• Tidak ada hasil yang ditemukan

Sumberdaya Hayati Danau

BAB II GAMBARAN UMUM DANAU MATANO

2.1. Profil Danau Matano

2.1.5. Sumberdaya Hayati Danau

Danau Matano merupakan habitat alami dari 11 jenis ikan air tawar endemik atau lebih dari 90 % spesies ikan yang hidup di dalamnya adalah endemik dan juga merupakan habitat alami dari 76% dari 27 jenis Moluska (siput atau keong dan kekerangan) air tawar endemik Sulawesi (Whitten et al, 1987). Ahli biologi pertama yang mengunjungi ke lima danau dalam kompleks danau Malili adalah Rudolf Woltereck yang dipublikasikan pada tahun 1933 pada saat dilakukannya Ekspedisi Wallacea I, namun semua koleksinya habis pada perang dunia II. Sedangkan ahli taksonomi yang terakhir Dr. Maurice Kottelat (1988-1989) dan berhasil mengidentifikasi jenis-jenis ikan di Danau Matano. Menurut Hadiaty dan Wirjoatmodjo (2002) bahwa biota akuatik (Tabel-2.2) di Danau Matano dan danau lainnya di dalam Kompleks Danau Malili mempunyai keanekaragaman yang lebih kaya dibanding danau lain di Indonesia bagian timur.

Terdapat 12 familia dari kelompok ikan dan masing-masing satu familia dari kelompok udang, kepiting, moluska dan kekerangan yang ditemukan di Danau Matano (Tabel-2.2) dan familia yang mempunyai spesies terbanyak adalah Telmatherinidae dan 10 spesies dari Telmatherinidae semuanya adalah endemik. Salah satu dari spesies endemik tersebut yaitu Telmatherina sp merupakan spesies yang baru ditemukan (Hadiaty dan Wirjoatmodjo, 2002) dan satu genus dari familia Telmatherinidae juga dianggap baru yaitu Paratherina wolterecki. Spesies endemik lainnya adalah ikan Butini (Glossogobius matanensis) yang merupakan salah satu dari tiga aggota familia Gobiidae yang ditemukan di Danau Matano. Sedangkan dua familia Gobiidae lainnya yaitu Mugilogobius latifrons atau Mugilogobius cf. adeia) dan Dermogenys ebradti (nama lokal ikan Dui-dui), Oryzias matanensis (nama lokal ikan Pangkilan atau Bonti), Aplocheilus panchax (nama lokal ikan Kepalah timah serta Poecilia reticuluta (nama lokal ikan Cupang). Semua spesies dari kedua familia Gobiidae tersebut di atas adalah endemik Kompleks Danau Malili karena selain ditemukan di Danau Matona juga terdapatdi di Danau Mahalona dan Danau Towuti.

26 Germadan Matano

Kelompok udang-udangan dan kepiting yang terdapat di Danau Matano antara lain udang bintik putih (Caridina dennerli), udang coklat (Caridina holthuisi), udang lamak (Caridina. lanceolata) dan udang tawon merah (Caridina. loehae). Sedangkan kepiting adalah kepiting macan tutul (Parathelphusa pantherina) dengan nama lokal “Bungka Gori”, kepiting Syntripsa matannensis dengan nama lokal “Bungka Ito” dan kepiting Nautilothelphusa zimmeri dengan nama lokal “Bungka Wanta”. Semua spesies kepiting ini bernilai ekonomis dan ditangkap masyarakat sebagai salah satu sumber protein dalam menu makanan sehari-hari. Sedangkan kelompok moluska meliputi siput dan kerang-kerangan yang ditemukan di Danau Matano ada sembilan jenis. Jenis siput adalah Melania insulaesacrae, M. grammifer, M. palicolarum, M. sanasinorus, M. patriarchalis, M. zeamais dan Brotia sp. Sedangkan jenis kerang-kerangan adalah Corbicula matannensis dan Corbicula. moltkeana. Siput dan kekerangan ini dikumpulkan masyarakat sebagai menu makanan.

