• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV STRATEGI WORLD WIDE FUND FOR NATURE DALAM

A. Cooperation With Government

Tujuannya adalah untuk memastikan bahwa pemerintah menerapkan kebijakan yang efektif yang akan bermanfaat bagi semua masyarakat khususnya masyarakat yang kurang mampu dalam mencapai kehidupan mereka di bidang kesehatan, pendidikan, produksi dll.41

b. Scaling up via operational expansion,42 yaitu strategi yang bertujuan meningkatkan dampak kegiatan terhadap pembangunan, dengan memperluas program melalui ekspansi, yang terbagi menjadi 4 model, diantaranya: 1)

“ekspansi geografis” yaitu dengan pindah ke wilayah atau negara baru, 2)

“ekspansi horizontal” yaitu dengan menambahkan kegiatan sektoral tambahan untuk program yang ada, 3) “ekspansi vertikal” yaitu dengan menambahkan kegiatan hulu atau hilir untuk program yang ada, dan 4) ekspansi dengan kombinasi dari ketiganya.43

38 Harold K. Jacobson, Networks of Interdependence International Organizations and the Global Political System 2nd ed., (New York: Alfred A. Knopf, 1984), 82-83.

39 Michael Edwards dan David Hulme, Scaling up NGO impact on development: learning from experience, dalam buku Deborah Eade dan Jenny Pearce, Development, NGos, and Civil Society, (Oxford: Oxfam GB, 2000), 44-61.

40 Edwards dan Hulme, Scaling up NGO, 57.

41 Michael Edwards dan David Hulme, Making a Difference: NGOs and Development in a Changing World, (London: Earthscan, 1992), 17.

42 Edwards dan Hulme, Scaling up NGO, 58.

43 Edwards dan Hulme, Making a Difference, 19-20.

c. Scaling up via lobbying and advocacy. NGO aktif dalam kegiatan nasional dan internasional. Dalam kegiatan tersebut, NGO melakukan advokasi dengan cara menyampaikan pendapat atau merekomendasikan ide, untuk menarik perhatian masyarakat atau pihak lain tentang suatu isu penting, dan mengarahkan para pengambil keputusan untuk mendapatkan solusi atas masalah tersebut.44

d. Scaling up via supporting local initiatives. NGO membuat suatu jaringan atau networking untuk bekerjasama dengan inisiatif lokal. Networking adalah alat komunikasi dan mekanisme yang menghubungkan berbagai individu atau organisasi dengan tujuan yang sama.45

Menurut Bob Sugeng Hadiwinata, berdasarkan asal mula pembentukannya, NGO dapat diklasifikasikan sebagai berikut :

a. “Poverty Alleviation NGO.” NGO ini muncul sebagai aksi terhadap ketidakpuasan program pemerintah dalam mengentaskan kemiskinan. Tujuan utamanya adalah memberantas kemiskinan dengan membuat program-program pembangunan berdimensi swadaya dan melakukan aktivitas charity.

b. “Emancipatory NGO.” NGO ini muncul untuk membangkitkan kesadaran dalam menyelesaikan struktur yang menempatkan lingkungan, perempuan dan anak sebagai korban eksploitasi. NGO ini berdiri dengan tujuan meningkatkan posisi tawar isu tertentu dalam masyarakat agar tidak menjadi sumber eksploitasi, serta melakukan aktivitas melalui advokasi dan kampanye untuk memperkenalkan isu-isu global yang menjadi fokus mereka.

c. “Anti Authoritarian NGO.” NGO ini muncul sebagai aksi terhadap

44 Edwards dan Hulme, Scaling up NGO, 59.

45 Edwards dan Hulme, Scaling up NGO, 60

ketimpangan politik yang dianggap kurang kondusif bagi terciptanya demokrasi, kepastian hukum, dan perlindungan hak asasi manusia. Tujuanya adalah untuk mengupayakan tumbuhnya demokrasi di suatu negara melalui berbagai strategi yang meliputi advokasi, pelatihan, pembentukan kader, diskusi, dan lain-lain.46

