JUMLAH 8 Sumber : Bidang Yankes
C. Status Gizi
1. Keadaan Status Gizi
Keadaan gizi yang baik merupakan syarat terciptanya sumberdaya manusia yang berkualitas. Anak yang mengalami masalah gizi pada usia dini akan mengalami gangguan tumbuh kembang dan meningkatkan kesakitan, penurunan produktifitas serta kematian. Masalah Gizi penduduk merupakan masalah yang tersembunyi, yang berdampak pada tingginya angka kesakitan dan kematian. Kurang asupan dan absorpsi gizi mikro dapat menimbulkan konsekuensi pada status kesehatan, pertumbuhan, mental dan fungsi lain (kognitif, sistem imunitas, reproduksi dan lain-lain).
Masalah gizi merupakan salah satu penentu utama kualitas sumber daya manusia. Gizi yang tidak seimbang akan menentukan kualitas sumber daya manusia. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa gangguan gizi kurang pada anak balita ternyata membawa dampak negatif terhadap pertumbuhan fisik maupun mental. Anak yang mengalami masalah gizi pada usia dini akan mengalami gangguan tumbuh kembang dan meningkatkan kesakitan, penurunan produktivitas serta kematian.
Kekurangan gizi makro dalam hal ini energi dan protein, akan menyebabkan penyakit gizi yang kronis diantaranya marasmus, kwashiorkor dan gabungan marasmus dan kwashiorkor. Sedangkan kelebihan asupan zat gizi terutama zat gizi makro akan menyebabkan terjadinya kegemukan (obesitas) yang pada akhirnya akan menyebabkan terjadinya penyakit-penyakit degeneratif misalnya jantung dan pembuluh darah, diabetes mellitus, dan sebagainya.
Intervensi masalah gizi di Kota Sukabumi pada Tahun 2012 masih dipusatkan pada 4 kegiatan yang sama dengan tahun lalu, yaitu Penanggulangan Kurang Energi Protein (KEP), Penanggulangan Anemia Gizi Besi (AGB), Pencegahan Kekurangan Vitamin A dan Penanggulangan GAKY.
Kegiatan penanggulangan Kurang Energi Protein (KEP) dilakukan melalui pemantauan pertumbuhan Balita setiap bulan di Posyandu, Pemantauan Status Gizi (PSG) Balita, Bulan Penimbangan
Balita (BPB), Klinik Gizi (pemeriksaan oleh dokter spesialis anak, pemeriksaan laboratorium, pemeriksaan rontgen/mantoux, pemeriksaan kesehatan lain termasuk pemberian multivitamin dan rujukan kasus balita gizi buruk), Pemberian Makanan Tambahan Pemulihan (PMT-P) berupa makanan lokal kepada balita gizi buruk dan gizi kurang GAKIN, Pemberian Makanan Tambahan Pemulihan (PMT-P) kepada ibu hamil KEK/AGB.
Penanggulangan Anemia Gizi Besi (AGB) dilakukan melalui pemberian tablet Fe kepada ibu hamil, pemberian tablet Fe kepada ibu nifas dan pemberian tablet Fe kepada remaja putri di SMP Negeri 7 Kota Sukabumi.
Hasil pemantauan pertumbuhan balita yang dilakukan setiap bulan di Posyandu Tahun 2012 di Kota Sukabumi menunjukkan bahwa cakupan D/S hanya 82,2% dengan jumlah balita gizi buruk indikator BB/U ada 170 anak (0,8%) dan gizi kurang 788 anak (4,1%).
Cakupan pemberian Tablet Fe sebanyak 90 tablet kepada ibu hamil (Fe3) sebesar 78,1%. Pemberian kapsul Vitamin A kepada bayi dan balita maupun ibu nifas semuanya sudah mencapai target yaitu masing-masing 99,1%, 97,0%, dan 85,5%.
a. Balita Gizi Buruk Mendapat Perawatan
Balita gizi buruk yang mendapat perawatan adalah balita gizi buruk yang ditangani di sarana pelayanan kesehatan sesuai tata laksana gizi buruk di satu wilayah kerja pada kurun waktu tertentu.
