• Tidak ada hasil yang ditemukan

UPAYA WORLD WIDE FUND FOR NATURE DALAM KONSERVASI DUGONG DAN LAMUN DI INDONESIA PERIODE

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "UPAYA WORLD WIDE FUND FOR NATURE DALAM KONSERVASI DUGONG DAN LAMUN DI INDONESIA PERIODE"

Copied!
146
0
0

Teks penuh

(1)

UPAYA WORLD WIDE FUND FOR NATURE DALAM KONSERVASI DUGONG DAN LAMUN DI

INDONESIA PERIODE 2016-2019

Skripsi

Diajukan untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Sosial (S.Sos)

Oleh :

Muhammad Azwar 11161130000022

PROGRAM STUDI HUBUNGAN INTERNASIONAL FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA

1442 H / 2021 M

(2)

ii

(3)

iii

PERSETUJUAN PEMBIMBING SKRIPSI

Dengan ini, Pembimbing Skripsi menyatakan bahwa mahasiswa:

Nama : Muhammad Azwar

NIM : 11161130000022

Program Studi : Ilmu Hubungan Internasional

Telah menyelesaikan penulisan skripsi dengan judul:

UPAYA WORLD WIDE FUND FOR NATURE DALAM KONSERVASI DUGONG DAN LAMUN DI INDONESIA PERIODE 2016-2019

dan telah memenuhi persyaratan untuk diuji.

Jakarta, 25 Februari 2021 Mengetahui,

Ketua Program Studi

M. Adian Firnas, S.IP, M.Si

Menyetujui, Pembimbing,

Inggrid Galuh Mustikawati, MHSPS

(4)

SKRIPSI

UPAYA WORLD WIDE FUND FOR NATURE DALAM KONSERVASI DUGONG DAN LAMUN DI INDONESIA PERIODE 2016-2019

Oleh

Muhammad Azwar 11161130000022

telah dipertahankan dalam sidang ujian skripsi di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta pada tanggal 19 Maret 2021. Skripsi ini telah diterima sebagai salah satu syarat memperoleh gelar Sarjana Sosial (S.Sos) pada Program Studi Hubungan Intemasional.

Ketua,

Muhamad Adian Firnas, S.IP, M.Si NIP. -

Sekretaris,

Irfan R. Hutagalung, S.H, LL.M NIP. -

Penguji I,

Robi Sugara, M.Sc NIP. -

Penguji II,

Riana Mardila, S.Sos.,MIR NIP.199003012020122017

Diterima dan dinyatakan memenuhi syarat kelulusan pada tanggal ...

Ketua Program Studi Ilmu Hubungan Internasional FISIP UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Muhamad Adian Firnas, S.IP, M.Si NIP. -

(5)

v ABSTRAK

Indonesia adalah salah satu megabiodiversity country di dunia karena memiliki keanekaragaman hayati yang tinggi, baik flora maupun fauna dengan berbagai macam manfaatnya. Namun, berbagai faktor yang mengancaman keberadaan suatu spesies hewan beserta habitatnya, seperti dugong dan lamun masih terus terjadi dan apabila tidak mendapat penanganan akan berakhir dengan kepunahan spesis. Skripsi ini menganalisis strategi yang telah dilakukan oleh World Wide Fund for Nature (WWF) dalam upaya konservasi dugong dan lamun di Indonesia periode 2016-2019. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan bagaimana strategi yang dilakukan oleh WWF dalam upaya konservasi dugong dan lamun di Indonesia dalam kurun waktu dari tahun 2016 hingga 2019, dengan menggunakan metode penelitian kualitatif dan penjelasan deskriptif, serta menggunakan konsep ekosentrisme, konsep international non-government organizations (INGO) dan konsep sustainable dvelopment sebagai alat analisis.

Hasil dalam penelitian ini menunjukkan bahwa strategi yang digunakan oleh WWF dalam upaya konservasi dugong dan lamun adalah strategi scaling up berupa cooperation with governments, lobbying and advocacy, supporting local initiatives dan operational expansion. Selain itu, WWF juga menjalankan fungsi informasi dan fungsi operasionalnya sebagai organisasi internasional untuk mendukung strategi yang dilakukan.

WWF kemudian melaksanakan berbagai kegiatan diantaranya memfasilitasi pelatihan metode survei dan pemantauan dugong dan habitat lamun, melakukan survei tingkat kesadaran masyarakat, survei dan penelitian dugong dan lamun, serta pembuatan materi dan kampanye penyadaran masyarakat terkait konservasi dugong dan lamun di Indonesia. Seluruh kegiatan tersebut dilakukan untuk mengumpulkan, menganalisis hingga mempublikasikan data dan informasi terkait dugong dan lamun di Indonesia. WWF selanjutnya membangun networking melalui kerjasama dengan kelompok masyarakat setempat didaerah program konservasi, serta inisiatif membentuk IAM Flying Vet. Seluruh upaya yang dilakukan oleh WWF tersebut didasarkan pada konsep ecosentrisme dan sustainable development serta merupakan bentuk dari pelaksanaan fungsi informasi dan operasional sebuah organisasi internasional dengan menggunakan strategi scaling up.

Kata Kunci : World Wide Fund for Nature, Organisasi Internasional Non Pemerintah, sustainable development, konservasi, dugong dan lamun, Indonesia.

(6)

vi

KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. Alhamdulillahi Rabbil

‘Alamin, segala puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah Subhanahu Wata’ala atas nikmat, rahmat, petunjuk serta pertolongan-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan skripsi dengan judul Upaya World Wide Fund for Nature dalam Konservasi Dugong dan Lamun di Indonesia periode 2016-2019.

Shalawat dan salam juga penulis sampaikan kepada Rasulullah Muhammad Sallallahu ‘alaihi wa sallam, beserta keluarga, sahabat dan seluruh pengikut beliau hingga akhir zaman.

Skripsi ini disusun sebagai salah satu tugas akademis di Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, untuk memperoleh gelar strata satu pada program studi Ilmu Hubungan Internasional. Selain itu, skripsi ini juga didedikasikan untuk konservasi keanekaragaman hayati khususnya dugong dan habitat padang lamun. Dalam proses penulisan skripsi ini berbagai pihak telah memberi dukungan kepada penulis, maka dalam kesempatan ini penulis ingin menyampaikan rasa syukur dan terima kasih kepada:

1. Kedua Orangtua Penulis, Bapak Arsal R.Rahman dan Ibu Alfia Wahid, beserta saudara dan saudari penulis.

2. Keluarga besar Balla Lompoa dan Daeng Lenteng, dan terkhusus keluarga besar Bapak Ir. H. Bakri La Katjong, M.T, M.Kom dan Ibu Hj.

Sri Gunarti HRP.

3. Ibu Inggrid Galuh Mustikawati MHSPS, yang telah meluangkan waktu

(7)

vii

dan tenaga untuk membimbing penulis dalam penyelesaian skripsi.

4. Bapak M. Adian Firnas, S.IP, M.Si dan Bapak Irfan R. Hutagalung, S.H., LL.M selaku ketua dan sekretaris Program Studi Ilmu Hubungan Internasional UIN Jakarta dan segenap civitas akademika FISIP dan dosen program studi Ilmu Hubungan Internasional UIN Jakarta.

5. Bapak Andi Rusandi, Bapak Muh. Firdaus Agung Kunto Kurniawan dan Bapak Hepy Kamil atas kesediaannya menjadi narasumber penulis, untuk mendapatkan data terkait dugong dan lamun dalam penelitian ini.

6. Saudara-saudara, Achmad Zulfani, Bimo Arfino, Gebryan Dwi, Abyan, Ahmad Fauzi dan mendiang Ahmad Rizki Furqon semoga mendapat termpat terbaik di sisi-Nya, Aamiin.

7. Teman-teman kelas A Prodi Hubungan Internasional angkatan 2016, keluarga besar KKN 176 Romansa dan HmI Komfisip UIN Jakarta.

Atas segala bentuk dukungan yang telah diberikan kepada penulis, semoga mendapat balasan dari Tuhan Yang Maha Esa. Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan skripsi ini terdapat kekurangan sehingga kritik dan saran kepada penulis sangat diharapkan. Akhir kata, melalui skripsi ini, semoga penulis dapat memberikan manfaat kepada para pembaca serta menjadi sumbangsih terhadap studi Ilmu Hubungan Internasional.

