• Tidak ada hasil yang ditemukan

Status Hak Waris Anak Dari Pernikahan Sedarah

Dalam dokumen BAB I PENDAHULUAN A. (Halaman 79-86)

BAB III : PENYAJIAN DATA DAN ANALISIS

B. Status Hak Waris Anak Dari Pernikahan Sedarah

Perkawinan menurut hukum perdata, kitab KUH Perdata tidak memberikan pengertian mengenai perkawinan. Perkawinan dalam hukum perdata adalah perkawinan perdata, maksutnya adalah perkawinan hanya merupakan ikatan lahiriyah antara pria dan wanita, unsur agama tidak dilihat.

tujuan perkawinan tidak untuk memperolah keturunan. Oleh karena itu dimungkinkan perkawinan in extrimis.

Perkawinan, ialah pertalian yang sah antara seorang laki-laki dan seorang perempuan untuk waktu yang lama. Undang-undang memandang perkawinan hanya dari hubungan keperdataan, demikian pasal 26 burgerlijk wetboek.78 Pasal tersebut hendak menyatakan bahwa suatu perkawinan yang sah, hanyalah perkawinan yang memenuhi syarat-syarat yang ditetapkan

77 Abdul Manan, Hukum Perdata Islam di Indonesia, (Jakarta: Kencana, 2006), 40.

78 Subekti, Pokok-pokok hukum perdata (Jakarta: Intermasa, 2003), 23.

dalam kitab undang-undang hukum perdata (BW) dan syarat-syarat serta peraturan agama dikesampingkan.

Larangan perkawinan, apabila melihat kembali kepada KUH Perdata (BW) pasal 30-35 tentang larangan perkawinan, maka perkawinan yang dilarang adalah sbb :

a. Antara mereka yang satu dan lain bertalian keluarga dalam garis lurus ke atas dan ke bawah, baik karena kelahiran yang sah atau tidak sah atau karena perkawinan (pasal 30)

b. Antara mereka yang bertalian keluarga dalam garis menyimpang antara saudara pria dan saudara wanita yang sah atau tidak sah (pasal 30)

c. Antara ipar pria dan ipar wanita karena perkawinan sah atau tidak sah, kecuali si suami atau si istri yang mengakibatkan periparan sudah meninggal atau jika karena keadaan tidak hadirnya suami atau istri, terhadap istri atau suami yang ditingalkannya, oleh hakim diizinkan untuk kawin dengan orang lain. (pasal 31 [1e])

d. Antara paman atau paman orang tua dan anak wanita saudara atau cucu wanita saudara, seperti juga bibi atau bibi dari orang tua dan anak pria saudara atau cucu pria dari saudara yang sah atau tidak sah (pasal 31 [2e])

e. Antara teman berzina, jika telah dinyatakan dengan putusan hakim salah karena zina (pasal 32)

f. Antara mereka yang perkawinannya telah dibubarkan karena putusan hakim setelah pisah meja dan ranjang, atau karena perceraian (pasal 33 jo 199 [3e-4e]), kecuali setelah lewat waktu satu tahun sejak pembubaran perkawinan mereka yang terakhir. Perkawinan yang kedua kalinya antara orang-orang yang sama dilarang.

g. Seorang wanita dilarang kawin lagi kecuali setelah lewat waktu 200 hari sejak perkawinannya terakhir di bubarkan.79

Menurut pasal 85 KUH Perdata (BW), kebatalan suatu perkawinan hanya dapat dinyatakan oleh hakim.80 Artinya bahwa perkawinan itu hanya dapat dinyatakan batal sesudah keputusan hakim atas dasar-dasar yang diajukan penuntut yang ditunjuk oleh undang-undang. Jadi perkawinan tidak dapat dinyatakan batal demi hukum karena kalau demikian halnya, maka tak menjamin kepastian hukum.

Di dalam pasal 90 KUH Perdata ditentukan bahwa pembatalan segala perkawinan yang berlangsung dengan menyalahi ketentua-ketentuan termuat dalam pasal 30, pasal 31, pasal 32, dan pasal 33 boleh dituntut (dimintakan pembatalan) baik oleh suami istri itu sendiri, baik oleh orang tua atau keluarga sedarah mereka dalam garis keatas, atau yang berkepentingan atas pembatalan itu, ataupun oleh kejaksaan.

Melihat keterangan di atas jelas bahwa pernikahan sedarah adalah pernikahan yang dilarang karena dalam pasal 30 KUH Perdata dijelaskan bahwa perkawinan dilarang antara mereka yang satu sama lainnya mempunyai

79 Hilman Hadikusuma, Hukum Perkawinan Indonesia (Bandung: Mandar Maju, 2007), 57.

80 Ibid., 75.

hubungan darah dalam garis ke atas maupun garis ke bawah, baik kelahiran yang sah maupun karena kelahiran yang tidak sah, atau kerena perkawinan, dalam garis kesamping, antara kakak beradik laki perempuan, sah atau tidak.

Karena di dalam KUH Perdata tidak ada istilah perkawinan batal demi hukum maka pernikahan sedarah yang sudah terjadi, boleh dimintakan pembatalan perkawinan kepada hakim. baik oleh suami istri itu sendiri, baik oleh orang tua atau keluarga sedarah mereka dalam garis keatas, atau yang berkepentingan atas pembatalan itu, ataupun oleh kejaksaan.

Berbicara mengenai anak, maka dalam KUH Perdata dapat di golongkan sebagai berikut :

1. Anak sah yaitu anak yang dilahirkan atau ditumbuhkan sepanjang perkawinan dengan tidak mempermasalahkan kapan anak itu dibengkitkan oleh kedua suami istri atau orang tuanya.

