• Tidak ada hasil yang ditemukan

GERAKAN PENYELAMATAN DANAU MATANO (GERMADAN MATANO)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "GERAKAN PENYELAMATAN DANAU MATANO (GERMADAN MATANO)"

Copied!
105
0
0

Teks penuh

(1)
(2)

GERAKAN PENYELAMATAN DANAU

MATANO

(3)

Gerakan Penyelamatan Danau (GERMADAN) Matano

© Kementerian Lingkungan Hidup, 2014

Bagian atau seluruh isi buku ini dapat dikutip dengan menyebutkan sumbernya disertai ucapan terimakasih kepada Kementerian Lingkungan Hidup Republik Indonesia.

Cara mengutip :

Kementerian Lingkungan Hidup Republik Indonesia. 2014. Gerakan Penyelamatan Danau (GERMADAN) Matano.

Pengarah :

Arief Yuwono

Deputi Bidang Pengendalian Kerusakan Lingkungan dan Perubahan Iklim, KLH

Penanggung Jawab :

Hermono Sigit

Asisten Deputi Pengendalian Kerusakan Ekosistem Perairan Darat, KLH

Tim Penyusun :

Rustam Pance, Harmin Manurung, Titi Novitha Harahap, Inge Retnowati, Siti Rachmiati Nasution, Wahyu Cahyadi Rustadi.

Didukung oleh :

Kementerian Dalam Negeri, Kementerian Pekerjaan Umum, Kementerian Kehutanan, Kementerian Pertanian, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, Kementerian Riset dan Teknologi, Kementerian Kelautan dan Perikanan, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Bappeda Provinsi Sulawesi Selatan, Badan Lingkungan Hidup Provinsi Sulawesi Selatan, Bappeda Kabupaten Luwu Timur, Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah Kabupaten Luwu Timur, serta Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) Provinsi Sulawesi Selatan dan Kabupaten Luwu Timur.

Diterbitkan oleh :

(4)

SAMBUTAN

DEPUTI BIDANG PENGENDALIAN

KERUSAKAN LINGKUNGAN

DAN PERUBAHAN IKLIM

Konferensi Nasional Danau Indonesia I yang diselengarakan pada tahun 2009, telah menghasilkan Kesepakatan Bali yang ditandatangani oleh 9 Menteri yakni Menteri Lingkungan Hidup, Menteri Dalam Negeri, Menteri Pekerjaan Umum, Menteri Pertanian, Menteri Energi dan Sumberdaya Mineral, Menteri Kehutanan, Menteri Kelautan dan Perikanan, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif serta Menteri Riset dan Teknologi untuk mempertahankan, melestarikan dan memulihkan fungsi danau berdasarkan prinsip keseimbangan ekosistem dan daya dukung lingkungan, pada 15 Danau Prioritas Nasional.

Untuk mempercepat implementasi Kesepakatan Bali Tahun 2009, maka pada Konferensi Nasional Danau Indonesia II di Semarang, Kementerian Lingkungan Hidup telah meluncurkan Gerakan Penyelamatan Danau (GERMADAN) dan mengangkat Penyelamatan Danau Rawapening sebagai model. Diharapkan Model Penyelamatan Danau Rawapening dapat direplikasikan kepada 14 danau prioritas lainnya.

Sebagai wujud replikasi model penyelamatan Danau Rawapening, hingga saat ini telah tersusun dokumen GERMADAN Toba, Maninjau, Singkarak, Kerinci, Tondano, Limboto, Poso, Tempe, Matano, Kaskade Mahakam (Semayang, Melintang, Jempang), Sentarum, Sentani, Rawa Danau dan Batur. Dokumen GERMADAN ini lahir berdasarkan arahan dan kebijakan yang telah digariskan dalam Grand Design Penyelamatan Ekosistem Danau Indonesia serta hasil kajian, penelitian serta data dan informasi terbaru mengenai danau prioritas tersebut dari berbagai sumber terkait. GERMADAN ini berisi Rencana Aksi penyelamatan Danau Matano yang menjelaskan program super prioritas dan prioritas penyelamatan Danau Matano yang akan dilaksanakan secara bertahap

(5)

iv Germadan Matano

oleh Kementerian, Lembaga, Pemerintah Daerah, Dunia Usaha dan Masyarakat sesuai tugas, fungsi dan kewenangannya.

Akhir kata saya menyampaikan penghargaan yang setinggi-tingginya dan ucapan terima kasih kepada Tim Penyusun dan para narasumber, baik yang berasal dari pemerintah pusat, daerah, akademisi, dunia usaha maupun masyarakat, sehingga dokumen Gerakan Penyelamatan Danau (GERMADAN) ini dapat tersusun. Diharapkan dokumen GERMADAN ini dapat menjadi bahan arahan dan acuan bersama bagi para pihak untuk secara sinergis dan terpadu merencanakan, melaksanakan dan melakukan evaluasi kebijakan, program dan kegiatan penyelamatan Danau Matano.

Jakarta, November 2014 Deputi Bidang Pengendalian Kerusakan

Lingkungan dan Perubahan Iklim

(6)

KATA PENGANTAR

Puji syukur kita panjatkan kepada Allah SWT yang telah memberikan kekuatan, bimbingan dan kasih sayang-Nya dalam setiap aktivitas pengabdian kita sehingga dokumen Gerakan Penyelematan Danau (GERMADAN) Matano telah tersusun dengan baik.

Terima kasih kepada Kementerian Lingkungan

Hidup yang telah memberikan kepercayaan kepada TIM untuk menyusun dokumen ini. Sebagai tekad kami dalam menyelamatkan lingkungan, khususnya ekosistem Danau Matano sudah perlu untuk melakukan tindakan penyelamatan dan pelestarian. Kesempatan berkarya ini sungguh merupakan kehormatan sekaligus academic exercise bagi kami dalam melaksanakan tugas pengabdian kepada masyarakat.

Danau Matano merupakan salah satu danau yang terdapat di dalam Kompleks Danau Malili. Terbentuk 2-4 juta tahun silam, termasuk 10 danau terdalam di Dunia dan terdalam di Asia Tenggara. Airnya yang selalu jernih dan dasarnya berada di bawah permukaan laut (cryptodepression) menyimpan berbagai misteri dan keunikan sehingga menjadi tantangan tersendiri bagi para peneliti baik di dalam negeri maupun luar negeri. Danau purba ini kaya spesies endemik yang perlu dilestarikan sebagai kekayaan sumberdaya genetik Bangsa Indonesia.

Secara ekologis, Danau Matano saat ini masih baik, status ekosistem perairannya tercemar ringan dan “oligotrofik”, sedangkan ekosistem sempadan dan terestrial terancam. Danau Matano secara alami akan mengalami perubahan meskipun memerlukan waktu yang relatif lama. Perubahan status ekosistem perairan, pendangkalan dan perubahan keanekaragaman hayati dapat dipercepat karena berbagai aktivitas manusia di daerah sempadan, terestrial dan DTA maupun di

(7)

vi Germadan Matano

atas perairan. Erosi dan laju sedimentasi serta beban pencemaran yang diterima merupakan ancaman kelestarian dan keberlanjutan fungsi ekosistem Danau Matano dimasa mendatang.

Berdasarkan hal tersebut di atas, maka dokumen GERMADAN Matano dengan program rencana aksi perlu disusun dan diimplentasikan guna menyelamatkan dan melestarikan sumberdaya alam Danau Matano. Disadari bahwa dokumen ini tidak luput dari kekurangan dan kesalahan. Oleh sebab itu, masukan dan saran senantiasa diharpakan untuk perbaikan.

Semoga Allah SWT senantiasa memberikan berkah kepada kita semua atas niat baik ini, aamien.

Makassar, 20 Agustus 2014, Gubernur Provinsi Sulawesi Selatan

(8)

DAFTAR ISI

SAMBUTAN ... iii

KATA PENGANTAR ………. v

DAFTAR ISI ………...……… vii

DAFTAR TABEL ……… ix

DAFTAR GAMBAR ……… xi

DAFTAR LAMPIRAN ………. … xii

BAB I PENDAHULUAN ………. 1

1.1. Latar Belakang ……… 1

1.2. Landasan Hukum ……… 3

1.3. Permasalahan ………. 7

1.4. Ruang Lingkup dan Kerangka Pikir ……… 9

1.5. Tujuan dan Kegunaan ……….. 11

BAB II GAMBARAN UMUM DANAU MATANO ……….……….... 15

2.1. Profil Danau Matano ………...…….……….... 15

2.1.1. Tipe dan Karakteristik Danau ……….……. 15

2.1.2. Hidrologi Danau …………....……… 17

2.1.3. Ekologi Perairan Danau ………….….…………. 19

2.1.4. Sumberdaya Air Danau .…….……….………… 24

2.1.5. Sumberdaya Hayati Danau ………….………… 25

2.1.6. Kualitas Air Danau ………...……… 29

2.2. Keanekaragaman Hayati ………..………. 40 2.2.1. Plankton ……….……… 41 2.2.2. Tumbuhan Air ……….……… 42 2.2.3. Benthos ……….………. 43 2.2.4. Moluska ……….………. 44 2.2.5. Krustase ……….……… 46 2.2.6. Ikan ……….……… 46

2.3. Permasalahan Ekosistem Danau ………... 49

(9)

viii Germadan Matano

2.3.2. Pencemaran Air ……… 52

2.4. Status Mutu Ekosistem Danau Matano ... 56

2.4.1. Status Ekosistem Akuatik ... 56

2.4.2. Status Ekosistem Sempadan ... 60

2.4.3. Status Ekosistem Terestrial ... 64

BAB III GERAKAN PENYELAMATAN DANAU MATANO ……….. 67

3.1. Penentuan Faktor Internal dan Eksternal ... 67

3.2. Program Germadan Matano ... 70

3.2.1. Program Super Prioritas ……... 70

3.2.2. Program Prioritas ……….……… 75

BAB IV PENUTUP ………..………. 79

DAFTAR PUSTAKA ……….. 81

(10)

