LAPORAN KEMAJUAN TAHUNAN
(01 JANUARI – 31 DESEMBER 2010)
Diseragkan kepada:
Canadian International Development Agency (CIDA) and Ministry of Home Affairs (KEMENDAGRI ), Indonesia Diserahkan oleh:
Cowater International Inc.
Mei 2011
Better Approaches to Service Provision
through Increased Capacities in Sulawesi
DAFTAR ISI
Ringkasan Eksekutif ... iv
1.0 KATA PENGANTAR DAN LATAR BELAKANG ... 1-8 1.1 Kata Pengantar ... 1-8 1.2 Latar Belakang ... 1-8 2.0 HASIL YANG DIHARAPKAN DAN MODEL LOGIKA ... 2-9 3.0 KEMAJUAN & HASIL KEGIATAN YANG DIRENCANAKAN ... 3-1 3.1 Manajemen Proyek ... 3-48 3.2 Misi Kunjungan Lapangan ... 3-54 3.3 Tema Teknis Lintas dan Pertimbangan-Pertimbangan ... 3-57 3.3.1 Meningkatkan Relevansi dan Sinergi dengan Pemerintah ... 3-57 3.3.2 BRI – Strategi Peningkatan Pelayanan Kesehatan dan Pendidikan... 3-58 3.3.3 Peningkatan Integrasi dari Inti Pembangunan Kapasitas dan Upaya BRI ... 3-58 3.3.4 Mewujudkan Komitmen Jakarta menjadi Tindakan Nyata ... 3-59 3.3.5 Status dan Strategi Tema Lintas-sektor ... 3-60 3.3.6 Mempromosikan Pengelolaan Lingkungan yang Baik ... 3-64 3.3.7 Anti Korupsi ... 3-65 3.3.8 Manajemen Pengetahuan ... 3-65 3.3.9 Strategi untuk berbagi dan menyebarkan Pengetahuan ... 3-66 3.4 Strategi Risiko dan Mitigasi Risiko ... 3-67 4.0 JADWAL KEGIATAN UNTUK TAHUN 2010 ... 4-1 5.0 MASALAH-MASALAH YANG PERLU DITANGANI CIDA/TIM PENGARAH PROYEK ... 5-1 6.0 HARMONISASI DAN SINERGI DENGAN PROGRAM PEMBANGUNAN LAINNYA ... 6-1 7.0 RANGKUMAN BIAYA PROYEK ... 7-1
Daftar Isi
Table 2.1: Model Logika BASICS ... 2-11 Table 3.1:Daftar Risiko Investasi (Maret 2010)) ... 3-67 Daftar Gambar:
Gambar 3.1: Peran dan tanggung jawab dari pemangku kepentingan eksekutif kabupaten/kota dalam koordinasi dan pelaksanaan dari BRI ... 3-34 Daftar Lampiran
Lampiran A: Bagan Organisasi BASICS
Lampiran B: Bagan Manajemen Proyek BASICS
Lampiran C: Ringkasan Strategi Peningkatan Pelayanan BRI Lampiran D: Pembelajaran Berdasarkan Tema Hingga Kini Lampiran E: Peta Proyek BASICS
Lampiran F: Status Pencapaian Sasaran TPM/SPM terpilih oleh Kabupaten/Kota Lampiran G: Status Pencapaian Sasaran PMF (31 Desember 2010)
Lampiran H: Kerangka Kerja Penilaian Kinerja (31 Januari 2010)
RINGKASAN EKSEKUTIF
Laporan tahunan ini, yang mencakup periode 1 Januari – 31 Desember 2010, adalah laporan kemajuan yang ke-empat mengenai Proyek BASICS dan merupakan Laporan Tahunan yang kedua.
Secara keseluruhan, Proyek telah mencapai kemajuan yang cukup baik selama 2010 dan telah mengembangkan momentum yang sangat baik. Karena terdapat tantangan yang berkaitan dengan perancangan dan pelaksanaan program pengembangan kapasitas yang bertahap dan disesuaikan dengan keadaan setempat di seluruh lokasi yang tersebar secara geografis, maka pelaksanaan kegiatan teknis – yaitu paket pengembangan kapasitas 100, 200 dan 300 – yang pada awalnya agak sedikit lambat, namun kemudian mulai bangkit momentumnya pada akhir triwulan kedua. Laju pelaksanaan kegiatan pengembangan kapasitas selama Triwulan 3 dan Triwulan 4 sangat baik dengan peningkatan koherensi secara tematik dan peningkatkan kerjasama antar multi pemangku-kepentingan.
Sejumlah besar program pengembangan kapasitas yang difokuskan pada peningkatan pengetahuan dan keterampilan dari para pemangku kepentingan pihak eksekutif (pemerintah) dan pihak egislatif di tingkat kabupaten/kota telah dilaksanakan. Program ini meliputi pengembangan kapasitas dalam menyusan rencana, anggaran dan mengelola layanan kesehatan dan pendidikan yang responsif terhadap masalah gender yang berbasis TPM/SPM.
Terdapat satu program utama (kunci) yang difokuskan pada pelatihan dan pembinaan dalam melakukan analisis rencana dan anggaran tahunan kabupaten/kota (APBD) untuk menilai sejauh mana dokumen penting ini memfasilitasi pelaksanaan pelayanan kesehatan dan pendidikan berdasarkan TPM/SPM yang responsive gender. Bantuan teknis penting ini, yang menyediakan landasan pengetahuan dan keterampilan analitis penting, telah diberikan kepada ratusan Eksekutif, Legislatif dan perwakilan masyarakat sipil di semua kabupaten dan kota yang ikut serta. Kegiatan besar lainnya yang mendapat dukungan BASICS adalah termasuk program perbaikan sistem data kesehatan dan pendidikan, yang telah dilakukan di semua 10 kabupaten/kota dengan memberikan dasar bagi perencanaan dan penyusunan anggaran pelayanan kesehatan dan pendidikan yang lebih rasional dan strategis. Kegiatan yang ambisius ini memfasilitasi kolaborasi dan kerjasama yang baik antara pejabat eksekutif tingkat provinsi dan kabupaten dari BAPPEDA, Kantor Dinas Kesehatan, Pendidikan Pemberdayaan Perempuan dan (BPPKB) dan instansi lainnya. Program besar lainnya termasuk perancangan dan pelaksanaan penelitian kolaboratif tentang kesehatan perempuan dan anak-anak di lima kabupaten/kota di Sulawesi Tenggara dan upaya untuk memperkuat kapasitas BPPKB kabupaten/kota yang memungkinan mereka memenuhi wewenang pengarusutamaan gender yang diberikan kepada mereka.
Tim BASICS bekerjasama secara intensif dengan mitra provinsi dan kabupaten/kota untuk membentuk, mengarahkan dan melatih dua Komite Koordinasi Provinsi, dua Sub-komite BRI Provinsi (dan Satuan Tugas Kesehatan dan Pendidikan) guna mengembangkan 10 Komite Koordinasi Kabupaten. Landasan yang kuat ini memungkinkan Tim proyek untuk bekerjasama dengan pemangku kepentingan tingkat nasional, provinsi dan kabupaten/kota dalam merancang 10 Strategi Peningkatan Pelayanan Kesehatan tiga tahun dan 10 Strategi Peningkatan Pelayanan Pendidikan tiga tahun yang akan didanai di bawah komponen BRI dari 2011 – 2013. Pendekatan kolaboraif terhadap perencanaan pelayanan kesehatan dan pendidikan berbasis TPM/SPM yang dikembangkan oleh pemangku kepentingan proyek, telah
diterima dengan sangat baik oleh BAPPENAS, Kementerian Kesehatan, Kementerian Pendidikan Nasional dan oleh pemerintah Sulawesi Utara dan Sulawesi Tenggara.
Dalam mendukung peraturan PP 10/201 tentang peran Gubernur Provinsi dalam mengawasi penyusunan rencana dan anggaran provinsi, BASICS bekerjasama secara ekstensif dengan mitra provinsi (terutama BAPPEDA, Dinas Kesehatan, Pendidikan dan BPPKB) untuk mendorong peningkatan kesempatan bagi pejabat eksekutif provinsi untuk memberi advis, bimbingan dan pengawasan teknis kepada mitra kabupaten/kota. Upaya kolaboratif ini dipusatkan pada pola yang sangat praktis untuk mempercepat pencapaian ke arah Hasil Akhir dan Hasil Jangka Menengah termasuk perbaikan pada pola pengumpulan, pengelolaan dan penggunaan data terkait kesehatan, pendidikan dan kesetaraan gender serta rancangan Strategi Peningkatan Pelayanan Kesehatan dan Pendidikan tiga tahun yang didanai BRI.