Tabel-2.2. Biota akuatik yang ditemukan di Danau Matano

No Familia Spesies Ikan Keterangan

Nama Lokal Nama Ilmiah

A. Kelompok Ikan

1. Telmatherinidae Opudi Telmatherina bonti Endemik Matano

Opudi T. antoniae Endemik Matano

Opudi T. abendanoni Endemik Matano

Opudi T. obscura Endemik Matano

Opudi T. opudi Endemik Matano

Opudi T. prognatha Endemik Matano

Opudi T. sarasinorum Endemik Matano

Opudi T. wahyui Endemik Matano

Opudi Telmatherina sp)* Endemik Matano Opudi Paratherina wolterecki Endemik Matano 2. Hemiramphidae Dui-dui Dermogenys weberi Endemik Malili Likes 3. Oryziidae Lunyar Oryzias matanensis Endemik Malili Likes 4. Gobiidae Butini Mugilogobius latifrons Endemik Malili Likes Butini Mugilogobius cf. adeia Endemik Malili Likes Butini Glossogobius matanensis Endemik Matano

No Familia Spesies Ikan Keterangan Nama Lokal Nama Ilmiah

5. Aplocheilid Kepalah timah Aplocheilus panchax Endemik Malili Likes 6. Poecilii Cupang Poecilia reticuluta Endemik Malili Likes 7. Clariidae Lele lokal Clarias batrachus Tersebar luas

Lele dumbo Clarias gariepinus Spesies invasif 8. Anabantidae Betok Anabas testudineus Tersebar luas

9. Channidae Gabus Channa striata Tersebar luas

10. Cyprinidae Karper Cyprinus carpio Spesies invasif Bawal Colossoma macropomum Spesies invasif 11. Cichlidae Nila Oreochromis niloticus Spesies invasif Lou han Amphilophus sp Spesies invasif 12. Loricariidae Sapu-sapu Hypostomus plecostomus Spesies invasif B. Kelompok Udang

13. Atyidae U. bintik putih Caridina dennerli Endemik Matano Udang coklat C. holthuisi Endemik Malili Likes Udang lama C. lanceolata Endemik Malili Likes U.tawon merah C. loehae Endemik Malili Likes C. Kelompok Kepiting

14. Gecarcinucidae Bungka gori Parathelphusa pantherina Endemik Matano Bungka ito Syntripsa matannensis Endemik Matano Bungka wanta Nautilothelphusa zimmeri Endemik Malili Likes D. Moluska dan Kekerangan

15. Pachychilidae Keong totol Tylomelania patriarchalis Endemik Matano Melania zeamais Endemik Matano M. insulaesacrae Endemik Malili Likes M. grammifer Endemik Malili Likes M. palicolarum Endemik Malili Likes M. sanasinorus Endemik Malili Likes Brotia sp Endemik Malili Likes 16. Cyrenidae Kerang danau Corbicula matannensis Endemik Malili Likes Kerang danau Corbicula moltkeana Endemik Malili Likes

Sumber: Hadiaty dan Wirjoatmodjo (2002); Ubaidillah, dkk., (2013) dan Husnah, dkk., (2008), dan )* Diduga spesies yang baru ditemukan.

Penangkapan yang terus menerus terhadap spesies endemik serta dampak pencemaran dan kehadiran spesies invasif akan mengancam

28 Germadan Matano

kelestarian sumberdaya hayati Danau Matano ini. Jenis alat tangkap yang digunakan masyarakat di Danau matano antara pancing, jaring ingsang, perangkap (bubu), jala lempar dan jaring angkat (lift net). Tidak ditemukan masyarakat dengan profesi khusus sebagai nelayan di Danau Matano, melainkan hanya sebagai pekerjaan sampingan atau sekedar menyalurkan hobi. Dengan demikian jumlah dari alat tangkap tersebut di atas tidak terdata dengan baik pada Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Luwu Timur.

Budidaya ikan dalam karamba pada mulanya hanya dilakukan oleh warga masyarakat di sekitar rumah bagi bermukim di atas perairan Danau Matano, yaitu di daerah litoral danau di pinggiran kota Sorowako dan hanya bersifat subsisten. Namun sejak memasuki awal tahun 2014 kegiatan budidaya ikan dalam karambah mulai berkembang pesat, baik yang dilakukan dengan sistim pen culture maupun dengan sistem Karambah Jaring Apung (KJA) dan telah menyebar di daerah litoran dan sub-litoral danau. Jenis ikan yang di budidayakan adalah ikan nila (Oreochromis niloticus), ikan bawal (Colossoma macropomum) dan ikan karper atau ikan mas (Cyprinus carpio).