DAFTAR TABEL

Tabel 2.1. Kapasitas Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA)

Sungai Larona ………. 24 Tabel 2.2. Biota akuatik yang ditemukan di Danau Matano …... 26 Tabel 2.3. Posisi pengambilan sampel di permukaan air

Danau Matano ………...………. 29 Tabel 2.4. Hasil pengukuran parameter kualitas air permukaan

Danau Matano pada bulan Juni 2013 ………....…….. 33 Tabel 2.5. Hasil pengukuran parameter kualitas air permukaan

Danau Matano pada bulan Oktober 2013 ... 38 Tabel 2.6. Jenis dan kelimpahan plankton pada setiap

titik pengamatan ... 41 Tabel 2.7. Penggunaan lahan di sekitar Danau Matano dan

Kompleks Danau Malili ... 49 Tabel 2.8. Tingkat Bahaya Erosi (TBE) Danau Matano dan

Kompleks Danau Malili ... 52 Tabel 2.9. Analisis mutu air Danau Matano menurut metode

Storet bulan Juni dan Oktober 2013 ... 54 Tabel 2.10. Kriteria status ekosistem akuatik danau ... 55 Tabel 2.11. Status ekosistem akuatik Danau Matano ... 57 Tabel 2.12. Penentuan status trofik danau dengan metode

UNEP-ILEC ... 59 Tabel 2.13. Rata-rata Total-N, Total-P, Khlorofil-a dan Kecerahan

Danau Matano (Juni dan Oktober 2013) ... 60 Tabel 2.14. Kriteria status ekosistem sempadan danau ... 61 Tabel 2.15. Status ekosistem sempadan Danau Matano ... 62 Tabel 2.16. Kriteria status ekosistem terestrial danau pada

Daerah Tangkapan Air (DTA) ... 63 Tabel 2.17. Status ekosistem terestrial Danau Matano pada

Daerah Tangkapan Air (DTA) ... 64 Tabel 3.1. Analisis SWOT lingkungan internal dan eksternal

(11)

x Germadan Matano

Tabel 3.2. Program penyelamatan ekosistem DTA dan lereng Danau Matano ………...……….. 71 Tabel 3.3. Program penyelamatan ekosistem sempadan

Danau Matano ………....…….. 73 Tabel 3.4. Program penyelamatan ekosistem perairan

Danau Matano ……….. 74 Tabel 3.5. Program pengembangan kelembagaan dan

koordinasi Pengelolaan Danau Matano ……….. 76 Tabel 3.6. Program pengembangan sistim monitoring dan

(12)

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1.1. Pendekatan gerakan penyelamatan danau

(GERMADAN) Matano ……….……… 13 Gambar 2.1. Peta batimetrik Danau Matano ……… 16 Gambar 2.2. Peta struktur sedimen dasar Danau Matano …..…. 17 Gambar 2.3. Peta sistem danau dalam Kompleks Danau Malili .. 19 Gambar 2.4. Spesies endemik non-ikan di Danau Matano ….….. 45 Gambar 2.5. Spesies ikan endemik di Danau Matano ………..… 48 Gambar 2.6. Peta penggunaan lahan di sekitar Danau Matano

dan Kompleks Danau Malili ………...…………. 51 Gambar 2.7. Peta TBE lahan di sekitar Danau Matano dan

(13)

xii Germadan Matano

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1. Program Super Prioritas Penyelamatan Ekosistem DTA dan Lereng Danau Matano ………...……….. 87 Lampiran 2. Program Super Prioritas Penyelamatan Ekosistem

Sempadan Danau Matano …………...………. 88 Lampiran 3. Program Super Prioritas Pelestarian Ekosistem

PerairanDanauMatano …………...………….………. 89 Lampiran 4. Program Prioritas Pengembangan Kelembagaan

dan Koordinasi Pengelolaan Danau Matano ... 90 Lampiran 5. Program Prioritas Pengembangan Sistim Monitoring

(14)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Konferensi Nasional Danau Indonesia I pada 13 – 15 Agustus 2009 di Bali, telah menghasilkan kesepakatan Bali tentang pengelolaan danau berkelanjutan dalam mengantisipasi perubahan iklim global. Kesepakatan tersebut menekankan bahwa mempertahankan, melestarikan dan memulihkan fungsi danau harus dilakukan berdasarkan prinsif keseimbangan ekosistem dan daya dukung lingkungan. Untuk maksud tersebut di atas maka ditempuh tujuh strategi, yaitu pengelolaan ekosistem danau; pemanfaatan sumber daya air danau; pengembangan sistem monitoring, evaluasi dan informasi danau; penyiapan langkah-langkah adaptasi dan mitigasi perubahan iklim terhadap danau; pengembangan kapasitas, kelembagaan dan koordinasi; peningkatan peran masyarakat; dan pendanaan berkelanjutan.

Kesepakatan Bali 2009 telah menetapkan 15 danau prioritas yang

akan ditangani bersama secara terpadu, berwawasan lingkungan dan berkelanjutan pada periode 2010-2014. Penetapan danau prioritas berlandaskan pada kerusakan danau, pemanfaatan danau, komitmen pemda dan masyarakat dalam pengelolaan danau, fungsi strategis untuk kepentingan nasional, keanekaragaman hayati, dan tingkat resiko bencana. Ke 15 danau tersebut adalah danau Toba, Maninjau, Singkarak, Kerinci, Tondano, Limboto, Poso, Tempe, Matano, Mahakam, Sentarum, Sentani, Batur, Rawa Danau, dan Rawapening.

Secara geografis Danau Matano terletak pada koordinat: 2°29′16″S 121°21′07″E dan mempunyai luas permukaan 16.410 hektar. Merupakan danau tektonik purba, terbentuk pada akhir masa Pliosin sekitar 2-4 juta tahun yang lalu. Danau Matano mempunyai kedalaman 587 m dan termasuk danau terdalam kesepuluh di dunia dan terdalam di Asia Tenggara. Elevasi permukaan danau berada ketinggian 394

(15)

2 Germadan Matano

m dari permukaan laut, sedangkan bagian terdalam dari dasar danau berada sekitar 197 m (cryptodepression).

Sistem hidrologi Danau Matano bersumber dari ribuan mata air sehingga tidak akan pernah mengalami kekeringan, meskipun anak-anak sungai yang mengalir ke dalamnya mengalami kekeringan. Selain Danau Matano, terdapat juga Danau Mahalona, Danau Towuti, dan dua danau kecil yaitu Masapi dan Wawantoa. Kelima danau ini dikenal dengan “Kompleks Danau Malili” dan secara keseluruhan kawasan inti sistemnya berada dalam wilayah administratif pemerintahan daerah Kabupaten Luwu Timur, Provinsi Sulawesi Selatan.

Kompleks Danau Malili ini terhubung secara “kaskade” dimana air Danau Matano mengalirkan air ke Danau Mahalona melalui Sungai Petea, air dari Danau Mahalona mengalir ke Danau Towuti melalui Sungai Tominanga dan selanjutnya mengalir ke Teluk Bone melalui Sungai Larona. Sedangkan Danau Wawantoa mengalirkan air ke Danau Towuti melalui Sungai Lantoa dan Danau Masapi memiliki aliran sungai tersendiri yang akan menyatu dengan sungai Larona sebelum bermuara ke teluk Bone. Kompleks Danau Malili dikelilingi oleh perbukitan yang berhutan lebat dan banyak sungai kecil ditemukan di kaki bukit dan umumnya mengalir menuju danau sehingga berperan sebagai penyuplai air (river inlet) bagi danau. Potensi sumberdaya air Danau Matano memiliki multifungsi, sebagai obyek wisata, transportasi, perikanan, PDAM dan PLTA.

Secara limnologis Danau Matano memiliki banyak keunikan antara lain dasar danau yang cryptodepression, air danau yang sangat jernih, keragaman hayati, geologi dan panorama serta menunjukkan fenomena yang tidak lazim dari sisi biogeokimiawi. Oksigen terlarut hanya pada lapisan permukaan sampai kedalaman 100 m. Pada kedalaman lebih besar dari 100 m hingga ke dasar danau perairan bersifat anaerob. Sejumlah keunikan Danau Matano tidak seperti danau purba pada umumnya, lebih dari 90% spesies di Danau Matano adalah endemik. Kompleks Danau Malili (Matano, Mahalona, dan Towuti) adalah satu-satunya danau purba di dunia yang sistem aliran

(16)

airnya terhubung satu sama lain. Hal yang menarik dari Kompleks Danau Malili adalah spesies endemiknya. Masing-masing danau memiliki spesies endemik tersendiri, meskipun ada beberapa spesies biota air yang hidup pada ketiga danau purba ini atau dikwnal sebagai spesies endemik Kompleks Danau Malili.