Klarifikasi dari kerangka kerja dan mekanisme kerjasama antar-pemerintah ini telah banyak memfasilitasi terjadinya peningkatan kerjasama provinsi – kabupaten/kota dalam bidang perencanaan layanan sosial.
Upaya peningkatkan kapasitas secara efektif dan produktif bagi para pemangku kepentingan masyarakat sipil yang dilibatkan dalam perencanaan dan penyusunan anggaran pelayanan sosial kurang dapat dilaksanakan secara merata pada tahun ini. Meskipun sebagian besar pemangku kepentingan masyarakat sipil telah mampu secara signifikan meningkatkan pengetahuan dan keterampilan mereka mengenai TPM, namun bidang Standar Pelayanan Minimum (SPM), perencanaan dan penyusunan anggaran responsif gender, dan siklus perencanaan serta penyusunan anggaran Pemerintah Indonesia, serta cakupan dan konsistensi dari program pengembangan kapasitas yang dilaksanakan tidak mencapai tinkat yang optimal di beberapa kabupaten/kota disebabkan karena terdapat kelemahan pada strategi dan sebagai akibat dari pengunduran diri dari Penasehat Pengembangan Kapasitas Masyarakat Sipil BASICS. BASICS menggunakan kesempatan ini untuk melakukan penyesuaian strateginya dan berhasil merekrut dan menerjunkan penasehat pengganti, yang sekarang menjadi Penasehat Bidang Keterlibatan Masyarakat Sipil. Titel ini mencerminkan beberapa perubahan strategi di bidang terkait. Peningkatan yang signifikan dalam keterlibatan dan kerjasama masyarakat sipil – pemerintah dicapai dibanyak kabupaten/kota selama setahun dan BASICS akan terus membangun dan memperluas momentum ini.
Beberapa pekerjaan administratif yang utama, yang memfasilitasi proses perencanaan, penyusunan anggaran dan pelaksanaan proyek yang efisien, juga telah diselesaikan dalam tahun ini. Perjanjian Administratif (yakni pada dasarnya merupakan surat perjanjian) yang menjabarkan cakupan dan kegiatan proyek, serta tanggung jawab mitra proyek, telah ditandatangani antara Proyek dan Pemerintah Sulawesi Utara dan Sulawesi Tenggara.
Perjanjian Teknis serupa ditandatangani antara Proyek dan 10 kabupaten dan kota peserta.
Seperangkat Standar Pembayaran, yang sebagian didasarkan pada peraturan Standar Pembayaran tahunan yang ditetapkan oleh Kementerian Keuangan Indonesia, telah disusun sebagai sistematisasi penyusunan anggaran dan pembayaran dari beberapa komponen biaya tertentu yang terkait dengan pemrosesan pengembangan kapasitas pelayanan BASICS. Sistem Pembayaran yang standar ini, yang telah disetujui oleh CIDA pada bulan April 2010, sangat mempermudah kegiatan perencanaan dan penyusunan anggaran dan memungkinan Proyek lebih selaras dengan peraturan yang ada dan sejalan dengan prosedur tetap Pemerintah Indonesia. Upaya BASICS dalam merintis hal ini, telah disambut baik oleh mitra Pemerintah Indonesia yang memandang inisiatif ini telah mendukung pelaksanaan Komitment Jakarta dalam hal memastikan efektifitas bantuan. Selain itu, seperangkat Pedoman Pengelolaan Lingkungan Hidup yang Baik disusun sebagai alat untuk menilai potensi dampak dari kegiatan
pembangunan (yang didukung proyek BASICS dan donor lainnya) di kabupaten/kota yang ikut serta. Penyebarluasan Pedoman di daerah proyek dimulai pada Triwulan ke 4 tahun 2010 dan terus berlanjut.
Rencana Kerja Tahunan 2010 telah disetujui oleh Komite Pengarah Proyek pada April 2010.
Kemudian, pada Rapat Luar Biasa Komite Pengarah yang diselenggarakan pada 29 Juni 2010, kesepakatan dicapai mengenai penggunaan mekanisme pelaksanaan langsung untuk pendanaan kegiatan BASICS BRI. Keputusan penting ini membuka jalan bagi tim BASICS untuk bekerjasama dengan mitra pemerintah nasional, provinsi dan kabupaten/kota guna mendesain perencanaan dan pelaksanaan model Strategi Peningkatan Pelayanan Kesehatan dan Pendidikan (SIS) BRI. Hal ini juga akan menjadi acuan yang jelas yang diperlukan guna melakukan tugas penyusunan Prosedur Tetap atau SOP (baik bidang administratif maupun keuangan) sebagai pedoman manajemen dalam melaksanakan BRI. Untuk memfasilitasi mekanisme pelaksanaan langsung yang telah disetujui, BASICS menyiapkan Strategi Sumber Daya Manusia guna mendukung pelaksanaan langsung dari BRI, dan setelah menerima persetujuan dari CIDA, BASICS merekrut dan melatih anggota tim tambahan yang diperlukan untuk memastikan pelaksanaan BRI yang efektif dan efisien. Proses konsultatif secara bertahap dilakukan dalam menyusun konsep program pengembangan kapasitas dalam Rencana Kerja Tahunan 2011.
Di samping itu, Model Logika dan Kerangka Kerja Penilaian Kinerja (PMF) telah disempurnakan agar lebih mencerminkan arah dan perhatian dari proyek saat ini. Seperangkat alat untuk mengumpulkan data telah dikembangkan guna memfasilitasi pengumpulan data kualitatif dan kuantitatif dan informasi bagi indikator hasil yang tercakup dalam PMF. Data Hasil dan informasi yang dikumpulkan oleh tim BASICS selama Januari dan Februari 2011 digunakan secara ekstensif sebagai dasar untuk laporan berbasis hasil. Sebagaimana tercantum dalam laporan, proyek telah membuat kemajuan yang sangat baik dalam pencapaian Output yang telah direncanakan, Hasil Langsung dan Hasil Jangka Menengah meskipun hasilnya pada tingkatan yang lebih rendah namun masih signifikan. Umpan balik dari pemangku kepentingan mengenai kualitas bantuan teknis yang diberikan oleh Proyek, dan dampaknya pada perencanaan, penyusunan anggaran dan pengelolaan pelayanan sosial sekarang dapat ditelusuri dan ini adalah sangat positif. Proyek ini mulai lebih mendapat perhatian dan mulai lebih banyak menghasilkan umpan balik yang positif dari berbagai mitra nasional (Kemdagri, BAPPENAS, Kementerian Kesehatan, Pemberdayaan Perempuan) dan mulai lebih cepat terjadi kerjasama konstruktif dan sinergi dengan donor dan proyek lainnya.
Dari sudut pandang keuangan, proyek telah mencairkan 76% dari pengeluaran yang sudah direncanakan. Pencairan untuk 100 paket kerja hanya 64% karena pelaksanaan yang berskala penuh BRI ditunda sampai 2011. Pencairan untuk 200 dan 300 paket kerja adalah masing- masing sebagai berikut 95% dan 85%.
Secara keseluruhan, Proyek telah berjalan dengan baik di tahun 2010 dan mencapai kemajuan yang signifikan dalam pencapaian sasaran yang sudah ditentukan. BASICS telah membangun momentum yang sangat baik dan sekarang sedang membuat kontribusi penting guna perencanaan dan penyusunan anggaran pelayanan sosial berbasis TPM/SPM pada jenjang kabupaten/kota dan menghasilkan model dan pembelajaran penting yang efektif untuk diterapkan pada tingkat provinsi dan tingkat nasional. Proyek berada pada posisi yang baik untuk menjadi sangat produktif di tahun 2011.
