• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN A.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN A."

Copied!
111
0
0

Teks penuh

(1)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Salah satu fitrah manusia adalah adanya perasaan saling suka antara lawan jenis (laki-laki dengan perempuan). Fitrah yang lain adalah adanya keinginan untuk memiliki keturunan. Islam kemudian menunjukkan cara pergaulan yang benar antara laki-laki dan perempuan dengan pernikahan.

Nikah adalah satu asas pokok hidup yang paling utama dalam pergaulan atau masyarakat yang sempurna. Pernikahan itu bukan saja merupakan satu jalan yang amat mulia untuk mengatur kehidupan rumah tangga dan keturunan, tetpai juga dapat dipandang sebagai satu jalan menuju pintu perkenalan antara suatu kaum dengan kaum lain, dan perkenalan itu akan menjadi jalan untuk menyampaikan pertolongan antara satu dengan yang lainnya.

Sebenarnya pertalian nikah adalah pertalian yang seteguh-teguhnya dalam hidup dan kehidupan manusia, bukan saja antara suami istri dan keturunananya, melainkan antara dua keluarga. Betapa tidak? Dari baiknya pergaulan antara si istri dengan suaminya, kasih mengasihi, akan berpindahlah kebaikan itu kepada semua keluarga, dari kedua belah pihaknya, sehingga mereka menjadi satu dalam segala urusan bertolong-tolongan sesamanya dalam menjalankan kebaikan dan mencegah segala kejahatan. Selain itu,

(2)

dengan pernikahan seseorang akan terpelihara dari kebinasaan hawa nafsunya.1

Anwar harjono menegaskan bahwa perkawinan adalah kalimat bahasa Indonesia yang umum dipakai dalam pengertian yang sama dengan nikah atau zawaj dalam istilah fiqh. Pengertian para ahli fiqh tentang hal ini, khususnya para Imam Empat bermacam-macam, tetapi dalam satu hal semuanya sependapat bahwa perkawinan, nikah atau zawaj adalah suatu akad atau suatu perjanjian yang mengandung arti tentang sahnya hubungan kelamin.

Perkawinan adalah suatu perjanjian untuk melegalkan hubungan kelamin dan untuk melanjutkan keturunan.2

Faedah yang terbesar dalam pernikahan ialah untuk menjaga dan memelihara perempuan yang bersifat lemah itu dari kebinasaan, sebab seorang perempuan, apabila ia sudah menikah, maka nafkahnya (biaya hidupnya) wajib ditanggung oleh suaminya. Pernikahan juga berguna untuk memelihara kerukunan memelihara anak cucu (keturunan), sebab kalau tidak dengan nikah, tentulah anak tidak berketentuan siapa yang akan mengurusnya dan siapa yang bertanggung jawab atasnya. Nikah juga dipandang sebagai kemaslahatan umum, sebab kalau tidak ada pernikahan, tentu manusia akan menurutkan sifat kebinatangannya, dan dengan sifat itu akan timbul perselisihan, bencana, dan permusuhan antara sesamanya, yang mungkin juga sampai menimbulkan pembunuhan yang maha dahsyat.

1 Sulaiman Rasjid, Fiqh Islam (Bandung: Sinar Baru Algensindo, 2013), 374.

2 Beni Ahmad Saebani, Fiqh Munakahat 1 (Bandung: CV. Pustaka Setia, 2009), 17.

(3)

Pernikahan dapat diartikan sebagai perjanjian pertalian antara manusia laki-laki dan perempuan yang berisi persetujuan secara bersama-sama menyelenggarakan kehidupan yang lebih akrab menurut syarat-syarat dan hukum susila yang di benarkan Tuhan Pencipta Alam. Diantara orang yang memeluk agama, titik berat pengesahan hubungan diukur dengan ketentuan- ketentuan yang telah ditetapkan Tuhan sebagai syarat mutlak. Bagi orang- orang yang tidak mendasarkan titik berat itu pada hukum ilahi, pernikahan dalam teori dan prakteknya merupakan suatu kontrak sosial yang berisi persetujuan bahwa mereka akan hidup sebagai suami istri untuk selama- lamanya atau untuk masa tertentu. Persetujuan itu di akui oleh undang-undang atau oleh adat di dalam suatu masyarakat atau daerah yang memperbolehkannya.

Pernikahan merupakan jalan alami dan biologis yang paling baik dan sesuai untuk menyalurkan dan memuaskan naluriah seks. Dengan menikah, badan jadi segar, jiwa jadi tenang, mata terpelihara dari melihat yang haram, dan perasaan tenang menikmati barang yang halal.

Keadaan inilah yang disyaratkan leh firman Allah SWT. Dalam Surat Ar-Rum ayat 21 :

ۡ

ٓۦ

ۡ

ۡ

ۡ ۡ

ٗ

ۡ

ٓ

ۡ

ۡ

ٗ

ۡ ۚ

ٓ

ٗ

ۡ

ٗ

Artinya: “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu

(4)

benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir”. (Q.S.

Ar-Rum: 21)3

Menikah merupakan jalan terbaik untuk membuat anak-anak menjadi mulia, memperbanyak keturunan, melestarikan hidup manusia serta memelihara nasab yang oleh Islam sangat diperhatikan. Rasulullah SAW bersabda :

Artinya : “Menikahlah dengan perempuan pencinta lagi bisa banyak anak, agar nanti aku dapat membanggakan jumlahmu yang banyak di hadapan para Nabi pada hari kiamat.”

Ikatan perkawinan tidak serta merta dilaksankan oleh setiap orang, baik laki-laki maupun perempuan. Karena dalam perkawinan tidak terlepas dari rukun dan syarat-syarat yang harus dipenuhi serta larangan-larangan yang harus dihindari bagi orang-orang yang ingin melaksanakan perkawianan.

Demi kelestarian dan kelangsungan makhluk hidup yang bernama manusia, maka Allah SWT menjadikan pernikahan sebagai satu-satunya sarana yang paling afdhal untuk mewujudkan hal tersebut. Dalam bingkai pernikahan inilah setiap suami maupun isteri berharap mendapatkan keturunan yang baik dan mulia, sehingga nantinya anak-anak yang lahir akan menjadi penerus perjuangan dan kemuliaan sebagai manusia.

3Ahmad Hatta, Tafsir Qur’an Perkata: dilengkapi dengan Asbabun Nuzul & Terjemah (Jakarta:

Maghfirah Pustaka, 2011), 406.

(5)

Anak sebagai keturunan bukan saja menjadi buah hati, tetapi juga sebagai penolong dalam hidup didunia, bahkan akan memebri tambahan amal kebajikan di akhirat nanti, manakala orang tua dapat mendidiknya menjadi anak yang sholihah.4

Seiring perkembagan peradaban manusia yang semakin maju, masalah yang timbul dalam bidang hukum keluarga pun ikut berkembang, tidak lain masalah perkawinan. Meskipun hukum agama dan perundang-undangan yang ada di Indonesia telah mengatur sedemikian rupa tentang cara perkawinan sehingga akibat-akibat yang timbul dari perkawinan dapat diakui dihadapan hukum, nyatanya masih banyak penyimpangan-penyimpangan yang terjadi di masyarakat. Salah satunya adalah perkawinan sedarah/ perkawinan sumbang atau dikenal dengan incest.

Praktek perkawinan sedarah bukan hal yang baru lagi. Di Indonesia sendiri sampai saat ini perilaku incest masih ada pada kelompok masyarakat tertentu, seperti suku Polahi di Kabupaten Polahi, Sulawesi, praktek incest banyak terjadi. Perkawinan sedarah di daerah tersebut merupakan hal yang wajar dan biasa.

Terlepas dari suku Polahi di atas ada beberapa jurusprudensi menunjukkan adanya adanya praktek perkawinan incest di Indonesia, di antaranya Pengadilan Agama Indramayu memfasidkan perkawinan antara seorang laki-laki yang mengawini anak perempuan dari saudara perempuannya. Dengan putusan tanggal 06 Januari 1958 No. 5. Anehnya wali

4Busriyanti, Fiqih Munakahat (Jember: Stain Jember Press, 2013), 11.

(6)

dan mempelai perempuan mengatakan bahwa mereka tidak tahu kalau sang mempelai perempuan masih mempunyai hubungan darah dengan mempelai pria.

Selanjutnya yaitu putusan Pengadilan Agama Yogyakarta No.

216/P.dt.G/1996/PA.Yk yakni putusan pembatalan perkawinan antara paman dan keponakannya yang semula menikah di KUA Kecamatan Tegalrejo Yogyakarta. Pernikahan ini terjadi akibat keluarga mempelai tidak mengetahui adanya larangan perkawinan keduanya dan ketika petugas KUA menanyakan ada tidaknya hubungan mahram kedua keluarga mempelai memaparkan tidak ada.5

Terlepas dari fenomena tersebut, perlu mendapatkan perhatian adalah anak yang lahir akibat perkawinan tersebut. Bagaimana dengan status hak waris anak dari pernikahan sedarah. Jika merujuk kepada ketentuan undang- undang No. 1 Tahun 1974 tentang perkawinan. Anak yang dilahirkan di luar perkawinan mempunyai hubungan perdata dengan ibunya dan keluarga ibunya (pasal 43 ayat (1) UU Perkawinan).