1.2. Landasan Hukum

Berikut adalah beberapa ketentuan peraturan perundang-undangan yang terkait dengan pengelolaan ekosisten danau, antara lain:

a. Undang-Undang

1. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria;

2. Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1967 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Pertambangan;

3. Undang - undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya;

4. Undang-undang Nomor 4 Tahun 1992 tentang Perumahan dan Pemukiman;

5. Undang-undang Nomor 5 tahun 1994 tentang Pengesahan Konvensi PBB Mengenai Keanekaragaman Hayati;

6. Undang-Undang Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan; 7. Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya

Air;

8. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah;

9. Undang-Undang Nomor 26 tahun 2007tentang Penataan Ruang;

10. Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2009 tentang Kepariwisataan; 11. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan

(17)

4 Germadan Matano

b. Peraturan Pemerintah

1. Peraturan Pemerintah Nomor 44 Tahun 2004 tentang Perencanaan Kehutanan;

2. Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1991 tentang Rawa; 3. Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2011 tentang Sungai; 4. Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 1997 tentang

Pendaftaran Tanah;

5. Peraturan Pemerintah Nomor 26 Tahun 2008 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional;

6. Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa;

7. Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 1999 tentang Pemanfaatan Jenis Tumbuhan dan Satwa Liar;

8. Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2000 tentang Kewenangan Pemerintah dan Kewenangan Provinsi sebagai Daerah Otonom;

9. Peraturan Pemerintah Nomor 22 Tahun 2001 tentang Tata Pengaturan Air;

10. Peraturan Pemerintah Nomor 77 Tahun 2001 tentang Irigasi; 11. Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2001 tentang

Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air; 12. Peraturan Pemerintah Nomor 16 Tahun 2004 tentang

Penatagunaan Tanah;

13. Peraturan Pemerintah Nomor 34 Tahun 2004 tentang Pemanfaatan Jasa Lingkungan;

14. Peraturan Pemerintah Nomor 45 Tahun 2004 tentang Perlindungan Hutan;

15. Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan Antar Pemerintah, Pemerintahan Daerah Provinsi dan Pemerintahan Daerah Kabupaten /Kota;

16. Peraturan Pemerintah Nomor 37 Tahun 2010 tentang Bendungan.

(18)

c. Keputusan Presiden

1. Keputusan Presiden Nomor 32 Tahun 1990 tentang Pengelolaan Kawasan Lindung;

2. Keputusan Presiden Nomor 34 Tahun 2003 tentang Kebijakan Nasional Bidang Pertanahan;

3. Keputusan Presiden Nomor 65 Tahun 2006 tentang Pengadaan Tanah Bagi Pelaksanaan Pembangunan Untuk Kepentingan Umum.

d. Peraturan Menteri

1. Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 28 Tahun 2009 tentang Daya Tampung Beban Pencemaran Air danau dan/atau Waduk;

2. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 63/PRT/1993 tentang Garis Sempadan Sungai, Daerah Manfaat Sungai, Daerah Peguasaan Sungai dan Bekas Sungai;

3. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 39/PRTI1990 tentang Pembagian Wilayah Sungai;

4. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 45/PRT/1990 tentang Pengendalian Mutu Air pada Sumber-Sumber Air; 5. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 48/PRT/1990

tentang Pengelolaan Atas Air dan Sumber Air Pada Wilayah Sungai;

6. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 49/PRT/1990 tentang Tata Cara dan Persyaratan Ijin Penggunaan dan atau Sumber Sumber Air;

7. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 416/1990 tentang Syarat- Syarat Pengawasan Kualitas Air;

8. Peraturan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Nomor 86/ HK.501/MKP/2010 tentang Tata Cara Pendaftaran Usaha Penyediaan Akomodasi;

9. Peraturan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Nomor 87/ HK.501/MKP/2010 tentang Tata Cara Pendaftaran Usaha Jasa Makanan dan Minuman;

(19)

6 Germadan Matano

10. Peraturan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Nomor 88/ HK.501/MKP/2010 tentang Tata Cara Pendaftaran Usaha Kawasan Pariwisata;

11. Peraturan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Nomor 89/ HK.501/MKP/2010 tentang Tata Cara Pendaftaran Usaha Transportasi Wisata;

12. Peraturan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Nomor 90/ HK.501/MKP/2010 tentang Tata Cara Pendaftaran Usaha Daya Tarik Wisata;

13. Peraturan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Nomor 91/ HK.501/MKP/2010 tentang Tata Cara Pendaftaran Usaha Penyelenggaraan Kegiatan Hiburan dan Rekreasi;

14. Peraturan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Nomor 92/ HK.501/MKP/2010 tentang Tata Cara Pendaftaran Usaha Jasa Pramuwisata.

e. Keputusan Menteri

1. Keputusan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 458/KPTS/1986 tentang Ketentuan Pengamanan Sungai dalam Hubungan dengan Penambangan Bahan Galian Golongan C;

2. Keputusan Menteri Kehutanan Nomor 687/KPTS-11/1989 tentang Pengusahaan Hutan Wisata, Taman Nasional, Taman Hutan Rakyat dan Taman Wisata Laut;

3. Keputusan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 779/KPTS/1990 tentang Pengendalian Banjir dan Pengaturan Sungai;

4. Keputusan Menteri Kehutanan Nomor 167/KPTS-11/1994 tentang Sarana dan Prasarana Pengusahaan Pariwisata di Kawasan Pelestarian Alam;

5. Keputusan Menteri Kehutanan Nomor 447/KPTS-11/1996 tentang Pembinaan dan Pengawasan Pengusahaan Pariwisata Alam;

6. Keputusan Menteri Kehutanan Nomor 348IKPTS-11/1997 tentang Perubahan Keputusan Menteri Kehutanan Nomor 446/KPTS-ll/1996 tentang Tata Cara Permohonan, Pemberian dan Pencabutan Ijin Pengusahaan Pariwisata Alam;

(20)

7. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 907 Tahun 2002 tentang Syarat dan Pengawasan Kualitas Air Minum;

8. Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 111 Tahun 2003 tentang Pedoman mengenai Syarat dan Tata Cara Perijinan serta Pedoman Pembuangan Limbah ke Air dan Sumber Air.

9. Keputusan No. 274/Kpts/Um/4/1979 tahun 1979 tentang Taman Wisata Alam Danau Matano, Taman Wisata Alam Danau Mahalona, dan Taman Wisata Alam Danau Towuti.

f. Peraturan Daerah Provinsi Sulawesi Selatan

1. Perda Provinsi Sulawesi Selatan Nomor 9 Tahun 2009 tentang Rencana Tataruang Wilayah (RTRW) Sulawesi Selatan; 2. Peraturan Gubernur Provinsi Sulawesi Selatan Nomor 69

Tahun 2010 tentang Baku Mutu dan Kriteria Kerusakan Lingkungan Hidup;

g. Peraturan Daerah Kabupaten Luwu Timur

1. Peraturan Daerah Kabupaten Luwu Timur Nomor 7 Tahun 2011 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten; 2. Peraturan Daerah Kabupaten Luwu Timur Nomor 12 Tahun

2011 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup;

1.3. Permasalahan

Berbagai faktor yang dapat menyebabkan kerusakan lingkungan baik pada kawasan di sekitar danau maupun pada ekosistem danau dan pada akhirnya menimbulkan permasalahan dan kerusakan danau. Faktor-faktor tersebut antara lain: Kerusakan lingkungan hutan dan pembukaan lahan di daerah DTA sehingga meningkatkan laju erosi dan sedimentasi di perairan danau; Alih fungsi lahan di daerah sempadan menjadi pemukiman dan kegiatan perekonomian lainnya; Buangan limbah domestik, industri, pertambangan dan pertanian dapat

(21)

8 Germadan Matano

menyebabkan perubahan mutu air danau; Penangkapan ikan dengan cara yang tidak ramah lingkungan; Kegiatan budidaya ikan yang tidak terkendali berpotensi memicu eutrofikasi karena pencemaran limbah organik ke dalam danau; Pemanfaatan danau sebagai sumber air baku PDAM dan PLTA yang tidak memperhitungkan keseimbangan hidrologi dapat mengubah karakteristik permukaan air danau dan sempadan danau; Pemanfaatan danau sebagai sarana transportasi air berpotensi menimbulkan pencemaran bahan bakar minyak ke perairan danau.

Berdasarkan pada hasil analisis dan identifikasi yang telah dilakukan, maka root problem yang menjadi ancaman terhadap ekosistem Danau Matano di masa mendatang dapat dikelompokkan menjadi beberapa kategori yaitu;

1. Permasalahan akibat kegiatan yang berlangsung di DTA dan lereng;

2. Permasalahan akibat kegiatan yang berlangsung di daerah sempadan;

3. Permasalahan akibat kegiatan yang berlangsung di atas perairan danau.

Penyusunan GERMADAN Matano sangat diperlukan sebagai pedoman rencana penyusunan progran dan kebijakan pengelolaan dan pemanfaatan ekosistem danau maupun ekosistem kawasan di sekitar danau secara berimbang antara kepentingan konservasi dengan kepentingan kesejahteraan masyarakat tanpa merusak fungsi dan keindahan ekosistem Danau Matano yang unik. Disadari bahwa beberapa program telah dilaksanakan, namun karena sifatnya yang insidentil dan parsial tergantung kepentingan masing-masing SKPD terkait. Bahkan jika diamati dengan cermat, terdapat berbenturan program dengan kewenangan dan tanggung jawab sehingga tidak memberikan dampak signifikan terhadap ekosistem Danau Matano menjadi lebih baik.

(22)

1.4. Ruang Lingkup dan Kerangka Pikir

Salah satu peraturan perundang-undangan yang digunakan dalam penyusunan grand design penyelamatan ekosistem danau adalah Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup. Pasal 4 undang-undang tersebut mengatur perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup yang meliputi langkah-langkah sebagai berikut : a) perencanaan; b) pemanfaatan; c) pengendalian; d) pemeliharaan; e) pengawasan; dan f) penegakan hukum. Dalam pasal 12 ayat (1) mewajibkan pemanfaatan sumberdaya alam (termasuk danau) dilakukan berdasarkan Rencana Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (RPPLH). Selain itu Pasal 13 dalam undang-undang tersebut juga mengatur pengendalian kerusakan lingkungan hidup, yaitu meliputi: a) pencegahan; b) penanggulangan; dan c) pemulihan.

Pelaksanaan pengelolaan lingkungan meliputi kebijakan nasional secara umum. Sedangkan kebijakan dan strategi penataan wilayah provinsi Sulawesi Selatan berdasarkan Perda Nomor 9 Tahun 2009 tentang Rencana Tataruang Wilayah (RTRW) Sulawesi Selatan, di dilakukan melalui pengembangan struktur ruang maupun pola ruang wilayah provinsi agar tujuan penataan ruang tercapai, yaitu pelestarian dan peningkatan fungsi dan daya dukung lingkungan untuk mempertahankan dan meningkatkan keseimbangan ekosistem, melestarikan keanekaragaman hayati, mempertahankan dan meningkatkan fungsi perlindungan kawasan, melestarikan keunikan rona alam, dan melestarikan warisan ragam budaya lokal. . Sedangkan pemerintah daerah Luwu Timur pada saat ini, sedang merancang adanya suatu peraturan daerah yang mengatur pengelolaan danau-danau yang ada di dalam Kompleks Danau Malili. Keberadaan peraturan daerah yang mengatur pengelolaan Kompleks Danau Malili yang secara komprehensif mengakomodasi kepentingan konservasi, pemanfaatan dan pengendalian daya rusak air danau serta pelestarian keanekaragaman hayati danau yang sebagaian besar adalah spesies endemik.