AKRONIM DAN SINGKATAN
ACCESS Australian Community Development and Civil Society Strengthening Scheme (Skema Pengembangan Masyarakat dan Penguatan Masyarakat Sipil) ADB Asian Development Bank (Bank Pembangunan Asia)
ADEKSI Asosiasi DPRD Kota Seluruh Indonesia (the All-Indonesia Association of City Legislatures)
AIPMNH Australia Indonesia Partnership for Maternal and Neonatal Health (Kemitraan Australia Indonesia untuk Kesehatan Ibu dan Neonatal)
AKLN Administrasi Kerjasama Luar Negeri APBD Anggaran Penerimaan dan Belanja Daerah APBN Anggaran Penerimaan dan Belanja Negara ASSD Advisory Services Support for Decentralization
AusAID Australian Agency for International Development
AWP Annual Work Plan
(Rencana Kerja Tahunan)
Badan Diklat Badan Pendidikan dan Latihan)
BAKD Bina Administrasi Keuangan Daerah (Direktorat Jenderal yang bertanggung jawab untuk pengembangan sistem keuangan pemerintah daerah, di bawah kementerian Dalam negeri)
BaKTI Bursa Pengetahuan Kawasan Timur Indonesia BAPPEDA Badan Perencanaan Pembangunan Daerah BAPPENAS Badan Perencanaan Pembangunan Nasional
BASICS Better Approaches to Service Provision through Increased Capacities in Sulawesi
BDCC BASICS District Coordinating Committee (Komite Koordinasi Kabupaten BASICS)
Biro Keuangan Biro di bawah Sekretariat Provinsi, kabupaten atau Kota Biro Organisasi Biro di bawah Sekretariat Provinsi, kabupaten atau Kota
BPP Badan Pemberdayaan Perempuan
BPPKB Badan Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana
BLUD Badan Layanan Umum Daerah
BPS Biro Pusat Statistik
BRI BASICS Responsive Initiative (Responsif Inisiatif BRI)
BRI-SIS BRI-supported Service Improvement Strategy efforts (Strategi Upaya Peningkatan Pelayanan dukungan BRI)
Bupati Kepala Daerah Pemerintah Kabupaten
CD Capacity development (Pengembangan Kapasitas)
CD Project Singkatan dari Proyek Pengembangan Kapasitas Sulawesi (Didanai JICA)) CEA Canadian Executing Agency
CEDAW Convention on the Elimination of All Forms of Discrimination Against Women (Konvensi untuk Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Terhadap Perempuan)
CIDA Canadian International Development Agency
CSO Civil Society Organization (Organisasi Masyrakat Sipil)
DCC District Steering Committee for BASICS (Komite Pengarah Kabupaten untuk BASICS))
DeCGG Decentralization as Contribution to Good Governance, suatu proyek yang didanai GIZ)
Depdagri Departemen Dalam Negeri
Dewan
Dewan Pendidikan Dewan Pendidikan ditunjuk pada tingkat kabupaten atau kota DF District Facilitator (Fasilitator kabupaten)
DFID Department for International Development (United Kingdom)
DIALOG Delivery Improvement and Local Governance Project
(Proyek Peningkatan Proses dan Tatakelola Lokal (didanai Bank Dunia/AUSAID)
DikNas Departemen Pendidikan Nasional (National Department of Education) DIPA Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran
DP&F Advisor District Planning & Finance Advisor/BRI Coordinator
(Koordinator Perencanaan kabupaten & Penasehat Keuangan/Koordinator BRI)
DPRD Dewan Perwakilan Rakyat Daerah
DSF Decentralization Support Facility (didanai oleh Bank Dunia) EGSLP Environmental Governance and Sustainable Livelihoods Project EM Environmental Management (Pengelolaan Lingkungan)
FGD Focus Group Discussion (Kelompok Diskusi Fokus)
GDI Gender Development Index (Indeks Pembangunan Gender) GE Gender Equality (Kesetaraan Gender)
GEM Gender Empowerment Measurement (Pengukuran Pemberdayaan Gender) GFP Gender Focal Point (Titik Fokus Gender)
GIZ German Agency for Technical Cooperation (sebelumnya GTZ)) GM Gender mainstreaming (Pengarusutamaan Gender)
GOI Government of Indonesia (Pemerintah Indonesia)
IBEP Indonesia Basic Education Project
(Proyek Pendidikan Dasar Indonesial, AUSAID))
ILGR Initiatives for Local Governance Reform project (World Bank-funded) (Proyek untuk Inisiatif Reformasi Tatakelola Lokal Didanai Bank Dunia)) IT Information Technology (Teknologi Informasi)
ITO Intermediate Outcome (Hasil Jangka Menengah)
JICA Japan International Cooperation Agency
JiKTI Jaringan Peneliti Kawasan Indonesia Timur JukNis Petunjuk Teknis
Kesbangpol Biro Kesatuan Bangsa dan Politik dibawah instansi Pemberdayaan Masyarakat Desa yang mengawasi kegiatan LSM/OMS
Kesehatan Instansi yang mewakili Kementertian Kesehatan pada jenjang Kabupaten atau Kota
KII Key Informant Interview (Wawancara Narasumber Utama) KM Knowledge Management (Pengelolaan Pengetahuan)
Komite
KPK Komisi Pemberantasan Korupsi LAN Lembaga Administrasi Negara
LGSP Local Governance Support Project (didanai USAID))
LM Logic Model (Model Logika) LMFA List of Materials for Approval
Daftar Materi untuk Mendapat Persetujuan (bagian dari Rencana Kerja Tahunan)
LOA Letters of Agreement (Surat Perjanjian) LOE Level of Effort (Tingkat Usaha)
M&E Monitoring and Evaluation
MDG Millennium Development Goals (Tujuan Pembangunan Milineum) MOHA Ministry of Home Affairs (Kementerian Dalam Negeri atau Kemdagri)
MOF Ministry of Finance (Kementerian Keuangan)
MSS Minimum Service Standards (Standar Pelayananan Minimuml) Musrenbang Musyawarah Rencana Pembangunan
OTDA Direktorat Jenderal Otonomi Daerah
Pendidikan Instansi yang mewakili Kementerian Pendidikan Nasional pada jenjang Provinsi, kabupaten atau Kota
P&B Planning and Budgeting (Perencanaan dan Penyusunan Anggaran) P3B Pro-poor Planning and Budgeting Program (ADB TA 2006-08) (Program (Perencanaan dan Penyusunan Anggaran Pro rakyat miskin (Bantuan Teknis Teknis ADB 2006-08))
Perda Peraturan Daerah (provinsi atau Kabupaten/Kota)
PCC Provincial Coordinating Committee (Komite Koordinasi Propinsi (untuk BASICS))
PEACH Public Expenditure Analysis and Capacity Enhancement
Analisis Pembelanjaan Publik dan Peningkatan Kapasitas (program di danai oleh CIDA dan donor lain)
PIP Project Implementation Plan (Rencana Pelaksanaan Proyek) PMD Pemberdayaan Masyarakat Desa (dahulu BANGDES)
PMF Performance Measurement Framework (Kerangka Kerja Penilaian Kinerja) PNPM Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat
PPP/DPRD Advisor Pro-poor Planning & DPRD Capacity Development Advisor (Penasehat Perencanaan Pro-rakyat miskin & Pengembangan Kapasitas)
PSC Project Steering Committee (Komite Pengarah Proyek)
PSF PNPM Support Facility, (Fasilitas Pendukung NPM, didanai oleh Bank Dunia PSKMP Pusat Studi Kebijakan dan Manajemen Pembangunan di Universitas
Hasanuddin
PUSKESMAS Pusat Kesehatan Masyarakat
RENJA Rencana Kerja (rencana kerja tahunan SKPD)
RENSTRA Rencana Strategis (rencana 5 tahun untuk suatu SKPD) RBM Results Based Management (Manajemen Berbasis Hasil) RKPD Rencana Kerja Perangkat Daerah (rencana kerja suatu SKPD) RKUD Rekening Kas Umum Daerah
RPJMD Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (rencana pembangunan 5 tahun untuk provinsi, kabupaten atau kota)
RSUD Rumah Sakit Umum Daerah
SCBD Sustainable Capacity Building for Decentralization
Pengembangan Kapasitas yang Berkelanjutan untuk Desentralisasi (didanai ADB)
SDF Senior District Facilitator (Fasilitator Senior Kabupaten Proyek BASICS)
SEKDA Sekretari Daerah (Provinsi, Kabupaten atau Kota)
SIPS Support to Indonesia’s Islands of Integrity Program for Sulawesi Pendukung Program Integritas Kepulauan Indoneisa untuk Sulawesi
SK Surat Keputusan
SKPD Satuan Kerja Perangkat Daerah (suatu unit kerja pada tingkat provinsi hingga Kecamatan)
SMWE State Ministry for Women’s Empowerment Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan SOfEI Support Office for Eastern Indonesia Kantor Pendukung untuk Indonesia Timur Sultra Sulawesi Tenggara
Sulut Sulawesi Utara
TA Technical Assistance (Bantuan Teknis) TORs Terms of Reference (Kerangka Acuan)
UNHALU Universitas Haluleo, Kendari UNHAS Universitas Hasanuddin, Makassar UNDP United Nations Development Program
UNSRAT Universitas Dr Sam Ratulangi, Manado UO Ultimate Outcome (Hasil Akhir)
USAID United States Agency for International Development
Visi-Misi Pernyataan Visi dan Misi yang disusun oleh Kepala Daerah,
Provinsi, Kabupaten atau Kota sebagai pedomanan rencana pembangunan 5 Tahun di masing-masing daerah
Wakil Bupati Wakil Kepala Daerah Kabupaten Walikota Kepala Daerah dari suatu kota
WED Women’s Empowerment Division (Bagian Pemberdayaan Perempuan
1.0 KATA PENGANTAR DAN LATAR BELAKANG 1.1 Kata Pengantar
Laporan Kemajuan Tahunan ini, untuk periode 1 Januari – 31 Desember 2010, merupakan yang kedua dari laporan yang serupa untuk BASICS. Laporan ini merangkum kemajuan dan hasil utama pencapaian dalam setahun melalui pelaksanaan Rencana Kerja Tahunan BASICS untuk tahun 2010. BASICS mengikuti siklus tahun anggaran Indonesia dari Januari ke Desember.
