• Tidak ada hasil yang ditemukan

Status Mutu Ekosistem Danau Matano

BAB II GAMBARAN UMUM DANAU MATANO

2.4. Status Mutu Ekosistem Danau Matano

Penentuan status ekosistem akuatik Danau Matano dilakukan dengan terlebih dahulu menentukan kelas air dan baku mutu air danau, penentuan status mutu air serta penentuan status trofik danau. Adapun kriteria parameter lain yang harus ditentukan adalah keanekaragaman hayati, jejaring makanan, tutupan tumbuhan air, alga/ganggang biru (Microcystis) dan limbah pakan perikanan budidaya (Tabel-2.10). Sedangkan untuk menilai status ekosistem Danau Matano berdasarkan kriteria tersebut di atas (Tabel-2.11).

Tabel-2.11. Status ekosistem akuatik Danau Matano

Parameter Danau Status Ekosistem Danau

Status Keterangan

Status Trofik Baik Oligotrof

Status Mutu Air Terancam Tercemar

Keanekaragaman Hayati Baik Masih terdapat flora/fauna endemik dan asli Jejaring Makan

(food web) Baik Tingkat trofik seimbang (produsen primer/sekunder, konsumen/ tersier Tutupan

Tumbuhan Air Baik Terkendali tidak menyebar dan tidak mengganggu fungsi danau Alga/ Ganggang biru

(microcystis) Baik Tidak ada

Limbah Pakan Perikanan

Budidaya Baik Ada budidaya dalam skala kecil

Sumber Data : BLHD Sul-Sel, 2014

Penelaah status ekosistem Danau Matano dirangkum dalam urutan sebagai berikut:

1. Menentukan Kelas Kualitas Air, yang menunjukkan tingkat pencemaran (PP No. 69 tahun 2010);

2. Mengidentifikasi keanekaragaman hayati yang menunjukkan keragaman biota air, serta ikan endemik yang terdapat di perairan Danau Matano;

3. Meneliti jejaring makan (food web) yang menunjukkan struktur rangkaian makanan secara alami untuk mendukung kehidupan biota air.

4. Mengidentifikasi tutupan tumbuhan air, baik yang berfungsi sebagai penunjang kehidupan biota akuatik maupun yang bersifat gulma mengganggu ekosistem dan pemanfaatan air danau; 5. Mengidentifikasi alga/ganggang biru (Microcytis), yaitu jenis

alga yang mengganggu kelestarian dan kualitas air danau, serta mengganggu kehidupan ikan dan menimbulkan proses eutrofikasi.

58 Germadan Matano

Status trofik menunjukkan dampak adanya beban limbah unsur hara yang masuk air danau. Kondisi kualitas air danau dan waduk diklasifikasikan berdasarkan status proses eutrofikasi yang disebabkan adanya peningkatan kadar unsur hara dalam air. Faktor pembatas sebagai penentu eutrofikasi adalah unsur phosphor (P) dan nitrogen (N). Pada umumnya rata-rata tumbuhan air mengandung nitrogen dan phosphor masing-masing 0,7% dan 0,09% dari berat basah. Phosphor membatasi proses eutrofikasi jika kadar nitrogen lebih dari delapan kali kadar phosphor, sementara nitrogen membatasi proses eutrofikasi jika kadarnya kurang dari delapan kali kadari phosphor (UNEP-IETC/ ILEC, 2001). Sedangkan klorofil-a adalah pigmen tumbuhan hijau yang diperlukan untuk fotosintesis. Parameter klorofil-a tersebut mengindikasikan kadar biomassa algae, dengan perkiraan rata-rata beratnya adalah 1% dari biomassa.

Eutrofikasi yang disebabkan oleh proses peningkatan kadar unsur hara terutama parameter nitrogen dan phosphor pada air danau dan waduk. Proses tersebut diklasifikasikan dalam empat kategori status trofik kualitas air danau dan waduk berdasarkan kadar unsur hara dan kandungan biomassa atau produktivitasnya sebagai berikut.

1. Oligotrof adalah status trofik air danau dan waduk yang mengandung unsur hara dengan kadar rendah, status ini menunjukkan kualitas air masih bersifat alamiah belum tercemar dari sumber unsur hara nitrogen dan phosphor.

2. Mesotrof adalah status trofik air danau dan waduk yang mengandung unsur hara dengan kadar sedang, status ini menunjukkan adanya peningkatan kadar nitrogen dan phosphor namun masih dalam batas toleransi karena belum menunjukkan adanya indikasi pencemaran air.

3. Eutrof adalah status trofik air danau dan waduk yang mengandung unsur hara dengan kadar tinggi, status ini menunjukkan air telah tercemar oleh peningkatan kadar nitrogen dan phosphor.

