V. REGISTRASI LAHAN USAHA
4. Standar pemeliharaan tanaman
Sistem Penjaminan Mutu Pertanian Organik
xliii
1. Tujuan
Prosedur ini ditetapkan sebagai pedoman yang baik untuk: a) Meningkatkan produksi dan produktivitas tanaman
b) Meningkatkan efisiensi produksi
c) Mempertahankan kesuburan lahan, kelestarian lingkungan dan sistem produksi yang berkelanjutan d) Memberikan jaminan keamanan pangan terhadap konsumen
e) Meningkatkan daya saing dan peluang penerimaan pangan organik oleh pasar domestik maupun internasional
f) Meningkatkan kesejahteraan petani
2. Ruang lingkup
Prosedur ini meliputi penyulaman, pengguludan, pendangiran, pemangkasan, pemupukan susulan, pengairan dan pemasangan lanjaran/ajir/turus (untuk varietas buncis yang merambat) sesuai ketentuan Indonesia Good Agriculture Practices (Indo-GAP) dan Standar Nasionla Indonesia Sistem Pangan Organik.
3. Definisi
Penyulaman adalah penggantian benih yang baru pada tempat penanaman sebelumnya, dilakukan karena benih tidak tumbuh, pertumbuhannya terhambat atau karena terserang hama dan/atau penyakit bibit (lalat bibit, dumping-off).
Pengguludan adalah meninggikan guludan dengan tujuan untuk menguatkan tumbuhnya tanaman, pekerjaan tersebut disertai pendangiran.
Pendangiran adalah penggemburan tanah dengan pencangkulan ringan di sekitar tanaman, dengan tujuan untuk menggemburkan tanah dan pengendalian gulma.
Pemangkasan adalah memotong ujung tanaman, percabangan dengan tujuan untuk memperbanyak rantint-ranting agar diperoleh buah yang banyak. Pemangkasan dilakukan sebatas sulur.
Pemupukan susulan adalah pemberian pupuk organik setelah tanaman tumbuh dengan tujuan untuk menambah ketersediaan hara dalam tanah atau memenuhi kebutuhan hara tanaman secara foliar
feeding.
Pengairan adalah pemberian air pada media tanam dengan tujuan untuk menjaga kelembaban tanah dan ketersediaan unsur hara, dan memenuhi kebutuhan air pada organ tanaman untuk proses fisiologis.
4. Standar pemeliharaan tanaman
a) Benih buncis tumbuh setelah 5 hari setelah tanam, benih yang tidak tumbuh harus segera diganti (penyulaman) dengan benih yang baru. Penyulaman sebaiknya dilakukan pada saat tanaman berumur kurang dari 10 hari setelah tanam.
b) Pengguludan dilakukan pada saat tanaman berumur 20 dan 40 hari setelah tanam.
c) Pemangkasan sebatas (di atas) terbentuknya sulur, pelaksanaan dilakukan pada saat tanaman telah berumur 2 dan 5 minggu setelah tanam.
d) Pemupukan susulan menggunakan pupuk organik cair, dilakukan pada saat tanaman berumur 21 – 35 hari setelah tanam, dengan dosis 10 l/ha. Pemberian pupuk dapat dilakukan dengan menyiramkan di sekitar tanaman atau melalui foliar feeding.
e) Pengairan dilakukan apabila penanamannya pada musim kemarau, yaitu pada umur 1 – 15 hari setelah tanam. Pelaksanaannya dilakukan 2 kali sehari, (pagi dan sore) untuk sistem kocoran, sedangkan untuk pengairan sistem penggenangan dapat dilakukan 5 – 7 hari sekali (sesuai keadaan lahan). Apabila penanamannya dilakukan pada musim hujan, yang perlu diperhatikan adalah masalah pembuangan air. Kelebihan air dapat disalurkan melalui parit-parit yang telah dibuat diantara guludan yang dialirkan ke selokan keliling sebagai saluran pembuangan.
f) Sumber air:
• Berasal dari sumber mata air yang langsung atau dari sumber lain yang tidak terkontaminasi oleh bahan kimia sintetis dan cemaran lain yang membahayakan;
Sistem Penjaminan Mutu Pertanian Organik
xliv
• Air yang berasal selain sebagaimana dimaksud pada poin pertama harus telah mengalami perlakuan untuk mengurangi cemaran;
• Penggunaan air harus sesuai dengan prinsip konservasi.
