• Tidak ada hasil yang ditemukan

Prediksi Ekonomi Indonesia Pasca Covid-19

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Prediksi Ekonomi Indonesia Pasca Covid-19"

Copied!
178
0
0

Teks penuh

(1)

Prediksi Ekonomi Indonesia

Pasca Covid-19

(2)

Sanksi Pelanggaran Pasal 113 Undang-Undang No. 28 Tahun 2014

Tentang Hak Cipta

1. Setiap Orang yang dengan tanpa hak melakukan pelanggaran hak ekonomi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (1) huruf i untuk Penggunaan

Secara Komersial dipidana dengan pidana penjara paling lama 1 (satu)

tahun dan/atau pidana denda paling banyak Rp100.000.000 (seratus juta rupiah).

2. Setiap Orang yang dengan tanpa hak dan/atau tanpa izin Pencipta atau pemegang Hak Cipta melakukan pelanggaran hak ekonomi Pencipta sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (1) huruf c, huruf d, huruf f, dan/ atau huruf h untuk Penggunaan Secara Komersial dipidana dengan pidana

penjara paling lama 3 (tiga) tahun dan/atau pidana denda paling banyak

Rp500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah).

3. Setiap Orang yang dengan tanpa hak dan/atau tanpa izin Pencipta atau pemegang Hak Cipta melakukan pelanggaran hak ekonomi Pencipta sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (1) huruf a, huruf b, huruf e, dan/ atau huruf g untuk Penggunaan Secara Komersial dipidana dengan pidana

penjara paling lama 4 (empat) tahun dan/atau pidana denda paling banyak

Rp1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah).

4. Setiap Orang yang memenuhi unsur sebagaimana dimaksud pada ayat (3) yang dilakukan dalam bentuk pembajakan, dipidana dengan pidana penjara

paling lama 10 (sepuluh) tahun dan/atau pidana denda paling banyak

(3)

Prediksi Ekonomi Indonesia

Pasca Covid-19

Dr. Tommy Kuncara, S.E., M.M.S.I., CA., ACPA., CTA Tulus Pujo Nugroho, S.E., M.M

Diah Aryati, S.E., M.M.S.I Early Armein Thahar, S.E., M.M Aditya Rian Ramadhan, S.E., M.M Natallios Peter Sipasulta, S.Kom., M.M.S.I

Fera Riske Anggita, S.E., M.M Jessica Barus, S.E., M.M.S.I

Ardiprawiro, S.E., M.M.S.I Ardhy Lazuardy, S.T., M.Si

(4)

PREDIKSI EKONOMI INDONESIA PASCA COVID-19 Dr. Tommy Kuncara, S.E., M.M.S.I., CA., ACPA., CTA

Tulus Pujo Nugroho, S.E., M.M Diah Aryati, S.E., M.M.S.I Early Armein Thahar, S.E., M.M Aditya Rian Ramadhan, S.E., M.M Natallios Peter Sipasulta, S.Kom., M.M.S.I

Fera Riske Anggita, S.E., M.M Jessica Barus, S.E., M.M.S.I

Ardiprawiro, S.E., M.M.S.I Ardhy Lazuardy, S.T., M.Si

Copyright@2020 Desain Sampul Bichiz DAZ Editor Tika Lestari Penata Letak Dhiky Wandana

Hak cipta dilindungi oleh Undang-undang Ketentuan Pidana Pasal 112–119

Undang-undang Nomor 28 Tahun 2014Tentang Hak Cipta. Dilarang keras menerjemahkan, memfotokopi, atau

Memperbanyak sebagian atau seluruh isi buku ini Tanpa izin tertulis dari penerbit

Diterbitkan dan dicetak pertama kali oleh CV. Jakad Media Publishing

Graha Indah E-11 Gayung Kebonsari Surabaya (031) 8293033, 081230444797, 081234408577

https://jakad.id/ [email protected] Anggota IKAPI

No. 222/JTI/2019 Perpustakaan Nasional RI. Data Katalog Dalam Terbitan (KDT)

ISBN: 978-623-6551-23-3 xiv + 162 hlm.; 15,5x23 cm

(5)

KATA PENGANTAR

Assalamualaikum Wr. Wb.

Salam sejahtera bagi kita semua, semoga Tuhan YME selalu melindungi kita sehingga kita semua selalu dalam keadaan sehat dan selamat. Buku ini merupakan bentuk nyata dari nilai-nilai gotong royong, simpati dan empati yang dimiliki bangsa Indonesia, khususnya pada saat pandemi Covid-19 sedang melanda seluruh dunia. Buku dengan judul “Prediksi Ekonomi Indonesia Pasca Covid-19” ini sangat bermanfaat bagi semua orang, karena pandemi Covid-19 adalah situasi yang belum pernah dialami oleh banyak orang, sehingga melalui buku ini, dengan menelusuri dan memaknai bab demi bab yang tertulis didalamnya, maka masyarakat bisa membuat strategi untuk menghadapi era pasca pandemi ini berlalu.

Saya mewakili Asosiasi Dosen Muda, selaku Ketua umum maupun pribadi sangat mengapresiasi dan mengucapkan salut setinggi-tingginya atas ide kreatif dari rekan-rekan penulis yang dengan sukarela menyumbangkan pikirannya dalam upaya memahami dan menghadapi situasi pandemi Covid-19, karena upaya ini sangat sesuai dengan nilai-nilai kebudiluhuran yang diajarkan dan diamalkan oleh manusia-manusia yang cerdas dan berbudi luhur, Buku yang ditulis dan diterbitkan oleh para dosen muda dan peneliti sebagai hasil kolaborasi dan implementasi teknologi terkini, serta pada saat harus melakukan kerja-kerja dari rumah (Work From Home) dengan penuh keterbatasan, menjadi bukti nyata bahwa manusia adalah mahluk ciptaan Tuhan yang sangat cepat dan mudah beradaptasi dengan perubahan-perubahan, dan tetap bisa melakukan kegiatan yang bermanfaat serta menghasilkan karya yang bermanfaat pula, yang akan memperkaya hazanah ilmu pengetahuan bagi umat manusia di dunia.

(6)

Oleh karena itu, saya selalu mendoakan, semoga para penulis serta semua yang terlibat dalam penerbitan buku ini selalu diberikan keselamatan dan kesehatan serta kebahagiaan dan kesejahteraan. Semoga karya yang sangat baik ini, akan diikuti dengan karya-karya intelektual lainnya, sehingga bisa

dijadikan acuan untuk aktifitas-aktifitas akademis bagi dosen-dosen dan para

peneliti lainnya.

Jakarta, 1 Juli 2020

Dr (cand) Tommy Kuncara., S.E., M.M.S.I., CA., ACPA., CTA Ketua Umum Asosisasi Dosen Muda Indonesia

(7)

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ... i

KATA PENGANTAR ... iii

DAFTAR ISI ... v

DAFTAR TABEL ... ix

DAFTAR GAMBAR ... xi

BAB I : PREDIKSI DARI SISI AUDIT SETELAH COVID-19 ... 3

A. Pendahuluan ... 3

B. Berikut ini Hal-hal yang Sangat Penting Untuk Menunjang Kinerja dan Kualitas Audit Selama Masa Pandemi Covid-19 Masih Terjadi ... 4

C. Batas Penyampaian Laporan Keuangan pada pandemi Covid-19 ... 6

D. Solusi Dikala Pandemi ... 7

E. Prediksi Setelah Covid-19 di Tinjau dari Profesi Akuntan Publik ... 8

BAB II : PREDIKSI PAJAK DI INDONESIA SETELAH COVID-19 SELESAI ... 15

A. Pendahuluan ... 15

B. Kebijakan Pemerintah Menanggulangi Pandemi Covid-19 ... 15

C. Prediksi Pajak di Indonesia Setelah Covid-19 Selesai ... 20

D. Mengulas Krisis Ekonomi Tahun 2008 ... 20

BAB III : PREDIKSI PERBANKAN KONVENSIONAL PASCA COVID-19... 29

A. Pendahuluan ... 29

(8)

C. Kebijakan Stimulus untuk Mendukung

Pemulihan Ekonomi Nasional ... 34 D. Perkembangan Sektor Jasa Keuangan

Dimasa Pandemi ... 37 E. Kebijakan Restrukrisasi Perekonomian ... 40 F. Prediksi Perbankan Konvensional Pasca

Pandemi Covid-19 ... 41 BAB IV : PREDIKSI PERBANKAN SYARIAH

SETELAH COVID-19 SELESAI... 47 A. Pendahuluan ... 47 B. Perkembangan Sistem Perbankan Syariah ... 48 C. Landasan Hukum Bank Syariah di Indonesia .... 48 D. Perkembangan Bank Syariah di Indonesia ... 52 E. Dampak Pandemi Covid 19 dan Setelah

Berakhirnya Pandemi terhadap Perbankan

Syariah Indonesia ... 56 BAB V : PREDIKSI DARI SISI UMKM SETELAH

COVID-19 SELESAI ... 65 A. Pendahuluan ... 65 B. UMKM dan Kontribusinya ... 66 C. Program Khusus Penyelamatan UMKM di

Tengah Pandemi Covid-19 ... 68 BAB VI : PREDIKSI DARI SISI KORPORASI

SETELAH COVID-19 SELESAI ... 79 A. Pendahuluan ... 79 B. Kebijakan pemerintah dalam Era Covid-19 ... 80 C. Ekonomi Indonesia setelah era Covid19

dari Sisi Korporasi ... 85 D. Beberapa Strategi Perusahan untuk dapat

(9)

BAB VII : PREDIKSI DARI SISI PEMERINTAHAN

SETELAH COVID-19 SELESAI ... 95

A. Pendahuluan ... 95

B. Kebijakan Represif Pemerintah ... 96

C. Analisis Dampak ... 98

D. Strategi Pemulihan ... 100

E. Prediksi Jangka Panjang ... 103

BAB VIII: PREDIKSI DARI SISI PENDIDIKAN SETELAH COVID-19 SELESAI... 109

A. Pendahuluan ... 109

B. New Normal Sekolah dan Kampus ... 111

C. Alternatif Peningkatan Kualitas Pendidikan dan SDM Unggul di tengah Pandemi Covid-19 di Era Industri 4.0 ... 115

D. Pembelajaran Daring pada Tingkat Perguruan Tinggi ... 119

BAB IX : PREDIKSI DARI SISI PERILAKU KONSUMEN SETELAH COVID-19 SELESAI ... 127

A. Pendahuluan ... 127

B. Fenomena Panic Buying pada Awal Masa Pandemi Covid-19 ... 131

C. Pergeseran Perilaku Konsumen pada Masa Pandemi Covid-19 ... 134

D. Prediksi Perilaku Konsumen setelah Masa Pandemi Covid-19 ... 138

BAB X : PREDIKSI DARI SISI RANTAI PASOK SETELAH COVID-19 ... 147

A. Pendahuluan ... 147

B. Situasi Saat ini ... 148

C. Ekonomi #Dirumah aja ... 149

(10)