Oleh karena adanya hubungan perdata dengan ibunya, maka anak zina yang lahir setelah berlakunya UU Perkawinan, bisa mendapat warisan dari ibunya. Putusan Mahkamah Konstitusi No. 46/PUU-VIII/2010 menguji pasal 43 ayat (1) UUP, sehingga pasal tersebut harus di baca, “anak yang dilahirkan di luar perkawinan mempunyai hubungan perdata dengan ibunya dan keluarga ibunya serta dengan laki-laki sebagai ayahnya yang dapat dibuktikan

5 Rahmawati Anief, Kedudukan anak hasil perkawinan incest dalam perspektif perundang- undangan perkawinan Indonesia. (Aniefrahmawati.blogspot.co.id/2012/05/cerita-yang-tak- berujung.html?m=1). Di akses Tanggal 01 Februari 2016.

(7)

berdasarkan ilmu pengetahuan dan tehnologi dan/atau alat bukti lain menurut hukum mempunya hubungan darah, termasuk hubungan perdata dengan keluarga ayahnya”.

Status anak yang lahir di luar perkawinan sangatlah jelas hak dan bagian waris yang di dapatnya, sedangkan anak yang lahir dari perkawinan sumbang atau anak yang terlahir dari perkawinan sedarah masih belum jelas apakah anak tersebut mendapat hak waris dari ibu dan ayahnya beserta keluarganya.

Dengan adanya fenomena-fenomena tersebut tentang pernikahan sedarah yang nantinya akan berpengaruh terhadap status hak waris anak.

Maka sudah sepatutnya dibutuhkan pembahasan yang lebih mendalam dalam menganalisis status hak waris anak tersebut. Maka peneliti tertarik untuk mengambil judul “Status Hak Waris Anak Dari Pernikahan Sedarah Perspektif Fiqh Kontemporer Dan Hukum Positif Di Indonesia”.

B. Fokus Penelitian 1) Pokok Masalah

Bagaimana Status Hak Waris Anak Dari Pernikahan Sedarah Perspektif Fiqh Kontemporer.

2) Sub Pokok Masalah

a. Bagaimana status hak waris anak perspektif fiqh kontemporer?

b. Bagaimana status nasab anak dari pernikahan sedarah perspektif fiqh kontemporer?

(8)

c. Bagaimana status hak waris anak dari pernikahan sedarah perspektif fiqh kintemporer?

C. Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian merupakan gambaran tentang arah yang akan dituju dalam melakukan penelitian.6 Tujuan penelitian mengacu pada masalah- maaslah yang telah dirumuskan sebelumnya.

Tujuan dirumuskan sebagai upaya yang ditempuh penelitian merumuskan masalah. Adapun tujuan dari penelitian ini adalah :

1) Tujuan Umum

Untuk mendiskripsikan Status Hak Waris Anak Dari Pernikahan Sedarah Perspektif Fiqh Kontemporer.

2) Tujuan Khusus

a. Untuk mendeskripsikan status hak waris anak perspektif fiqh kontemporer.

b. Untuk mendeskripsikan status hak waris anak dari pernikahan sedarah perspektif fiqh kontemporer.

c. Untuk mendeskripsikan status hak waris anak dari pernikahan sedarah perspektif fiqh kintemporer.

D. Manfaat Penelitian

Dalam setiap aktifitas yang dilakukan oleh manusia diharapkan dapat memberikan suatu manfaat yang baik. Begitu pula dalam penelitian diharapkan dapat bermanfaat baik bagi peneliti sendiri maupun bagi obyek

6 Stain Jember, Pedoman Penuisan Karya Ilmiah (Jember: STAIN Jember Press, 2014), 37.

(9)

yang diteliti yang dapat memberi kontribusi dalam pengembangan di bidangnya.

Manfaat peneliti berisi tentang kontribusi apa yang akan diberikan setelah melakukan penelitian. Kegunaan dapat berupa kegunaan yang bersifat teoritis dan kegunaan praktis, seperti kegunaan bagi penulis, instansi dan masyarakat secara keseluruhan. Kegunaan atau manfaat dari penelitian harus realistis.7

Berdasarkan uraian tersebut peneliti menjabarkan manfaat sebagai berikut :

1) Manfaat Teoritis

Mampu memberikan penjelasan serta dalam rangka mengembangkan dan meningkatkan ilmu pengetahuan untuk penelitian selanjutnya, hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi pengetahuan dan pengembangan ilmu pengetahuan tentang hukum status hak waris anak dari pernikahan sedarah perspektif fiqh kontemporer dan hukum positif di indonesia.

2) Manfaat Praktis

a. Bagi Peneliti, hasil penelitian ini dapat memberikan manfaat dalam mengembangkan kompetensi peneliti dan dapat menambah wawasan pengetahuan terkait dengan hubungan antara status hak waris anak dari

7Ibid., 38.

(10)

pernikahan sedarah perspektif fiqh kontemporer dan hukum positif di indonesia dan dapat menjadi bekal untuk mengadakan penelitian berikutnya.

b. Bagi Lembaga, Sebagai masukan yang konstruktif dan merupakan dokumen yang bisa dijadikan sumber pustaka.

c. Bagi Masyarakat, penelitian ini diharapkan dapat dijadikan informasi dan dapat menambah wawasan serta sebagai input (masukan) dalam menyelesaikan masalah bagi keluarga yang mempunyai permasalahan serupa dengan penelitian ini.

E. Definisi Istilah

Definisi istilah berisi tentang pengertian istilah-istilah penting yang menjadi titik perhatian dalam judul penelitian. Tujuanya agar tidak terjadi kesalah pahaman terhadap makna istilah sebagaimana dimaksud peneliti.8 Istilah yang terdapat dalam penelitian ini adalah :

1. Status : Keadaan atau kedudukan.

2. Hak Waris Anak : Suatu hak yang dimiliki oleh setiap anak terutama mengenai hak waris yang melekat pada dirinya akibat adanya hubungan darah (Qarabah), baik dengan ibu yang melahirkannya dn juga ayah yang dapat dipastikan secara hukum, bahwa ayahnya tersebut telah menyebabkan ibunya hamil dan seterusny melahirkan anak tersebut.9 3. Pernikahan Sedarah (Incest) : Pernikahan yang dilarang oleh karena

hubungan keluarga, dengan kata lain pernikahan sedarah adalah

8 Ibid,. 42.

9 Sri Lumatus Sa’adah. Pembaharuan Hukum Waris Islam di Indonesia (Jember: Stain Jember Press, 2013), 21.

(11)

pernikahan yang terjadi antara dua orang yang mempunyai ikatan pertalian darah.

4. Fiqh kontemporer : Perkembangan pemikiran fiqh di masa sekarang. (tentang perkembangan pemikiran fiqh dewasa ini.dalam hal ini yang menjadi titik acuan adalah bagaimana tanggapan dan metodologi hukum islam dalam memberikan jawaban terhadap masalah kontemporer.) 5. Hukum Positif : Kumpulan asas dan kaidah hukum tertulis

yang pada saat ini sedang berlaku dan mengikat secara umum atau khusus dan ditegakkan oleh atau melalui pemerintah atau pengadilan dalam negara Indonesia. (pembahasan hukum positif di sini adalah Hukum Perdata)

F. Metode Penelitian

Metode penelitian adalah suatu cara yang digunakan dalam mengumpulkan data penelitian dan membandingkan dengan standar ukuran yang ditentukan.10

Adapun tekhnik atau metode yang digunakan dalam penelitian ini meliputi :

1. Pendekatan dan Jenis Penelitian a. Pendekatan Penelitian

Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif. Hal ini dikarenakan data yang dibutuhkan dalam penelitian ini tidak berbentuk angka atau tidak dapat

10 Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Praktek (Jakarta: Rineka Cipta, 2002), 126.

(12)

diangkakan, karena dalam menganalisis data menggunakan kata-kata bukan dalam bentuk angka-angka (rumusan statistik).11

Adapun tujuan dan kegunaan studi kepustakaan, khususnya dalam metode penelitian hukum adalah menunjukkan jalan pemecahan permasalahan penelitian sehingga dapat mengetahui historis dan perspektif dari permasalahan penelitian tersebut dan mendapatkan informasi tentang cara evaluasi atau analisis data yang dapat digunakan.12

Dalam hal ini datanya adalah berupa teori-teori atau konsep- konsep tentang status hak waris anak dari pernikahan sedarah perspektif fiqh kontemporer dan hukum positif di indonesia.

b. Jenis Penelitian

Dalam penelitian ini menggunakan penelitian kepustakaan (library research). Penelitian kepustakaan merupakan penelitian yang memusatkan serta membatasi kegiatannya pada perpustakaan untuk memperoleh data tanpa melakukan riset di lapangan.13

Jadi penelitian kepustakaan yaitu teknik pengumpulan data dengan mengadakan studi penelaah terhadap buku-buku, literatur- literatut, catatan-catatan, dan laporan-laporan yang ada hubungannya dengan penelitian.

11 Ibid., 21.

12 Bambang Sunggono, Metodologi Penelitian Hukum (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2009), 112.

13 Mestika Zed, Metode Penelitian Kepustakaan (Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 2004), 2.

(13)

Dalam hal ini datanya adalah berupa teori atau konsep tentang status hak waris terutama dalam hal bagian anak dari pernikahan sedarah.