g) Pemasangan lanjaran/turus/ajir, dilakuakn untuk tanaman buncis tipe merambat, Lanjaran dibuat dari bambu dengan ukuran panjang 2 m dan lebar 4 cm. Turus tersebut ditancapkan di dekat tanaman. Pemasangan turus dapat dilakukan bersamaan dengan peninggian guludan pada saat tanaman berumur 20 hari setelah tanam.
h) Pengendalian gulma secara fisik, mekanis atau dengan pemanasan (flame weeding). i) Pengelolaan Kesuburan Tanah
• Memelihara dan meningkatkan kesuburan dan aktivitas biologis tanah dengan cara penanaman kacang-kacangan (leguminoceae), pupuk hijau atau tanaman berakar dalam melalui program rotasi tahunan yang sesuai;
• Mencampur bahan organik ke dalam tanah baik dalam bentuk kompos maupun segar dari unit usaha budidaya. Produk samping peternakan, seperti kotoran ternak, boleh digunakan apabila berasal dari peternakan yang dibudidayakan secara organik;
• Untuk aktivasi kompos dapat menggunakan mikroorganisme atau bahan lain yang berbasis tanaman yang sesuai;
• Bahan biodinamik dari stone meal (debu atau bubuk karang tinggi mineral), kotoran hewan atau tanaman boleh digunakan untuk tujuan penyuburan, pembenahan dan aktivitas biologi tanah; • Sisa-sisa tanaman dan bahan lainnya harus dikomposkan dengan baik dan tidak boleh dibakar; j) Untuk menjaga kesuburan dan aktivitas biologi tanah, dilarang menggunakan pupuk kimia sintetis,
kotoran hewan secara langsung, kotoran manusia (tinja) dan kotoran babi;
Referensi
• Peraturan Menteri Pertanian No. 48/ Permentan/OT.140/10/2009 tentang pedoman budidaya buah dan sayur yang baik (Good Agriculture Practices For Fruit and Vegetables)
• Peraturan Menteri Pertanian Republik Indonesia Nomor 64/Permentan/Ot.140/5/ 2013 Tentang Sistem Pertanian Organik
• SNI 6729:2010 Sistem Pangan Organik
• SNI ISO 220002009 Sistem Manajemen Keamanan Pangan Persyaratan untuk Organisasi dalam Rantai Pangan
• Rahmat Rukmana, 1998. Bertanam Buncis. Kanisius.
• Rizqiani, N.F., Ambarwati, E. dan Yuwono, N.W., 2007. Pengaruh Dosis dan Frekuensi Pemberian Pupuk Organik Cair terhadap Pertumbuhan dan Hasil Buncis (Phaseolus vulgaris L.) Dataran Rendah. Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan Vol. 7 (1).
Sistem Penjaminan Mutu Pertanian Organik
xlv
Proses alur pemeliharaan tanaman
Gambar 7. Proses alur pemeliharaan tanaman pada budidaya buncis organik
Standar Operasional Prosedur Pengelolaan Kesuburan Tanah Pada Budidaya Buncis Organik
No. Dokumen : 05 Tanggal Pembuatan : 6 April 2015
Status Revisi : - Halaman : 1 dari 3
Sistem Penjaminan Mutu Pertanian Organik
xlvi
1. Tujuan
Prosedur ini ditetapkan sebagai pedoman yang baik untuk: a) Meningkatkan produksi dan produktivitas tanaman
b) Meningkatkan efisiensi produksi
c) Mempertahankan kesuburan lahan, kelestarian lingkungan dan sistem produksi yang berkelanjutan d) Memberikan jaminan keamanan pangan terhadap konsumen
e) Meningkatkan daya saing dan peluang penerimaan pangan organik oleh pasar domestik maupun internasional
f) Meningkatkan kesejahteraan petani
2. Ruang lingkup
Prosedur ini meliputi pembersihan gulma, pengolahan lahan, pengapuran dan pemupukan mengacu kepada ketentuan Indonesia Good Agriculture Practices (Indo-GAP) dan Standar Nasionla Indonesia Sistem Pangan Organik.
