dokumentasi, dari asal katanya yang berarti kata-kata tertulis. Di dalam melaksanakan/menggunakan metode dokumentasi peneliti menyelidiki benda-benda tertulis seperti buku-buku, majalah, dokumen, peraturan-peraturan, notulen rapat, catatan harian, dan lain sebagainya.12 Sedangkan menurut Lexy J Moleong dokumen dalam penelitian sebagai sumber data karena banyak hal dokumen

10Husaini Ustman dan Purnomo S, Metodologi Penelitian Sosial, (Cet. V; Jakarta: Bumi

Aksara,2004), h.54.

11Sutrisno Hadi, Metodologi Research (Yogyakarta: Andi Ofset, 2004), h. 175.

(41)

sebagai sumber data dimanfaatkan untuk menguji, menafsirkan bahkan untuk meramalkan.13

D. Teknik Analisis dan Interpretasi Data

Setelah data selesai dikumpulkan dengan lengkap dari lapangan, tahap berikutnya yang harus dimasuki adalah tahap analisa data. Ini adalah tahap penting dan menentukan. Pada tahap inilah data dikerjakan dan dimanfaatkan sedemikian rupa sampai berhasil menyimpulkan kebenaran-kebenaran yang dapat dipakai untuk menjawab persoalan-persoalan yang diajukan dalam penelitian.14 Data dalam penelitian kualitatif yaitu memberikan informasi dalam bentuk studi kasus, kritik, dan alporan atau data yang bisa diterjemahkan dalam bentuk studi kasus, kriti, dan kadang-kadang dalam laporan verbal.15 Teknik Analisis data merupakan rangkaian kegiatan pengumpulan data dengan mencari dan menyusun catatan yang diperoleh dari metode observasi, wawancara dan dokumen. Analisis data bermaksud untuk mengorganisasikan data.

Sedangkan interpretasi data merupakan upaya untuk memperoleh arti dan makna yang mendalam dan luas terhadap hasil penelitian yang sedang dilakukan. Pembahasan hasil penelitian dilakukan dengan cara meninjau hasil penelitian secara kritis dengan teori yang relevan dan informasi akurat yang diperoleh dari

13Lexy J. Moleong , Metodologi…. h. 217

14Koentjaraningrat, Metode-Metode Penelitian Masyarakat (Cet. XIII; Jakarta: Gramedia

Pustaka Umum, 1994), h. 269.

(42)

lapangan. Peneliti menganalisa kata-kata dan gambar untuk menguraikan tema sentral penelitian. Deskripsi ini secara khusus meliputi informasi kontekstual mengenai orang atau ide yang sedang diteliti.16

Dalam penelitian ini teknik analisis data menggunakan analisis model Miles dan Huberman yang mengemukakan bahwa aktivitas adalam analisis kualitatif dilakukan secara interaktif dan berlangsung secara terus-menerus sampai tuntans, sehingga data sudah jenuh. Dalam teknik analisa data terdapat beberapa proses, yaitu:

1. Reduksi Data

Mereduksi data berarti merangkum, memilih hal-hal yang pokok, memfokuskan pada hal-hal yang penting, menemukan tema dan polanya. Dengan demikian data yang telah direduksi akan memberikan gambaran yang lebih jelas, dan mempermudah peneliti untuk melakukan pengumpulan data selanjutnya atau menemukannya kembali jika diperlukan.

2. Penyajian data

Setelah data direduksi, maka langkah selanjutnya adalah menyajikan data. Karena penelitian ini menggunakan jenis penelitian kualitatif, maka penyajian datanya berupa uraian yang bersifat naratif atas hasil wawancara terhadap para karyawan. Dengan menyajikan data secara naratif, maka akan memudahkan

16Asmadi Alsa, Pendekatan Kuantitatif & Kualitatif Serta Kombinasinya Dalam Penelitian

(43)

untuk memahami apa yang terjadi, dan merencanakan langkah selanjutnya berdasarkan apa yang telah dipahami tersebut.