4. Hipereutrof/Hipertrof adalah status trofik air danau dan waduk yang mengandung unsur hara dengan kadar sangat tinggi, status

ini menunjukkan air telah tercemar berat oleh peningkatan kadar nitrogen dan phosphor.

Tingkat kesuburan perairan danau dan waduk dapat dihitung berdasarkan tiga metode yaitu: Metode UNEP-ILEC, Metode Indeks Status Trofik Carlson dan Rumus Jones dan Bachman. Penentuan status trofik dengan ketiga metode tersebut berdasarkan adanya keterkaitan yang erat antara parameter total nitrogen, total phosphor, klorofil-a dan kecerahan perairan. Introduksi unsur pencemar keperairan danau berupa nitrogen dan phosphor akan menyebabkan terjadinya pertumbuhan fitoplankton di dalam perairan tersebut yang ditandai dengan adanya konsentrasi klorofil-a, akibat lebih lanjut dengan adanya kepadatan klorofil-a tersebut akan menyebabkan terhambatnya cahaya yang masuk ke dalam kolom air sehingga berdampak pada semakin dangkalnya kecerahan perairan yang dapat terukur dengan cakram sechi.

Tabel-2.12. Penentuan status trofik danau dengan metode UNEP-ILEC

Status Trofik Total-N(µg/L) Total-P(µg/L) Khlorofil a(µg/L) Kecerahan(m)

Oligotrof <650 < 10 < 2,0 >10

Mesotrof < 750 <30 <5,0 >4,0

Eutrof < 1.900 <100 <15 >2,5

Hipertrof > 1.900 >100 >200 < 2,5

Sumber Data : BLHD Sul-Sel, 2014

Berdasarkan hasil analisis status trofik dengan Metode UNEP-ILEC (Tabel-2.12) dan hasil pengukuran rata-rata kandungan usurtotal-N, total-P, khlorofil dan kecerahan (Tabel-2.13), maka Danau Matano digolongkan kedalam status “oligotrof”. Bahkan jika dilihat dari kecerahan air dan kandungan unsur hara pada musim kemarau, dapat digolongkan kedalam “ultraoligotrof”.

60 Germadan Matano

Tabel-2.13. Rata-rata Total-N, Total-P, Khlorofil-a dan Kecerahan Danau Matano (Juni dan Oktober 2013)

No Parameter Satuan Waktu Pengukuran Juni Oktober

1 Total-N (µg/L) 10,0 1,0

2 Total-P (µg/L) 2,3 0,0

3 Khlorofil a (µg/L) 0,5 2,0

4 Kecerahan (m) 18,254 16,309

Sumber Data : BLHD Sul-Sel, 2014

2.4.2. Status Ekosistem Sempadan

Persyaratan kualitas air untuk berbagai pemanfaatan air danau terdiri dari syarat parameter fisika, kimia dan mikrobiologi atau sesuai baku mutunya. Sedangkan penilaian status trofik air danau terutama terdiri dari syarat kadar unsur hara nitrogen dan phosphor, klorofil-a dan kecerahan air. Oleh karena itu perhitungan daya tampung perairan danau perlu memperhatikan sumber dan beban pencemaran serta dampaknya terhadap pemanfaatan air dan kesinambungan fungsi ekosistem danau.

Danau dan sebagai sumberdaya air yang memiliki berbagai pemanfaatan, juga berfungsi sebagai penampung air atau resevoar alami dari daerah tangkapan air (DTA) dan sempadan. Oleh karena itu berbagai unsur pencemaran dari DTA dan ekosistem sempadan akan terbawa masuk ke dalam danau bersama dengan air sungai dan aliran permukaan. Untuk menentukan status ekosistem sempadan di gunakan kriteria pada Tabel-2.14 yang didasarkan pada parameter ada atau tidaknya bangunan di sempadan danau.

Tabel-2.14. Kriteria status ekosistem sempadan danau

Parameter Danau Status Ekosistem Teretrial pada DTA

Baik Terancam Rusak

Sempadan Danau Tidak ada bangunan Mulai ada sedikit

bangunan Banyak Bangunan

Sempadan

Pasang-Surut a. Tidak ada bangunan b. Tidak ada pengolahan

lahan dan tidak ada perkebunan dan sawah dengan pemupukan

Ada pengolahan lahan untuk perkebunan dan sawah, serta pemupukan

a. Ada bangunan b. Ada pengolahan lahan

dan ada perkebunan dan sawah dengan pemupukan Pembuangan Limbah Tidak ada pembuangan

limbah Ada pembuangan limbah dan tidak ada sistem pengendalian pencemaran air, tetapi tidak

melampaui daya tampung pencemaran air danau

Ada pembuangan limbah dan tidak ada sistem pengendalian pencemaran air, serta telah melampaui daya tampung pencemaran air danau