(23)

10 Germadan Matano

Berdasarkan pada kebijakan yang ada maupun rancangan kebijakan yang akan disusun, maka pengelolaan ekosistem Danau Matano didasarkan pada Visi melestarikan keunikan ekosistem Danau

Matano sebagai laboratorium alami berbagai spesies endemik dan untuk menjadi warisan dunia. Sedangkan Misi pengelolaan ekosistem

Danau Matano adalah:

1. Melakukan tindakan pencegahan, pengawasan dan penyelamatan kawasan hutan di daerah DTA dan lereng dari illegal loging atau pembalakan hutan dan perladangan.

2. Melakukan tindakan pencegahan masuknya dampak erosi, limbah berbahaya dan sampah sintetik yang dapat mengancam keunikan, keindahan dan komponen ekosistem Danau Matano.

3. Mewujudkan kesadaran serta peningkatan kapasitas dan peran serta masyarakat sekitar danau dalam melakukan tindakan pencegahan dan pengawasan intoduksi spesies invasif yang dapat mengancam eksistensi ikan-ikan endemik Danau Matano. 4. Melakukan upaya-upaya pengaturan dan pengawasan

pemanfaatan kawasan sempadan danau secara berlebihan sebagai kompleks pemukiman, industri dan kegiatan-kegiatan lainnya.

5. Melakukan upaya-upaya antisipasi dengan penyediaan regulasi terhadap pemanfaatan danau sebagai kawasan wisata, perikanan budidaya, transportasi dan pemanfaatan lainnya yang berdampak buruk terhadap keberlanjutan komponen ekosistem Danau Matano.

6. Menggalakkan kegiatan penelitian dalam berbagai bidang ilmu untuk mengungkap misteri keunikan sekaligus menjadi tolak ukur upaya-upaya konservasi sumbedaya alam Danau Matano.

Ruang lingkup gerakan penyelamatan diawali dengan melakukan analisis SWOT untuk menemukenali akar permasalahan yang dapat menjadi ancaman kelestarian sumberdaya alam dan keanekaragaman hayati Danau Matano yang umumnya adalah spesies endemik. Oleh

(24)

karena itu, dirumuskanlah program-program yang dikelompokkan menjadi Program Super Prioritas (utama) dan Program Prioritas (pendukung). Program-program tersebut saling terintegrasi dan bersinergis dalam bentuk rencana aksi penyelamatan Danau Matano yang diuraikan pada bagian tersendiri dalam dokumen ini.

Berdasarkan hal tersebut di atas, maka untuk mengukur tingkat keberhasilan masing-masing program, maka disusun dalam 5 tahun tahapan pertama melalui 3 pendekatan yang terintegrasi dan saling sinergis (Gambar-1.1). Ketiga pendekatan untuk gerakan penyelamatan Danau Matano adalah: 1) dukungan riset dan teknogi untuk mengungkap misteri keunikan dan upaya pelestarian sumberdaya hayati perairan Danau Matano; 2) peningkatan peran pemerintah, stakeholder dan masyarakat dalam pengelolaan dan pemanfaatan sumberdaya alam secara berimbang dengan kebutuhan konservasi; dan 3) Pengembangan kelembagaan dan peningkatan peran serta masyarakat untuk kemajuan pariwisata. berbasis kearifan lokal,

1.5. Tujuan dan Kegunaan A. Tujuan

Penyusunan gerakan penyelamatan Danau Matano bertujuan untuk memberikan pedoman rencana penyusunan program, kebijakan, dan peraturan daerah tentang pengelolaan dan pemanfaatan secara berimbang antara kepentingan konservasi sumberdaya alam dengan kepentingan kesejahteraan masyarakat di sekitar kawasan danau. Sedangakan tujuan khusunya adalah sebagai berikut:

1. Mengambil tindakan tegas untuk mengawasi dan melaksanakan peraturan perundang-undangan yang ada tentang kehutanan dan kawasan konservasi terkait dengan illegal loging, perladangan dan sejenisnya di daerah DTA dan lereng yang dapat memberi dampak terhadap penurunan fungsi ekosistem danau.

2. Mempersiapkan peraturan daerah tentang penataan pembangunan di daerah sempadan danau, khususnya sarana dan prasarana

(25)

12 Germadan Matano

umum, pemukiman dan pengembangan wilayah, termasuk pengembangan objek wisata dengan mengangkat nilai keunikan Danau Matano dan budaya lokal masyarakat disekitar danau. 3. Menjalin kerjasama dengan semua stakeholders, tokoh masyarakat,

pemerintah dan instasi terkait menyangkut pemanfaatan, pengelolaan dan pelestarian sumberdaya hayati ekosistem Danau Matano, baik di tingkat pusat, provinsi dan kabupaten.

4. Menjalin kerjasama penelitian dengan perguruan tinggi, lembaga riset dan pihak swasta termasuk Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) baik nasional maupun internasional untuk mengungkap tabir kenuikan danau purba ini yang kaya dengan spesies endemik. 5. Melalukan pemantauan kualitas air Danau Matano secara reguler

sebagai data base untuk melihat perubahan status trofik dan status mutu air Danau Matano sejalan dengan perkembangan dan perjalanan waktu.

B.

Kegunaan

Sejalan dengan tujuan yang akan dicapai, maka kegunaan Gerakan Penyelamatan Danau Matano yang dapat diperoleh adalah: 1. Mencegah kerusakan komponen ekosistem danau akibat berbagai

aktivitas masyarakat di daerah DTA, lereng, sempadan dan perairan danau;

2. Sebagai pedoman dalam menyusun program pengelolaan dan pemanfaatan sumberdaya alam pada kawasan sekitar ekosistem danau maupun kawasan ekosistem danau yang berdaya guna bagi kepentingan seluruh masyarakat dan lestari tanpa batas. 3. Melestarikan fungsi ekosistem danau sebagai habitat alami

berbagai spesies endemik seperti ikan, krustase, moluska dan biota perairan lainnya sebagai kekayaan sumberdaya genetik Indenesia;

4. Tersedianya data base tentang kondisi eksisting danau yang menjadi dasar dalam menilai dan mengevaluasi

(26)

perubahan-perubahan yang mungkin terjadi pada komponen ekosistem Danau Matano dimasa akan datang.

Gambar-1.1. Pendekatan Gerakan Penyelamatan Danau (GERMADAN) Matano

.

16

2. Sebagai pedoman dalam menyusun program pengelolaan dan

pemanfaatan sumberdaya alam pada kawasan sekitar ekosistem

danau maupun kawasan ekosistem danau yang berdaya guna

bagi kepentingan seluruh masyarakat dan lestari tanpa batas.

3. Melestarikan fungsi ekosistem danau sebagai habitat alami

berbagai spesies endemik seperti ikan, krustase, moluska dan

biota perairan lainnya sebagai kekayaan sumberdaya genetik

Indenesia;

4. Tersedianya data base tentang kondisi eksisting danau yang

menjadi dasar dalam menilai dan mengevaluasi

perubahan-perubahan yang mungkin terjadi pada komponen ekosistem

Danau Matano dimasa akan datang.

Gambar-1.1. Pendekatan Gerakan Penyelamatan Danau

(GERMADAN) Matano

(27)
(28)

BAB II

GAMBARAN UMUM DANAU MATANO

2.1. Profil Danau Matano

2.1.1. Tipe dan Karakateristik Danau

Danau Matano merupakan salah satu dari lima danau yang terdapat di dalam “Kompleks Danau Malili” yaitu: Matano, Mahalona, Towuti, Masapi dan Wawantoa. Secara geografis Danau Matano terletak pada koordinat: 2°29′16″S 121°21′07″E yang berada di dalam wilayah Kabupaten Luwu Timur, Propinsi Sulawesi Selatan. Danau Matano merupakan sebuah danau tektonik purba yang terbentuk dari aktifitas pergerakan lempeng kerak bumi pada akhir masa Pliosin sekitar 2-4 juta tahun yang lalu (Haffner et al. 2001) dan posisi danau tepat berada di atas zona patahan/sesar aktif yang disebut “patahan matano” (Ahmad, 1977).

Istilah “matano” dalam bahasa masyarakat lokal (Desa Matano) berarti “mata air” atau sumber air dan lokasi di mana sumber air tersebut telah dibangun kolam berukuran 8 x 12 m. Dari dasar kolam bermunculan gelembung-gelembung air yang tak henti-hentinya tampak seperti kehidupan yang lahir dari dalam perut bumi. Penduduk di Desa Matano memanfaatkan sumber mata air tersebut sebagai air bersih untuk kebutuhan sehari-harinya. Penggenangan Danau Matano bukan berasal dari pembentukan aliran sungai, meskipun beberapa anak sungai yang mengalikan air ke dalamnya, tetapi terjadi dari ribuan mata air yang keluar dari sekeliling dinding danau hingga ke dasar danau sehingga tinggi muka air relatif stabil dan tidak akan pernah mengalami kekeringan

Menurut de Jesus, (2007) bahwa kedalaman Danau Matano adalah 587 m dan termasuk danau terdalam kesepuluh di dunia serta danau terdalam di Asia Tenggara dan di Indonesia. Pengukuran kedalaman dilakukan dengan menggunakan perangkat teknologi “EdgeTech, sub-profiling system”. Data seismic yang diperoleh selanjutnya dilakukan

(29)

16 Germadan Matano

digitasi secara manual dengan EdgeTech Direct and Microsoft Excel. Menurut beberapa sumber bahwa pengukuran kedalam Danau Matano dengan menggunakan “echosounder” sekitar setengah abad yang lalu dan menemukan bahwa kedalaman mencapai 588 meter dan sekaligus memetakan dasar danau.