Kegiatan budidaya ikan dalam karamba yang dilakukan di perairan yang relatif tenang sperti danau dan waduk, harus diwaspadai dampak pencemaran limbah organik yang berasal dari sisa pakan yang tidak termakan dan feses ikan maupun hasil ekresi ikan dalam bentuk amoniak (NH3). Limbah organik tersebut akan menciptakan kondisi an-aerobik pada lapisan air di sekitar dasar perairan. Kondisi demikian sangat berbahaya bagi ikan-ikan endemik danau yang memijah dengan cara meletakkan telurnya pada sedimen dasar seperti bebatuan (rock spowners), pasir (sand spowners) dan ikan-ikan yang membuat sarang pada celah-celah batuan dan krikil (rock and gravel nesters) di dasar perairan. Telur-telur ikan tersebut akan gagal menetas karena selama inkubasi perkembangan embrio di dalam telur membutuhkan oksigen yang bersumber dari air, sementara oksigen terlarut akan defisit pada dasar perairan yang mengandung banyak bahan organik.

2.1.6. Kualitas Air Danau

Kualitas air secara luas dapat dinyatakan dengan semua parameter fisika, kimiawi dan biologi termasuk berbagai zat, energi atau komponen lain di dalamnya yang mempengaruhi manfaat penggunaan air bagi manusia baik langsung maupun tidak langsung. Sedangkan air merupakan senyawaan yang mutlak diperlukan bagi hidup dan kehidupan organisme. Air juga merupakan senyawaan yang bersifat pelarut universal. Berdasarkan hal tersebut, maka tidak ada body water atau perairan alami yang murni melainkan didalamnya selalu terlarut unsur dan senyawa lainnya. Dengan terlarutnya unsur dan senyawa-senyawa lain, maka air merupakan komponen ekologis yang penting peranannya bagi hidup dan kehidupan organisme perairan. Sebaliknya. Apabila didalamnya terlarut atau terkabdung senyawa dan unsur yang bersifat racun dan atau menggangu bagi hidup dan kehidupan organisme, maka nilai guna air dan atau perairan tersebut menjadi menurun atau bahkan rusak.

Pengambilan sampel air permukaan Danau Matano pada beberapa titik (Tabel-2.3) dilakukan dua kali pada waktu yang berbeda, yaitu bulan Juni dan Oktober 2013. Berdasarkan kondisi iklim bahwa bulan Juni adalah musim hujan dan bulan Oktober adalah musin kemarau di kawasan Danau Matano dan sekitarnya. Dengan demikian pengambilan sampel air danau mewakili dua musim yang berbeda.

Tabel-2.3. Posisi pengambilan sampel di permukaan air Danau Matano

Kode Sampling Posisi Geografis Keterangan

MTN-1 S : 020 30’ 17,1”

E : 1210 19’ 52,6” Intake PDAM

MTN-2 S : 020 25’ 53,4”

E : 1210 13’ 25,4” Muara Sungai Lawa MTN-3 S : 020 27’ 14,4”

30 Germadan Matano

Kode Sampling Posisi Geografis Keterangan

MTN-4 S : 020 27’ 02,1”

E : 1210 20’ 16,1” Depan Dermaga Nuha MTN-5 S : 020 29’ 24,2”

E : 121023’24,9” Ditengah danau

MTN-6 S : 020 31’ 14,9”

E : 1210 21’ 55,6” Sorowako Lama (Muara Sungai Lamoare) MTN-7 S : 020 30’ 58,7”

E : 1210 21’ 10,0” Sorowako Lama (Muara Sungai Lawewu) Hasil pengukuran parameter kualitas air pada beberapa titik sampel di permukaan Danau Matano pada Juni 2013 (Tabel-2.4) dan bulan Oktober 2013 (Tabel-2.5). Beberapa parameter kualitas air yang diukur mengalami peningkatan atau perubahan nilai dari dua waktu pengamatan berbeda yang akan diuraikan sebagai berikut:

