• Tidak ada hasil yang ditemukan

Status dan Strategi Tema Lintas-sektor

Kegiatan Manajemen Proyek (400)

3.2 Misi Kunjungan Lapangan

3.3.5 Status dan Strategi Tema Lintas-sektor

Meningkatkan Pengarusutamaan Gender dari Berbagai Perspektif

BASICS telah membuat kemajuan baik dalam mempromosikan pentingnya penyusunan rencana pembangunan dan penyusunan anggaran yang responsif gender. Dalam dua tahun sejak Proyek ini diadakan, telah terjadi peningkatan kesadaran dan komitmen yang nyata untuk pengarusutamaan gender di kalangan instansi pemerintah provinsi dan mitra kerja legislatif.

Kesadaran dan minat di kalangan anggota OMS juga meningkat.

BASICS terus menerapkan strategi terpadu pengarusutamaan gender Proyek secara multi-cabang. Aspek utama dari strategi ini akan terus melibatkan:

pemberdayaan perempuan, yang masih diperlukan karena kondisi dan status pejabat eksekutif dan perwakilan legislatif perempuan tetap rendah dibandingkan lawan mitra laki-laki mereka;

pertimbangan kesetaraan gender selama perencanaan dan pelaksanaan semua intervensi proyek, termasuk pengkajian semua kerangka acuan dan rencana kegiatan pengembangan kapasitas oleh Penasehat Kesetaraan Gender Proyek;

sosialisasi/promosi kebutuhan data berdasarkan jenis kelamin sebagai masukan wajib dalam semua proses/upaya perencanaan dan penyusunan anggaran;

pelatihan pada analisis pengembangan anggaran kesehatan dan pendidikan dari perspektif gender responsif untuk pemangku utama eksekutif, legislatif dan masyarakat sipil;

upaya khusus untuk memperkuat kemampuan Badan Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana (BPPKB) agar lebih mampu memenuhi mandatnya dalam memastikan bahwa masalah gender diarusutamakan pada semua proses perencanaan dan penyusunan anggaran dan untuk memfasilitasi koordinasi dan advokasi atas nama inisiatif kesetaraan gender;

melakukan penelitian dan studi pada bidang pelayanan yang tidak memberi pengaruh pada pemberdayaan perempuan secara proporsional atau kurang melayani perempuan, anak perempuan atau anak laki-laki; dan

mengarusutamakan pertimbangan gender dalam manajemen BASICS (prosedur, kebijakan, perekrutan) dan di semua inisiatif pengembangan kapasitas (di kedua Komponen I dan II).

Status terkini dari upaya pengarusutamaan gender BASICS diringkas di bawah ini.

Status Pengarusutamaan Gender di Komponen I

Badan Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana (BPPKB)

Di Sulawesi Tengara (Sultra), BPPKB Kab. Butur dan Konsel adalah SKPD pertama pada masing-masing kabupatennya yang mengembangkan rencana strategis (RENSTRA), ini merupakan suatu prestasi yang diakui oleh SKPD lainnya, termasuk BAPPEDA. Di Butur, pimpinan dan semua pegawai BPPKB mengembangkan RENSTRA mereka secara partisipatif.

Ini adalah RENSTRA yang pertama sejak BPPKB Butur didirikan. RENSTRA mereka menjadi

model untuk SKPD lainnya di Butur. Meskipun RENSTRA BPPKB Konsel tidak secara substantif sama kualitasnya dengan yang di Butur, namun tetap patut dicatat bahwa penyusunannya difasilitasi oleh BPPKB Sultra. BASICS mendukung BPPKB provinsi untuk lebih efektif berperan sebagai pengawas dan penasehat terhadap BPPKB kabupaten/kota.

Di Sulawesi Utara(Sulut), rencana bantuan kepada BPPKB Minut dan Bitung tidak dapat dilaksanakan karena masalah waktu dan situasi politik. PILKADA berlangsung pada bulan Oktober di Minut dan Desember di Bitung. Di Minut hasil pemilu disengketakan, menyebabkan keterlambatan dalam mengumumkan pemenangnya.

