• Tidak ada hasil yang ditemukan

Strategi dalam Menghadapi Perubahan

Dalam dokumen Prediksi Ekonomi Indonesia Pasca Covid-19 (Halaman 169-178)

BAB X : PREDIKSI DARI SISI RANTAI PASOK

D. Strategi dalam Menghadapi Perubahan

Tidaklah mudah untuk perusahaan dalam mengadapi pandemi, banyak perusahaan yang tidak siap dalam mengadapainya. Ada beberapa hal yang perlu di siapkan oleh perusahaan dalam menghadapi penurunan pendapatan dengan menyikapi dengan cepat (Mullins, 2020).

1. Meningkatkan Margin

Dalam sebuah perusahaan baik dari perusahaan barang atau jasa, ada beberapa barang atau layanan yang tidak terlalu sensitif terhadap harga. Perusahaan dapat menaikkan barang-barang yang termasuk ke dalam kategori tersebut. Pada situasi pandemi seperti saat ini, pemasok akan merasa khawatir akan adanya penurunan permintaan dan terlambatnya pembayaran dari para pelanggan. Perusahaan dapat meminta keringanan harga apabila dapat membayar tepat pada waktunya, atau dapat dibayar di muka terlebih dahulu apabila kondisi keuangan perusahaan tidak memungkinkan. Selanjutnya perusahaan dapat menawarkan kontrak jangka panjang kepada pemasok utama pada saat pemesanan datang, atau dibayar dimuka apabila kondisi keuangan memungkinkan (Mullins, 2020).

2. Memangkas Biaya Operasi

Semenjak diberlakukannya bekerja jarak jauh dan belajar jarak jauh, perusahaan dapat memperkecil (atau bahkan menghilangkan) fasilitas kantor, atau bahkan pada kondisi yang lebih ekstrim meminta keringanan harga untuk sewa kantor. Selain itu, perusahaan

juga dapat mengemat dengan cara menghilangkan overhead (tidak langsung) untuk sementara, misalnya perlengakapan kantor, komputer dan beberapa dukungan IT semisal WiFi dll. Fokus pada pemecahana masalah yang akan datang dan siap siap dengan kondisi ketika segalanya lebih baik. Karyawan yang mungkin masih dapat dipertahankan, apabila tidak memungkinkan bagi perusahaan dapat dijadikan karyawan paruh waktu atau bekerja berdasarkan komisi, jangan sampai karywan tersebut dirumahkan atau bahkan dipecat (Mullins, 2020).

3. Mengumpulkan piutang perusahaan

Bagi perusahaan yang mempunyai piutang sudah saatnya untuk menanyakan piutang perusahaan. Tanyakan perusahaan mana yang dapat di tagih piutang perusahaanya. Segerakan untuk membuat invoice setelah barang dikirim, ingatkan kembali setelah invoice akan jatuh tempo (Mullins, 2020).

4. Kelola inventaris Perusahaan dengan lebih ketat

Inventaris perusahan yang sudah tidak terpakai dapat dijual untuk dijadikan uang tunai, minimalisir persediaan di Gudang untuk memperkecil biaya Gudang, identifikasi persediaan yang mungkin akan kadaluarsa, sudah lama atau barang-barang musiman, bias di jual dengan cara diskon.

5. Meminta waktu lebih lama untuk pembayaran kepada suplayer Hal terakhir yang dapat dilakukan dalam kondisi pandemi seperti saat ini adalah dengan cara meminta waktu lebih lama untuk membayar tagihan invoice kepada suplayer. Hal ini dapat juga akan mempengaruhi reputasi perusahaan, karena kemungkian paling buruk kedepannya adalah tidak ada lagi kerjasama antar perusahaan tersebut.

E. Prediksi Rantai Pasok 1. Inovasi

Meluncurkan produk bundling dalam rangka meningkatkan pembelian produk. Salah satu cara perusahaan dapat bertahan pada kondisi pandemi adalah dengan cara menjual produk dalam bundling. Pada dasarnya produk bundling merupakan produk satu kesatuan yang biasanya saling berkaitan satu dengan produk yang lainnya, selain dapat menghemat pengemasan produk bundling juga merupakan salah satu cara dari perusahaan dalam memasarkan produknya (Buananda, 2018).

Gambar 10.5: Paket Bundling Berbagai Varian Produk,

Masker dan Handsanitizer 2. Product, Service Innovation

Inovasi produk untuk kebutuhan pencegahan covid-19 Berbagai inovasi telah di ciptakan dalam rangka memutus rantai virus covid-19. Berbagai instansi berlomba-lomba saling memberikan kontribusi kepada pemerintah untuk ikut andil dalam meredakan penyebaran virus tersebut. Dengan harapan dapat memperkecil damapak yang ditimbulkan oleh pandemi covid-19.