E. Prediksi Rantai Pasok ... 155 F. Isu-Isu dalam Rantai Pasok Selama Pandemi .... 145

(11)

DAFTAR TABEL

Tabel 3.1 Realisasi dan Proyeksi per Skenario ... 41 Tabel 4.1 Jumlah Jaringan Perbankan Syariah

Tahun 2008-2019 ... 53 Tabel 4.2 Pertumbuhan Perbankan Syariah

Tahun 2009–2019 ... 54 Tabel 4.3 Market Share Perbankan Syariah

(12)
(13)

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1.1 Contoh Laporan Audit dengan QRcode ... 10

Gambar 3.1 Dampak Krisis Ekonomi Indonesia Akibat Covid-19 dari Realisasi 2019 sampai Proyeksi 2020... 30

Gambar 3.2 Indikator Kinerja Bank Umum Konvensional Bulan Februari 2020 ... 32

Gambar 3.3 Indikator Kinerja Bank Umum Konvensional Bulan Maret 2020 ... 32

Gambar 3.4 Indikator Perbankan Year of Year ... 33

Gambar 3.5 Perkembangan Sektor Jasa Keuangan ... 33

Gambar 3.6 Perkembangan Suku Bunga Rata-rata DPK Bank Umum ... 36

Gambar 3.7 Kebijakan stimulus oleh OJK ... 37

Gambar 3.8 Kinerja Intermediasi Sektor Jasa Keuangan ... 38

Gambar 3.9 Perkembangan DPK Bank Umum ... 39

Gambar 3.10 Perkembangan kredit dan NPL Bank Umum ... 39

Gambar 4.1 Perkembangan BUS dan UUS 199-2018 (Siregar, 2020 ... 52

Gambar 4.2 Market Share Perbankan Syariah (Siregar, 2020) ... 55

Gambar 4.3 Ekonomi Impact (Siregar, 2020) ... 56

Gambar 4.4 Social Impact (Siregar, 2020) ... 57

Gambar 4.5 Environment Impact (Siregar, 2020) ... 57

Gambar 4.6 Bank Syariah Mengurangi Dampak Pandemi (Subari, 2020) ... 58

Gambar 4.7 Fitur Digital Bank Syariah (Subari, 2020) ... 59

Gambar 4.8 Pemenuhan Kebutuhan dan Aktivitas Muslim (Subari, 2020) ... 60

(14)

Gambar 5.1 Gerai Fashion Retail Forever 21 di Grand

Indonesia Bangkrut ... 66

Gambar 5.2 Pengrajin Rotan Sleman Jogjakarta Diajari Menjual Secara Daring ... 67

Gambar 5.3 Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki ... 70

Gambar 5.4 Gofood Pelayanan Daring Gojek Indonesia ... 71

Gambar 6.1 Tabel Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Sampai dengan Tahun 2018 ... 85

Gambar 7.1 Poster Alternatif untuk Bersalaman (Viva.co.id) ... 97

Gambar 8.1 Siswa SD Belajar Online dengan Aplikasi Zoom Cloud Meetings (liputan6.com, 2020) .... 110

Gambar 8.2 Data Titik Blank Spot (Manadopost.id, 2020) ... 111

Gambar 8.3 Logo Belajar dari Rumah (Kemendikbud, 2020) ... 114

Gambar 8.4 Kebijakan Pendidikan dalam Masa Covid-19 ... 114

Gambar 8.5 Rumah Belajar (belajar.kemendikbud.go.id, 2020) ... 115

Gambar 8.6 TV Edukasi (tve.kemendikbud.go.id, 2020) ... 116

Gambar 8.7 Pahamify (Pahamify.com, 2020) ... 116

Gambar 8.8 Meja Kita (mejakita.com, 2020) ... 116

Gambar 8.9 (icando.co.id, 2020) ... 117

Gambar 8.10 Indonesia X (indonesiax.co.id, 2020) ... 117

Gambar 8.11 Ganeca Digital (ganecadigital.com, 2020) ... 118

Gambar 8.12 Google for Education ... 118

Gambar 8.13 Aplikasi Pembelajaran Daring ... 119

Gambar 8.14 Indikator Penting dalam Mendukung Pembelajaran Daring ... 120

Gambar 8.15 Bentuk Sarana dan Fasilitas yang Membutuhkan Anggaran Khusus dari Pemerintah ... 121

(15)

Gambar 9.1 Tahap-tahap Pengambilan Keputusan

Pembelian ... 128 Gambar 9.2 Faktor-faktor yang Mempengaruhi

Perilaku Pembelian Konsumen ... 130 Gambar 9.3 Suasana Panic Buying di Sebuah Toko Ritel

di Indonesia ... 131 Gambar 9.4 Tata Cara Belanja Online Pasar Tradisional di

Aplikasi LinkAja ... 135 Gambar 9.5 Peningkatan Perilaku Konsumen Memasak

Makanan di Rumah (Nielsen, 2020)... 136 Gambar 10.1 Ilustrasi Stay at Home

(sumber: tribune new) ... 149 Gambar 10.2 Salah Satu Aplikasi Grocery ... 150 Gambar 10.3 Kerangka Kerja Pengaruh antara Logistik

Perkotaan, Perilaku Perjalanan Konsumen

dan Ruang Perkotaan ... 150 Gambar 10.4 Layanan pesan antar

(sumber :istock & Grab) ... 151 Gambar 10.5 Paket Bundling Berbagai Varian Produk,

Masker dan Handsanitizer ... 155 Gambar 10.6 Inovasi Alat Ventilator (sumber: VivaNews) .... 155

Gambar 10.7 Diversifikasi Produk... 156 Gambar 10.8 Penjualan Buku Online dan Grocery Online .... 157 Gambar 10.9 Supply Chain Innovation

(16)
(17)

Prediksi dari Sisi Audit

Setelah Covid-19

(18)
(19)

BAB I

PREDIKSI DARI SISI AUDIT SETELAH COVID-19

A. Pendahuluan

Adanya Pandemi Covid-19 menyebabkan banyak perusahaan-perusahaan baik di Indonesia maupun di dunia terganggu, baik dari sisi keuangan, operasional dan lain-lain. Di tengah situasi Pandemi Covid-19 manajemen perusahaan sebagai pihak yang bertanggungjawab atas tata kelola diharuskan untuk menyusun dan menyajikan laporan keuangan secara lengkap dan menyeluruh untuk kepentingan emiten dan konsumsi publik.

Di tengah Situasi Pandemi Covid-19, Auditor harus dapat memberikan yang terbaik yaitu salah satunya dengan mendapatkan bukti audit yang cukup untuk menunjang opini yang dikeluarkan oleh

auditor tetap berkualitas, auditor diharapkan bisa memodifikasi prosedur pengumpulan bukti audit, merevisi proses identifikasi dan penilaian

risiko kesalahan penyajian material, serta mengubah prosedur audit yang direncanakan atau melakukan prosedur alternatif atau prosedur audit lanjutan yang tepat sesuai dengan kondisi di tengah pandemi ini. Selain itu, auditor diharuskan untuk memahami beberapa paket kebijakan ekonomi, regulasi, dan transaksi-transaksi nonrutin yang terjadi pada periode ini. Prosedur dan kebijakan pengendalian mutu terkait dengan penugasan dan supervisi tim perikatan serta telaah pekerjaan harus lebih ditekankan oleh Partner kantor akuntan publik yang kemudian diserahkan tanggung jawabnya oleh manager auditor pada kantor tersebut. Selain itu, skeptisisme profesional perlu dipertajam sebab kecenderungan kesalahan penyajian material, baik yang disebabkan oleh kesalahan maupun kecurangan, lebih rentan terjadi pada periode gangguan perekonomian.

(20)

B. Berikut ini Hal-hal yang Sangat Penting untuk Menunjang Kinerja dan Kualitas Audit Selama Masa Pandemi Covid-19 Masih Terjadi

1. Pemerolehan Bukti Audit yang Cukup dan Tepat

Ditekankan bahwa auditor harus mendapatkan bukti audit yang sesuai komposisi dan harus sesuai sasaran sebelum menerbitkan laporan audit. Diakui bahwa pembatasan akses dan perjalanan serta terbatasnya ketersediaan personel karena pertimbangan kesehatan dapat mengganggu kemampuan auditor untuk mendapatkan bukti audit yang cukup dan tepat. Untuk team audit, tim perikatan dan komposisi auditor harus menyesuaikan pendekatan audit dengan kondisi saat ini. Auditor disarankan untuk mengeksplorasi prosedur alternatif, termasuk teknologi, sejauh mungkin. Penyelesaian audit yang berkualitas tinggi dalam kondisi saat ini memerlukan waktu tambahan, yang dapat memengaruhi tenggat waktu pelaporan. Sebagai konsekuensinya, auditor perlu menunda penerbitan laporan auditnya, dan jika hal ini tidak dapat untuk menyelesaikan

hal tersebut. Auditor perlu memodifikasi laporan auditnya untuk

mencerminkan bahwa auditor belum dapat memperoleh bukti audit yang dipadukan. Auditor perlu berkomunikasi secara seksama dengan pihak manajemen perusahaan serta bagian terkait atas bukti-bukti pada laporan keuangan. (IAPI,2020)

2. Peristiwa Setelah Tanggal Pelaporan

Untuk sebagian besar entitas, kondisi krisis muncul setelah periode laporan keuangan akhir tahun. Auditor perlu menilai apakah pengungkapan yang disediakan oleh entitas tentang dampak, baik secara kualitatif maupun kuantitatif, dan Pandemi Covid-19 pada aktivitasnya. Situasi keuangan dan kinerja ekonomi di masa depan sesuai dengan kerangka pelaporan keuangan yang berlaku, dan apakah perlu memasukkan paragraf Penekanan Suatu Hal dalam Laporan Auditor Independen berdasarkan SA 70 & Apabila dalam proses penilaian tersebut. Auditor berpendapat pihak manajemen belum secara memadai melakukan pengungkapan atas kondisi dan dampak yang diakibatkan oleh kondisi Pandemi Covid-19,

(21)

auditor perlu mempertimbangkan modifikasi atas laporan auditnya.