3. Penarikan kesimpulan

Penarikan kesimpulan merupakan proses konklusi yang terjadi selama pengumpulan data, mulai dari data awal hingga data akhir. Kesimpulan dalam penelitian kualitatif dapat berupa deskripsi atau gambaran suatu obyek yang sebelumnya masih remang-remang atau gelap, sehingga setelah diteliti menjadi jelas.17

(44)

BAB IV

HASIL PENELITIAN

A.Profil Lembaga STAIN Samarinda

1. Latar belakang

Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) merupakan peleburan Fakultas cabang yang menginduk pada IAIN. Peleburan tersebut didasarkan pada respon logis dari tuntutan pengembangan kelembagaan Pendidikan Tinggi Islam di Indonesia. Kelahiran STAIN Samarinda telah melalui proses panjang yang dimulai dari adanya gagasan untuk mendirikan Perguruan Tinggi Islam di Kalimantan Timur dan dipelopori oleh beberapa tokoh yang tergabung dalam organisasi Islam. Keinginan mendasar dan mendesak tersebut diawali oleh suatu kesepakatan mengutus Ny. Hj. Hamdiah Hassan (Istri Gubernur KDH. Tk. I Kalimantan Timur pada waktu itu) selaku ketua Yayasan Pendidikan dan Kesejahteraan Wanita Islam Kalimantan Timur untuk menyampaikan dan memperjuangkan aspirasi dan hasrat umat Islam dimaksud kepada pihak yang berwenang di Jakarta.

Akhimya pada bulan Oktober 1962, di Cipayung didampingi oleh seorang mahasiswa IAIN Sunan Kalijaga asal Kalimantan Timur (Yusran Jafar), Hj. Hamdiah Hassan berupaya menyalurkan hasrat dan keinginan mendirikan Perguruan Tinggi Islam dengan pihak Biro Perguruan Tinggi Agama Departemen Agama Republik Indonesia. Pembicaraan pada waktu itu cukup mendapat sambutan dan ditindaklanjuti dengan pembicaraan berikutnya secara khusus antara

(45)

Biro Perguruan Tinggi Agama Departemen Agama Republik Indonesia, Rektor IAIN Sunan Kalijaga dan Utusan Daerah Kalimantan Timur.

Pertemuan ini menghasilkan beberapa kesepakatan yang dituangkan dalam bentuk surat dari pihak Biro Perguruan Tinggi Agama Departemen Agama Republik Indonesia, tertanggal 14 Nopember 1962 Nomor: P.1/12526/62. Melalui surat tersebut, langkah dan upaya persiapan pendirian STAIN dikoordinir oleh Yayasan Pendidikan dan Kesejahteraan Wanita Islam Kalimantan Timur. Akhirnya pada tanggal 18 Agustus 1963, Gubernur KDH. TK. I Kalimantan Timur meresmikan berdirinya Sekolah Persiapan Institut Agama Islam Kalimantan Timur (SPIAI) yang pengelolaannya dipercayakan kepada tim (Presidium) yang terdiri dari 5 orang dan diketuai oleh Syahidin, BA.

Selanjutnya dengan membawa beberapa surat dukungan dari Sekolah Normal Islam, PGAN 6 tahun, dan Sekolah Muslimat Samarinda tim melaporkan pendirian SPIAIN kepada Biro Perguruan Tinggi Agama Departemen Agama Republik Indonesia melalui surat No. 17/Lap/1963 tertanggal 19 Agustus 1963 dan mendapat sambutan positif dari pihak Departemen Agama Republik Indonesia.

Setelah mendapatkan hasil dari Jakarta, segera diadakan rapat pada tanggal 19 Oktober 1963 yang dipimpin oleh H. Ahmad Yusuf, dengan kesimpulan antara lain menyangkut pembentukan panitia penegerian SPIAI Kalimantan Timur dan persiapan pendirian Fakultas Tarbiyah IAI Kalimantan Timur. Akhirnya pada tanggal 17 September 1964 diresmikan penegerian SPIAIN Kalimantan Timur

(46)

oleh Dr. H.A. Mukti Ali, MA atas nama Menteri Agama Republik Indonesia, yang pengelolaannya dipercayakan kepada IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Untuk selanjutnya induk pengelolaan SPIAIN dipindahkan ke IAIN Antasari dan terakhir ke IAIN Sunan Ampel. (sekitar bulan Juli 1967). Pada tahun 1976 secara resmi SPIAIN Sunan Ampel Samarinda dilebur menjadi Madrasah Aliyah Negeri (MAN I sekarang).

