Kesejahteraan lansia menurut UU No. 13 tahun 1998 pasal 1 adalah suatu tata kehidupan dan penghidupan sosial baik material maupun spiritual yang diliputi oleh rasa keselamatan, kesusilaan, dan ketentraman lahir batin yang memungkinkan bagi setiap warga negara untuk mengadakan pemenuhan kebutuhan jasmani, rohani, dan sosial yang sebaik baiknya bagi diri, keluarga, serta masyarakat dengan menjunjung tinggi hak dan kewajiban asasi manusia sesuai dengan Pancasila. Kesejahteraan lansia dalam penelitian ini diukur dengan menggunakan instrumen
WHOQOL atau World Health Organization-Quality of Life. WHOQOL memiliki
empat komponen yaitu kesehatan fisik, psikologis, hubungan sosial dan sistem
dukungan. Instrumen ini dipilih karena dalam kesejahteraan lansia hal – hal yang
diperhatikan bukan hanya faktor ekonomi namun juga faktor – faktor internal
lainnya.
Lansia merupakan akhir tahapan kehidupan manusia. Banyak perubahan yang terjadi pada tahap ini salah satunya adalah menurunnya kekuatan fisik dan kesehatan. Kesehatan fisik yang diukur meliputi aktivitas dalam kegiatan sehari- hari, ketergantungan pada perawatan kesehatan dan obat-obatan, energi dan kelelahan, mobilitas, penyakit dan kondisi tidak fit, kualitas tidur dan kapasitas kerja.
Salah satu ciri-ciri lansia adalah emosional atau mudah tersinggung, mengalami regresi (tingkah laku mundur ke belakang seperti (anak kecil), manja, cengeng, mudah lupa, pikun, ilusi (salah tangkap) delusi (menganggap disekitarnya jelek) dan Neurasthenia (lelah, letih, sensitif terhadap suara, cahaya). Adanya kegiatan pengasuhan cucu dapat berpengaruh pada kondisi psikologis lansia. Berdasarkan data yang di dapat di lapang, lansia yang melakukan kegiatan pengasuhan cucu lebih sedikit menunjukkan ciri-ciri di atas. Penelitian ini mengukur psikologis lansia dengan komponen persepsi terhadap tubuh dan penampilan, perasaan negatif, perasaan positif, spiritual, ingatan dan harga diri.
Hubungan sosial merupakan komponen dalam WHOQOL yang menghitung tentang interaksi lansia dengan lingkungan tetangga, kerabat dan juga teman atau grup-grup sosial lainnya. Komponen yang dihitung pada penelitian ini antara lain hubungan interpersonal, dukungan sosial dan kegiatan sosial.
Sistem dukungan merupakan faktor-faktor external yang mendukung
kehidupan lansia. Penelitian ini menggunakan pengeluaran, Freedom, physical
safety dan security, pelayanan kesehatan dan sosial, rumah, lingkungan,
kesempatan untuk mendapatkan informasi dan keterampilan baru. Freedom,
physical safety dan security menggambarkan tingkat keamanan individu yang dapat memengaruhi kebebasan dirinya (Anbarasan 2015).
Hubungan Antara Status Pengasuhan dan Kesejahteraan Lansia
Status pengasuhan dan kesehatan fisik, kondisi psikologis, hubungan sosial, sistem dukungan dan kesejahtearaan lansia pada penelitian ini diuji hubungan
dengan menggunakan Rank-Spearman. Penelitian yang dilakukan pada 60 lansia
ini menghasilkan data yang menyebutkan bahwa terdapat hubungan nyata antara status pengasuhan dengan kesejahteraan lansia dengan koefisien -0,185 dan nilai
probabilitas 0,156. Hubungan tersebut rendah dan berbanding terbalik. Data tersebut menunjukkan bahwa lansia yang mengasuh cucu memiliki tingkat kesejahteraan lebih tinggi dibandingkan dengan lansia yang tidak mengasuh cucu. Hal tersebut menunjukkan jika rumah tangga lansia yang melakukan kegiatan pengasuhan cucu lebih sejahtera dibandingkan rumah tangga lansia yang tidak melakukan kegiatan pengasuhan.