Jakarta, 23 Februari 2021

Muhammad Azwar

(8)

viii DAFTAR ISI

PERNYATAAN BEBAS PLAGIARISME ... II PERSETUJUAN PEMBIMBING SKRIPSI ... III PENGESAHAN PANITIA UJIAN SKRIPSI ... IV ABSTRAK... V KATA PENGANTAR ... VI DAFTAR ISI ... VIII DAFTAR TABEL ... XI DAFTAR GAMBAR ... XII DAFTAR LAMPIRAN ... XIII DAFTAR SINGKATAN ... XIV

BAB I PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang Masalah ... 1

B. Pertanyaan Penelitian ... 10

C. Tujuan dan Manfaat Penelitian ... 10

D. Tinjauan Pustaka ... 11

E. Kerangka Pemikiran ... 144

1. Konsep Ekosentrisme ... 144

2. Konsep International Non Governmental Organization (INGO) ... 15

(9)

ix

3. Konsep Sustainable Development ... 21

F. Metode Penelitian ... 22

G. Sistematika Penulisan ... 24

BAB II WORLD WIDE FUND FOR NATURE (WWF) ... 26

A. Sejarah berdirinya World Wide Fund for Nature (WWF) ... 26

B. Pekembangan World Wide Fund for Nature (WWF) di Indonesia ... 35

BAB III KONDISI DUGONG DAN LAMUN DI INDONESIA ... 42

A. Pentignya Habitat Dugong dan Lamun ... 42

B. Status Dugong ... 47

C. Ancaman Dugong dan Lamun ... 51

D. Kondisi Dugong dan Habitat Lamun di Indonesia ... 54

E. Upaya Pemerintah Indonesia dalam mengatasi masalah Dugong dan Lamun ... 61

BAB IV STRATEGI WORLD WIDE FUND FOR NATURE DALAM KONSERVASI DUGONG DAN LAMUN DI INDONESIA PERIODE 2016 -2019... 63

A. Cooperation With Government... 62

B. Lobbying and Advocacy ... 79

C. Supporting Local Initiatives ... 81

(10)

x

D. Operational Expantion ... 88

BAB V PENUTUP ... 94

A. Kesimpulan... 93

B. Saran ... 99 DAFTAR PUSTAKA ... CI

Buku ... ci Jurnal ... cv Berita ... cvi Basis Data Online ... cxii LAMPIRAN-LAMPIRAN... CXVIIII

(11)

xi

DAFTAR TABEL

Tabel IV.A.1 Hasil Survei Tingkat Kesadaran Masyarakat Indonesia Tentang Dugong dan Lamun Tahun 2017...67

(12)

xii

DAFTAR GAMBAR

Gambar II.A.1 Lokasi Kerja WWF di Indonesia ... 21

Gambar III.D.1 Sebaran Biota Dugong di Indonesia Pada Tahun 2016 ... 58

Gambar III.D.2 Status Padang Lamun Indonesia Tahun 2017 ... 60

Gambar III.D.3 Info Grafis Padang Lamun di Indonesia ... 61

Gambar IV.A.1 Penanggung Jawab Kegiatan DSCP di Indonesia ... 65

Gambar IV.A.2 Persentase Penutupan Lamun Pada Stasiun Pengamatan di Pantai Mali dan Pantai Deere ... 73

Gambar IV.A.3 Grafik Rata-Rata Kerapatan Jenis Lamun Pada Stasiun Pengamatan di Pantai Mali dan Pantai Deere (individu/m2) ... 74

Gambar.IV.A.4 Feeding Trail Dugong di Perairan Mali ... 75

Gambar IV.C.1 Kelompok Masyarakat dalam Kegiatan Pemantauan dan Pengawasan di Kabupaten Kotawaringin Barat ... 83

Gambar IV.C.2 Pemusnahan Alat Tangkap Pukat (Trawl) di Desa Teluk Bogam ... 84

Gambar IV.C.3 Peta Sebaran Pengamatan Spesies Dilindungi di Wilayah Perairan Kotawaringin Barat dari Desember 2017 - Mei 2018...85

(13)

xiii

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran I : Wawancara dengan Bapak Ir. Andi Rusandi, M.Si..CXVII Lampiran II : Wawancara dengan Bapak Muh. Firdaus Agung Kunto

Kurniawan, S.T., M.Sc., Ph.D...CXXI Lampiran III : Wawancara dengan Bapak Hepy Kamil...CXXIX

(14)

xiv

DAFTAR SINGKATAN

ARD Arbeitsgemeinschaft der öffentlich-rechtlichen Rundfunkanstalten der Bundesrepublik Deutschland Cetasi Cetacean Sirenian Indonesia

CITES Convention on the International Trade in Endangered Species of Fauna and Flora

DKP Dinas Kelautan dan Perikanan

Ditjen PRL Direktorat Jenderal Pengelolaan Ruang Laut DSCP Dugong and Seagrass Conservation Project

FPIK IPB Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Institut Pertanian Bogor

GEF Global Environment Facility

GPS Global Positioning System

HoB Heart Of Borneo

IAM Flying Vet Indonesia Aquatic Megafauna Flying Vet IGO Intergovernmental Organizations

ICBP International Council for Bird Preservation INGO International Non Governmental Organization IUCN International Union for the Conservation of Nature KAP Knowledge, Attitude, and Perception

KKPD Kawasan Konservasi Perairan Daerah POKMASWAS Kelompok Masyarakat Pengawas

(15)

xv

KMP Kelompok Masyarakat Pesisir

KKP Kementerian Kelautan dan Perikanan Kepres Keputusan Presiden

Kepmen LH Keputusan Menteri Lingkungan Hidup KKHL Konservasi dan Keanekaragaman Hayati Laut LSM Lembaga Swadaya Masyarakat

LHK Lingkungan Hidup dan Kehutanan

LIPI Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia

LPSPL Loka Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Laut MbZ Mohamed bin Zayed Species Conservation Fund NKRI Negara Kesatuan Republik Indonesia

OI Organisasi internasional

NGO Non Governmental Organization

ONT Organisasi Non Teritorial Permen Peraturan Menteri

PP Peraturan Pemerintah

PDHI Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia PBB Perserikatan Bangsa Bangsa

EU European Union

P3SDLP Pusat Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Laut dan Pesisir

P20 LIPI Pusat Penelitian Oseanografi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia

(16)

xvi Pusriskel Pusat Riset Kelautan

RAN Rencana Aksi Nasional

UU Undang Undang

UNEP-CMS United Nation Environment Programme Conservation Migratory Species

UNESCO United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization

UNEP United Nations Environment Programme WCMC World Conservation Monitoring Centre

PP Peraturan Pemerintah

WCED World Commission on Environment and Development

WWF World Wide Fund for Nature

(17)

1 BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Indonesia merupakan negara kepulauan (archipelagic state) terbesar di dunia dengan luas wilayah kurang lebih 8.300.000 km2. Dari seluruh luas wilayah Indonesia tersebut, sekitar 75% merupakan lautan yang memisahkan sekaligus menghubungkan sekitar 17.504 pulau besar dan kecil yang tersebar di sepanjang wilayah Indonesia.1 Wilayah lautan Indonesia memiliki potensi keanekaragaman hayati yang tinggi karena keanekaragaman biota yang hidup di dalamnya.2

Diantara biota tersebut yaitu, tumbuhan yang mencapai sekitar 25.000 spesies, ikan sekitar 8.500 spesies, reptil serta luas terumbu karang mencapai kurang lebih 85.707 km2. Selain itu, juga terdapat mamalia laut, seperti paus, lumba-lumba, dugong dan lainnya.3 Atas kekayaan tersebut, laut nusantara kemudian dikenal sebagai marine mega diversity.4

1 Pusat Hidrografi dan Oseanografi TNI Angkatan Laut, “Data Kelautan Yang Menjadi Rujukan Nasional Diluncurkan”, 28 Agustus 2018 [berita on-line] tersedia di https://www.pushidrosal.id/berita/5256/DATA-KELAUTAN-YANG-MENJADI-RUJUKAN- NASIONAL--DILUNCURKAN/; Internet; diakses pada 10 Agustus 2020.

2 Rianta Pratiwi, “BIOTA LAUT : I. BAGAIMANA MENGENAL BIOTA LAUT?”

Oseana, Vol.XXI, No.1, TB:2006, L:27-38. [jurnal on-line]; tersedia di http://oseanografi.lipi.go.id/dokumen/oseana_xxxi%281%2927-38.pdf; Internet; diunduh pada 11 Agustus 2020.

3 Malikusworo Hutomo dan Anugerah Nontji, Panduan Monitoring Padang Lamun, [buku on-line] (Jakarta: Pusat Penelitian Oseanografi, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, 2014), 2.

tersedia di http://coremap.or.id/downloads/Lamun-27022015.pdf; Internet; diunduh pada 10 Agustus 2020.