(IAPI,2020)

3. Kelangsungan Usaha

Auditor harus memperhatikan dengan seksama penilaian entitas mengenai kemampuannya untuk mempertahankan kelangsungan usaha. Mengingat kondisi saat ini, ketidakpastian ekonomi di seluruh dunia serta meningkatnya ketidakpastian bisnis dan operasi untuk banyak entitas dapat memunculkan tantangan bagi pertimbangan auditor. Auditor juga harus mempertimbangkan dampak dari evaluasi auditor terhadap penilaian manajemen atas kemampuan entitas untuk mempertahankan kelangsungan usahanya dan komunikasi kepada pihak yang bertanggung jawab atas tata kelola. Dapat juga terdapat kasus di mana entitas perlu menerapkan akuntansi berbasis likuidasi. Auditor harus memberikan perhatian khusus terhadap kemungkinan terdapat pelanggaran dari perjanjian untuk pinjaman atau perjanjian lainnya yang mungkin akan muncul akibat kondisi perusahaan yang mengalami perubahan sehingga akan berdampak pada penyajian

klasifikasi pinjaman dan kelangsungan usaha. (IAPI,2020) 4. Pelaporan dan Komunikasi

Auditor diingatkan untuk memberikan perhatian yang tepat untuk menilai apakah uraian posisi keuangan entitas, risiko utama dan ketidakpastian yang dihadapi dan kemungkinan perkembangannya di masa depan konsisten dengan pengetahuan yang dimiliki auditor sebagai bagian dari pekerjaan audit. Auditor diingatkan juga bahwa penting untuk berkomunikasi secara tepat waktu kepada manajemen entitas, pihak yang bertanggung jawab atas tata kelola, dan regulator terkait tentang dampak Pandemi Covid-19 pada pekerjaan auditnya serta pada entitas dan laporan keuangannya, serta standar audit yang berlaku dan jika relevan, peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Auditor harus merumuskan opini atas laporan keuangan dengan mempertimbangkan prinsip-prinsip yang dinyatakan dalam SA 700, SA 705, dan SA 706. Dalam kondisi saat ini terdapat kemungkinan yang tinggi terkait kelangsungan usaha yang terpengaruh, adanya

(22)

ketidakpastian material terkait dengan kelangsungan usaha, prinsip-prinsip yang dinyatakan dalam SA 570 juga perlu dipertimbangkan secara parsial yang mengatur cara pelaporan dalam situasi yang berbeda. Auditor perlu berhati-hati dalam menerapkan pertimbangan profesional, serta mempertahankan sikap skeptisisme profesional dalam pelaporan. (IAPI,2020)

5. Skeptisisme Profesional

Auditor diharuskan untuk tetap mempertahankan sikap skeptisis-me profesional untuk bertindak dengan penuh kehati-hatian dan ketelitian sesuai dengan standar profesi dan kode etik profesi yang berlaku ketika melakukan kegiatan-kegiatan profesional dan mem-berikan jasa profesionalnya. Kehati-hatian dan ketelitian mencakup tanggung jawab untuk bertindak sesuai dengan ketentuan suatu penu-gasan secara hati-hati, menyeluruh, dan tepat waktu.(IAPI, 2020)

C. Batas Penyampaian Laporan Keuangan pada Pandemi Covid-19

Dalam keadaan darurat bencana wabah penyakit akibat covid-19 maka otoritas jasa keuangan (OJK) sebagai regulator perusahaan-perusahaan yang listing di bursa efek atau perusahaan-perusahaan TBk (terbuka) dituangkan dalam surat nomor S-92/D.04/2020 memperpanjang masa penyampaian laporan keuangan tahunan dan laporan tahunan bagi emiten dan perusahaan publik dari sebelumnya 31 Maret 2020 menjadi 31 Mei 2020 dan laporan keuangan yang sudah audit oleh akuntan publik yang sebelumnya dilaporkan paling lambat 30 April menjadi paling lambat 30 Juni. (OJK,2020)

Dari kebijakan di atas maka bisa disimpulkan adanya perubahan penyampaian laporan keuangan tahunan yang bisa memudahkan peran auditor pada kondisi saat ini berada dalam tingkat pengawasan yang ketat, sebagai auditor memiliki kewajiban kepentingan publik untuk menyelesaikan pekerjaan audit sesuai dengan aturan yang berlaku.

Dalam kondisi ini, seorang pemeriksa harus mengakui bahwa cara

melakukan audit sebelumnya diperlukan modifikasi signifikan untuk

mengatasi tantangan dan ketidakpastian yang muncul dari dampak Pandemi Covid-19. Auditor harus meningkatkan skeptisisme profesional

(23)

yang sangat tinggi dan mengomunikasikan kepada manajemen dan pihak yang bertanggung jawab atas tata kelola bahwa manajemen tidak

menyajikan secara spesifik dan tidak memberitahukan seluruh uraian dari

berbagai kondisi dan tingkat ketidakpastian operasi perusahaan. Terlepas dari tantangan dan ketidakpastian, seharusnya tidak terdapat pengurangan atau ketidakpatuhan dengan standar audit dalam pelaksanaan audit.

D. Solusi di Kala Pandemi

Solusi dari pemeriksaan laporan keuangan di kala pandemi covid-19 adalah Audit Jarak Jauh, langkah-langkahnya yang bisa dilakukan adalah sebagai berikut:

1. Bukti Audit

a. Pertimbangkan ketepatan waktu menerima bukti audit, termasuk

dari eksternal pihak ketiga, sebagai contoh: Konfirmasi Bank Konfirmasi Utang/Piutang Surat Legal Laporan Ahli

b. Memperoleh bukti secara elektronis/format digital dapat menghadirkan tantangan baru bagi auditor, sebagai contoh: Kendalan bukti: apakah sudah dimanipulasi? Bagaimana

keasliannya diverifikasi?

Keamanan: apakah KAP memiliki kebijakan tentang keamanan data klien, termasuk risiko perlindungan data? Penyimpanan: peningkatan volume informasi elektronik dapat membebani komputer atau server.

2. Manajemen Proyek

Mengadakan rapat perencanaan audit dengan tim audit dan klien secara daring. Menyusun rencana komunikasi.

3. Melakukan Pendekatan Terhadap Perusahaan yang sudah ada Perikatan dan Bagian yang Bertanggung Jawab pada perikatan ini: Adanya kesepakatan atas prosedur komunikasi alternatif untuk menghubungi klien, yang sebelumnya dilakukan secara konvensional (tatap muka). Mempertimbangkan keamanan jalur komunikasi

(24)

alternatif yang digunakan, misal komunikasi daring dalam rangka proteksi terhadap kerahasian informasi.

4. Kerja Jarak Jauh–Kesejahteraan

Mempertimbangkan langkah-langkah untuk mendukung kesejah-teraan karyawan termasuk karyawan yang perlu merawat anggota keluarganya selama Pandemi Covid- 19.

5. Tenggat Waktu Penyampaian Laporan Audit

a. Mendiskusikan kegunaan atas pemenuhan tenggat waktu audit dengan klien.

b. Menyepakati perubahan rencana audit yang menyebabkan perpanjangan tenggat waktu penyampaian laporan audit.

c. Mempertimbangkan dampak perpanjangan penyampaian laporan audit terhadap perjanjian kredit maupun kelangsungan usaha.

E. Prediksi Setelah Covid-19 di Tinjau dari Profesi Akuntan Publik

Ketika Pandemi ini Berakhir yang kemungkinan akan dimulai tahun 2021, di mana era sudah berubah bukan era seperti sebelum pandemi Covid-19 yang presentasenya 85% pekerjaan harus dilakukan di kantor

secara offline dan tidak memungkinkan mengerjakan pekerjaan di rumah

atau work from home. Namun pada masa pandemi covid-19 memecah semua rasional orang yang tadinya berkerja 85% harus di kantor menjadi 90% bekerja di rumah atau work from home dengan jangka waktu yang lumayan singkat untuk perubahan tersebut terjadi, perubahan tersebut pun dirasakan oleh kami sebagai seorang akuntan publik yang di mana kita sebagai akuntan publik yang sebelum adanya pandemi covid-19

kita harus menemui klien untuk meminta data, meminta konfirmasi ke

berbagai pihak yang berhubungan dengan klien, menulusuri bukti-bukti pencatatan ke kantor klien dan tentunya harus meeting dengan dewan direksi klien. Namun semua berubah di kala pandemi covid-19 di mana semua dilakukan dengan menggunakan audit jarak jauh, bertemu klien secara virtual dengan menggunakan online meeting, group video call,

selanjutnya meminta konfirmasi dengan menggunakan cara virtual

(25)

penelurusuran bukti-bukti pencatatan yang bisa di remote oleh aplikasi desktop dan pastinya meeting dengan dewan direksi pun dilaksanakan secara online atau virtual dengan berbagai aplikasi meeting yang ada.

Kemudian kita akan menuju ke arah selesainya era pandemi covid-19 dan prediksi saya untuk kami seorang auditor atau akuntan publik di masa depan adalah:

1. Membuat SOP Audit yang baru

Karena kita sudah merasakan era di mana digitalisasi sudah sangat luar biasa maju, seharusnya semua SOP yang berhubungan dengan bertatap muka mulai dikurangi diganti dengan melakukan semua secara virtual seperti meeting dengan klien, rapat dengan direksi klien dan tindakan-tindakan lain yang memang sifatnya tidak berhubungan dengan data dan kerahasiaan klien. Kemudian SOP mengenai kehadiran datang di kantor, karena sebelumnya kita sudah pernah melaksanakan work from home dengan teknologi yang sudah seadanya dan ditahap selanjutnya work from home ini akan menjadi trend setelah covid-19 selesai tentu dengan teknologi dan berbagai persiapan yang matang, prediksi saya kedepannya akan dibuatnya satu web atau satu aplikasi yang mempunyai server dengan kapasitas big data untuk menampung seluruh data dari klien nantinya seluruh data yang dibutuhkan auditor harus diupload oleh seluruh perusahaan atau pemakai jasa auditor independen sebelum kantor akuntan publik melakukan audit. Web atau aplikasi tersebut akan terhubung langsung dengan para regulator yang berkepentingan dan juga IAPI selaku payung organisasi dari akuntan publik, setelah itu Pandangan saya ke depan dan jika ini terjadi lalu dilakukan maka kantor akuntan publik hanya butuh kantor virtual saja, tentu SOP di atas akan memangkas banyak biaya baik dari sisi kantor akuntan publik dan company holding. Saya yakin akan banyak kantor akuntan publik menerapkan ini setelah covid-19 berakhir.