1.2 Latar Belakang
BASICS (dengan dana sebesar $18.9 juta selama enam tahun) didanai oleh CIDA. Proyek dilaksanakan dengan kerjasama dengan Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) Pemerintah Indonesia. CEA, Cowater International Inc., yang memenangkan kontrak melalui proses kompetitif untuk pelaksanaan pelayanan penyediaan pelayanan teknis dan manajemen proyek untuk BASICS.
BASICS bertujuan membantu Indonesia meningkatkan kualitas desentralisasi pelayanan sosial yang memperhatikan kesetaraan dan peka gender. Tujuan Proyek adalah untuk memperkuat dan mengkaitkan proses perencanaan dan penyusunan anggaran secara partisipatif, pro-rakyat miskin dan lingkungan yang berkelanjutan yang diarahkan pada peningkatan penyediaan pelayanan sosial di kabupaten/kota terpilih di Sulawesi.
Dalam pengertian BASICS, ungkapan singkat “perencanaan dan penyusunan anggaran” itu mencakup semua tahapan proses pelaksanaan termasuk manajemen, pengelolaan, pemantauan dan evaluasi.
Menurut Model Logika1 BASICS yang digunakan sebagai dasar untuk perencanaan dan laporan hasil proyek selama 2009, hasil jangka menengah yang diharapkan dari Proyek ini adalah:
1. Pemerintah kabupaten/kota dapat menyusun dan melaksanakan perencanaan dan anggaran pelayanan sosial berbasis TPM/SPM yang terarah pada kesetaraan gender, tanggap terhadap lingkungan hidup yang berkelanjutan.
2. Pemerintah provinsi dan pusat lebih meningkatkan dukungan dan pengawasan kepada pemerintah kabupaten/kota dalam proses perencanaan dan penyusunan anggaran layanan sosial yang basis TPM/SPM dengan berorientasi pada kesetaraan gender, tanggap terhadap pengelolaan lingkungan hidup yang berkelanjutan .
3. Masyarakat sipil memberikan input yang lebih baik kepada pemerintah dalam hal proses perencanaan dan penyusunan anggaran pelayanan sosial yang berbasis TPM/SPM dan memberikan layanan teknis kepada pemerintah kabupaten/kota.
1Model Logika proyek BASICS sedikit diperbaiki dalam waktu antara Mei dan September 2010 dengan maksud memperjelas dan mempermudah penerapannya sebagai alat manajemen proyek. Versi 30 September 2010 disajikan pada Bagian 2 pada Laporan ini. Kerangka Kerja Penilaian Kinerja yang terkait dengan LM versi 30 September 2010 (PMF) (lihat Lampiran B) berfungsi sebagai kerangka kerja untuk melaporkan hasil dalam laporan kemajuan ini.
Namun, karena Rencana Kerja Tahunan 2010 menggunakan versi Model Logika terdahulu (06 April 2010), maka penyajian beberapa hasil dalam laporan ini digeser ke arah yang paling logis atau yang paling mendekati pernyataan hasil atau indikator.
BASICS melakukan kegiatan pengembangan kapasitas dengan tiga kelompok pemangku kepentingan utama:
instansi dan unit eksekutif pemerintah,
badan legislatif (legislatif kabupaten dan kota), dan
Masyarakat sipil.
Kegiatan proyek dipusatkan pada 3 tingkatan wilayah yurisdiksi pemerintahan:
kabupaten dan kota,
provinsi, dan
pemerintah pusat.
Selama 2008, provinsi Sulawesi Tenggara dan Sulawesi Utara telah terpilih untuk diikutsertakan dalam Proyek melalui suatu proses kompetitif. Proses kompetitif serupa dilakukan pada tahun 2009 untuk memilih total delapan kabupaten dan dua kota yang diikutsertakan dalam proyek ini.
Mereka adalah:
Sulawesi Tenggara
Kota Bau-Bau
Kabupaten Buton Utara
Kabupaten Kolaka Utara
Kabupaten Konawe Selatan
Kabupaten Wakatobi Sulawesi Utara
Kota Bitung
Kabupaten Minahasa
Kabupaten Minahasa Utara
Kabupaten Kepulauan Sangihe
Kabupaten Kepulauan Sitaro
2.0 HASIL YANG DIHARAPKAN DAN MODEL LOGIKA
Model Logika versi 30 September 2010 disajikan di bawah ini. Model Logika merangkum perkembangan hasil yang ditargetkan oleh proyek. Hasil Langsung diharapkan akan member kontribusi dalam mencapai Hasil Jangka Menengah, namun tetap mempertimbangkan faktor penyebab (eksternal) lainnya yang luas yang dapat memainkan peran penting, baik secara positif maupun negatif. Dalam Model Logika ini, suatu pernyataan “Output” merupakan pernyataan hasil kegiatan atau pernyataan hasil dari suatu layanan yang berhasil diselesaikan.
“Output” dan kegiatan diberi nomor urut agar mudah menunjukkan korelasi atau hubungan antar kegiatan tersebut dengan outputnya. Kemajuan yang dicapai dan hasil yang terkait dengan kegiatan dan output tahun 2010 ditampilkan pada Bagian 3.
Table 2.1: BASICS – Kerangka Logika
BASICS – Kerangka Logika (versi 30 September 2010) Hasil Akhir
Meningkatkan kapasitas pemerintah dan OMS dalam mengembangkan dan melaksanakan kebijakan, proses, dan sistim secara efektif, layanan yang telah didesentralisasikan.
Hasil Jangka Menengah (Hasil yang diharapkan pada saat akhir proyek BASICS) 100
Pemerintah Kabupaten/Kota mengembangkan dan melaksanakan rencana-rencana dan penyusunan anggaran yang lebih mengarah pada penyediaan layanan dasar berbasis MDGs/SPM yang lebih responsif, kesetaran gender,
berwawasan lingkungan yang berkelanjutan 200
Pemerintah provinsi dan nasional menyediakan dukungan dan pengawasan yang lebih baik pada Pemerintahan Kabupaten Kota dalam proses perencanaan dan penganggaran untuk kesetaraan gender, lingkungan yang berkelanjutan yang berdasarkan pada penyediaan layanan dasar berbasis MDGs dan SPM
300
OMS menyediakan masukan yang lebih baik terhadap proses perencanaan dan penganggaran pemerintah untuk layanan dasar berbasis MDGs/SPM, dan menyediakan bantuan teknis pada pemerintah Kabupaten/Kota
Hasil Jangka Pendek 110
Memperkuat kapasitas/kemampuan aparatur Pemerintah dan anggota leglisatif di Kabupaten/Kota untuk merencanakan dan menganggarkan penyediaan dan pengelolaan layanan dasar yang partisipatif dan berbasis MDGs/SPM yang peka gender dan berwawasan lingkungan yang
berkelanjutan
210
Memperkuat kapasitas/kemampuan Pemerintah nasional dan provinsi untuk mendukung dan mengawasi pemerintah Kabupaten/Kota dalam proses perencanaan dan penganggaran yang berdasarkan penyediaan layanan dasar berbasis MDGs/SPM untuk kesetaraan gender, dan lingkungan yang berkelanjutan
310
Memperkuat kapasitas/kemampuan OMS untuk bekerjasama secara efektif dengan pemerintah Kabupaten/Kota dalam proses perencanaan dan penganggaran yang peka gender dan berwawasan lingkungan yang berkelanjutan yang didasarkan pada penyediaan layanan dasar berbasis MDGs/SPM
320 Memperkuat
kemampuan/kapasitas dari para pihak masyarakat sipil yang terpilih sebagai penyedia lokal untuk memberikan pelayanan teknis dalam bidang responsif gender dan peka lingkungan
Keluaran-keluaran (Kegiatan yang terselesaikan) 111
Rencana pengembangan kapasitas untuk mendukung perencanaan dan
penganggaran yang berbasis MDGs/SPM telah dikembangkan, dilaksanakan dan dipantau.