2. Metode Pengumpulan Data

Pengumpulan data adalah prosedur yang sistematik dan standar untuk memperoleh data yang diperlukan.14 Untuk teknik pengumpulan data dalam jenis penelitian pustaka, langkah-langkah yang harus dilakukan pertama oleh peneliti adalah:

a. Mencari dan menemukan data-data yang berkaitan dengan pokok permasalahan.

b. Membaca dan meneliti data-data yang didapat untuk memperoleh data yang lengkap sekaligus terjamin.

c. Mencatat data secara sistematis dan konsisten. Pencatatan yang telitibegitu diperlukan karena manusia mempunyai ingatan yang sangat terbatas.15

3. Sumber Data

Sumber data penelitian ini adalah berupa bahan kepustakaan yang berwujud buku, kitab, peraturan perundang-undangan, ensiklopedia, jurnal dan sumber-sumber lain yang ada kaitannya dengan masalah ini. Sumber data tersebut dibagi dalam dua kelompok, yaitu:

a. Bahan Primer

14 Moh. Nasir, Metode Penelitian (Jakarta: Gaila Indonesia, 1988), 211.

15 Amiruddin, dkk, Pengantar Metode Penelitian Hukum (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2004), 76.

(14)

Bahan primer yakni bahan pustaka yang berisi pengertian tentang fakta yang telah diketahui maupun ide-ide, yaitu mencakup buku, undang-undang hukum Islam serta kitab-kitab fiqih berbagai madzhab yang dijadikan bahan penelitian, diantaranya adalah:

1) Al-Qur’an 2) Al-Hadis

3) Buku Fiqh mawaris

4) Kompilasi Hukum Islam (KHI) 5) KUH Perdata

b. Bahan Sekunder

Bahan sekunder yaitu bahan pustaka yang berisi informasi tentang sumber bahan primer, yaitu buku, penjelasan perundang- undangan, ensiklopedia hukum, kamus hukum.16 Bahan sekunder itu antara lain:

1) Jurnal 2) Kamus 3) Kepustakaan 4) Website

serta data lain yang mempunyai keterkaitan dalam pembahasan status hak waris anak dari pernikahan sedarah.

4. Analisis Data

16 Soeryono Soekant dan Sri Mamadji, Penelitian Hukum Normatif (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2003), 29.

(15)

Dalam kualitatif, data diperoleh dari berbagai sumber, dengan menggunakan tekhnik pengumpulan data yang bermacam-macam (triangulasi), dan dilakukan secara terus menerus sampai datanya jenuh.

Dengan pengmatan yang terus menerus mengakibatkan variasi data tinggi sekali.17

Dalam penelitian ini metode yang digunakan adalah : a. Deskriptif Komparatif

Untuk memudahkan penelitian ini penulis menggunakan metode deskriptif comparatife yaitu mendeskripsikan Status Hak Waris Anak Dari Pernikahan Sedarah Perspektif Fiqh Kontemporer dan Hukum Positif di Indonesia. Sehingga hasil dari kedua pandangan tersebut bisa diambil kesimpulan, dengan harapan penelitian ini dapat menemukan karakteristik pesan yang objektif dan sistematis, sesuai dengan data kualitatif yang di dapatkan oleh peneliti.

b. Content Analysis (Analisis Isi)

Content Analysis adalah teknik penelitian yang digunakan untuk referensi yang replikabel dan valid dari data pada konteksnya yang kemudian digunakan untuk menarik kesimpulan melalui usaha menemukan karakteristik pesan, dan dilakukan secara obyektif dan sistematis.18 Content Analysis mengindikasikan beberapa ciri, pertama, teks perlu diproses dengan aturan dan prosedur yang telah dirancangkan. Kedua, teks diproses secara sistematis, mana yang

17 Sugiyono, Metode Penelitian Kualitatif dan R&D (Jakarta: Alfabeta, 2011), 243.

18 Burhan Bungin, Metodologi Penelitian Kualitatif (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2001), 231.

(16)

termasuk dalam suatu kategori, dan mana yang tidak termasuk ditetapkan berdasarkan aturan yang sudah ditetapkan. Ketiga, proses menganalisis teks tersebut haruslah mengarah ke pemberian sumbangan pada teori, ada relevansi teoritiknya. Keempat, analisis tersebut mendasarkan pada deskripsi yang dimanifestasikan.

5. Keabsahan Data

Uji keabsahan data dalam sebuah penelitian ditekankan pada uji validitas data. Validitas merupakan derajat ketetapan antara data yang menjadi obyek penelitian dengan daya yang dapat dilaporkan oleh peneliti, dengan demikian data yang validitas adalah data yang tidak berbeda antara yang dilaporkan oleh peneliti dengan data sesungguhnya terjadi pada obyek penelitian.

Teknik yang digunakan adalah teknik trianggulasi. Teknik trianggulasi dapat diartikan sebagai teknik pengumpulan data yang bersifat menggabungkan dari berbagai teknik pengumpulan data dan sumber data yang telah ada. Apabila melakukan pengumpulan data dengan trianggulasi, maka sebenarnya selain mengumpulkan data sekalaigus juga menguji kredibilitas data, yaitu mengecek kredibilitas data dengan berbagai teknik pengumpulan data dan berbagai sumber data.19

Sejalan dngan definisi tersebut, menurut Andi Prastowo, tekhink trianggulasi yaitu tekhnik pemeriksaan keabsahan data dengan

19 Sugiyono, Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif dan R&D (Bandung: Alfabeta, 2010), 330.

(17)

memanfaatkan sesuatu yang lain di luar data tersebut sebagai pengecek atau pembanding terhadap data tersebut.20

Adapun jenis trianggulasi yang digunakan pada penelitian ini adalah trianggulasi sumber yang berarti membandingkan dan mengecek balik derajat kepercayaan suatu informasi yang diperoleh melalui waktu dan alat yang berbeda dalam penelitian kualitatif.21

6. Sistematika Pembahasan

Sistematika pembahasan berfungsi untuk memberikan gambaran secara global pembahasan skripsi ini. Sistematika pembahasan dalam skripsi ini dibagi menjadi empat bab yang masing-masing memiliki jangkaun yang berbeda sesuai dengan tuntutan penulisan karya ilmiahd.

Adupun sistematika pembahasan dalam penelitian ini adalah :

Bab I, Memberikan deskripsi masalah yang hendak dibahas secara menyeluruh mencakup latarbelakang masalah, alasan pemilihan judul, penegasan judul, perumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, asumsi dan keterbatasan, metode prosedur penelitian, serta diakhir bab ini disajikan sistematika pembahasan.

Bab II, Berisikan kajian kepustakaan yang berkaitan dengan kajian terdahulu serta literatur yang behubungan dengan skripsi. Penelitian terdahulu berisikan penelitian sejenis yang telah dilakukan sebelumnya.

Kemudian dilanjutkan dengan teori yang menjadi landasan pada bab

20 Prastowo Andi, Metode Penelitian Kualitatif Dalam Persperktif Rancangan Penelitian (Jogjakarta: Ar-ruzz Media, 2012), 269.

21 Burhan Bungin, Analisis Data Penelitian Kualitatif (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2007), 203.

(18)

berikutnya dalam penelitian ini yang berisikan Status Hak Waris Anak Dari Pernikahan Sedarah Perspektif Fiqh Kontemporer dan Hukum Positif di Indonesia.

Bab III, Pembahasan di dalam bab ini yaitu mengenai penyajian d ata dan analisis status hak waris anak dari pernikahan sedarah perspektif fiqh kontemporer dan hukum positif di Indonesia.

Bab IV, Bab ini merupakan bab terakhir. Yang berisikan kesimpulan yang diperoleh dari penelitian serta dilengkapi saran-saran dari peneliti.

(19)

BAB II KAJIAN TEORI A. Penelitian Terdahulu

a. Skripsi oleh Achmada, 2015, mahasiswa IAIN Jember yang berjudul

“Tinjaun Hukum Islam Mengenai Pembatalan Perkawinan Dan Implikasinya Terhadap Hak Kewarisan Anak”. Hasil dari penelitian dalam skripsi ini yaitu mengenai hak atau kedudukan hubungan darah (qarabah) anak serta hak kewarisan anak dari perkawinan yang dibatalkan, dengan pertimbangan kemaslahatan anak dari perkawinan itu sendiri. Sebagai konsekuensi dari akibat ketidak hati-hatian atau ketidak tahuan seseorang melakukan perkawinan sehingga perkawinan tersebut dibatalkan, maka anak tersebut harus diakui sebagai anak yang sah bagi ayahnya. Maka dia juga berhak mewarisi harta ayah kandungnya tersebut.