3. Diversifikasi Produk

Diversifikasi produk merupakan salah satu strategi bisnis yang dilakukan perusahaan dalam rangka mempertahankan diri selama dan pasca pandemi. Strategi ini merupakan upaya dari perusahaan dalam membuat produknya mempunyai variasi lebih banyak, sehingga konsumen mempunyai banyak pilihan. Diversifikasi juga dapat dilakukan dengan cara menaikkan nilai jual dari produk pelaku usaha tersebut, selain itu juga dapat dilakukan dengan cara menambah kemasan supaya lebih terlihat bagus dan dapat bertahan lama.

Gambar 10.7: Diversifikasi Produk

4. Channel Inovation

Wabah pandemi covid-19 dan mulai diberlakukannya kebijakan physical distancing dengan tidak ke luar rumah. Begitu juga dengan para pekerja dengan diberlakukannya kebijakan bekerja jarak jauh atau work from home (WFH) dalam memenuhi kebutuhannya bahan makanan sehari masyarakat pada akhirnya banyak yang mengandalkan aplikasi-aplikasi belanja secara daring. Beberapa toko kebutuhan sehari-hari yang menyediakan layanan ini antaranya adalah Transmart Carrefour, The Foodhall, TipTop, Hero Supermarket, Goro, Hypermart, Ranchmarket, Kemchick, Lottemart, Yogya Group dan masih banyak yang lainnya.

Gambar 10.8 : Penjualan Buku Online dan Grocery Online

Selain kebutuhan sehari-hari tadi sudah dapat melakukan pembelian dengan cara daring, toko buku juga terkena imbasnya, beberapa toko buku yang terkenal juga menyediakan layanan pembelian secara daring. Para pelanggan tidak harus mengunjungi toko buku lagi untuk membeli buku, cukup chat dan melakukan di aplikasi yang disediakan oleh toko buku tersebut dan diantar ke rumah pembeli, bahkan ada beberapa yang menyediakan fasilitas whatsapp. Beberapa toko buku yang menyediakan fasilitas ini diantaranya adalah monotaro.id, perplus, Gramedia Online, BukaBuku.com, BukuKita, BukuPedia dan lain-lain.

5. Inovasi Rantai Pasok

Toko Ritel Berguguran, Jasa Pengiriman Barang Meningkat. Semenjak tahun 2019 diberitakan bahwa ada beberapa toko ritel besar yang ada di Indonesia menutup gerainya. Beberapa ritel besar yang sudah menutup gerainya diantaranya adalah Giant sebanyak 7 toko dan Heru menutup 26 tokonya sepanjang tahun 2019 tersebut. Ada pergeseran pola perilaku dari konsumen, yang tadinya belanja di toko-toko ritel besar beralih belanja ke ritel kecil dan belanja secara daring. Semenjak pandemi covid-19 ini berlangsung maka toko-toko ritel besar tersebut semakin terpuruk, karena ada pembatasan jam operasional dan pembatasan pengunjung yang masuk. Hal ini memaksan toko ritel tersebut mengubah cara bisnis mereka, dimulai dengan membuka toko ritel secara daring (sumber: Detik Finance).

Gambar 10.9: Supply chain innovation (sumber: warung Pintar)

Semenjak pemberlakuannya Pembatasan Sosial Beskala Besar (PSBB) di Jakarta, kebutuhan akan jasa pengiriman semakin meningkat. Hal ini merupakan peluang bisnis tersendiri bagi perusahaan jasa pengiriman tersebut. Hal tersebut dapat terlihat dari banyaknya perusahaan yang melebarkan sayapnya pada jasa ini. Baik perusahaan milik negara maupun swasta saling berbenah dalam pelayanan dan mem-berikan kemudahan kepada pelanggannya masing-masing. Walaupun ada beberapa kendala selama pandemi ini sehingga terjadi keterlambatan dalam pengiriman barang. Selain itu kendala yang dihadapi adalah dengan adanya penutupan akses di beberapa tempat sehingga mempersulit penyedia jasa untuk mengirimkan barang. Akan tetapi pada umumnya dapat berjalan dengan lancar.