Tabel 34 Hasil uji statistik antara status pengasuhan lansia dengan kesehatan fisik, psikologis, hubungan sosial, sistem dukungan dan kesejahteraan lansia di Desa Banjarsari tahun 2016
Aspek yang Diteliti Status Pengasuhan
Koefisien p-value Kesehatan Fisik 0,379 0,003 Psikologis -0,534 0,000 Hubungan Sosial -0,310 0,016 Sistem Dukungan -0,268 0,038 Kesejahteraan Lansia -0,185 0,156
Berdasarkan Tabel 34 dapat dilihat bahwa sebaran kesejahteraan lansia yang mengasuh cucu dan tidak mengasuh cucu tidak jauh berbeda namun lansia yang melakukan kegiatan pengasuhan cucu memiliki kecenderungan kesejahteraan yang lebih tinggi. Terdapat 34,3% lansia mengasuh cucu yang memiliki tingkat kesejahteraan tinggi, 60,0% lansia yang memiliki tingkat kesejahteraan sedang dan 5,7% yang memiliki tingkat kesejahteraan rendah. Terdapat 24,0% lansia yang tidak melakukan kegiatan pengsuhan cucu yang memiliki kesejahteraan tinggi, 56,0% yang memiliki tingkat kesejahteraan sedang dan 20,0% lansia memiliki tingkat kesejahteraan rendah.
Tabel 35 Jumlah dan persentase status pengasuhan lansia dan kesejahteraan lansia di Desa Banjarsari tahun 2016
Status Pengasuhan
Kesejahteraan Lansia
Total
Rendah Sedang Tinggi
n % n % n % N %
Mengasuh Cucu 2 5,7 21 60 12 34,3 35 100
Tidak Mengasuh Cucu
5 20,0 14 56 6 24,0 25 100
Sebaran kesejahteraan yang cenderung seragam tersebut terjadi karena pada komponen hubungan sosial dan sistem dukungan, kondisi lansia yang melakukan kegiatan pengasuhan cucu dan lansia yang tidak melakukan kegiatan pengasuhan cucu tidak jauh berbeda. Kondisi hubungan sosial warga yang menghormati lansia baik yang melakukan pengasuhan maupun tidak menimbulkan rasa aman dan nyaman bagi lansia. Bentuk hubungan sosial lainnya yaitu kebiasaan gotong royong dan saling membantu satu sama lain juga menjadi faktor-faktor yang menyebabkan hubungan sosial di daerah ini baik. Selain itu kondisi lingkungan dan fasilitas
kesehatan yang homogen juga turut mempengaruhi data terutama pada sistem dukungan.
Hasil penelitian ini selaras dengan hasil penelitian Wahyuni (2003). Penelitian tersebut menyebutkan alasan yang dipakai lansia untuk mengukur kesejahteraannya adalah keberhasilan anak dan cucu, kecukupan materi, dan ada yang merawat di hari tua. Alasan lansia yang tidak merasa sejahtera antara lain karena masih kekurangan, anak kurang perhatian dan sakit. Berdasarkan uraian tersebut dapat diketahui bahwa kesehatan fisik, kondisi psikologis, dukungan sosial dan sistem dukungan merupakan hal penting dalam menentukan kesejahteraan lansia. Lansia mengasuh cucu memiliki kesejahteraan lebih baik karena secara psikologis kondisinya lebih baik dengan kehadiran cucu dan juga akan semakin banyaknya perhatian dari anak. Selain itu sistem dukungan yang dimiliki oleh lansia yang mengasuh cucu juga lebih tinggi. Selain itu Sutikno (2011) juga menyebutkan bahwa fungsi keluarga yang baik yang meliputi bantuan, komunikasi, kasih sayang dan kebersamaan keluarga memiliki hubungan yang signifikan dengan kualitas hidup lansia. Hal tersebut menunjukkan bahwa lansia yang melakukan kegiatan pengasuhan memiliki tingkat kesejahteraan lebih baik juga dikarenakan oleh fungsi dan interaksi keluarga yang lebih baik.