4 M Kottelat dan Whitten T, Freshwater Biodiversity in Asia LTith Special Reference to Fish, (Washington D.C: The World Bank, 1996), 12

(18)

Dugong adalah satu-satunya mamalia laut herbivora dengan pakan utamanya yaitu lamun. Selain sebagai sumber makanan utama, lamun sekaligus menjadi tempat bagi habitat dugong yaitu padang lamun, sehingga dugong dijuluki sebagai seagrass specialist (spesialis lamun).5 Di Indonesia, dugong juga dikenal dengan nama duyung dan termasuk kedalam biota yang dilindungi oleh pemerintah Indonesia dari kepunahan.6

Keberadaan habitat dugong dan padang lamun sangat penting bagi kehidupan masayrakat Indonesia, khususnya bagi masyarakat di daerah pesisir.

Padang lamun menjadi tempat bagi siklus hidup sejumlah spesies, sedangkan keberadaan dugong secara ekologis berperan penting bagi kesuburan lamun.7 Padang lamun yang subur berperan sebagai tempat pembibitan sekaligus habitat berbagai spesies laut, termasuk spesies perikanan seperti udang, kerang dan ikan, sehingga padang lamun kemudian menjadi sumber mata pencaharian bagi masyarakat pesisir.8 Selain itu, padang lamun berfungsi dalam menjaga kestabilan pantai meningkatkan kualitas air laut, serta mengurangi dampak dan laju dari perubahan iklim karena berfungsi sebagai penyerap karbon di lautan. 9

5 Hutomo dan Nontji, Panduan Monitoring, 6.

6 Rudolph et al, 1997 dalam R. Dahuri R, Keanekaragaman Hayati Laut: Aset Pembangunan Berkelanjutan Indonesia, (PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta:2003)

7 Heinsohn GE, Wake J, Marsh H, Spain AV.. The Dugong (Dugong dugon (Muller)) in the Seagrass System. (Aquaculture, 1977) 12: 235–248.

8 UNEP, Saving Sea Cows Helps Ensure Human Food Security, 17 MAR 2017. [artikel online] https://www.unenvironment.org/news-and-stories/story/saving-sea-cows-helps-ensure- human-food-security; Internet; diakses pada 23 September 2020

9 Nellemann C, Corcoran E, Duarte CM, Valdés L, De Young C, Fonseca L, Grimsditch G (Ed), Blue Carbon, A Rapid Response Assessment, United Nations Environment Programme, (GRID-Arendal,Norway. 2009) h.80

(19)

Di Indonesia dugong tersebar luas mulai dari wilayah Indonesia bagian barat hingga timur, dengan populasi tertinggi diperkirakan berada di perairan Ekoregion Arafura dengan jumlah kurang dari 200 ekor. Namun, keberadaan dugong di Indonesia mulai langka dan hampir punah akibat berbagai faktor ancaman.10 Ancaman terhadap dugong di Indonesia mencakup seluruh ancaman yang teridentifikasi pada skala global, mulai dari kegiatan perburuan liar, eksploitasi perikanan yang tidak ramah lingkungan, aktivitas pelayaran, semakin tingginya tingkat pencemaran, sedimentasi, dan alih fungsi lahan yang menyebabkan ekosistem padang lamun yang merupakan habitat dugong menjadi rusak.11

Menurut Marsh, populasi dugong di Indonesia pada tahun 1970-an mencapai 10.000 ekor lebih, namun pada tahun 1994 populasi dugong turun menjadi sekitar 1.000 ekor, sehingga diperkirakan populasi dugong kurang dari 10% populasi awal, dan hingga saat ini belum ada data yang pasti terkait jumlah dugong di perairan Indonesia.12 Adapun berdasarkan catatan survei udara di Kepulauan Lease pada Desember 1990 dan Agustus 1992 diperkirakan populasi dugongdi wilayah tersebut berkisar antara 22 hingga 37 ekor.13

10 Marsh H, Penrose H, Eros C, Hugues J, Dugong - Status Reports and Action Plans for Countries and Territories, [buku on-line] United Nations Environment Programme World Conservation Monitoring Centre Cambridge (United Kingdom: 2002), 9-12

11 Helene Marsh, Dugong Status, 79

12 Helene Marsh, Carole Eros, Peter Corkeron dan Barbara Breen, “A conservation strategy for dugongs: Implications of Australian research”, CSIRO Marine and Freshwater Research, Vol.50, No.8, Tb:1999, L:979–990, [jurnal on-line]; tersedia di https://www.researchgate.net/publication/236232732_A_conservation_strategy_for_dugongs_Impl ications_of_Australian_research; Internet; diunduh pada 14 Agustus 2020

13 Hutomo dan Nontji, Panduan Monitoring, 21.

(20)

Kejadian mamalia laut terdampar juga menjadi penyebab penurunan populasi dugong. Berdasarkan data dari Loka Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Laut (LPSPL) Sorong, sejak tahun 2016 sampai dengan tahun 2018 telah tercatat 41 kejadian mamalia laut terdampar yang tersebar di wilayah Indonesia Timur. Dari 41 kejadian tersebut 20 diantaranya adalah kejadian dugong terdampar yang tidak jarang berakhir dengan kematian. Selain akan berdampak pada penurunan populasi dugong, kondisi tersebut juga menyebabkan pencemaran lingkungan seperti bau busuk dan munculnya ancaman penyebaran penyakit yang disebabkan oleh bangkai dugong.14

Kemudian, aktivitas wisata juga berpengaruh terhadap keberadaan dugong.

Dalam laporan WWF tentang survei dugong dan padang lamun yang diterbitkan pada tahun 2017, dijelaskan bahwa kegiatan aktivitas wisata dapat berdampak negatif terhadap keberlangsungan dugong. Dugong yang tinggal dan beraktivitas di suatu kawasan apabila merasa terganggu, akan berpindah untuk mencari tempat yang lebih nyaman dan minim gangguan serta terdapat habitat lamun.15

Ancaman selanjutnya bagi populasi dugong yaitu kerusakan dan pencemaran habitat lamun yang menyebabkan rusaknya padang lamun sebagai habitat pakan dugong. Indonesia diketahui memiliki 12 jenis lamun dari 60 jenis

14 LPSPLSorong, “Inisiasi Penanggap Pertama Penanganan Mamalia Laut Terdampar”, 1 Maret 2018, [berita on-line]; tersedia di https://kkp.go.id/djprl/lpsplsorong/artikel/3593-inisiasi- penanggap-pertama-penanganan-mamalia-laut-terdampar; Internet; diakses pada 14 Agustus 2020

15 WWF Indonesia, “Laporan Survei Dugong dan Habitat Lamun 2017”, WWF Report ID

May 2017, [dokumen on-line] tersedia di

https://d2d2tb15kqhejt.cloudfront.net/downloads/full_report_dugong_alor_fin.pdf; Internet;

diunduh pada 14 Agustus 2020

(21)

spesies lamun yang tersebar di dunia.16 Kemudian, berdasarkan data Pusat Penelitian Oseanografi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (P2O-LIPI), terdapat sekitar 25.752 ha padang lamun yang telah tervalidasi dari 29 lokasi yang tersebar di Indonesia. Dan secara keseluruhan, luas padang lamun di Indonesia diperkirakan mencapai sekitar 31 ribu km2.17 Adapun secara umum, persentase tutupan lamun di Indonesia yang dihitung dari 166 stasiun pengamatan mencapai 41,79%.18 Kemudian, berdasarkan data penelitian yang dilakukan LIPI, dari total 1.507 km2 luas padang lamun di Indonesia, hanya 5% padang lamun yang tergolong sehat, sedangkan sisanya yaitu 80% tergolong kurang sehat dan 15%

dalam kondisi tidak sehat.19

Pada tahun 2018, Journal of Fisheries and Marine Science menerbitkan sebuah artikel tentang hasil penelitian yang dilakukan sepanjang tahun 2012 berjudul “Distribusi Habitat Pakan Dugong Dan Ancamannya Di Pulau – Pulau Kecil Indonesia.” Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui distribusi padang lamun sebagai habitat pakan dugong dan ancamannya di Indonesia. Penelitian yang dilakukan di 15 pulau kecil wilayah perairan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) tersebut, menunjukkan bahwa dari seluruh lokasi penelitian,

16 Udhi Eko Hernawan, Pentingnya Lamun dan Dugong Bagi Ekosistem Hayati Laut, 9 November 2017. [artikel online] tersedia di http://lipi.go.id/lipimedia/pentingnya-lamun-dan- dugong-bagi-ekosistem-hayati-laut/19349; Internet; diakses pada 7 Januari 2021.