A. Parameter Fisika: 1. Suhu

Suhu air danau di daerah tropsi sangat dipengaruhi oleh musim, ketinggian tempat (altitude) dari permukaan laut, waktu dalam hari, sirkulasi udara, kedalaman perairan dan jumlah sinar matahari yang jatuh. Sinar matahari yang jatuh dan sampai ke permukaan air sebagian dipantulkan kembali ke atmosfer oleh permukaan air dan sebagian lagi diteruskan ke dalam kolom air. Jumlah sinar matari yang dipantulkan dan diteruskan tergantung pada sudut datangnya cahaya dengan garis normal dan kondisi permukaan air (bergelombang atau tenang). Garis normal adalah garis tegak lurus dengan permukaan air, sehingga pada siang hari misalnya antara jam 11.00 sampai 13.00 dimana sudut datang cahaya semakin kecil dengan garis normal, maka sinar matahari yang diteruskan kedalam kolom air semakin besar. Pada perairan darat yang relatif tenang, peningkatan suhu permukaan air pada siang hari sangat cepat karena molekul-molekul air akan menyerap energi panas yang terkandung di dalam sinar Menurut Schwoerbel (1987) suhu air merupakan faktor abiotik yang memegang peranan penting bagi hidup dan kehidupan organisme perairan. Hasil pengukuran suhu

permukaan air Danau Matano pada bulan Juni 0C dan Oktober berkisar antara 28 -30. Berdasarkan hasil tersebut, tidak nampak perbedaan secara signifikan suhu permukaan air Danau Matano antara musim penghujan dan musim kemarau.

2. Warna air

Warna perairan dikelompokkan menjadi dua, yautu warna sebenarnya dan warna tampak. Warna sebenarnya adalah warna yang disebabkan oleh bahan-bahan kimia terlarut, sedangkan warna tampak adalah warna yang disebabkan oleh bahan-bahan terlarut dan tersuspensi. Hasil pengamatan warna air Danau Matano pada bulan Juni terdeteksi 1 unit PtCo pada titik pengamatan MTN-1 dimana nilai tersebut masih sangat jauh di bawah baku mutu air kelas II yang dipersyaratkan yaitu 25 PtCO dan 6 titik pengamatan lainnya warna air tidak terdeteksi. Titik pengamatan MTN-1 ini berada dekat pemukiman kota Sorowako, sehingga warna yang terdeteksi tersebut kemungkinan berasalal dari limbah penduduk berupa bahan-bahan organik terlarut. Sedangkan hasil pengamatan pada bulan Oktober, warna air Danau Matano tidak terdeteksi pada semua titik pengamatan.

3. Conductivity

Conductivity atau daya hantar listrik adalah gambaran numerik dari kemampuan air untuk meneruskan aliran listrik. Semakin banyak garam-garam terlarut dapat yang terionisasi dan reaktivits bilangan valensi serta konsentrasi ion-ion logam terlarut dalam perairan, maka semakin tinggi daya hantar listrik. Hasil pengukuran conductivity menunjukkan bahwa terjadi peningkatan pada semua titik pengamatan dari 1.742,286 ms/cm pada bulan Oktober menjadi 1.874,286 µmhos/cm pada Juni. Periode bulan Juni merupakan musim hujan di kawasan sekitar Danau Matano. Erosi yang terjadi pada musim hujan di DTA dan sedimen yang masuk ke danau bersama air sungai dan aliran permukaan diduga meningkatkan kelarutan ion-ion positif seperti Mg2+, Mn2+ dan Fe2+ meningkat. Ion-ion tersebut dapat menyebabkan peningkatan conductivity perairan tawar seperti halnya ion Na2+ dan Fe2+ pada air laut.

32 Germadan Matano

4. Kecerahan

Kecerahan merupakan ukuran transparansi perairan yang ditentukan secara visual dengan cakram seiche dan nilai kecerahan dinyatakan dalam satuan meter. Nilai kecerahan sangat dipengaruhi oleh keadaan cuaca, waktu pengukuran, keadaan permukaan air ketika pengamatan, kekeruhan dan ketelitian orang yang melakukan pengamatan. Menurut (Sellers dan Morkland 1987). bahwa kecerahan cakram secchi < 3 m adalah tipe peraran yang subur (eutropik), antara 3-6 m kesuburan sedang (mesotrofik) dan > 6 m digolongkan pada tipe perairan kurang subur (oligotrofik). Hasil pengukuran kecerahan air Danau Matano pada bulan Juni berkisar antara 13,77 – 22,01 m dan pada bulan Oktober berkisar antara 12,85 – 19,93 m. Nilai kecerahan tersebut bervariasi pada setiap titik pengamatan. . Hal ini dapat disebabkan karena perbedaan waktu dalam hari pengamatan, kondisi permukaan (ada tidaknya gerakan atau riakan) air pada saat pengamatan, kesalahan pembacaan cakram secchi dan titik lokasi pengamatan dimana terjadi intoduksi padatan tersuspensi dan terlarut ke dalam perairan. Meskipun demikian kecerahan air Danau Matano relatif lebih tinggi dibandingkan dengan danau-danau lain yang ada di Indonesia.