3. Konsep Sustainable Development

Istilah Sustainable development (pembangunan berkelanjutan) mulai digunakan sejak tahun 1987 oleh Perserikatan Bangsa Bangsa melalui pembentukan World Commission on Environment and Development (WCED) yang dipelopori oleh Gro Harlem Brundtland. Brundtland kemudian memperkenalkan penggunaan istilah “sustainable development” dalam laporannya berjudul "Our Common Future" atau yang dikenal sebagai

"Brundtland Report.” 47

Sustainable development adalah pembangunan yang memenuhi kebutuhan masa kini tanpa mengorbankan kemampuan generasi mendatang untuk memenuhi kebutuhan mereka sendiri. Sustainable development merupakan suatu visi pembangunan yang meliputi populasi, spesies hewan dan tumbuhan, ekosistem, sumber daya alam, baik air, udara, maupun energy, serta upaya memerangi kemiskinan, tercapainya kesetaraan gender, hak asasi manusia, pendidikan, kesehatan, keamanan manusia, dan lain-lain.48

46 Bob S. Hadiwinata, “Dilema Pemberdayaan: LSM, Pemerintah dan Masyarakat Sipil”, Jurnal Potensia, Vol.VIII, No.20, TB:1997, L:10-11.

47 Susan Baker, Routledge Introductions to Environment Series: Sustainable Development, (New York: Routledge 270 Madison Ave, 2006), 1-13.

48 Monique Perrot-Lanaud, et al., UNESCO and Sustainable Development, (Paris:

UNESCO, 2005), 2, [dokumen on-line]; tersedia di

Secara khusus, Brundtland menguraikan konsep sustainable development kedalam beberapa bagian, diantaranya;49 (a) kerusakan lingkungan berkaitan dengan faktor-faktor ekonomi, sosial, dan politik, (b) sustainable development merupakan integrasi dari tiga pilar, yakni pertumbuhan ekonomi, kesejahteraan sosial, dan perlindungan lingkungan, (c) sustainable development membutuhkan sikap positif terhadap pengembangan, perlindungan lingkungan, dan pembangunan ekonomi dengan satu tujuan yang dapat saling mendukung, (d) sustainable development berpendapat bahwa teknologi dan organisasi sosial dapat membuka kemungkinan dalam pengembangan lingkungan, (e) sustainable development mengakui bahwa tanggung jawab generasi sekarang untuk generasi mendatang, (f) sustainable development adalah sebuah panggilan untuk sistem baru pemerintahan yang berasas lingkungan, di semua tingkatan, dari lokal menuju global, dan (g) sustainable development telah mencapai status otoriter dalam wacana lingkungan dalam pembangunan internasional dan kerangka hukum.

F. Metode Penelitian

Dalam penelitian ini, penulis menggunakan metode penelitian kualitatif. yaitu metode yang berfokus pada penjelasan deskriptif. Menurut John Creswell, penelitian kualitatif merupakan metode-metode untuk mengeksplorasi dan memahami makna dari sejumlah individu atau kelompok orang yang dianggap berasal dari masalah sosial atau kemanusiaan. Proses penelitian kualitatif ini melibatkan hal-hal seperti

http://unesdoc.unesco.org/images/0013/001393/139369e.pdf; Internet; diunduh pada 15 Agustus 2020.

49 Baker, Routledge Introductions, 25.

mengajukan pertanyaan dan prosedur, mengumpulkan data yang spesifik, menganalisis data serta menafsirkan data.50

Creswell menerangakan bahwa terdapat beberapa tahapan penelitian kualitatif.

Pertama, penelitian dimulai dengan mengidentifikasi masalah yang akan menjadi objek penelitian. Identifikasi masalah berkaitan dengan spesifikasi isu yang akan diteliti yang sekaligus menjelaskan bahwa isu tersebut layak diteliti. Kedua, pembahasan atau penelusuran kepustakaan (literature review). Pada bagian ini, peneliti mencari bahan bacaan yang membahas mengenai topik yang akan diteliti melalui jurnal, buku, dan sumber bacaan lainnya. Ketiga, menentukan tujuan dari penelitian. Keempat, pengumpulan data. Kelima, menganalisis data yang telah tersedia, yang kemudian akan memunculkan ide atau berkembang menjadi tema dan menghasilkan gagasan atau teori baru. Dan terakhir adalah laporan hasil penelitian.51

