Untuk memenuhi kebutuhan beras berdasarkan kebutuhan hidup minimal dan rata-rata kecukupan energi, Desa Ciburuy, yang menurut Data Monografi Desa tahun 2006 memiliki jumlah penduduk 9.293 orang dan luas sawah 80 ha, menurut Tabel 16 mengalami defisit lahan sawah berturut-turut sebesar 1.915 dan 269%. Pada tingkat Kecamatan Cigombong yang berpenduduk 68.504 orang (BPS, 2006), dengan luas lahan sawah aktual 1.065 ha (Distanhut, 2007), maka untuk memenuhi kebutuhan beras berdasarkan kebutuhan hidup minimal dan rata- rata kecukupan energi, berturut-turut terjadi defisit 1.016 dan 105%. Pada tingkat Kabupaten Bogor yang berpenduduk 3.700.207 orang dengan luas lahan sawah yang hanya 48.425 ha (BPS, 2006), untuk memenuhi kebutuhan beras berdasarkan kebutuhan hidup minimal dan rata-rata kecukupan energi, berturut- turut terjadi defisit 1.226 dan 143%.
Tabel 16 Kebutuhan lahan sawah untuk memenuhi kebutuhan hidup minimal dan rata-rata kecukupan energi
Untuk pemenuhan
Desa Ciburuy (luas sawah 80 ha)
Kecamatan Cigombong (luas sawah 1.065ha)
Kabupaten Bogor (luas sawah 48.425 ha) Kebutuhan (ha) Defisit (%) Kebutuhan (ha) Defisit (%) Kebutuhan (ha) Defisit (%) Kebutuhan hidup minimal 1.612 1.915 11.885 1.016 641.986 1.226 Rata-rata kecukupan energi 296 269 2.178 105 117.667 143
Melihat kondisi defisit penguasaan lahan tersebut, maka upaya alih fungsi lahan pertanian harus dikendalikan melalui penegakan peraturan secara lebih tegas dan penguatan status kepemilikan lahan, ada pun lahan pertanain yang tersisa ditetapkan sebagai lahan abadi. Hal ini sesuai dengan arah kebijakan pembangunan ketahanan pangan seperti yang tertuang dalam buku Kebijakan Umum Ketahanan Pangan 2006 – 2009. Dalam buku tersebut disebutkan bahwa pada sisi ketersediaan, salah satu arah kebijakan ketahanan pangan adalah meningkatkan kapasitas produksi nasional dengan menetapkan lahan abadi untuk produksi pangan. Sejalan dengan hal tersebut, salah satu tujuan ketahanan pangan
adalah meningkatkan rasio lahan per orang (land-man ratio) melalui penetapan lahan abadi beririgasi dan lahan kering. Salah satu elemen kebijakan umum ketahan pangan menyebutkan bahwa untuk menjamin ketersediaan pangan dilakukan kegiatan antara lain penetapan kawasan pertanian dan pengendalian alih fungsi lahan pertanian.
VI DAFTAR PUSTAKA
Allen P, Dusen D van. 1988. Sustainable Agriculture:Choosing the Future. In:Global Perspective on Agroecology and Sustainable Agricultural Systems. USA: University of California, Santa Cruz, CA.
Andoko A. 2004. Budi Daya Padi Secara Organik. Depok: Penebar Swadaya. Baliwati YF. 2001. Model Evaluasi Ketahanan Pangan Rumahtangga Petani
(Desa Sukajadi Kecamatan Ciomas Kabupaten Bogor) [Disertasi]. Bogor: Program Pascasarjana, Institut pertanian Bogor.
Braun JV, Bouis H, Kumar S, Lorch RP. 1992. Improving Food Security of The Poor: Concept, Policy and Program. Washington DC: International Food Policy Reserch Institute.
[BKKBN] Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional. 2006. Balita Gizi Buruk di Kabupaten Bogor Meningkat 79 Persen. http://www.bkkbn.go.id./print.php? tid=2&rid=680. [28 November 2006]. [BPS] Badan Pusat Statistik. 2004. Sensus Pertanian 2003, Angka Propinsi Jawa Barat, Hasil Pendaftaran Rumah Tangga. Bandung: Badan Pusat Statistik Propinsi Jawa Barat.
[BPS] Badan Pusat Statistik. 2006. Kabupaten Bogor dalam Angka 2006. Bogor: BPS.
Chung KL, Haddad L, Ramakrishna J, Riely F. 1997. Identifying The Food Insecure, The Apllication on Mixed – Method Approaches in India. Washington DC: International Food Policy Reserch Institute.
[Depkes RI] Departemen Kesehatan RI. 2000. Pedoman Praktis Pemantauan Gizi Orang Dewasa. Jakarta: Departemen Kesehatan RI.