Gambar-2.1. Peta batimetri Danau Matano (Sumber: Sargon de Jesus, 2007).

Elevasi permukaan Danau Matano berada pada ketinggian 394 m dari permukaan laut (dpl) yang berarti bahwa bagian terdalam dari dasar Danau Matano berada sekitar 197 m di bawah permukaan laut (cryptodepression). Sedangkan Panjang maksimum adalah: ± 28 km, lebar maksimum ± 8 km, dan luas permukaan ± 164,1 km2. Peta Batimetri Danau Matano (Gambar-2.1) menunjukkan beberapa tingkat kedalaman. Warna kuning kehijauan menunjukkan kedalaman yang relati dangkal yaitu kurang dari 100 m dan biru tua menunjukkan bagian

18

Menurut de Jesus, (2007) bahwa kedalaman Danau Matano adalah

587 m dan termasuk danau terdalam kesepuluh di dunia serta danau

terdalam di Asia Tenggara dan di Indonesia. Pengukuran kedalaman

dilakukan dengan menggunakan perangkat teknologi “EdgeTech,

sub-profiling system”. Data seismic yang diperoleh selanjutnya dilakukan

digitasi secara manual dengan EdgeTech Direct and Microsoft Excel.

Menurut beberapa sumber bahwa pengukuran kedalam Danau Matano

dengan menggunakan “echosounder” sekitar setengah abad yang lalu dan

menemukan bahwa kedalaman mencapai 588 meter dan sekaligus

memetakan dasar danau.

Gambar-2.1. Peta batimetri Danau Matano

(Sumber: Sargon de Jesus, 2007).

Elevasi permukaan Danau Matano berada pada ketinggian 394 m

dari permukaan laut (dpl) yang berarti bahwa bagian terdalam dari dasar

Danau Matano berada sekitar 197 m di bawah permukaan laut

(cryptodepression). Sedangkan Panjang maksimum adalah: ± 28 km,

(30)

dasar danau yang terdalam. Menurut Crowe, et.al., (2008) bahwa perairan Danau Matano yang mengandung oksigen terlarut hanya pada lapisan kurang dari 100 m. Pada kedalaman lebih besar dari 100 m hingga dasar danau bersifat anaerobik, meskipun cahaya matahari dapat menembus hingga kedalaman 100 m. Sedangkan Struktur sedimen dasar Danau Matano (Gambar-2.2) terdiri atas pecahan batu atau kerikil kasar. pasir atau kerikil halus, pasir halus, lumpur atau pasir halus, liat dan lumpur, serta partikel liat yang menempel pada permukaan dasar danau.

Gambar-2.2. Peta struktur sedimen dasar Danau Matano (Sumber: Sargon de Jesus, 2007).

2.1.2. Hidrologi Danau

Danau Matano merupakan bagian dari sistem danau dalam “Kompleks Danau Malili” (Gambar-2.3) terhubung secara “kaskade” dengan Danau Mahalona dan Danau Towuti yang terletak lebih rendah,

19

lebar maksimum ± 8 km, dan luas permukaan ± 164,1 km

2

. Peta Batimetri

Danau Matano (Gambar-2.1) menunjukkan beberapa tingkat kedalaman.

Warna kuning kehijauan menunjukkan kedalaman yang relati dangkal

yaitu kurang dari 100 m dan biru tua menunjukkan bagian dasar danau

yang terdalam. Menurut Crowe, et.al., (2008) bahwa perairan Danau

Matano yang mengandung oksigen terlarut hanya pada lapisan kurang

dari 100 m. Pada kedalaman lebih besar dari 100 m hingga dasar danau

bersifat anaerobik, meskipun cahaya matahari dapat menembus hingga

kedalaman 100 m. Sedangkan Struktur sedimen dasar Danau Matano

(Gambar-2.2) terdiri atas pecahan batu atau kerikil kasar. pasir atau kerikil

halus, pasir halus, lumpur atau pasir halus, liat dan lumpur, serta partikel

liat yang menempel pada permukaan dasar danau.

Gambar-2.2. Peta struktur sedimen dasar Danau Matano

(Sumber: Sargon de Jesus, 2007).

(31)

18 Germadan Matano

dan masih terdapat dua danau kecil lainnya yang di kenal sebagai danau satelit yaitu, Danau Wawantoa dan Masapi. Air dari Danau Matano yang terletak pada elevasi 394 m dpl mengalirkan ke Danau Mahalona yang berada pada elevasi yang lebih rendah 392 m dpl melalui Sungai Petea, dari Danau Mahalona air selanjutnya mengalir ke Danau Towuti yang berada pada elevasi 319 m dpl melalui Sungai Tominanga. Air dari Danau Wawantoa yang berada pada elevasi 595 m dpl mengalir masuk ke Danau Towuti melalui Sungai Lantoa. Kemudian dari Danau Towuti air mengalir keluar melalui Sungai Larona. Sedangkan Danau Masapi yang berada pada elevasi 443 m dpl tidak memiliki hubungan dengan danau lainnya. Danau yang bentuknya menyerupai kawah ini memiliki aliran sungai tersendiri yang akan menyatu dengan Sungai Larona. Aliran Sungai Larona ini menyatu dengan Sungai Malili sebelum bermuara ke teluk Bone.

Sumber air Danau Matano berasal dari beberapa mata air yang muncul dari dinding hingga kedasar danau dan catchment area di sekitarnya. Kawasan hutan Danau Matano dikelilingi oleh daerah perbukitan yang berhutan lebat dengan pepohonan yang cukup besar. Sungai-sungai kecil banyak ditemukan di kaki bukit dan umumnya mengalir menuju danau antara lain Sungai Lawa, Sungai Lemolengku, Sungai Lemo-Lemo, Sungai Lamoare, Sungai Lawewu dan lain-lain. Sungai-sungai tersebut berperan sebagai penyuplai air (river inlet) ke dalam danau dan diperkiranan terdapat 10 sungai/anak sungai. Dengan demikian perbedaan tinggi muka air (TMA) Danau Matano relatif konstan dengan variasi tahunan ± 56 cm pada musim penghujan dan musim kemarau.

(32)

Gambar-2.3. Peta sistem danau dalam Kompleks Danau Malili 2.1.3. Ekologi Perairan Danau

Danau adalah badan air yang dibatasi oleh daratan (Welcomme, 2001) dan menempati daerah yang relatif kecil pada permukaan bumi dibandingkan dengan ekosistem laut dan daratan. Secara fisik, ekosistem danau merupakan suatu tempat luas yang mempunyai air tetap, jernih atau beragam dengan aliran tertentu (Golterman, 1975). Selanjutnya dijelaskan bahwa danau adalah badan air alami yang selalu tergenang sepanjang tahun dan mempunyai mutu air tertentu yang beragam dari satu danau ke danau yang lain serta mempunyai produktivitas biologi yang tinggi.

Secara umum dikenal tiga bentuk danau berdasarkan perkembangan geologisnya, yaitu danau patahan, celah dan depressi (Mustafa, 1991). Ketiga bentuk danau tersebut memiliki ciri khas terutama keadaan sumberdaya airnya. Danau Matono termasuk

21 S ung ai Le m o-Le m o, S ung ai La m oar e, Su ng ai Law ew u dan la in -la in . S ung ai -sung ai ter seb ut ber per an seb ag ai peny upl ai a ir (riv er in le t) ke dal am d ana u dan di per kir anan ter da pat 1 0 s ung ai /a na k sung ai . D eng an dem ikia n per be daa n ting gi m uk a ai r (T M A ) D anau M at ano r el atif k ons ta n deng an var ias i ta hun an ± 56 cm p ad a m us im p eng huj an d an m us im kem ar au. G am bar -2. 3. P et a sis tem dan au dal am K om pl ek s D an au M al ili

(33)

20 Germadan Matano

bentuk danau celah, karena memiliki sumberdaya air yang berasal dari dalam danau itu sendiri dan telah berkembang berjuta tahun silam. Berdasarkan pada ciri sumberdaya air tersebut maka Danau Matano dapat dikelompokkan kedalam “danau meromiktik dataran rendah” yang bersifat terbuka dengan pola stratifikasi air “alomiktik”. Fluktuasi TMA pada danau patahan dan danau celah umumnya lebih rendah pada dua musim yang berbeda dibandingkan dengan danau depressi. Danau Matano menunjukkan fluktuasi TMA yang relatif konstan (± 56 cm) antara musim hujan dan musim kemarau.

Berdasarkan pada penetrasi cahaya matahari ke dalam perairan, maka Danau Matano memiliki semua zona pewilayahan danau yaitu: zone litoral, zone limnetik, zona profundal dan zona bentik. Menurut McComas (2003), zone litoral merupakan daerah pinggiran danau yang dangkal dan banyak di tumbuhi tanaman air yang berakar di dasar dan daunnya mencuat ke atas permukaan. Komunitas organisme pada zona ini sangat beragam termasuk jenis-jenis ganggang yang menempel (epifiton dan perifiton), berbagai moluska, krustacea, ikan, amfibi dan reptilia air seperti kura-kura dan ular. Zona litoral Danau Matano berbeda dengan danau-danau pada umumnya, dimana banyak di tumbuhi tanaman air yang berakar dan daunnya mencuL ke permukaan air serta dihuni beragam biota, termasuk ganggang yang menempel (epifiton dan perifiton), moluska, krustacea, ikan, amfibi dan reptilia air. Sedangkan pada Danau Matano, tanaman air yang ditemukan pada zona litoralnya sangat terbatas jenis dan populasinya baik tanaman air yang melayang di dalam air (submergent plant), maupun tanaman air terapung yang berakar di dasar (roted floating plant). Sedangkan tanaman air yang terapung bebas (floating plant) sampai saat ini belum ditemukan.