Bersamaan dengan usaha penegerian SPIAI, timbul gagasan untuk mendirikan Fakultas Islam swasta yang secara resmi dibuka sesuai Surat Keputusan Panitia Pembukaan Fakultas Tarbiyah IAI Kaltim, Nomor: 25/PN/1964 tanggal 17 September 1964. Pimpinan Fakultas waktu itu dipercayakan kepada Letkol Ngadio.

Kuliah perdana dilaksanakan pada tanggal 6 Oktober 1964. Setelah berjalan selama 1 tahun, panitia menyampaikan laporan tentang perkembangan dan persiapan penegerian Fakultas Tarbiyah IAI Kalimantan Timur kepada Biro Perguruan Tinggi Agama Departemen Agama Republik Indonesia. Setelah melalui perjuangan akhirnya terbit Nota Persetujuan dari pihak Biro Perguruan Tinggi Agama Departemen Agama Republik Indonesia, yang menyatakan bahwa pada prinsipnya Direktorat Perguruan Tinggi Agama Departemen Agama Republik Indonesia menyetujui penegerian Fakultas Tarbiyah IAI.

Di samping mendapat persetujuan dari pihak Direktorat, panitia juga memperoleh persetujuan dari Rektor IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta yang dituangkan dalam surat Nomor: 435/BR/A/65 tertanggal 27 Oktober 1965 dengan

(47)

saran antara lain agar panitia membina kerja sama dengan Pemerintah Daerah Tk. I dan segera membentuk Yayasan Badan Wakaf untuk menanggulangi keperluan finansial selanjutnya.

Memperhatikan surat Rektor IAIN Sunan Kalijaga tersebut di atas, maka dibentuklah Yayasan Badan Wakaf Fakultas Tarbiyah pada bulan Nopember 1965 dengan menempatkan A. Muis Hasan (Gubernur Kalimantan Timur) sebagai Ketua Umum. Selanjutnya pada tanggal 1 April 1966 Yayasan Badan Wakaf mengadakan penyempurnaan kepengurusan, meskipun tetap mempertahankan A. Muis Hasan sebagai Ketua Umum. Setelah berjalan beberapa bulan ternyata Hamri Has, BA mendapat panggilan tugas belajar ke IAIN Sunan Ampel di Malang. Oleh panitia penegerian diangkatlah H.A. Sani Karim sebagai Pimpinan Fakultas yang baru sesuai dengan SK No. 024/PP/Kab.a/68 tertanggal 1 Januari 1968.

Sementara itu di dalam tubuh yayasan pun terjadi perubahan yang merupakan hasil keputusan rapat pengurus pada tanggal 16 Juni 1968. Untuk periode ini Ketua Umum Yayasan dipercayakan kepada H.A.P. Aflous dan Syahidin, BA sebagai Sekretaris Umum. Keinginan untuk menegerikan Fakultas Tarbiyah IAI Kaltim terus memotivasi panitia untuk melakukan berbagai pendekatan, dan akhirnya melalui SK. Rektor IAIN Sunan Ampel tanggal 8 Juli 1968 dengan Nomor: 1301/k/24 B/D/RcISA/1968 diperoleh informasi bahwa Menteri Agama telah merestui keinginan panitia.

Akhirnya pada bulan Nopember 1968 secara resmi Fakultas Tarbiyah IAl Kalimantan Timur dijadikan Fakultas Tarbiyah IAIN di bawah asuhan IAIN Sunan

(48)

Ampel Surabaya, dengan SK Menteri Agama RI No. 167/1968. Pimpinan Fakultas waktu itu dipercayakan pada Drs. Tengku Rasyid Hamzah sebagai Pj. Dekan. Periode kepemimpinan sejak 1968 - 1999 terjadi beberapa kali perubahan dan pergantian kepengurusan Yayasan Badan Wakaf maupun pimpinan Fakultas. Yayasan Badan Wakaf dibawah pimpinan H.A. P. Afloes dapat bekerja hingga tahun 1975, demikian juga dengan kepemimpinan Fakultas di bawah pimpinan Drs. Tengku Rasyid Hamzah.

Kemudian kepengurusan Yayasan Badan Wakaf untuk periode 1976-1982 dipercayakan kepada H.M. Kadri Oening sebagai Ketua Umum dibantu beberapa Ketua, Sekretaris dan jajaran pengurus lainnya. Dan pada periode berikutnya (1983 - sekarang) kepengurusan Yayasan dipercayakan kepada H. Saleh Nafsi, SH untuk memimpinnya.