3. Definisi
Pengolahan lahan adalah semua pekerjaan yang ditujukan pada tanah untuk menciptakan media tanam yang ideal, sehingga tanaman dapat tumbuh dengan baik. Pembersihan rumput-rumputan, penggemburan tanah, dan pembuatan parit-parit drainase adalah termasuk pengolahan tanah. Pupuk organik adalah bahan yang sebagian besar atau seluruhnya terdiri bahan organik yang berasal dari
sisa tanaman, hijauan tanaman, kotoran hewan (padat dan cair) kecuali yang berasal dari factory
farming, berbentuk padat atau cair yang telah mengalami proses dekomposisi dan digunakan untuk
memasok hara tanaman dan memperbaiki lingkungan tumbuh tanaman.
4. Standar pengelolaan kesuburan tanah
a) Pembersihan rumput-rumputan (gulma) bermaksud agar tidak terjadi persaingan makanan dengan tanaman pokoknya. Cara membersihkannya dapat secara manual, yaitu dengan jalan mencabut gulma dengan tangan atau secara mekanis (menggunakan cangkul, gathul dll).
b) Tanah dibajak dan dicangkul 1 – 2 kali sedalam 20 – 30 cm.
c) Untuk tanah-tanah berat pencangkulan dilakukan dua kali dengan jangka waktu 2 – 3 minggu, untuk tanah-tanah ringan pencangkulan cukup dilakukan sekali.
d) Pembuatan bedengan, ukuran panjang 5 m, lebar 1 m dan tinggi 0,20 m. Jarak antar bedengan 40 – 50 cm, sebagai jalan juga untuk saluran pembuangan air (drainase).
e) Untuk areal yang tidak begitu luas, misalnya tanah pekarangan, tidak dibuat bedengan tetapi menggunakan guludan tanah selebar 20 cm, panjang 5 m, tinggi 10-15 cm dan jarak antar guludan 70 cm.
f) Untuk menaikkan pH tanah dilakukan pengapuran, menggunakan batu kapur kalsit, gips, dolomite, atau zeolit. Dosis untuk menaikan pH sebesar 0,1 sebesar 480 kg/ha. Pemberian kapur sebaiknya dilakukan 2 – 3 minggu sebelum penanaman, dengan cara tanah digemburkan dengan mencakulnya dan kapur disebar merata. Tanah dicangkul kembali agar kapur dapat bercampur dengan tanah secara merata. g) Pemupukan untuk meningkatkan kesuburan tanah dapat dilakukan dengan pemberian pupuk kandang
atau kompos sebanyak 30 – 40 kg/10 m2.
Referensi
• Peraturan Menteri Pertanian No. 48/ Permentan/OT.140/10/2009 tentang pedoman budidaya buah dan sayur yang baik (Good Agriculture Practices For Fruit and Vegetables)
• Peraturan Menteri Pertanian Republik Indonesia Nomor 64/Permentan/Ot.140/5/ 2013 Tentang Sistem Pertanian Organik
• SNI 6729:2010 Sistem Pangan Organik
• SNI ISO 220002009 Sistem Manajemen Keamanan Pangan Persyaratan untuk Organisasi dalam Rantai Pangan
• Rahmat Rukmana, 1998. Bertanam Buncis. Kanisius
Sistem Penjaminan Mutu Pertanian Organik
xlvii
Sistem Penjaminan Mutu Pertanian Organik
xlviii
Proses alur pengelolaan kesuburan tanah
Gambar 8. Proses alur pengelolaan kesuburan tanah pada budidaya buncis organik
Standar Operasional Prosedur Pengendalian Organisme Pengganggu Tanaman Pada Budidaya Buncis Organik
No. Dokumen : 06 Tanggal Pembuatan : 7 April 2015
Status Revisi : - Halaman : 1 dari 3
Sistem Penjaminan Mutu Pertanian Organik
xlix
1. Tujuan
Prosedur ini ditetapkan sebagai pedoman yang baik untuk: a) Meningkatkan produksi dan produktivitas tanaman
b) Meningkatkan efisiensi produksi
c) Mempertahankan kesuburan lahan, kelestarian lingkungan dan sistem produksi yang berkelanjutan d) Memberikan jaminan keamanan pangan terhadap konsumen
e) Meningkatkan daya saing dan peluang penerimaan pangan organik oleh pasar domestik maupun internasional
f) Meningkatkan kesejahteraan petani
2. Ruang lingkup
Prosedur ini meliputi pengendalian hama penyakit menggunakan pestisida organik/botanik, sesuai ketentuan Indonesia Good Agriculture Practices (Indo-GAP) dan Standar Nasionla Indonesia Sistem Pangan Organik.