112
Bantuan teknis dalam bidang peka gender diberikan kepada anggota legislatif yang terpilih
113
Berhasil melaksanakan peningkatan langkah awal (inisiatif) dalam bidang responsif gender dan layanan yang berdasarkan MDGs/SPM
211
Bantuan teknis disiapkan untuk memperkuat pemerintah provinsi dalam pengelolaan dan monitoring data
212
Dukungan untuk memperkuat
kapasitas/kemampuan pemerintah provinsi dan nasional untuk menyebarkan peraturan-peraturan dan kebijakan-kebijakan terkait
213
Dukungan diberikan kepada pemerintah provinsi dan nasional untuk mengkoordinasikan
pelaksanaan kerangka SPM
311
Bantuan teknis dalam bidang responsif gender dan peka lingkungan diberikan kepada lembaga OMS terkait guna meningkatkan kemampuan mereka dalam keikutsertaan dengan pemerintah Kabupaten/Kota
312
Mekanisme keikutsertaan OMS dimatangkan dan/atau diperkuat
321
Memberikan bantuan teknis kepada OMS, termasuk organisasi perempuan, untuk memungkinkan mereka memberikan layanan teknis kepada pemerintah Kabupaten/Kota
114
Bantuan teknis diberikan kepada unit-unit pemberdayaan perempuan dan mendukung proses perencanaan dan penganggaran yang peka gender
115
Pedoman perlindungan lingkungan dipergunakan secara tepat untuk kegiatan- kegiatan Proyek
Kegiatan (Paket-paket Kegiatan untuk keseluruhan proyek) 111
Bekerjasama dengan beberapa unit pemerintahan yang terpilih,
mengembangkan dan melaksanakan langkah awal (inisiatif) pengembangan kapasitas yang peka gender untuk mendukung perencanaan dan penganggaran yang berdasarkan MDGs/SPM
112
Menyediakan bantuan teknis yang sensitif gender kepada anggota legislatif yang terpilih
113
Mengembangkan dan berhasil
melaksanakan peningkatan langkah awal (inisiatif) dalam bidang responsif gender dan layanan berbasis MDGs/SPM
114
Memberikan bantuan teknis kepada unit-unit pemberdayaan perempuan untuk
mendukung perencanaan dan penganggaran yang peka gender 115
Menerapkan pedoman perlindungan lingkungan untuk kegiatan-kegiatan Proyek
211
Memberikan bantuan teknis kepada provinsi untuk memperkuat pengelolaan dan pengumpulan data
212
Dukungan diberikan kepada pemerintah nasional dan provinsi untuk memperkuat
kapasitas/kemampuan dalam menyebarkan peraturan-peraturan dan kebijakan-kebijakan terkait
213
Dukungan diberikan kepada pemerintah nasional/provinsi untuk menyelaraskan pelaksanaan kerangka kerja SPM
311
Menyediakan bantuan teknis dalam bidang responsif gender dan peka lingkungan kepada para OMS guna meningkatkan kemampuan mereka dalam bekerjasama secara efektif dengan pemerintah Kabupaten/Kota
312
Membentuk atau memperkuat mekanisme lembaga masyarakat sipil
321
Menyediakan bantuan teknis kepada lembaga masyarakat sipil, termasuk organisasi perempuan, untuk memungkinkan mereka memberikan layanan teknis kepada pemerintah Kabupaten/kota
Masukan: Bantuan teknis, alat-alat untuk perencanaan dan penganggaran, alat-alat untuk mengarusutamakan kesetaraan gender, alat-alat untuk manajemen lingkungan, dana IRB.
3.0 KEMAJUAN & HASIL KEGIATAN YANG DIRENCANAKAN
Bagian 3 menyajikan kemajuan yang dicapai dan hasil rangkaian kegiatan dan sub-kegiatan yang dijabarkan dalam RKT 2010 dengan menggunakan penomoran dan penamaan dari versi terakhir Model Logika (LM) dan Kerangka Kerja Penilaian Kinerja (PMF)2. Kegiatan untuk mengatasi permasalahan lintas sektor seperti kesetaraan gender (GE), anti korupsi (AC), pengelolaan lingkungan hidup (EM) dan manajemen pengetahuan telah dimasukkan pada semua kegiatan dan sub-kegiatan. Rangkuman dari status pelaksanaan tema lintas sektor ditampilkan pada akhir Bagian 3, langsung setelah Bagian Manajemen Proyek (paket kerja 400).
Karena terdapat pemutakhiran LM dan PMF proyek, dalam beberapa hal, penomoran yang digunakan di RKT sudah tidak akurat lagi. Dengan demikian, di dalam laporan ini, kegiatan dan sub-kegiatan di tempatkan di bawah Pernyataan Output yang paling mutakhir dan yang paling logis versi 30 September 2010 dari Model Logika. Format yang diperbarui untuk memaparkan kemajuan dan hasil ini, tidak mengubah sifat dari kegiatan dan sub-kegiatan atau anggaran yang disetujui dalam RKT 2010.
Pergeseran ke Laporan Komprehensif yang berdasarkan Hasil
Sesudah beberapa penyempurnaan penting pada Model Logika (LM) dan PMF BASICS pada Triwulan 1 dan Triwulan 2 tahun 2010, Laporan Kemajuan Tahunan periode Januari – Juni 2010 telah disusun dengan menggunakan sebanyak mungkin data berbasis-hasil. Laporan tersebut pada akhirnya merupakan campuran data berdasarkan kegiatan dan hasil. Pada akhir September 2010, ada sedikit tambahan penyempurnaan LM dan PMF untuk memastikan bahwa perangkat alat RBM utama telah mencerminkan secara tepat arah proyek sesuai fokus BRI yang sudah ditetapkan selama 2010.
Selama November – Desember 2010, BASICS mulai mengembangkan alat dan prosedur pengumpulan data yang diperlukan guna mengumpulkan data berbasis-hasil untuk indikator hasil 42 untuk dimasukkan ke dalam PMF. Instrumen untuk mengumpulkan data kuantitatif dan kualitatif telah dikembangkan dan semua staf BASICS (teknis, administratif dan keuangan) sudah diberikan orientasi dan diberikan pelatihan menggunakan Sistem Database Hasil BASICS pada Januari 2011. Kompilasi data kuantitatif dimulai segera, dan sesudah itu pengumpulan data kualitatif dimulai pada pertengahan Februari setelah berhasil mengatasi berbagai kesulitan awal yang dihadapi berkaitan dengan instrumen pengumpulan data kualitatif.
Staf lapangan BASICS menyelenggarakan beberapa kelompok diskusi fokus dan sesi survei dengan berbagai kelompok pemangku-kepentingan proyek dan verifikasi dan analisis mulai dilakukan pada akhir Februari3.
2Sebagaimana diketahui, paket dokumen Rencana Kerja Tahunan (RKT) 2010 adalah berdasarkan Model Logika BASICS (LM) dan Kerangka Kerja Penilaian Kinerja (PMF) versi awal. Laporan ini ditulis dengan menggunakan PMF versi yang sudah direvisi 01 Oktober 2010. Karena banyaknya peserta dari pihak eksekutif dan OMS yang ikut serta dalam tahun 2010, beberapa target PMF dinaikkan pada Januari 2011. Versi yang paling mutakhir dari PMF, tertanggal 31 Januari 2011, disajikan di Lampiran B. Laporan mengenai sub-kegiatan 461 menyajikan informasi lebih lanjut mengenai revisi PMF.
3Instrumen pengumpulan data hasil terdiri dari: 1) pengumpulan data kuantitatif yang biasanya didapat dari laporan proyek, database kegiatan manajemen atau laporan instansi Pemerintah Indonesia; 2) kelompok diskusi fokus (FDG) dengan kelompok terpilih penerima manfaat proyek (trainee, mitra); 3) wawancara dan survei terpadu dengan penerima manfaat proyek; dan 4) survey kepuasan klien. Kelompok dari penerima manfaat proyek disurvei/diwawancarai termasuk; i) pejabat Instansi Eksekutif Kabupaten/Kota; ii) pejabat BPPKB Kabupaten/Kota; iii) anggota Legislatif dan pejabat Dewan Legislatif Kabupaten/Kota; iv) pejabat Instansi Eksekutif Provinsi; v) pejabat
Sebagai “percobaan pertama” untuk sistem database hasil, proses ini, sebagaimana yang diperkirakan, bukanlah tanpa hambatan teknis dan kendala administratif tertentu. Meskipun demikian hambatan pada akhirnya dapat diatasi dan informasi dan data berdasarkan hasil dapat dikumpulkan untuk 40 dari 42 indikator PMF. Hanya data yang belum dikumpulkan adalah data Hasil Jangka Menengah 100, Indikator 100.3 – persepsi [dari masyarakat /publik]
terhadap pelayanan kesehatan dan pendidikan, (yang merupakan indikator yang baru dimasukkan pada PFM versi Oktober 2010). BASICS belum dapat mengumpulkan data ini karena memerlukan manajemen proyek yang menggunakan metode yang cukup ketat, namun harus tetap hemat biaya dalam pengumpulan informasi mengenai klien dari pusat pelayanan pendidikan dan kesehatan. Responden mereka merupakan siswa dan orang tua yang terkait pelayanan pendidikan, dan responden mereka adalah pasien dari klinik kesehatan, PUSKESMAS dan rumah sakit daerah. Karena proyek ini beroperasi di 10 kabupaten dan kota yang letaknya tersebar di dua provinsi, dengan banyak kabupaten meliputi 15 – 20 kecamatan yang sangat luas, maka diperlukan metoda yang biayanya terjangkau, tetapi datanya ”mewakili”
para penerima jasa pelayanan kesehatan dan pendidikan. Namun, hal ini bukan masalah yang sederhana. Maka dengan alasan ini, BASICS saat ini mencoba serangkaian Survei Kepuasan Klien, yang hasilnya akan digunakan untuk mengidentifikasi persepsi publik terhadap penyediaan pelayanan sosial. BASICS berencana akan mulai menyajikan data untuk Indikator 100.3 dalam Laporan Tahunan 2011.