Kesehatan Fisik
Status pengasuhan lansia memiliki hubungan nyata sedang dengan kondisi kesehatan dengan koefisien 0,379 dengan nilan probabilitas 0,003 (p < 0,05). Lansia mengasuh cucu memiliki nilai tertinggi sebesar 5,7% dan lansia yang tidak mengasuh cucu memiliki nilai 28% untuk kategori tinggi. Data tersebut menunjukkan lansia yang tidak mengasuh cucu memiliki kondisi kesehatan yang lebih baik dibandingkan dengan lansia yang mengasuh cucu.
Tabel 36 Jumlah dan persentase status pengasuhan lansia dan kondisi kesehatan fisik di Desa Banjarsari tahun 2016
Status Pengasuhan
Kesehatan Fisik
Total
Rendah Sedang Tinggi
n % n % n % N %
Mengasuh Cucu 20 57,1 13 37,1 2 5,7 35 100
Tidak Mengasuh Cucu
6 24,0 12 48,0 7 28,0 25 100
Lansia yang mengasuh cucu akan cenderung memiliki kondisi kesehatan lebih rendah dengan persentase 57,1%. Terdapat 37,1% lansia mengasuh cucu yang memiliki kondisi kesehatan sedang dan 5,7% lansia mengasuh cucu yang memiliki kondisi kesehatan tinggi. Hasil wawancara mendalam terhadap responden menemukan bahwa lansia yang mengasuh cucu memiliki kondisi fisik yang lebih rendah dibandingkan dengan lansia yang tidak mengasuh cucu. Lansia yang mengasuh cucu merasa cepat lelah dan juga tidak memiliki banyak waktu tidur. Kurangnya waktu istirahat bagi lansia bukan hanya menyebabkan lansia merasa
kurang memiliki energi tetapi juga menimbulkan penyakit seperti sakit pinggang dan kaki. Hal tersebut juga mempengaruhi lansia dalam melaksanakan kegiatan sehari-hari. Penelitian ini juga menemukan bahwa pada sebagian responden lansia yang mengasuh cucu telah mengalami beberapa gangguan kesehatan sebelum melakukan kegiatan pengasuhan.
Lansia yang tidak mengasuh cucu memiliki kondisi kesehatan yang lebih baik dibandingkan dengan lansia yang mengasuh cucu. Mayoritas lansia yang tidak mengasuh cucu memiliki kondisi kesehatan sedang dengan persentase 48,0%. Terdapat 24,0% lansia yang tidak mengasuh cucu memiliki kondisi kesehatan rendah dan 28,0% lansia yang tidak mengasuh cucu memilik kondisi kesehatan
tinggi.Lansia yang tidak melakukan kegiatan pengasuhan mengaku memiliki waktu
istirahat yang cukup dan juga memiliki waktu untuk melakukan kegiatan-kegiatan kegemarannya seperti memasak, bertani dan berolahraga bersama teman-teman. Namun walau lansia memiliki banyak waktu untuk beristirahat, lansia juga memiliki beberapa keluhan kesehatan seperti asam urat dan darah tinggi. Berdasarkan hasil wawancara, lansia yang telah hidup sendiri menyebutkan bahwa pola hidup tidak sehat seperti terlambat makan dan kurang bergerak atau olahraga menjadi alasan terkadang merasa sakit dan kehilangan energi.
Data yang didapatkan dari lapangan menyebutkan bahwa penyakit yang banyak dialami oleh lansia baik yang mengasuh cucu dan tidak mengsuh cucu adalah darah tinggi, asam urat, rematik dan diabetes. Data tersebut diperkuat dengan data dari Puskesmas Desa Banjarsari tahun 2015 yang menyebutkan bahwa gangguan kesehatan yang paling banyak diderita oleh lansia di wilayah tersebut adalah hipertensi dan rematik. Berdasarkan data Puskesmas terdapat 963 lansia dan pralansia yang melakukan pengobatan di puskesmas. Lansia di Desa Banjarsari dapat mengakses seluruh fasilitas kesehatan secara gratis di puskesmas. Berdasarkan penjelasan tersebut dapat diketahui bahwa kondisi kesehatan lansia baik yang mengasuh cucu maupun tidak mengasuh cucu sama namun adanya perbedaan waktu istirahat yang dimiliki lansia yang mengasuh cucu menyebabkan skor kesehatan lansia mengasuh cucu cenderung lebih rendah.