5. Kekeruhan

Kekeruhan menggambarkan sifat optik air yang ditentukan berdasarkan banyaknya cahaya yang diserap dan dihamburkan oleh bahan-bahan yang tersuspensi di dalam air yang dinyatakan dalam satuan “unit turbiditas”, yaitu satuan kekeruhan yang diukur dengan metode nephelometric adalah “nephelometric turbidity unit” (NTU). Kecerahan dan kekeruhan air secara alami berkorelasi negatif, jika kecerahan air meningkat maka kekeruhan akan berkurang demikian sebaliknya. Hasil pengukuran kekeruhan air Danau Matano pada bulan Juni berkisar antara 3,0 – 6,0 NTU dan bulan Oktober berkisar antara 1,0 – 3,0 NTU. Terdapat perbedaan nilai kekeruhan air Danau Matano antara musim hujan dan musim kemarau. Pada musim hujan yaitu periode bulan Juni kekeruhan cenderung lebih tinggi. Hal ini

Germadan Matano 33

menunjukkan bahwa pada musim hujan, perairan Danau Matano banyak mendapat masukan sedimen baik yang tersuspensi maupun yang terlarut sehingga berpengaruh terhadap kekeruhan.

6. Total Suspended Solid dan Total Disolved Solid

Total Suspended Solid (TSS) adalah bahan-bahan tersuspensi yang berdiameter lebih besar dari 1,0 µm dan tertahan pada saringan dengan diameter pori 0,45 µm. Menurut Effendi (2003), TSS disebabkan oleh lumpur dan pasir halus akibat erosi tanah yang terbawa ke badan air serta jasad-jasad renik seperti alga. Sedangkan Total Disolved Solid (TDS) adalah bahan-bahan terlarut berdiameter lebih kecil dari

10-6 mm dan koloid berdiameter 10-6 mm – 10-3 mm, berupa senyawa kimia dan bahan-bahan lainnya yang lolos pada saringan berdiameter 0,45 µm. TDS biasanya disebabkan oleh bahan an-organik berupa ion-ion yang biasa ditemukan diperairan seperti kalsium, magnesium, bikarbonat dan besi.

Tabel-2.4. Hasil pengukuran parameter kualitas air permukaan Danau Matano pada bulan Juni 2013

bahan lainnya yang lolos pada saringan berdiameter 0,45 µm. TDS biasanya disebabkan oleh bahan an-organik berupa ion-ion yang biasa ditemukan diperairan seperti kalsium, magnesium, bikarbonat dan besi.

Tabel-2.4. Hasil pengukuran parameter kualitas air permukaan

Danau Matano pada bulan Juni 2013

Sumber Data : BLHD Sul-Sel, 2014

Hasil pengukuran TSS dan TDS air permukaan Danau Matano pada bulan Juni masing-masing adalah 1,5 – 2,8 mg/L dan 69 – 1.065 mg/L. Sedangkan pada bulan Oktober masing-masing adalah dari nilai tidak terdeteksi (tt) – 1,0 mg/L dan 830 – 853 mg/L. Kandungan TSS dan TDS air permukaan Danau Matano pada musim hujan dan kemarau, nilainya