Kecuali indikator hasil PMF 100.3, data kuantitatif dan kualitatif untuk 41 hasil indikator lainnya telah dikumpulkan dan ditampilkan pada bagian di bawah ini. Sementara dalam bagian di bawah ini, fokus utamanya adalah pada penyajian dan penjelasan status dari pencapaian sasaran, namun pada beberapa contoh, masalah teknis dan/atau pendekatan pelaksanaan juga disampaikan dalam rangkuman, karena hal-hal tersebut penting dalam memberikan dukungan konteks pada dalam laporan kemajuan tersebut.
Hasil Akhir : Meningkatnya kemampuan aparat pemerintah dan masyarakat sipil dalam menyusun dan melaksanakan kebijakan, proses dan sistem yang efektif untuk layanan publik yang terdesentralisasi.
Indikator Data
Dasar
Target yang ditetapkan Pencapaian Periode
Proyek
Tahun 2010
Jan-Des 2010
kumulatif utk periode
proyek Sejumlah kebijakan, prosedur dan
reformasi yang baru yang terkait dengan sasaran BASICS telah disetujui, sudah terlaksana.
Tidak ada 15 – 20 0 1 1
Pada April 2010, Gubernur Sulawesi Tenggara mengeluarkan Instruksi Gubernur Tahun 2010 tentang Penerapan Standar Pelayanan Minimum pada Organisasi Daerah Lingkup Pemerintah Sulawesi Tenggara. BASICS memainkan peran utama dalam meningkatkan kesadaran, dan pemahaman terhadap Standar Pelayanan Minimum selama akhir tahun 2009 dan pada awal tahun 2010. Tim Sultra BASICS juga turut serta dalam lokakarya provinsi yang menghasilkan konsep Instruksi Gubernur tentang SPM.
Instansi Eksekutif Nasional; vi) organisasi masyarakat sipil dan konsultan/pelatih daerah; dan (segera) vii) pemakai jasa pelayanan pendidikan dan kesehatan melalui kegiatan BRI yang sedang berlangsung.
Hasil Jangka Menengah 100: Pemerintah Kabupaten/Kota menyusun dan melaksanakan rencana dan anggaran yang mengarah pada layanan sosial berbasis TPM/SPM yang lebih responsive terhadap masalah kesetaraan gender, tanggap terhadap lingkungan hidup yang berkelanjutan
Indikator Data
Dasar
Target yang ditetapkan Pencapaian Periode
proyek
tahun 2010
Jan-Des 2010
Kumulatif untuk periode
proyek 100.1 Sejumlah kabupaten/kota
dengan rencana dan anggaran yang mencerminkan sasaran TPM/SPM
0 10 04 6 6
100.2 Sejumlah kabupaten/kota melaksanakan rencana dan anggaran yang mencerminkan sasaran TPM/SPM
0
10 0 4 4
100.3
Persepsi atas kualitas penyediaan pelayanan kesehatan dan pendidikan
Buruk sampai ke
sedang
80% dari responden
adalah positif
baik, peka gender
Belum dinilai.
Akan menggunak
an CSS 5
Belum dinilai.
Akan menggunakan
CSS 100.4 Prosentase sasaran
pilihan TPM/SPM tercapai 0 60-80% 0 0 0
Kemajuan dalam Pencapaian Hasil Yang Direncanakan:
Tanda-tanda awal pencapaian Hasil Jangka Menengah 100 sudah terlihat jelas dengan adanya enam dari 10 kabupaten/kota yang diikutsertakan saat ini sedang menyiapkan rencana dan anggaran jangka menengah atau pembangunan tahunan yang mencerminkan, setidaknya sampai batas tertentu, sasaran TPM dan SPM. Beberapa kabupaten/kota telah melaporkan kepada BASICS bahwasanya dokumen perencanaan dan penyusunan anggaran telah ada perbaikan dan menghasilkan pelayanan sosial yang lebih berorientasi pada TPM/SPM dan lebih responsif terhadap kesetaraan gender, tanggap terhadap lingkungan hidup yang berkelanjutan.
Mereka menyatakan bahwa manfaat instrumen TPM, SPM dan kesetaraan gender yang diperkenalkan oleh BASICS sangat jelas dan pendekatan ini dapat diterapkan untuk memperbaiki dokumen perencanaan dan penyusunan anggaran. Kabupaten/kota yang dimaksud adalah termasuk Kabupaten/kota Buton Utara, Kolaka Utara dan Konawe Selatan di Sulawesi Tenggara, dan Bitung, Minahasa Utara dan Sangihe di Sulawesi Utara seperti yang dijelaskan pada tabel dibawah ini
Indikator 100.1: Jumlah kabupaten/kota yang telah memiliki APBD yang mencerminkan target TPM/SPM
Kabupaten /Kota
Nama/Jenis Dokumen dan Tanggal
Bukti adanya arah ke TPM/SPM
4 Perlu dicatat bahwa Rencana Kerja Tahunan 2010 tidak menetapkan suatu target tahunan untuk indikator 100.1 atau 100.2 karena pada waktu penyusunan RKT 2010, BASICS belum mempunyai data yang cukup untuk menilai status terkini dari rencana dan anggaran kabupaten/kota dibandingkan SPM kesehatan dan pendidikan.
5CSS = Survei Kepuasan Warga, selama 2011, BASICS akan melatih sejumlah OMS untuk melakukan CSS dengan kerjasama antar instansi Kesehatan dan Pendidikan daerah untuk mendapatkan perpsepsi dari pemakai jasa (klien) pelayanan kesehatan dan pendidikan kabupaten/kota.
Indikator 100.1: Jumlah kabupaten/kota yang telah memiliki APBD yang mencerminkan target TPM/SPM
Kabupaten /Kota
Nama/Jenis Dokumen dan Tanggal
Bukti adanya arah ke TPM/SPM Buton Utara RPJMD 2010-2014 (Rencana
Pembangunan Jangka Menengah Daerah)
Masuknya tujuan TPM, SPM dan pengarus utamaan gender dalam RPJMD
Kolaka Utara APBD 2011 dan RKPD Kesehatan 2011
Semakin konsisten antara anggaran Instansi Kesehatan dengan Rencana Tahunan 2011
Konawe Selatan RPJMD (2011-2015) Masalah strategi dan sasaran terkait dengan pencapaian TPM dan SPM, yang telah ditekankan pertama kali di BRI SIS, telah diterapkan dan dimasukkan dalam APBD dan RKPD 2011 Instansi Kesehatan dan Pendidikan. Selain itu, Instansi kesehatan menginstruksikan semua PUSKESMAS agar mengalokasi dana dengan menunjuk satu anggota staf guna memperbaiki data pelayanan kesehatan, terutama data yang berhubungan dengan TPM dan SPM Bitung P-ABPD 2010 (Revisi pada
Anggaran Tahunan 2010)
Meningkatnya anggaran dan perhatian pada program untuk ibu hamil
Minahasa Utara RPJMD (2011-2015) Pencapaian sasaran MDG dan pengarusutamaan gender diprioritaskan dalam RPJMD dengan sasaran TPM dan SPM yang ditentukan.
Sangihe KUA and PPAS 2011(Kebijakan Umum APBD dan Plafon dan Prioritas Anggaran Sementara 2011) 6
Dirancang untuk menangani TPM dan SPM, dengan fokus yang lebih spesifik pada program utama dibandingkan dengan program tahun lalu
Pada ke lima kabupaten/kota di Sultra
APBD dan RKPD Kesehatan dan Pendidikan
Temuan dan rekomendasi yang dihasilkan dari Penelitian Kesehatan Perempuan dan Anak-Anak (Sub-kegiatan 11.1.3 digunakan untuk meningkatkan perhatian dan pendanaan bagi program kesehatan dan pendidikan yang terfokus pada SPM.
Semua 10 kabupaten dan kota
Penyusunan dan persetujuan Strategi Peningkatan Pelayanan Pendidikan 3 tahun 7
.