Data yang didapatkan di lapang menyebutkan bahwa mayoritas lansia perempuan memiliki kondisi kesehatan yang lebih baik dibandingkan dengan lansia laki-laki. Hal tersebut karena pada rumah tangga lansia, perempuan cenderung memiliki tugas pengasuhan baik bagi suami maupun bagi anggota rumah tangga lansia lainnya. Hal tersebut juga dapat menunjukkan penyebab lebih rendahnya kondisi kesehatan lansia yang melakukan kegiatan pengasuhan cucu. Kepala rumah tangga lansia yang melakukan kegiatan pengasuhan adalah laki-laki, sehingga hal tersebut juga dapat memengaruhi skor kesehatan fisik lansia. Keberadaan istri
sebagai able bodied yang menemani dan melakukan kegiatan pengasuhan memiliki
peran yang penting dalam rumah tangga. Data yang didapatkan di lapang menyebutkan bahwa dalam melakukan kegiatan pengasuhan, lansia laki-laki dan perempuan melakukan pembagian kerja dimana yang lebih banyak melakukan pengasuhan adalah lansia perempuan. Hal tersebut menunjukkan bahwa kegiatan pengasuhan tidak secara langsung menyebabkan menurunnya kondisi kesehatan lansia.
Layanan kesehatan diberikan setiap hari Kamis di minggu ketiga setiap bulan bagi lansia di posyandu lansia yang terdapat pada kantor Desa Banjarsari dan di masing-masing lingkungan di wilayah Desa Banjarsari. Layanan kesehatan yang
diberikan meliputi pemeriksaan kesehatan, konsultasi kesehatan dan pengobatan gratis sehingga seluruh lansia di Desa Banjarsari dapat menerima dan memanfaatkan fasilitas kesehatan dengan lebih mudah. Berdasarkan pemaparan tersebut dapat diketahui bahwa rendahnya skor kesehatan fisik yang dialami lansia di Desa Banjarsari bukan dikarenakan minimnya fasilitas kesehatan namun karena penyakit yang diderita sejak lama dan juga kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh lansia.
“Yang suka dateng kesini biasanya yang usianya 45 tahun ke atas dek. Keluahan paling banyak hipertensi sama rematik. Terus ada juga yang suka kesini itu keluhannya katarak, diabetes, saluran nafas. Biasanya mbah-mbah yang ngemong cucu juga suka ngeluh sakit pinggang terus capek gara-gara kurang tidur” (RM, 32 tahun)
Kondisi Psikologis
Hasil penelitian ini menunjukkan terdapat hubungan nyata moderat antara status pengasuhan cucu lansia dengan kondisi psikologis lansia dengan koefisien -0,534 dan nilai probabilitas 0,00. Artinya kegiatan pengasuhan cucu berpengaruh terhadap peningkatan kondisi psikologis lansia. Lansia yang melakukan kegiatan pengasuhan cucu memiliki kondisi psikologis lebih tinggi dibandingkan dengan lansia yang tidak melakukan kegiatan pengasuhan cucu. Terdapat 77,1% lansia yang mengasuh cucu dengan kondisi psikologis tinggi dan 24,0% lansia yang tidak mengasuh cucu dalam kategori tinggi.