Zona limnetik Danau Matano merupakan daerah perairan terbuka dimana penetrasi cahaya matahari mencapai lapisan air yang cukup dalam karena didukung oleh air danau yang jernih. Tidak ditemukan perubahan warna air pada zona ini karena fitoplankton, ganggan dan tumbuhan air yang melayang serta padatan tersuspensi. Proses

(34)

fotosintesis berlangsung sangat efektif pada zona ini, demikian juga dengan absorbsi energi cahaya matahari sehingga suhu air permukaan meningkat dengan cepat pada siang hari sehingga dapat menghasilkan stratifikasi suhu pada kedalam tertentu. Zone profundal pada Danau Matano tentunya berada pada lapisan air yang dalam karena dinding danau yang terjal dan kecerahan air yang tinggi. Zona ini ditandai dengan kondisi yang gelap atau tidak mendapat penetrasi cahaya matahari (daerah afotik) dan dihuni oleh cacing dan mikroba. Mikroba dan organisme lain yang memanfaatkan oksigen untuk respirasi selulernya setelah mendekomposisi detritus yang jatuh dari lapisan limnetik. Sedangkan Zone bentik merupakan bagian dasar danau yang selalu mendapat limpahan sisa-sisa organisme mati dari daerah lapisan atas danau. Zona ini dihuni oleh bakteri dan organisme bentos yang bersifat anaerobik. Pada danau-danau yang dalam seperti Danau Matano, air di zona bentik tidak lagi mendapat suplai oksigen terlarut baik melalui fotosintesis maupun turbulensi air dari lapisan fotik yang ada diatasnya.

Karakteristik fisika, kimia dan bilogis ekosistem Danau Matano selain dipengaruhi oleh kondisi geomorfologi dan kegiatan manusia dalam memanfaatkan sumberdaya alam disekitar daerah tangkapan air (DTA), juga dipengaruhi oleh proses internal yang terjadi di dalam danau itu sendiri. Kegiatan pemanfaatan sumberdaya alam pada ekosistem di sekitar Danau Matano seperti penambangan biji nikkel, pengusahaan hutan, pertanian, pengembangan kawasan pemukiman dan pemanfaatan lainnya. Kegiatan tersebut akan menjadi ancaman terhadap keseimbangan komponen abiotik dengan komponen biotik ekosistem Danau Matano dan sekaligus akan mengancam keberadaan spesies endemik dimasa mendatang. Di samping itu, kehadiran spesies invasif seperti ikan Lele dumbo, Louhan, Nila, Karper, Bawal, dan ikan Sapu-Sapu dan lain-lainnya merupakan bentuk ancaman tersendiri terhadap kelestarian spesies endemik Danau Matano.

Keseimbangan ekosistem Danau Matano dapat berubah seiring perjalanan waktu akibat pengaruh atau tekanan dari perubahan

(35)

22 Germadan Matano

ekosistem disekitar danau serta dampak aktivitas manusia dalam memanfaatkan sumberdaya alam. Oleh sebab itu ekosistem danau menawarkan dua hal, yaitu sebagai badan air yang paling praktis dan murah untuk kebutuhan domestik dan industri, dan sebagai sistem penerima limbah dari ekosistem sekitarnya yang memadai dan murah. Kondisi inilah yang menyebabkan Danau Matano sangat beresiko untuk mengalami perubahan keseimbangan komponen ekosistem yang ada di dalamnya. Menurut Goldmen dan Horne (1989), danau dapat dikelompokkan berdasarkan produksi materi organik-nya atau kandungan hara (tingkat kesuburan), yaitu, oligotrofik, mesotrofik, eutrofik dan hipertrofik. Berdasarkan pada kriteria tersebut maka Danau Matano samapai saat ini termasuk kedalam danau oligotrof, bahkan sebagian peneliti menggolongkan kedalam danau “ultra oligotrof” (Haffner, et al., (2001).

Hasil pengamatan beberapa parameter kualitas air dari sampel air yang diambil pada lapisan permukaan Danau Matano antara lain: Kandungan Nitrat (NO3-) pada bulan Juni 2013 berkisar antar 0,001 – 0,049 mg/L dan bulan Oktober 2013 berkisar antara tidak terdeteksi (tt) – 0,001 mg/L dengan nilai rata-rata dari dua kali pengamatan tersebut adalah 0,0095 mg/L. Kandungan total phosfat (T-P) antara 0,28 – 0,78 mg/L pada bulan Juni 2013 dan pada bulan Oktober 2013 T-P tidak terdeteksi pada semua titik pengambilan sampel, dengan nilai rata-rata dari dua kali pengamatan tersebut adalah 0,0023 mg/L. Konsentrasi kedua unsur hara ini termasuk sangat rendah dan jauh di bawa baku mutu air kelas II yang dipersyaratkan untuk nitrat 10 mg/L dan T-P 0,2 mg/L. Unsur nitrat dan phosfat merupakan makronutrient yang sangat diperlukan untuk pertumbuhan produser primer di dalam ekosistem perairan. Oleh sebab itu, perairan Danau Matano digolongkan kedalam danau oligotrof atau perairan dengan tingkat kesuburan rendah.

Sulfat, bahan organik dan inorganik, baik yang terlarut maupun yang tersuspensi sangat rendah. Ini menyebabkan perairan di danau ini menjadi sangat jernih sehingga cahaya matahari dapat menembus kelapisan yang lebih dalam. Menurut Crowe, dkk., (2008b), transmisi

(36)

cahaya matahari pada perairan Danau Matano masih mencapai 99% pada kedalaman 200 m. Kandungan sulfat lapisan air permukaan Danau Matano, baik sebagai ion SO4- maupun sebagai H

2S rata-rata berkisar antara 0,690 dan 0,0016 mg/L. Ion SO42- pada Danau Matano terdeteksi hingga kedalam 110 -120 m dan setelah kedalaman tersebut ion sulfat mengalami reduksi karena kondisi air danau yang an-erobik (Crowe dkk., 2008b). Hal ini menciptakan lingkungan yang sempurna bagi berkembangnya bakteri sulfur-hijau yang bersifat fototrof di lingkungan anaerob. Selanjutnya Crowe dkk., (2008b) menganalogikan bahwa kondisi lingkungan perairan di Danau Matano, mirip dengan kondisi lautan pada masa awal munculnya kehidupan pertama dibumi sekitar 2,5 – 4,0 milyar tahun yang lalu.

Sebaliknya, kandungan garam-garam terlarut seperti kalsium dan magnesium, dari dua kali pengamatan diperoleh rata-rata kedua garam tersebut adalah 27,608 mg/L dan 77,124 mg/L. Hal ini menunjukkan bahwa perairan Danau Matano memiliki total alkalinitas dan kesadahan yang tinggi. Dengan demikian perairan Danau Matano memiliki pH air yang matap, terbukti dari dua kali pengamatan pada semua titik sampel, pH berkisar antara 7,65 -7,66. Sedangkan kandungan logam – logam seperti besi (Fe2+), mangan (Mn2+), tembaga (Cu) dan timbal (Pb) kelarutannya pada lapisan permukaan air danau tergolong rendah dan bervariasi tergantung musim. Pada pengamatan bulan Juni atau periode musim hujan ditemukan kandungan logam-logam tersebut pada setiap titik pengamatan dengan nilai rata-rata: besi 0,150 mg/L, mangan 0,024 mg/L, tembaga 1,316 mg/L dan timbal 0,071 mg/L. Sedangkan pengamatan pada bulan Oktober atau periode musim kemarau, tidak ditemukan kandungan logam-logam tersebut pada semua titik pengamatan, kecuali timbal dengan nilai rata-rata 0,071 mg/L.

Selain kondisi fisik dan kimiawi-nya yang unik, Danau Matano juga menjadi laboratorium alam yang penting bagi peneliti biologi. Posisi danau yang terisolasi selama jutaan tahun menyebabkan jenis flora dan fauna di Danau Matano menjadi sangat unik dan tidak ditemukan

(37)

24 Germadan Matano

ditempat lain di manapun (endemik). Sekitar 11 jenis ikan endemik, 9 diantaranya adalah familia Thelmatherinidae dan 1 famili Gobiidae (Glossogobius matanensis), 1 jenis udang dari famili Atydae yaitu Caridina dennerlidan 2 jenis kepiting dari famili Gecarcinucidae yaitu Parathelphusa pantherina dan Syntripsa matannensis serta 1 jenis moluska dari familia Pachychilidae yaitu Tylomelania patriarchalis. Dengan demikian terdapat 14 jenis biota perairan yang ditemukan endemik di Danau Matano. Ikan endemik Danau Matano tergolong “vulnerable” atau rentan terhadap kepunahan. Artinya, ikan-ikan endemik tersebut menghadapi ancaman kepunahan yang tinggi akibat kecilnya ukuran habitat dan terbatasnya daerah sebaran.

Tabel-2.1. Kapasitas Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Sungai Larona

No PLTA Kapasitas(MW) Elevasi Puncak(m dpl) Tahun Operasi

1 Larona 165 322 1979

2 Balambano 110 167 1999

3 Karebbe 90 79,5 2011

2.1.4. Sumberdaya Air Danau

Sumber daya air Danau Matano yang diperkirakan mencapai ± 92 juta m3 dengan masa tinggal di dalam danau ± 100 tahun, tlah dimanfaatkan sebagai sumber air baku PDAM Sorowako, wisata termasuk wisata selam, transportasi dan perikanan. Sumber daya air Danau Matano yang terhubung secara kaskade ke Danau Mahalona, Danau Towuti dan selanjutnya mengalir ke Sungai Larona telah di dimanfaatkan untuk keperluan tiga Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) yaitu Larona, Balambano dan Karebbe (Tabel-2.1) Energi listrik

yang dihasilkan selain dimanfaatkan untuk keperluan PT. Vale dan kota Sorowaku, juga melayani kebutah listrik masyarakat kabupaten Luwu Timur, Luwu Utara, Kota Palopo dan Kabupaten Luwu.