(26)

2. Laporan Audit Jenis Baru

Gambar 1.1: Contoh Laporan Audit dengan QRcode

Karena Sudah memasuki era digitalisasi maka sudah sepantasnya kita sebagai auditor membuat terobosan mengenai laporan audit yang dari dulu sampai saat ini harus menggunkan tanda tangan basah

dan juga menggunakan aplikasi microsoft office, pada era setelah

pandemi covid-19 berakhir saya yakin akan ada aplikasi yang akan diciptakan untuk memudahkan auditor dalam memeriksa laporan keuangan klien hingga terbentuknya laporan auditornya yang di mana sudah dijadikan satu paket di dalam satu aplikasi canggih. Bentuk akhir laporannya pun tidak menggunakan tanda tangan basah lagi namun menggunakan QR code yang datanya lengkap dalam satu QR code, memang saat ini teknologi QR code untuk pelaporan audit sudah ada namun belum sepenuhnya digital karena harus masuk ke web/aplikasi yang hanya khusus membuat sederhana QR code saja. Dan seluruh laporan yang sudah jadi akan langsung bisa terkoneksi dengan IAPI selaku Organisasi yang menaungi para akuntan publik, P2PK selaku regulator dan tentu saja klien yang kita audit. Di masa setelah covid-19 berakhir akan menarik pastinya jika prediksi saya di atas benar-benar terjadi.

3. Pelatihan dan Ujian

Karena kita sebagai auditor harus terus belajar dan update ilmu terbaru mengenai isu-isu, PSAK terbaru, Aturan-aturan terbaru dari pihak regulator yang ada hubungan dengan kantor akuntan publik

(27)

seperti BPK, OJK, KPU, P2PK maka 85% pelatihan akan diadakan online untuk meminimalisir resiko dan meminimalisir biaya baik dari sisi akuntan publik maupun pihak penyelenggara, begitu juga dengan ujian-ujian yang dilaksanakan oleh IAPI sebagai payung akuntan publik bisa dilaksanakan dengan pilihan online atau datang ke test center jadi tidak hanya ada pilihan ujian di test center saja atau di learning center. Memang saat ini sedang di uji coba ujian dan pelatihan secara online dan hasilnya menurut saya sangat baik. Jadi saya optimis kedepan akan jadi suatu pilihan menarik dan disukai oleh para auditor muda atau pemula.

Daftar Pustaka

IAPI - Home (no date). Available at: http://iapi.or.id/iapi/detail/909 (Accessed: 29 April 2020).

Surat KEPM Relaksasi Kewajiban Laporan dan RUPS.pdf.pdf.pdf - Google Drive (no date) Surat KEPM Relaksasi Kewajiban Laporan dan RUPS. pdf.pdf.pdf-Google Drive (no date). Available at:https://drive.google.

com/file/d/13cUqlNuepIj3TQauH00ojhn0LKE5Nve6/view (Accessed: 29 April 2020). KEPM Relaksasi Kewajiban Laporan dan RUPS.pdf.

pdf.pdf-G. Available at: https://drive.google.com/file/d/13cUqlNuepIj3

(28)

Biodata Penulis

Dr. Tommy Kuncara, S.E., M.M.S.I., CA., ACPA., CTA, lahir di Jakarta pada tanggal 17 November 1990. Ia menyelesaikan kuliah dan mendapat gelar Sarjana Ekonomi pada 10 Januari 2012. Ia merupakan alumnus Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Gunadarma Jakarta. Pada tahun 2014 mengikuti Program Magister Sistem Informasi Akuntansi dan lulus pada tahun 2016 dari Universitas Gunadarma Jakarta. Pada saat tahun 2017 sampai saat ini sedang menjadi mahasiswa program Doktor Universitas Gunadarma Jakarta. Pada tahun 2016 diangkat menjadi Dosen dan Koordinator Laboratorium Akuntansi Universitas Gunadarma pada Fakultas Ekonomi dan program studi Akuntansi, selain menjadi dosen ia juga menjadi associate Partner di KAP Bambang Sutopo.

(29)

Prediksi Pajak di Indonesia

Setelah Covid-19 Selesai

(30)
(31)

BAB II

PREDIKSI PAJAK DI INDONESIA

SETELAH COVID-19 SELESAI

A. Pendahuluan

Pandemi covid-19 merupakan musibah yang mengubah stabilitas kondisi perekonomian dunia. Bagaimana tidak selama pandemi ini

muncul telah memberikan dampak yang cukup signifikan kepada setiap

aspek kehidupan, baik itu aspek sosial, aspek budaya, aspek politik ataupun aspek ekonomi. Pendemik virus corona memberikan dampak kepada perekonomian global, hal ini menjadi perhatian pemerintah untuk dapat meminimalisir hal yang tidak dikehendaki akibat pandemi virus corona ini.

Pandemi yang terjadi pada akhir tahun 2019 ini, telah memberikan dampak yang besar kepada kondisi global, khususnya di sektor perekonomian dan kesehatan. Pada konferensi pers tanggal 1 April 2020 Menteri Keuangan Sri Mulyani memberikan penjelasan tentang pertumbuhan ekonomi tahun 2020, Lembaga-lembaga keuangan mengubah strategi demi menjaga kestabilan keuangan. Seluruh sektor perekonomian di Indonesia diprediksi akan mengalami penurunan, baik

segi pertumbuhan PDB, nilai tukar rupiah inflasi serta ekspor impor.

B. Kebijakan Pemerintah Menanggulangi Pandemi Covid-19

Untuk menanggulangi masalah perekonomian akibat dari covid-19, Presiden Jokowi mengesahkan insentif pajak No. 44/PMK.03/2020 menggatikan PMK No. 23/PMK.03/2020 yang diterbitkan awal bulan April 2020. Diharapkan dengan kebijakan ini pengusaha akan tetap kuat mengahapi gelombang pandemi covid-19. Sehingga meminimalisir pemecatan kerja karyawan.

Pemerintah menjadikan insentif pajak sebagai kebijakan untuk dapat menjaga perekonomian nasional yang sedang lesu akibat covid-19.

(32)

Berikut ini adalah insentif pajak yang diberikan pemerintah selama pandemik Covid-19.

1. Insentif PPh 21

Pemerintah memberikan insentif bagi wajib pajak yang memiliki KLU yang tercantum dalam PMK, dan sudah disetujui menjadi perusahaan KITE. Insentif ini hanya untuk karyawan yang berpenghasilan kurang dari Rp. 200.000.000 setahun atau gaji perbulan maksimal Rp. 16.500.000. Masa berlaku insentif ini dimulai bulan April sampai dengan bulan September 2020.

Setiap bulan perusahaan berkewajiban melaporkan laporan realisasi PPh 21 DTP melalui website pajak.go.id yang disediakan oleh direktorat jenderal pajak secara online. Penyampaian laporan realisasi ini maksimal tanggal 20 setiap bulannya dengan format yang sudah ditentukan DJP.

2. Insentif PPh 22

Pemerintah juga memberikan insentif PPh 22 impor bagi

perusahaan yang memenuhi kualifikasi sebagai wajib pajak yang

berhak menerima PPh 22 Impor. Persyaratan yang harus dimiliki adalah memiliki KLU sesuai yang tercantum dalam PMK dan ditetapkan sebagai perushaaan KITE. Apabila semua persyaratan telah terpenuhi maka akan mendapat surat keterangan bebas pemungutan PPh pasal 22 impor.

Untuk mendapatkan surat ini perusahaan harus mendaftar secara online melalui website resmi DJP pajak.go.id. Masa berlaku surat ini selama 6 bulan mulai dari bulan april sampai dengan bulan september 2020.

Setiap bulan perusahaan harus menyampaikan laporan realisasi pembebasan PPh Pasal 22 Impor dengan menggunakan formulir yang tersedia dan menyampaikan setiap 3 bulan sekali. Berikut ini adalah tanggal penyampaian laporan realisasi Pajak PPh Pasal 22 Impor:

a. Masa Pajak April sampai dengan Juni tahun 2020 Disampaikan maksimal tanggal 20 Juli tahun 2020.

(33)

b. Masa Pajak Juli sampai dengan September tahun 2020 Disampaikan maksimal tanggal 20 Oktober tahun 2020

3. Insentif PPh 25

Selain memberikan insentif Pajak PPh 21 dan PPh Pasal 22 impor, Pemerintah juga memberikan insentif pengurang angsuran PPh 25. Insentif ini berlaku selama 6 bulan, bagi perusahaan yang lolos kriteria, berhak mendapatkan pengurangan angsuran PPh 25 sebanyak 30%. Perusahaan wajib menyampaikan pemberitahuan pengurangan PPh 25 secara online di situs resmi DJP pajak.go.id

Jika dinyatakan berhak, maka perusahaan yang mendapat fasilitas insentif Pajak PPh 25 harus menyampaikan laporan realisasi dengan menggunakan formulir yang sudah disediakan. Berikut adalah ketentuan laporan realisasi pph 25.

a. Masa Pajak April sampai dengan Juni tahun 2020 Disampaikan maksimal tanggal 20 Juli tahun 2020. b. Masa Pajak Juli sampai dengan September tahun 2020

Disampaikan maksimal tanggal 20 Oktober tahun 2020

4. Insentif PPN

Pemerintah memberikan insentif percepatan restitusi PPN bagi wajib pajak yang memenuhuhi kriteria tertentu sampai dengan 5 Milyar rupiah. Insentif ini berlaku selama 6 bulan mulai bulan April sampai bulan September 2020.

Apabila wajib pajak atau perusahaan memenuhi kriteria tersebut, maka berhak memperoleh pengembalian pendahuluan atas lebih bayar pajak sebagai Pengusaha Kena Pajak (PKP) berisiko rendah. Beikut ini adalah ketentuan dari Pengusaha Kena Pajak (PKP) berisiko rendah:

a. Pengusaha Kena Pajak yang memiliki KLU sesuai lampiran yang tercantum dalam PMK.

b. Direktoran Jenderal Pajak tidak menerbitkan surat keputusan penetapan secara jababan untuk Pengusaha Kena Pajak berisiko rendah.

c. Pengusaha Kena Pajak tanpa persyaratan untuk melakukan kegiatan ekspor BPK dan JKP.

(34)

5. Insentif PPh Final

Bagi wajib pajak dengan peredaran bruto tertentu maksimal 4,8 Milyar, mendapatkan Insentif PPh Final DTP. Selain itu apabila wajib pajak pelaku usaha UMKM bergerak di bidang impor, maka DJBC tidak memungutan PPh 22 Impor sebagaimana yang dimaksud dalam PMK Nomor 44/PMK.03/2020.

Apabila pelaku usaha UMKM ingin mendapatkan fasilitas insentif PPh Final ditanggung pemerintah, Wajib pajak tersebut harus terlebih dahulu mengajukan permohonan SK untuk mendapatkan insentif pajak PPh Final DTP dengan cara permohonan online melalui

situs resmi pajak.go.id. Insentif PPh final UMKM ini berlaku selama

6 bulan, mulai bulan April sampai bulan September 2020.