17 31.000 km2 = 310.000.000 ha

18 Udhi Eko Hernawan, Nurul D. M. Sjafrie, Indarto H. Supriyadi, Suyarso, Marindah Yulia Iswari, Kasih Anggraini, Rahmat, Status Padang Lamun Indonesia 2017, (Pusat Penelitian Oseanografi Jakarta : Puslit Oseanografi-LIPI:2017) ISBN 978-602-6504-06-7. h.17 tersedia di http://www.oseanografi.lipi.go.id/haspen/booklet%20status%20lamun%202017.pdf; Internet diakses pada 8 Januari 2021.

19 Udhi Eko Hernawan, Pentingnya Lamun dan Dugong Bagi Ekosistem Hayati Laut, 9 November 2017. [artikel online] tersedia di http://lipi.go.id/lipimedia/pentingnya-lamun-dan- dugong-bagi-ekosistem-hayati-laut/19349; Internet; diakses pada 7 Januari 2021.

(22)

hanya 46% lokasi yang memiliki tutupan lamun tergolong kaya, sedangkan 54%

lokasi dengan tutupan lamun yang tergolong kurang hingga miskin. Kerusakan tersebut antara lain disebabkan oleh beberapa faktor, seperti abrasi, sedimentasi, jalur pelayaran lokal dan jaring tambat, sampah antropogenik, serta penggunaan alat tangkap yang dapat merusak habitat lamun.20

Berbagai manfaat ekosistem lamun maupun keberadaan dugong di dalamnya menunjukkan bahwa ekosistem padang lamun sangat penting bagi kehidupan manusia, khususnya bagi masyarakat pesisir. Di Pulau Pari contohnya, padang lamun menjadi sumber mata pencaharian perikanan bagi masyarakat setempat, diantaranya nelayan ikan, rajungan dan udang rebon. Namun, dengan adanya kegiatan pengembangan reklamasi, masyarakat setempat terancam kehilangan sumber mata pencaharian.21

Kemudian, di Kota Bontang misalnya, pemanfaatan sumberdaya lamun bagi masyarakat pesisir yaitu meliputi kegiatan penangkapan hasil perikanan berupa ikan bawis, baronang, ketambak dan cumi-cumi. Dari kegiatan tersebut, nilai ekonomi dari pemanfaatan ekosistem lamun di Kota Bontang dapat mencapai sebesar Rp. 7.402.011.679.564 per tahun. Maka dengan berkurang atau hilangnya

20 Citra Satrya Utama Dewi, dkk., “Distribusi Habitat Pakan Dugong dan Ancamannya di Pulau-Pulau Kecil Indonesia”, Journal of Fisheries and Marine Science, Vol.2, No.2, TB:April 2018, L:125-139; [jurnal on-line]; tersedia di https://jfmr.ub.ac.id/index.php/jfmr/article/view/115;

internet; diunduh pada 15 Agustus 2020

21 LIPI, “Reklamasi dan Dampaknya Terhadap Padang Lamun di Pulau Pari serta Transplantasi Lamun dalam kegiatan Wisata Edukasi Kelautan sebagai solusi dan Awareness Campaign”, Loka Pengembangan Kompetensi Sumberdaya Manusia Oseanografi, 16 May 2016 ,[artikel on-line] tersedia di http://www.pksdmo.lipi.go.id/BERITA/Reklamasi-dan-Dampaknya- Terhadap-Padang-Lamun-di-Pulau-Pari-serta-Transplantasi-Lamun-dalam-kegiatan-Wisata- Edukasi-Kelautan-sebagai-solusi-dan-Awareness-Campaign.html; Internet; diakses pada 27 Maret 2021.

(23)

ekosistem padang lamun dapat berdampak terhadap penurunan hingga hilangnya potensi ekonomi sumber daya alam masyarakat setempat..22

Contohnya selanjutnya yaitu dampak padang lamun terhadap kegiatan sosial-ekonomi di wilayah pesisir Pulau Bintan, dimana kehadiran pengunjung yang berwisata di sekitar pantai tersebut yang berasosiasi dengan keberadaan lamun mampu memberikan dampak ekonomi yang bermanfaat bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat setempat dengan nilai ekonomi dampak wisata mencapai sebesar Rp 245,32 juta tahun atau sebesar Rp 1,48 juta/hektar/tahun.

Maka dengan hilangnya habitat lamun dapat berpotensi ekonomi akibat mencapai sebesar Rp251,68 juta/hektar/tahun. Nilai tersebut berpotensi mengakibatkan turunnya tingkat pendapatan nelayan di Kabupaten Bintan hingga mencapai Rp 535.493,88/nelayan/tahun. 23

Berbagai manfaat dan potensi ekonomi dari keberadaan dugong dan habitat ekosistem padang lamun tersebut tentu perlu dijaga dan dilestarikan secara berkelanjutan (sustainable) agar manfaat tersebut dapat dirasakan secara terus menerus, karena lamun menyediakan sejumlah jasa lingkungan dan sumber daya yang penting bagi kehidupan masyarakat pesisir dan pembangunan perikanan yang berkesinambungan, sedangkan kelestarian padang lamun sangat ditentukan oleh keberadaan dugong di kawasan tersebut.

22 Nurul Ovia Oktawati, dkk. “Nilai Ekonomi Ekosistem Lamun di Kota Bontang”

EnviroScienteae Vol. 14 No. 3, November 2018, L:228-236 [jurnal on-line]; tersedia di https://media.neliti.com/media/publications/278770-nilai-ekonomi-ekosistem-lamun-di-kota-bo- 2fca21a8.pdf; Internet; diunduh pada 27 Maret 2021.

23 Wahyudin, dkk. “Kajian Keterkaitan Sistem Sosial-Ekologi Lamun dalam Meningkatkan Nilai Ekonomi Sumberdaya Ikan di Wilayah Pesisir Pulau Bintan” 2018, [artikel on-line], tersedia di https://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/92506; Internet; diakses pada 27 Maret 2021.

(24)

Meskipun pemerintah Indonesia telah mengeluarkan berbagai kebijakan terkait perlindungan spesies dugong, namun implementasi dari peraturan tersebut belum sepenuhnya maksimal, sehingga aktivitas yang merugikan habitat dugong maupun lamun masih terus terjadi. Terkait hal tersebut peran aktor non-negara juga masih diperlukan sebagai pelaksana serta pendukung konservasi dalam mengurangi ancaman kepunahan dugong.

Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk mengurangi permasalahan lingkungan sekaligus menjaga populasi habitat dugong dan padang lamun yaitu melalui konservasi. Konservasi satwa menjadi cara yang dapat dilakukan melalui keterlibatan aktor negara dan non-negara seperti organisasi, individu, perusahaan multinasional, akademisi, dan lain-lain untuk menghadapi ancaman kepunahan serta meningkatkan kepedulian pada lingkungan.24

Peran pemerintah juga diperlukan untuk mencapai keberhasilan suatu konservasi guna mengurangi ancaman kepunahan. Pemerintah Indonesia kemudian menjadikan dugong sebagai salah satu prioritas target konservasi sumber daya ikan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) untuk periode tahun 2014–2019. Melalui Direktorat Konservasi dan Keanekaragaman Hayati Laut, pemerintah Indonesia berkomitmen kuat dalam upaya konservasi dugong dan habitat lamun di Indonesia. Pemerintah Indonesia bekerja secara kolaboratif dalam mendukung upaya konservasi dengan melibatkan berbagai aktor, baik

24 WWF Annual Report Juni2018-Juli2019, Memajukan Konservasi Inklusif, [dokumen on-

line]; (Jakarta: WWF Indonesia, 2019),2 tersedia di

https://wwf.id/upload/2020/10/Annual_Report-WWF-ID-2019-ID.pdf; internet; diunduh pada 15 Agustus 2020.

(25)

akademisi, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), ilmuwan dan organisasi internasional seperti World Wide Fund for Nature (WWF).

WWF adalah salah satu organisasi internasional non-pemerintah (international non-governmental organization) yang berfokus pada pelestarian lingkungan. Organisasi WWF bersifat independen dan memiliki jaringan global dengan wilayah jangkauan kerja yang mencakup seluruh dunia. WWF bertujuan untuk melestarikan alam dan mengurangi ancaman bagi keanekaragaman kehidupan di Bumi.25 Untuk mencapai tujuan tersebut, salah satu upaya WWF yaitu fokus pada keanekaragaman hayati, dengan melakukan konservasi baik florda maupun fauna, hutan, air, udara serta sumber daya alam lainnya, melalui pengelolaan lahan, penelitian, edukasi, penyebaran informasi serta berkoordinasi dan bekerjasama dengan multi pihak. Saat ini, WWF bertujuan untuk melakukan perubahan nasional yang mengarah pada konservasi abadi, pembangunan berkelanjutan dan gaya hidup yang berkelanjutan.26

WWF telah bekerja di Indonesia sejak tahun 1962 hingga saat ini, dan dikenal dengan nama WWF Indonesia. Sebagian besar tugas WWF fokus pada konservasi tiga bioma yang berisikan sebagian besar keragaman hayati dunia, yaitu hutan, ekosistem air tawar, serta samudra dan pantai. Selain itu, WWF juga menangani masalah spesies terancam punah, polusi dan perubahan iklim. WWF

25 J. Baird Callicott dan Robert Frodeman, ed., Encyclopedia of Environmental Ethics and Philosophy, (USA: Cengage Learning, 2009), 413.