[Deptan] Departemen Pertanian. 1996. Laporan Lokakarya Ketahanan Pangan Rumahtangga 26 – 30 Mei 1996. Yogyakarta: Deptan.
[Distanhut] Dinas Pertanian dan Kehutanan. 2007. Monografi Pertanian dan Kehutanan Kabupaten Bogor Tahun 2006. Bogor: Dinas Pertanian dan Kehutanan Kab. Bogor.
[FAO] Food Agriculture Organization. 1994. Technology assessment and transfer for sustainable agriculture and rural development the Asia-Pacific Region: a research management perspective. Rome: FAO, The United Nations. [FAO] Food Agriculture Organization. 2002. Organic Agriculture, Environment
[FAO] Food Agriculture Organization. 2007. FAO Statistical Yearbook. Rome: FAO, The United Nations.
Fraser DG, Doran JW, Sahs WW, Lesoing GW. 1988. Soil Microbial Populations and Activities Under Conventional and Organic Management. Journal of Environmental Quality 17:585-590.
Haddad L, editor. 1997. Achieving Food Security in Southern Africa, New Challenges, New Opportunities. Washington DC: International Food Policy Reserch Institute.
Hardono GS. 2002. Dampak Perubahan Faktor-faktor Ekonomi Terhadap Ketahanan Pangan Rumahtangga Pertanian [Tesis]. Bogor: Program Pascasarjana, Institut pertanian Bogor.
Hasan I. 1995. Aku Cinta Makanan Indonesia dalam Rangka Mewujudkan Ketahanan Pangan Rumahtangga [Makalah Pengarahan Kursus Penyegar Ilmu Gizi dan Kongres Nasional PERSAGI X, 21-23 Nopember]. Bandung.
Hussain I. (Ed.) 2004. Poverty in irrigated agriculture in developing Asia: Issues, linkages, options and pro-poor interventions, Indonesia. Colombo, Sri Lanka: IWMI. 231p. (Country report Indonesia).
[IFOAM] International Federation of Organic Agriculture Movements. 2004. Organic Agriculture and Food Security. http://www.ifoam.org [12 Desember 2005]
[IFPRI] International Food Policy Research Institute. 1999. Technical Guides for Operationalizing Household Food Security in Development Projects. Washington DC: IFPRI.
Lin CF, Wang TSL, Chang AH, Cheng CY. 1973. Effect of Some Long Term Fertilizer Treatments on Chemical Properties of Soil and Yield of Rice.
Journal of Taiwan Agricultural Research 22:241-292.
Manguiat IJ. 1995. In Search of Alternative Fertilizers for Sustainable Agriculture: The Sestania Option. Philippines: SEAMEO-SEARCA, Los Banos.
Mantra IB, Kasto. 1989. Penentuan Sampel. Di dalam: Singarimbun M, Effendi S, editor. Metode Penelitian Survei. Jakarta: LP3ES. hlm 171.
Martianto D. 1999. Magnitude, Determinants, and Indicators of Household Food and Nutrition Security in Rural West Java and East Nusa Tenggara, Indonesia [Desertasi]. Philippines: University of The Philippines Los Banos.
56 Maxwell S, Frankenberger TR. 1992. Household Food Security: Concepts, Indocators, Measurements, A Technical Review. Rome: International Fund for Agricultural Development-United Nations Children’s Fund. Nasution LI. 1995. Pertanian Berkelanjutan dan Kaitannya dengan Pelaksanaan
Kegiatan Pendidikan Tinggi Pertanian. Jakarta: PT Gramedia Widiasarana Indonesia.
Pookpakdi P. 2002. Sustainable Agriculture for Small-Scale Farmers: A Farming System Perspective Aphiphan. Thailand: Department of Agronomy, Faculty of Agriculture, Kasetsart University Bangkok.
Pranasari ME. 8 Nov 2004. Perdagangan Produk Pertanian Organik – Peluang dan Tantangan bagi Petani Kecil. Kompas: 46 (kolom 5-8).
Rachman HPS, Ariani M. 2002. Ketahanan Pangan: Konsep, Pengukuran, dan Strategi. Forum Penelitian Agro Ekonomi, Vol 20, No. 1, Juli 2002:12 – 24.
Reganold JP. 1989. Comparison of Soil Properties as Influenced by Organic and Conventional Farming System. American Journal Alternative Agriculture
3:144-145.
Reijntjes C, Haverkort B, Waters-Bayer A. 1992. Pertanian Masa Depan, Pengantar untuk Pertanian Berkelanjutan dengan Input Luar Rendah. Sukoco Y, penerjemah. Fliert E van de, Hidayat B, Flemish Organization for Assistance in Development, editor. London: The Macmillan Press. Terjemahan dari: Farming for The Future, An Introduction to Low- External-Input and Sustainable Agriculture.