Peran pemerintah dalam menanggulangi pandemi covid-19 selain memberikan insentif pajak kepada wajib pajak, pemerintah pun membuat relaksasi untuk membantu para pelaku usaha yang terdampak pandemi covid-19. Berikut ini adalah beberapa relaksasi yang dilakukan pemerintah di tengah pandemi Covid-19:

a. Menurunkan Tarif PPh Badan Mulai Tahun 2020 Sampai dengan Tahun 2022 Secara Bertahap

Secara bertahap selama 3 tahun ke depan, dimulai tahun pajak 2020 sampai dengan tahun pajak 2022 pemerintah menurunkan tarif PPh badan dengan ketentuan awal 25% menjadi 22% pada tahun 2020 dan 2021, lalu turun kembali 20% pada tahun 2022. Sedangkan untuk perusahaan yang sudah go publik dan memenuhi persyaratan tertentu dengan jumlah saham di BEI min 40% berhak memperoleh tarif 3% lebih rendah dari tarif umum.

b. Diperpanjangnya Waktu Permohonan dan Penyelesaian Administrasi Pajak

1) Permohonan keberatan wajib pajak diperpanjang maksimal selama 6 bulan

2) Permohonan pengembalian lebih bayar (LB) yang dimaksud dalam pasal 17B diperpanjang 6 bulan

(35)

3) Pengajuan SK yang dimaksud dalam pasal 26 ayat (1) diperpanjang 6 bulan

4) Permohonan pengurangan dan penghapusan sanksi administrasi yang dimaksud dalam pasal 36 ayat (1) diperpanjang 6 bulan

5) Pengembalian lebih bayar (LB) yang dimaksud dalam pasal 11 ayat (2) diperpanjang 1 bulan

c. Memberikan Fasilitas Kepabeanan

Untuk menghadapi ancaman yang membahayakan pereko-nomian nasional, Pemerintah dalam hal ini menteri keuangan memberikan fasilitas kepabeanan dengan membebaskan atau meringankan bea masuk.

d. Memberlakukan Pajak Transaksi Elektronik

Pemerintah merencanakan akan memungut PPN BKP dan JKP oleh platform luar negeri melalui PMSE. Bahkan selain PPN pemerintah juga akan memungut PPh transaksi elektronik atas kegiatan PMSE oleh subjek pajak luar negeri yang memiliki dampak ekonomi akibat dari covid-19.

e. Pelaporan SPT Tahunan Wajib Pajak Orang Pribadi dan SPT Masa PPN Diperpanjang

Pemerintah memperpanjang masa pelaporan SPT tahunan pribadi dan SPT masa PPh badan. Direktorat jenderal pajak mengumumkan batas pelaporan dan pembayaran SPT tahunan wajib pajak pribadi sampai dengan 30 April 2020. Sedangkan untuk pelaporan SPT masa PPh diperpanjang sampai tanggal 30 April 2020.

Direktorat jenderal pajak juga mengingatkan kepada semua wajib pajak untuk menjalankan kewajiban bayar dan lapor pajak secara online. Karena seluruh kantor pelayanan pajak ditutup sementara.

(36)

C. Prediksi Pajak di Indonesia Setelah Covid-19 Selesai

Covid-19 yang melanda beberapa Negara di dunia memberikan dampak terhadap bidang perekonomian dan juga kesehatan. Lalu pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana keadaan perekonomian khususnya di bidang perpajakan setelah pandemik Covid-19 selesai? Untuk menjawab pertanyaan ini semua tergantung dari seberapa lama pandemi Covid-19 akan berakhir dan seberapa besar dampaknya bagi perekonomian Indonesia.

Saat ini kita berada di tengah bayang-bayang guncangan ekonomi ganda, baik dari sisi penawaran dan dari sisi permintaan. dilihat dari sisi penawaran terdapat beberapa point seperti terganggunya suplay rantai global akibat lock down, pembatasan sosial berskala besar (PSBB) yang mempengaruhi kelancaran arus kas. Sedangkan dilihat dari sisi permintaan terdapat beberapa point seperti pemutusan hubungan kerja (PHK) besar-besaran akibat pandemik Covid-19 yang mempengaruhi penghasilan masyarakat. Jangka waktu pulihnya perekonomian akibat

pandemik Covid-19 akan menentukan arah instrumen fiskal pemerintah

tergantung daya tahan anggaran pemerintah.

Belajar dari pengalaman krisis tahun-tahun sebelumnya seperti krisis tahun 1998 sampai dengan krisis keuangan global tahun 2008,

bagaimana pemerintah mengambil kebijakan seperti kebijakan fiskal

yang ekspansif seperti belanja besar-besaran dan relaksasi pajak untuk dapat menyelamatkan roda perekonomian disuatu negara.

World Bank mengungkapkan bahwa terdapat penurunan rasio pajak sekitar 1,5% setelah tahun 2008. Hal tersebut diakibatkan karena faktor

penyusutan PDB. Secara kumulatif umumnya defisit anggaran akan membengkak. Kebijakan fiskal ekspansif akan menimbulkan beberapa risiko, seperti risiko suku bunga, hutang, dan tingkat inflasi.

D. Mengulas Krisis Ekonomi Tahun 2008

Bagaimana kondisi perekonomian khususnya di bidang pajak setelah pandemi Covid-19 selesai. Perlu kita cermati beberapa kebijakan yang diambil oleh pemerintah dalam jangka pendek sejatinya akan

(37)

Kebijaka Relaksasi saat ini mungkin akan berdampak bagi pemungutan pajak di masa yang akan datang

Selain itu, Kondisi perpajakan di Indonesia setelah pandemik Covid-19 selesai bisa diprediksi dengan mengamati kondisi pajak setelah terjadinya krisi ekomomi pada tahun 2008. Dari pengalaman tersebut terdapat beberapa prediksi yang bisa disimpulkan mengenai kondisi pajak setelah Covid-19 selesai.

1. Bentuk Penerimaan dan Kebijakan Pajak

Mengulas dari kisah krisis tahun 2008, Pajak Penerimaan Negara (PPN) dan Pajak Pengahsilan (PPh) menjadi sumber penerimaan pajak yang paling stabil. Sedangkan PPh badan menurun drastis akibat goncangan ekonomi.

Jadi bukan tidak mungkin arah perpajakan di Indonesia setelah Covid-19 selesai adalah berkaitan dengan sektor PPN. Baik itu meningkatkan tarif PPN, memperluas basis PPN, maupun mengenakan PPN pada sistem Teknologi Informasi (TI).

Karena Pajak Pertambahan Nilai (PPN) lebih tahan terhadap goncangan dibandingkan dengan jenis pajak yang lain, kemungkinan kedepannya pola yang sama akan diambil pemerintah yaitu dengan mengoptimalkan pemasukan dari PPN setelah Covid-19 selesai.

2. Kebijakan Konsolidasi Fiskal Ekspansif

Upaya pemerintah menghadapi krisis keuangan dalam jangka

waktu pendek akan mempengaruhi kebijakan fiskal ekspansif, yang mengakibatkan anggaran defisit. Sebagai contoh setelah krisis tahun

2008 menunjukan anggaran belanja dibeberapa negara meningkat.

Dengan berjalannya waktu, program konsolidasi fiskal akan

diterapkan. Hal tersebut ditandai dengan pengelolaan belanja yang khusus, serta optimalisasi dari penerimaan pajak, baik pusat maupun daerah.

3. Terobosan Baru

Sama seperti pada krisis keungan tahun 2008, setelah pandemi Covid-19 selesai diprediksi pemerintah akan mencari terobosan baru

(38)

akan terjadi perdebatan mengenai siapa pihak yang selama ini belum cukup berpartisipasi dalam kepatuhan pajak, Sepuluh tahun yang lalu jawabannya adalah perusahaan multinasional.

Berbagai isu akan bermunculan seperti isu ketimpangan. Seperti halnya dari krisis keuangan tahun 2008 menunjukkan dampak dari ketimpangan, baik dari sisi penghasilan dan asset yang semakin membesar. Berbagai kebijakan akan diambil oleh pemerintah seperti penyesuaian bagi kelompok berpenghasilan rendah, berikutnya adalah tarif progresif PPh wajib pajak orang pribadi, maupun pajak dengan basis atas kekayaan akan dipertimbangkan.

4. Analisa Penyebab Krisis

Pemerintah akan menganalisa mengenai dampak dari Covid-19 dari sisi perekomonian dan pajak. Faktor apa saja yang menjadi penyebab dan bagaiman cara mananggulangi faktor tersebut agar tidak terjadi dan terulang di masa yang akan datang.

Pemerintah harus mengambil kebijakan untuk masa yang akan datang hal apa saja yang yang berdampak bagi perekonomian di Indonesia setelah Covid-19 selesai. Seperti contohnya pajak

lingkungan, instrumen fiskal serta design ulang kebijakan pada

sektor kesehatan.

5. Reformasi Pajak

Pemerintah memiliki peran penting dalam menjaga kestabilan perekonomian negara. Untuk itu berbagai kebijakan regulasi pajak

diperlukan untuk menekan defisit hutang akibat pandemi Covid-19.

Reformasi pajak dibutuhkan baik yang sifatnya sementara ataupun jangka panjang, di tengah ketidakpastian akibat berbagai perubahan seperti Phsycal distancing, social distancing dan new normal.

Belajar dari masa lalu saat krisis keuangan tahun 2008, di mana suara kelompok masyarakat diperhitungkan, sepertinya saat pandemi Covid-19 selesai pemerintah juga mulai memperhitungkan suara kelompok masyarakat, akibatnya bisa menimbulkan agenda reformasi pajak yang semakin banyak. Reformasi pajak yang mengakomodir berbagai kepentingan akan menghasilkan sistem pajak yang lebih kompleks.

(39)

6. Kompetisi Pajak Kedaulatan Fiskal

Pandemik Covid-19 begitu berakibat buruk bagi perekonomian diberbagai negara. Oleh karena itu diperlukan serta peran aktif dari sektor swasta untuk menanamkan modalnya guna mendorong daya saing global, termasuk melalui instrument pajak. Perubahan instrumen pajak, pemberian insentif dan penurunan tarif PPh badan dengan tujuan penyerapan tenaga kerja. Akan tetap menjadi favorit diberbagai negara.

Prediksi pajak setelah Covid-19 selesai akan melibatkan

kompetisi pajak dengan jargon kedaulatan fiskal. Kebijakan pajak

yang melindungi kepentingan negara dan bersifat sepihak akan tidak terbendung lagi.

7. Tata Kelola Pajak

Dampak dari krisis keuangan tahun 2008 memberikan pengaruh terhadap tata kelola pajak yang lebih baik ditingkat global. Beberapa upaya dilakukan seperti program transparansi melalui pertukaran informasi dan kerjasama melawan penghindaran pajak melalui program base erosion and profit sharing (BEPS)

Selain dampak dari 2 hal tersebut diprediksi setelah pandemi Covid-19 selesai akan memasuki fase baru yaitu distribusi pajak yang lebih adil dan merata untuk semua kalangan.