26 Rob Soutter, ed., et al., WWF 50 Years of Conservation: For a Livinf Planet, (Gland:

WWF Global, 2011), 9.

(26)

telah terlibat dalam upaya konservasi di Indonesia diantaranya melalui konservasi badak jawa, harimau sumatera, orang utan di kalimantan dan lain-lain.27

Upaya WWF dalam konservasi dugong dan lamun di Indonesia menarik untuk diteliti, karena hingga saat ini belum ada literatur, khususnya skripsi yang membahas topik tersebut, sehingga penulis tertarik untuk membahas upaya WWF dalam konservasi dugong dan lamun di Indonesia periode tahun 2016-2019.

B. Pertanyaan Penelitian

Berdasarkan pernyataan masalah yang telah diuraikan, maka pertanyaan penelitian yang akan dibahas dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

“Bagaimana Strategi World Wide Fund for Nature dalam Upaya Konservasi Dugong dan Lamun di Indonesia Periode 2016 - 2019 ?”

C. Tujuan dan Manfaat Penelitian

1. Mendeskripsikan upaya yang telah dilakukan WWF dalam konservasi dugong dan lamun di Indonesia periode 2016 – 2019.

2. Mengaplikasikan konsep dalam studi ilmu Hubungan Internasional sebagai alat analisis terhadap pertanyaan penelitian dalam skripsi ini.

3. Secara akademis, penelitian ini diharapkan menjadi referensi tentang peran WWF untuk mencapai tujuannya dalam menangani masalah lingkungan melalui konservasi dugong dan lamun dan sebagai referensi penelitian selanjutnya tentang konservasi lingkungan di Indonesia.

27 WWF Annual Report Juni 2018-Juli2019, Memajukan Konservasi Inklusif, h. 4

(27)

4. Secara praktis, penelitian ini diharapkan memberikan informasi data kegiatan yang telah dilakukan oleh WWF dalam konservasi dugong dan lamun di Indonesia.

D. Tinjauan Pustaka

Pertama, skripsi yang ditulis oleh Natasya Muliandari, sarjana Hubungan Internasional dari Universitas Parahyangan dengan judul penelitian Implementasi WWF Coral Triangle Program dalam Melestarikan Ekosistem Kawasan Segitiga Terumbu Karang pada 2008-2010. Dalam penelitian tersebut dijelaskan mengenai pentingnya peran WWF dalam implementasi coral triangle program sebagai program konservasi kelautan, sedangkan dalam penelitian ini menjelaskan tentang peran WWF dalam konservasi dugong dan lamun di Indonesia.

Dalam penelitian tersebut penulis menggunakan pandangan pluralis, konsep organisasi internasional dan pembangunan berkelanjutan sebagai alat analisa, sedangkan penelitian ini menggunakan kerangka pemikiran Konsep International Non Governmental Organization, dan Teori Peran. Penelitian tersebut telah menjelaskan terkait peran WWF dalam implementasi program pelestarian ekosistem kawasan segitiga terumbu karang. Penulis telah menganalisa implementasi program konservasi kelautan yang dilakukan oleh WWF yaitu kampanye tuna berkelanjutan, perikanan berkelanjutan, dan program marine protected area.

Kedua, skripsi berjudul Peran World Wide Fund For Nature (WWF) Dalam Program Heart Of Borneo (HoB) Di Indonesia Periode 2012-2013 yang ditulis

(28)

oleh Siti Lutfi Jamilatul Wardah dan dipublikasikan pada 2017 sebagai tugas akhir untuk memperoleh gelar sarjana di Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta. Skripsi ini secara umum membahas mengenai peran World Wide Fund For Nature (WWF) dalam program Heart of Borneo (HoB) di Indonesia dari tahun 2012 sampai 2013.

HoB adalah program kerjasama konservasi antara pemerintah Brunei Darussalam, Indonesia dan Malaysia dengan cakupan wilayah lintas batas seluas 23.250.289,11 ha dari masing-masing negara. Program HoB di Indonesia dilaksanakan oleh Kelompok Kerja HoB yang dibentuk pemerintah Indonesia dengan melibatkan World Wide Fund for Nature (WWF) dalam struktur organisasi. Penulis menggunakan kerangka pemikiran yaitu teori People Centered Development, konsep International Non-Governmental Organization dan konsep Sustainable Development untuk menganalisis peran WWF dalam program HoB.

Skripsi yang ditulis oleh Wardah tersebut menunjukkan bahwa WWF telah berperan dalam mendukung program HoB di Indonesia, diantaranya melalui;

pembentukan program pendanaan, melaksanakan program kabupaten konservasi di Kapuas Hulu, membangun jaringan bisnis hijau dengan menggunakan strategi networking kepada perusahaan kecil dan besar yang beroperasi di wilayah HoB agar berkontribusi dalam pelestarian lingkungan. WWF juga berperan dalam peningkatan sumber daya manusia melalui program pengembangan ekowisata, pengembangan pertanian organik produk “Hijau dan Adil” beras adan, pelatihan kreativitas kerajinan tangan dan pengembangan teknologi dan komunikasi melalui program tele-center atau pusat internet.

(29)

Melalui program-program tersebut menunjukkan bahwa WWF telah berhasil dalam mendukung program HoB di Indonesia periode 2012 sampai 2013 untuk mewujudkan pembangunan yang berkelanjutan bagi masyarakat yang tinggal di kawasan HoB sesuai dengan prinsip-prinsip konservasi serta pilar sustainable development.

Perbedaan skripsi tersebut dengan penelitian ini yaitu analisis peran WWF dalam program HoB sebagai program kerjasama regional lintas batas di wilayah Kalimantan Indonesia terkait masalah hutan, sedangkan dalam penelitian ini berfokus pada peran WWF dalam bidang konservasi dugong dan lamun di Indonesia sebagai salah satu upaya dalam menjaga habitat mereka.

Ketiga, penelitian yang dilakukan oleh Isti Chomah Sari pada tahun 2013 dengan judul skripsi Peran WWF dalam upaya melindungi satwa langka orangutan di Indonesia melalui Program Sahabat Orangutan Tahun 2011-2013.

Penelitian tersebut berfokus pada peran WWF dalam upaya melindungi orangutan yang terancam punah di Indonesia serta menjelaskan hambatan yang dihadapi oleh WWF sedangkan dalam penelitian ini berfokus pada peran WWF dalam konservasi dugong dan lamun di Indonesia.

Dalam skripsi tersebut peneliti menganalisis menggunakan konsep keamanan lingkungan, konsep peran dan konsep non-governmental organizations sedangkan dalam penelitian ini menggunakan kerangka pemikiran international non-governmental organizations, konsep sustainable development dan konsep ekosentrisme sebagai alat analisis.

(30)

Berdasarkan hasil analisis dalam penelitian tersebut, penulis menunjukkan bahwa peran WWF dalam upaya melindungi satwa langka orangutan di Indonesia diantaranya melalui; kampanye, rehabilitasi, monitoring, konservasi, penangkaran, kerjasama dengan multi pihak terkait perlindungan orangutan, dan penyediaan informasi di lapangan.

Kemudian, analisis hambatan yang dihadapi oleh WWF dalam menjalankan program perlindungan satwa langka orangutan dalam penelitian tersebut yaitu;

hambatan internal, berupa keterbatasan dalam hal finansial dan lemahnya integrasi program antar pemangku kepentingan, adapun hambatan eksternal yaitu rendahnya kepedulian masyarakat ulayat, lemahnya koordinasi antara pemerintah Indonesia di tingkat pusat dan daerah, minimnya akses transportasi, hambatan dalam upaya rehabilitasi, belum dijadikannya orangutan sebagai bagian pembangunan, serta ancaman perburuan terhadap orangutan.

E. Kerangka Pemikiran

Penulis akan menggunakan kerangka konseptual yaitu, konsep ekosentrisme, konsep International Non-Governmental Organization (INGO) dan konsep sustainable development dalam skripsi ini, untuk menganalisa peran World Wide Fund for Nature (WWF) dalam Konservasi Dugong dan Lamun di Indonesia periode 2016-2019.