2. Anak luar perkawinan yaitu anak yang telah dilahirkan sebelum kedua suami istri itu menikah atau anak yang diperoleh salah seorang dari suami atau istri dengan orang lain sebelum mereka menikah. Anak luar perkawinan ini terbagi atas:

a. Anak yang disahkan yaitu anak yang dibuahkan atau dibenihkan diluar perkawinan, dengan kemudian dengan menikahnya bapak dan ibunya akan menjadi sah, dengan pengakuan menurut UU oleh kedua orangtuanya itu sebelum pernikahan atau dengan pengajuan dalam akte perkawinannya sendiri

b. Anak yang diakui yaitu dengan pengakuan terhadap seorang anak diluar kawin, timbulah hubungan perdata antara si anak dan bapak atau ibunya atau dengan kata lain yaitu anak yang diakui baik ibunya saja atau bapaknya saja atau kedua-duanya akan memperoleh kekeluargaan dengan bapak atau ibu mengakuinya.

c. Anak yang tidak dapat diakui terdiri atas anak zina (anak yang lahir dari orang laki-laki dan perempuan, sedangkan salah satu dari mereka itu atau kedua-duanya berada dalam ikatan perkawinan dengan orang lain), anak sumbang (anak yang lahir dari orang laki-laki dan perempuan, sedangkan diantara mereka terdapat larangan kawin atau tidak boleh kawin karena masih ada hubungan kekerabatan yang dekat). Untuk kedua anak ini tidak mendapatkan hak waris, mereka hanya mendapatkan nafkah seperlunya.

Menurut KUH Perdata anak yang dilahirkan atau dibesarkan selama perkawinan, memperoleh si suami sebagai ayahnya (pasal 250). Sahnya anak yang dilahirkan sebelum hari keseratus delapan puluh (6 bulan) dari perkawinan, dapat diingkari oleh suaminya (pasal 251). Anak di luar kawin, kecuali yang dilahirkan dari perzinahan atau penodaan darah, disahkan oleh perkawinan yang menyusul dari ayah dan ibu mereka, bila sebelum melakukan perkawinan mereka telah melakukan pengakuan secara sah terhadap anak itu, atau bila pengakuan itu terjadi dalam akta perkawinannya

sendiri (pasal 272). Dengan pengakuan terhadap anak di luar kawin, terlahirlah hubungan perdata antara anak itu dan ayah atau ibunya (pasal 280).81

Dalam KUH Perdata ada dua macam anak luar kawin yaitu anak luar kawin yang dapat di akui dan tidak dapat diakui :

1. Anak luar perkawinan yang dapat di akui, anak yang lahir di luar perkawinan yang sah. Menurut pasal 280 KUH Perdata antara anak luar nikah dan orang tuanya mempunyai hubungan hukum perdata apabila si bapak dan si ibu mengakuinya.

2. Anak luar perkawinan yang tidak dapat diakui ada dua golongan yaitu :

a) Anak Zina

Anak zina adalah anak yang lahir dari hubungan antara seorang laki-laki dan seorang perempuan di mana salah satu atau keduanya terikat dalam ikatan perkawinan yang sah dengan pihak lain.

b) Anak Sumbang

Anak sumbang yaitu anak yang dilahirkan dari hubungan antara seorang laki-laki dan seorang perempuan, yang diantara keduanya terdapat larangan untuk menikah (karena terdapat hubungan darah misalnya kakak dengan adik).82

81 Ibid., 124.

82 Ali Afandi, Hukum Waris Hukum Keluarga dan Hukum Pembuktian (Jakarta: Rieneka Cipta, 2000) , 42.

Anak-anak tersebut menurut pasal 283 yang berbunyi : “anak yang dilahirkan karena perzinahaan atau penodaan darah (incest, sumbang), tidak boleh diakui tanpa mengurangi ketentuan pasal 273 mengenai anak pernodaan darah” yaitu tidak dapat diakui.

Dan mengenai hak waris anak-anak ini pasal 867 KUH Perdata menentukan bahwa mereka tidak dapat mewaris dari orang yang membenihkanya. Tetapi undang-undang memberikan kepada mereka hak menuntut pemberian nafkah seperlunya terhadap boedel (warisan yang berupa kekayaan saja), yang besarnya tidak tertentu, tergantung dari besarnya kemampuan bapak atau ibunya dan keadaan para ahli waris sah. Hak atas nafkah itu disebut dengan hak alimentasi.83

Jadi, hak anak zina dan anak sumbang bukanlah hak waris, tetapi hak alimentasi sehingga mereka dapat diperbandingkan dengan hak kreditur (piutang). Keadaan ahli waris yang sah, apakah mereka mampu atau miskin, turut menentukan besarnya hak alimentasi bagi anak-anak zina atau anak sumbang hal ini selaras dengan pasal 868. Akan tetapi apabila pada waktu hidupnya si bapak atau si ibu alamiah, anak tersebut telah menikmati jaminan nafkah dari padanya, maka menurut pasal 869 anak-anak tersebut tidak lagi mempunyai hak untuk menntut harta warisan bapak dan ibu alamiahnya.

83 J. Andy Hartanto, Hukum Waris Kedudukan dan Hak Waris Anak Luar Kawin menurut

Burgerlijk Wetboek Pasca Putusan Mahkamah Konstitusi (Surabaya: LaksBang Justitia, 2015), 37.

Dalam dokumen BAB I PENDAHULUAN A. (Halaman 79-86)

Dokumen terkait