MTN-1 MTN-2 MTN-3 MTN-4 MTN-5 MTN-6 MTN-7 1 Suhu oC 28 28 28 29 29 29 30 2 Colour PtCo 1,0 tt tt tt tt tt tt 3 Conductivity µmhos/cm 2020 1830 1830 2000 1810 1800 1830 4 Kecerahan m 16,97 18,42 22,01 18,97 21,54 16,1 13,77 5 Kekeruhan NTU 4,0 6,0 4,0 3,0 3,0 5,0 5,0 6 TSS mg/L 1,7 2,7 1,5 4,0 2,8 2,8 2,7 7 TDS mg/L 78 91 69 94 1.060 1.040 1.065 8 pH - 7,34 7,60 7,52 7,70 7,81 7,77 7,90 9 Total-P mg/L 0,0028 0,0077 0,0058 0,0042 0,0042 0,0036 0,0033 10 Amoniak (NH3) mg/L 0,002 0,001 0,003 0,001 0,001 0,002 0,003 11 Nitrat (NO3-) mg/L 0,028 tt 0,003 0,001 0,022 0,005 0,049 12 Nitrit (NO2-) mg/L tt tt tt tt tt tt tt 13 Sulfat (SO4-) mg/L tt 0,67 tt tt tt tt tt 14 S sebagai H2S mg/L 0,001 0,001 0,002 0,002 0,002 0,002 0,001 15 Kalsium (Ca2+) mg/L 30,03 26,03 26,03 26,03 26,03 22,02 24,03 16 Magnesium (Mg) mg/L 66,066 74,074 70,070 78,078 68,068 78,780 74,074 17 Khlorida mg/L 21,30 32,00 24,90 21,30 24,90 46,20 24,90 18 DO mg/L 7,5 7,4 6,7 8,5 5,9 7,8 7,2 19 BOD mg/L 2,4 2,4 3,0 2,4 1,0 2,4 2,4 20 COD mg/L 8,26 4,13 6,19 6,19 6,19 6,19 4,13 21 Iron (Fe) mg/L 0,18 0,17 0,13 0,13 0,09 0,20 tt 22 Mangan (Mn2+) mg/L <0,024 <0,024 <0,024 <0,024 0,024 <0,024 <0,024 23 Tembaga (Cu) mg/L 0,039 0,042 0,026 0,022 0,029 0,027 0,028 24 Timbal (Pb) mg/L 0,01 0,02 0,05 0,05 0,04 0,05 0,05 25 Klorofil mg/m3 0,0002 0,0010 0,0008 0,0001 0,0011 0,0002 0,0001 Kimia

No Paramter Satuan Lokasi Pengambilan Sampel Air Fisika

34 Germadan Matano

Sumber Data : BLHD Sul-Sel, 2014

Hasil pengukuran TSS dan TDS air permukaan Danau Matano pada bulan Juni masing-masing adalah 1,5 – 2,8 mg/L dan 69 – 1.065 mg/L. Sedangkan pada bulan Oktober masing-masing adalah dari nilai tidak terdeteksi (tt) – 1,0 mg/L dan 830 – 853 mg/L. Kandungan TSS dan TDS air permukaan Danau Matano pada musim hujan dan kemarau, nilainya masih lebih rendah dari baku mutu air kelas II yang dipersyaratkan sebesar 50 mg/L untuk TSS dan 1000 mg/L untuk TDS.

Berdasarkan hasil pengukuran kedua parameter tersebut, menunjukkan bahwa ada penambahan masukan padatan tersuspensi dan terlarut ke dalam Danau Matano pada musim hujan yang ditunjukkan dengan tingginya nilai TSS dan TDS pada bulan Juni (periode musim hujan) di bandingkan dengan nilai TSS dan TDS pada bulan Oktober (periode musim kemarau). Demikian juga dengan nilai kekeruhan relatif lebih tinggi pada bulan Juni. Hal ini dapat dijadikan indikator bahwa terjadi proses sedimentasi di Danau Matano secara bertahap dengan mengendapnya padatan tersuspensi tersebut ke dasar danau.

B. Parameter Kimia 1. Derajat Keasaman

Derajat keasaman (pH) adalah negatif logaritma dari konsentrasi ion hidrogen (H+). Ion hidrogen bersifat asam, sehingga keberadaan

39

bahan lainnya yang lolos pada saringan berdiameter 0,45 µm. TDS biasanya disebabkan oleh bahan an-organik berupa ion-ion yang biasa ditemukan diperairan seperti kalsium, magnesium, bikarbonat dan besi.