1. Konsep Ekosentrisme

Ekosentris merupakan pemahaman yang menolak konsep antroposentrisme yang memandang bahwa manusia merupakan satu-satunya makhluk yang

(31)

memiliki posisi paling atas dalam ekosistem dan kehidupan.28 Konsep ekosentrisme memahami bahwa pada dasarnya seluruh makhluk hidup terkait satu sama lain dengan hubungan ekologi dalam posisi yang sama, sehingga tidak ada hirarki antara manusia dan subjek bukan manusia, baik hewan, tumbuhan, dan lingkungan, sehingga manusia tidak bebas untuk mendominasi alam.

Terdapat empat asumsi utama untuk memahami konsep ekosentrisme, yaitu; pertama, ekosentrisme mengidentifikasi semua kepentingan manusia terhadap ekologi. Kedua, Ekosentrisme mengakui bahwa kepentingan ekologi dan komunitas makhluk hidup yaitu hewan maupun tumbuhan. Ketiga, ekosentrisme mengakui kepentingan generasi yang akan datang, baik itu generasi manusia dan atau ekologi. Keempat, Ekosentrisme menggunakan pendekatan holistik, dengan adanya pengakuan terhadap populasi, spesies, ekosistem, lingkungan dan alam secara keseluruhan seperti layaknya individu manusia.29 Pendekatan holistik yang dipahami yaitu terciptanya interdependensi antara makhluk hidup baik manusia, hewan, dan tumbuhan, dan tak hidup seperti lingkungan dan ekologi, terhadap pemenuhan kebutuhan ekonomi.30

2. Konsep International Non Governmental Organization (INGO) Menurut Duverger, Organisasi Internasional (OI) adalah sebuah lembaga dengan sistem formal, mempunyai aturan dan tujuan, instrumen administratif,

28 Scott Burchill et al., The Theories of International Relations, 3rd Ed. (New York:

Palgrave Macmillan, 2005), 238.

29 Burchill, The Theories, 238–239

30 Marta Nestaiko, Ecological Crisis and Human Nature: the Green and Liberal Approaches, (Ontario: University of Waterloo, 2003), 30. [dokume on-line]; tersedia di https://uwspace.uwaterloo.ca/bitstream/handle/10012/758/mnestaik2003.pdf?sequence=1&isAllo wed=y; Internet; diunduh pada 16 Agustus 2020.

(32)

teknis dan sebagainya.31 Kemudian, Menurut Kelly Kate, bentuk lain dari OI yaitu non-governmental organization (NGO), yaitu organisasi swasta nirlaba yang berorientasi pada satu masalah untuk berpartisipasi dalam politik internasional, dengan menetapkan tujuan, membuat norma, memberikan informasi serta memberikan saran para ahli, demi terciptanya norma internasional serta pelaksanaan kebijakan internasional. Kegiatan NGO seringkali bersifat otonom dan dapat dikoordinasikan secara independen dengan Intergovernmental Organizations (IGO).32

Sehingga, Menurut Kelly Kate OI dibedakan menjadi dua yaitu; organisasi antar pemerintah (Intergovernmental Organizations) dan organisasi bukan pemerintah (Non-Governmental Organization). Perbedaan tersebut berdasarkan pada sifat keanggotaan, sumber pendanaan, dan pengambilan keputusan dalam organisasi yang dapat diketahui berdasarkan pada tujuan, struktur, dan proses pengambilan keputusan yang terdapat dalam konstitusi organisasi.33

Lebih lanjut, Clive Archer berpendapat bahwa organisasi internasional dapat diklasifikasikan berdasarkan keanggotaan, tujuan, aktivitas dan strukturnya.

Berdasarkan tipe keanggotaan (type of membership), organisasi internasional dapat dibedakan menjadi organisasi internasional dengan wakil pemerintahan negara-negara sebagai anggota atau Intergovernmental Organizations (IGO) dan organisasi internasional yang anggotanya bukan wakil dari pemerintahan negara

31 Clive Archer, International Organizations: Third Edition (New York: Routledge, 2001), 1-2.

32 Kelly Kate S, International organizations : perspectives on global governance, 6th ed, (New York: Routledge, 2019), 3.

33 Kate S, International organizations, 4.

(33)

anggota, disebut International Non-Governmental Organizations (INGO).

Kemudian, berdasarkan jangkauan keanggotaan (Extent of membership) dibedakan menjadi, OI yang keanggotaannya terbatas dalam wilayah tertentu dan OI yang anggotanya mencakup seluruh wilayah di dunia.34

Berdasarkan penjelasan diatas maka diketahui bahwa WWF merupakan organisasi internasional yang diklasifikasikan sebagai International Non- Governmental Organization (INGO) dengan jangkauan keanggotaan yang mencakup seluruh wilayah di dunia.

Dalam mencapai tujuannya, organisasi internasional harus menjalankan fungsinya dengan baik agar tujuan organisasi tersebut tidak menyimpang dari yang telah ditetapkan.35 Organisasi internasional saat ini memiliki peran yang sangat penting khususnya dalam menyelesaikan permasalahan global. Organisasi seperti Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), European Union (EU) maupun World Wide Fund for Nature (WWF), memiliki peran dan tanggung jawabnya masing masing yang dimana tujuan organisasi untuk membantu suatu negara dalam menghadapi permasalahan global, oleh karena itu Organisasi Internasional dibentuk berdasarkan tugas-tugas khusus yang berkelanjutan untuk tujuan bersama.36

Kemudian, menurut Clive Archer, terdapat tiga peran utama Organisasi Internasional dalam sistem internasional, sebagai berikut:

34 Archer, International Organizations, h, 45.

35 A. Le Roy Bennet, International Organization, Principle and Issue, (New Jersey:

Prentice Hall, 1995), 9.

36 Susan Park, International Organisations and Global Problems: Theories and Explanations, (London: Cambridge University Press, 2018), 1

(34)

a. Organisasi Internasional sebagai “instrumen” yang digunakan oleh negara- negara anggotanya untuk mencapai tujuan tertentu seperti kepentingan nasional dan tujuan politik luar negerinya.

b. Organisasi Internasional sebagai “arena” yang digunakan sebagai tempat atau forum untuk membahas, berdebat, bekerjasama dalam isu tertentu.

c. Organisasi Internasional sebagai “aktor independen.” Organisasi internasional dapat bertindak di panggung dunia, merumuskan, dan membuat keputusan tanpa dipengaruhi oleh kekuatan eksternal .37

Selain itu, menurut Harold K. Jacobson terdapat beberapa fungsi dari Organisasi Internasional, yaitu:

a. Fungsi Informasi, OI menyediakan informasi, mengumpulkan, menganalisis dan mempublikasikan data. OI juga membantu menyebarkan informasi dengan menyelenggarakan berbagai forum di mana setiap individu bisa saling bertukar pikiran.

b. Fungsi Normatif, OI mengadopsi prinsip-prinsip dari sebuah deklarasi dan pernyataan tujuan. Fungsi ini tidak melibatkan instrumen yang mengikat secara hukum, melainkan pernyataan yang dirancang untuk mempengaruhi kebijakan dalam negeri dan luar negeri suatu negara.

c. Fungsi operasional, yaitu fungsi dengan melibatkan penggunaan sumber daya organisasi, contohnya OI membuat sebuah bantuan keuangan dan

37 Archer, International Organizations, 130-142.

(35)

bantuan teknis bagi masyarakat.38

Kemudian, menurut Michael Edwards dan David Hulme, NGO menggunakan berbagai strategi untuk “scale up” atau meningkatkan dampak kerja mereka.39 Ada 4 strategi yang dapat dilakukan oleh NGO, yaitu:

a. Scaling up via cooperation with governments,40 NGO bekerjasama dengan struktur pemerintah untuk mempengaruhi kebijakan dan sistem.

Tujuannya adalah untuk memastikan bahwa pemerintah menerapkan kebijakan yang efektif yang akan bermanfaat bagi semua masyarakat khususnya masyarakat yang kurang mampu dalam mencapai kehidupan mereka di bidang kesehatan, pendidikan, produksi dll.41

b. Scaling up via operational expansion,42 yaitu strategi yang bertujuan meningkatkan dampak kegiatan terhadap pembangunan, dengan memperluas program melalui ekspansi, yang terbagi menjadi 4 model, diantaranya: 1)

“ekspansi geografis” yaitu dengan pindah ke wilayah atau negara baru, 2)

“ekspansi horizontal” yaitu dengan menambahkan kegiatan sektoral tambahan untuk program yang ada, 3) “ekspansi vertikal” yaitu dengan menambahkan kegiatan hulu atau hilir untuk program yang ada, dan 4) ekspansi dengan kombinasi dari ketiganya.43

38 Harold K. Jacobson, Networks of Interdependence International Organizations and the Global Political System 2nd ed., (New York: Alfred A. Knopf, 1984), 82-83.