Adapun persamaan dari penelitian ini yaitu sama-sama meneliti tentang kewarisan. Sedangkan perbedaannya yaitu penelitian yang peneliti lakukan membahas tentang status hak waris anak dari pernikahan sedarah menurut fiqh kontemporer dan hukum positif di Indonesia. Sedangkan dalam penelitian tersebut membahas tentang hak waris anak dari perkawinan yang dibatalkan serta kedudukan hubungan darah anak tersebut menurut pandangan hukum Islam.

b. Skripsi oleh Fathoel Mut‟im, 2011, mahasiswa STAIN Jember yang berjudul “Hak Anak Luar Nikah Dalam Kewarisan (studi kasus di Desa Wonorejo Kecamatan Maron Kabupaten Probolinggo)”. Hasil dari skripsi

(20)

tersebut yaitu faktor yang melatarbelakangi pelaksanaan pembagian hak waris anak di luar nikah adalah lemahnya pengetahuan masyarakat terhadap hukum waris Islam dan Perdata. Sehingga proses pelaksanaan pembagian hak waris anak di luar nikah cukup diselesaikan secara kekeluargaan dengan alasan tidak mau ruwet dan terjadi perselisihan antar sesama keluarga. Dengan adanya anak di luar nikah di desa tersebut maka anak tersebut mendapat bagian dari pihak ayah selayaknya anak sah.

Adapun persamaan dari penelitian ini yaitu meneliti tentang kewarisan. Sedangkan perbedaannya yaitu penelitian yang peneliti lakukan membahas tentang status hak waris anak dari pernikahan sedarah menurut fiqh kontemporer dan hukum positif di Indonesia. Sedangkan penelitian tersebut yaitu untuk mengetahui tehnis pembagian waris dan berapa besar bagian yang diperoleh oleh anak di luar nikah. Kemudian perbedaan dalam penelitian ini juga terletak pada penggunaan metode penelitian. Metode yang digunakan peneliti tersebut adalah penelitian lapangan (field research) sedangkan dalam penelitian ini kajian kepustakaan (library reseach).

c. Skripsi oleh Riky Yahya, 2013, mahasiswa STAIN Jember yang berjudul

“Kedudukan dan Hak Waris Anak Angkat (Kajian Perspektif Hukum Islam dan Kompilasi Hukum Islam)”. Hasil dari skripsi tersebut yaitu peristiwa pengangkatan anak menurut hukum kewarisan Islam tidak membawa pengaruh hukum terhadap status anak angkat, yakni bila bukan merupakan anak sendiri tidak dapat mewarisi dari orang yang setelah

(21)

mengangkat anak tersebut. Kemudian dalam Kompilasi Hukum Islam terdapat pada pasal 209.

Adapun persamaan dari penelitian ini yaitu meneliti tentang kewarisan. Sedangkan perbedaannya yaitu penelitian yang peneliti lakukan membahas tentang status hak waris anak dari pernikahan sedarah menurut fiqh kontemporer dan hukum positif di Indonesia. Sedangkan penelitian tersebut yaitu untuk mengetahui kedudukan dan hak waris anak angkat dalam perspektif Hukum Islam dan Kompilasi Hukum Islam.

B. Konsep Waris Dalam Islam 1. Pengertian Waris

Mawaris jamak dari mirats, (irts, wirts, wiratsah, dan turats, yang dimaknakan dengan mauruts) adalah “harta peninggalan orang yang meninggal yang diwariskan kepada pewarisnya”. Sedangkan definisi Ilmu Mawaris (Ilmu Faraidh) menurut fuqaha adalah “Ilmu untuk mengetahui orang yang berhak menerima pusaka, orang yang tidak dapat menerima pusaka, kadar yang diterima oleh tiap-tiap waris dan cara pembagiannya.”22

Hukum waris dalam ajaran Islam disebut dengan istilah “Faraid”.

Kata faraid adalah bentuk jamak dari faridah yang berasal dari kata fardu yang berarti ketetapan, pemberian (sedekah).23

22 Teungku Muhammad Hasbi Ash Shiddieqy, Fiqih Mawaris (Semarang: PT. Pustaka Rizki Putra, 2010), 5.

23 Amin Husein Nasution, M.A, Hukum Kewarisan (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2014), 49.

(22)

2. Dasar Hukum Waris

Hukum kewarisan Islam pada dasarnya bersumber kepada beberapa ayat al-Qur‟an sebagai firman Tuhan yang diturunkan kepada Nabi Besar Muhammad SAW dan Hadis Rasul yang terdiri dari ucapan, perbuatan dan ha;-hal yang didiamkan Rasul. Baik dalam al-Qur‟an maupun hadis-hadis Rasul dasar hukum kewarisan itu ada yang secara tegas mengatur, dan ada yang secara tersirat, bahkan kadang-kadang hanya berisi pokok-pokoknya saja, yang paling banyak ditemui dasar atau sumber hukum kewarisan itu dalam surat An-Nisa‟ di samping surah-surah lainnya sebagai pembantu.24

Dasar dan sumber utama dari hukum Islam, sebagai hukum agama (Islam) adalah nash atau teks yang terdapat dalam Al-Qur‟an dan Sunah Nabi. Dasar hukum waris terdapat dalam Al-Qur‟an Surat An-Nisa‟, ayat 11-12 :

ٓ

ۡ ۖۡ

ۡ

ۡ ۡۚ

ٓ

ٗ

ۡ ۡ ۡ ۖ ۡ ٗ ۡ ۚ ۡ

ٗ

ۡ

ۥ

ٗ

ۚ

ۡ

ۥ

ٗ

ٓۥ

ۚ

ٓۥ

ۡ

ٗ

ۚ ۢ ۡ

ٗ

ٓ

ۡ ۡۗ

ٓ

ۡ ۡٓ ۡ ۡ

ۡ ۡ

ۡ ۡ

ٗ

ۚ

ٗ

ۗ

ٗ

24 M. Idris Ramulyo, Perbandingan Pelaksanaan Hukum Kewarisan Islam dengan Kewarisan Menurut Undang-undang Hukum Perdata (BW) (Jakarta: Sinar Grafika, 2000), 45.

(23)

۞

ۡ ۡ

ۡ

ۡ

ۡ

ٗ

ۚ

ٗ

ۡۚ ۢ ۡ

ٗ

ٓ

ۡ ۡ

ٗ

ۚ ۡ ۡ ۡ ۡ ٗ ۚ ۡ ٗ

ۡ ۚ ۢ ۡ

ٗ

ٓ

ۡ ۡ

ٗ

ۗ

ٗ

ۡ

ٗ

ٓۥ

ۡ ۡ

ٗ

ٗ

ۡ

ۚ

ٓ

ۡ

ۡ

ٓ

ۚ ۢ ۡ

ٗ

ٓ

ۡ ۡ ۡ ٓ ٗ ۚ ٗ ۗ ٗ

Artinya: “(11) Allah mensyari'atkan bagimu tentang (pembagian pusaka untuk) anak-anakmu. Yaitu : bahagian seorang anak lelaki sama dengan bagahian dua orang anak perempuan, dan jika anak itu semuanya perempuan lebih dari dua, Maka bagi mereka dua pertiga dari harta yang ditinggalkan; jika anak perempuan itu seorang saja, Maka ia memperoleh separo harta. dan untuk dua orang ibu-bapa, bagi masing-masingnya seperenam dari harta yang ditinggalkan, jika yang meninggal itu mempunyai anak; jika orang yang meninggal tidak mempunyai anak dan ia diwarisi oleh ibu-bapanya (saja), Maka ibunya mendapat sepertiga; jika yang meninggal itu mempunyai beberapa saudara, Maka ibunya mendapat seperenam. (Pembagian-pembagian tersebut di atas) sesudah dipenuhi wasiat yang ia buat atau (dan) sesudah dibayar hutangnya. (Tentang) orang tuamu dan anak-anakmu, kamu tidak mengetahui siapa di antara mereka yang lebih dekat (banyak) manfaatnya bagimu. ini adalah ketetapan dari Allah.

Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana., (12) dan bagimu (suami-suami) seperdua dari harta yang ditinggalkan oleh isteri-isterimu, jika mereka tidak mempunyai anak. jika isteri-isterimu itu mempunyai anak, Maka kamu mendapat seperempat dari harta yang ditinggalkannya sesudah dipenuhi wasiat yang mereka buat atau (dan) seduah dibayar hutangnya. Para isteri memperoleh seperempat harta yang kamu tinggalkan jika kamu tidak mempunyai anak. jika kamu mempunyai anak, Maka Para isteri memperoleh seperdelapan dari harta yang kamu tinggalkan sesudah dipenuhi wasiat yang kamu buat atau (dan) sesudah dibayar hutang-hutangmu. jika seseorang mati, baik laki-laki maupun perempuan yang tidak meninggalkan ayah dan tidak meninggalkan anak, tetapi mempunyai seorang saudara laki-laki (seibu saja) atau seorang saudara perempuan (seibu saja), Maka bagi masing-masing dari kedua jenis saudara itu seperenam harta. tetapi jika saudara-

(24)

saudara seibu itu lebih dari seorang, Maka mereka bersekutu dalam yang sepertiga itu, sesudah dipenuhi wasiat yang dibuat olehnya atau sesudah dibayar hutangnya dengan tidak memberi mudharat (kepada ahli waris). (Allah menetapkan yang demikian itu sebagai) syari'at yang benar-benar dari Allah, dan Allah Maha mengetahui lagi Maha Penyantun.” (Q.S. An-Nisa‟:11- 12)25

3. Harta Warisan

Harta warisan menurut hukum Islam ialah segala sesuatu yang ditinggalkan oleh pewaris yang secara hukum dapat beralih kepada ahli warisnya. Dalam pengertian ini dapat dibedakan antara harta warisan dan harta peninggalan. Harta peninggalan adalah semua yang ditinggalkan oleh si mayit atau dalam arti apa-apa yang ada pada seseorang saat kematiannya, sedangkan harta warisan ialah harta yang secara hukum syara‟ berhak diterima oleh ahli warisnya.26

Dalam ajaran Islam semua harta peninggalan orang yang mati baik yang bersifat kebendaan atau hak disebut dengan istilah “Tarikah/Tirkah”

Tarikah ini tidaklah otomatis menjadi harta warisan yang akan diwariskan kepada ahli waris.