(38)

2.1.5. Sumberdaya Hayati Danau

Danau Matano merupakan habitat alami dari 11 jenis ikan air tawar endemik atau lebih dari 90 % spesies ikan yang hidup di dalamnya adalah endemik dan juga merupakan habitat alami dari 76% dari 27 jenis Moluska (siput atau keong dan kekerangan) air tawar endemik Sulawesi (Whitten et al, 1987). Ahli biologi pertama yang mengunjungi ke lima danau dalam kompleks danau Malili adalah Rudolf Woltereck yang dipublikasikan pada tahun 1933 pada saat dilakukannya Ekspedisi Wallacea I, namun semua koleksinya habis pada perang dunia II. Sedangkan ahli taksonomi yang terakhir Dr. Maurice Kottelat (1988-1989) dan berhasil mengidentifikasi jenis-jenis ikan di Danau Matano. Menurut Hadiaty dan Wirjoatmodjo (2002) bahwa biota akuatik (Tabel-2.2) di Danau Matano dan danau lainnya di dalam Kompleks Danau Malili mempunyai keanekaragaman yang lebih kaya dibanding danau lain di Indonesia bagian timur.

Terdapat 12 familia dari kelompok ikan dan masing-masing satu familia dari kelompok udang, kepiting, moluska dan kekerangan yang ditemukan di Danau Matano (Tabel-2.2) dan familia yang mempunyai spesies terbanyak adalah Telmatherinidae dan 10 spesies dari Telmatherinidae semuanya adalah endemik. Salah satu dari spesies endemik tersebut yaitu Telmatherina sp merupakan spesies yang baru ditemukan (Hadiaty dan Wirjoatmodjo, 2002) dan satu genus dari familia Telmatherinidae juga dianggap baru yaitu Paratherina wolterecki. Spesies endemik lainnya adalah ikan Butini (Glossogobius matanensis) yang merupakan salah satu dari tiga aggota familia Gobiidae yang ditemukan di Danau Matano. Sedangkan dua familia Gobiidae lainnya yaitu Mugilogobius latifrons atau Mugilogobius cf. adeia) dan Dermogenys ebradti (nama lokal ikan Dui-dui), Oryzias matanensis (nama lokal ikan Pangkilan atau Bonti), Aplocheilus panchax (nama lokal ikan Kepalah timah serta Poecilia reticuluta (nama lokal ikan Cupang). Semua spesies dari kedua familia Gobiidae tersebut di atas adalah endemik Kompleks Danau Malili karena selain ditemukan di Danau Matona juga terdapatdi di Danau Mahalona dan Danau Towuti.

(39)

26 Germadan Matano

Kelompok udang-udangan dan kepiting yang terdapat di Danau Matano antara lain udang bintik putih (Caridina dennerli), udang coklat (Caridina holthuisi), udang lamak (Caridina. lanceolata) dan udang tawon merah (Caridina. loehae). Sedangkan kepiting adalah kepiting macan tutul (Parathelphusa pantherina) dengan nama lokal “Bungka Gori”, kepiting Syntripsa matannensis dengan nama lokal “Bungka Ito” dan kepiting Nautilothelphusa zimmeri dengan nama lokal “Bungka Wanta”. Semua spesies kepiting ini bernilai ekonomis dan ditangkap masyarakat sebagai salah satu sumber protein dalam menu makanan sehari-hari. Sedangkan kelompok moluska meliputi siput dan kerang-kerangan yang ditemukan di Danau Matano ada sembilan jenis. Jenis siput adalah Melania insulaesacrae, M. grammifer, M. palicolarum, M. sanasinorus, M. patriarchalis, M. zeamais dan Brotia sp. Sedangkan jenis kerang-kerangan adalah Corbicula matannensis dan Corbicula. moltkeana. Siput dan kekerangan ini dikumpulkan masyarakat sebagai menu makanan.

Tabel-2.2. Biota akuatik yang ditemukan di Danau Matano

No Familia Spesies Ikan Keterangan

Nama Lokal Nama Ilmiah

A. Kelompok Ikan

1. Telmatherinidae Opudi Telmatherina bonti Endemik Matano

Opudi T. antoniae Endemik Matano

Opudi T. abendanoni Endemik Matano

Opudi T. obscura Endemik Matano

Opudi T. opudi Endemik Matano

Opudi T. prognatha Endemik Matano

Opudi T. sarasinorum Endemik Matano

Opudi T. wahyui Endemik Matano

Opudi Telmatherina sp)* Endemik Matano

Opudi Paratherina wolterecki Endemik Matano 2. Hemiramphidae Dui-dui Dermogenys weberi Endemik Malili Likes 3. Oryziidae Lunyar Oryzias matanensis Endemik Malili Likes 4. Gobiidae Butini Mugilogobius latifrons Endemik Malili Likes Butini Mugilogobius cf. adeia Endemik Malili Likes Butini Glossogobius matanensis Endemik Matano

(40)

No Familia Spesies Ikan Keterangan Nama Lokal Nama Ilmiah

5. Aplocheilid Kepalah timah Aplocheilus panchax Endemik Malili Likes 6. Poecilii Cupang Poecilia reticuluta Endemik Malili Likes 7. Clariidae Lele lokal Clarias batrachus Tersebar luas

Lele dumbo Clarias gariepinus Spesies invasif 8. Anabantidae Betok Anabas testudineus Tersebar luas

9. Channidae Gabus Channa striata Tersebar luas

10. Cyprinidae Karper Cyprinus carpio Spesies invasif Bawal Colossoma macropomum Spesies invasif 11. Cichlidae Nila Oreochromis niloticus Spesies invasif Lou han Amphilophus sp Spesies invasif 12. Loricariidae Sapu-sapu Hypostomus plecostomus Spesies invasif B. Kelompok Udang

13. Atyidae U. bintik putih Caridina dennerli Endemik Matano Udang coklat C. holthuisi Endemik Malili Likes Udang lama C. lanceolata Endemik Malili Likes U.tawon merah C. loehae Endemik Malili Likes C. Kelompok Kepiting

14. Gecarcinucidae Bungka gori Parathelphusa pantherina Endemik Matano Bungka ito Syntripsa matannensis Endemik Matano Bungka wanta Nautilothelphusa zimmeri Endemik Malili Likes D. Moluska dan Kekerangan

15. Pachychilidae Keong totol Tylomelania patriarchalis Endemik Matano Melania zeamais Endemik Matano M. insulaesacrae Endemik Malili Likes M. grammifer Endemik Malili Likes M. palicolarum Endemik Malili Likes M. sanasinorus Endemik Malili Likes Brotia sp Endemik Malili Likes 16. Cyrenidae Kerang danau Corbicula matannensis Endemik Malili Likes Kerang danau Corbicula moltkeana Endemik Malili Likes

Sumber: Hadiaty dan Wirjoatmodjo (2002); Ubaidillah, dkk., (2013) dan Husnah, dkk., (2008), dan )* Diduga spesies yang baru ditemukan.

Penangkapan yang terus menerus terhadap spesies endemik serta dampak pencemaran dan kehadiran spesies invasif akan mengancam

(41)

28 Germadan Matano

kelestarian sumberdaya hayati Danau Matano ini. Jenis alat tangkap yang digunakan masyarakat di Danau matano antara pancing, jaring ingsang, perangkap (bubu), jala lempar dan jaring angkat (lift net). Tidak ditemukan masyarakat dengan profesi khusus sebagai nelayan di Danau Matano, melainkan hanya sebagai pekerjaan sampingan atau sekedar menyalurkan hobi. Dengan demikian jumlah dari alat tangkap tersebut di atas tidak terdata dengan baik pada Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Luwu Timur.

Budidaya ikan dalam karamba pada mulanya hanya dilakukan oleh warga masyarakat di sekitar rumah bagi bermukim di atas perairan Danau Matano, yaitu di daerah litoral danau di pinggiran kota Sorowako dan hanya bersifat subsisten. Namun sejak memasuki awal tahun 2014 kegiatan budidaya ikan dalam karambah mulai berkembang pesat, baik yang dilakukan dengan sistim pen culture maupun dengan sistem Karambah Jaring Apung (KJA) dan telah menyebar di daerah litoran dan sub-litoral danau. Jenis ikan yang di budidayakan adalah ikan nila (Oreochromis niloticus), ikan bawal (Colossoma macropomum) dan ikan karper atau ikan mas (Cyprinus carpio).

Kegiatan budidaya ikan dalam karamba yang dilakukan di perairan yang relatif tenang sperti danau dan waduk, harus diwaspadai dampak pencemaran limbah organik yang berasal dari sisa pakan yang tidak termakan dan feses ikan maupun hasil ekresi ikan dalam bentuk amoniak (NH3). Limbah organik tersebut akan menciptakan kondisi an-aerobik pada lapisan air di sekitar dasar perairan. Kondisi demikian sangat berbahaya bagi ikan-ikan endemik danau yang memijah dengan cara meletakkan telurnya pada sedimen dasar seperti bebatuan (rock spowners), pasir (sand spowners) dan ikan-ikan yang membuat sarang pada celah-celah batuan dan krikil (rock and gravel nesters) di dasar perairan. Telur-telur ikan tersebut akan gagal menetas karena selama inkubasi perkembangan embrio di dalam telur membutuhkan oksigen yang bersumber dari air, sementara oksigen terlarut akan defisit pada dasar perairan yang mengandung banyak bahan organik.

(42)

2.1.6. Kualitas Air Danau

Kualitas air secara luas dapat dinyatakan dengan semua parameter fisika, kimiawi dan biologi termasuk berbagai zat, energi atau komponen lain di dalamnya yang mempengaruhi manfaat penggunaan air bagi manusia baik langsung maupun tidak langsung. Sedangkan air merupakan senyawaan yang mutlak diperlukan bagi hidup dan kehidupan organisme. Air juga merupakan senyawaan yang bersifat pelarut universal. Berdasarkan hal tersebut, maka tidak ada body water atau perairan alami yang murni melainkan didalamnya selalu terlarut unsur dan senyawa lainnya. Dengan terlarutnya unsur dan senyawa-senyawa lain, maka air merupakan komponen ekologis yang penting peranannya bagi hidup dan kehidupan organisme perairan. Sebaliknya. Apabila didalamnya terlarut atau terkabdung senyawa dan unsur yang bersifat racun dan atau menggangu bagi hidup dan kehidupan organisme, maka nilai guna air dan atau perairan tersebut menjadi menurun atau bahkan rusak.