8. Kebijakan Otoritas Pajak Demi Mengingkatkan Kepatuhan Wajib Pajak

Di balik semua musibah ada hikmah yang bisa dipelajari, seperti hikmah dibalik pandemi Covid-19 yang memberikan palajaran berharga bagi semua kalangan otoritas pajak, yaitu kesiapan dalam hal membuat administrasi pajak dengan berbasis teknologi informasi (TI). Setelah pandemi Covid-19 selesai, pemerintah merencanakan penggunaan pajak berbasis teknologi (TI) akan dikembangkan bukan hanya sebatas pelayanan dan pelaporan saja, tetapi juga meluas ke

arah e-audit dan e-akses dengan berbasis pada transparansi, efisiensi

(40)

Selain itu, pemerintah akan melakukan penguatan otoritas pajak, dengan perubahan proses bisnis dari kemampuan mengakses kemampuan mengolah informasi, serta perluasan kepatuhan koperatif untuk mengoptimalkan kepatuhan pajak.

9. Regulasi Wajib Pajak

Akibat dari perubahan regulasi pajak yang dilakukan pemerintah, akan menambah jumlah perselisihan. Analisis ini dari kejadian yang terjadi setelah krisis kuangan tahun 2008. Bagi wajib pajak kondisi ini menciptakan kebutuhan jaminan pajak, pengolahan resiko pajak yang lebih baik. Serta menerapkan kerangka kontrol pajak dalam perusahaan. Dengan adanya permintaan melalui mekanisme pencegahan dan penyelesaian dari sengketa pajak yang efektif dan

efisien, juga akan menjadi pengubah landskap pajak ke depan.

Demikian predisi perekonomian khususnya di bidang pajak setelah pandemi Covid-19 selesai. Beberapa prediksi tersebut diambil dari berbagai narasumber dan history dari pengalaman krisis ekonomi tahun sebelumnya. Untuk terjadinya probabilitas dari beberapa prediksi di atas akan sangat dipengaruhi dari seberapa lama pandemi Covid-19 akan selesai dan seberapa besar dampaknya terhadap ekonomi. Semoga bisa tulisan ini bisa bermanfaat.

(41)

Daftar Pustaka

Krisiandi, E. (2020) 9 Kebijakan Ekonomi Jokowi di Tengah Pandemi Covid-19: Penangguhan Cicilan hingga Relaksasi Pajak, kompas. com. https://www.online-pajak.com/st/seputar-efaktur-ppn/kebijakan-insentif-pajak https://www.cnbcindonesia.com/news/20200501110015-4-155683/sri-mulyani-tambah-insentif-pajak-bagi-usaha-kena-covid-1 https://news.ddtc.co.id/pandemi-covid-19-dan-9-prediksi-pajak-di-masa-mendatang-20415 Biodata Penulis

Tulus Pujo Nugroho, S.E., M.M, Menyelesaikan Pendidikan S1 Jurusan Ilmu Ekonomi Akuntansi Universitas Gunadarma pada tahun 2012 dan menyelesaikan Pendidikan Program Pasca Sarjana (S2) Ilmu Manajemen Perbankan Universitas Gunadarma pada tahun 2016. Saat ini aktif sebagai Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Gunadarma, Konsultan Pajak & Manager Accounting Pajak di Perusahaan Kelapa Sawit (PKS)

(42)
(43)

Prediksi Perbankan Konvensional

Pasca Covid-19

(44)
(45)

BAB III

PREDIKSI PERBANKAN KONVENSIONAL

PASCA COVID-19

A. Pendahuluan

Pandemi Covid-19 yang telah terjadi di berbagai negara telah mengganggu roda perekonomian dunia. Covid-19 bahkan banyak memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi global karena dampak yang terjadi di pasar keuangan dan sektor riil.

Di Indonesia, krisis dikhawatirkan akan terjadi seperti tahun 1998. Krisis keuangan juga pernah terjadi pada tahun 2008. Namun, kedua krisis yang pernah terjadi ini penanganan dan dampaknya berbeda dari krisis yang diakibatkan Covid-19.

Pada tahun 1998 saat krisis ekonomi terjadi kondisi perekonomian Indonesia sangat rentan, dunia usaha saat itu tidak memiliki daya saing. Pemicu dari krisis tersebut adalah dari nilai tukar mata uang asing. Karena peristiwa tersebut akhirnya menghantam krisis langsung yang merambat ke sektor perbankan, sehingga banyak terjadi kredit macet yang pada akhirnya perbankan banyak mengalami kebangkrutan.

Pada kriris yang melanda tahun 2008 lalu, yang disebabkan oleh subprime mortgage telah menjadi pemicu krisis global financial. Pada

saat itu Indonesia pun tak luput dari imbasnya khususnya di pasar modal. Akan tetapi, pada tahun tersebut kondisi perekonomian Indonesia relatif lebih stabil dan kuat, khususnya sektor perbankan, sehingga kredit perbankan tidak mengalami pengaruh besar.

Lain halnya dengan tahun 2020 ini, pemicunya bukan dari sektor keuangan ataupun bisnis saja melainkan dari sektor kesehatan. Sehingga dampaknya, dunia usaha tak bisa bergerak namun sehat. Sektor usaha dapat dikatakan kuat, kokoh dan sehat, tetapi tidak dapat beroperasi seperti biasa.

(46)

Oleh sebab itu, tidak ada pengaruhnya bagi sektor keuangan. Kredit macet belum berdampak naik. Walaupun terdapat potensi untuk

meningkat, hanya saja belum berpengaruh signifikan. Yang terkena

dampak paling besar adalah kegiatan ekonomi sosial masyarakat.

Melihat dari latar belakang dan juga pemicu krisis yang berbeda, respon kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah pun berbeda-beda. Untuk krisis di tahun 1998 kebijakan yang dibuat adalah dengan memberikan dana talangan untuk mengembalikan dana masyarakat. Saat itu tidak ada kebijakan stimulus untuk diberikan kepada masyarakat yang terdampak krisis 1998 dan juga tidak ada bantuan untuk dunia usaha.

Untuk tahun 2008, kebijakan yang dikeluarkan pemerintah lebih kepada upaya menstimulus perekonomian, seperti menambah gaji pegawai agar terjadi peningkatan konsumsi, dan juga mengalihkan pasar ke dalam negeri sendiri.

Sementara itu untuk tahun 2020 ini, apabila dibandingkan dengan krisis tahun 2008 ternyata jauh lebih kompleks, hal ini dikarenakan saling keterkaitan antara dunia usaha, pegawai yang sudah mulai work from home, physical distancing dan juga kesehatan. Semua saling berkaitan, dunia usaha tidak bergerak tetapi tetap sehat dikarenakan penjualan tetap terjadi walaupun secara online.

Pemerintah mewaspadai dampak krisis ekonomi global akibat

Covid-19, terutama terhadap beban defisit APBN serta peningkatan

jurnal pengangguran dan penduduk miskin.

Sumber: katadata.co.id

Gambar 3.1: Dampak Krisis Ekonomi Indonesia Akibat Covid-19 dari Realisasi 2019 Sampai Proyeksi 2020

(47)

B. Covid-19 VS Sektor Perbankan

Covid-19 yang terjadi di beberapa negara khususnya ASEAN telah membuat pertumbuhan ekonomi menjadi lemah khususnya di sektor

perbankan sehingga berdampak pada menurunnya profitabiitas industri perbankan dan juga menurunnya grafik pertumbuhan kredit walau tidak signifikan.

Perbankan Indonesia pun tidak luput dari terkoreksinya laba dan NIM selama periode awal tahun 2020. NIM (Net Interest Margin) adalah salah satu rasio keuangan yang diperoleh dari aktiva produktif dengan pendapatan dari bunga bersih. Ini berarti bahwa dari nilai NIM yang diperoleh kita dapat mengetahui kemampuan manajemen bank dalam mengelola aktiva produktifnya sehingga dapat menghasilkan laba bersih. Dalam gambar di bawah dapat kita lihat NIM dari bulan Februari diketahui sebesar 4,81%, sedangkan di bulan Maret 2020 diketahui 4,31% atau menurun sebesar 0,5%. Walaupun terjadi penurunan kinerja perbankan masih tetap baik dikarenakan bank lebih fokus memperbesar pendapatan non bunga untuk menghadapi NIM yang menurun. Dan banyak bank di

Indonesia yang tetap mempertahankan profitabilitas yang cukup tinggi

setiap tahunnya dikarenakan memiliki CAR yang cukup besar sehingga sektor perbankan di Indonesia tidak terlalu terkena dampaknya.

Demikian juga dengan rasio kecukupan modal (CAR) sebesar 21,67% di bulan Maret 2020. Angka ini menurun dari bulan sebelumnya yang sebesar 0,66%. Walaupun menurun rasio ini masih jauh dari batas yang ditentukan yaitu 8%. Hal ini seperti yang sudah diprediksi oleh OJK bahwa CAR akan sedikit menurun seiring dengan kenaikan resiko kredit.

Berbanding terbalik dengan BOPO (Beban Operasional Pendapatan Operasional) yang mengalami kenaikan dari 83,62% di bulan Februari, mengalami kenaikan sebesar 5,22% atau menjadi 88,84% di bulan Maret 2020. Hal ini terjadi karena memang di awal tahun/kuartal I banyak pengeluaran seperti biaya untuk bonus dan THR mulai dicadangkan, promo-promo yang diberikan untuk menarik Dana Pihak Ketiga. Sehingga diharapkan pada kuartal II dan III BOPO akan mengalami penurunan.

(48)

Loan to Deposit Ratio atau rasio penyaluran kredit mengalami kenaikan juga dari bulan Februari 2020 ke bulan Maret 2020 sebesar 0,05% atau menjadi 92,55%. Padahal angka ideal untuk LDR yang diberikan oleh BI adalah dikisaran 75%-80%. Hal ini berkaitan dengan penyaluran kredit yang tidak sebanding dengan Dana Pihak Ketiga yang diperoleh dan tingkat likuiditas perbankan yang diperketat. Namun angka LDR tersebut lebih baik daripada tahun 2018 dan 2019 yang mencapai 94%.

Sedangkan Return on Asset (ROA) yang merupakan bagian dari

rasio profitabiltas merupakan rasio keuntungan bersih yang mengetahui

sejauhmana perbankan menghasilkan laba dengan cara membandingkan antara laba bersih sebelum pajak (earning before tax) dengan total aset. ROA dari bulan Februari 2020 ke Maret 2020 mengalami kenaikan sebesar 0,08% yang berarti masih besarnya kemampuan perbankan menghasilkan laba walaupun di tengah pandemik.