39 Michael Edwards dan David Hulme, Scaling up NGO impact on development: learning from experience, dalam buku Deborah Eade dan Jenny Pearce, Development, NGos, and Civil Society, (Oxford: Oxfam GB, 2000), 44-61.

40 Edwards dan Hulme, Scaling up NGO, 57.

41 Michael Edwards dan David Hulme, Making a Difference: NGOs and Development in a Changing World, (London: Earthscan, 1992), 17.

42 Edwards dan Hulme, Scaling up NGO, 58.

43 Edwards dan Hulme, Making a Difference, 19-20.

(36)

c. Scaling up via lobbying and advocacy. NGO aktif dalam kegiatan nasional dan internasional. Dalam kegiatan tersebut, NGO melakukan advokasi dengan cara menyampaikan pendapat atau merekomendasikan ide, untuk menarik perhatian masyarakat atau pihak lain tentang suatu isu penting, dan mengarahkan para pengambil keputusan untuk mendapatkan solusi atas masalah tersebut.44

d. Scaling up via supporting local initiatives. NGO membuat suatu jaringan atau networking untuk bekerjasama dengan inisiatif lokal. Networking adalah alat komunikasi dan mekanisme yang menghubungkan berbagai individu atau organisasi dengan tujuan yang sama.45

Menurut Bob Sugeng Hadiwinata, berdasarkan asal mula pembentukannya, NGO dapat diklasifikasikan sebagai berikut :

a. “Poverty Alleviation NGO.” NGO ini muncul sebagai aksi terhadap ketidakpuasan program pemerintah dalam mengentaskan kemiskinan. Tujuan utamanya adalah memberantas kemiskinan dengan membuat program-program pembangunan berdimensi swadaya dan melakukan aktivitas charity.

b. “Emancipatory NGO.” NGO ini muncul untuk membangkitkan kesadaran dalam menyelesaikan struktur yang menempatkan lingkungan, perempuan dan anak sebagai korban eksploitasi. NGO ini berdiri dengan tujuan meningkatkan posisi tawar isu tertentu dalam masyarakat agar tidak menjadi sumber eksploitasi, serta melakukan aktivitas melalui advokasi dan kampanye untuk memperkenalkan isu-isu global yang menjadi fokus mereka.

c. “Anti Authoritarian NGO.” NGO ini muncul sebagai aksi terhadap

44 Edwards dan Hulme, Scaling up NGO, 59.

45 Edwards dan Hulme, Scaling up NGO, 60

(37)

ketimpangan politik yang dianggap kurang kondusif bagi terciptanya demokrasi, kepastian hukum, dan perlindungan hak asasi manusia. Tujuanya adalah untuk mengupayakan tumbuhnya demokrasi di suatu negara melalui berbagai strategi yang meliputi advokasi, pelatihan, pembentukan kader, diskusi, dan lain-lain.46

3. Konsep Sustainable Development

Istilah Sustainable development (pembangunan berkelanjutan) mulai digunakan sejak tahun 1987 oleh Perserikatan Bangsa Bangsa melalui pembentukan World Commission on Environment and Development (WCED) yang dipelopori oleh Gro Harlem Brundtland. Brundtland kemudian memperkenalkan penggunaan istilah “sustainable development” dalam laporannya berjudul "Our Common Future" atau yang dikenal sebagai

"Brundtland Report.” 47

Sustainable development adalah pembangunan yang memenuhi kebutuhan masa kini tanpa mengorbankan kemampuan generasi mendatang untuk memenuhi kebutuhan mereka sendiri. Sustainable development merupakan suatu visi pembangunan yang meliputi populasi, spesies hewan dan tumbuhan, ekosistem, sumber daya alam, baik air, udara, maupun energy, serta upaya memerangi kemiskinan, tercapainya kesetaraan gender, hak asasi manusia, pendidikan, kesehatan, keamanan manusia, dan lain-lain.48

46 Bob S. Hadiwinata, “Dilema Pemberdayaan: LSM, Pemerintah dan Masyarakat Sipil”, Jurnal Potensia, Vol.VIII, No.20, TB:1997, L:10-11.

47 Susan Baker, Routledge Introductions to Environment Series: Sustainable Development, (New York: Routledge 270 Madison Ave, 2006), 1-13.

48 Monique Perrot-Lanaud, et al., UNESCO and Sustainable Development, (Paris:

UNESCO, 2005), 2, [dokumen on-line]; tersedia di

(38)

Secara khusus, Brundtland menguraikan konsep sustainable development kedalam beberapa bagian, diantaranya;49 (a) kerusakan lingkungan berkaitan dengan faktor-faktor ekonomi, sosial, dan politik, (b) sustainable development merupakan integrasi dari tiga pilar, yakni pertumbuhan ekonomi, kesejahteraan sosial, dan perlindungan lingkungan, (c) sustainable development membutuhkan sikap positif terhadap pengembangan, perlindungan lingkungan, dan pembangunan ekonomi dengan satu tujuan yang dapat saling mendukung, (d) sustainable development berpendapat bahwa teknologi dan organisasi sosial dapat membuka kemungkinan dalam pengembangan lingkungan, (e) sustainable development mengakui bahwa tanggung jawab generasi sekarang untuk generasi mendatang, (f) sustainable development adalah sebuah panggilan untuk sistem baru pemerintahan yang berasas lingkungan, di semua tingkatan, dari lokal menuju global, dan (g) sustainable development telah mencapai status otoriter dalam wacana lingkungan dalam pembangunan internasional dan kerangka hukum.

F. Metode Penelitian

Dalam penelitian ini, penulis menggunakan metode penelitian kualitatif. yaitu metode yang berfokus pada penjelasan deskriptif. Menurut John Creswell, penelitian kualitatif merupakan metode-metode untuk mengeksplorasi dan memahami makna dari sejumlah individu atau kelompok orang yang dianggap berasal dari masalah sosial atau kemanusiaan. Proses penelitian kualitatif ini melibatkan hal-hal seperti

http://unesdoc.unesco.org/images/0013/001393/139369e.pdf; Internet; diunduh pada 15 Agustus 2020.

49 Baker, Routledge Introductions, 25.

(39)

mengajukan pertanyaan dan prosedur, mengumpulkan data yang spesifik, menganalisis data serta menafsirkan data.50

Creswell menerangakan bahwa terdapat beberapa tahapan penelitian kualitatif.

Pertama, penelitian dimulai dengan mengidentifikasi masalah yang akan menjadi objek penelitian. Identifikasi masalah berkaitan dengan spesifikasi isu yang akan diteliti yang sekaligus menjelaskan bahwa isu tersebut layak diteliti. Kedua, pembahasan atau penelusuran kepustakaan (literature review). Pada bagian ini, peneliti mencari bahan bacaan yang membahas mengenai topik yang akan diteliti melalui jurnal, buku, dan sumber bacaan lainnya. Ketiga, menentukan tujuan dari penelitian. Keempat, pengumpulan data. Kelima, menganalisis data yang telah tersedia, yang kemudian akan memunculkan ide atau berkembang menjadi tema dan menghasilkan gagasan atau teori baru. Dan terakhir adalah laporan hasil penelitian.51

Berbagai pendekatan dapat dilakukan dalam metode kualitatif diantaranya:

biografi, fenomenologi, grounded theory study, studi kasus dan etnografi. Dalam penelitian ini, penulis menggunakan pendekatan studi kasus. Pendekatan tersebut berfokus terhadap suatu fenomena yang sedang terjadi, dengan mengambil batasan tertentu dalam penelitian, seperti fokus substansi penelitian. Kemudian mengumpulkan data secara terinci dan mendalam dengan menggunakan berbagai prosedur pengumpulan data.52 Dalam penelitian kualitatif, pengumpulan data dapat dilakukan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi.

Adapun dalam penelitian ini, teknik pengumpulan dilakukan melalui

50 John W. Creswell dan Timothy C. Guetterman, Research Planning, Conducting, and Evaluating Quantitative and Qualitative Research, 6th ed., (New Jersey : Pearson, 2019), 254-256

51 John W. Creswell, Educational Research. Planning, Conducting, and Evaluating Quantitative and Qualitative Research, 4th ed., (Boston: Pearson Inc, 2011), 57.

52 John W. Creswell, Qualitative Inquiry and Research Design: Choosing Among Five Approaches, 2nd ed., (USA: Sage Publications, 2007), 53-76.

(40)

dokumentasi, dari berbagai artikel, jurnal ilmiah, buku, dokumen-dokumen resmi dan media elektronik yang relevan dengan topik yang akan menunjang penelitian. Penulis menggunakan sumber yang berasal dari perpustakaan FISIP Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, kemudian e-resource seperti researchgate, website resmi pemerintahan, website Organisasi Internasional seperti World Wildlife Fund (WWF) dan lain-lain. Selain data sekunder, peneliti juga akan menggunakan data primer yaitu dengan melakukan wawancara.