F. Isu-isu dalam Rantai Pasok Selama Pandemi

Beberapa isu terkait rantai pasok selama wabah pandemi covid-19 diantaranya adalah adanya kelebihan atau kekuranagn pasokan material, dengan diberlakukannya bekerja di rumah secara tidak langsung akan menurunkan produksi, hal ini dapat berakibat adanya kelebihan material bahan baku produksi atau bahkan kekurangan material produksi. Lead time akan terganggu dengan adanya pembatasan bekerja di lantai produksi, peramalan produksi yang tidak menentu. Dengan berlangsungnya situasi pandemi seperti saat ini akan menurunkan minat beli masyarakat pada umumnya, hal tersebut akan berakibat pada menurunnya tingkat produksi sebuah perusahaan. Dengan menurunnya tingkat produksi pada sebuah perusahaan maka distribusi juga akan terganggu. Produksi dan distribusi terganggu maka akan terjadi fluktuasi harga di masyarakat terutama untuk barang-barang kebutuhan pokok sehari-hari, hal ini juga akan terjadi fluktuasi pada kebutuhan-kebuthan dalam menghadapi pandemi

seperti masker, handsanitizer, dan APD (alat pelindung diri). Adanya pembatasan aktivitas di luar rumah, menurunnya daya beli masyarakat tehadap suatu produk maka kapasitas, maupun frekuensi distribusi akan terganggu, hal yang terakhir dan tidak diinginkan oleh pengusaha dengan adanya wabah pandemi ini adalah terhentinya proses produksi dan distribusi.

Produk-produk kebutuhan dalam sehari-hari seperti beras, sayuran, dan buah) dapat diantar ke rumah dengan langsung. Dalam pengiriman barang kebutuhan masyarakat dengan mempertahankan kecepatan serta tidak menambah biaya yang harus dikeluarkan oleh pelanggan. Biaya untuk keselamatan untuk mencegah penyebaran virus seperti biaya untuk pengadaan APD biaya kemanan (masker, handsanitizer, maupun sarung tangan untuk kebutuhan karyawan.

Daftar Pustaka

https://www.worldometers.info/coronavirus/country/indonesia/ diakses pada selasa, 2 Juni 2020 pukul 17.30 WIB

Banister, D. (2011). Cities, mobility and climate change. Journal of Transport Geography, 19(6), 1538–1546. https://doi.org/10.1016/j. jtrangeo.2011.03.009

Böhlmark, A., & Lindahl, M. (2015). Independent Schools and Long-run Educational Outcomes: Evidence from Sweden’s Large-scale Voucher Reform. Economica, 82(327), 508–551. https://doi.org/10.1111/ ecca.12130

Buananda, M. F. (2018). PENGARUH STRATEGI BUNDLING TERHADAP MINAT BELI KONSUMEN DI JAKARTA ( Studi Kasus pada Paket TAU 4G Telkomsel ) THE EFFECT OF BUNDLING STRATEGY ON CONSUMER PURCHASE INTENTION IN JAKARTA ( Study On TAU Package 4G Telkomsel ). 5(3), 3259–3265.

Ivanov, D. (2020). Predicting the impacts of epidemic outbreaks on global supply chains: A simulation-based analysis on the coronavirus outbreak (COVID-19/SARS-CoV-2) case. Transportation Research Part E: Logistics and Transportation Review, 136(March), 101922. https://doi. org/10.1016/j.tre.2020.101922

Ivanov, D., Dolgui, A., & Sokolov, B. (2019). The impact of digital technology and Industry 4.0 on the ripple effect and supply chain risk analytics. International Journal of Production Research, 57(3), 829–846. https:// doi.org/10.1080/00207543.2018.1488086

Ivanov, D., Dolgui, A., Sokolov, B., & Ivanova, M. (2017). Literature review on disruption recovery in the supply chain*. International Journal of Production Research, 55(20), 6158–6174. https://doi.org/10.1080/002 07543.2017.1330572

Mullins, J. (2020). Are your cash-flow tools recession ready? Business Horizons, xxxx. https://doi.org/10.1016/j.bushor.2020.04.003

Visser, J., Nemoto, T., & Browne, M. (2014). Home Delivery and the Impacts on Urban Freight Transport: A Review. Procedia - Social and Behavioral Sciences, 125, 15–27. https://doi.org/10.1016/j.sbspro.2014.01.1452

Xu, S., Zhang, X., Feng, L., & Yang, W. (2020). Disruption risks in supply chain management: a literature review based on bibliometric analysis. International Journal of Production Research, 0(0), 1–19. https://doi. org/10.1080/00207543.2020.1717011

Biodata Penulis

Ardhy Lazuardy, S.T, M.Si, Menyelesaikan Pendidikan S1 Jurusan Teknik Industri Universitas Gunadarma pada tahun 2011 dan menyelesaikan Pendidikan Program Pasca Sarjana (S2) Psikologi Industri dan Organisasi Universitas Gunadarma pada tahun 2017. Saat ini aktif sebagai Dosen Fakultas Tekhnologi Industri Univeritas Gunadarma. Penulis pernah bekerja di beberapa perusahaan asing dan di salah satu perusahaan BUMN sebelum memutuskan untuk mengabdikan menjadi tenaga pengajar.

Dalam dokumen Prediksi Ekonomi Indonesia Pasca Covid-19 (Halaman 169-178)

Dokumen terkait