• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV Paparan Hasil Penelitian

B. Hasil Penelitian

3. STID Mohammad Natsir

Sebelum membahas tentang bagaimana implementasi pendidikan integral M. Natsir di Sekolah Tinggi Ilmu Da’wah (STID) Mohammad Natsir, terlebih dahulu penulis memaparkan profil singkat STID Mohammad Natsir:

a. Profil STID Mohammad Natsir.

Berdirinya STID Mohammad Natsir berawal dari sebuah Masjid

sederhana Dewan Da’wah Islamiyah didirikan pada tanggal 26, 02, 1967.

Ketua diserahkan kepada M. Natsir sebagai langkah menuju manusia yang lebih baik sesuai dengan ajaran Islam. Langkah selanjutnya adalah menatar kader-kader da’i sebagai respon dari adanya aktifitas terprogram dari ajaran lain dalam rangka mengkafirkan umat Islam, dan berkembangnya sekularisasi dikalangan terpelajar. Menghadapi kenyataan itu, M. Natsir mencanangkan tiga pilar yaitu; Kampus, Pesantren dan Masjid.

Nama M. Natsir diabadikan sebagai nama resmi kampus dengan harapan kiprah dan khittah pendidikan dan pengkaderan di perguruan tinggi ini mengikuti dan mewarisi nilai-nilai perjuangan beliau dalam da’wah ilahiyah. Dengan Program Studi (prodi) Komunikasi Penyiaran Islam dan telah terakkreditasi oleh BAN-PT dengan memperoleh nilai B SK. NO: 047/BAN-PT/AK-XIV/S1/2001.

STID Mohammad Natsir secara resmi berdiri pada tanggal 07, ramadhan 1400 H/ 15, desember tahun 1999. Berdasarkan hasil Musyawarah Besar

(MUBES) Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia. STID Mohammad Natsir

merupakan kelanjutan dari lembaga pendidikan yang pernah ada

dilingkungan Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia, yaitu Akademi Bahasa

Arab (AKBAR) dan Lembaga Pendidikan Da’wah Islam (LPDI).

Kampus da’wah yang terletak di Tambun Bekasi ini untuk pertama kalinya dipimpin oleh Ust. Kamaluddin Iskandar Ishaq, Lc, Salah satu kader pertama M. Natsir. Dalam pengelolaannya STID Mohammad Natsir dibina dan dibimbing oleh Senat Akademik yang terdiri dari tokoh-tokoh da’wah diantaranya; Dr. Mohammad Noer. Abdul Wahab Alwi, MA. Muzayyin Abdul Wahab, Lc. Imam Zamroji, MA. Dr. Daud Rasyid. Kamaluddin

Iskandar Ishaq, Lc. Mas’adi Sulthani, MA. Dr. Adian Husaini. Dan Dr. Ulul Amri.

Dalam memberikan wawasan keilmuan, STID Mohammad Natsir selain menekankan pada ilmu-ilmu dakwa dan ushuluddin, juga menekankan pada bidang bahasa dan ilmu-ilmu yang terkait dengan komunikasi dan penyiaran Islam. Mata kuliah tersersebut dapat dirinci sebagai berikut. Dalam bidang Bahasa diantaranya; Bahasa Indonesia, Bahasa Indonesia Jurnalistik, Bahasa Arab, Bahasa Inggris. Mata kuliah kaidah, ushul dan manhaj diantaranya; Ushul fiqh, Ulum Qur’an, Ulum Hadits, Ilmu Tauhid, Taszkia Nafs, Dirasah Manhaj Salaf, Ilmu Kalam, Ilmu Tasawuf, Fiqih, Hadits,Tafsir, Hadits

Da’wah, Tafsir ayat Da’wah, Manhaj Da’wah Salaf, Adabul bahs wa

al-Munadzarah.