Berbagai pendekatan dapat dilakukan dalam metode kualitatif diantaranya:

biografi, fenomenologi, grounded theory study, studi kasus dan etnografi. Dalam penelitian ini, penulis menggunakan pendekatan studi kasus. Pendekatan tersebut berfokus terhadap suatu fenomena yang sedang terjadi, dengan mengambil batasan tertentu dalam penelitian, seperti fokus substansi penelitian. Kemudian mengumpulkan data secara terinci dan mendalam dengan menggunakan berbagai prosedur pengumpulan data.52 Dalam penelitian kualitatif, pengumpulan data dapat dilakukan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi.

Adapun dalam penelitian ini, teknik pengumpulan dilakukan melalui

50 John W. Creswell dan Timothy C. Guetterman, Research Planning, Conducting, and Evaluating Quantitative and Qualitative Research, 6th ed., (New Jersey : Pearson, 2019), 254-256

51 John W. Creswell, Educational Research. Planning, Conducting, and Evaluating Quantitative and Qualitative Research, 4th ed., (Boston: Pearson Inc, 2011), 57.

52 John W. Creswell, Qualitative Inquiry and Research Design: Choosing Among Five Approaches, 2nd ed., (USA: Sage Publications, 2007), 53-76.

dokumentasi, dari berbagai artikel, jurnal ilmiah, buku, dokumen-dokumen resmi dan media elektronik yang relevan dengan topik yang akan menunjang penelitian. Penulis menggunakan sumber yang berasal dari perpustakaan FISIP Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, kemudian e-resource seperti researchgate, website resmi pemerintahan, website Organisasi Internasional seperti World Wildlife Fund (WWF) dan lain-lain. Selain data sekunder, peneliti juga akan menggunakan data primer yaitu dengan melakukan wawancara.

Wawancara dilakukan dengan pihak-pihak yang terkait isu dalam penelitian ini untuk memperkaya wawasan dan analisis mengenai upaya WWF dalam konservasi dugong dan lamun di Indonesia. Narasumber dalam penelitian ini, yaitu Bapak Ir.

Andi Rusandi selaku direktur Konservasi dan Keanekaragaman Hayati Laut (KKHL) KKP, Bapak Muh. Firdaus Agung Kunto Kurniawan selaku koordinator kelompok konvensi dan jejaring konservasi KKP dan Bapak Hepy Kamil dari Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kabupaten Kotawaringin Barat. Seluruh narasumber tersebut dipilih karena memiliki kapasitas sebagai pemangku kepentingan yang terlibat secara langsung dalam upaya konservasi dugong dan lamun di Indonesia melalui kerjasama secara multipihak termasuk dengan WWF. Dengan menggunakan data-data tersebut, selanjutnya penulis akan mengolah dan menganalisis data hingga menghasilkan jawaban dari pertanyaan penelitian yang diajukan pada bab I.

G. Sistematika Penulisan

Sistematika penulisan penelitian ini disusun dalam lima bab dengan berbagai sub bab sebagai berikut

BAB I : PENDAHULUAN.

Pada bab I, merupakan pendahuluan memaparkan pernyataan masalah, kemudian pertanyaan penelitian, tujuan dan manfaat penelitian, tinjauan pustaka, kerangka pemikiran, dan sistematika penulisan.

BAB II : WORLD WIDE FUND FOR NATURE (WWF)

Bab II akan memaparkan tentang organisasi WWF. Awal mula terbentuknya organisasi WWF, perkembangan WWF di Indonesia hingga ruang lingkup kerja yang menjadi perhatian utama WWF Indonesia termasuk didalamnya konservasi dugong dan lamun.

BAB III : KONDISI DUGONG DAN LAMUN DI INDONESIA

Bab III akan memaparkan mengenai kondisi dugong dan lamun di Indonesia. Dalam bab ini juga akan dijelaskan mengenai pentingnya konservasi dugong dan lamun, dan upaya pemerintah dalam mengatasi masalah dugong dan lamun di Indonesia.