Saepurrohman. 29 Sep 2005. Menggagas pertanian ramah lingkungan. Pikiran Rakyat: 35 (kolom 1-4).
Salikin KA. 2003. Sistem Pertanian Berkelanjutan. Yogyakarta: Penerbit Kanisius.
Sayogyo. 1991. Kebijakan Mengatasi Kemiskinan sebagai Salah Satu Upaya Perbaikan Gizi [Makalah pada Seminar Studi Kebijakan Pangan dan Gizi, Pengalama n dan Harapan]. Bogor: Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor.
[SNI] Standar Nasional Indonesia. 2002. Sistem Pangan Organik. Badan Standarisasi Nasional. http://www.biocert.or.id/download/SNI_ORG.pdf [12 Juni 2004]
Soetrisno N. 1995. Ketahanan Pangan Dunia: Konsep, Pengukuran dan Faktor Dominan. Majalah Pangan No. 21, Vol. IV. Jakarta: Badan Urusan Logistik.
Soetrisno, N. 1997. Konsep dan Kebijakan Ketahanan Pangan dalam Repelita VII [Makalah Seminar Pra Widyakarya Nasional Pangan dan Gizi, 26-27 Juni]. Jakarta.
Spillmann KR, Bachler G. 2004. Environmental and Conflicts Project ENCOP Occasional Papers. Zurich/Swiss: Center for Security Studies, ETH Zurich/Swiss Peace Foundation.
Suhardjo. 1996. Pengertian dan Kerangka Pikir Ketahanan Pangan Rumahtangga [Laporan Lokakarya Ketahanan Pangan]. Jakarta: Deptan – UNICEF. Sukandar D, Briawan D, Heryanto Y, Ariani M, Andrestian MD. 2001. Kajian
Indikator Ketahanan Pangan Tingkat Rumahtangga di Propinsi Jawa Tengah. Bogor: Pusat Studi Kebijakan Pangan dan Gizi, Lembaga Penelitian, Institut Pertanian Bogor.
Sumarwan U, Sukandar D. 1998. Analisis Ketahanan Pangan Keluarga dan Kesejahteraan Keluarga. Media Gizi & Keluarga. Tahun XXII No. 1 Juli 1998. Bogor: Jurusan Gizi Masyarakat dan Sumberdaya Keluarga Fakultas Pertanian IPB, hlm 31-38.
Susanto D. 1995. Aspek Pengetahuan dan Sosio Budaya dalam Rangka Ketahanan Pangan Rumahtangga [Laporan Lokakarya Ketahanan Pangan Rumahtangga]. Deptan – UNICEF.
Sutanto R. 2002. Pertanian Organik Menuju Pertanian Alternatif dan Berkelanjutan. Yogyakarta: Penerbit Kanisius.
Syahyuti. 2004. Kendala pelaksanaan Landreform di Indonesia: Analisa terhadap Kondisi dan Perkembangan Bebrbagai Faktor Prasyarat Pelaksanaan Reforma Agraria. Forum Penelitian Agro Ekonomi. Volume 22, No. 2, Desember 2004: 89 – 101.
Teasdale JR, Coffman CB, Mangum RW. 2007. Potential Long-Term Benefits of No-Tillage and Organic Cropping Systems for Grain Production and Soil Omprovement. Agron J 99:1297 – 1305 (2007).
[UNICEF] United Nations Children’s Fund. 1997. The Progress of Nations. New York: UNICEF.
UU RI No. 7 th. 1996. Undang-undang Pangan. Jakarta: Sinar Grafika.
Yamada H. 1988. Some Experimental Results Obtained from the Studies on Technological Evaluation of Organic Farming and Gardening.
Agricultural Technology 43:433-437.
Yambi O, Kavishe FO. 2002. Determinants of Malnutrition: Household Food Security, Care and Health. Nairobi: UNICEF ESARO, Kenya.
58 Zamora BO. 1995. Contextualizing The Indicator for Sustainable Agriculture.
Di dalam: Sustainable Agriculture Indicator. Philippines: SEAMEO- SEARCA, Los Banos.