Selanjutnya dalam bidang mata kuliah Da’wah dan Komunikasi diantaranya; Da’wah, Filsafat Da’wah, Ilmu Da’wah, Psikologi Da’wah, Sejarah Da’wah, Metodologi Penelitian Ilmu Da’wah, Manajemen Pengelolaan Masjid, Problematika dan Peta Da’wah, Kapita Selekta Da’wah, Retorika/Khitaba, Ghazwul Fikri, Kristologi, Komunikasi, Etika dan Filsafat Komunikasi, Ilmu Komunikasi, Jurnalistik, Sosiologi Komunikasi Masa, Psikologi Umum, Sosiologi, Sosiologi Agama, Public Relation, Produksi Siaran Radio, Televisi dan Film, Produksi Media Cetak, Tehnik Penulisan dan Peliputan Berita, Komunikasi Lintas Budaya dan Agama. Dan mata kuliah pendukung diantaranya; Civic education, Metodologi Studi Islam, Metodologi Penelitian dan Penulisan Ilmiah, Statistik Sosial, Pengantar Ilmu Politik, Filsafat Umum, Filsafat Islam, Praktek Kerja Lapangan, Skripsi , Sejarah Nabawi , Sejarah Agama-agama/Milal wa Nihal, Sejarah Islam, Sejarah Peradaban Islam.

Adapun pembinaan mahasiswa di STID Mohammad Natsir pada dasarnya diarahkan untuk menunjang kegiatan kurikuler dalam proses pendidikan yang diarahkan untuk memperluas wawasan ilmu pengetahuan, sosial, budaya dan wawasan kebangsaan. Kegiatan kemahasiswaan di STID Mohammad Natsir yang dilakukan selama ini berorientasi untuk mewajudkan

visi, misi dan tujuan STID Mohammad Natsir. Dalam upaya mewujudkan tujuan tersebut, STID Mohammad Natsir sebagai bagian dari suatu lingkugan sosial memiliki kewajiban untuk berinteraksi dan memberikan sumbangan terhadap lingkungannya.

Untuk menjawab hal tersebut, program pembinaan di kampus Da’wah ini terbagi menjadi dua bagian; pertama, pembinaan untuk dua tahun pertama dengan sifat boordingscool (wajib tinggal di asrama) sejak semester I sampai dengan semester IV. Pada tahapan ini mahasiswa dibina dengan ilmu-ilmu dasar syari’ah dan dilengkapi dengan skill Da’wah seperti; retorika, imam dan khatib, penyelenggaraan fardu kifayah, tahsin dan tahfidz al-Quran, bela diri, manajemen masjid dan lain-lain. Pada masa boording scool ini, interaksi mahasiswa dengan masyarakat dalam bentuk pendampingan hanya terbatas kepada mahasiswa semester III dan IV dengan miliu masyarakat di persekitaran kampus.

Sebelum memasuki perkuliahan di awal tahun semester lima, mahasiswa diwajibkan terlebih dahulu untuk mengikuti agenda kegiatan Kafilah Da’wah di daerah pedalaman selama kurang lebih dua bulan lamanya kegiatan ini bertujuan untuk memberikan gambaran secara riil tentang tantangan Da’wah di lapangan, khususnya daerah-daerah terpencil. Sasaran agenda Kafilah Da’wah selalu berubah dari tahun ke tahun.

Daerah-daerah strategi yang dituju merupakan daerah dengan kondisi jauh dari perkotaan (desa/pedalaman) dan rawan akidah. Beberapa tempat yang telah dikunjungi diantaranya; Metawai, Sambas, Desa Bayan, Bali, Nias, Papua, Manado dan lain-lain.

Kedua, tahapan pembinaan untuk dua tahun berikutnnya (semester lima ke atas). Pada tahapan ini, selain masih secara aktif mengikuti perkuliahan dan sejumlah kegiatan di dalam organisasi BEM, mahasiswa juga dibina dalam bentuk penugasan-penugasan Da’wah. Selain masih mengikuti perkuliahan secara aktif di semester lima hingga semester berikutnya, mereka juga diwajibkan untuk terjun ke lapangan melalui Komunitas Pecinta Masjid (KPM) dengan malakukan pembinaan di sejumlah masjid-masjid yang berada

di sekitar Bekasi dan Jakarta. Selain it juga mahasiswa terlibat secara aktif dalam pemagangan sejumlah lini kegiatan di Dewan Da’wah pusat

mendampingi pengurus Dewan Da’wah dalam melaksanakan aktifitas sehari

-hari. Secara umum, kegiatan-kegiatan ekstra kurikuler di STID Mohammad Natsir dilakukan dalam bentuk sertifikasi wajib dan menjadi syarat dalam pengajuan ujian skripsi. Diantara sertikasi yang diwajibkan adalah; Tahsin dan Tahfidz al-Quran38, KMP (Komunitas Pecinta Masjid) Bela Diri, Bahasa, Ghazul Fikri, Kristologi Haraktul Dammah, dan Kafilah Da’wah.