Tabel 37 Jumlah dan persentase status pengasuhan lansia dengan kondisi psikologis di Desa Banjarsari tahun 2016
Status Pengasuhan
Kondisi Psikologis
Total
Rendah Sedang Tinggi
n % n % n % N %
Mengasuh Cucu 1 2,9 7 20 27 77,1 35 100
Tidak Mengasuh Cucu
5 20,0 14 56 6 24,1 25 100
Lansia yang melakukan kegiatan pengasuhan cucu memiliki kondisi psikologis lebih tinggi dibandingkan dengan lansia yang tidak melakukan kegiatan pengasuhan cucu. Terdapat 77,1% lansia yang mengasuh cucu dengan kondisi psikologis tinggi, 20,0% dengan kondisi psikologis sedang dan hanya 2,9% dengan kondisi psikologis rendah. Kondisi psikologis lansia yang mengasuh cucu lebih baik karena lansia yang melakukan kegiatan pengasuhan cucu tidak merasa kesepian dan masih memiliki tanggung jawab yang harus diselesaikan yaitu melihat cucu tumbuh dewasa dan sukses. Hal tersebut menyebabkan lansia memiliki perasaan positif dan cenderung menjauhi perasaan negatif karena terhibur dengan kehadiran cucu. Selain itu berdasarkan wawancara mendalam lansia menyebutkan bahwa kehadiran cucu memberikan semangat hidup baru bagi lansia. Artinya,
lansia merasa memiliki lingkungan baru dan merasa dapat mencurahkan perasaan kasih sayang dan perhatiannya terhadap cucu. Lansia juga memandang cucu sebagai harapan bagi keluarga lansia. Hal tersebut juga mendorong lansia untuk melaksanakan kegiatan-kegiatan positif yang membangun lansia dan juga keluarga. Kegiatan mengasuh cucu merupakan salah satu cara lansia untuk mengatasi Empty-Nest Syndrome. Empty-Nest Syndrome merupakan suatu kondisi saat lansia tidak lagi mengasuh anak karena anak telah tumbuh dewasa dan meninggalkan rumah (Newman dan Grauerrholz 2002). Tidak lagi terdapatnya kegiatan-kegiatan pengasuhan yang dilakukan lansia tersebut menimbulkan rasa kesepian dan
kehilangan bagi lansia. Empty-Nest Syndrome diatasi dengan melakukan kegiatan
pengasuhan kembali yaitu melakukan kegiatan pengasuhan cucu. Hal lain yang penting dalam melakukan kegiatan pengasuhan kembali yaitu dukungan dari pasangan. Dukungan dari pasangan merupakan salah satu faktor pendukung bagi kemampuan lansia secara psikologis untuk menjalani kegiatan pengasuhan cucu. Kehadiran cucu dalam kehidupan lansia juga merupakan hal bergengsi bagi lansia. Lansia akan merasa bangga akan kehadiran cucu dan akan cenderung membanggakan cucu kepada teman sebayanya.
Rata- rata responden yang tidak mengasuh cucu adalah janda cerai mati sehingga merasa semakin kesepian setelah tidak terdapat seseorang untuk berbagi cerita. Ketidakhadiran pasangan juga menjadi salah satu faktor yang menyebabkan lansia tidak melakukan kegiatan pengasuhan cucu. Dukungan pasangan baik secara fisik maupun psikologis merupakan salah satu faktor kuat bagi lansia untuk melakukan kegiatan pengasuhan tersebut. Hasil penelitian menunjukkan, bagi lansia yang tidak melakukan pengasuhan cucu dan memiliki status perkawinan janda, walaupun merasa kesepian dan rindu akan kehadiran pasangan lansia cenderung tidak ingin menikah lagi dan memilih untuk fokus beribadah dan mengatakan bahwa siap untuk meninggal kapan saja. Hal tersebut terjadi karena bagi lansia yang tidak mengasuh cucu merasa bahwa tugasnya yang menyangkut duniawi telah diselesaikan.