Strategi Peningkatan Pelayanan berdasarkan TPM/SPM yang responsif gender disetujui oleh Bupati/Walikota dan Pimpinan Instansi Pendidikan dan Komite Koordinasi Provinsi BASICS.
Semua 10 kabupaten dan kota
Penyusunan dan persetujuan Strategi Peningkatan Pelayanan Kesehatan 3 tahun
Strategi Peningkatan Pelayanan berdasarkan TPM/SPM yang responsif gender disetujui oleh Bupati/Walikota dan Pimpinan Instansi Kesehatan dan Komite Koordinasi provinsi BASICS
Semua 10 kabupaten dan kota
Usulan sistem data Pendidikan dan Kesehatan
Usulan sistem data pendidikan dan kesehatan berdasarkan SPM dengan semua kabupaten mempersiapkan standar operasi prosedur (SOP) untuk manajemen data pendidikan dan kesehatan dan beberapa SOP mis. Minahasa Utara secara resmi disetujui oleh pemerintah lokal.
Patut dicatat juga bahwa provinsi Sulawesi Utara menggunakan pendekatan dan kerangka kerja analitis yang dikembangkan untuk Strategi Peningkatan Pelayanan Kesehatan dan Pendidikan yang didanai Inisiatif Responsif BASICS sebagai basis bagi Rencana Aksi Pencapaian TPM Sulawesi Utara yang disampaikan kepada BAPPENAS dan kementerian lainnya pada lokakarya nasional tentang pencapaian TPM yang diselenggarakan di Jakarta pada Desember, 2010.
6 KUA & PPAS, atau Kebijakan Umum APBD, and Plafon dan Prioritas Anggaran Sementara KUA & PPAS atau Kebijakan Umum APBD dan Plafond dan Prioritas Anggaran Sementara adalah dua dokumen penyusunan anggaran utama.
7 Perlu diperhatikan bahwa meskipun Strategi Peningkatan Pelayanan Kesehatan dan Pendidikan BRI didanai langsung oleh BASICS dan dengan demikian bukan merupakan bagian dari APBD secara keseluruhan, namun mitra kerja di kabupaten dan kota mempertimbangkan teknis fokus dan jenis investasi BRI SIS saat menyusun anggaran instansi Kesehatan dan Pendidikan (APBD) dan rencana (RKPD) untuk 2012, sehingga memanfaatkan secara optimal pendanaan dan keahlian BASICS dan menghindari pendanaan program berlebihan.
Berdasarkan dokumen-dokumen utama yang sudah mengalami perbaikan, masing-masing kabupaten dan kota telah mulai melaksanakan rencana pembangunan tahunan dan menggunakan dokumen, yang bertujuan untuk mencapai TPM dan SPM bidang kesehatan dan pendidikan sesuai tabel di bawah ini.
Indikator 100.2: Jumlah kabupaten/kota yang melaksanakan rencana dan anggaran yang mencerminkan TPM/SPM.
Kabupaten/Kota Bukti bahwa rencana dan anggaran yang mencerminkan TPM/SPM telah terlaksana
Buton Utara Nilai anggaran untuk berbagai indikator yang terfokus pada TPM/SPM telah ditingkatkan dalam APBD 2011, termasuk kenaikan 57% (melampaui 2010) untuk program kesehatan bagi perempuan dan anak-anak, dengan program untuk mengurangi terjadinya gizi buruk meningkat 238% dari jumlah tahun 2010.
Bitung DPRD menyetujui untuk menaikkan anggaran untuk program ibu hamil dari nol ke 50 juta rupiah di R-APBD 2010.
Minahasa Utara Alokasi anggaran kepada instansi BPPKB guna mendukung pengarusutamaan gender naik dari nol ke 100 juta rupiah di P-APBD 2010 revisi anggaran.
Sangihe Sejalan dengan indikator utama untuk SPM bidang Kesehatan, instansi yang berwenang di daerah meningkatkan anggaran program JAMKESDA (Jaminan untuk Pelayanan Kesehatan Rumah Tangga Ekonomi Tertinggal) dalam R-APBD 2010.
Sebagaimana dicantumkan pada tabel di atas dalam laporan berdasarkan-hasil, BASICS belum dapat menghimpun responden yang bisa mewakili klien dalam jumlah yang cukup banyak, ataupun mengumpulkan data yang handal untuk Indikator 100.3: persepsi publik terhadap kualitas pelayanan kesehatan dan pendidikan di kabupaten dan kota peserta BASICS. Indicator ini sebenarnya berguna, meskipun cukup sulit diterapkan, namun indikator ini ditambahkan pada versi revisi 1 Oktober 2010 PMF. Selama 2011, BASICS akan mengembangkan dan menguji coba serangkaian Survei Kepuasan Klien (CSS) agar dapat menyusun suatu metode yang handal dan hemat biaya dalam mengumpulkan data ini bekerjasama dengan OMS setempat dan berkolaborasi dengan mitra instansi Kesehatan dan Pendidikan. Hasil survey ini akan mulai dimasukkan dalam laporan tahunan 2011, dan hasil survei kepuasan ini akan digunakan sebagai laporan atas persepsi publik terhadap pelayanan sosial. BASICS ingin mengembangkan suatu survei kepuasan klien yang memadukan secara seimbang antara unsur ketegasan dan kehandalan dengan keefektifan biaya serta member kemudahan untuk melakukan replikasi (menerapkan ulang) sehingga alat CSS ini dapat dipakai dan diterapkan oleh instansi Kesehatan dan Pendidikan dan/atau BAPPEDA sejalan dengan keputusan MENPAN (Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara) KEP/25/M.PAN/2/224 mengenai penyusunan Survei Kepuasan Survei Masyarakat (Pedoman Umum…Pedoman Penyusunan Indeks Kepuasan Masyarakat).
Sebagaimana yang ditunjukkan dalam tabel ringkasan di atas, untuk indikator 100.4 – prosentase dari pencapaian sasaran TPM/SPM yang terpilih, baik kumulatif maupun status pencapaian pada tahun 2010 berada pada level nol. Hal ini dapat dijelaskan berdasarkan fakta bahwa, baru pada akhir tahun 2010, kesepuluh kabupaten/kota yang ikut serta dalam program baru menetapkan indikator sasaran TPM dan SPM kesehatan dan Pendidikan yang akan mereka coba yang akan dicapainya sambil menyiapkan usulan Strategi Peningkatan Pelayanan Kesehatan dan Pendidikan BRI. Dengan demikian, per 31 Desember 2010, tidak ada kabupaten atau kota yang mencapai salah satu dari indikator sasaran TPM dan SPM Kesehatan dan Pendidikan yang telah mereka tetapkan. Lampiran F menampilkan tabel ringkasan Indikator Sasaran TPM dan SPM Kesehatan dan Pendidikan yang dipilih, dan pencapaian masing-masing 10 kabupaten/kota. BASICS akan memperbarui tabel ini setiap tahunnya dalam Laporan Kemajuan Tahunan.
Hasil Langsung 110: Meningkatnya kemampuan pihak pejabat pemerintah (eksekutif) dan anggota legislatif di tingkat kabupaten/kota dalam
menyusun rencana dan anggaran layanan social yang berbasis TPM/SPM yang disusun secara partisipatif, responsif gender dana tanggap terhadap lingkungan hidup yang berkelanjutan
Indikator Data
Dasar
Target yang ditetapkan Pencapaian Periode
Proyek
Tahun 2010
Jan-Des 2010
Kumulatif Selama periode proyek 110.1 jumlah pejabat eksekutif
(L/P) yang telah meningkat pengetahuan/keterampilannya dalam perencanaan dan penyusunan anggaran
0 300
(200L, 100P)
80 (50L, 30P)
304 (186L, 118P)
304 (186L, 118P)
110.2 jumlah anggota legislatif (L/P) yang telah meningkat pengetahuan/keterampilannya untuk mengkaji rencana dan anggaran
0 200
(150L, 50P)
50 (35L, 15P)
158 (114L, 44P)
158 (114L, 44P)
Kemajuan Dalam Pencapaian Hasil yang Direncanakan
Arahan Proyek tampaknya pada tahap ini sudah tepat karena perhatian Proyek pada TPM, SPM dan penguatan secara umum pada proses perencanaan dan penyusunan anggaran dianggap “sangat tepat waktu” dan melengkapi upaya Pemerintah Indonesia akhir-akhir ini untuk meningkatkan pencapaian TPM. Semangat ini didukung oleh Dewan Perwakilan Rakyat, yang membentuk komite kerja baru TPM pada 20 Maret 2010 dan telah menegaskan bahwa penghapusan kemiskinan sampai pada 2015 akan menjadi puncak agenda legislatif nasional.