Ketiga; adalah tahapan seusai menyelesaikan studi di STID Mohammad Natsir (alumni). Sebelum menempati pos-pos Da’wah dalam rutinitas Da’wah di Dewan Da’wah, mahasiswa yang telah menyelesaikan studinya tidak langsung diberikan ijazah secara resmi kampus. Terlebih dahulu mereka di kirim ke daerah-daerah pedalaman di nusantara dengan tugas Da’wah selama satu tahun. Bagi mereka yang menunjukkan integritas dan pengabdian yang baik maka Dewan Da’wah menyediakan fasilitas pendidikan untuk jenjang Strata Dua (S2) bekerjasama dengan sejumlah universitas di Indonesia seperti: UMH Solo, UPI Bandung, UIKA Bogor, UIA Jakarta, UI Salemba dan lain-lain.

Dilihat dari sumber mahasiswa, selama ini mahasiswa berasal dari perwakilan-perwakilan Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia dan

lembaga-lembaga Da’wah se-tanah air disamping pendaftar perorangan. Sedangkan

latar belakang sosial-budaya dan sosial-ekonomi mereka pada umumnya berasal dari lingkungan masayrakat pesantren dengan sosial-ekonomi menengah kebawah. Sementara itu, mahasiswa yang pernah menikmati pendidikan di STID Mohammad Natsir sampai saat ini mencapai 326 orang.

38

Lembaga ini terletak di komplek B Tambun Bekasi, telah dirintis sejak tahun 2004, berawal dari kegiatan mahasiswa dengan nama Halaqah al-Quran (HQ), kemudian menjadi satu lembaga yang bernama LTQ (Lembaga Tahsin dan Tahfizh al-Quran) yang bertujuan menumbuhkan komunitas pecinta al-Quran dan meraih predikat manusia terbaik. Dalam perkembangannya mata kuliah Tahsin al-Quran dimasukkan ke dalam kurikulum resmi STID Mohammad Natsir.

b. Visi, Misi STID Mohammad Natsir Visi

1.) Menjadi pusat pendidikan tertinggi yang membangun kembali tradisi intelektualisme Islam berdasarkan al-Quran dan Hadits serta ittiba’ Manhaj As-Salaf as-Shalih.

Misi

1.) Membangun peradaban Islam melalui Islamisasi Ilmu pengetahuan dan Tradisi Intelektual Islam yang Kaffah

2.) Mengembangkan ilmu pengetahuan melalui pendidikan dan penelitian

c. Tujuan Pendidikan

Tujuan pendidikan Sekolah Tinggi Ilmu Da’wah M. Natsir adalah;

1.) Melahirkan serjana Muslim yang bertauhid, berilmu dan berakhlakul karimah.

2.) Melahirkan serjana Muslim dan pemimpin ummat yang mutafaqqih fiddien.

3.) Melahirkan serjana Muslim yang cakap, berdedikasi tinggi dan amanah.

4.) Melahirkan serjana sebagai da’I yang faham manajerial da’wah

sesuai tuntunan ajaran Islam dan kualifikasi zaman.

5.) Melahirkan serjana sebagai mujahid da’wah yang teguh dan istiqamah.

d. Tenaga Pengajar

Tenaga dosen STID Mohammad Natsir terdiri atas tenaga dosen tetap dan tidak tetap. Tenaga dosen tetap adalah para dosen yang diangkat oleh yayasan, sedangkan tenaga dosen tidak tetap adalah para dosen yang diangkat oleh ketua STID Mohammad Natsir yang mengabdikan ilmunya di STID Mohammad Natsir khususnya dan Dewan Da’wah umumnya.