BAB IV : UPAYA WWF DALAM KONSERVASI DUGONG DAN LAMUN DI INDONESIA PERIODE 2016 – 2019

Bab IV merupakan hasil penelitian dan jawaban yang diajukan pada bab I.

Bab ini akan menjelaskan mengenai upaya yang dilakukan WWF dalam konservasi Dugong dan Lamun di Indonesia dari tahun 2016 sampai dengan 2019.

BAB V : PENUTUP

Bab V merupakan bab penutup, berisi kesimpulan dari pembahasan penelitian dan saran pada penelitian ini.

26 BAB II

WORLD WIDE FUND FOR NATURE (WWF)

Bab ini akan menjelaskan organisasi internasional World Wide Fund For Nature (WWF) yang terdiri dari sub-bab, yaitu sejarah berdirinya WWF dan perkembangan WWF di Indonesia.

A. Sejarah berdirinya World Wide Fund for Nature (WWF)

Sejarah berdirinya World Wide Fund for Nature (WWF) dimulai pada tahun 1961. Seorang pakar biologi berkebangsaan Inggris bernama Sir Julian Huxley yang pada saat itu menjabat sebagai general director of United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO), membuat tulisan yang dimuat pada surat kabar the observer Inggris, tentang kondisi satwa liar di Afrika yang terancam punah akibat perburuan. Tulisan Huxley kemudian ditanggapi oleh seorang pengusaha bernama Victor Stolan. Stolan menyarankan agar dibentuknya sebuah organisasi internasional untuk mengumpulkan dana bagi pelestarian lingkungan.53

Huxley kemudian menghubungi rekannya Max Nicholson, seorang ornitologis yang saat itu menjabat sebagai Director of Britain's Nature Conservancy. Nicholson kemudian mengundang sejumlah ilmuwan dari berbagai disiplin ilmu salah satunya yaitu Peter Scott yang saat itu menjabat sebagai wakil presiden International Union for Conservation of Nature (IUCN), untuk mendirikan sebuah organisasi penggalangan dana untuk mendukung konservasi

53 J. Baird Callicott dan Robert Frodeman, ed., Encyclopedia of Environmental Ethics and Philosophy, (USA: GALE CENGAGE Learning, 2009), 412-413.

yang berdasarkan ilmu pengetahuan ilmiah sebagai projek organisasi non-pemerintah.54 Akhirnya, pada tanggal 29 April 1961 mereka mendeklarasikan Morges Manifesto55 dan menandai langkah awal berdirinya WWF dengan nama organisasi World’s Wild Life.56

WWF kemudian memutuskan untuk memulai operasinya di Swiss dan terdaftar di bawah hukum Swiss pada 11 September 1961. Peter Scott yang saat itu menjabat sebagai wakil presiden International Union for Conservation of Nature (IUCN), menjadi ketua WWF pertama dengan sekretariat di Morges, yang saat ini dikenal sebagai WWF Internasional atau WWF Global,57 dan Pangeran H.R.H Bernhard dari Belanda menjadi Presiden pertama organisasi WWF.58 Pada saat yang bersamaan, seekor panda bernama Chi-Chi hadir di Kebun Binatang London. Kehadiran panda tersebut kemudian menjadi momentum dan diangkat sebagai simbol organisasi WWF.

WWF selanjutnya memperluas jangkauannya secara global dengan membuka jaringan lintas benua dan negara. Pendekatan ini dianggap paling efisien oleh para pendiri WWF dalam upaya konservasi, yaitu dengan mendirikan kantor cabang di berbagai negara. WWF membuka kantor cabang pertama di Inggris pada tanggal 23 November dan diikuti oleh Amerika Serikat pada tanggal

54 Callicott dan Frodeman, ed., Encyclopedia, 412-413.

55 “Deklarasi Morges Manifesto”, WWF [dokumen on-line] tersedia di https://wwfeu.awsassets.panda.org/downloads/morgesmanifesto.pdf; Internet; diunduh pada 13 September 2020.

56 WWF Global, “WWF in the 60's”, WWF Global [artikel on-line]; tersedia di http://wwf.panda.org/whoweare/history/sixties/; Internet; diakses pada 13 September 2020.