Sumberdaya manusia di BPPKB kabupaten/kota sangat bervariasi. Kemampuan personil BPPKB di kabupaten/kota Sulut pada umumnya lebih kuat daripada yang ada di kabupaten/kota Sultra. Peluang untuk kerjasama secara konstruktif dengan kedua BPPKB provinsi tampak sangat menjanjikan karena diangkatnya dua pimpinan baru, keduanya sangat berpikiran reformis dan bersemangat untuk meningkatkan kapasitas BPPKB mereka dan mendorong perencanaan dan penyusunan anggaran yang responsif gender. Ini akan memerlukan pengkuatan kapasitas yang masih terbatas dari personil BPPKB provinsi di bidang teknis.

Kepala BPPKB Sultra yang baru sebelumnya adalah Sekretaris BAPPEDA dan dengan demikian sangat terbiasa dengan tujuan BASICS dan memiliki pemahaman yang kuat mengenai proses perencanaan dan penyusunan anggaran.

Sultra sedang menyusun konsep peraturan daerah (Perda) tentang pengarusutamaan gender.

Inisiatif ini dipelopori oleh instansi pemerintah. Sementara pemahaman mengenai pengarusutamaan gender telah membaik, namun secara umum belum dibentuk suatu Kelompok Kerja Gender kabupaten/kota, yang merupakan suatu mekanisme penting dalam pelaksanaan penngarusutamaan gender. Sitaro merupakan suatu kasus yang menarik. Konsep Surat Keputusan (SK) telah dibuat yang mengamanatkan pembentukan Kelompok Kerja Gender (GWG) and suatu tim telah dibentuk untuk mendirikan GWG. Komitmen ini merupakan hasil dari pelatihan BPPKB di Manado. Ketika BAPPEDA Sitaro menerima laporan lokakarya tersebut, mereka menindak lanjutinya dengan memulai membentuk Kelompok Kerja Gender tersebut.

Bidang Pemerintahan (Legislatif)

Pembangunan kapasitas pengarusutamaan gender untuk instansi pemerintah (eksekutif) sebagian besar dilakukan melalui pelatihan dan penyediaan bantuan dalam penyusunan RPJMD. Di Butur, BASICS membantu BAPPEDA untuk mengkaji RPJMD. Kemajuan telah terbukti di berbagai garis depan, dengan mempertimbangkan data dasar (baseline) pada awal pelaksanaan BASICS. Kesadaran gender di SKPD telah meningkat. BAPPEDA telah mengikut-sertakan BPPKB di dalam mengembangkan dan mengkaji strategi untuk inisiatif BASICS.

Pengumpulan data SPM diarahkan pada data yang berdasarkan jenis kelamin. Akan tetapi di beberapa kabupaten/kota, masih banyak yang harus dilakukan untuk meyakinkan SKPD, khususnya BAPPEDA agar mengarusutamakan gender. BAPPEDA Sitaro sudah responsif, di BPPKB dan BAPPEDA Bitung masih harus diperjuangkan, walaupun memiliki sumberdaya manusia yang bagus. Dengan alasan ini, BPPKB dan BAPPEDA Bitung telah meminta BASICS untuk membantu memperkuat kapasitas BPPKB dan untuk membangun pemahaman dasar atas kebijakan dan praktik responsif gender di antara eselon II pemangku kepentingan eksekutif utama. Permasalahan sumberdaya manusia dan kesadaran di Minut, Wakatobi, Kolut dan Konsel memunculkan suatu tantangan yang harus dihadapi BASICS. Di Bau Bau, BAPPEDA memberikan kesempatan bagi BASICS untuk mempresentasikan penyusunan anggaran

responsif gender dalam suatu pertemuan di mana semua perencana sedang mengembangkan dan mengkaji Rencana Kerja Anggaran.