Tenaga dosen yang dimiliki STID Mohammad Natsir terdiri dari alumnus perguruan tinggi dalam negeri seperti UI, UNAS, UIN, dan lainnya, dan alumnus perguruan tinggi luar negeri seperti IIUM Malaysia, Universitas

Malaya Malaysia, Universitas Antar Bangsa, Universiatas al-Azhar Mesir, Universitas Imam Su’ud, Islamic University Of Madinah, Universitas Umul Quro, IUU Pakistan, Khortoum Institute for Arabic dan lainnya.

e. Sarana dan Prasarana

Adapun untuk menyelenggarakan program STID MOHAMMAD NATSIR memiliki tiga kampus yaitu: Kampus A bertempat di Gedung Menara Da’wah Dewan Da’wah Pusat, Kampus B dengan Gedung 4 lantai milik STID MOHAMMAD NATSIR di Bekasi, serta Kampus C bertempat di Muslimah Center Cipayung Jakarta Timur. Di setiap Kampus disediakan perpustakaan dan khusus kampus B dan C dilengkapi dengan layanan internet sebagi penunjang pembelajraan meski dengan kondisi yang belum sepenuhnya memadai. Kondisi ini terus mendorong pihak civitas akademik untuk mewujudkan perpustakaan (baik digital maupun literal) yang betul-betul dapat menjadi tempat rujukan mahasiswa dalam menyegerkan dahaga keilmuannya.

f. Implementasi pendidikan Integral di STID Mohammad Natsir

Untuk mengetahui bagaimana implementasi gagasan M. Natsir di STID Mohammad Natsir, penulis mewawancarai ketua Senat Akademik STID Mohammad Natsir yakni Dr. Mohammad Noer. Beliau termasuk salah satu murid M. Natsir dalam katagori murid informal. Data ini penulis peroleh melalui rekaman dan catatan singkat sebagai berikut.

Menurut penuturan beliau, konsep pendidikan integral sebenarnya berangkat dari mosi integral yang disampaikan oleh M. Natsir di parlemen atau dipemerintahan setelah beberapa tahun kemudian. Dimana pada waktu Indonesia terbagi menjadi tiga bagian yang terkenal dengan RIS. Beliau menginginkan bahwa negara Indonesia tidak bisa dipecah-pecah menjadi negara bagian. Menurut beliau dalam pidatonya menginginkan adanya pengintegralan wilayah-wilayah Indonesia.

Hal itu sangat wajar dilakukan oleh M. Natsir, karena pada waktu itu Indonesia baru merdeka. Sehingga bagi beliau ini sebuah kebiri dan mematahkan kesatuan NKRI. Mosi integral inilah yang kemudian konsepnya

diterapkan dalam pendidikan. Karena pendidikan pada masa M. Natsir, banyak menerapkan pendidikan sekuler. Dan pendidikan bagi M. Natsir adalah salah satu pelestarian warisan kebudayaan. Disini M. Natsir melihat banyak bumiputera yang menerima sistem pendidikan sekuler dan memperolok-olok sekaligus menentang ajaran agama Islam. Hal ini yang menimbulkan masalah dan merusak akhlak pelajar dikarenakan bentuk pergaulan mereka yang kebarat-baratan. Dan juga pendidikan yang mereka terima sejak kecil tidak menyentuh nilai-nilai Islam.

Pada saat bersamaan adanya sistem pendidikan tradisionalyang menghasilkan pelajar yang beriman dan berakhlak tetapi tidak menghiraukan terhadap perkembangan dunia. Sedangkan sistem pendidikan Baratmengisi otak dan mengosongkan jiwa. Hal ini yang kemudian mendorong M. Natsir berdialog dengan gurunya Ahmad Hasan dan Fahruddin al-Khairi dan akhirnya mendapat dukungan untuk mengadakan persiapan mendirikan sekolah dengan corak baru yang memiliki kurikulum terpadu antara pendidikan umum dan agama. Melalui sistem pendidikan terpadu itu beliau ingin menjadikan anak didikannya sebagai intelek yang ulama dan ulama yang intelek.

Untuk merealisasikan cita-citanya, M. Natsir tidak mengemukakan teori semata akan tetapi juga melalui tindakan. Awalnya M. Natsir mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan sekolah jenjang lebih tinggi tetapi beliau menolaknya. Dengan alasan keinginan mendirikan PENDIS. PENDIS berdiri pada tahun 1932 dengan murid pertamanya Rosyad Nuriddin. Sekolah PENDIS sebagai bukti bahwa M. Natsir menolak adanya sistem pendidikan yang terpisah antara pendidikan umum dan pendidiakn agama.