3. Definisi
Perlindungan tanaman adalah segala upaya untuk mencegah kerugian pada budidaya tanaman yang diakibatkan oleh organisme pengganggu tanaman.
Pengendalian Hama Terpadu (PHT) adalah upaya pengendalian populasi atau tingkat serangan organisme pengganggu tumbuhan dengan menggunakan teknik pengendalian yang dikembangkan dalam suatu kesatuan untuk mencegah timbulnya kerugian secara ekonomis dan kerusakan lingkungan hidup.
Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) adalah semua organisme yang dapat merusak, mengganggu kehidupan, atau menyebabkan kematian tumbuhan.
Pestisida organik/botanik adalah senyawa atau komponen bioaktif asal tanaman atau dari bahan organik lainnya, zat pengatur tumbuh dan perangsang tumbuh, bahan lain, serta organisme renik, atau virus yang digunakan untuk melakukan perlindungan tanaman.
Agens Hayati adalah setiap organisme yang dalam perkembangannya dapat dipergunakan untuk keperluan pengendalian hama dan penyakit atau organisme pengganggu tanaman dalam proses produksi, pengolahan hasil pertanian dan berbagai keperluannya.
4. Standar pemeliharaan tanaman
Pengendalian Organisme Penggangu Tanaman dan Pemeliharaan Tanaman
a) Tidak menggunakan bahan kimia sintetis dan organisme atau produk hasil rekayasa genetika; b) Tidak melakukan proses pembakaran dalam pengendalian gulma;
c) Menerapkan sistem pengendalian hama dan penyakit yang terpadu sehingga dapat menekan kerugian akibat organisme pengganggu tanaman;
d) Aplikasi pestisida organik (format asap cair) untuk mengendalikan hama dan penyakit tanaman secara terjadwal (3, 5 atau 7 hari) sekali tergantung intensitas serangan, dengan konsentrasi 12,5%
(v/v).
e) Organisme pengganggu tanaman harus dikendalikan dengan salah satu atau kombinasi dari cara seperti berikut:
1) pemilihan varietas yang sesuai;
2) program rotasi/pergiliran tanaman yang sesuai; 3) pengolahan tanah secara mekanik;
4) penggunaan tanaman perangkap;
5) penggunaan pupuk hijau dan sisa potongan tanaman;
6) pengendalian mekanis seperti pengunaan perangkap, penghalang, cahaya dan suara;
7) pelestarian dan pemanfaatan musuh alami (parasit, predator dan patogen serangga) melalui pelepasan musuh alami dan penyediaan habitat yang cocok seperti: pembuatan pagar hidup dan tempat berlindung musuh alami, zona penyangga ekologi yang menjaga vegetasi asli untuk mengembangkan populasi musuh alami penyangga ekologi;
f) Jika terdapat kasus yang membahayakan atau ancaman yang serius terhadap tanaman dimana tindakan pencegahan di atas tidak efektif, maka dapat digunakan bahan sebagai berikut:
Sistem Penjaminan Mutu Pertanian Organik l 1) Pestisida nabati (kecuali nikotin yang diisolasi dari tembakau);
2) Tembakau (leaf tea) yang diekstrak dengan air dan langsung digunakan; 3) Propolis; 4) Minyak tumbuhan dan binatang;
5) Rumput laut, tepung rumput laut/agar-agar, ekstrak rumput laut, garam laut dari air laut 6) Gelatin;
7) Lecitin; 8) Casein;
9) Asam alami (vinegar);
10) Produk fermentasi dari aspergillus; 11) Ekstrak jamur;
12) Ekstrak Chlorella;
13) Senyawa anorganik (campuran bordeaux, tembaga hidroksida, tembaga oksiklorida); 14) Campuran burgundy;
15) Garam tembaga; 16) Belerang (sulfur);
17) Bubuk mineral (stone meal, silikat);
18) Tanah yang kaya diatom (diatomaceous earth); 19) Silikat, clay (bentonit);
20) Natrium silikat; 21) Natrium bikarbonat; 22) Kalium permanganate; 23) Minyak parafin;
24) Mikroorganisme (bakteri, virus, jamur) misalnya Bacillus thuringiensis; 25) Karbondioksida dan gas nitrogen;
26) Sabun kalium (sabun lembut); 27) Etil alkohol;
28) Serangga jantan yang telah disterilisasi; 29) Preparat pheromone dan atraktan nabati;
30) Obat-obatan jenis metaldehyde yang berisi penangkal untuk spesies hewan besar dan sejauh dapat digunakan untuk perangkap.