Pemangku-kepentingan Eksekutif (Pemerintah)

Pengembangan Kapasitas di bidang pengarusutamaan gender untuk para aparat pemerintah (eksekutif) mencakup pelatihan dan pemberian bantuan untuk memperkuat RPJMD tingkat kabupaten/kota. Di Butur, BASICS membantu BAPPEDA mengkaji RPJMD dari perspektif TPM/SPM/responsif gender. Upaya besar lainnya dipusatkan pada penguatan kemampuan unit BPPKB melaksanakan mandatnya dalam hal memastikan agar pengarusutamaan gender lintas proses dimasukkan dalam perencanaan, anggaran dan layanan di tingkat kabupaten/kota.

Sudah terlihat kemajuan pada berbagai aspek jika dibandingkan dengan data dasar saat awal BASICS diimplementasi. Kesadaran terhadap masalah gender pada berbagai instansi sudah membaik sebagaimana terbukti dengan Kegiatan yang diminati oleh instansi yang terkait di tingkat kabupaten/kota, termasuk diselesaikannya penilaian sendiri masalah gender yang menggunakan Formulir Evaluasi Pelaksanaan Pengarusutamaan Gender yang sudah dimandatkan secara nasional. Hal ini mensyaratkan semua SKPD mengkaji berbagai dimensi dari pengarusutamaan gender, dari mekanisme lembaga hingga mengintegrasikan masalah gender ke dalam program. Selain itu, hampir semua mitra kerja dari kabupaten/kota yang ikut serta dalam proyek BASICS telah menyiapkan Strategi Perbaikan Layanan bidang Kesehatan dan Pendidikan yang dibiayai oleh BRI yang mencakup analisis gender dan, di Sultra, dilakukan kajian mengenai angka kematian bayi dan ibu. Di Bau-Bau, BASICS mengambil kesempatan yang diberikan oleh BAPPEDA untuk mempresentasikan penganggaran yang responsif gender dalam suatu pertemuan di mana semua perencana sedang menyusun dan mengkaji RKA.

BAPPEDA Kabupaten/kota dan provinsi sudah melibatkan BPPKB daerah dalam kegiatan menyusun dan mengkaji strategi untuk program BASICS. Sebagai contoh, upaya penghimpunan data SPM telah mengutamakan adanya kewajiban mencatat data jenis kelamin dan analisis guna mendukung pelaksanaan layanan yang lebih baik. Meskipun sudah banyak perempuan yang berpartisipasi dalam pelatihan BASICS, namun masih banyak yang harus dilakukan dengan unit-unit instansi di daerah terutama dengan BAPPEDA, agar dapat menggambarkan dan mengangkat prinsip bahwa masalah pengarusutamaan gender bukanlah hanya sekedar meningkatkan jumlah peserta perempuan dalam pelatihan, tetapi lebih pada kesadaran para staff terhadap masalah gender dalam merencanakan layanan publik sehingga dalam proses perencanaan dan penyusunan anggaran mempertimbangkan kondisi sosial, ekonomi dan budaya yang mempengaruhi para perempuan dewasa dan muda serta para lelaki dewasa maupun muda memiliki akses dan memperoleh manfaat dari layanan yang mereka butuhkan dan yang merupakan hak mereka.

BAPPEDA Sitaro merupakan Bappeda yang responsif, namun meskipun sumber daya manusia pada Bappeda itu sudah kuat, masih banyak pekerjaan yang perlu dilakukan untuk memperkuat pengarusutan gender di Bitung. Oleh karena itu, BPPKB dan BAPPEDA Bitung telah mengajukan permohonan kepada BASICS untuk membantu memperkuat kemampuan BPPKB dan membangun suatu pemahaman dasar mengenai masalah kebijakan dan praktik di antara kalangan eselon II pemangku-kepentingan pemerintah melalui RKT 2011 sub-Kegiatan 114.1.5 Bantuan Tehnis guna mendukung persiapan RENSTRA BPPKB di beberapa kabupaten/kota yang terpilih. Di Minut, Wakatobi, Kolaka Utara dan Konsel masalah sumber daya manusia dan masalah kesadaran gender merupakan tantangan yang akan dihadapi BASICS dengan cara meningkatkan upaya monitoring dan pembimbingan masalah yang terkait pengarusutamaan gender di kabupaten-kabupaten.