Dua tahun kemudian tepatnya pada tahun 1934 M. Natsir mengemukakan gagasannya melalui beberapa tulisan dan ceramah. Salah satunya tentang Ideologi Pendidikan yang menginginkan pendidikan berlandaskan tauhid. Inilah cita-cita M. Natsir yang diterapkan di PENDIS. Dimana di PENDIS menerapkan kurikulum dengan menekankan integral yang mempunyai 3 (Tiga) pilar yakni masjid, kampus dan pesantren. Yang dimaksud pilar masjid

yakni orang yang menerima pendidikan haruslah dekat dengan Allah. Sebagai simbolisasi tauhid maka ditanamkan kecintaan terhadap masjid.

Jadi masjid disini harus dijadikan sarana untuk mengenal Allah dan mencari ilmu. Jadi masjid disini, kalau di daerah minang adalah surau. Sedang pilar kampus yang dimaksud adalah ilmu. Jadi ilmu tidak dibatasi dan dibedakan sehingga tidak ada kata dikotomis ilmu. Adapun pilar pesantren adalah tradisi pendidikan pribumi yang sarat nilai-nilai religuis dan spritual tidak diabaikan dan dipertahankan. Tiga pilar ini adalah salah satu konsep pendidikan integral yang berangkat dari kegalauan beliau yang menginginkan adanya pendidikan yang ideal. Sehingga beliau berharap adanya PENDIS membawa pengaruh kepada generasi Islam agar maju sesuai perkembangan zaman, tetap berpegangan pada tali Allah yakni tauhid dan tetap mempertahankan pesantren sebagai pendidikan Islam yang sudah terbukti mencetak genarasi Islam yang berakhlak al-karimah.

69 BAB V PENUTUP A. Kesimpulan

Dari pemaparan pada bab-bab sebelumnya mengenai “Pendidikan Integral M. Natsir dan Implentasi di Sekolah Tinggi Ilmu Da’wah. Mohammad Natsir ” maka dapat disimpulkan:

1. Dalam pandangan M. Natsir, tentang arti pendidikan adalah keseluruhan konsep yang dapat membangun pribadi manusia secara utuh melalui kaidah menanamkan pendidikan terpadu demi menuju kesempurnan hidup dengan tetap berlandaskan ajaran tauhid.

2. Sistem pendidikan yang dibangun oleh M. Natsir tidak mengenal pemisahan antara sistem ke-timuran dan sistem ke-baratan. Barat dan Timur semuanya milik Allah Swt, ideologi pendidikan Islam hanya mengenal hak dan batil antara salah dan benar. Selama itu baik tidak jadi soal meskipun datangnya dari Barat, sebaliknya semua yang batil ditolak walaupun datangnya dari Timur.

3. Tujuan pendidikan Islam menurut M. Natsir sama dengan tujuan hidup di dunia yaitu mengabdi secara total dalam pengertian menghamba kepada Allah Swt.

4. Dalam pelaksanaan pendidikan integral M. Natsir di STID Mohammad Natsir tidak jauh berbeda dengan apa yang pernah dirintis oleh M. Natsir pada awal pembentukan Pendidikan Islam (PENDIS) yaitu pengintegralan kurikulum ilmu agama dan ilmu umum, hanya saja yang menjadi kornya adalah da’wah.

5. Bentuk kurikulum di STID Mohammad Natsir bertujuan untuk

DA’IILALLAH, dengan rumpun mata kuliah (akidah-akhlak-manhaj-da’wah

-bahasa-tahfizd-ghazwul fikr-komunikasi-syari’ah).

6. STID Mohammad Natsir juga memiliki lembaga khusus komunitas pecinta Quran, yang dikenal dengan LTQ yaitu Lembaga Tahsin dan Tahfizh al-Quran. Merupakan salah satu lembaga di bawah Lembaga Pengabdian Masyarakat (LPM) yang bergerak khusus di bidang pengembangan kemampuan menulis, membaca dan menghafal al-Quran.