4. Rukun dan Syarat-syrat Pewarisan Rukun-rukun pusaka ada tiga :

1. Muwarist, orang yang meninggalkan hartanya.

2. Warist, orang yang ada hubungan dengan orang yang telah meninggal, seperti kekerabatan (hubungan darah) dan perkawinan.

25 Hatta, Tafsir Qur’an Perkata, 78-79.

26 Amir Syarifudidn, Hukum Kewarisan Islam (Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2012), 208.

(25)

3. Mauruts, harta yang menjadi pusaka, harta ini dalam istilah fiqh dinamakan mauruts, mirats, irts, turats dan tirkah.27

Dalam Syariat Islam ada tiga syarat supaya pewarisan dinyatakan ada, sehingga dapat memberi hak kepada seseorang atau ahli waris untuk menerima warisan, yaitu :

1. Orang yang mewariskan (muwarris) benar telah meninggal dunia dan dapat dibuktikan secara hukum bahwa ia telah meninggal.

Ini berarti bahwa apabila tidak ada kematian, maka tidak ada pewarisan. Pemberian atau pembagian harta kepada keluarga pada masa hidupannya tidak termasuk kedalam kategori waris mewarisi, tetapi pemberian atau pembagian ini disebut hibah.

2. Orang yang mewarisi (ahli waris atau waris) hidup pada saat orang yang mewariskan meninggal dunia dan bisa dibuktikan secara hukum.

Termasuk dalam pengertian hidup di sini adalah:

a. Anak (embrio) yang hidup dalam kandungan ibunya pada saat orang yang mewariskan meninggal dunia.

b. Orang yang menghilang dan tidak diketahui tentang kematiannya, dalam hal ini perlu adanya keputusan hakim yang mengatakan bahwa ia masih hidup. Apabila dalam waktu yang ditentukan ia tidak juaga kembali, maka bagian warisannya dibagikan kembali kepada ahli waris.

27 Ash Shiddieqy, Fiqih Mawaris, 27.

(26)

3. Ada hubungan pewarisan antara orang yang mewariskan dengan oarang yang mewarisi, yaitu :

a. Hubungan nasab, (keturunan, kekerabatan), baik pertalian garis lurus ke atas (ushul al-Mayyit), seperti: ayah, kakek dan lainnya, atau pertalian lurus ke bawah (furu’ al-Mayyit) seperti: anak, cucu, atau pertalian mendatar/menyamping (al-Hawasyi) seperti:

saudara, paman, dan anak turunannya.

b. Hubungan pernikahan, yaitu seorang dapat mewarisi disebabkan menjadi suami atau istri dari orang yang mewariskan. Yang dimaksud perkawinan disini ialah perkawinan yang sah menurut Syariat Islam.

c. Hubungan perbudakan (wala), yaitu seseorang dapat mendapatkan warisan dari bekas budak (hamba) yang telah dimerdekakannya.

d. Karena hubungan agama Islam, yaitu apabila seorang meninggal dunia tidak meninggalkan orang yang mewarisi, maka hartanya akan diserahkan kepada Baitul Mal (perbendaharaan negara Islam) untuk dimanfaatkan bagi kemaslahatan umat Islam.

5. Penghalang Waris

Yang dimaksud dengan Mawani‟ al-Irs ialah penghalang terlaksananya waris mewarisi. Dalam istilah faraid ialah suatu keadaan/

sifat yang menyebabkan orang tersebut tidak dapat menerima warisan padahal sudah cukup syarat-syarat dan ada hubungan pewarisan. Pada

(27)

walnya seseorang sudah berhak mendapat warisan, tetapi oleh karena ada suatu keadaan tertentu, berakibat dia tidak mendapat harta warisan.28

Keadaan-keadaan yang menyebabkan seorang ahli waris tidak dapat menerima warisan adalah sebagai berikut :

1. Pembunuhan

Seorang yang membunuh orang lain, maka ia tidak dapat mewarisi harta orang yang terbunuh itu.

2. Berlainan Agama

Berlainan agama dalam hukum waris Islam dimaksudkan bahwa seorang yang beragama Islam tidak dapat mewarisi kepada orang non-Muslim, demikian juga sebaliknya.

3. Perbudakan

Seorang budak adalah milik dari tuannya secara mutlak, karena itu ia tidak berhak untuk memiliki harta, sehingga ia tidak bisa menjadi orang yang mewariskan dan tidak akan mewarisi dari siapa pun sesuai dengan firman Allah Swt. dalam surat Al-Nahl [16]:75 :

۞

ۡ

ٗ

ۡ

ٗ

ۡ

ۡ

ٗ

ۡ ۡ ٗ ۡ ٗ ۡۖ ۡ ۡ ۥ ۚ ۡ ۡ ۚ ۡ ۡ ۡ ۡ

28 Nasution, Hukum Kewarisan, 78.

(28)

Artinya: “Allah membuat perumpamaan dengan seorang hamba sahaya yang dimiliki yang tidak dapat bertindak terhadap sesuatupun.”29

6. Tabir, Halangan Waris (Hijab)

Hijab menurut bahasa berarti tabir, dinding, halangan. Menurut istilah hijab ialah mencegah atau menghalangi orang tertentu menjadi tidak berhak menerima bagian dari harta warisan atau menjadi berkurang penerimaan bagiannya, karena adanya pewaris lain. Orang yang menjadi penghalang (menghalangi orang lain untuk mendapat warisan) disebut hajib, sedang orang yang terhalang mendapat warisan disebut mahjub.

Pada prinsipnya kerabat yang lebih dekat hubungan darahnya menghalangi kerabat yang lebih jauh hubungan kerabat darahnya.

Hijab ada dua jenis, yaitu :

1. Hijab hirman, yaitu terhalangnya seseorang mendapat harta warisan karena ada penghalang yang menyebabkan seseorang tersebut tidak mendapat harta warisan sama sekali, seperti kakek terhalang mendapat harta warisan karena ada ayah.

2. Hijab nuqsan, yaitu terhalangnya seseoarang mendapat bagian warisan maksimal (berkurang harta warisan yang diterimanya) karena ada penghalang yang menyebabkan berjurangnya agian ahli waris tersebut, seperti suami mendapat bagian warisan setengah apabila tidak ada ahli waris yang lain, akan tetapi ia terhalang mendapat bagian setengah

29 Hatta, Tafsir Qur’an Perkata, 275.

(29)

karena ada anak dari yang meninggal, sehingga suami hanya menerima bagian seperempat. (berkurang bagiannya dari setengah menjadi seperempat).30

7. Sebab-sebab Waris (Pusaka)

Sebab-sebab seseorang menerima pusaka yang berhak di dalam syariat Islam dan tetap berlaku, ada tiga :

1. Adanya ikatan perkawinan, baik pada hakikatnya, ataupun pada hukumnya di saat salah seorang dari suami istri itu meninggal. Salah seorang suami istri menerima pusaka dari yang lain, walaupun belum terjadi percampuran.

2. Kekerabatan yang sebenarnya, yaitu hubungan darah yang mengikat para waris dengan muwaris. Kekerabatan ini dinamakan nasabah hakiki.

Orang yang mengambil pusaka dengan jalan kekerabatan ini ada tiga : a. Ashabul Furudh (waris-waris yang menerima bagian tertentu

dari harta peninggalan).

b. Ashabah Ushubah nasabiyah atau al-ashabatan nasabiyah, (waris-waris yang tidak mempunyai bagian tertentu, tetapi mengambil sisa tarikah dari bagian Ashabul Furudh). Ashabul Furudh ini dinamakan Ashabul Furudh an-nasabiyah.

Sedangkan suami istri dinamakan Ashabul Furudh as- sababiyah

30 Nasution, Hukum Kewarisan, 86.

(30)

c. Dzawil Arham (waris-waris yang tidak masuk ke dalam golongan Ashabul Furudh dan ashabah).

3. Ashabah „Ushubah Sababiyyah, yaitu waris-waris yang diikat oleh ushubah sababiyyah (qarabah hukmiyah = kekerabatan pada hukum), sebagaimana dikatakan walaul itqi dan walaul un nikmati, yaitu ushubah yang disebabkan oleh pemerdekaan. Yakni ikatan yang mengikat orang yang memerdekakan dengan yang dimerdekakan, yang disebut atiq.

Apabila seseorang tuan memerdekakan seorang budak sahayanya, terjalinlah suatu tali ikatan yang dalam istilah fiqh dinamakan ushubah sababiyah.