Pemangku-kepentingan legislatif

Pengembangan kapasitas mengenai pengarusutamaan gender bagi anggota DPRD dilakukan dengan materi yang sesuai kebutuhan disertai pembimbingan, yang terutama dipusatkan pada analisis dokumen anggaran yang sensitif gender di tingkat kabupaten/kota seperti KUA-PPAS, APBD dan P-APBD. Kepekaan terhadap masalah gender telah meningkat pada hampir semua angota DPRD, terutama para anggota perempuan. Di Minahasa Utara, setelah pelatihan analisis APBD yang difasilitasi oleh BASICS, alokasi anggaran untuk BPPKB pada perubahan APBD tengah tahunan telah ditingkatkan sebagai akibat dari inisiatif anggota DPRD perempuan. Di Bitung, suatu alokasi khusus diberikan untuk P-APBD 2010 guna menambah dana untuk program-program yang dipusatkan untuk perbaikan gizi perempuan hamil.

Pemangku-kepentingan Masyarakat Sipil:

Meningkatnya keterlibatan perempuan (baik secara individu ataupun sebagai wakil dari suatu organisasi di mana mereka menjadi anggota) yang secara aktif bekerja/memberi advokasi mengenai kesetaraan gender memang diperlukan dalam membangun kemampuan OMS.

Selain itu, merupakan suatu hal yang penting pula bahwa semua manajer OMS mampu menerapkan perspektif gender dalam analisis anggaran daerahnya. Penyusunan anggaran yang responsif terhadap masalah gender telah dimasukkan dalam materi analisis anggaran bagi para OMS dan banyak dari mereka yang telah mendapat kesempatan untuk menerapkan ketrampilan ini dalam lokakarya BASICS bersama Pemerintah. Sejauh ini dampak dari kegiatan ini masih belum terlihat jelas mengingat laporan analisis anggaran belum diserahkan sehingga Penasehat Kesetaraan Gender belum dapat mengambil kesimpulan apakah analisis angggaran telah lebih responsif gender.

Status Pengarusutamaan Gender pada BRI (Komponen II)

Masalah gender telah diarusutamakan dalam proses BRI, terutama di kabupaten-kabupaten di mana BPPKB nya telah bekerja secara efektif. Sebagai contoh di Kabupaten Sangihe terdapat suatu kesepakatan bahwa Pengarus-utamaan Gender (GM) harus dimasukkan dalam semua pelatihan yang didukung oleh BRI. BASICS telah mengembangkan dan menyebarkan suatu modul yang membantu memastikan agar kesetaraan gender dimasukkan dalam Strategi Perbaikan Layanan BRI (SIS) berikut Kerangka Acuannya untuk tiap SIS. Monitoring dan pembimbingan dimungkinkan karena terdapat wakil lembaga BPPKB daerah ikut duduk di dalam Komite Koordinasi Kabupaten (DCC) pada tiap kabupaten/kota. Anggota DCC diberikan mandat untuk mengkaji catatan pada konsep dan usulan SIS BRI dari perspektif gender.

Sejalan dengan hal itu, wakil dari BPPKB provinsi ikut duduk dalam Komite Koordinasi Provinsi pada tiap provinsi yang membantu memastikan bahwa kesetaraan gender tercermin pada semua kegiatan BRI. Penasehat Gender BASICS memberikan dukungan dan “backstopping”.