57 Callicott dan Frodeman, ed., Encyclopedia, 412-413.

58 WWF, History, [artikel on-line]; tersedia di https://www.worldwildlife.org/about/history;

internet; diakses pada 13 September 2020.

1 Desember 1961.59 WWF terus aktif menekankan pentingnya pelestarian alam dengan mengeluarkan berbagai imbauan nasional, hingga akhirnya mengundang simpati masyarakat dunia, dan memberikan dana sebagai wujud dukungan kepada WWF.

WWF juga memperluas jaringannya melalui kerjasama dengan berbagai organisasi non-pemerintah dan berkontribusi dalam bidang ilmu pengetahuan.

Kontribusi pertama WWF adalah mendukung program konservasi IUCN untuk pembentukan cagar alam, melalui the International Council for Bird Preservation (ICBP) yang saat ini dikenal dengan Birdlife International. Pada era 1980-an, WWF memperluas jaringan kerja dengan berbagai organisasi serupa bertaraf internasional, seperti badan-badan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yaitu United Nations Environment Program (UNEP) melalui IUCN. Strategi ini memungkinkan penyebarluasan kepedulian secara global dan holistik. WWF mendukung IUCN hingga menerbitkan terobosan strategi konservasi dunia pada 1980, bahwa umat manusia ada sebagai bagian dari alam dan tidak memiliki masa depan kecuali dengan alam, sehingga sumber daya alam perlu untuk dilestarikan.60

Pada tahun 1986 WWF kemudian mengubah nama organisasi dari “World‟s Wild Life” menjadi “World Wide Fund for Nature.” Perubahan ini dilakukan karena nama sebelumnya dianggap kurang mencerminkan ruang lingkup aktivitas organisasi yang telah meluas. Dalam perkembangannya, pada tahun 1990-an,

59 WWF Global, “WWF in the 60's”, WWF Global [artikel on-line]; tersedia di http://wwf.panda.org/whoweare/history/sixties/; Internet; diakses pada 13 September 2020.

60 WWF Global, “WWF in the 60's”, WWF Global [artikel on-line]; tersedia di http://wwf.panda.org/whoweare/history/sixties/; Internet; diakses pada 13 September 2020.

WWF memperluas jangkauannya dalam kerjasama global untuk mempromosikan pengelolaan sumber daya berkelanjutan. WWF mulai terlibat dengan mitra baru, seperti Global Environment Facility (GEF) dan World Bank.61 Dan pada tahun 2001, WWF Internasional menyepakati penggunaan akronim asli organisasi yaitu

“WWF” yang diadopsi pada tahun 1961.62

Misi WWF adalah untuk melestarikan alam dan mengurangi ancaman paling mendesak bagi keanekaragaman hayati di Bumi. Adapun visi WWF adalah membangun masa depan di mana orang hidup selaras dengan alam.63 WWF bekerja dengan memfokuskan upayanya dalam enam bidang, yaitu; Iklim, untuk menciptakan dunia yang tahan terhadap perubahan iklim hingga nol karbon, yang didukung oleh energi terbarukan. Pangan, yaitu mendorong sistem pangan yang berkelanjutan untuk melestarikan alam dan memberi makan umat manusia.

Hutan, melestarikan hutan yang sangat penting di dunia untuk mempertahankan keragaman yang ada di alam, dan untuk memberi manfaat bagi iklim dunia serta dapat mendukung kesejahteraan manusia. Air segar, agar keamanan air untuk manusia dan alam tetap terjamin. Laut, dengan membangun ketahanan laut untuk melindungi alam dan mengamankan kebutuhan manusia.