Referensi
• Priyadi, S., 2001. Komponen Aktif daun Mimba (Azadirachta indica A. Juss), Ekstraksi dan Penghambatan Aktivitas Makan terhadap Plutella xylostella. Agrosains-Berkala Penelitian Pasca Sarjana Ilmu-Ilmu Pertanian-Universitas Gadjah Mada, 14(3).
• Priyadi, S., 2008. Efikasi Komponen Bio-Aktif Pestisidal Asam Hidroksinamat Asap Cair Sampah Organik terhadap Tryporiza incertulas. Agrineca Jurnal Ilmiah Fakultas Pertanian Universitas Tunas Pembangunan Surakarta, 8(2).
• Priyadi, S., 2014. Agribisnis Pertanian Organik Menggunakan Pestisida Ramah Lingkungan Format Asap Cair. Pendampingan Petani pada Budidaya Tanaman Cabe Merah Besar.
• Peraturan Menteri Pertanian Republik Indonesia Nomor 64/Permentan/Ot.140/5/ 2013 Tentang Sistem Pertanian Organik
• Peraturan Menteri Pertanian No. 48/ Permentan/OT.140/10/2009 tentang pedoman budidaya buah dan sayur yang baik (Good Agriculture Practices For Fruit and Vegetables).
• SNI 6729:2010 Sistem Pangan Organik
• SNI ISO 220002009 Sistem Manajemen Keamanan Pangan Persyarata untuk Organisasi dalam Rantai Pangan
• Rahmat Rukmana, 1998. Bertanam Buncis. Kanisius.
Sistem Penjaminan Mutu Pertanian Organik li
Proses alur
Gambar 9. Proses alur Pengendalian OPT pada budidaya buncis organik
Standar Operasional Prosedur Panen dan Pascapanen Pada Budidaya Buncis Organik
No. Dokumen : 07 Tanggal Pembuatan : 7 April 2015
Status Revisi : - Halaman : 1 dari 3
1. Tujuan
Prosedur ini ditetapkan sebagai pedoman yang baik untuk: a) Meningkatkan produksi dan produktivitas tanaman
Sistem Penjaminan Mutu Pertanian Organik
lii
b) Meningkatkan efisiensi produksi
c) Mempertahankan kesuburan lahan, kelestarian lingkungan dan sistem produksi yang berkelanjutan d) Memberikan jaminan keamanan pangan terhadap konsumen
e) Meningkatkan daya saing dan peluang penerimaan pangan organik oleh pasar domestik maupun internasional
f) Meningkatkan kesejahteraan petani
2. Ruang lingkup
Prosedur ini meliputi ciri dan umur tanaman siap panen, cara penen, periode panen dan estimasi hasil, sesuai ketentuan Indonesia Good Agriculture Practices (Indo-GAP) dan Standar Nasionla Indonesia Sistem Pangan Organik.
3. Definisi
Panen adalah serangkaian kegiatan pengambilan hasil budidaya tanaman yang menandai berakhirnya kegiatan on-farm.
Pascapanen adalah tahapan penanganan hasil budidaya segera setelah pemanenan, meliputi: pengeringan, pendinginan, pembersihan, sortasi, penyimpanan, dan pengemasan.
4. Standar panen dan pascapanen Ciri