Penyedia Pelayanan Kesetaraan Gender

Di tahun 2010 tiga Penyedia Pelayanan Kesetaraan Gender dikontrak oleh proyek dan memberi kontribusi penting kepada kegiatan pengarusutamaan gender BASICS. Diusulkan untuk memperpanjang fasilitas ini di 2011 baik untuk membantu perluasan kisaran kebutuhan terkait BRI maupun pembangunan kapasitas untuk pemangku kepentingan eksekutif, legislatif dan OMS. Tahun ini, BASICS juga akan meningkatkan perhatian terhadap pembangunan kapasitas pemerintah provinsi, terutama pada penguatan kemampuan mereka untuk memantau/memonitor dan memberi nasehat kepada pemerintah kabupaten/kota.

Dengan tingginya permintaan ini, Penyedia Pelayanan Kesetaraan Gender akan memberikan dukungan penting untuk Penasehat kesetaraan Gender dalam menyediakan bantuan pelayanan teknis untuk melaksanakan semua kegiatan BASICS.

Kepekaan Gender di antara para anggota Tim Proyek:

Kesadaran, pengetahuan dan komitmen dari Tim BASICS terhadap pengarusutamaan gender telah meningkat. Identifikasi masalah gender dan usulan mengenai integrasi gender banyak berasal dari anggota tim, yang telah menerima pelatihan mengenai isu gender yang dilatih oleh Penasehat Kesetaraan Gender. Selain itu, materi untuk mendukung pengarusutamaan gender telah disusun bersama. Sebagai contoh: materi untuk merancang dan advokasi anggaran yang responsif gender; bagaimana menganalisis anggaran dari perspektif gender; dan suatu modul untuk memasukkan isu gender dalam penyusunan dan pengkajian konsep makalah BRI.

Tantangan bagi Pengarusutamaan Gender pada tahun 2011

Beberapa “pelopor” pengarusutamaan gender yang telah memiliki kesadaran yang sangat baik tentang isu gender dipindahkan ke lokasi lain atau diberi tanggung jawab tugas lain.

Tantangannya adalah bagaimana mengganti sumber daya penting ini dan bagaimana melanjutkan bekerja untuk membangun suatu kekuatan masa yang memiliki komitmen dan kemampuan dalam hal kesetaraan gender. Situasi politik dapat juga menjadi tantangan, terutama di mana terjadi pergeseran komitmen dari para pemimpin di kota/kabupaten. Banyak Kepala BPPKB kabupaten/kota sudah mendekati masa pensiun, demikian pula beberapa staf tama mereka. Kecenderungan ini telah menekan motivasi dan kinerja BPPKB.

Komunikasi internal dan eksternal serta informasi mengenai pengarus-utamaan gender perlu diperbaiki, terutama pada Komponen II (BRI). Masih terus perlu dipromosikan secara aktif masalah pengarus-utamaan gender. Guna menjaga momentum yang baik ini, maka sangatlah penting untuk secara berkala mencatat dan mengkomunikasi kemajuan yang telah dicapai dan memutakhirkan pendekatan yang diterapkan.

Pemahaman yang salah dan pemahaman yang terlalu disederhanakan mengenai pengarus-utamaan gender dalam konteks TPM/SPM masih banyak ditemukan di kalangan pemangku-kepentingan, bahkan di dalam Tim BASICS sendiri, dan ini perlu diatasi. Konsep kesetaraan gender yang terlalu disederhanakan dapat berupa penolakan untuk mengeluarkan pernyataan yang eksplisit tentang masalah gender atau penolakan menggunakan perangkat alat analisis gender, karena mereka beranggapan bahwa masalah gender sudah dimasukkan dalam TPM (No. 3) atau SPM. Mereka tidak memahami bahwa perhatian manajemen yang hanya pada satu TPM saja atau hanya pada satu perangkat indikator SPM mengenai kesehatan reproduksi perempuan adalah tidak cukup untuk mendeteksi dan menutup kesenjangan gender, dan pengarus-utamaan gender lebih membutuhkan integrasi perhatian pada masalah gender berdasarkan pemahaman dan analisis yang kuat.

Dokumen terkait