Margasatwa, untuk memastikan kondisi spesies paling ikonik di dunia, termasuk

61 Rob Soutter, ed., et al, WWF 50 Years of Conservation, (Gland: WWF Global, 2011), 9.

62 Callicott dan Frodeman, ed., Encyclopedia, 413

63 WWF, “WWF Vission and Mission”, [artikel on-line]; tersedia di https://help.worldwildlife.org/hc/enus/articles/360007905494-WWF-s-Mission-Vision; Internet;

diakses pada 18 September 2020.

harimau, badak, dan gajah agar aman dari ancaman kepunahan dan pemulihan habitat di alam liar.64

WWF bekerja untuk memastikan bahwa sumber daya alam yang dibutuhkan untuk hidup, seperti air dan udara harus dikelola secara berkelanjutan dan adil.65 Selain itu, WWF juga bertujuan untuk melakukan konservasi flora, fauna, hutan, air serta sumber daya alam dengan cara pengelolaan lahan, penelitian, edukasi, memberikan informasi, berkoordinasi dan bekerjasama dengan berbagai pihak.66

Untuk mencapai misi tersebut, WWF memfokuskan upayanya pada dua bidang, yaitu biodiversity atau keanekaragaman hayati dan footprint atau jejak ekologi manusia, dengan menggunakan pendekatan yang inovatif, kolaboratif, dan berbasis sains. Untuk menyelamatkan keanekaragaman hayati, strategi WWF fokus pada pelestarian habitat dan spesies yang terancam, sehingga sangat penting untuk dilestarikan, sedangkan footprint adalah untuk mengurangi dampak negatif dari aktivitas manusia.67

Memasuki abad ke-XX, WWF memiliki tujuan untuk melakukan perubahan pada skala nasional yang mengarah pada konservasi abadi, pembangunan berkelanjutan dan gaya hidup yang berkelanjutan.68 WWF saat ini telah menjadi organisasi pelestarian lingkungan independen terbesar dengan wilayah jangkauan operasi di seluruh dunia. WWF memiliki jaringan global yang terdiri dari 27

64 WWF, [artikel on-line]; tersedia di https://www.worldwildlife.org/; Internet; diakses pada 15 September 2020.

65 WWF Global, “What does WWF do?”, WWF Global [artikel on-line]; tersedia di http://wwf.panda.org/what_we_do/; Internet; diakses 15 September 2020.

66 Callicott dan Frodeman, ed., Encyclopedia, 413.

67 WWF Global, “How We Work” [artikel on-line] tersedia di https://wwf.panda.org//howwework/; Internet; diakses pada 18 September 2020.

68 Soutter, ed., et al, WWF 50 Years of Conservation, 9

organisasi nasional, 22 kantor program, dan lima organisasi afiliasi. Sejak berdiri pada 1961 WWF telah mempekerjakan lebih dari 5.000 staf dan memiliki lebih dari 5 juta pendukung di seluruh dunia. WWF juga telah menginvestasikan sekitar US $10 miliar bagi lebih dari 13.000 proyek konservasi yang tersebar di lebih dari 150 negara.69

Sejak tahun 2008 WWF telah menjadikan Indonesia sebagai salah satu fokus kawasan konservasi keanekaragaman hayati. Dalam 13 Inisiatif Global, WWF menjadikan Indonesia sebagai kawasan prioritas konservasi strategis. Dua dari 13 inisiatif yang terletak di Indonesia yaitu Coral Triangle dan Heart of Borneo (HoB). Kemudian, WWF pada tahun 2009 juga menjadikan Indonesia sebagai salah satu wilayah prioritas target konservasi. WWF berupaya melindungi hutan Sumatera yang tersisa untuk membangun kembali konektivitas antara hutan dan habitat. Hutan Sumatra merupakan rumah bagi harimau sumatera, badak, orang utan dan gajah asia, yang semuanya adalah spesies prioritas WWF. Hutan yang masih hidup berada diatas tanah gambut yang kaya akan karbon sehingga harus dilindungi untuk menghindari emisi karbon yang signifikan dan semakin memperburuk perubahan iklim.70

Dalam rencana strategis 2014-2018, WWF berupaya untuk mencapai tujuan konservasi, diantaranya dengan; (1) mendukung agenda pembangunan berkelanjutan di Indonesia baik secara nasional dan daerah (2) mengubah

69 WWF-INT, Annual Review 2019, (Gland: WWF Global, 2020), 8-9 [dokumen on-line];

tersedia di https://wwfint.awsassets.panda.org/downloads/wwfintlannualreview2019.pdf; internet;

diunduh pada 18 September 2020.