Sumber Data : BLHD Sul-Sel, 2014

Pada daerah DTA dan sempadan Danau Matano terdapat berbagai kegiatan yang berpotensi menghasilkan limbah secara langsung dan tidak langsung ke danau, antara lain, pertanian, peternakan, industri dan pertambangan serta limbah penduduk. Kondisi saat ini, sempadan Danau Matano di sebelah selatan merupakan kawasan pemukiman kota Sorowako dan perumahan karyawan PT. Vale. Sebelah barat danau terdapat pemukinan Desa Matano dan di sebelah barat laut sampai utara terdapat pemukiman Desa Nuha.

Sejalan dengan pertambahan penduduk dan perkembangan kota Sorowako, maka tuntutan kebutuhan pemukiman/perumahan bagi penduduk semakin mendesak. Disisi lain kondisi tofografi kota Sorowako yang berbukit dan sebagaian besar berada dibawa konsesi PT.Vale sehingga sulit untuk mendapatkan lahan pemukiman baru yang layak. Oleh karena itu pemanfaatan sempadan danau sebagai kawasan pemukiman baru terus berkembang dan sulit untuk dicegah. Bahkan dimasa akan datang, pengembangan pemukiman ini akan

62 Germadan Matano

menjadi ancaman tersendiri tehadap status ekosistem sempadan Danau Matano.

Tabel-2.15. Status ekosistem sempadan Danau Matano

Parameter Danau Status Ekosistem Teretrial pada DTA

Status Keterangan

Sempadan Danau Terancam Ada bangunan, tersebar pada beberapa lokasi sempadan. Sempadan Pasang-Surut Terancam Ada pengolahan lahan untuk perkebunan dan pemupukan Pembuangan Limbah Terancam Ada pembuangan limbah,sebagian ada sistem pengendalian pencemaran air dan sebagian tidak ada, namun tidak

melampaui daya tampung pencemaran air danau

Sumber Data : BLHD Sul-Sel, 2014

Kawasan sempadan Danau Matano sebelah timur saat ini sebagian telah berubah menjadi pemukiman baru antara lain, Kompleks perumahan Villa Matano Indah dan kompleks rumah susun serta berkembang pula industri perhotelan dan rumah-rumah penduduk yang dibangun secara perorangan. Pembangunan rumah susun ini merupakan kebijakan pemerintah Luwu Timur melalui instasi terkait yang dimaksudkan untuk merelokasi penduduk kota Sorowako yang mendirikan bangunan rumah di atas Danau Matano. Selain sebagai kawasan pemukiman, sempadan Danau Matano sebagian telah menjadi lahan perkebunan rakyat. Komoditi yang diusahakan oleh masyarkat adalah coklat dan merica serta tanaman musiman.

Pada sempadan pasang surut Danau Matano, ditemukan bangunan permanen berupa dermaga penyeberangan baik di Sorowako maupun di Nuha. Kedua dermaga tersebut merupakan prasarana transportasi danau yang menghubungkan Sorowako Kabupaten Luwu Timur Propinsi Sulawesi Selatan melalui Desa Nuha dengan Kabupaten Morowali Propinsi Sulawesi Tengah. Disekitar dermaga Sorowako, terlihat pemukiman penduduk di bangun di atas sempadan pasang surut. Di antara pemukiman tersebut terdapat usaha budidaya ikan

dengan sistem kerambah, meskipun jumlahnya tidak banyak dan masih dalam skala kecil. Pemanfaatan lahan sempadan pasang surut tersebut, dikhawatirkan akan menjadi acaman terhadap keaslian ekosistem Danau Matano di masa mendatang. Sedangkan parameter pembuangan limbah, terdapat sistem pengendalian pencemaran air atau instalasi pengolahan air limbah (IPAL) dari buangan limbah PT. Vale dan perumahan staf serta karyawannya. Sedangkan penduduk di kota Sorowako sebagaian besar mengalirkan limbahnya langsung kedanau, termasuk penduduk di desa Matano dan Nuha. Selain itu, aliran sungai-sungai kecil yang berjumlah 10 buah dan berhulu di DTA Larona secara reguler mengalirkan air ke Danau Matano, termasuk limbah yang terkandung di dalamnya baik pada musim kemarau terlebih pada musim hujan. Berdasarkan pada kriteria sempadan danau dan analisis yang telah dilakukan maka status ekosistem sempadan Danau Matano (Tabel-2.15) sampai saat ini adalah status terancam.