Dan apabila orang yang dimerdekakan itu tidak mempunyai waris, baik dengan sebab kekerabatan atau dengan sebab perkawinan, maka bekas tuanya (mu’tiq; orang yang telah memerdekakannya), berhak menerima harta peninggalannya dengan jalan pusaka.31

C. Konsep Waris Menurut Hukum Positif di Indonesia 1. Pengertian Hukum Waris

Kitab Undang-Undang hukum perdata yang berlaku di Indonesia adalah berasal dari buurgerlijk wetboek yang terdiri dari empat buku yakni :

1. Buku kesatu tentang Orang.

2. Buku kedua tentang Kebendaan.

31 Ash Shiddieqy, Fiqih Mawaris, 29.

(31)

3. Buku ketiga tentang Perikatan.

4. Buku keempat tentang Pembuktian dan Daluarsa.

Adapun mengenai waris diatur di dalam buku kedua yang pertama disebut di dalam pasal 830 yakni: pewarisan hanya berlangsung karena kematian. Jelasnya, menurut pasal ini rumusan/definisi hukum waris mencakup masalah yang begitu luas. Pengertian yang dapat dipahami dari kalimat singkat tersebut ialah bahwa jika seseorang meninggal dunia, maka seluruh hak dan kewajibannya beralih/berpindah kepada ahli warisnya.

Berdasarkan pasal 830 kitab Undang-Undang Hukum Perdata di atas maka beberapa ahli dibidang ini (hukum waris) telah merumuskan hukum wrais sebagai berikut:32

1. Prof. Ali Afandi, SH mengutip definisi dari Mr. A. Petlo: “hukum waris adalah suatu rangkaian ketentuan-ketentuan, dimana berhubung dengan mennggalnya seseorang akibat-akibatnya di dalam bidang kebendaan, diatur, yaitu: akibat dari beralihnya harta peninggalan dari seseorang yang meninggal kepada ahli waris baik di dalam hubungannya antara mereka sendiri, maupun dengan pihak ketiga.”

2. Disamping itu terdapat beberapa encyclopaedi dan ahli hukum merumuskan masalah hukum waris yang dikutip oleh Amir Martusedono, SH sebagai berikut:

32 Sudarsono, Hukum Waris dan Sistem Bilateral (Jakarta: PT Rineka Cipta, 1994), 12.

(32)

a. Menurut Geilusteerde encyclopaedi, A Winkler Prins, halaman:

331; Hukum waris ialah seluruh peraturan yang mengatur pewarisan, menentukan sejauh mana dan dengan cara bagaimana hubungan-hubungan hukum dari seseorang yang telah meninggal dunia pindah kepada orang lain, dan dengan demikian hal itu dapat diteruskan oleh keturunannya.

b. Mr. Dr. H. D. M. Knol dalam bukunya Beginselen Van hetprivaatrecht, dikatakan hukum waris mengatur ketentuan- ketentuan tentang perpindahan harta peninggalan dari orang yang telah meninggal, kepda seorang ahli waris atau lebih.

Berdasarakan sistematika kitab Undang-undang Hukum Perdata, maka jelas bahwa masalah-masalah penting yang menyangkut kewarisan diatur di dalam buku II tentang Kebendaan. Sistematika tersebut memberi petunjuk bahwa hak kewarisan dan segala sesuatu yang timbul karenanya dipandang sebagai hak kebendaan. Dalam kaitan ini memang banyak bukti bahwa hukum waris memiliki dimensi memiliki hukum kebendaan.

Hal ini dapat ditinjau dari beberapa aspek antara lain yang tercantum di dalam pasal 833, 834 dan pasal 1100 kitab Undang-Undang Hukum Perdata.

2. Pewaris dan Dasar Hukum Waris

Pewaris menurut hukum Perdata adalah seseorang yang meninggal dunia, baik laki-laki maupun perempuan yang meninggalkan sejumlah harta kekayaan maupun hak-hak yang diperoleh beserta kewajiban-

(33)

kewajiban yang harus dilaksanakan selama hidupnya, baik dengan surat wasiat maupun tanpa surat wasiat.33

Dasar hukum seorang ahli waris mewarisi sejumlah harta pewaris menurut sistem hukum waris BW ada dua cara, yaitu :

1. Menurut ketentuan Undang-undang 2. Ditunjuk dalam surat Wasiat (Testamen).

Undang-undang telah menentukan bahwa untuk melanjutkan kedudukan hukum seseorang yang meninggal, sedapat mungkin disesuaikan dengan kehendak dari orang yang meninggal itu. Undang- undang berprinsip bahwa seseorang bebas untuk menentukan kehendaknya tentang harta kekayaannya setelah ia meninggal dunia. Akan tetapi apabila ternyata seorang tidak menentukan sendiri ketika ia hidup tentang apa yang akan terjadi terhadap harta kekayaannya maka dalam hal demikian undang-undang kembali akan menentukan perihal pengaturan harta yang ditinggalkan seseorang tersebut.

Disamping undang-undang, dasar hukum seseorang mewarisi harta peninggalan pewaris juga melalui cara ditunjuk dalam surat wasiat. Surat wasiat atau testamen adalah “suatu pernyataan tentang apa yang dikehendaki setelah ia meninggal dunia”. Sifat utama surat wasiat adalah mempunyai kekuatan berlaku setelah pembuat surat wasiat meninggal dan tidak dapat ditarik kembali.

33 Eman Suparman, Hukum Waris Indonesia Dalam Perspektif Islam Adat dan BW (Bandung: PT.

Refika Aditama, 2013), 29.

(34)

3. Ahli Waris

Ahli waris menurut sistem BW undang-undang telah menetapkan tertib keluarga yang menjadi ahli waris yaitu : istri atau suami yang ditinggalkan dan keluarga sah atau tidak sah dari pewaris. Ahli waris menurut undang-undang atau ahli wars ab intestato berdasarkan hubungan darah terdapat empat golongan, yaitu :

1. Golongan pertama, keluarga dalam garis lurus ke bawah, meliputi anak-anak beserta keturunan mereka beserta suami atau isteri yang ditinggalkan/atau yang hidup paling lama. Suami atau isteri yang ditinggalkan/hidup paling lama ini baru diakui sebagai ahli waris pada tahun 1935, sedangkan sebelumnya suami/isteri tidak saling mewarisi, 2. Golongan kedua, keluarga dalam garis lurus keatas, meliputi orang tua dan saudara, baik laki-laki maupun perempuan, serta keturunan mereka.

Bagi orang tua ada peraturan khusus yang menjamin bahwa bagian mereka tidak akan kurang dari (seperempat) dari harta peninggalan, waluapun mereka mewaris bersama-sama saudara pewaris,

3. Golongan ketiga, meliputi kakek, nenek dan leluhur selanjutnya ke atas dari pewaris,

4. Golongan keempat, meliputi anggota keluarga dalam garis kesamping dan sanak keluarga lainnya sampai derajat keenam.

(35)

4. Penghalang Waris

Di dalam pasal 838 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata yang dianggap tidak patut menjadi ahli waris dan karenanya dikecualikan dari pewarisan ialah:

1. Mereka yang dengan putusan hakim dihukum karena dipersalahkan telah membunuh atau mencoba membunuh si yang meninggal,

2. Mereka yang dengan putusan hakim pernah dipersalahkan, karena secara fitnah telah mengajukan pengaduan terhadap pada si yang meninggal, ialah suatu pengaduan telah melakukan sesuatu kejahatan yang terancam dengan hukuman penjara 5 tahun lamanya atau hukuman yang lebih berat,

3. Mereka yang dengan kekerasan atau perbuatan telah mencegah si yang meninggal untuk membuat atau mencabut surat wasiatnya,

4. Mereka yang telah menggelapkan, merusak atau memalsukan surat wasiat yang meninggal.34

Apabila ternyata ahli waris yang tidak patut itu menguasai sebagian atau seluruh harta peninggalan dan ia berpura-pura sebagai ahli waris, ia wajib mengembalikan semua yang dikuasainya termasuk hasil- hasil yang telah dinikmatinya.35

34 Ramulyo, Perbandingan Pelaksanaan, 112.

35 Suparman, Hukum Waris Indonesia, 39.

(36)

D. Pernikahan Sedarah

1. Pernikahan Sedarah dalam Hukum Islam

Perkawinan atau pernikahan dalam literatur fiqh berbahasa Arab disebutt dengan dua kata, yaitu nikah (حاكن) dan zawaj (جاوز). Kedua kata ini yang terpakai dalam kehidupan sehari-hari orang Arab dan banyak terdapat dalam al-Qur‟an dan hadis Nabi. Kata na-ka-ha banyak terdapat dalam al-Qur‟an dengan arti kawin, seperti dalam surat an-Nisa‟ ayat 3 :

Dan jika kamu takut tidak akan berlaku adil terhadap anak yatim, maka kawinilah perempuan-perempuan lain yang kamu senangi, dua, tiga, atau empat orang, dan jika kamu takut tidak akan berlaku adil, cukup satu orang saja.