70 WWF International, “Conservation Highlights FY2008”, 8 [dokumen one-line] tersedia di https://wwfint.awsassets.panda.org/downloads/conservation_highlights_fy08_0926nov08.pdf;

Internet; diunduh pada 21 September 2020.

produksi dan konsumsi komoditas utama (3) memperkuat kesetaraan dan pengelolaan sumber daya alam yang bertanggung jawab, agar memberikan manfaat sosial dan ekonomi terutama bagi masyarakat lokal dan adat yang secara langsung bergantung pada sumber daya tersebut, dan (4) membantu membangun kondisi untuk penguatan peran yang kuat dari masyarakat sipil dan kesadaran publik seputar masalah keberlanjutan.71

Seiring perkembangan WWF, organisasi lingkungan tersebut tidak jarang mendapat kritik maupun perdebatan dari berbagai kalangan. Pada tahun 2004 seorang antropolog bernama Mac Chapin mengkritik WWF dan organisasi perlindungan alam internasional besar lainnya melalui artikelnya. Chapin mengkritik atas dominasi mereka dalam agenda konservasi karena aktivitas mereka yang mengabaikan masyarakat adat, meskipun terdapat perjanjian dan dokumen kesepakatan terkait kegiatan mereka. Selain itu, juga meningkatnya ketergantungan finansial pada perusahaan multinasional dan badan pemerintah.

Artikel Chapin dan banyak tanggapan lainnya, memperjelas bahwa hubungan antara hak dan kepentingan masyarakat adat dan konservasi dalam dunia yang mengglobal itu rumit, yang seringkali menyiratkan keputusan yang sulit.

Dalam dekade pertama abad kedua puluh satu WWF memiliki kantor di lebih dari lima puluh negara dan aktif di lebih dari seratus, dengan hampir lima juta anggota individu dan anggaran tahunan sekitar $ 500 juta. WWF didirikan sebagai organisasi yang terutama berfokus pada spesies hewan dengan daya tarik

71 WWF Indonesia, Summary of Strategic Plan 2014-2018, 5 [dokumen on-line]; tersedia di http://awsassets.wwf.or.id/downloads/wwfid_strategicplan_2014_2018_summary_final.pdf;

internet; diunduh pada 21 September 2021.

publik yang besar, secara bertahap telah memasukkan masalah ekologi, lingkungan, pembangunan, dan ekonomi dalam misinya. WWF telah menjadi pemain kuat dalam masyarakat sipil internasional, mampu menyatukan negara, perusahaan, dan LSM. Menyeimbangkan kekuatan yang berbeda tersebut telah menjadi salah satu tantangan utamanya.72

Pada tahun 2011 WWF juga mendapat perdebatan setelah sebuah televisi publik Jerman Arbeitsgemeinschaft der öffentlich-rechtlichen Rundfunkanstalten der Bundesrepublik Deutschland (ARD), yaitu asosiasi penyiaran publik Jerman menayangkan film dokumenter berjudul Der Pakt mit dem Panda: Was uns der WWF verschweigt yang dibuat oleh seorang jurnalis investigasi Wilfried Huismann. Film dokumenter yang ditayangkan pada tanggal 22 Juni 2011 tersebut mengklaim menunjukkan bagaimana WWF bekerja sama dengan perusahaan-perusahaan besar seperti Monsanto, dengan memberikan sertifikasi

“keberlanjutan” sebagai imbalan atas donasi yang diberikan kepada WWF.

Praktik ini dikenal dengan istilah greenwashing.73 Film tersebut dianggap sebagai tuduhan bahwa WWF telah berkontribusi pada perusakan habitat dan spesies yang diklaimnya dilindungi namun sekaligus merugikan masyarakat adat.74

Selain itu, Wilfried Huismann juga menulis buku yang didasarkan pada film dokumenter tersebut, dengan judul Schwarzbuch WWF atau dalam bahasa inggris

72 Callicott dan Frodeman, ed., Encyclopedia, 413.

72 Callicott dan Frodeman, ed., Encyclopedia, 413.

Dokumen terkait