Secara ringkas dapat disimpulkan, bahwa pandangan M. Natsir tentang pendidikan integral adalah keterpaduan antara jasmani dan rohani, antara kekuatan akal dan spiritual, dunia dan akhirat. Sehingga dengan demikian, pendidikan akan memberi satu penghidupan yang dapat membantu menuju kesejahteraan hidup baik di dunia maupun di akhirat.

B. Saran

Pendidikan sebagai proses pembentukan karakter peserta didik, menggali potensi yang terpendam, menciptakan peradaban ilmiah, serta membangun kehidupan yang nyaman dan sentosa memerlukan sebuah sistem pendidikan yang mampu memobilisasi persoalan-persoalan kontemporer. Maka dengan harapan, ide gagasan yang dituangkan M. Natsir dalam bentuk pendidikan integral mampu mengatasi kegalauan berkepanjangan yang selama ini dialami oleh pendidikan kita di Indonesia khususnya dan kaum muslimin pada umumnya.

Dengan demikian, sistem pendidikan integral yang berlangsung dengan perpaduan antara kekuatan akal dan srpitual anatar muatan ilmu agama dan ilmu umum mampu membendung berbagai konsekuensi akses nagatif, terutama krisis moral kedalam tingkat degradasi-multiform. Maka dari itu yang menjadi sasaran penyusun:

1. Bagi seluruh jajaran instansi pendidikan yang memiliki wewenang dalam merumuskan kurikulum pendidikan (PUSKUR), hendaknya melakukan perpaduan antara pelajaran agama dan pelajaran umum sehingga membentuk kurikulum yang integrated.

2. Bagi penuntut ilmu hendaknya tidak terjebak pada pengkaplingan di siplin ilmu yang terjadi belakangan ini. Penguasaan terhadap berbagai disiplin ilmu merupakan syarat terpenting dalam membangun tradisi pengembangan intelektual Muslim di era globalisasi.

3. Bagi seluruh cendikiawan Muslim dan pakar-pakar pendidikan Islam hendaknya bekerja sama dalam membangun sistem pendidikan yang bersifat integral, universal dan harmonis. Dalam rangka meneruskan pemikiran dan perjuangan M. Natsir sebagai pejuang konsisten menegakkan ajaran Islam di tanah air tercinta.

Kehadiran sosok M. Natsir di tanah air Indonesia bersama ide-idenya yang segar dan cemerlang telah banyak menaburkan jasanya kepada umat Islam dalam pelbagai aspek kehidupan. Dalam usia relatif muda beliau mampu menghasilkan banyak karya. Lewat tulisannya, ide dan gagasan beliau selalu menjadi topik hangat sebagai bahan perbincangan dikalangan intelektual Muslim khususnya ide M. Natsir tentang pendidikan. Sebagai tokoh beribawa dan demokratis yang mewakili tokoh agama dan intelektual Indonesia. Beliau memiliki kepribadian yang multidimensi, wawasan keilmuan yang luas dan dalam baik ilmu yang bernuansa agama maupun ilmu bernuansa non-agama, istiqamah dalam memegang prinsip perjuangan dan mempunyai pandangan jauh dalam segenap bidang kehidupan. Beliau telah banyak menyumbangkan hampir seluruh masa kehidupannya untuk memajukan bangsa Indonesia tercinta ini dan untuk umat Islam pada khususnya, agar selalu bersikap terbuka dan menerima pandangan pembahruan, terutama yang berkaitan dengan pelaksanaan ajaran agama dan kehidupan sosial.

Ide yang berkenaan dengan judul skripsi ini tidak lain hasil pengalaman beliau saat-saat menimba ilmu di masa hidupnya, yaitu adanya ketimpangan dalam membentuk karakter didikannya. Baginya, pengintegralan pelajaran agama dan umum ke dalam kurikulum adalah salah satu langkah menatap tanda-tanda zaman dan mereformasi ulang pendidikan yang ada pada pasanya. Dengan adanya pengintegrasian ilmu diharap dapat memotivasi umat dalam membangun civitas akademik yang lebih unggul.

Abdullah, Amin dkk, Islamic Studies; Dalam Paradigma Integratif-Interkoneksi, Yogyakarta: SUKA Press, 2007.