“Iyo gedigu wes nduk kadung dewekan keroso –roso, nang umah iling apake lare, yo iling putu, pengen kumpul tapi yo kelendi yuh, isun sing gelem dadi repote anak-anak pisan. Yo arane wong wes tuwek ro mesti
ngerepotaken tah” (MK, 90 tahun)
(Ya begitu itu nduk kalau sendirian merasa sedih, di rumah ingat bapaknya anak-anak, ya ingat cucu, ingin kumpul tapi ya bagaimana ya, saya tidak ingin menjadi beban anak-anak juga. Ya namanya orang tua pasti nanti merepotkan(kalau tinggal bersama))
Hubungan Sosial
Lansia yang mengasuh cucu memiliki kondisi hubungan sosial yang lebih
baik dibandingkan dengan lansia yang tidak mengasuh cucu. Uji Rank Spearman
menunjukkan terdapat hubungan nyata yang rendah dengan koefisien -0,310 dan nilai probabilitas 0,016. Berdasarkan uji hubungan tersebut dapat diketahui pula kegiatan pengasuhan cucu berpengaruh terhadap peningkatan hubungan sosial lansia. Lansia yang melakukan kegiatan pengasuhan cucu memiliki tingkat
hubungan sosial tinggi yaitu 57,1% sedangkan bagi lansia yang tidak melakukan kegiatan pengasuhan cucu, kondisi hubungan sosial cenderung lebih rendah, hanya terdapat 32,0% lansia yang memiliki kondisi hubungan sosial tinggi.
Tabel 38 Jumlah dan persentase status pengasuhan lansia dan hubungan sosial di Desa Banjarsari tahun 2016
Status Pengasuhan
Hubungan Sosial
Total
Rendah Sedang Tinggi
n % n % n % N %
Mengasuh Cucu 2 5,7 13 37,1 20 57,1 35 100
Tidak Mengasuh Cucu
7 28,0 10 40,0 6 32,0 25 100
Lansia yang melakukan kegiatan pengasuhan cucu mayoritas memiliki tingkat hubungan sosial tinggi yaitu 57,1%, kondisi sedang mencapai 37,1% dan rendah 5,7%. Lansia yang melakukan kegiatan pengasuhan cucu lebih banyak mengikuti kegiatan-kegiatan sosial seperti posyandu bagi balita yang dilaksanakan setiap hari Selasa minggu kedua setiap bulannya, selain itu kegiatan-kegiatan di sekolah cucu juga turut mendukung lansia melakukan kegiatan sosial lebih banyak.
Kegiatan –kegiatan sosial ini dilakukan sebagai sarana lansia untuk berbagi kepada
teman dan juga kerabat mengenai hal-hal yang diperlukan dalam pengasuhan cucu
juga sebagai sarana bagi lansia untuk dapat diterima oleh masyarakat. Kegiatan –
kegiatan sosial yang dilakukan oleh lansia selain kegiatan posyandu dan pengajian yaitu berkumpul di depan rumah bagi lansia wanita. Hal ini dilakukan sembari mengawasi atau menemani cucu bermain. Kegiatan-kegiatan tersebut akhirnya mendorong lansia untuk memiliki hubungan yang harmonis dengan lingkungan di sekitarnya dan lansia merasa memiliki dukungan yang kuat dari lingkungannya.
Kondisi hubungan sosial lansia yang tidak melakukan kegiatan pengasuhan cucu cenderung lebih rendah. 40,0% lansia dengan hubungan sosial sedang, hanya terdapat 32,0% lansia yang memiliki kondisi hubungan sosial tinggi dan 28,0% memiliki hubungan sosial rendah. Lansia yang tidak mengasuh cucu memiliki intesitas kegiatan sosial yang lebih rendah jika dibandingkan dengan lansia yang melakukan kegiatan pengasuhan cucu. Selain itu lansia yang tidak melakukan kegiatan pengasuhan cucu memiliki rekan atau kenalan dengan usia yang tidak jauh berbeda sehingga menyebabkan lansia merasa tidak mendapatkan dukungan yang cukup dari lingkungan sekitar. Hal ini dapat terjadi karena intensitas berkumpul dan interaksi lansia dengan lingkungan dengan umur yang berbeda cukup rendah. Kegiatan sosial yang biasa dilakukan oleh lansia yang tidak mengasuh cucu antara lain pengajian dan juga kelompok lansia Desa Banjarsari atau PWRI.
Perbedaan tingkat hubungan sosial yang terdapat pada lansia yang melakukan kegiatan pengasuhan cucu dan tidak melakukan pengasuahan cucu terjadi karena lansia yang melakukan kegiatan pengasuhan cucu lebih banyak mengikuti kegiatan-kegiatan sosial seperti posyandu bagi balita yang dilaksanakan
setiap hari Selasa minggu kedua setiap bulannya, selain itu kegiatan –kegiatan di
sekolah cucu juga turut mendukung lansia melakukan kegiatan sosial lebih banyak dibandingkan dengan lansia yang tidak melakukan kegiatan pengasuhan cucu.