60 Lampiran 1 Peta Desa Ciburuy, Kecamatan Cigombong, Kabupaten Bogor,
62 Lampiran 3 Hasil uji Korelasi Pearson antara peubah bebas dan tidak bebas Peubah TKE PENG_L HN MODL_ KRJ PENGE_ PO PRO_BR SO P_DPT_ AN TKE Pearson Correlation 1 ,395(**) -,020 ,866(**) ,705(**) ,954(**) Sig. (2-tailed) - ,002 ,879 ,000 ,000 ,000 N 61 61 61 61 61 61 PENG_LHN Pearson Correlation ,395(**) 1 ,031 ,341(**) ,277(*) ,366(**) Sig. (2-tailed) ,002 - ,810 ,007 ,031 ,004 N 61 61 61 61 61 61 MODL_KRJ Pearson Correlation -,020 ,031 1 -,048 -,107 -,048 Sig. (2-tailed) ,879 ,810 - ,715 ,410 ,716 N 61 61 61 61 61 61 PENGE_PO Pearson Correlation ,866(**) ,341(**) -,048 1 ,674(**) ,809(**) Sig. (2-tailed) ,000 ,007 ,715 - ,000 ,000 N 61 61 61 61 61 61 PRO_BRSO Pearson Correlation ,705(**) ,277(*) -,107 ,674(**) 1 ,651(**) Sig. (2-tailed) ,000 ,031 ,410 ,000 - ,000 N 61 61 61 61 61 61 P_DPT_AN Pearson Correlation ,954(**) ,366(**) -,048 ,809(**) ,651(**) 1 Sig. (2-tailed) ,000 ,004 ,716 ,000 ,000 - N 61 61 61 61 61 61 Keterangan :
1. (**) Korelasi signifikan pada level 0,01 (2-tailed) 2. (*) Korelasi signifikan pada level 0,05 (2-tailed) 3. Peubah tidak bebas: TKE (Tingkat Kecukupan Energi) 4. Peubah bebas : PENG_LHN (penguasaan lahan)
MODL_KRJ (modal kerja)
PENGE_PO (pengetahuan bertani secara organik) PRO_BRSO (produktivitas beras organik)
Lampiran 4 Hasil uji Korelasi Spearman antara peubah bebas dan tidak bebas Peubah TKE KRJ_SA MA P_FOR MAL P_NFO RML TUJUA _PO PLAAN _LB TKE Correlation Coefficient 1,000 ,811(**) -,064 ,656(**) ,866(**) ,815(**) Sig. (2-tailed) - ,000 ,622 ,000 ,000 ,000 N 61 61 61 61 61 61 KRJ_SAMA Correlation Coefficient ,811(**) 1,000 ,163 ,775(**) ,726(**) ,920(**) Sig. (2-tailed) ,000 - ,209 ,000 ,000 ,000 N 61 61 61 61 61 61 P_FORMAL Correlation Coefficient -,064 ,163 1,000 ,221 -,027 ,080 Sig. (2-tailed) ,622 ,209 - ,088 ,838 ,542 N 61 61 61 61 61 61 P_NFORML Correlation Coefficient ,656(**) ,775(**) ,221 1,000 ,673(**) ,778(**) Sig. (2-tailed) ,000 ,000 ,088 - ,000 ,000 N 61 61 61 61 61 61 TUJUA_PO Correlation Coefficient ,866(**) ,726(**) -,027 ,673(**) 1,000 ,757(**) Sig. (2-tailed) ,000 ,000 ,838 ,000 - ,000 N 61 61 61 61 61 61 PLAAN_LB Correlation Coefficient ,815(**) ,920(**) ,080 ,778(**) ,757(**) 1,000 Sig. (2-tailed) ,000 ,000 ,542 ,000 ,000 - N 61 61 61 61 61 61 Keterangan :
1. (**) Korelasi signifikan pada level 0,01 (2-tailed) 2. Peubah tidak bebas: TKE (Tingkat Kecukupan Energi) 3. Peubah bebas : KRJ_SAMA (kerjasama)
P_FORMAL (pendidikan formal kepala keluarga) P_NFORML (pendidikan non formal kepala keluarga) TUJUA_PO (tujuan penerapan pertanian organik) PLAAN_LB (pengelolaan limbah)
64 Lampiran 5 Hasil uji regresi dengan posedur stepwise untuk memperoleh peubah
bebas yang berpengaruh nyata
Variable Parameter Estimate
Standard
Error Type II SS F Value Pr > F
Intercept 46,86972 2,77935 1062,60966 284,38 <,0001 PENG_LHN 5,79375 2,68922 17,34375 4,64 0,0357 TUJ UA_PO 1,96318 0,76014 24,92359 6,67 0,0125 PLAAN_LB 2,17285 0,73057 33,05343 8,85 0,0044 PENGE_PO 0,14617 0,05297 28,44960 7,61 0,0079 PRO_BRSO 0,10274 0,02928 45,98975 12,31 0,0009 P_DPT_AN 0,00002740 0,00000372 202,53818 54,20 <,0001 R-Square = 0,9585 Keterangan:
1. PENG_LHN (penguasaan lahan)
2. TUJUA_PO (tujuan penerapan pertanian organik) 3. PLAAN_LB (pengelolaan limbah)
4. PENGE_PO (pengetahuan bertani secara organik) 5. PRO_BRSO (produktivitas beras organik)