Tabel 3.8
Jumlah Balita Gizi Buruk di Kota Sukabumi Tahun 2012
No Puskesmas Balita
Ditimbang Gizi Buruk BB/TB % BB/U % 1 2 3 4 5 6 7 1 Selabatu 1,015 0 0 8 0.79 2 Sukabumi 2,001 5 0.25 14 0.70 3 Cipelang 1,178 0 0 20 1.70 4 Karang Tengah 1,562 1 0.06 10 0.64
No Puskesmas Balita Ditimbang Gizi Buruk BB/TB % BB/U % 1 2 3 4 5 6 7 5 Benteng 1,746 0 0 13 0.74 6 Sukakarya 1,037 1 0.10 11 1.06 7 Pabuaran 607 0 0 3 0.49 8 Tipar 972 1 0.10 3 0.31 9 Nanggeleng 1,013 2 0.20 11 1.09 10 Gedong Panjang 1,184 6 0.51 8 0.68 11 Baros 1,852 5 0.27 23 1.24 12 Limus Nunggal 1,015 1 0.10 5 0.49 13 Cibeureum Hilir 1,297 2 0.15 8 0.62 14 Cikundul 1,509 9 0.60 25 1.66 15 Lembursitu 1,118 0 0 8 0.72 Jumlah 19,106 33 0.17 170 0.89
Sumber : Bidang Yankes
Berdasarkan tabel diatas, jumlah balita gizi buruk berdasarkan BB/TB di Kota Sukabumi Tahun 2012 berada dibawah target < 1% yaitu 0,17%. Balita gizi buruk ini tersebar di Puskesmas Cikundul (9 anak), Gedong Panjang (6 anak), Sukabumi (5 anak), Baros (5 anak), Nanggeleng (2 anak), Karang Tengah (1 anak), Sukakarya (1 anak), Tipar (1 anak), Limus Nunggal (1 anak), sedangkan Puskesmas Selabatu, Cipelang, Benteng, Pabuaran dan Lembursitu, tidak ditemukan balita gizi buruk berdasarkan BB/TB. Balita gizi buruk ini tidak murni, tetapi disertai dengan penyakit penyerta yaitu TB Paru, Meningitis dan kelainan bawaan seperti Cerebral Palsy, Colostomy, Kelainan Jantung, dan lain-lain.
b. Klinik Gizi Balita Gizi Buruk
Sasaran kegiatan Klinik Gizi Balita Gizi Buruk Tahun 2012 adalah sebanyak 20 anak, tersebar di 15 Puskesmas. Dilaksanakan pada Tanggal 03 April, 07 Juni, 06 September dan 11 Desember. Lokasi pelaksanaan kegiatan ini bertempat di Dinas Kesehatan Kota Sukabumi.
Adapun kegiatan yang dilakukan dalam Klinik Gizi ini yaitu Pengukuran Antropometri, Penentuan Status Gizi, Pemeriksaan Kesehatan oleh Dokter Spesialis Anak, Pemeriksaan Rontgen, Pemeriksaan Mantoux dan Fisioterapi.
c. PMT Pemulihan Balita Gizi Buruk dan Gizi Kurang Gakin
Sasaran Pemberian Makanan Tambahan Pemulihan (PMT-P) sebanyak 40 Balita dengan kriteria status gizi menurut BB/TB gizi sangat kurus dan kurus yang tersebar di Puskesmas Benteng, Sukakarya dan Cibeureum Hilir.
PMT-Pemulihan ini diberikan selama 90 hari berturut-turut (September – November 2012) dengan menu yang diberikan yaitu makanan lokal dengan siklus menu 10 hari berulang.
80% balita yang mendapatkan PMT-Pemulihan, naik berat badannya. Pada bulan pertama (September), terdapat 80%balita naik berat badannya. Pada bulan kedua (Oktober), 60% balita naik berat badannya. Begitu pula dengan bulan terakhir (November), 80% balita naik berat badannya. Hal ini menunjukkan bahwa kegiatan PMT-Pemulihan pada Balita Gizi Buruk dan Gizi Kurang, sangat membantu meningkatkan berat badan balita.
Sedangkan untuk balita yang tidak naik berat badannya, dikarenakan balita sedang dalam keadaan sakit. Selain itu, adanya PMT-Pemulihan dijadikan makanan pengganti makanan pokok balita bukan sebagai makanan tambahan. Sehingga tidak ada penambahan kalori dalam makanan sehari-harinya, yang mengakibatkan balita tidak naik berat badannya.
Pemberian makanan tambahan juga harus disertai dengan pola asuh orang tua / keluarga yang baik, lingkungan tempat tinggal yang sehat dan pola makan yang benar. Sehingga dapat memberikan hasil yang maksimal.
2. Cakupan Persentase D/S
Cakupan persentase D/S di Kota Sukabumi Tahun 2012 sudah mencapa target 80% yaitu 82,2%. Dari periode Januari – Desember
2012, hanya 2 bulan yaitu Bulan Januari dan April 2012 yang belum mencapai target yaitu 78,1% dan 79,3%.
Seperti tahun-tahun sebelumnya, hasil pencapaian D/S pada Bulan Februari dan Agustus jauh diatas target dikarenakan bersamaan dengan Kegiatan Bulan Vitamin A dan sweeping petugas bagi Balita yang tidak datang ke Posyandu.
Cakupan D/S terkecil ada di Puskesmas Tipar yaitu sebesar 70,2%, sedangkan terbesar di Puskesmas Lembursitu sebesar 92,3%. Puskesmas yang sudah mencapai target yaitu Puskesmas Lembursitu, Cikundul, Benteng, Selabatu, Baros, Cibeureum Hilir, Gedong Panjang, Cipelang, Sukakarya, Nanggeleng dan Limus Nunggal. Sedangkan 4 Puskesmas lain, masih berada dibawah target 80 %. Cakupan persentase D/S Tahun 2012, dapat dilihat pada grafik dibawah ini :
Grafik 3.9
Cakupan Persentase D/S menurut Puskesmas Di Kota Sukabumi Tahun 2012
Sumber : Bidang Yankes 0 10 20 30 40 50 60 70 80 90 100
BAB IV