Wawancara dilakukan dengan pihak-pihak yang terkait isu dalam penelitian ini untuk memperkaya wawasan dan analisis mengenai upaya WWF dalam konservasi dugong dan lamun di Indonesia. Narasumber dalam penelitian ini, yaitu Bapak Ir.

Andi Rusandi selaku direktur Konservasi dan Keanekaragaman Hayati Laut (KKHL) KKP, Bapak Muh. Firdaus Agung Kunto Kurniawan selaku koordinator kelompok konvensi dan jejaring konservasi KKP dan Bapak Hepy Kamil dari Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kabupaten Kotawaringin Barat. Seluruh narasumber tersebut dipilih karena memiliki kapasitas sebagai pemangku kepentingan yang terlibat secara langsung dalam upaya konservasi dugong dan lamun di Indonesia melalui kerjasama secara multipihak termasuk dengan WWF. Dengan menggunakan data-data tersebut, selanjutnya penulis akan mengolah dan menganalisis data hingga menghasilkan jawaban dari pertanyaan penelitian yang diajukan pada bab I.

G. Sistematika Penulisan

Sistematika penulisan penelitian ini disusun dalam lima bab dengan berbagai sub bab sebagai berikut

BAB I : PENDAHULUAN.

(41)

Pada bab I, merupakan pendahuluan memaparkan pernyataan masalah, kemudian pertanyaan penelitian, tujuan dan manfaat penelitian, tinjauan pustaka, kerangka pemikiran, dan sistematika penulisan.

BAB II : WORLD WIDE FUND FOR NATURE (WWF)

Bab II akan memaparkan tentang organisasi WWF. Awal mula terbentuknya organisasi WWF, perkembangan WWF di Indonesia hingga ruang lingkup kerja yang menjadi perhatian utama WWF Indonesia termasuk didalamnya konservasi dugong dan lamun.

BAB III : KONDISI DUGONG DAN LAMUN DI INDONESIA

Bab III akan memaparkan mengenai kondisi dugong dan lamun di Indonesia. Dalam bab ini juga akan dijelaskan mengenai pentingnya konservasi dugong dan lamun, dan upaya pemerintah dalam mengatasi masalah dugong dan lamun di Indonesia.

BAB IV : UPAYA WWF DALAM KONSERVASI DUGONG DAN LAMUN DI INDONESIA PERIODE 2016 – 2019

Bab IV merupakan hasil penelitian dan jawaban yang diajukan pada bab I.

Bab ini akan menjelaskan mengenai upaya yang dilakukan WWF dalam konservasi Dugong dan Lamun di Indonesia dari tahun 2016 sampai dengan 2019.

BAB V : PENUTUP

Bab V merupakan bab penutup, berisi kesimpulan dari pembahasan penelitian dan saran pada penelitian ini.

(42)

26 BAB II

WORLD WIDE FUND FOR NATURE (WWF)

Bab ini akan menjelaskan organisasi internasional World Wide Fund For Nature (WWF) yang terdiri dari sub-bab, yaitu sejarah berdirinya WWF dan perkembangan WWF di Indonesia.

A. Sejarah berdirinya World Wide Fund for Nature (WWF)

Sejarah berdirinya World Wide Fund for Nature (WWF) dimulai pada tahun 1961. Seorang pakar biologi berkebangsaan Inggris bernama Sir Julian Huxley yang pada saat itu menjabat sebagai general director of United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO), membuat tulisan yang dimuat pada surat kabar the observer Inggris, tentang kondisi satwa liar di Afrika yang terancam punah akibat perburuan. Tulisan Huxley kemudian ditanggapi oleh seorang pengusaha bernama Victor Stolan. Stolan menyarankan agar dibentuknya sebuah organisasi internasional untuk mengumpulkan dana bagi pelestarian lingkungan.53

Huxley kemudian menghubungi rekannya Max Nicholson, seorang ornitologis yang saat itu menjabat sebagai Director of Britain's Nature Conservancy. Nicholson kemudian mengundang sejumlah ilmuwan dari berbagai disiplin ilmu salah satunya yaitu Peter Scott yang saat itu menjabat sebagai wakil presiden International Union for Conservation of Nature (IUCN), untuk mendirikan sebuah organisasi penggalangan dana untuk mendukung konservasi

53 J. Baird Callicott dan Robert Frodeman, ed., Encyclopedia of Environmental Ethics and Philosophy, (USA: GALE CENGAGE Learning, 2009), 412-413.

(43)

yang berdasarkan ilmu pengetahuan ilmiah sebagai projek organisasi non- pemerintah.54 Akhirnya, pada tanggal 29 April 1961 mereka mendeklarasikan Morges Manifesto55 dan menandai langkah awal berdirinya WWF dengan nama organisasi World’s Wild Life.56

WWF kemudian memutuskan untuk memulai operasinya di Swiss dan terdaftar di bawah hukum Swiss pada 11 September 1961. Peter Scott yang saat itu menjabat sebagai wakil presiden International Union for Conservation of Nature (IUCN), menjadi ketua WWF pertama dengan sekretariat di Morges, yang saat ini dikenal sebagai WWF Internasional atau WWF Global,57 dan Pangeran H.R.H Bernhard dari Belanda menjadi Presiden pertama organisasi WWF.58 Pada saat yang bersamaan, seekor panda bernama Chi-Chi hadir di Kebun Binatang London. Kehadiran panda tersebut kemudian menjadi momentum dan diangkat sebagai simbol organisasi WWF.

WWF selanjutnya memperluas jangkauannya secara global dengan membuka jaringan lintas benua dan negara. Pendekatan ini dianggap paling efisien oleh para pendiri WWF dalam upaya konservasi, yaitu dengan mendirikan kantor cabang di berbagai negara. WWF membuka kantor cabang pertama di Inggris pada tanggal 23 November dan diikuti oleh Amerika Serikat pada tanggal

54 Callicott dan Frodeman, ed., Encyclopedia, 412-413.

55 “Deklarasi Morges Manifesto”, WWF [dokumen on-line] tersedia di https://wwfeu.awsassets.panda.org/downloads/morgesmanifesto.pdf; Internet; diunduh pada 13 September 2020.

56 WWF Global, “WWF in the 60's”, WWF Global [artikel on-line]; tersedia di http://wwf.panda.org/whoweare/history/sixties/; Internet; diakses pada 13 September 2020.

57 Callicott dan Frodeman, ed., Encyclopedia, 412-413.

58 WWF, History, [artikel on-line]; tersedia di https://www.worldwildlife.org/about/history;

internet; diakses pada 13 September 2020.

Gambar

Tabel  IV.A.1  Hasil  Survei  Tingkat  Kesadaran  Masyarakat  Indonesia  Tentang Dugong dan Lamun Tahun 2017....................................................67
Gambar II.A.1 Lokasi Kerja WWF di Indonesia
Gambar III.D.1 : Sebaran Biota Dugong di Indonesia Pada Tahun 2016
Gambar III.D.2 Status Padang Lamun Indonesia Tahun 2017
+7

Referensi

Dokumen terkait

Tujuan dari penelitian ini secara garis besar adalah untuk memberikan gambaran tentang program kampanye “Sebangau Conservation Project” dalam membangun perilaku masyarakat yang

Selanjutnya akan lebih memfokuskan perhatian kampanye yang dilakukan WWF Kalimantan Tengah pada kajian komunikasi termasuk didalamnya saluran atau media yang digunakan WWF

Dalam rangka membangun jaringan, kerjasama dan di dalamnya untuk mensinergikan visi konservasi, Balai Taman Nasional Sebangau bersama WWF- Indonesia secara aktif bergerak

Dari perjalanan kegiatan komunikasi di program konservasi Sebangau di Kalimantan Tengah, maka sekarang ini merupakan hal yang penting untuk melanjutkan kegiatan komunikasi yang

Dengan mengucap puji syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT atas rahmat dan karunia-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “Kerjasama WWF

Kemudian dari hasil observasi setahun (2006) yang dilakukan WWF, WWF melobi langsung (Lobbying Direct) dengan mendatangi Kementerian Kelautan dan Perikanan pada tahun

Organisasi internasional adalah suatu pola kerjasama yang melintasi batas-batas negara, dengan didasari pada struktur organisasi yang jelas, yang diharapkan dapat

Tujuan dari penelitian ini secara garis besar adalah untuk memberikan gambaran tentang program kampanye “Sebangau Conservation Project” dalam membangun perilaku masyarakat yang