Demikian pula banyak terdapat kata za-wa-ja dalam al-Qur‟an berarti kawin, seperti pada surat al-Ahzab ayat 37 :

دۡيَز ٰىَضَق اَمَّلَف

ٗ رَطَو اَهۡنِمّ

ٗ ا اَهَكَٰنۡجَوَز ىَلَع َنىُكَي اَل ۡيَكِل

َنيِنِمّۡؤُمّۡلٱ جَرَح

ٗ

ۡمِهِئٓاَيِعۡدَأ ِجَٰوۡزَأ ٓيِف …

“Maka tatkala Zaid telah mengakhiri keperluan (menceraikan) istrinya, Kami kawinkan kamu dengan dia supaya tidak ada keberatan bagi orang mukmin untuk (mengawini) mantan istri-istri anak angkat mereka.”36

36 Hatta, Tafsir Qur’an Perkata, 423.

(37)

Secara arti kata nikah berarti “bergabung”, “hubungan kelamin”

dan juga berarti “akad”.37

Definisi lain yang diberikan Wahbah al-Zuhaily adalah : “akad yang telah ditetapkan oleh syar‟i agar seorang laki-laki dapat mengambil manfaat untuk melakukan istimta‟ dengan wanita atau sebaliknya”.38

Sedangkan menurut Kompilasi Hukum Islam, seperti yang terdapat pada pasal 2 dinyatakan bahwa perkawinan dalam hokum Islam adalah, pernikahan yaitu akad yang sangat kuat atau miitsaqan ghalidhan untuk mentaati perintah Allah dan melaksanakannya merupakan ibadah.

Rukun dan syarat menentukan suatu perbuatan hokum, terutama yang menyangkut sah dan tidaknya perbuatan tersebut dari segi hukum.

Menurut jumhur ulama‟ rukun perkawinan ada lima dan masing-masing rukun itu memiliki syarat-syarat tertentu. Untuk memudahkan pembahasan maka uraian rukun perkawinan akan disamakan dengan uraian syarat- syarat dari rukun tersebut.

1) Calon suami, syarat-syaratnya : 1. Beragama Islam.

2. Laki-laki.

3. Jelas Orangnya.

4. Dapat memberikan persetujuan.

5. Tidak terdapat halangan perkawinan.

37 Amir Syarifuddin, Hukum Perkawinan Islam di Indonesia (Jakarta: Kencana Perdana Media Group, 2006), 36.

38 Amir Nuruddin & Azhari Akmal Tarigan, Hukum perdata Islam di Indonesia (Jakarta: Kencana Perdana Media Group, 2006), 39.

(38)

2) Calon istri, syarat-syaratnya :

1. Beragama, meskipun Yahudi atau Nasrani.

2. Perempuan.

3. Jelas orangnya.

4. Dapat dimintai persetujuan.

5. Tidak terdapat halangan perkawinan.

3) Wali nikah, syarat-syaratya : 1. Laki-laki.

2. Dewasa.

3. Mempunyai hak perwalian.

4. Tidak terdapat halangan perwaliannya.

4) Saksi nikah.

1. Minimal dua orang laki-laki.

2. Hadir dalam ijab qabul.

3. Dapat mengerti maksud akad.

4. Islam.

5. Dewasa.

5) Ijab Qabul, syarat-syaratnya :

1. Adanya pernyataan mengawinkan dari wali.

2. Adanya pernyataan penerimaan dari calon mempelai.

3. Memakai kata-kata nikah, tazwij atau terjamahan dari kedua kata tersebut.

4. Antara ijab dan qabul bersambungan.

(39)

5. Antara ijab dan qabul jelas maksudnya.

6. Orang yang terkait dengan ijab dan qabul tidak sedang ihram haji atau umrah.

7. Majlis ijab dan qabul itu harus dihadiri minimum empat orang yaitu calon mempelai atau wakilnya, wali dari mempelai wanita dan dua orang saksi.39

Huum Islam juga mengenal adanya larangan perkawinan yang dalam fikih disebut dengan mahram (orang yang haram dinikahi). Ulama fikih telah membagi mahram ini kepada dua macam. Pertama disebut dengan mahram mu’aqaat (larangan untuk waktu tertentu) dan kedua mahram mu’abbad (larangan untuk selamnya).

Dalam hal larangan perkawinan ini agaknya al-Qur‟an memberikan aturan yang tegas dan terperinci. Dalam surah an-Nisa‟ ayat 22-23 :

ٓ

ٓ

ۡ

ۚ

ۥ

ٗ

ۡ

ٗ

ٓ

ۡ ۡ ۡ

ۡ

ۡ

ۡ ۡ ۡ ۡ ۡ ۡ ٓ ۡ ۡ ۡ

ٓ

ۡ

ٓ

ٓ

ۡ

ۡ

ۡ

ۡ ۡ

ٓ

ۡٓ

ۡ ۡ ۡ

ۡ

ۡ ۡ ۡ ۡ

ۡ ۗ ٗ ٗ

Artimya: 22. Dan janganlah kamu kawini wanita-wanita yang telah dikawini oleh ayahmu, terkecuali pada masa yang telah lampau.

Sesungguhnya perbuatan itu amat keji dan dibenci Allah dan seburuk-buruk jalan (yang ditempuh) 23. Diharamkan atas kamu (mengawini) ibu-ibumu; anak-anakmu yang perempuan;

39 Ibid., 63.

(40)

saudara-saudaramu yang perempuan, saudara-saudara bapakmu yang perempuan; saudara-saudara ibumu yang perempuan; anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang laki-laki; anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang perempuan; ibu-ibumu yang menyusui kamu; saudara perempuan sepersusuan; ibu-ibu isterimu (mertua); anak-anak isterimu yang dalam pemeliharaanmu dari isteri yang telah kamu campuri, tetapi jika kamu belum campur dengan isterimu itu (dan sudah kamu ceraikan), maka tidak berdosa kamu mengawininya; (dan diharamkan bagimu) isteri-isteri anak kandungmu (menantu); dan menghimpunkan (dalam perkawinan) dua perempuan yang bersaudara, kecuali yang telah terjadi pada masa lampau; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang

Berpijak dari ayat ini maka para ulama‟ membuat rumusan- rumusan yang lebih sistematis sebagai berikut :

1. Karena pertalian nasab (hubungan darah).

a. Ibu, nenek (dari garis ibu atau bapak) dan seterusnya ke atas.

b. Anak perempuan, cucu perempuan dan seterusnya ke bawah.

c. Saudara perempuan sekandung, seayah dan seibu.

d. Saudara perempuan ibu (bibi atau tante).

e. Saudara perempuan bapak (bibi atau tante).

f. Anak perempuan dari saudara laki-laki sekandung.

g. Anak perempuan dari saudara laki-laki seayah.

h. Anak perempuan dari saudara laki-laki seibu.

i. Anak perempuan saudara perempuan sekandung.

j. Anak perempuan saudara perempuan seayah.

k. Anak perempuan saudara perempuan seibu.

2. Karena hubungan semenda.

a. Ibu dari istri (mertua).

(41)

b. Anak (bawaan) istri yang telah dicampuri (anak tiri).

c. Istri bapak (ibu tiri).

d. Istri anak (menantu).

e. Saudara perempuan istri adik atau kakak ipar selama dalam ikatan perempuan.

3. Karena pertalian sepersusuan.

a. Wanita yang menyusui seterusnya keatas.

b. Wanita sepersusuan dan seterusnya menurut garis kebawah.

c. Wanita saudara sepersusuan dan kemenakan sesusuan kebawah.

d. Wanita bibi sesusuan dan bibi sesusuan ke atas.

e. Anak yang disusui oleh istrinya dan keturunannya.40

Fasakh (membatalkan perkawinan), dari segi alas an terjadinya fasakh dapat dibagi kepada dua sebab :

Pertama: perkawinan yang sebelumnya telah berlangsung, ternyata kemudian tidak memenuhi persyaratan yang ditentukan, baik tentang rukun, maupun syaratmya, atau pada perkawinan tersebut terdapat halangan halangan yang tidak membenarkan terjadinya perkawinan.

Kedua: fasakh yang terjadi karena pada diri suami atau istri terdapat sesuatu yang menyebabkan perkawinan tidak mungkin dilanjutkan, karena kalau dilanjutkan akan menyebabkan kerusakan pada suami atau istri atau keduanya sekaligus.41

40 Ibid., 148.

41 Syarifuddin, Hukum Perkawinan Islam, 244.

(42)

Di dalam pasal 70 KHI dinyatakan perkawinan batal (batal demi hukum) apabila :

a. Suami melakukan perkawinan, sedang ia tidak berhak melakukan akad nikah karena sudah mempunyai empat orang istri, sekalipun salah satu dari istrinya itu dalam iddah raj‟i,

b. Seseorang menikahi bekas istrinya yang telah di li‟annya,

c. Seseorang suami menikihi bekas istrinya yang telah dijatuhi tiga kali thalak olehnya, kecuali bila bekas istrinya tersebut pernah menikah dengan pria lain yang kemudian bercerai lagi ba‟da dukhul dari pria tersebut dan telah habis masa iddahnya,

d. Perkawinan dilakukan antara dua orang yang mempunyai hubungan darah, semenda dan sesusuan sampai derajat tertentu yang menghalangi perkawinan menurut pasal 8 Undang-undang No. 1 Tahun 1974, yaitu :

1. Berhubungan darah dalam garis keturunan lurus ke bawah atau ke atas.

2. Berhubungan darah dalam garis keturunan menyimpang yaitu antara saudara, antara seorang dengan saudara orang tua dan antara seorang dengan saudara neneknya.