Pengambilan sampel air permukaan Danau Matano pada beberapa titik (Tabel-2.3) dilakukan dua kali pada waktu yang berbeda, yaitu bulan Juni dan Oktober 2013. Berdasarkan kondisi iklim bahwa bulan Juni adalah musim hujan dan bulan Oktober adalah musin kemarau di kawasan Danau Matano dan sekitarnya. Dengan demikian pengambilan sampel air danau mewakili dua musim yang berbeda.

Tabel-2.3. Posisi pengambilan sampel di permukaan air Danau Matano

Kode Sampling Posisi Geografis Keterangan

MTN-1 S : 020 30’ 17,1”

E : 1210 19’ 52,6” Intake PDAM

MTN-2 S : 020 25’ 53,4” E : 1210 13’ 25,4”

Muara Sungai Lawa MTN-3 S : 020 27’ 14,4”

E : 1210 16’ 50,6”

(43)

30 Germadan Matano

Kode Sampling Posisi Geografis Keterangan

MTN-4 S : 020 27’ 02,1” E : 1210 20’ 16,1”

Depan Dermaga Nuha MTN-5 S : 020 29’ 24,2”

E : 121023’24,9”

Ditengah danau MTN-6 S : 020 31’ 14,9”

E : 1210 21’ 55,6” Sorowako Lama (Muara Sungai Lamoare) MTN-7 S : 020 30’ 58,7”

E : 1210 21’ 10,0”

Sorowako Lama (Muara Sungai Lawewu)

Hasil pengukuran parameter kualitas air pada beberapa titik sampel di permukaan Danau Matano pada Juni 2013 (Tabel-2.4) dan bulan Oktober 2013 (Tabel-2.5). Beberapa parameter kualitas air yang diukur mengalami peningkatan atau perubahan nilai dari dua waktu pengamatan berbeda yang akan diuraikan sebagai berikut:

A. Parameter Fisika: 1. Suhu

Suhu air danau di daerah tropsi sangat dipengaruhi oleh musim, ketinggian tempat (altitude) dari permukaan laut, waktu dalam hari, sirkulasi udara, kedalaman perairan dan jumlah sinar matahari yang jatuh. Sinar matahari yang jatuh dan sampai ke permukaan air sebagian dipantulkan kembali ke atmosfer oleh permukaan air dan sebagian lagi diteruskan ke dalam kolom air. Jumlah sinar matari yang dipantulkan dan diteruskan tergantung pada sudut datangnya cahaya dengan garis normal dan kondisi permukaan air (bergelombang atau tenang). Garis normal adalah garis tegak lurus dengan permukaan air, sehingga pada siang hari misalnya antara jam 11.00 sampai 13.00 dimana sudut datang cahaya semakin kecil dengan garis normal, maka sinar matahari yang diteruskan kedalam kolom air semakin besar. Pada perairan darat yang relatif tenang, peningkatan suhu permukaan air pada siang hari sangat cepat karena molekul-molekul air akan menyerap energi panas yang terkandung di dalam sinar Menurut Schwoerbel (1987) suhu air merupakan faktor abiotik yang memegang peranan penting bagi hidup dan kehidupan organisme perairan. Hasil pengukuran suhu

(44)

permukaan air Danau Matano pada bulan Juni 0C dan Oktober berkisar antara 28 -30. Berdasarkan hasil tersebut, tidak nampak perbedaan secara signifikan suhu permukaan air Danau Matano antara musim penghujan dan musim kemarau.

2. Warna air

Warna perairan dikelompokkan menjadi dua, yautu warna sebenarnya dan warna tampak. Warna sebenarnya adalah warna yang disebabkan oleh bahan-bahan kimia terlarut, sedangkan warna tampak adalah warna yang disebabkan oleh bahan-bahan terlarut dan tersuspensi. Hasil pengamatan warna air Danau Matano pada bulan Juni terdeteksi 1 unit PtCo pada titik pengamatan MTN-1 dimana nilai tersebut masih sangat jauh di bawah baku mutu air kelas II yang dipersyaratkan yaitu 25 PtCO dan 6 titik pengamatan lainnya warna air tidak terdeteksi. Titik pengamatan MTN-1 ini berada dekat pemukiman kota Sorowako, sehingga warna yang terdeteksi tersebut kemungkinan berasalal dari limbah penduduk berupa bahan-bahan organik terlarut. Sedangkan hasil pengamatan pada bulan Oktober, warna air Danau Matano tidak terdeteksi pada semua titik pengamatan.

3. Conductivity

Conductivity atau daya hantar listrik adalah gambaran numerik dari kemampuan air untuk meneruskan aliran listrik. Semakin banyak garam-garam terlarut dapat yang terionisasi dan reaktivits bilangan valensi serta konsentrasi ion-ion logam terlarut dalam perairan, maka semakin tinggi daya hantar listrik. Hasil pengukuran conductivity menunjukkan bahwa terjadi peningkatan pada semua titik pengamatan dari 1.742,286 ms/cm pada bulan Oktober menjadi 1.874,286 µmhos/cm pada Juni. Periode bulan Juni merupakan musim hujan di kawasan sekitar Danau Matano. Erosi yang terjadi pada musim hujan di DTA dan sedimen yang masuk ke danau bersama air sungai dan aliran permukaan diduga meningkatkan kelarutan ion-ion positif seperti Mg2+, Mn2+ dan Fe2+ meningkat. Ion-ion tersebut dapat menyebabkan peningkatan conductivity perairan tawar seperti halnya ion Na2+ dan Fe2+ pada air laut.

(45)

32 Germadan Matano

4. Kecerahan

Kecerahan merupakan ukuran transparansi perairan yang ditentukan secara visual dengan cakram seiche dan nilai kecerahan dinyatakan dalam satuan meter. Nilai kecerahan sangat dipengaruhi oleh keadaan cuaca, waktu pengukuran, keadaan permukaan air ketika pengamatan, kekeruhan dan ketelitian orang yang melakukan pengamatan. Menurut (Sellers dan Morkland 1987). bahwa kecerahan cakram secchi < 3 m adalah tipe peraran yang subur (eutropik), antara 3-6 m kesuburan sedang (mesotrofik) dan > 6 m digolongkan pada tipe perairan kurang subur (oligotrofik). Hasil pengukuran kecerahan air Danau Matano pada bulan Juni berkisar antara 13,77 – 22,01 m dan pada bulan Oktober berkisar antara 12,85 – 19,93 m. Nilai kecerahan tersebut bervariasi pada setiap titik pengamatan. . Hal ini dapat disebabkan karena perbedaan waktu dalam hari pengamatan, kondisi permukaan (ada tidaknya gerakan atau riakan) air pada saat pengamatan, kesalahan pembacaan cakram secchi dan titik lokasi pengamatan dimana terjadi intoduksi padatan tersuspensi dan terlarut ke dalam perairan. Meskipun demikian kecerahan air Danau Matano relatif lebih tinggi dibandingkan dengan danau-danau lain yang ada di Indonesia.

5. Kekeruhan

Kekeruhan menggambarkan sifat optik air yang ditentukan berdasarkan banyaknya cahaya yang diserap dan dihamburkan oleh bahan-bahan yang tersuspensi di dalam air yang dinyatakan dalam satuan “unit turbiditas”, yaitu satuan kekeruhan yang diukur dengan metode nephelometric adalah “nephelometric turbidity unit” (NTU). Kecerahan dan kekeruhan air secara alami berkorelasi negatif, jika kecerahan air meningkat maka kekeruhan akan berkurang demikian sebaliknya. Hasil pengukuran kekeruhan air Danau Matano pada bulan Juni berkisar antara 3,0 – 6,0 NTU dan bulan Oktober berkisar antara 1,0 – 3,0 NTU. Terdapat perbedaan nilai kekeruhan air Danau Matano antara musim hujan dan musim kemarau. Pada musim hujan yaitu periode bulan Juni kekeruhan cenderung lebih tinggi. Hal ini

Referensi

Dokumen terkait

dengan bau amis ikan, air danau yang sudah tidak lagi.. jernih seperti 20-an, 30-an tahun

Analisis Kualitas Fisika Kimia Air di Areal Budidaya Ikan Danau Tondano Provinsi Sulawesi Utara.. Menteri Negara

Laporan yang lebih mutakhir menyebutkan kasus yang sama terjadi di bulan Juli 2015 yang menyebabkan kematian ikan dalam jumlah besar di Danau Batur yang didahului

Pemberdayaan Usaha Kecil Budidaya PROGRAM PENGELOLAAN PERIKANAN TANGKAP Kepala Bidang Kenelayanan Pengelolaan Penangkapan Ikan di Wilayah Sungai, Danau, Waduk, Rawa,

2) Populasi ikan Bilih menyebar secara merata di seluruh daerah tangkapan yaitu Danau Singkarak. 3) Biaya penangkapan ikan Bilih per unit upaya adalah konstan yang dihitung

Estimasi Daya Dukung Perairan Danau Toba Sumatera Utara Untuk Pengembangan Budidaya Ikan Dengan Keramba Jaring Apung.. Kajian Kondisi Morfometri Dan Beberapa Paramater

Desa yang menjadi daerah pengembangan usaha perikanan terutama penangkapan ikan dan memiliki Kelompok Usaha Bersama (KUB) yang cukup aktif di Kecamatan Danau Panggang

Berdasarkan analisis menunjukan bahwa besarnya nilai modal usaha penangkapan ikan di setiap jenis alat tangkap yang digunakan di Danau Limboto adalah, jaring insang memiliki rata-rata