Tabel-2.4. Hasil pengukuran parameter kualitas air permukaan

Danau Matano pada bulan Juni 2013

Sumber Data : BLHD Sul-Sel, 2014

Hasil pengukuran TSS dan TDS air permukaan Danau Matano pada bulan Juni masing-masing adalah 1,5 – 2,8 mg/L dan 69 – 1.065 mg/L. Sedangkan pada bulan Oktober masing-masing adalah dari nilai tidak terdeteksi (tt) – 1,0 mg/L dan 830 – 853 mg/L. Kandungan TSS dan TDS air permukaan Danau Matano pada musim hujan dan kemarau, nilainya

MTN-1 MTN-2 MTN-3 MTN-4 MTN-5 MTN-6 MTN-7 1 Suhu oC 28 28 28 29 29 29 30 2 Colour PtCo 1,0 tt tt tt tt tt tt 3 Conductivity µmhos/cm 2020 1830 1830 2000 1810 1800 1830 4 Kecerahan m 16,97 18,42 22,01 18,97 21,54 16,1 13,77 5 Kekeruhan NTU 4,0 6,0 4,0 3,0 3,0 5,0 5,0 6 TSS mg/L 1,7 2,7 1,5 4,0 2,8 2,8 2,7 7 TDS mg/L 78 91 69 94 1.060 1.040 1.065 8 pH - 7,34 7,60 7,52 7,70 7,81 7,77 7,90 9 Total-P mg/L 0,0028 0,0077 0,0058 0,0042 0,0042 0,0036 0,0033 10 Amoniak (NH3) mg/L 0,002 0,001 0,003 0,001 0,001 0,002 0,003 11 Nitrat (NO3-) mg/L 0,028 tt 0,003 0,001 0,022 0,005 0,049 12 Nitrit (NO2-) mg/L tt tt tt tt tt tt tt 13 Sulfat (SO4-) mg/L tt 0,67 tt tt tt tt tt 14 S sebagai H2S mg/L 0,001 0,001 0,002 0,002 0,002 0,002 0,001 15 Kalsium (Ca2+) mg/L 30,03 26,03 26,03 26,03 26,03 22,02 24,03 16 Magnesium (Mg) mg/L 66,066 74,074 70,070 78,078 68,068 78,780 74,074 17 Khlorida mg/L 21,30 32,00 24,90 21,30 24,90 46,20 24,90 18 DO mg/L 7,5 7,4 6,7 8,5 5,9 7,8 7,2 19 BOD mg/L 2,4 2,4 3,0 2,4 1,0 2,4 2,4 20 COD mg/L 8,26 4,13 6,19 6,19 6,19 6,19 4,13 21 Iron (Fe) mg/L 0,18 0,17 0,13 0,13 0,09 0,20 tt 22 Mangan (Mn2+) mg/L <0,024 <0,024 <0,024 <0,024 0,024 <0,024 <0,024 23 Tembaga (Cu) mg/L 0,039 0,042 0,026 0,022 0,029 0,027 0,028 24 Timbal (Pb) mg/L 0,01 0,02 0,05 0,05 0,04 0,05 0,05 25 Klorofil mg/m3 0,0002 0,0010 0,0008 0,0001 0,0011 0,0002 0,0001 Kimia

No Paramter Satuan Lokasi Pengambilan Sampel Air Fisika

39

bahan lainnya yang lolos pada saringan berdiameter 0,45 µm. TDS biasanya disebabkan oleh bahan an-organik berupa ion-ion yang biasa ditemukan diperairan seperti kalsium, magnesium, bikarbonat dan besi.

Tabel-2.4. Hasil pengukuran parameter kualitas air permukaan

Danau Matano pada bulan Juni 2013

Sumber Data : BLHD Sul-Sel, 2014

Hasil pengukuran TSS dan TDS air permukaan Danau Matano pada bulan Juni masing-masing adalah 1,5 – 2,8 mg/L dan 69 – 1.065 mg/L. Sedangkan pada bulan Oktober masing-masing adalah dari nilai tidak terdeteksi (tt) – 1,0 mg/L dan 830 – 853 mg/L. Kandungan TSS dan TDS air permukaan Danau Matano pada musim hujan dan kemarau, nilainya