Gambar 3.2: Indikator Kinerja Bank Umum Konvensional Bulan Februari 2020

Gambar 3.3: Indikator Kinerja Bank Umum Konvensional Bulan Maret 2020

Walaupun kondisi sistem keuangan yang cukup stabil saat ini dan juga kinerja intermediasi yang positif perbankan harus tetap waspada akan resiko-resiko yang mungkin bisa berpotensi memburuk, oleh sebab itu Otoritas Jasa Keuangan selalu memantau kondisi perekonomian yang

(49)

dapat berdampak buruk atau meningkatkan resiko bagi perbankan. Jika hal tersebut terjadi maka OJK akan membuat kebijakan-kebijakan untuk dapat meminimalisisr dampaknya bagi sektor perbankan.

Gambar 3.4: Indikator Perbankan Year of Year

Pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2020 mengalami perubahan

signifikan seiring dampak pandemi Covid-19, perkembangan dampak

Covid-19 ini akan sangat mempengaruhi skenario pertumbuhan ekonomi Indonesia kedepannya, dan jika kondisi semakin buruk maka dapat terjadi resesi ekonomi, itulah penyataan dari menteri Keuangan Sri Mulyani.

Kinerja intermediasi industri perbankan pada Maret 2020 justru menunjukkan kecenderungan membaik, disaat kepanikan terhadap pandemi Covid-19 mulai merebak. Kredit dan Dana Pihak Ketiga (DPK) berhasil tumbuh lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya, dan turun sedikit pada bulan April sedangkan kredit bermasalah (NPL) sedikit mengalami penurunan. Demikian juga dengan CAR perbankan di bulan April 2020 yang mengalami kenaikan dibandingkan bulan Maret 2020.

Sumber: OJK

(50)

C. Kebijakan Stimulus untuk Mendukung Pemulihan Ekonomi Nasional

Untuk menghadapi gejolak ekonomi dimasa pandemi ini khususnya disektor perbankan, BI dan juga OJK telah mengeluarkan beberapa kebijakan untuk menstimulus pemulihan ekonomi khususnya yang berkaitan dengan bank. Terdapat lima peraturan OJK (POJK) yang digunakan sebagai tindak lanjut dari kewenangan OJK berdasarkan Perpu No.01/2020 mengenai kebijakan keuangan negara dan stabilitas sistem keuangan untk penanganan pandemi Covid-19 dan dalam rangka menghadapi ancaman yang membahayakan perekonomian nasional dan atau stabilitas sistem keuangan yang dikeluarkan tanggal 21 April 2020. Adapun peraturan yang diterbitkan adalah sebagai berikut:

Ekonomi nasional saat ini berada pada titik bawah siklus ekonomi, hal ini disebabkan pandemi Covid-19 yang terjadi pada kuartal I (Januari 2020 sampai saat ini Juni 2020). Siklus ekonomi berada pada titik bawah maksudnya adalah ekonomi nasional sedang bermasalah yang terlihat dari kemapuan daya beli yang turun, terjadi PHK dimana-mana sehingga produksi industri berkurang.

Pada saat masyakarat mengalami penurunan dalam berbelanja baik barang maupun jasa maka produksi industri pun akan ikut turun. Hal ini berdampak pada pendapatan industri baik dari sektor industri besar maupun UMKM.

Dampak dari keadaan ekonomi yang turun ini membuat industri keuangan menjadi bagian sangat penting. Apabila kinerja perusahaan mengalami penurunan maka dapat menimbulkan 2 (dua) resiko bagi perbankan

(51)

maupun lembaga pembiayaan non bank. Yang pertama adalah risiko

kredit (Loan at Risk), akibat pandemi ini banyak terjadi penurunan kemampuan debitur dalam membayar cicilan kreditnya sehingga penyaluran kredit yang diberikan kepada masyrakat sekarang akan lebih beresiko. Kedua adalah resiko kenaikan kredit bermasalah atau NPL (non-performing loan) atau NPF (non-performing finance). Kedua resiko inilah yang secara keseluruhan ikut menentukan kinerja industri keuangan dan yang paling terkena dampak dari pandemik Covid-19.

Oleh sebab itu pemerintah dalam hal ini Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memberikan stimulus berupa kebijakan finansial bagi perekonomian Indonesia. Dalam hal ini kemudian Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menerbitkan POJK No.11/POJK.03/2020 mengenai Stimulus Perekonomian Nasional Sebagai Kebijakan Countercyclical Dampak Penyebaran Coronavirus Disease 2019. Diharapkan para pelaku bisnis dapat melaksanakan kebijakan ini dan diharapkan dapat mengurangi dampak yang akan atau telah terjadi dan mampu meminimalisir risiko kredit yang berpotensi mengganggu kinerja perbankan. Melalui stimulus ini diharapkan perbankan akan memudahkan menyalurkan kredit baru kepada calon debitur dan kredit macet dapat lebih terkendali.

1. Keringanan Pembayaran Kredit untuk Debitur

Berdasarkan kebijakan stimulus yang diberikan diharapkan dapat menjadi countercyclical dampak penyebaran virus covid-19. Dengan demikian diharapkan dapat menjaga stabilitas sistem keuangan, mendorong optimalisasi kinerja perbankan khususnya fungsi intermediasi, sehingga dapat menjadi faktor pertumbuhan ekonomi. Kebijakan stimulus yang diberikan terdiri dari:

a. Penilaian kualitas kredit mencapai Rp.10.000.000.000.00, baik pembiayaan ataupun penyediaan dana lain hanya berdasarkan ketepatan pembayaran pokok dan atau bunga untuk kredit. b. Restrukturisasi tanpa batasan plafon kredit dengan peningkatan

kualitas pembiayaan atau kredit.

c. Relaksasi ini berlaku satu tahun dari sejak ditetapkan dan berlaku untuk debitur Non-UMKM maupun UMKM.

(52)

Sedangkan mekanisme akan disesuaikan dengan kapasitas membayar para debitur juga penerapannya akan diserahkan sepenuhnya kepada masing-masing karena bank lebih mengenal para debiturnya.

Debitur mulai dari UMKM hingga industri besar, baik pekerja informal ataupun formal yang memiliki kredit bank dapat mengajukan keringanan kredit dengan beberapa cara. Antara lain perpanjangan jangka waktu cicilan kredit, penurunan suku bunga kredit, pengurangan tunggakan bunga dan pokoknya, penambahan fasilitas kredit/pembiayaan dan konversi kredit/pembiayaan menjadi penyertaan modal sementara.

Restrukturisasi kredit ini diberikan kepada para debitur dari sektor yang terdampak virus corona. Bank akan diberikan kewenangan untuk menentukan kriteria debitur yang terdampak virus corona.

Terdapat pedoman yang menjelaskan kriteria dari debitur yang terkena dampak Covid-19 oleh Bank yang terkait dan perusahaan pembiayaan. Restruturisasi kredit juga diberikan kepada para pelaku UMKM meliputi pekerja berpenghasilan harian dan pekerja di sektor informal yang terdampak virus corona, seperti ojek online, restoran. pariwisata, perhotelan, perdagangan, pertanian, dan pertambangan.

Kita bisa lihat dalam grafik di bawah ini suku bunga kredit bank

umum dari kuartal I 2020 terus mengalami penurunan hingga saat ini, hal ini merupakan salah satu kebijakan stimulus yang diberikan oleh bank atas instruksi dari PJOK.

(53)

Sumber: Republika

Gambar 3.7: Kebijakan stimulus oleh OJK

D. Perkembangan Sektor Jasa Keuangan di Masa Pandemi

Menurut OJK dapat dikatakan bahwa kondisi sektor perbankan saat ini berada dalam kondisi stabil, hal ini dapat kita lihat dari rasio keuangan dari bulan Maret hingga April yang berada dalam batas aman (treshold) seperti permodalan (CAR) 21,77% naik menjadi 22,13% di bulan April, demikian juga dengan kredit bermasalah (NPL) gross 2,89 persen dan kecukupan likuiditas non-core deposit dan alat likuid/DPK April 2020 terpantau pada level 117,8% dan 25,14%.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan BI terus mengamati stabilitas dari sektor jasa keuangan di tengah pandemi Covid-19 ini, yang hingga bulan April 2020 masih dalam kondisi stabil dan terjaga. Hal ini dapat kita lihat seperti yang digambarkan pada gambar 8 bahwa intermediasi sektor jasa keuangan membukukan nilai positif dan terkendalinya resiko sektor perbankan.

Kinerja intermediasi sektor jasa keuangan per Maret 2020 masih tumbuh positif. Kredit perbankan tumbuh sebesar 5,73% yoy, dengan diikuti pertumbuhan Dana Pihak Ketiga sebesar 8,08% yoy. Pertumbuhan kredit perbankan ini ditopang oleh tiga kredit yaitu kredit modal kerja yang memberikan pertumbuhan sebesar 4,84% yoy, kredit konsumsi sebesar 4,10% yoy dan kredit investasi yang mendominasi sebesar 9,08% yoy.

(54)

Gambar 3.8: Kinerja Intermediasi Sektor Jasa Keuangan

Demikian juga dengan sektor pasar modal yang terus menumbuh baik dari segi penghimpunan dana maupun emiten baru. Hanya dibagian reksa dana terjadi sedikit penurunan dari Rp. 477,7 triliun di bulan April 2020 menjadi Rp. 476,4 triliun di bulan Mei 2020. Hal tersebut normal mengingat dimasa pandemi ini orang-orang lebih sedikit melakukan investasi karena mereka khawatir dengan kondisi sekarang yang tidak stabil. Mereka lebih mengutamakan kebutuhan pokok dan membayar kredit agar tidak terjadi tunggakan yang dapat memberatkan di masa yang akan datang.

Berdasarkan data di atas dapat kita lihat resiko kredit NPL perbankan mengalami kenaikan menjadi 2,89% lebih besar dari bulan sebelumnya. Hal ini dikarenakan banyak terdapat beberapa kredit macet karena banyak usaha yang tidak beroperasi dan banyak pegawai yang diberhentikan. Tetapi hal tersebut tidak mengganggu kinerja perbankan secara keseluruhan yang dapat kita lihat dari CAR perbankan mengalami kenaikan dari 21,72% di bulan Maret 2020 menjadi 22,13% di bulan April 2020 dan resiko likuiditas di angka 117,8% yang masih bernilai positif.