Tingginya tingkat hubungan sosial lansia yang melakukan kegiatan pengasuhan cucu juga dikarenakan kegiatan pengasuhan cucu di pedesaan di Indonesia dan juga di Desa Banjarsari dilakukan bersama-sama dengan penduduk desa lainnya. Tingkat kepercayaan yang tinggi dan juga rasa kebersamaan antar warga desa menyebabkan kegiatan-kegiatan pengasuhan dapat dijalankan bersama- sama. Kebersamaan tersebut dapat dilihat bahwa dalam fungsi pengawasan cucu bahkan dalam memberikan pendidikan mengenai nilai. Hal-hal lain yang biasa dilakukan bersama-sama yaitu memberi makan cucu, mengantar atau jemput saat pulang sekolah atau mengaji. Hal tersebut menyebabkan pengasuhan cucu menjadi salah satu faktor bagi lansia untuk tetap bersosialisasi di lingkungan sekitarnya.
Rata- rata lansia di Desa Banjarsari mengikuti kegiatan keagamaan seperti pengajian sebagai sarana untuk berkumpul. Kegiatan sosial lain yang banyak diikuti lansia adalah arisan. Selain itu terdapat pula kelompok lansia di Desa tersebut. Kelompok lansia PWRI merupakan salah satu kelompok lansia yang aktif melakukan kegiatan-kegiatan di Desa Banjarsari. Kelompok ini dipimpin oleh Bapak Supmo dan telah beranggotakan 149 orang. Bapak Supmo mengatakan bahwa kegiatan-kegiatan yang terdapat di PWRI ditujukan bagi lansia di Desa Banjarsari sehingga diharapkan lansia di wilayah ini memilki wadah untuk berkumpul, berbagi cerita dan juga berkegiatan yang bermanfaat.
Hubungan sosial antar warga di Desa ini dapat dikategorikan baik. Dukungan sosial bagi lansia banyak diberikan oleh warga yang lebih muda. Kebiasaan untuk saling memberi bahan makanan dan juga keperluan lansia di desa masih dipegang teguh oleh masyarakat. Hal tersebut akhirnya mendorong para lansia untuk tetap menjalin hubungan yang dekat dan hangat dengan warga sekitar.
Sistem Dukungan
Sistem dukungan merupakan faktor-faktor external yang mendukung
kehidupan lansia. Penelitian ini menggunakan pengeluaran, Freedom, physical
safety dan security, pelayanan kesehatan dan sosial, rumah, lingkungan, kesempatan untuk mendapatkan informasi dan keterampilan baru. Sistem dukungan
merupakan bagian dari salah satu domain dalam WHOQOL yaitu environment.
Freedom, physical safety dan security menggambarkan tingkat keamanan individu yang dapat memengaruhi kebebasan dirinya (Anbarasan 2015).
Penelitian di lapang menunjukkan bahwa keadaan lingkungan di Desa Banjarsari baik, kondisi lingkungan meliputi kondisi air, udara dan lingkungan sekitar. Kondisi air baik untuk konsumsi dan keperluan pertaniah melimpah juga jernih. Selain itu udara segar di Desa Banjarsari, tidak terdapat perbedaan antar daerah di dalam desa tersebut. Di desa tersebut tidak ditemui sampah yang menumpuk juga kemacetan serta kebisingan. Seluruh warga di desa ini memiliki akses kesehatan gratis dengan fasilitas yang baik sehingga komponen pelayanan kesehatan dan sosial tidak menjadi pembeda dalam sistem dukungan. Perbedaan sistem dukungan antara lansia yang mengasuh cucu dengan lansia yang tidak mengasuh cucu terdapat pada komponen pengeluaran, kesempatan untuk
mendapatkan informasi dan keterampilan baru, rumah dan Freedom, physical safety
Terdapat hubungan nyata antara status pengasuhan dan sistem dukungan