Abdullah & Jalaluddin, Filsafat Pendidikan, Jakarta: Gaya Media Pratama, 1997.

Abdul Fatah, Rohadi & Sudarsono, Ilmu dan Teknologi Dalam Islam, Jakarta: Rineka Cipta, 1992.

Al-Musawi, Khalil, Bagaimana Menjadi Orang Bijaksana, Terj. dari Kaifa Tasasharruf bi Hikmah, oleh Ahmad Subandi, Jakarta: PT. Lentera Basritama, 1998.

Alim, Sahirul, Menguak Keterpaduan Sains Teknologi & Islam, Yogyakarta: Titian Ilahi Press, 1999.

A. Puar, Yusuf, M. Natsir 70 Tahun: Kenang-kenangan Kehidupan Perjuangan,

Jakarta: Pustaka Antara, 1978.

Arief, Armai Reformasi Pendidikan Islam, Jakarta: CRCD Press, 2005.

Arikunto, Suharsimi, Prosedur Penelitian; Suatu Pendektan Praktis, Jakarta: Rineka Cipta, 2006.

Azra, Azyumarsi, “Reintegrasi Ilmu-ilmu dalam Islam”, dalam Zainal Abidin

Bagir (ed), Integrasi Ilmu dan Agama; Interprestasi dan Aksi, Bandung: Mizan Media Utama, 2005.

, Pendidikan Islam; Tradisi dan Modernisasi Menuju Melenium Baru,

Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 2002.

Pendidikan Era Rasulullah Sampai Indonesia, Jakarta: Kencana, 2009.

Habib, Zainal, Islamisasi Sains Mengembangkan Integrasi, Mendialogkan Presepktif, Malang: UIN Malang Press, 2007.

Hitti, Philip K., History of The Arabs, terj R. Cecep Lukman Yasin dan Dedi Slamet Riyadi, Jakarta: Serambi Ilmu Semesta, 2008.

Husaini, Adian, Muhammad Natsir; Pahlawan dan Pendidik Teladan, Republika. Ahad, 21 Maret 2010.

Irfan, Muhammad & Mastuki HS, Teologi Pendidikan Tauhid sebagai Pradigma Pendidikan Islam (Jakarta: Friska Agung, 2000.

Jokon Subagyo, P. Metode Penelitian; Dalam Teori dan Praktek, Jakarta: Rineka Cipta, 2004.

Kartanegara, Mulyadhi, Integrasi Ilmu dan Agama dalam Perspektif Filsafat, Jakarta: UIN Jaarta Press, 2003.

Luth, Thohir, M. Natsir Dakwah dan Pemikirannya, Jakarta: Gema Insani Press,

Masruri, M.Hadi & Imron Rossidy, Filsafat Sain dalam al-Qur’an, Malang: UIN Malang Press, 2007.

M. Echols, John dan Hasan Shadily, kamus Inggris-Indonesia, Jakarta: PT Gremedia Pustaka Utama, 2005.

Moleong Lexy J., Metodologi Penelitian Kualitatif, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2004.

1997.

Muhaimin, Nuansa Baru Pendidikan Islam; Mengurai Benang Kusut Dunia Pendidikan, Jakarta: RajaGrafindo Persada, 2006.

,Rekonstruksi pendidikan Islam; Dari Paradigma Pembangunan, Manajemen, Kelembagaan, Kurikulum hingga Strategi Pembelajaran, Jakarta: Rajawali Pres, 2009

Musyrifah, Sunanto, Sejarah Peradaban Islam Indonesia, Jakarta : PT. RajaGrafindo Persada. 2005.

Narbuko, Cholid dan Abu Achmadi, Metodologi Penelitian, Jakarta: Bumi Aksara, 2004.

Nakosten, Mehdi, Kontribusi Islam atas Dunia Intelektual Barat; Deskriptif Analisis Abad Keemasan Islam, terj. dari History of Islamic Origins of Western Education A.D. 800-1350; with an Introduction to Medieval Muslim Education, oleh Joko S. Kahhar dan Supriyanto Abdullah, Surabaya: Risalah Gusti, 2003.

Nasution, Harun, Pembaharuan dalam Islam; Sejarah Pemikiran dan Gerakan, Jakarta: Bulan Bintang, 1975.

Dokumen terkait