(55)

Gambar 3.9: Perkembangan DPK Bank Umum

Dari grafik di atas dapat kita lihat perkembangan Dana Pihak Ketiga

Bank umum terus mengalami pertumbuhan walaupun sempat terjadi penurunan di bulan Januari 2020. Namun di bulan berikutnya yaitu di bulan Februari sampai Maret 2020 Dana Pihak Ketiga terus bertumbuh menjadi 6.214.306 di mana produk Deposito yang masih mendominasi ke angka 2.671.722, diikuti oleh tabungan di angka 1.921.598 dan produk giro di angka 1.610.986. Hal tersebut cukup menarik dikarenakan di bulan tersebut yaitu Februari Maret 2020 Indonesia dalam masa pandemi Covid-19 yang tambah meningkat. Di mana program work from home sudah mulai digalakan, masyarakat dianjurkan untuk stay at home dan juga physical distancing sudah diterapkan.

Gambar 3.10: Perkembangan Kredit dan NPL Bank Umum

Berdasarkan data dari Statistik Perbankan di atas dapat kita lihat

grafik perkembangan kredit Bank Umum mengalami kenaikan setiap

bulannya bahkan di bulan Maret 2020. Sedangkan NPL dari bulan Desember 2019 langsung melonjak di bulan Januari yang terus stabil hingga bulan Maret 2020. Hal ini memang berkaitan dengan masa pandemi ini dan merupakan hal yang wajar banyak terjadi kredit macet tetpai tidak sampai menggangi kinerja perbankan dikarenakan struktur perbankan kita yang cukup kuat.

(56)

Komposisi kredit yang diterima lebih didominasi kepada kredit modal kerja sebesar 46,58%, kemudian diikuti oleh kredit konsumsi dan kredit investasi.

E. Kebijakan Restrukrisasi Perekonomian

Sebanyak 65 bank dengan nilai Rp.113,8 triliun di mana Rp.60,9 triliunnya merupakan restrukturisasi kredit UMKM, berasal dari 561.950 debitur telah diberikan keringanan kredit oleh bank-bank terkait. Kemudahan ini diberikan kepada para debitur yang terkena dampak Covid-19. Debitur UMKM mendominasi sebesar 522.728 debitur dari total debitur sebanyak 561.950.

Pemerintah dalam menjalankan kebijakan stimulus perekonomian lanjutan sangat diapresiasi oleh OJK, terlebih mengenai pemberian subsidi bunga bank bagi debitur bank dan perusahaan nonbank. Pemerintah dan OJK akan terus memantau dan menyiapkan pelaksanaan program stimulus lanjutan ini.

Berikut beberapa ketentuan untuk debitur bank dan perusahaan nonbank yang berhak mendapatkan subsidi bunga ini, yaitu:

1. Debitur yang memiliki kolektibilitas lancar (kol 1) dan kolektibilitas dalam perhatian khusus (kol 2)

2. Ada beberapa target penerima subsidi bagi debitur bank dan perusahaan nonbank:

a. Diberikan kepada kredit produktif UMKM dengan nominal sampai dengan Rp.10 miliar.

b. Debitur yang memiliki kredit kendaraan bermotor dengan nominal <Rp.500 juta

c. Debitur yang memiliki kredit pemilikan rumah bertipe 21, 22 sampai dengan tipe 70

3. Untuk subsidi bunga dalam jangka waktu 6 bulan yang dimulai dari bulan April 2020 s.d September 2020, dengan besaran nominal sebagai berikut:

a. Bagi kluster di bawah Rp.500 juta diberikan suku bunga sebesar 6% untuk tiga bulan pertama dan tiga bulan kedua diberikan suku bunga 3%.

(57)

b. Untuk kluster di atas 500 juta s.d 1Rp. 10 miliar diberikan subsidi bunga sebesar 3% untuk 3 bulan pertama dan untuk tiga bulan kedua diberikan suku bunga 2%

Dampak dari pandemi Covid-19 ini akan terus diawasi oleh pemerintah dan OJK agar selalu dapat diantisipasi melalui berbagai kebijakan agar tidak menimbulkan resesi ekonomi sehingga perekonomian akan tetap terjaga kestabilannya.

F. Prediksi Perbankan Konvensional Pasca Pandemi Covid-19

Tabel 3.1:

Realisasi dan Proyeksi per Skenario Keterangan Realisasi Desember 2019 Proyeksi Awal 2020 Revisi Proyeksi 2020 Skenario 1 Revisi Proyeksi 2020 Skenario 2 Prediksi berakhir pandemi Covid-19 di RI - - Sept 2020 Des 2020 Pertumbuhan Ekonomi 5.02 5.1-5.5 2.0-2.5 (-0.4) - 2.3 Inflasi 2.72 3.0 ± 1 3.0 ± 1 3.0 ± 1

Nulai tukar Rp/USD 13.867 14.400 14.700-15.200 14.900-15.500 Tingkat suku bunga

3 bln (%) 5,7 5,4 5,0 5,0 BI 7-day (Reverse) Repo Rate (%) 5,00 4,50-5,25 4,25-4,75 4,25-4,74 Pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (%) 6,54 8-10 6-8 -Pertumbuhan Kredit (%) 6,08 11-13 6-8

(58)

Dapat kita cermati dari tabel di atas, dari realisasi hingga revisi proyeksi di mana pada skenario 1 prediksi pandemi Covid-19 ini berakhir pada bulan September 2020, yang diikuti penurunan pertumbuhan ekonomi dari realisasi proyeksi awal di tahun 2020 yang menyebabkan turun sebesar hampir setengahnya. Hal ini dikarenakan dampak Covid-19 ini berimbas kemana-mana tidak hanya pada satu titik saja. Jika prediksi diperikirakan sampai ke akhir tahun 2020 dibuatlah skenario ke 2 di mana pertumbuhan ekonomi dapat berpotensi negatif karena selama kegiatan Pembatasan Skala Berskala Besar (PSBB) terjadi penurunan kegiatan ekonomi. Oleh sebab itu di kuartal ke II ini pemerintah mulai membuka kondisi new normal agar perkonomian dapat berjalan kembali meskipun tetap dalam protokol yang ketat seperti physical distancing, selalu menjaga kebersihan dan penggunaan masker. Dalam skenario ke 2 ini angka kemiskinan dan pengangguran diperkirakan akan meningkat tajam, oleh sebab itu pemerintah banyak melakukan berbagai langkah agar pertumbuhan ekonomi Indonesia tidak menuju skenario 2 salah satunya dengan dilakukannya new normal saat ini.

Sedangkan untuk inflasi, nilai tukar rupiah terhadap dollar dan

juga tingkat suku bunga tidak terlalu berubah dari proyeksi awal 2020. Pertumbuhan Dana Pihak Ketiga dan pertumbuhan kredit akan mengalami penurunan dari proyeksi awal sekitar 2 point pada bulan September 2020 mendatang, hal ini terjadi karena dampak dari pandemi yang jika berlangsung terus hal tersebut akan terjadi.

Hingga saat ini pemerintah terus berkoordinasi dengan Bank Indonesia dan OJK dalam mengawasi secara cermat kasus pandemi Covid-19 ini agar dampak terhadap perekonomian dapat diminimalisir dengan mengeluarkan kebijakan-kebijakan yang sesuai untuk menjaga stabilititas sistem keuangan sehingga perokonomian Indonesia dapat bertahan baik di tengah pandemi ini ataupun pasca pandemi.

(59)

Daftar Pustaka www.republika.co.id ( https://republika.co.id/berita/q87am1440/ojk-kinerja-industri-keuangan-terjaga) www.ojk.go.id(https://www.ojk.go.id/id/berita-dan-kegiatan/siaran- pers/Pages/Siaran-Pers-Semester-I-2019,-Stabilitas-Sektor-Jasa- Keuangan-Terjaga-Kinerja-Intermediasi-Positif-Dan-Risiko-Terkendali.aspx) www.ojk.go.id (https://www.ojk.go.id/id/berita-dan-kegiatan/info-terkini/ Pages/-FAQ-Restrukturisasi-Kredit-atau-Pembiayaan-terkait-Dampak-COVID-19.aspx) www.bi.go.id (https://www.bi.go.id/id/lip/covid-19/Contents/Default.aspx) https://www.kemenkeu.go.id www.bps.go.id Biodata Penulis

Diah Aryati, S.E., M.M.S.I, adalah seorang dosen di Program Studi Akuntansi Fakultas Ekonomi, Universitas Gunadarma. Dia meraih gelar sarjana di Program Studi Akuntansi Fakultas Ekonomi, Universitas Gunadarma pada tahun 2004, lulus Magister Sistem Informasi Manajemen jurusan Sistem Informasi Akuntansi pada tahun 2008. Mengajar Akuntansi Keuangan Lanjut, Etika Profesi Akuntansi, Perangkat Lunak Akuntansi juga Studi Kelayakan Bisnis. Menjabat wakil Laboratorium Pengembangan Perbankan dan Asuransi di bawah naungan Lembaga Pengembangan Manajemen dan Akuntansi Universitas Gunadarma. Saat ini sedang menempuh pendidikan doktoral Ilmu Ekonomi.

Gambar

Tabel 3.1  Realisasi dan Proyeksi per Skenario ......................  41 Tabel 4.1  Jumlah Jaringan Perbankan Syariah
Gambar 1.1: Contoh Laporan Audit dengan QRcode
Gambar 3.1: Dampak Krisis Ekonomi Indonesia Akibat Covid-19 dari
Gambar 3.2: Indikator Kinerja Bank Umum Konvensional
+7

Referensi

Dokumen terkait

• Memiliki pengalaman kerja di bidang manajemen keuangan minimal 5 tahun untuk S2 atau 10 tahun untuk SI dalam menangani proyek proyek pel11bangunan perkotaan

Obračunavanja DDV je oproščena dobava blaga in storitev v okviru osnovne kmetijske in osnovne gozdarske dejavnosti, če se zanjo dohodek ne ugotavlja na podlagi dejanskih prihodkov

Keterampilan Komunikasi penting bagi semua profesional terutama di bidang kesehatan, menjadi bagian integral dalam promosi kesehatan yang merupakan perwujudan proses sosial

Berdasarkan hal tersebut maka perlu dilakukan penelitian untuk mengkaji besaran biaya riil untuk penyelenggaraan pelayanan kesehatan RJTP puskesmas di Kabupaten

Keharusan dalam melaksanakan kebijakan social distancing, work form home dan belajar dari rumah untuk menghentikan penyebaran covid 19 telah menyebabkan pergeseran

Dengan menggunakan metoda Shannon-Fano Coding, tentukan codeword utk suatu sumber dg probabilitas

Program Asuransi Jiwa Syariah tambahan yang memberikan Manfaat Perlindungan hingga sebesar 300% dari Santunan Asuransi Dasar jika Peserta didiagnosis menderita salah satu dari

a) Wabah virus Covid-19 terus bertambah sehingga menyebabkan kebijakan-kebijakan pemerintah seperti pembatasan jarak dan work/study from home akan terus