Didalam tubuh fakultas terdapat perubahan struktur kepemimpinan yang mendasar. Selama tiga periode berturut-turut sejak 1975 – 1983 jabatan Dekan dipercayakan pada Drs. H.M. Yusuf Rasyid, kemudian periode 1983-1988 dijabat oleh Drs. H. Sabran Djailani. Sedangkan selama dua periode berikutnya (1988-1997) jabatan Dekan dipegang oleh Drs. H. Nukthah Arfawie Kurde. Selanjutnya, Drs. H.M. Yusuf Rasyid menjabat lagi sebagai Dekan, walaupun hanya beberapa bulan lamanya.

Pada periode ini terjadi alih status dari Fakultas Tarbiyah IAIN Antasari Samarinda menjadi Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Samarinda, tepatnya tanggal 16 Juni 1997 sebagaimana tercantum dalam Keputusan Presiden

(49)

RI. Nomor 11 Tahun 1997 dan Keputusan Menteri Agama RI. Nomor 312 Tahun 1997. Perubahan status ini telah menempatkan dosen, karyawan dan mahasiswa Fakultas Tarbiyah IAIN Antasari Samarinda sebagai dosen, karyawan dan mahasiswa STAIN Samarinda (kecuali mahasiswa passing out angkatan tahun 1995/1996 ke bawah). Alih status tersebut pada prinsipnya merupakan respons logis dan tuntutan pengembangan kelembagaan pendidikan tinggi Islam di Kalimantan Timur.

Perubahan status dari fakultas cabang menjadi STAIN memberikan

peluang strategis bagi STAIN Samarinda untuk mengembangkan

kebijakan-kebijakan dan aktivitas pendidikan tinggi yang dapat menjawab kebutuhan-kebutuhan daerah pada khususnya dan nasional pada umumnya. Hal ini dilakukan mengingat selama berstatus sebagai fakultas daerah atau cabang, lembaga tersebut cenderung terbatasi ruang geraknya dalam mengantisipasi berbagai tuntutan yang berkembang. Dalam banyak segi, kelembagaan fakultas cabang terkesan tidak memiliki otonomi yang penuh untuk meningkatkan mutu akademik, karena sebagian besar pengambilan kebijakan sangat ditentukan oleh IAIN Induk. Dengan alih status ini STAIN memiliki otonomi penuh baik dalam hal pengelolaan ketenagaan, keuangan, sarana dan prasarana serta dalam pengembangan akademiknya.

Pada periode alih status ini pimpinan STAIN dipercayakan kepada Drs. H. Nukthah Arfawie Kurde, SH. M.Hum yang sempat menjabat selama dua tahun, kemudian jabatan Ketua dipercayakan kepada Prof. Dr. Hj. Siti Muri’ah

Referensi

Dokumen terkait

Penggunaan utang yang tinggi bila dilihat dari sisi pajak pastikan akan menguntungkan bagi perusahaan karena akan berakibat pada pajak yang harus dibayar oleh

Baiknya pertumbuhan bibit tanaman karet tidak terlepas dari kandungan unsur hara N, P dan K pada formula 3 cukup tinggi sehingga dapat memberikan pengaruh terbaik

yang mana: ialah nisbah tabungan swasta per KDNK, St Pendt ialah kadar pertumbuhan pendapatan per kapita, NKt ialah nisbah kebergantungan nisbah penduduk kumpulan umur yang

Di era globalisasi dan modernisasi ini, kehidupan dari masa ke masa semakin mengalami perubahan yang sangat cepat, baik dari aspek dalam kehidupan manu- sia, pandangan hidup

Hasil: Dari 50 responden dalam penelitian ini, didapatkan hasil 18 responden (36%) mempunyai tingkat kesadaran terhadap kehamilan yang baik dan berpengaruh

Simpan di dalam bekas asal atau bekas lain yang diluluskan yang diperbuat daripada bahan yang sesuai, tutup ketat apabila tidak digunakan.. Peralatan elektrik dan lampu

Tahap Analisis, pada tahap ini karya TGKH Muhammad Zainuddin Abdul Madjid, dilakukan proses analisis dan prancangan untuk digitalisasi dalam bentuk ebuku Nadham

Kebudayaan merupakan salah satu hal dari berbagai hal yang kini menuai berbagai kontroversi antara bangsa satu dengan yang lain. Oleh karena itu, sebagai seorang