Tabel-2.16. Kriteria status ekosistem terestrial danau pada Daerah Tangkapan Air (DTA)

Parameter Danau Status Ekosistem Teretrial pada DTA

Baik Terancam Rusak

Penutupan

vegetasi pada DTA Lebih dari 75 % 30 – 70 % Kurang dari 30 % Koefisien region

sungai (Qmax/ Qmin) masuk danau

Kurang dari 50 50 - 120 Lebih dari 120

Erosi Lahan DTA Tingkat erosi masih dibawah tingkat toleransi erosi

Tingkat erosi telah menyamai batas toleransi erosi

Tingkat erosi telah melebihi batas toleransi erosi

Dampak Pendangkalan Danau

Tidak terjadi

pendangkalan Pendangkalan rata2 per tahun kurang dari 2% dari kedalaman danau

a. Pendangkalan rata2 per tahun ≥ 2% dari kedalaman danau b. Pendangkalan menyebabkan

ekosistem tipe danau sangat dangkal berubah menjadi ekosistem rawa

64 Germadan Matano

Parameter Danau Status Ekosistem Teretrial pada DTA

Baik Terancam Rusak

Pembuangan

Limbah Tidak ada pembuangan limbah

Ada pembuangan limbah dan tidak ada sistem pengendalian pencemaran air, tetapi tidak melampaui daya tampung pencemaran air danau

Ada pembuangan limbah dan tidak ada sistem pengendalian pencemaran air, serta telah melampaui daya tampung pencemaran air danau

Sumber Data : BLHD Sul-Sel, 2014

2.4.2. Status EkosistemTerestrial

Untuk menentukan status ekosistem terestrial di gunakan kriteria pada Tabel-2.16 yang didasarkan pada pengaruh ekosistem terestrial pada DTA Danau Matano. Sedangkan status ekosistem terestrial Danau Matano pada Daerah Tangkapan Air (Tabel-2.17).

Tabel-2.17. Status ekosistem terestrial Danau Matano pada Daerah Tangkapan Air

Parameter Danau Status Ekosistem Terestrial pada DTA

Status Keterangan

Penutupan vegetasi pada

DTA Baik > 86 %

Koefisien region sungai

(Qmax/Qmin) masuk danau Baik 10

Erosi Lahan DTA Baik Tingkat erosi masih dibawa batas toleransi erosi Dampak Pendangkalan

Danau Baik Tidak terjadi pendangkalan (Danau Purba) Pembuangan Limbah Belum

Terancam Ada pembuangan limbah dan ada sistem pengendalian pencemaaran, tidak melampaui daya tampung pencemaran air danau

Indikator kondisi dan pengaruh ekosistem terestrial pada Daerah Tangkapan Air (DTA) Danau Matano adalah sebagai berikut :

1. Penutupan vegetasi pada lahan daerah DTA adalah luas lahan vegetasi dibagi luas lahan DAS atau DTA. Kondisi yang baik adalah apabila nilainya lebih besar dari 75%, dan mulai terancam apabila nilainya 30 – 75%, sedangkan kondisi rusak apabila nilainya < 30%. Pada danau vulkanik perhitungan luas vegetasi tersebut dikoreksi yaitu luas DTA terlebih dulu dikurangi dengan luas lahan yang tidak dapat ditanami karena memiliki karakteristik solum tanah yang dangkal.

2. Fluktuasi debit air antara debit maksimal pada musim hujan dan debit minimal pada musim kemarau, yang dinyatakan dengan nilai koefisien regim sungai yaitu KRS = Qmax/Qmin. Kondisi baik apabila KRS < 50; terancam apabila nilainya 50-120; rusak apabila nilainya > 120.

3. Erosi lahan DAS atau DTA : tingkat erosi baik apabila laju erosi masih dibawah batas toleransi erosi, terancam bila menyamai batas toleransi erosi dan rusak apabila melebihi batas toleransi erosi. Batas toleransi erosi untuk berbagai jenis lahan mengacu kepada peraturan dan pedoman yang berlaku.

4. Pendangkalan danau: kondisi danau adalah baik apabila tidak terjadi pendangkalan, terancam apabila pendangkalan rata-rata pertahun mencapai < 2% dari kedalaman danau, rusak apabila ≥ 2% dari kedalaman danau.

5. Pembuangan limbah: kondisi danau adalah baik apabila tidak ada pembuangan limbah atau ada pembuangan limbah akan tetapi ada sistem pengendalian pencemaran air serta sesuai dengan daya tampung beban pencemaran air danau; terancam apabila tidak ada sistem pengendalian pencemaran akan tetapi tidak melampaui daya tampung beban pencemaran air danau; rusak apabila melampaui daya tampung beban pencemaran air danau.

Dokumen terkait