BAPPENAS sedang merintis upaya terkoordinasi untuk pencapaian TPM dengan tenggat waktu 2015. BASICS memanfaatkan sinergi ini dan bekerjasama dengan BAPPEDA Sulawesi Utara untuk mempresentasikan pendekatan proyek untuk peningkatan proses perencanaan pelayanan sosial berdasarkan TPM/SPM pada forum nasional tentang TPM yang diketuai BAPPENAS.
Sebanyak 304 pejabat pemerintah eksekutif (186 laki-laki, 118 perempuan)8 telah meningkat pengetahuan dan keterampilan mereka dalam melaksanakan perencanaan dan penyusunan anggaran yang berorientasi pada TPM/SPM dan responsif gender selama 2010. Sejumlah 304 pejabat eksekutif ini merupakan bagian dari sekitar 37% dari total 827 pejabat (442 laki-laki, 385 perempuan) yang ikut serta dalam kegiatan pelatihan pengembangan kapasitas BASICS selama 2010. Seluruh 304 pejabat tersebut diidentifikasikan sebagai pejabat yang telah mengalami peningkatan secara signifikan dalam hal ketrampilan dan pengetahuan mereka pada perencanaan dan penyusunan anggaran yang berorientasi pada TPM/SPM/responsif gender karena tingginya frekuensi mereka mengikuti kegiatan pengembangan kapasitas dan tingginya tingkat keterlibatannya dalam program yang didukung BASICS.
8 Lihat komentar mengenai jumlah besar pejabat Eksekutif di luar perkiraan yang dilatih di bawah Output 111.
Tingginya tingkat kesertaan dalam acara pelatihan BASICS selama 2010 ini dapat dijelaskan berdasarkan beberapa faktor, di antaranya adalah:
Tahun 2010 masih dianggap sebagai bagian dari tahap pendahuluan pengembangan pengetahuan proyek oleh para pimpinan tinggi pemerintahan daerah dan sebagai akibatnya, pihak instansi kabupaten dan kota meminta agar lebih banyak pejabat mereka diikut-sertakan dalam lokakarya, dll.
terdapat minat, dan kebutuhan yang besar, dari pejabat pemerintah agar lebih meningkatkan pemahaman mereka mengenai aspek teknis dan administratif dari SPM yang responsif gender dan perencanaan pelayanan social berbasis TPM – dan dengan demikian terjadi minat yang kuat untuk ikut-serta dalam kegiatan pengembangan kapasitas BASICS;
pelayanan kesehatan dan pendidikan tertentu diprogramkan dan dilaksanakan oleh beberapa instansi (mis. Usan Pendidikan oleh Kementerian Pendidikan Nasional dan Kementerian Agama, beberapa pelayanan Kesehatan oleh Kementerian Kesehatan, Rumah Sakit Daerah dan/atau Badan Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana, pelayanan air dan kebersihan oleh Kementerian Kesehatan dan kementerian Pekerjaan Umum), sehingga memerlukan keterlibatan sejumlah lembaga sektoral, dan
Program perbaikan kesehatan dan perbaikan data yang ambisius ini, yang dilakukan hanya satu kali saja (pembangunan momentum), di semua 10 kabupaten tersebut telah mengakibatkan terjadinya keterlibatan banyak pejabat eselon tingkat bawah pada instansi bidang Kesehatan dan Pendidikan. Mereka (yang setelah mendapatkan pelatihan spesifik mengenai praktek pengumpulan data yang diperbaiki), kemungkinan besar tidak akan diikutsertakan lagi dalam kegiatan BASICS.
Selama periode laporan, BASICS membantu meningkatkan pengetahuan dan keterampilan pejabat eksekutif melalui berbagai kegiatan pengembangan kapasitas secara bertahap yang terfokus pada tema teknis berikut:
pelatihan dan pembinaan mengenai peralatan dan pendekatan baru di berbagai tahapan dari siklus perencanaan dan penganggaran;
meningkatkan pemahaman mengenai kondisi status pembangunan manusia di suatu daerah melalui pemetaan TPM di Kabupaten/Kota;
meningkatkan pemahaman dan kesepakatan antara departemen tentang Standar Pelayanan Minimum agar mendorong proses koordinasi perencanaan dan penyusunan anggaran yang lebih baik;
dimasukkannnya SPM dalam perencanaan jangka menengah dalam bidang Kesehatan dan pendidikan;
membangun SPM/TPM yang dipertimbangkan dalam proses Perencanaan dan Penyusunan Anggaran secara menyeluruh di Kabupaten/Kota;
Pengumpulan data Kesehatan dan Pendidikan, sistem pemantauan dan analisis; dan
Mengidentifikasi kesulitan dan peluang yang spesifik guna mengurangi tingkat kematian bayi, anak dan ibu hamil.
Dibanding dengan pendekatan yang selama ini telah merebak yakni berupa “pengulangan anggaran tahun lalu” untuk penyusunan suatu anggaran tahunan, maka sekarang pejabat eksekutif telah mulai menganalisis berbagai program dan alokasi kontribusi suatu program terhadap pencapaian spesifik indikator TPM. Di samping itu, pejabat yang sudah mengikuti pelatihan BASICS telah mulai menganalisis program dan alokasi sumberdaya mereka untuk secara langsung berkontribusi pada SPM tertentu. Sebagaimana tercatat pada indikator 100.2,
setelah mengikuti pelatihan analisis anggaran, para pemangku kepentingan Eksekutif dan Legislatif tersebut menyadari bahwa diperlukan upaya bersama untuk meningkatkan kesehatan ibu hamil, sedangkan dari pihak pejabat instansi Kesehatan Bitung, dan kemudian Badan Legislatif Bitung (DPRD), telah menaikkan anggaran untuk pendanaan bagi perempuan hamil pada revisi APBD (P-APBD) pertengahan tahun.
Dalam komentar mereka tentang bagaimana proyek telah membantu meningkatkan kapasitas pejabat eksekutif dalam menyusun rencana kerja dan menganggarkan pelayanan sosial berbasis TPM/SPM, para pemangku kepentingan proyek menyatakan:
Beberapa pemangku kepentingan proyek juga memberi komentar mengenai pentingnya pengetahuan dan keterampilan yang mereka dapatkan untuk memasukkan perspektif gender ke dalam rencana dan anggaran pelayanan sosial. Para responden dari kalangan eksekutif menyatakan:
“Bantuan teknis dari BASICS telah membantu meningkatkan pengetahuan mengenai perencanaan, penyusunan anggaran, komunikasi dan prosedur guna berinteraksi dengan pemangku kepentingan lain, selain juga membantu meningkatkan kualitas pekerjaan rutin kantor dengan mendorong perencanaan dan penyusunan anggaran yang lebih jelas sasarannya”
(responden dari Kabupaten Konawe Selatan)
"Technical assistance from BASICS has helped to increase knowledge about planning, budgeting, communication and procedures for interacting with other stakeholders, while also helping improve the quality of routine office work encourage more targeted planning and budgeting.”
(respondent from Kabupaten Konawe Selatan)
“Bantuan teknis yang diberikan oleh BASICS telah memperluas pengetahuan dan menumbuhkan minat yang diperlukan untuk memperbaiki proses perencanaan dan penyusunan anggaran, terutama dalam hal penyusunan dokumen anggaran seperti misalnya RENSTRA dan RENJA bagi instansi eksekutif. Orientasi mengenai dokumen Rencana Kerja tahunan (RKA) yang dimandatkan merupakan dasar pengenalan yang sangat bermanfaat bagi berbagai instansi, terutama instansi Pendidikan dan Kesehatan”
(responden dari Kabupaten Kolaka Utara)
“Sekarang saya mengerti bahwa dalam menyusun suatu Rencana Kerja dan Anggaran (RKA), saya harus pertama kali membuat analisis gender’
(staf BAPPEDA Kolaka Utara)
“Ini adalah pertama kalinya saya melihat Peraturan Menteri Dalam Negeri 15/2008 tentang Pedoman untuk Pengarusutamaan Gender”
(anggota staf BAPPEDA Kolaka Utara)
“Pembinaan dalam penyusunan Rencana Strategi kami cukup berhasil dengan adanya draf RENSTRA yang sedang disusun oleh kolega dari BPPKB secara partisipatif. Keberhasilan utama adalah justru dalam terbentuknya hubungan yang baik antara sesama staf BPPKB. Prinsip transparansi, partisipasi dan akuntabilitas dibangun, padahal sebelumnya, kami diliputi oleh suasana kerahasiaan dan kecurigaan. Ini adalah pertama kalinya kami terlibat dalam perumusan program dan kegiatan dan sekarang kami jadi mengetahui alokasi anggaran untuk BPPKB. Sebelumnya, belum pernah terjadi”
(Pejabat BPPKB dari Kolaka Utara)