3. Berhubngan semenda, yaitu mertua, anak tiri, menantu dan ibu atau ayah tiri.

4. Berhubungan sesusuan, yaitu orang tua sesusuan, anak susuan dan bibi atau paman sesusuan.

(43)

e. Istri adalah saudara kandung atau sebagai bibi atau kemenakan dari istri atau istri-istrinya.

Selanjutnya pada pasal 71 dijelaskan perkawinan yang dapat dibatalkan :

Suatu perkawinan dapat dibatalkan apabila:

a. Seorang suami melakukan poligami tanpa izin Pengadilan Agama;

b. Perempuan yang dikawini ternyata kemudian diketahui masih menjadi istri pria yang mafqud;

c. Perempuan yang dikawini ternyata masih dalam masa iddah dari suami lain;

d. Perkawinan yang melanggar batas umur perkawinan, sebagaimana ditetapkan pasal 7 UU No 1 Tahun 1974;

e. Perkawinan dilangsungkan tanpa wali atau dilaksanakan oleh wali yang tidak berhak;

f. Perkawinan yang dilaksanakan dengan paksa.42 Akibat dari batalnya perkawinan

Di dalam KHI pasal 75 dan 76 dijelaskan : Pasal 75

Keputusan pembatalan perkawinan tidak berlaku surut terhadap : a. Perkawinan yang batal karena salah satu dari suami atau istri

murtad.

42 Amir Nuruddin & Azhari Akmal Tarigan, Hukum perdata Islam, 112.

(44)

b. Anak-anak yang dilahirkan dari perkawinan tersebut.

c. Pihak ketiga sepanjang mereka memperoleh hak-hak dengan beritikad baik, sebelum keputusan pembatalan perkawinan mempunyai kekuatan hukum tetap.

Pasal 76

Batalnya perkawinan tidak akan memutuskan hubungan hukum antara anak dengan orang tuanya.43

2. Pernikahan Sedarah dalam Hukum Positif di Indonesia (KUH Perdata)

Ketentuan tentang perkawinan diatur dalam KUH Per pasal 26/102 BW. Dalam pasal 26 BW, menyebutkan bahwa undang-undang memandang perkawinan hanya dalam hubungan-hubungan keperdataan saja.

Hal ini berimplikasi bahwa suatu perkawinan hanya sah apabila memenuhi persyaratan yang ditetapkan dalam Kitab Undang-undang (BW), sementara itu persyaratan serta peraturan agama dikesampingkan.

Hukum perkawinan adalah peraturan-peraturan hukum yang mengatur perbuatan-perbuatan hukum serta akibat-akibatnya antara 2 pihak, yaitu seorang laki-laki dan seorang wanita dengan maksud hidup bersama untuk waktu yang lama menurut peraturan-peraturan yang ditetapkan dakam UU.

43 Syarifuddin, Hukum Perkawinan Islam,259.

(45)

Dalam KUH Perdata, syarat untuk melangsungkan perkawinan dibagi dua macam adalah: 1. Syarat materiil dan 2. Syarat formal. Syarat materiil, yaitu syarat yang berkaitan dengan inti atau pokok dalam melangsungkan perkawinan. Syarat ini dibagi menjadi dua macam, yaitu : 1. Syarat materiil mutlak, merupakan syarat yang berkaitan dengan

pribadi seseorang yang harus diindahkan untuk melangsungkan perkawinan pada umumnya. Syarat ini meliputi :

a. Monogami, bahwa seorang pria hanya boleh mempunyai seorang istri, seorang wanita hanya boleh mempunyai seorang suami (pasal 27).

b. Persetujuan antara suami-istri (pasal 28 KUH Perdata).

c. Terpenuhinya batas umur minimal. Bagi laki-laki minimal berumur 18 tahun dan wanita berumur 15 tahun (pasal 29 KUH Perdata).

d. Seorang wanita yang pernah kawin dan hendak kawin lagi harus mengindahkan waktu 300 hari setelah perkawinan terdahulu dibubarkan (pasal 34 KUH Perdata).

e. Harus ada izin sementara dari orang tuanya atau walinya bagi anak-anak yang belum dewasa dan belum pernah kawin (pasal 35 sampai dengan pasal 49 KUH Perdata).

2. Syarat materil relatif, ketentuan yang merupakan larangan bagi seseorang untuk kawin dengan orang tertentu. Larangan itu ada dua macam yaitu:

(46)

a. Larangan kawin dengan orang yang sangat dekat dalam kekeluargaan sedarah dan karena perkawinan,

b. Larangan kawin karena zina,

c. Larangan kawin untuk memperbarui perkawinan setelah adanya perceraiain, jika belum lewat waktu satu tahun.44

Syarat formal adalah syarat yang berkatan dengan formalitas- formalitas dalam pelaksanaan perkawinan. Syarat ini dibagi dalam dua tahapan. Syarat-syarat yang harus dipenuhi sebelum perkawinan dilangsungkan adalah:

1. Pemberitahuan tentang maksud kawin dan pengumaman maksud kawin (pasal 51 KUH Perdata). Pemberitahuan maksud kawin dilakukan sebelum dilangsungkannya perkawinan, dengan jalan menempelkan pada pintu utama dari gedung dimana register-register catatan sipil diselenggarakan, dan jangka waktunya selama 10 hari.

Maksud pengumuman ini ialah untuk memberitahukan kepada siapa saja yang berkepentingan untuk mencegah maksud dari perkawinan tersebut karena alasan-alasan tertentu. Sebab, dapat saja terjadi bahwa sesuatu hal yang sama menghalangi suatu perkawinan lolos dari perhatian Pegawai Catatan Sipil. Pengumaman itu berfungsi sebagai pengawas yang dilakukan oleh masyarakat.

2. Syarat-syarat yang harus dipenuhi bersamaan dengan dilangsungkannya perkawinan.45

44 Salim, Pengantar Hukum Perdata Tertulis (BW) (Jakarta: Sinar Grafika, 2006), 64.

(47)

Apabila kedua syarat di atas, baik itu syarat intern, ekstern, maupun syarat materiil dan formal sudah dipenuhi maka perkawinan itu dapat dilangsungkan.

Di dalam KUH Perdata juga diatur tentang larangan perkawinan antara calon pasangan suami istri. Apabila melihat kembali kepada KUH Perdata (BW) pasal 30-35 tentang larangan perkawinan, maka perkawinan yang dilarang adalah sbb :

a. Antara mereka yang satu dan lain bertalian keluarga dalam garis lurus ke atas dan ke bawah, baik karena kelahiran yang sah atau tidak sah atau karena perkawinan (pasal 30)

b. Antara mereka yang bertalian keluarga dalam garis menyimpang antara saudara pria dan saudara wanita yang sah atau tidak sah (pasal 30)

c. Antara ipar pria dan ipar wanita karena perkawinan sah atau tidak sah, kecuali si suami atau si istri yang mengakibatkan periparan sudah meninggal atau jika karena keadaan tidak hadirnya suami atau istri, terhadap istri atau suami yang ditingalkannya, oleh hakim diizinkan untuk kawin dengan orang lain. (pasal 31 [1e])

d. Antara paman atau paman orang tua dan anak wanita saudara atau cucu wanita saudara, seperti juga bibi atau bibi dari orang tua dan anak pria saudara atau cucu pria dari saudara yang sah atau tidak sah (pasal 31 [2e])

45 Ibid., 64,

Referensi

Dokumen terkait

Kedua, penelitian tentang “Pengaruh Program Pengelolaan Hutan Bersama Masyarakat (PHBM) Terhadap Kelestarian Kawasan Hutan dan Kesejahteraan Masyarakat di Kabupaten

Upaya pencegahan timbulnya kerusakan bantaran sungai dapat dilakukan dengan melarang kegiatan pembuangan sampah dan material sehingga menyebabkan kerusakan bantaran

Masalah ini dianggap sangat menarik bagi penulis untuk mengetahui bagaimana sistem dan prosedur verifikasi dokumen pembayaran dalam pengadaan barang dan jasa

Demikian Rencana Strategis (Renstra) 5 (lima) tahunan dari Kelurahan Kalinyamat Kulon Kecamatan Margadana Kota Tegal yang telah disusun dan semoga bisa menjadi

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, dapat disimpulkan bahwa stabilitas hemodinamik pada TIVA kontinyu kombinasi propofol – ketamin (PK) lebih baik dibandingkan

Kedua, kebutuhan yang dipandang perlu dila- kukan sebagai solusi dari masalah-masalah di atas adalah sebagai berikut: (1) guru perlu memberi ke- sempatan siswa

dan prasarana Aparatur Jumlah Sarana dan Prasarana yang terpelihara 1 Mobil 5 Spd Motor 1 Mobil 5 Spd Motor 100% 4. Penyusunan Laporan Capaian kinerja dan ikhtisar

Dengan keahlian yang terbatas, implementasi kegiatan rehabilitasi ditemukan masalah yaitu rumah yang direhabilitasi tidak sesuai dengan kriteria fisik dan non fisik