MTN-1 MTN-2 MTN-3 MTN-4 MTN-5 MTN-6 MTN-7 1 Suhu oC 28 28 28 29 29 29 30 2 Colour PtCo 1,0 tt tt tt tt tt tt 3 Conductivity µmhos/cm 2020 1830 1830 2000 1810 1800 1830 4 Kecerahan m 16,97 18,42 22,01 18,97 21,54 16,1 13,77 5 Kekeruhan NTU 4,0 6,0 4,0 3,0 3,0 5,0 5,0 6 TSS mg/L 1,7 2,7 1,5 4,0 2,8 2,8 2,7 7 TDS mg/L 78 91 69 94 1.060 1.040 1.065 8 pH - 7,34 7,60 7,52 7,70 7,81 7,77 7,90 9 Total-P mg/L 0,0028 0,0077 0,0058 0,0042 0,0042 0,0036 0,0033 10 Amoniak (NH3) mg/L 0,002 0,001 0,003 0,001 0,001 0,002 0,003 11 Nitrat (NO3-) mg/L 0,028 tt 0,003 0,001 0,022 0,005 0,049 12 Nitrit (NO2-) mg/L tt tt tt tt tt tt tt 13 Sulfat (SO4-) mg/L tt 0,67 tt tt tt tt tt 14 S sebagai H2S mg/L 0,001 0,001 0,002 0,002 0,002 0,002 0,001 15 Kalsium (Ca2+) mg/L 30,03 26,03 26,03 26,03 26,03 22,02 24,03 16 Magnesium (Mg) mg/L 66,066 74,074 70,070 78,078 68,068 78,780 74,074 17 Khlorida mg/L 21,30 32,00 24,90 21,30 24,90 46,20 24,90 18 DO mg/L 7,5 7,4 6,7 8,5 5,9 7,8 7,2 19 BOD mg/L 2,4 2,4 3,0 2,4 1,0 2,4 2,4 20 COD mg/L 8,26 4,13 6,19 6,19 6,19 6,19 4,13 21 Iron (Fe) mg/L 0,18 0,17 0,13 0,13 0,09 0,20 tt 22 Mangan (Mn2+) mg/L <0,024 <0,024 <0,024 <0,024 0,024 <0,024 <0,024 23 Tembaga (Cu) mg/L 0,039 0,042 0,026 0,022 0,029 0,027 0,028 24 Timbal (Pb) mg/L 0,01 0,02 0,05 0,05 0,04 0,05 0,05 25 Klorofil mg/m3 0,0002 0,0010 0,0008 0,0001 0,0011 0,0002 0,0001 Kimia

No Paramter Satuan Lokasi Pengambilan Sampel Air Fisika

H+ menggambarkan nilai pH. Suatu larutan atau perairan disebut asam jika ditunjukkan dengan nilai pH < 7,0 sebaliknya basa atau alkalis dengan nilai pH >7,0 dan netral dengan nilai pH = 7,0. Fluktuasi pH harian suatu perairan dipengaruhi antara lain suhu, karbon dioksida (CO2) bebas, alkalinitas, kandungan kation dan anion terlarut. Hasil pengukuran pH air permukaan Danau Matano pada bulan Juni berkisar antara 7,3 – 7,9 dan bulan Oktober berkisar antara 7,3 – 7,8. Nilai pH pada dua musim yang berbeda relatif sama. Namun keduanya menunjukkan bahwa pH air permukaan Danau Matano cenderung bersifat basa atau alkalis dengan nilai > 7,0.

2. Total Phosfat

Total phosfat dalam perairan terdapat sebagai senyawa ortophosfat, poliphosfat dan phosfat organik. Phosfat organik adalah unsur phosfat yang terikat pada senyawa-senyawa organik. Setiap senyawa phosfat organik dapat berada dalam bentuk terlarut, tersuspensi dan terikat dalam senyawa organik lainnya. Hasil pengukuran kandungan total phosfat air permukaan Danau Matano pada bulan Juni berkisar antara 0,0028 – 0,0077 mg/L dan bulan Oktober kandungan total phosfat tidak terdeteksi (tt) pada semua titik pengambilan sampel. Total phosfat yang terukur pada bulan Oktober kemungkinan berasal dari phosfat organik atau sisa-sisa pemupukan phosfat an-organik dari perladangan di DTA dan terlimbas air hujan ke dalam danau. Rendahnya kandungan total phosfat dapat juga disebabkan karena anion phosfat seperti H2PO4 -, HPO42- dan PO43- Hasil pengukuran kandungan total phosfat air permukaan Danau Matano pada bulan Juni berkisar antara 0,0028 – 0,0077 mg/ dan bulan Oktober kandungan total phosfat tidak terdeteksi (tt) pada semua titik pengambilan sampel. diikat oleh kation (ion-ion positif) dari besi dan magnesium menjadi persenyawaan besi phosfat dan magnesium phosfat lalu mengendap kedasar danau. Hal ini dapat ditunjukkan dengan adanya bercak warna kemerah-merahan pada

Dokumen terkait